Chapter 19 update! 3,5 k words

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 19

Air mata Naruto

Langit masih dalam taburan bintang yang banyak, tidak terhitung jumlahnya lagi dan cahaya bulan purnama yang tersenyum, memberitahukan mereka bertiga, bahwa ini akan menjadi malam yang panjang. seusai pukulan keras dari sang guru yang mengarah ke pipi Naruto, Naruto masih tersungkur di tanah menunggu bantuan Sakura untuk membantunya berdiri. Tatapan Kakashi tidak seperti biasanya, dan Naruto mengetahui itu, tatapan dingin yang biasanya terpancar dari aura tubuhnya, seakan-akan hilang, dan sekarang Naruto tahu bahwa gurunya telah benar-benar marah kepadanya, baru kali ini sang Hokage melihat Kakashi menatapnya seperti ini.

"Aku telah mengajarimu banyak hal Naruto, salah satunya ialah prinsip seorang shinobi dan apalagi kau adalah pemimpin Konoha, Hokage keenam, yang mengemban tanggung jawab besar dari rakyatmu yang harus kau lindungi, kau tidak boleh mengacuhkan teman-temanmu yang ingin membantumu, apalagi desa telah dalam kondisi darurat siaga 1, dimana desa benar-benar dalam bahaya, apa kau mengerti betapa pentingnya peranmu untuk melindungi desa?"

Naruto masih terduduk di tanah, sedangkan Sakura melihat mata Kakashi yang berbeda sembari memegang lengan Naruto. iris mata indah Sakura berbinar-binar mengikuti efek pencahayaan sinar rembulan yang begitu damai, sampai bibir Naruto mulai bergerak menjawab kata-kata gurunya.

"Aku ingin melindungi desa tanpa harus membebani teman-temanku, termasuk Sakura dan Guru, aku melakukannya karena aku tidak ingin kehilangan sosok orang yang aku sayangi lagi, kebencian telah merenggut jiwaku, cahaya yang ada di dalam ragaku telah terjurumus ke jurang kegelapan yang sangat dalam, namun kebencianku inilah yang membuatku dapat bertahan sampai sekarang, dan aku memanfaatkannya sebagai senjata untuk melindungi kalian semua… aku tau aku egois, karena itulah aku tidak ingin seperti dulu lagi, kehilangan Jiraiya-sensei sudah cukup bagiku dan sekarang eraku, era dimana aku memimpin desa ini, selagi aku masih hidup, aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk melindungi kalian semuanya, dari anak-anak, orang tua, sampai kakek dan nenek…."

Semburat senyum ditunjukkan Naruto dari lekuk bibirnya, tapi senyuman itu tidak sepenuhnya dari hatinya. "Naruto?" ucap Sakura sambil melihat wajah sang Hokage keenam yang masih tersenyum.

"Dan untuk mewujudkan itu, kau harus mengorganisir dan memerintah sesuai kemampuan standar genin, chunin sampai jonin, jika begini terus, kau akan semakin terbebani." Sanggah Kakashi.

"Memang peranku sebagai Hokage akan kugunakan sebaik-baiknya, kalian tak perlu campur tangan dalam masalah internal maupun eksternal, jika ada masalah akan langsung aku tangani sendiri. kalian tak perlu melakukan apa-apa."

"Kau tidak boleh seperti itu Naruto! di sini masih ada aku, aku akan selalu menjagamu dan membantumu jika kau mengalami kesulitan, aku akan-"

"Jangan repot-repot Sakura, sebentar lagi kau akan segera melupakanku dan bertemu dengan Sasuke. Sasuke cinta pertamamu bukan? aku akan mempersatukan kalian…"

"Kau bicara apa, Naruto! aku benar-benar tidak mengerti!" teriak Sakura dengan wajah gusar dan marah-marah, matanya berkaca-kaca ingin meneteskan air mata.

