Kebencian telah menggrogoti seluruh tubuh dan jiwa raga Naruto, tapi apakah Naruto akan berakhir seperti ini?
Chapter 23 update!
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre –Yang sekiranya sesuai
Power of White © Yoshino Tada
Tips membaca POW, karena updatenya seminggu sekali diharapkan membaca dengan pelan dan hati-hati supaya tidak cepat habis nantinya xixxi
Power of White ..
Chapter 23
Rencana White
Bulan di malam hari itu tidak begitu jelas bentuknya karena tertutup badai salju yang lebat, namun cahayanya masih saja berusaha menembus hutan-hutan desa Samurai, menerangi daratan yang terpampang luas di muka bumi ini, dan dari sinilah awal semuanya terbentuk, mata Rinnengan merah masih saja menatap topeng spiral pria misterius tersebut, tatapan yang sangat mengerikan.
'Mata Naruto berubah? Apa yang terjadi dengannya?' tanya Gaara di dalam batinnya, ketika ia melihat Naruto dengan tatapan menakutkannya, seolah-olah dia bukan Naruto lagi, hal itu juga dirasakan Kage lain, yang merasa chakra gelap telah menyelubungi tubuh Naruto, membuat mereka bingung. Kenapa ini bisa terjadi?
Obito pun menyadari perubahan itu. "Rinnengannya berubah warna? Aku belum pernah melihat hal seperti ini, apakah itu evolusi Rinnengan? Tapi tidak mungkin, Rinnengan memiliki evolusi lagi."
"Chakra gelap terus menerus menyelimuti tubuh Naruto, apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Kakashi sambil melihat Naruto dari belakang, berupa jubah putih bertuliskan Rokudaime namun terselimut chakra gelap yang tidak diperkirakan sebelumnya.
"Kakashi-sensei, juga merasakannya?" tanya Neji.
"Iya…"
"Byakugan!" Neji memeriksa suhu tubuh dan aliran chakra Naruto, dan ia terkejut ketika mendapati chakra berwarna kehitaman mengalir ke seluruh tubuh Naruto. "Tidak mungkin-"
"Ada apa Neji?"
"Naruto telah diselimuti oleh chakra gelap, dia bukan Uzumaki Naruto."
"Apa benar itu bisa terjadi? lantas dia siapa?"
"Aku juga tidak tahu, yang pasti… dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa."
Keringat bercucuran di kulit wajah Ao, ia menggunakan mata Byakugannya untuk melihat Obito namun ia malah menemukan kejanggalan di tubuh sang Hokage, kegelisahan dan kecemasan menghampirinya seketika itu, dan ia tidak bisa menahannya lagi. Brukkk…!
Mizukage dan Chojuro melihat Ao terjatuh secara tiba-tiba, mereka pun bertanya "Apa yang terjadi Ao?" tanya Mizukage. "Kenapa Ao-san?" tanya Chojuro.
"D-dia s-seperti monster saja, kekuatannya tidak bisa terbayang oleh akal pikiran manusia, bisa kukatakan dia itu bukan manusia lagi…" jawab Ao tergagap, pikirannya ngelantur karena ketakutan yang ia alami. Untuk sejenak ia melihat senyuman mengerikan yang terukir di bibir Naruto, tapi itu hanya sekilas saja. namun tidak bisa dipungkiri, walaupun hanya beberapa detik namun ketakutan telah mendera tubuh Ao.
"Siapa yang kau maksud, Ao? Pria bertopeng itu ataukah Hokage-sama?" tanya Mizukage yang semakin penasaran.
"Dia…" ketika Ao hendak menjawab pertanyaan tersebut, Naruto menoleh ke belakang dan menatapnya. Memberikan isyarat kepada paman itu supaya tidak mengatakan hal yang tidak-tidak. tatapannya yang sangat mengerikan, membuat Ao berubah pikiran dalam sekejap. "Pria bertopeng itu…."
"Sudah kuduga, dia memiliki kekuatan yang hebat.."
