Gekkan Shoujo Nozaki-kun
Belong to Izumi Tsubaki sensei
.
.
.
Simple Romance, Little Hurt
a bit Humor
.
.
.
a fanfiction Gekkan Shoujo Nozaki-kun
"Permainan Hati"
by Shireni Hime
Chapter 2
Semalam bersama Nozaki
"Sakura", panggil Nozaki lagi. Sukses menghentikan lamunan gadis mungil di hadapannya.
Chiyo tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Wajahnya benar-benar merah padam. Jantungnya berdegup sangat cepat seolah malaikat akan mencabut nyawanya. Dia menatap sosok Nozaki yang semakin mendekat. Tidak pernah terbesit di benaknya akan melihat senyuman Nozaki yang begitu menawan.
Jangan seperti itu, Nozaki-kun. Aku semakin sulit melepasmu.
"Sakura?"
"Nozaki-k...", belum selesai kalimat di ucapkan, Chiyo kembali ke dalam dekapan Nozaki untuk yang kedua kalinya. Namun kesadarannya tidak hilang sepenuhnya. Ia masih bisa merasakan tangan besar yang menyentuh pinggangnya dan sandaran dada yang bidang. Gejolak jantungnya semakin memanas.
"Sakura, kita ke apartment ku saja", Nozaki menggendong Chiyo dengan dada bidangnya. Bahkan Chiyo bisa merasakan aroma Nozaki dari lehernya. Merasa kenyamanan yang luar biasa, Chiyo semakin menenggelamkan kepalanya. Napas nya berpacu dengan tak beraturan.
Aku ingin menangis. Rasanya tidak ingin melepaskanmu. Bagaimana ini, Nozaki-kun? Perasaan ku semakin dalam untukmu.
"Sakura, tubuhmu panas sekali. Sepertinya demam mu semakin parah". Chiyo hanya bisa membalasnya dengan gumaman, berusaha agar isak tangis tidak keluar dari pita suaranya. Seperti anak kecil yang mendekap ibunya ia menggengam erat kerah baju Nozaki. Nozaki dapat merasakan cengkaram tangan Chiyo di kerah bajunya. Ia menguatkan pegangannya, membuat Chiyo semakin nyaman berada pada dekapan Nozaki.
Nozaki berlari dengan irama sedang. Menjaga agar tubuh mungil Chiyo tidak mendapat banyak guncangan. Nozaki menghela napasnya, mencoba mencari oksigen disekitar untuk mengisi rongga paru yang terkuras saat ia berlari kecil. Chiyo mendekap nya semakin erat.
Nozaki membuka kunci rumahnya, dan menutup pintunya sepelan mungkin. Membawa Chiyo ke kamar nya dan meletakkanya di kasur. Tangan Chiyo masih menggenggam erat kerah baju Nozaki, membuatnya kesulitan untuk menarik diri. Kini wajah Nozaki dekat dengan kening Chiyo, ia nyaris dapat menyentuhkan bibirnya.
Napas Chiyo yang menderu menyadarkannya, ia tergelitik begitu hembusan napas Chiyo melewati leher jenjang miliknya. Tidak beraturan.
Akhirnya, Nozaki melepas genggaman jemari mungil Chiyo dengan lembut dan perlahan agar ia tidak membangunkannya. Namun, jarinya terhenti. Kini berbalik Nozaki yang menggenggam tangan gadis berambut oranye yang sedang demam itu. Nozaki memperhatikannya dengan lekat kemudian melepaskan genggaman tangannya, meletakkan tangan Chiyo di ranjang. Tangan besar Nozaki beralih ke kepala Chiyo. Ia terlihat ragu untuk menyentuhnya.
"Lebih baik aku melepaskan ini. Jangan marah, Sakura", kemudian ia meletakkan kedua pita Chiyo di meja samping kasur.
"No... za... ki-kuun", racau Chiyo lemah. Nozaki yang hendak keluar terhenti dan menghampiri Chiyo.
"Sakura, apa kau butuh sesuatu?", wajah dan suaranya sangat datar.
"Ee... skrim...", gumamnya. Ia masih dalam mimpinya.
"Es krim?" Nozaki bertanya-tanya. "Apakah Mamiko akan meminta es krim saat demam?", Kini ia sudah berpangku tangan, dagunya ia gosok seolah berpikir. "Apakah Suzuki akan memberikan es krim pada Mamiko?", dia menggaruk kepalanya kebingungan.
"Nee Sakura, jangan minta es krim Suzuki akan kebingungan nanti"
Chiyo mulai terjaga saat mendengar kegaduhan Nozaki. Ia menatap Nozaki begitu dalam. Berharap sekali saja Nozaki dapat memahami perasaannya, sekali saja tidak memikirkan manganya, sekali saja untuk sekali saja dapat memikirkan dirinya. Meski itu hanya satu kali. Bahkan saat seperti ini kau masih bisa memikirkan Suzuki, Nozaki-kun!