"Karena aku bisa membaca semua pikiranmu, semua perkataanmu hanyalah omong kosong….. dan terima kasih telah membohongiku selama ini… Sakura-chan."

Kakashi terdiam, ia seolah-olah tenggelam dalam pembicaraan singkat itu. ia memikirkan arti kata yang keluar dari mulut Naruto, untuk memahami betul-betul perasaan Naruto, membayangkannya, dan merasakannya, dia tidak mungkin bisa hidup seperti itu, Naruto benar-benar hidup di neraka. Dia tidak akan mampu menanggung beban itu semua…

"A-apa yang kau-kau katakan, Hokage-sama, kau membuat hatiku terluka." Sakura menundukkan wajahnya, matanya terpejam namun keluar air mata dari sela-sela selaput matanya. "A-aku tidak akan pernah memaafkanmu, Naruto hiks-hiks."

"Sampai akhirpun, kau masih membohongiku…. Benar-benar… "

Cplakkk!

Tamparan keras diterima Naruto, tamparan itu membuat dirinya terjatuh untuk sekali lagi. "Kau benar-benar keterlaluan!" seru Sakura sambil berlari meninggalkan Naruto. dan di bawah bulan purnama itu, masih tersisa dua orang di hamparan tanah yang terdapat beberapa pohon dan sebuah kawah buatan.

"Sensei bisa pulang sekarang, karena aku masih memiliki tugas yang harus aku selesaikan."

"Tapi-"

"Aku melakukan itu untuk kebaikannya."

'Naruto? kau?"

Awan-awan berwarna abu mulai berdatangan, dari arah selatan menuju ke utara, bagaikan sampan yang didayung lembut, perlahan-lahan menyeberangi sungai yang panjang. dan ketika bulan purnama menurunkan sinarnya lagi, sang Hokage masih terduduk di sana, sendirian.

'Maafkan aku Sakura, aku tidak ingin melibatkanmu lebih jauh lagi.'

Jika semuanya tersenyum, dia pasti akan senang. jika semuanya bahagia, dia juga pasti bahagia. Dia tidak pernah menunjukkan ekspresinya, hanya jawaban 'Iya' yang akan mewakili ekspresi di wajahnya, senyumannya begitu manis tapi semua orang tidak tahu, bahwa dialah orang yang paling terluka di desa, air matanya tidak akan pernah menggapai semua orang yang ada di dekatnya, kehidupan bak di neraka telah ia mulai sejak kecil, dan sampai dewasa pun, dia masih hidup dalam jeritan air mata. Namun, ia masih menyembunyikan tangisannya yang sebenarnya.

White merasa iba kepadanya. "Kehidupan yang sangat keras…. Orang biasa tidak mungkin bisa hidup dalam tekanan seperti ini, normalnya orang ingin mengakhiri hidupnya, benar-benar menyakitkan. Benarkan Kurama?"

"Aku telah bertahun-tahun hidup di dalam tubuhnya, aku juga merasakan apa yang dirasakannya. Tapi aku tidak bisa menangis, karena kebencianku lebih kuat daripada kebenciannya" White tersenyum nista.

"Uzumaki Naruto, di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa mengertimu, memahami perasaanmu, dan menerima sedikit rasa sakit yang kau simpan di sini. dan oleh sebab itulah aku ada, aku akan menggantikan kepedihan yang kau derita selama ini, dan menangislah dalam kegelapan yang menenggelamkanmu ke dalam ketenangan dunia."

White berbicara dengan Naruto, yang telah masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Naruto membuat itu semua menjadi kenyataan, "Berikanlah sedikit waktu untukku, aku ingin melindungi desa sekali lagi. mimpi itu benar-benar membuatku takut."

"Aku mengerti…"

Naruto telah terbaring di ranjangnya, ia tertidur dan sengaja masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Ketika ia melupakan sejenak masalah dalam kehidupannya, matanya yang terpejam menitikkan air mata dengan sendirinya. Ia butuh pelukan hangat dari seseorang, tapi semua orang tidak bisa mengerti perasaannya.