"Kita harus tetap waspada," ujar Chojuro sambil memasang kuda-kuda untuk bertarung, pedang spesialnya telah ia codongkan ke depan.
Tsuchikage yang berada tak jauh dari Naruto berdiri masih gemetaran sendiri, ia tidak tahu apa yang membuatnya sampai setakut itu maka dari itu dia mencari tahunya sendiri. keringat menetes dari kulit keriputnya, matanya mengelilingi ruangan mencari-cari siapa pemilik chakra luar bisa ini.. 'Chakra ini, tidak salah lagi Uchiha Madara, tapi kenapa ini lebih besar 5x lipatnya bahkan lebih? Apa kekuatannya bertambah? Apa sewaktu keberadaannya tidak ketahui, dia berlatih untuk menjadi semakin kuat? A-aku penasaran terhadap wajah dibalik topeng itu?' batin Tsuchikage resah, Kurotsuchi dan pengawal satunya lagi masih melihat pria bertopeng di lantai dua, mereka mendangak untuk memperjelas penglihatan mereka.
"Gaara? Kau merasakannya?" tanya Kankuro.
"Iya, tidak salah lagi."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Temari.
"Kita harus menunggu, perintah Hokage.. sekarang dialah yang memegang kendali di sini.."
"Kenapa Hokage?" Temari masih belum tahu situasi yang sebenarnya. Gaara pun hanya diam saja dan tidak memperjelasnya kalimatnya. Kankuro menepuk pundak Temari. "Sst, turuti apa yang dikatakannya, aku tahu dia sedang mencari jalan keluar." Ucapnya pelan.
"Sssh. Kau ini, disaat-saat seperti ini apa kita harus bergantung pada bocah itu?"
"Jangan keras-keras… dia itu bukan Naruto.."
"Apa yang kau katakan?"
"Kau akan mengerti sebentar lagi, Temari."
Mifune masih terdiam di posisinya, dia malah menunggu Naruto untuk bergerak, secara tidak sadar Naruto lah yang telah mengambil alih kepimpinan kelima Kage dan pengawalnya, dan Raikage tidak bisa berbuat apa-apa ketika itu terjadi..
"Aku hanya berharap, anggota AKATSUKI itu bisa dilenyapkan segera.." dan setelah berdiam diri beberapa menit, akhirnya tubuh Naruto yang dikendalikan White mau berbicara. "Baiklah, aku yang akan mengurusnya, aku akan membunuhnya dan menciptakan dunia tanpa peperangan…"
"Menarik sekali," ujar Obito serasa meremehkan, namun tiba-tiba saja Obito berhasil dicekik dan dihantamkan ke tembok. "Ougghh? Cepat sekali." Duarrr…! Hantaman tembok itu sangatlah keras sampai tembok itu menyebarkan serpihan-serpihannya ke segala arah.
"Cepat sekali,"
"Dia berhasil menyentuhnya?"
"Itu dua kali lipat dari kecepatan terbaikku, sebenarnya jutsu apa yang ia gunakan? Teleportasi kah?" ujar Raikage terpukau melihat serangan persekian detik itu, menghancurkan Obito beserta tubuhnya. Darah pun keluar dari mulut Obito, darah merah pekat sudah bisa terlihat karena topeng di bagian mulutnya sudah rusak akibat benturan itu.
"Kau? Hisap aku, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu…"
"Siapa kau?" tanya Obito.
"Semuanya berkumpul menjadi satu dan aku yang menciptakannya…"
"Mustahil.. jangan membodohiku, tidak mungkin kau masih hidup.."
"Aku akan mengatakan rencanaku."
Dan Obito menuruti permintaan tersebut, ia menghisap Naruto masuk ke dalam dimensinya, Obito juga menghilangkan keberadaannya. Dan sekarang para Kage itu hanya bisa terkejut tanpa tahu harus berbuat apa. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Hokage-sama dihisap?"