"Nozaki-kun, kurasa Suzuki tidak akan memberika Mamiko es krim. Nanti Mamiko akan tambah sakit. Bukan kah Suzuki jadi orang yang jahat kalau seperti itu?", Chiyo tersenyum dengan ragu. Apalagi yang akan Nozaki lakukan.
"Ah, benar. Kalau begitu aku akan membuatkan mu bubur, tunggulah sebentar"
"hmm", Chiyo tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Terimakasih, Nozaki-kun", gumamnya. Ia memeluk bantal dengan erat, membenamkan wajahnya
"Maaf membuat mu menunggu, Sakura", Nozaki membuka pintu dengan bahunya. Ia membawa nampan dengan bubur, air putih, dan beberapa obat. "Sakura?", Nozaki memastikan. Sepertinya Chiyo tertidur saat menunggu Nozaki membuat bubur, ia masih mendekap bantal ke wajahnya.
"Nee, Sakuu...", Nozaki mengambil bantal dari pelukkan Chiyo. Ia cukup terkejut dan menghentikan kalimatnya saat ia melihat bulir air mata masih membasahi kelopak mata Chiyo.
"Apa demam mu separah itu, Sakura?", Nozaki bertanya kecil. Bagaimanapun ia pernah merasakan demam karena deadline nya. Pernah sampai menangis karena suhu tubuhnya terlalu panas. Nozaki mengepalkan tangan kanannya lalu memukulnya pelan ke telapak kirinya yang terbuka. Seolah ia mendapatkan ide.
Nozaki pergi meninggalkan Chiyo. Lalu kembali dengan membawa se-ember air. Tapi Chiyo sudah terbangun, dia tidak bisa tidur dengan tenang di kamar Nozaki.
"No... zaki-kun?", Chiyo terheran-heran. "Untuk apa air dan ember itu?"
"Aku baru ingat Sakura. Saat aku demam suhu tubuh ku panas sekali, dan aku sampai menangis sepertimu. Lalu, aku mengguyurkan air dan aku sudah tidak ke panasan, Sakura!", ia hampir saja mengguyur Chiyo saat handphone nya berdering.
Ahhh... kebodohan Nozaki-kun yang lain.
"Hallo, Nozaki disini", katanya kepada seseorang di seberang sana. "Oh, Seo!" tambahnya, lalu berhenti sebentar. "Oh, aku mengerti. Baiklah. Sampai jumpa", Nozaki mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.
"Sakura, handphone mu...?", tanya Nozaki tiba-tiba. Chiyo langsung mengambil tas yang di letakkan dibawah disamping tempat tidur. Ia membuka ponselnya. Menunjukkannya pada Nozaki. "Sepertinya begitu...", ia tertawa garing.
"Berapa nomer telepon rumahmu?"
"Eh?"
"Seo menelpon, sepertinya orang tua mu menelepon Seo untuk bertanya tentang mu yang belum pulang selarut ini. Aku akan menelepon orang tuamu kalau kau menginap di apartment ku, Sakura"
"Eh? Ja... jangan! aku saja yang bicara. No... nozaki-kun kau cukup... cu..cukuup berikan aku teleponnya!"
Tentu saja Chiyo tidak bisa membiarkan Nozaki menelpon kedua orangtuanya, dia takut kalau mereka khawatir karena anak gadis nya menginap dirumah seorang pemuda. Terlebih hanya ada mereka berdua disana. Mengingatnya saja membuat Chiyo semakin memerah.
"Sakura, makan itu", Nozaki menunjuk bubur yang ia buat tadi. "Selagi masih hangat, makanlah". Kemudian ia mengambil teleponnya dari Chiyo. Lalu kembali ke ruang tengah. Diam-diam Nozaki me-redial nomer telepon rumah Chiyo.
Seolah ingin berperang Nozaki terlampau semangat untuk berbicara hingga Chiyo dapat mendengarnya dari kamar.
"Saya Nozaki Umetarou. Temannya Sakura. Maaf, dia jatuh sakit dan demam karena saya. Jadi malam ini saya akan bertanggung jawab sepenuhnya. Tolong percayakan Sakura pada saya", Chiyo dapat melihat bayangan Nozaki dari balik pintu, ia membungkuk beberapa kali.
"Iya, saya laki-laki", nada suara Nozaki datar.
Hey Nozaki-kun apa yang kau lakukan!? Aku berusaha menyembunyikan identitasmu!