Di dalam alam mimpi.

"Ini tidak mungkin! Kenapa semuanya tewas!?"

"Kenapa semua ini terjadi begitu saja?"

"Seseorang tolong kami!"

Naruto melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri, sesuatu yang tidak bisa ia terima begitu saja… sesuatu yang memporak-porakandakan desa dalam kedipan mata.

"Hah? Hah? Mimpi itu lagi," Naruto terbangun ketika mimpi itu mencapai klimaksnya, darahnya naik turun, detak jantungnya tidak stabil dan keringat mengucur dari lubang pori-pori kulitnya, pagi hari itu, adalah pagi terburuk yang pernah ia alami.

'White? Sebelum kau mengambil tubuhku, aku ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu atas insiden besar itu... jika itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.'

Naruto telah terbangun dari tidur lelapnya, kejadian kemarin malam hanya seperti angin yang berlalu, semuanya terjadi begitu saja, terlalu cepat. Pemuda itu pun bangkit dari tempat tidurnya dan segera beranjak untuk memulai hari yang baru ini, hari yang telah bertemu dengan kedamaian. Hembusan angin pagi menerpa rambutnya, berjalan di antara senyuman masyarakat desa yang ramah menjadi kebiasaanya setiap hari, mereka tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa, meskipun begitu. Naruto lah yang mengatasi permasalahan kemarin, yang membuat warga desa dapat tidur nyenyak tanpa memikirkan perang.

Kemudian Naruto telah sampai di tempatnya bekerja, kali ini bukan tenda lagi melainkan rumah kayu yang tersusun rapi, namun belum diolesi cat. Ia memasuki ruangan barunya dan duduk di tempat itu, Naruto termenung sesaat, ia melamunkan kata-kata yang telah ia lontarkan kepada Sakura, namun ketika ia memikirkan kata-kata itu, seseorang telah mengejutkannya dari luar ruangan.

"Lapor Hokage-sama! Tsunade-sama telah sadarkan diri."

Naruto nampak biasa saja, dan ia memutuskan untuk membesuk keadaan beliau. Sang Hokage telah sampai ke tempat Tsunade dirawat, di sana ia bertemu dengan Sakura, Shizune dan Beberapa petugas medis lain. Ketika mata mereka berpapasan, tidak kata-kata yang terucap di bibir mereka berdua. Naruto dan Sakura, bagai dua burung di kandang yang tak pernah menyapa,

"Aku dengar kau menjadi Hokage, Naruto? apa itu benar?" tanya Tsunade dengan suara terputus-putus.

Naruto mengangguk, Tsunade pun tersenyum polos.. "Syukurlah kau yang menjadi Hokage, aku bangga kepadamu Naruto, kau telah menempati janjimu, kau benar-benar seorang pria sekarang.." puji wanita berparas cantik itu sambil memberikan kode pada Naruto untuk mendekatkan kepalanya.

"Kau adalah harapanku…. Terima kasih." Ucap Tsunade sambil menyentil dahi Naruto pelan, wajah nenek itu pun memerah, semburat senyum juga menghiasi bibirnya. Sepertinya, mimpi Tsunade untuk menjadikan salah satu orang yang dikasihi menjadi Hokage telah terealisasikan, dan untuk itulah, dia tersenyum bahagia..

Shizune juga ikut dalam suka cita tersebut, namun Sakura masih menyimpan dendam pada Naruto, untuk melihat Naruto saja, dia tidak sudi, apalagi berbicara dengannya. "Sakura?"

"Apa, Tsudane-sama?"

"Kenapa kau tidak bicara dengan Naruto? aku lihat kau tidak peduli dengan kehadiannya di sini?"

Sakura terhenyak, Naruto memalingkan pandangannya. "Baiklah Nek, aku akan kembali, masih banyak yang harus aku kerjakan,."