Tipu muslihat itu berhasil mengelabui mereka semua tanpa terkecuali, namun beberapa orang masih saja ragu terhadap kekalahan Naruto. "Sebentar lagi dia pasti akan kembali." Setidaknya harapan mereka telah tersampaikan. Sedangkan di alam bawah sadarnya sendiri, Naruto masih tertidur pulas tanpa tahu apa yang sebenarnya menimpa dirinya. "Bocah yang sangat malang, harapan, impian, dan kehidupannya. Tidak bisa mengikuti apa yang diinginkannya, dia sangat mirip dengan Minato, pemuda jenius yang tak tau asal-usul keberadaannya, kenapa dia tercipta di dunia ini? dan untuk apa dia hidup? mungkin salah satunya adalah untuk menyegelku.." Kurama masih melihat Naruto yang terbaring lemas di perairan dangkal di depan pintu gerbangnya.
Dan seketika itu air mata menetes dari sela-sela matanya, air mata itu langsung membuat perairan yang dangkal tersebut menjadi bercahaya. Kurama terkejut bukan main, silaunya cahaya itu membuat matanya terbelalak, "Sial apa ini!" gumamnya kesal.
Dia masih memiliki kesedihan, air mata yang ia teteskan itu walau sedikit saja dapat menghasilkan cahaya yang sangat menyilaukan, kegelapan tidak sepenuhnya menguasi dirinya, tidak sepenuhnya menggrogoti jiwanya yang terang benderang, masih ada harapan, masih ada jalan. "Gawat, dia belum sepenuhnya terselimuti kebencian, White kau gagal mencuci otak anak ini…" Naruto yang semula terpejam matanya, mulai membuka mata. Perlahan-lahan… "Are? Kenapa aku menangis? Di mana ini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri, ia mengusap air matanya lalu terbangun dari tidurnya. "Tempat ini?" ia pun tersadar dan tau tempat tersebut. rambut putihnya berubah menjadi kuning karena White tidak ada di dalam tubuhnya. White menguasai tubuh Naruto sepenuhnya untuk sementara.
"Akhirnya kau bangun, bocah tengik?"
"Kau, Kyubi? Di mana White?"
"Dia sedang merencanakan sesuatu…" jawabnya dengan senyuman menyeringai.
Tiba di tempat dengan kesunyian tanpa batas, berupa balok dan kubus yang tertata teramat rapi. kegelapan adalah langit-langitnya dan di situ mereka bebas membicarakan apapun sesukanya. "Sebenarnya kau ini siapa?" tanya Obito yang tengah kesakitan dengan pukulan White sebelumnya.
"Aku yang menciptakan dunia ini.."
Obito terhenyak mendengar kata-kata itu, ia masih tidak percaya akan bualan konyol tersebut. "Hahahaha, kau lucu sekali, tidak mungkin dewa bisa berdiri di depan mataku, bahkan kau menjelma dengan tubuh Naruto. kau ini bodoh ya!"
White hanya tersenyum, "Kau mengejekku dengan sebutan konyol? Bodoh? Hmmh. Menarik sekali, berterima kasihlah karena aku telah menyelamatkanmu dari neraka sana, tapi percuma saja. aku juga akan tetap membunuhmu…"
"Kenapa kau bisa yakin sampai seperti itu?"
"Namaku White.. dan aku pencipta dunia ini. Tidak ada yang tidak mungkin untuk aku lakukan, semuanya dapat aku lakukan, membunuhmu adalah pekerjaan mudah, bahkan aku bisa membaca pikiranmu, 'Rencanaku gagal kah'? pemikiran yang sangat menarik.."
'Dia bisa membaca pikiranku? Itu mustahil?'
"Biar aku jelaskan terlebih dahulu, sebenarnya kau ingin menceritakan tentang rencanamu dan mengadakan deklarasi perang bukan? tapi kau gagal karena tidak memiliki mata ini.." Obito terkaget mendengar ucapan itu, semua yang dikatakan White benar, dan ia pikir White datang dari masa depan, membuat gelak tawa tersendiri bagi White. "Aku datang dari masa depan? Bodoh? Malah sebaliknya… sudah kubilang aku bisa membaca semua pikiranmu."