"Apa? hubungan kami berdua?". Kali ini membuat Chiyo lebih berdebar. Apa yang dibicarakan Ibu dan Nozaki, membuatnya penasaran. Ia menajamkan telinganya.
"Hm, Sakura sering membantu ku"
"Tentu saja dia spesial"
Jangan katakan anak perempuan spesial kepada orang tuanya, Nozaki-kun!
deg..
...deg ..
deg...
"Yah, bakatnya sangat luar biasa". Chiyo bernapas lega, tapi terselip kekecewaan disana. Kesediahan yang bahkan tidak bisa ia deskripsikan.
"E..to.. kami berteman", suara Nozaki begitu datar membuat Chiyo semakin menekan perasaannya.
"Hubungan yang spesial? Maksud bibi yang seperti itu? Seperti Suzuki dan Mamiko?", Kini jantungnya dipacu lebih cepat. Menanti apa jawaban Nozaki. Tapi ia juga takut mendengar jawabannya.
"Ah bibi tidak tahu siapa itu Suzuki dan Mamiko!", suaranya penuh keterkejutan.
Ibuku tidak suka membaca manga shoujo, Nozaki-kun!
"Tidak bukan bukan!", kepalanya menggeleng hebat. "Suzuki dan Mamiko benar-benar pasangan ideal tidak ada yang bisa memisahkan mereka!"
Hoii hoi! Kau kelewat batas,Nozaki-kun!
"Apa? Tidak.. tidaak.. Yah memang Suzuki dan Mamiko..."
Sampai kapan kau mau membahas mereka?
"Apakah hubungan kami seperti Suzuki dan Mamiko?", Nozaki mengulangi pertanyaannya dengan tanda tanya penuh kebimbangan. Chiyo yang mendengarnya, semakin tidak ingin mendengar jawaban Nozaki. Karena ia tahu apa jawaban Nozaki. Seputar Suzuki dan Mamiko. Itu pikirnya.
"Hm... aku-", belum sempat Nozaki menjawab Chiyo langsung menyambar telepon. Dia cukup berusaha keras karena Nozaki yg terlampau tinggi.
"Nee! Kaa-chan! Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, Nozaki-kun pria yang baik. Dia akan menjagaku. Iyakan, Nozaki-kun!?", Chiyo menatap Nozaki. "Bilang iyah!", Chiyo berbisik dan menutup mulut telepon dengan tangannya. Nozaki merebut kembali telepon dari Chiyo, dengan sangat mudah.
"Bibi, seperti yang Sakura katakan. Aku akan menjaga Sakura, tenang saja", Nozaki meletakkan tangan besarnya di atas kepala Chiyo. Ia mengacaknya dengan lembut, sukses membuat semburat tomat di wajah Chiyo.
"Hm, akan aku antar Sakura besok"
"Hm, wakatta. jaa mata ashita, Bi", Nozaki menutup teleponnya. Ia menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh umbul-umbul Chiyo. Chiyo mengangkat wajahya. Dapat dilihat olehnya wajah Nozaki yang tirus, penuh ketegasan dan mata tajamnya. "Sakura, minum obatnya. Kau masih demam". Ia menarik kepalanya dengan cepat dan Chiyo hanya menganguk kecil.
"Apa kau ingin mengganti pakaian, Sakura?. Aku masih menyimpan ini, kau boleh memakainya kalau mau!", Nozaki sangat antusias menunjukkan seragam sailor kepada Chiyo.
"Nozaki-kun apapun boleh asal jangan itu!", teriak Chiyo.
"Kalau begitu, apa tidak apa-apa kalau memakai kaos ku?", Chiyo berpikir keras. Dia bingung harus bagaimana. Tapi tidak mungkin ia harus memakai seragamnya untuk tidur. Meski kebingungan, dalam hati ia cukup senang. Karena ia dapat merasakan aroma Nozaki dari bajunya. "Sakura? Bagaimana?", Nozaki menegaskan. Dengan sedikit malu Chiyo mengangguk kecil.
"Tunggu sebentar", Nozaki membuka lemarinya dan berpikir sesaat. Kemudian mengambil sebuah kaos merah muda dan membukanya. Cukup besar untuk ukuran Chiyo yang berbadan mungil. "Maaf Sakura, semua bajuku ukurannya segini", ia menunjukkan baju merah muda itu kepada Chiyo"
"Tidak apa, maaf sudah merepotkan mu, Nozaki-kun", Chiyo memegang ujung baju merah muda itu. "Terimakasih, aku akan berganti pakaian".
Chiyo mengganti pakaiannya di kamar mandi. Sementara Nozaki menunggunya diruang tengah. Ia akan mandi begitu Chiyo selesai. Entah apa yang membuatnya merasa ngantuk, dia menyandarkan kepalanya di sofa dan tertidur.