Dan tiba-tiba saja Tsunade tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, penderitaanmu baru dimulai Naruto, rasakanlah tanggung jawab seorang Kage." ejek Tsunade.

Naruto pun keluar dari tempat itu, "Aku akan berusaha keras." Jawab Naruto percaya diri. dan ketika jubah bertuliskan Hokage keenam dan lambang Uzumaki itu menghilang dari pintu ruangan tersebut, tersisa perasaan sedih yang Sakura simpan di dalam hatinya. 'Apa aku terlalu egois? Apa aku terlalu kasar kepadanya?'

Naruto berjalan kembali ke kantornya, tapi mampir ke tempat masa masa kecilnya terlebih dahulu, Ia menuju ke suatu tempat dimana ia selalu menghabiskan waktunya di sana. Naruto telah sampai di depan akademi dan disambut hangat oleh anak-anak akademi, mereka mengajak Naruto bersalaman layaknya selebiritis desa.

"Jadi ini Hokage-sama? dia tinggi sekali? badannya juga besar, wajahnya tampan… apa aku bisa menjadi sepertimu, Hokage-sama?" tanya salah satu anak yang berkerumun di bawah kakinya, Naruto pun terduduk menyesuaikan tinggi badannya dan mengusap-usap rambut anak tersebut, ia tersenyum menyemangati. "Kau pasti bisa…. Asalkan kau selalu bersungguh-sungguh ketika berlatih dan menjalani misi." Wajahnya pun bersemu merah, ketika tangan halus Naruto menyentuh rambutnya dengan lembut.

"Jadi aku juga bisa?"

"Aku juga, aku juga?"

Dan secara bersama-sama, mereka tersenyum kepada Naruto, menanyakan pertanyaan yang berbeda-beda sampai Naruto tidak bisa mendengar apa yang sebenarnya mereka katakan. "Pelan-pelan…" dan dari kejauhan Iruka tersenyum, melihat perilaku Naruto yang telah menjadi dewasa, bahkan dalam seumurannya, ia terlalu dewasa sebagai Shinobi, namun kecendurngan itulah yang membuat Naruto layak menjadi Hokage keenam.

Iruka pun mendekati murid-muridnya dan menyuruh mereka untuk duduk berbaris rapi, sekarang mereka telah terduduk dengan senyuman manis yang menghiasi bibir mereka sambil menunggu perkataan yang akan diucapkan oleh sang Hokage, Naruto.

"Ketika melihat kalian, aku teringat akan masa kecilku. Masa kecil yang membutuhkan kasih sayang…. Pesanku terhadap kalian, jangan abaikan teman yang mengalami kesusahan, sebaik-baiknya kalian membantu mereka, bukan menjauhinya… dan ketika saatnya tiba, mereka yang kalian bantu akan membalas kebaikan hati kalian dengan senang hati, mengerti?"

"Mengerti Hokage-sama!" seru murid-murid kompak, senyuman anak kecil itu membuat Naruto bahagia, namun tatapan terlihat biasa saja, ia menyembunyikan kebahagiaannya di dalam hati, hanya White dan Kurama yang bisa melihatnya.

'Dia tersenyum. Kurama.'

'Aku sudah tau…'

Air Terjun.

Dan di suatu tempat, terlihat 3 bocah yang sedang memancing ikan di air terjun, 3 bocah itu adalah Konohamaru, Udon, dan Mogi. Konohamaru nampak kesal karena dari tadi tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. "Mana ikannya, kita sudah berjam-jam di sini tapi belum ada yang menyambar umpan kita." Grutu sang cucu Hokage ketiga.

"Memancing itu perlu kesabaran, Konohamaru-chan, jadi kau harus sabar."

"Aku tau itu, tapi sampai kapan lagi kita harus menunggu, ini sudah 4 jam lho.."

"Benar juga apa yang dikatakan Konohamaru, jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Udon menambahi percakapan tersebut.