"Dan untuk apa kau datang kemari? Di mana Uzumaki Naruto?" tanya Obito.
"Aku datang ke sini untuk menjelaskan rencanaku dan membunuhmu. Uzumaki Naruto adalah mainan yang hanya kugunakan untuk sementara,"
"Sudah kuduga, tidak mungkin dia Uzumaki Naruto, dia memiliki pemikiran yang cerdas, integilitas tinggi, serta kekuatan yang menakutkan.." ujar Obito yang masih tidak percaya dengan Naruto, dia mengira Hokage keenam itu White.
"Kau salah, orang yang sebelumnya adalah Uzumaki Naruto.. aku memberikan sedikit jiwaku kepadanya sehingga rambutnya berubah menjadi putih dan pemikirannya setingkat Uchiha Itachi supaya dia memiliki pikiran yang cerdas, tapi entah mengapa dia semakin hari semakin bisa menguasai semua itu… dan itulah yang membuatku sedikit cemas, maka dari itu aku ingin mempercepat rencanaku, dengan membunuhmu di sini… tapi tenang saja, rencanamu akan aku lanjutkan, karena rencana kita sama."
"Rencana kita sama?"
"Tapi berbeda denganmu, jika kau ingin membuat Mugen Tsukiyomi, aku sebaliknya…."
Obito terdiam sejenak…
"Aku akan meniadakan dunia yang gagal ini.."
"Tapi bukankah sebentar lagi mereka akan mencapai kata damai?"
"Tidak, justru sebaliknya 5 negara besar ini masih saja berkecimbung dengan permasalahan sendiri-sendiri keegoisan mendarah daging di jiwa mereka, sehingga ketamakan dalam mencari wilayah akan semakin brutal, jika 5 negara besar itu bersatu maka desa-desa kecil yang akan menjadi korbannya,"
"Ada yang ingin kutanyakan sebelum kau membunuhku?"
"Apa?"
"Apakah kau Rikudou-sennin?"
"Hahaha, Rikudou-sennin? Jangan membuatku tertawa, kakek tua itu sudah mati karena kelebihan kekuatan, oleh karena itulah dia menyebarkan ke 9 ekor Biju ke semua tempat di seluruh penjuru dunia ini."
"Jika kau bukan Rikudou-sennin, lalu kau siapa?"
"Aku….. (Jawabannya ada di chapter –chapter terakhir)"
"T-tidak mungkin,"
"Semua bisa berjalan seiring berjalannya waktu, aku terbentuk karena keegoisan.. bukankah itu hal yang wajar? Mimpi Rikudou-sennin untuk dapat menciptakan dunia tanpa peperangan, tidak bisa berjalaan sesuai keinginannya, maka dari itu tugasku hanya menghentikan waktu yang berlalu ini, menjadikan dunia ini tidak ada lagi.. yang berarti tidak ada dunia, tidak ada peperangan."
"Bagaimana caranya?"
"Kau banyak bertanya juga ya. tentu saja membangkitkan ekor 10 dan melenyapkan bumi dengan sebuah jutsu.."
"Jutsu, katamu?"
"Jika ada jutsu untuk menumbuhkan kembali, pasti ada jutsu untuk menghancurkan semuanya…, aku akan menggunakan jutsu terkuat itu... untuk meluluhlantahkan bumi dan seisinya."
'Dia akan menghancurkan bumi? Hal seperti ini tidak boleh terjadi, aku harus mencegahnya' batin Obito sambil memasang wajah serius. "Sepertinya kau tidak setuju ya, apa boleh buat aku akan membunuhmu sekarang juga." Obito mengeluarkan batang hitam dari lengannya, ia berlari menuju tempat berdiri White. Tap-tap-tap. Obito pun berusaha menusukkan batang hitam itu, namun hanya dengan satu tangan kanan, White berhasil memegang batangan hitam itu. "Percuma saja, aku akan mencoba salah satu jutsu Rinnengan merah. Berbeda dengan Shinra Tensei yang memanipulasi daya gravitasi di sekitar kita, tapi sebelum itu aku akan mengambil matamu." Crkkk! White mengambil mata sharingan Obito dengan tangan kanan juga.