"Aku sedang memikirkannya, Zzzzzz" dan ketika perhatian mereka tertuju pada senar pancing yang menjorok ke dalam permukaan air, 4 orang sekaligus telah mendarat di sungai tersebut, membuat cipratan kecil yang mengenai mereka.

"Hoi! Siapa kalian!" teriak Konohamaru kesal, namun dia melihat sosok yang familiar di hadapannya, "Dia kan?"

"Uchiha Sasuke nii-san!" seru mereka serempak, dan tiga bocah itu langsung membuat pola bertahan, dengan kuda-kuda siap bertarung. "Kita harus hati-hati, dia adalah ninja pelarian Konoha."

"Siapa bocah-bocah ini?" tanya Karin sambil melihati mereka dengan tatapan sinis.

"Dia anak-anak dari Konoha, salah satu pengikut bodoh Naruto." jawab Sasuke sambil memberikan ejekan dengan nada datar diselingi wajah stoicnya.

"Apa katamu! Naruto nii-chan bukan orang bodoh! Dia adalah guruku yang terbaik!" teriak Konohamaru marah-marah, ia tidak terima jika gurunya dilecehkan seperti ini, apalagi di depannya, anak itu mengeraskan tangannya, berusaha mengendalikan emosinya.

"Tenang Konohamaru, kakak itu kuat lho. dia bukan lawan yang sepadan untuk kita." Ucap Mogi yang berusaha menenangkan Konohamaru-chan,

"Guru katamu? Jangan bercanda."

"KAU! TIDAK AKAN KUMAAFKAN!"

Dan disaat itu juga Juugo dan Suigetsu berdiri di depan Sasuke, berusaha melindungi Sasuke. "Tenang Juugo, Suigetsu. Aku akan melawan bocah ini, untuk mengukur seberapa jauh kekuatannya sebelum aku melawan gurunya."

"Heh? Kau terlihat bersemangat sekali Sasuke." ujar Suigetsu sambil mundur beberapa langkah, membelakangi Sasuke lagi, begitu juga dengan Juugo.

"Kita harus lari, Konohamaru. Jika kita melawan dia, kita akan mati. Lagipula kita harus menginformasikan kejadian ini kepada Hokage." Ujar Udon sambil menggerak-gerakkan bahu Konohamaru,

"Kalian pulanglah ke Konoha dan cari bantuan, aku akan menahan mereka berempat di sini…. tidak akan kubiarkan kalian menyentuh Naruto nii-chan. Kasihan dia karena telah melindungi desa berulang kali, dia harus istirahat untuk memulihkan kondisinya." Perintah Konohamaru, Mogi sepertinya tidak ingin meninggalkan Konohamaru sendirian, namun Udon berusaha meyakinkannya.

"Aku yakin dia bisa mengatasinya, selagi itu, kita harus membawa Jonin ke sini…" Mogi mengangguk sepakat, dan mereka berdua meninggalkan Konohamaru sendirian.

"Apa kita harus mengejarnya, Sasuke?"

"Biarkan mereka pergi."

"Bocah yang sombong, percaya diri sekali dia… aku bertaruh dia akan mati di tangan Sasuke dalam hitungan detik." Pungkas Karin dengan nada angkuh, ia juga meremehkan kekuatan Konohamaru.

Konohamaru mengeluarkan shuriken dari kantung ninjanya, dan membuat kunai itu menjadi banyak dalam sekejap mata. "Shuriken Kagebunshin no jutsu!" shuriken itu berlari mengarah ke Sasuke seorang, dan tanpa mata Sharingan Sasuke dapat menghindari serangan itu dengan sangat mudahnya.

"Tidak mungkin…"

Konohamaru berlari ke arah Sasuke, dan mempertunjukkan seni bela dirinya. tangan kecil Konohamaru berusaha memukul kepala Sasuke, namun Sasuke dapat menangkisnya tanpa harus menggunakan kekuatannya. "Rasakan ini!" Konohamaru beralih ke tendangann, tapi pergelangan kakinya dapat dipegang oleh Sasuke, kemudian ia melemparkannya ke sembarang tempat.

Konohamaru terlempar jauh dan terseret di atas permukaan air selama itu juga. "Sial!" gumamnya kesal. Ia bangkit lagi, dan berdiri layaknya tidak terjadi apa-apa padanya.

"Jadi hanya ini kekuatanmu, jika muridnya lemah seperti ini, tidak bisa kubayangkan seberapa lemah gurunya nanti." Ejek Sasuke yang membuat marah Konohamaru, semangat untuk mengalahkan lawannya pun semakin berkobar-kobar dalam jiwanya.

Konoha.

2 bocah itu telah sampai ke Konoha dengan membawa kabar buruk yang mereka alami, mereka berdua mencari-cari di mana Naruto berada, dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka hanya focus mencari di mana Naruto, bukan meminta pertolongan Chunin maupun Jonin yang mereka jumpai, sampai situasi membawa mereka ke tempat Naruto sekarang berada.

"Itu Naruto nii-chan?" ucap Mogi sambil menunjuk sang Hokage dari belakang.

"Hokage keenam!" teriak Mogi dan Udon yang terlihat ngos-ngosan, karena berlari ke sana kemari untuk menemukan Naruto, Naruto pun menoleh ke arah mereka berdua, begitu juga dengan anak-anak dan Iruka-sensei. "Oii apa yang kau lakukan! Hokage masih sibuk!" teriak Iruka-sensei marah-marah, karena acaranya diganggu oleh kedatangan Udon dan Mogi.

"B-bukan b-begitu, K-konohamaru dalam bahaya, dia diserang oleh ninja criminal, Uchiha Sasuke." mendengar itu Naruto terkejut, dan diwaktu yang sama ia telah menghilang dalam sekajap, Iruka pun cukup panik dan bergegas untuk menutup kelas dan memulangkan anak-anak.

"Kita pulang pagi, Sensei ada urusan mendadak…"

"Yeahh!"

Air Terjun.

"Tidak akan kumaafkan…. Jika kau mengejekku itu tidak masalah karena memang aku masih lemah, tapi tidak akan kubiarkan kau mengejek kakak Naruto, dialah orang yang sangat aku sayangi dan aku kagumi, bukan sebagai panutan saja melainkan seorang kakak yang melindungi adiknya. Dia adalah shinobi terhebat yang pernah kukenal selain kakek Sarutobi. Yahhh!"

"Kagebunshin no jutsu!" Konohamaru membuat handseal menyilang di jarinya, kemudian 7-10 bayangan telah terbentuk dan berlari serentak menuju tempat Sasuke berdiri. "Ini hanya membuang-buang waktuku. Katon: Gouka Mekkakyu!" Api dengan lebar melalap habis bayangan itu, tidak menyisakan satu pun bayangan lagi.

Sungai dan Air bersatu, menjadikan air itu mendidik untuk persekian detik, dan mereka mengira Konohamaru telah tewas, sebelum dari dalam kobaran api itu muncul dua orang yang masih berlari menuju ke tempat Sasuke.

"Tidak akan kumaafkan! Rasengan!" Konohamaru mengeluarkan jutsu yang diajarkan Naruto baru-baru ini, 'Jutsu itu?' Pikir Sasuke terkejut. Konohamaru masih membawa Rasengannya dan berlari ke arah Sasuke, "Rasakan ini, Rase!"

Sebelum jutsu itu benar-benar mengenai Sasuke, Suigetsu menggunakan tubuhnya sebagai perisai dan disaat itu juga tubuhnya hancur berkeping-keping, serpihan air tersirat ke mana-mana, dan Sasuke yang melihat Konohamaru masih berdiri di depannya, menatapnya dengan dingin.

Wajah takut diperlihatkan oleh Konohamaru. Ketakutan mendera tubuhnya, kakinya gemetaran dan tidak bisa ia gerakkan. "S-sasuke, K-kau!"