"Oghh! Sial dia mengambil mataku."
White mengedepankan satu tangannya, dan seketika itulah.. Cprtt! Tubuh Obito hancur berkeping-keping, darah muncrat ke mana-mana, termasuk ke wajah White. "Apa aku terlalu berlebihan?" White pun menggunakan mata itu untuk kembali ke tempat para Kage. Jutsu yang sangat mengerikan, tidak ada yang menyangka bahwa itu digunakan untuk membunuh anggota AKATSUKI terakhir nantinya, Rinnengan merah berbeda dengan Rinnengan biasa, Rinnengan merah memiliki kekuatan yang lebih dan mengacu ke dalam kebencian jika dibandingkan dengan Rinnengan biasa.
White pun kembali ke alam bawah sadar Naruto. ia berjalan santai menuju ke gerbang Kyubi, ia melalui jalan sempit berair yang di samping kiri dan kanannya terdapat sel yang tidak ada penghuninya. "Mata sharingan Obito, mungkin akan berguna untukku, aku akan menyimpannya." Setelah berjalan beberapa saat, ia pun tiba di tempat Naruto, kelihatan Naruto yang terduduk lesu tanpa semangat sama sekali.
"Kau sudah sampai, White?"
"Iya…" White pun menghampiri Naruto, ia menepuk pundak Naruto, "Kembalilah Naruto, semuanya telah menunggumu," ucap White. "Baiklah…." Naruto pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan kembali ke tubuhnya seperti semula. Sekarang adalah tempat pertemuan para Kage, Naruto berhasil mengalahkan anggota AKATSUKI terakhir dan membawa topeng spiralnya.
"Kau selamat, Naruto."
"Anda berhasil Hokage-sama."
"Sudah kuduga, dia akan berhasil" puji Kankuro, Neji dan Kakashi pun tersenyum, Kurotsuchi dan Shee juga senang atas kesalamatan Hokage, dan orang-orang penting lainnya juga merasa lega, Naruto berhasil kembali dengan selamat.
"Kau berhasil, Hokage-dono, dengan ini dunia kita terselamatkan."
"Iya, untuk sementara dunia kita selamat." Naruto pun melempar topeng itu ke lantai dan berjalan keluar ruangan tersebut, "Kakashi-san, Neji? kita keluar dari sini, rapat telah selesai…"
"Ha!"
"Kenapa dia seperti itu? Hokage yang aneh, tapi jika dilihat-lihat dia keren dengan sikap dinginnya itu." ujar Kurotsuchi yang cukup tergoda akan ketampanan dan sifat dingin Naruto. "Kau ini? tadi kau bilang aneh sekarang keren, kau itu yang aneh!"
"Kau kenapa! Cemburu kah!"
"Haa! Kenapa aku harus cemburu!" balas Shee.
"Hmmh!"
"Kita juga harus pergi, Kankuro, Temari."
"Baik!"
Dan demikianlah rapat itu telah usai, dan dunia Shinobi terselamatkan anggota AKATSUKI yang terakhir telah dilenyapkan oleh aliansi para Kage dari 5 negara besar, lebih tepatnya hanya Hokage seorang yang mengalahkan dua orang itu, dan berita itu menyebar luas secara cepat, memberikan ketentraman dunia Shinobi untuk sementara, masyarakat besar maupun kecil juga merasakan dampak tersebut.
Naruto berjalan di lorong, untuk keluar gedung pemerintahan desa Samurai, namun jalannya terhenti ketika Gaara sudah berdiri di depannya. "Apa yang ingin kau katakan, Naruto?"
"Kau masih ingatkah? Kalau begitu ikuti aku.." mereka berdua menyuruh kedua pengawal untuk tidak mengikuti mereka, dan Hokage serta Kazekage itu meminjam salah satu ruangan untuk berbicara empat mata, tidak lupa kopi yang disajikan oleh pelayan gedung pemerintahan desa Samurai. Mereka telah terduduk di ruangan tenang tanpa kegaduhan. Dua teman jauh yang seumuran dan menduduki kursi Kage di desa mereka masing-masing, mereka saling menatap sebelum Kazekage menanyakan sesuatu kepada Hokage.
"Naruto? kenapa rambutmu berubah menjadi putih?" tanya Gaara singkat, sebenarnya itu bukan pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun hal sepele itu juga cukup menganggunya. Karena itulah ia cukup penasaran terhadap jawaban Naruto.
Slrppp… Naruto meminum secangkir kopi itu lamban, menikmati sedikit demi sedikit kopi yang menghangatkan suhu tubuh itu, sebelum ia benar-benar mau menjawab pertanyaan Gaara, Naruto pun meletakkan kopinya, dan ia memandang wajah Gaara.
"Tidak ada yang istimewa dari rambut putih ini Gaara, namun bukankah rambut ini mengingatkanmu pada seseorang?"
Gaara pun langsung terpikirkan salah satu legenda sannin Konoha, Jiraiya-sama. "Jiraiya-sama? bukan?" balas sang Kazekage tanggap. "Kau benar, rambut ini merupakan warisan Jiraiya-sensei, tapi aku tidak mengerti rambut ini tiba-tiba saja menggantikan rambut kuningku yang dulu, memberikan kesan aneh menurutku."
"Tunggu dulu, rambutmu berubah dengan sendirinya? Tanpa kau mengecatnya?"
Naruto mengangguk. Gaara pun merasa heran terhadap perubahan aneh itu, namun ia tidak terlalu ambil pusing akan masalah tersebut, karena itu bukan pokok permasalahannya. Apa yang ia tanyakan belum benar-benar ia tanyakan kepada Naruto. namun sebelum itu, ia ingin mendengar jawaban dari Naruto sendiri, kenapa Naruto berubah menjadi seperti ini? dari tadi ketika pertemuan Kage, ia hanya membicarakan tentang kebencian, dan hal-hal yang tak mungkin diucapkan oleh seorang Uzumaki Naruto.
"Gaara?"
"Ya?"
"Tentang sesuatu yang ingin kubicarakan tadi, ini mengenai perubahan kepribadianku… kenapa aku bisa seperti ini? kenapa seseorang yang sangat bodoh sepertiku bisa menjadi orang yang sangat cerdas, bahkan bisa memanipulasi semua Kage dengan pemikiran logis… menurutmu semua itu aneh bukan?" Gaara sangat penasaran terhadap perkataan yang ingin disampaikan Naruto kepadanya, ia pun memandang mata Rinnengan Naruto yang sesekali berkedip, pendengarannya ia pasang betul-betul dan wajah serius telah tertera di muka tampannya.
"Ada seseorang yang mengendalikanku dari dalam tubuhku, dia memberiku sebuah kekuatan yang besar, berupa kecerdasan, kekuatan, dan daya tahan tubuh, memberiku rambut putih yang melambangkan kebencian yang lebih besar daripada kebencian biasa, tentu saja kebencian itu melenyapkan kepribadianku yang asli, memberiku dorongan kuat untuk membunuh siapa saja yang menjadi incaranku, ketika semua itu berlangsung… tidak ada belas kasih yang tertulis di dalam hati nuraniku, semuanya akan lenyap di hadapanku, dan mata Rinnengan ini menyempurnakan semuanya."
Gaara terhenyak atas pernyataan itu, terkejut? mungkin bisa dikatakan lebih dari itu? tentu saja Gaara masih tidak percaya terhadap omongan Naruto yang dinilainya omong kosong, namun ia berusaha percaya akan perkataan itu. "Siapa orang itu?" tanya Gaara.