Bugh!

Pukulan keras mendarat di bagian perut Konohamaru, Konohamaru langsung sempoyongan, dan terjatuh di dalam air itu, tenggelam di dalamnya. Gelembung-gelembung air yang dibuat oleh pernapasan Konohamaru masih terbentuk ke atas permukaan air, mengindikasikan dia butuh pertolongan.

"Akhirnya mati juga bocah itu, murid Naruto benar-benar lemah." Olok-olok Karin sambil membiarkan bocah itu tenggelam di dalam air yang tidak seberapa dalamnya tersebut, namun karena pukulan keras Sasuke, Konohamaru tidak bisa bergerak sama sekali.

Di dalam air itu, Konohamaru masih menggumamkan sesuatu. 'N-naruto nii-chan, tolong aku…..' anak itu butuh pertolongan segera. Dan tidak lama setelah itu, dari dalam hutan terlihat satu orang dengan bayangan kilat dan cepatnya, ia tidak ingin membuang-buang waktu.

"Dia datang. . ."

Naruto muncul dari pepohonan dan langsung menceburkan diri ke sungai tersebut, untuk menolong Konohamaru. Cbyuur! Naruto telah kembali ke permukaan sambil menganggat Konohamaru dengan kedua tangannya.

"Uhuk-uhuk! N-naruto nii-chan?"

"Kerja bagus." Naruto meletakkan Konohamaru di permukaan air sungai tersebut, di aliran yang tenang. dan berbalik ke arah Sasuke. "Sebuah penghormatan didatangi langsung oleh ninja nomer satu di Konoha." Sambut Sasuke atas kedatangan Hokage keenam.

"Aku akan menyelesaikanmu di sini." dan disaat itu juga, Karin, Juugo dan Suigetsu mulai bersungguh-sungguh mereka bertiga membuat pola menyerang dan bertahan. Juugo dan Suigetsu di depan sedangkan Karin menempatkan posisi di belakang Sasuke.

'Dia telah membunuh Tetua konoha Danzo dan Nagato pengguna Rinnengan, dia benar-benar Shinobi yang berbahaya aku harus waspada.' Batin Suigetsu sambil mencondongkan pedang besarnya.

'Dia kuat, mata dan cara tatapannya menunjukkan itu semua, aku tidak boleh gegabah sedikit pun.' Pikir Juugo waspada. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, bisa dikatakan mereka juga bereuni, karena sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu. Ketika mata Rinnengan dan Sharingan murni saling bertemu, akan timbul pertumpahan darah, siapa yang akan menang? Dan siapa yang akan kalah, semuanya demi harga diri dan tujuan.

"Apa tujuanmu datang ke sini? Sasuke?" tanya Naruto dingin.

"Hn, kau tidak perlu bertanya, karena kau sudah tahu jawabannya, rahasia Danzo telah kau dapat, dan untuk itu aku akan memaksamu untuk memberitahukannya kepadaku, tentang rahasia kakakku yang sebenarnya." kata Sasuke sambil memasang wajah datar.

"Benar-benar sesuai rencanaku, kau memang teman paling dekat yang pernah aku miliki, tapi karena ulahmu yang membuat kacau dunia Shinobi dan menculik adik Raikage-sama, maka sebagai Hokage keenam, aku akan menghukummu di sini.."

"Hahahahaha, lucu sekali…. kau membuatku semakin muak Naruto!" seru Sasuke tertawa lebar, tawa yang menyebarkan kebencian murni dari dalam lubuk hatinya.

"Tidak akan kubiarkan kau menyentuh desa…" ujar Naruto serius. "Konohamaru? Pulanglah ke desa."

"Tapi Naruto nii-chan?"

"Jangan membantah, cepat pulang."

"B-baik, Naruto nii-chan." Dan sebilah kunai dilemparkan Karin ketika Konohamaru meloncat ke dahan pohon untuk pergi dari tempat itu sejauh-jauhnya. Namun, kunai itu terpental mentah-mentah akibat Naruto mengarahkan matanya ke rute kunai yang melesat cepat.