"Namanya adalah White."
"White?"
"White…. Aku masih belum tau tentang dirinya secara mendetail, tapi aku ingin mencari informasi mengenai dirinya agar aku tau asal-muasal ia terbentuk di dalam tubuhku ini, menghancurkannya adalah tujuan utamaku, tapi aku pikir itu akan mustahil."
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? kau kuat Naruto, kau itu sangat kuat, kau tidak akan kalah melawannya."
"Untuk sekarang mata Rinnengan saja tidak mungkin bisa mengalahkannya. Dia yang membuatku dapat menguasai mata ini dengan mudah, melindungi tubuhku supaya kebal terhadap serangan apapun, dan semua yang ia lakukan pasti dapat membuatku aman, aku tidak tau apa yang ia rencanakan, yang pasti dia sangat berbahaya." Ujar Naruto berterus terang, Gaara masih dibuat tidak percaya terhadap kata-kata yang terucap dari mulut Naruto, 'White lah yang memanipulasi Naruto, tapi kenapa White tidak melakukan apa-apa ketika Naruto membeberkan semua rahasianya kepadaku, apa Naruto hanya membual? Tapi untuk tujuan apa dia melakukan semua ini? masalah ini benar-benar membuatku itu sebenarnya siapa?'
Gaara masih bingung, sang Kazekage itu harus berputar otak untuk menemukan solusi terbaik untuk menyingkirkan masalah yang selalu menganggu Naruto, berpikir Naruto adalah seseorang yang berbeda sekarang adalah salah. Naruto tidak berubah sama sekali, namun keadaan yang merubah semua kepribadiannya. Dia tidak mau berubah, maka dari itu dia terus menjerit meminta pertolongan terhadap siapapun yang bisa menolongnya, bahkan dirinya sendiri pun, tidak bisa mengatasi permasalahan ini sendiri.
'Naruto? aku pikir kau telah memiliki segalanya, teman, jabatan, orang yang menyayangimu, orang yang selalu melindungimu, menjagamu, dan menghiburmu ketika kau sedih… tapi aku salah….. kau sendirilah yang masih belum menemukan kebahagiaan sejati, kebencian masih menenggelamkanmu dalam lautan yang dalam, tidak ada seorangpun yang mengerti penderitaanmu, mereka hanya memandangmu sebagai seorang yang terhormat, bukan seorang teman yang membutuhkan pertolongan, aku ingin membantumu, tapi apa yang harus aku lakukan…?' pikir Gaara, Naruto pun tersenyum ketika berhasil membaca semua pikiran Gaara, salah satu jutsu yang diberikan oleh White.
"Terima kasih atas perhatianmu Gaara, sebagai teman dan sebagai Hokage, aku mengapresiasi semua tindakanmu terhadapku, tapi maaf… aku yang akan mengatasi semuanya sendirian, aku tak perlu bantuan siapapun"
"Naruto? bukankah kita teman? Sesama teman haruslah saling membantu bukan? kau yang mengajariku tentang hal itu, aku harap kau tidak melupakannya." Gaara pun bersikeras menolong Naruto.
"Memang… tapi kau bisa apa ?" tanya balik Naruto yang membuat Gaara terdiam seribu bahasa, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia belum menemukan jawabannya. Gaara hanya melihat permukaan kopi yang tenang di dalam cangkir, wajahnya terpantul di sana. "Aku tidak tau…" balasnya.
.. . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
"Tapi aku ingin membantumu…" lanjut Gaara. Ia masih ngotot dengan kemauannya. Tapi Naruto terlihat masa bodoh, ia kembali meminum secangkir kopinya, Slrpp. Cangkir itu telah tak bersisa lagi, "Padahal dulu kau bersikeras untuk membunuhku, mengatakan kepadaku bahwa semuanya harus dilenyapkan… tapi sekarang aku telah melihatmu berubah Gaara… kau menjadi seorang yang penting sekarang."
"Itu semua berkatmu, Naruto. jika tidak ada kau, pasti aku akan terus melakukan hal keji seperti itu, perubahan ini aku dapat karena mengikuti caramu menempuh hidup, bagaimana kau melakukan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari, tapi tetap saja, itu sangat sulit bagi kita, seorang Jinchuriki."
"Kau benar…"
Gaara pun meminum kopinya sampai habis. "Mungkin ini saja yang aku bicarakan kepadamu, untuk selebihnya aku akan memberitahumu jika ada masalah mendadak.."
"Aku akan selalu ada untukmu, sebagai teman dan sebagai sekutu Konoha."
Mereka berdua pun tersenyum bersama, Gaara memberikan tos kepada Naruto, Naruto terkejut akan kejadian itu.. sebuah tos pertama kali untuk mereka berdua. Tap! Dengan ini tidak akan pernah ada permusuhan diantara mereka berdua. Sunagakure dan Konoha adalah sekutu.
Naruto dan Gaara meninggalkan ruangan tersebut, di luar telah menunggu pengawal mereka masing-masing. "Akhirnya… kami telah menunggumu Naruto."
"Kau lama sekali Gaara, apa yang kau bicarakan dengannya?"
Lalu perwakilan dari dua desa itu pergi meninggalkan gedung pemerintahan desa Samurai, diselingi rasa terima kasih yang diucapkan oleh Mifune-san selaku penyelanggara pertemuan Kage ini. Naruto, Kakashi dan Neji telah keluar dari gedung, dan meloncat dari dahan pohon ke dahan pohon lain, di tengah salju yang cukup lebat, menimbun daratan sampai tertutup seutuhnya, kini daratan berwarna putih, di mana-mana hanya putih, sejauh mata memandang hanya putih yang dapat dilihat.
Hushhh… angin kencang pun menerpa tubuh mereka bertiga, tapi itu bukan hambatan bagi mereka, mereka tetap melanjutkan perjalanan pulang tatanpa terganggu sedikit pun. Di samping itu dua makhluk berbeda kasta telah berjajar di suatu tempat, White dan Kyubi.
"White-sama? kenapa kau tidak memberitahukan siapa kau sebenarnya kepada Naruto?" tanya Kyubi sambil menurunkan sedikit kepalanya, dan memandang wajah White yang hanya berdiri santai.
"Memang aku sengaja, dulu aku bilang diriku adalah kebenciannya bukan? aku benar-benar telah menipunya….. tapi sebentar lagi dia akan tahu kebenarannya, dan berusaha untuk melenyapkanku… kau adalah sebagian dari tubuhku Kyubi… jadi aku harap kau tidak macam-macam terhadapku."
"Mana mungkin aku bisa melakukan itu, White-sama…" White pun menatap iris lancip Kyubi, tanpa ada rasa takut yang terpancar jelas dari wajahnya. White duduk dan bersandar pada salah satu tiang gerbang yang berfungsi untuk menyegel Kyubi. "Dan kenapa kau tidak membuka segel ini untukku?" tanya Kyubi lagi.
"Kau harus sabar, walaupun pada akhirnya kau akan merasakan hal yang sama lagi." balas White sambil melihat perairan dangkal di sampingnya, perairan itu tidak membuatnya tenggelam, malah ia duduk di permukaan perairan tersebut, dengan pikiran yang kosong.
"Dunia ini akan segera berakhir, ya? aku yang menciptakannya dan aku yang menghancurkannya… itu cukup adil bukan?"
"Tentu saja…" balas Kyubi dengan rasa sopan yang tinggi.
To be continue
Chapter 23 END!
Selanjutnya: Chapter 24 (Ramalan)
Terima kasih telah membaca! Sempatkan beberapa detik untuk mereview cerita ini ya! See you next week!
UPDATE: Sabtu, 16 Mei 2015 pukul 11:30 WIB
Matur nuwon ! xD