"Kenapa bisa?"

"Terima kasih, Naruto nii-chan!" teriak Konohamaru yang telah berhasil meninggalkan tempat itu. "Tunggu di situ, Naruto nii-chan, aku akan membawa bantuan."

Tiupan angin hutan di antara pohon-pohon dan hijaunya semak-semak membuat jubah Naruto berkibar dan melayang-layang, rambut putihnya juga demikian. Rambut raven hitam Sasuke juga turut melayang akibat hembusan angin yang cukup kuat tersebut, dedaunan kering berjatuhan dari tangkainya, dan mengapung di atas permukaan air yang tenang, mengambarkan suasana pertemuan sahabat karib tersebut,

Suigetsu mengawali serangkaian serangannya, dan Juugo pun turut ikut serta dalam penyerangan kali ini.. Suigetsu melibaskan pedang besarnya ke tubuh Naruto, Naruto meloncat ke atas dan di sana telah ada Juugo yang sudah bersiap untuk member bogem mentah dengan roket yang telah terbentuk di lengan kanannya. "Rasakan ini!" Naruto berhasil menghindar, kali ini dia meloncat lebih tinggi dari Juugo dan melayang-layang di udara.

"Shinra Tensei!" Juugo dan Suigetsu terhempas ke bawah, bersama dengan tekanan gravitasi yang begitu kuat sampai aliran sungai yang tenang pun kacau, seperti gelombang air di laut.. dan dasar sungai itu berlubang akibat tekanan gravitasi yang terlalu kuat. Sasuke dan Karin mundur ke belakang untuk menghindari serangan itu, tersisa Juugo dan Suigetsu yang masih tertekan kuat oleh daya tekanan gravitasi tersebut.

Dan sesudahnya, Naruto menghujami daratan dengan batang karbon hitam, batang-batang hitam itu menghujam layaknya titik-titik air yang banyak, namun serangan itu hanya terfokus pada satu titik yaitu air sungai yang masih kacau.

Durrrr Byrrrr!

"Tidak mungkin, dalam hitungan detik Juugo dan Suigetsu tewas?" ujar Karin yang sudah tak merasakan chakra keduanya, dalam artian mereka sudah meninggal dunia… "Hahaha, kau bicara apa Karin, sesuatu seperti itu tidak akan terjadi!" teriak Juugo yang sudah dalam mode monster sedangkan Suigetsu telah berubah wujud menjadi monster air yang ganas.

Naruto turun, dan menatap mereka berdua dengan tatapan dingin, sorot matanya masih tajam seperti sebelumnya namun ia mulai bersungguh-sungguh, Rinnengan itu selalu mengawasi setiap detail pergerakan yang dibuat musuh, apalagi jika itu mengarah pada Ninjutsu dan Taijutsu, hal seperti itu hanya masalah sepele untuknya.. Karin dan Sasuke hanya berdiri di tepi sungai, dengan mata Sharingan Sasuke berusaha mengamati setiap gerakan-gerakan yang akan dibuat Naruto, ia akan mengumpulkan kelemahan Naruto dan melawannya jika sudah waktunya.

'Orang ini benar-benar hebat… dia tidak akan mudah untuk dikalahkan,' batin Karin dalam hatinya, namun kewaspadaan itu akhirnya muncul juga, ketika Naruto membuat handseal aneh di tangannya.

"Aku akan serius…."

"Chibaku Tensei"

To be continue

Chapter 19 END!

Yoshhh! akhirnya bisa update chapter terbaru,,,, maaf keterlambatanku ini... tapi ini masih hari rabu, jadi tidak terlalu terlambat bukan? terima kasih, aku updatenya di warnet dan hujan hujanan lho ini,... jadi tolong review ya! Jaa na!

White: Lagi-lagi dialog yang sedikit, sial!

Kurama: Ah sudahlah...