Chiyo keluar kamar mandi dengan kaos Nozaki menutupi tubuhnya. Panjangnya sampai ke lutut, ia terlihat seperti sedang mengenakan dress. Chiyo menarik bagian tangan yang terlalu turun, mungkin karena Nozaki memiliki badan yang atletis. Chiyo terlihat sangat gembira, beberapa kali ia hanya menarik kerah kaos itu untuk menciumnya. Menerawang aroma Nozaki dalam kaosnya. Ia akhirnya sadar ketika sebuah kepala terbalik menatapnya dari sofa. Itu adalah kepala Nozaki yang tersandar. Cukup membuat Chiyo terkejut, kalau-kalau Nozaki memperhatikannya yang menciumi kaos itu. Tapi setelah diperhatikan mata Nozaki terpejam. Chiyo mendekatkan dirinya. Dapat didengarnya dengkuran yang cukup halus. Kepalanya benar-benar terbalik.
"Hey, lehermu bisa sakit kalau tidur seperti ini, Nozaki-kun", Chiyo mengangkat kepala Nozaki dan berusaha menyandarkannya dengan benar. Alih-alih seperti itu, kepala Nozaki malah tersandar di dada Chiyo. Membuat gadis itu salah tingkah, wajahnya terlihat panik. Namun, entah setan mana yang merasukinya. Chiyo menarik kedua tangannya mengelilingi leher jenjang Nozaki. Kini bahkan ia sudah merendahkan tubuhnya hingga ia dapat merasakan aroma Nozaki dengan hidungnya. Nozaki masih tertidur lelap, pikirnya. Namun, sepertinya dekapan Chiyo membuat pria jangkung itu terbangun.
"Kali ini saja, Nozaki-kun aku ingin memelukmu... Kali ini saja", gumamnya pelan namun terdengar sangat jelas oleh telinga pria dalam dekapannya. Ia membenamkan wajahnya pada Nozaki. Menahan isak tangis entah untuk yang keberapa kalinya. Wajahnya masih terbenam entah untuk sampai kapan. Sementara itu Nozaki hanya menatap langit-langit di hadapannya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, meskipun sangat ingin, ia tidak bisa. Pikiran dan hatinya berkecamuk.
Chiyo mengangkat kepalanya, kali ini ia membenarkan sandaran Nozaki dengan sebenar-benarnya. Tentu saja ia tidak ingin membuat Nozaki sakit dan berujung menghadapi deadline. Setelah dirasa cukup benar, ia kembali ke kamar Nozaki. Dan, setelah dirasa Chiyo masuk kamar, Nozaki membuka matanya. Mengangkat tangan berototnya ke atas kening, helaan napas keluar dari mulutnya. Ia bahkan dapat mendengarnya sendiri. "Aku rasa, aku akan mandi saja. Pipiku terasa sangat panas, sepertinya aku tertular demam Sakura".
Setelah mandi Nozaki dapat merasakan tubuhnya segar kembali. Ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan, mengintip apakah Chiyo sudah tertidur atau belum. Ia tersenyum kecil ketika melihat Chiyo yang terlelap dengan damai. Ia masuk kedalam kamar. Manarik futon dan menggelarkannya di lantai, tepat disamping ranjang. Sebelum berbaring dia memegang kening Chiyo. "Sepertinya demam mu sudah turun", Nozaki menjeda kalimatnya. " ...dan sekarang, sepertinya aku yang kena demam" Ia bergumam dan memegang dahinya sendiri.
"Kaa-cha...n", Chiyo bergumam kecil membuat Nozaki membuka matanya kembali. Ia melihat waktu yang menunjukkan pukul 02.00. "Kaa-chan...", igauan Chiyo semakin dalam. Terdengar sendu. Nozaki bangun dari perbaringannya. Ia memperhatikan Chiyo lekat. Menelisik wajah pucat dan kegelisahan Chiyo. Nozaki kembali menyentuh kening gadis itu, panas luar biasa menusuk telapak tangannya. "Ah!", itu cukup membuatnya terkejut. Nozaki lalu mengambil air es dan mengompres Chiyo. Ia yang ingin tertidur tidak bisa tidur dengan lelap. Sesekali Nozaki bangun untuk mengganti kompres Chiyo. Sampai ia terlelap dengan sendirinya.
Chiyo mulai membuka matanya. Memegang keningnya sendiri. Sebuah handuk yang masih sedikit basah menyentuh lengannya. Kemudian ia menariknya. Matanya mulai mencari sesuatu, lalu tertuju pada sebuah kepala yang bersandar lelah di tepi kasur dekat tangannya. Chiyo menarik tubuhnya agar dapat duduk dengan benar. Berusaha untuk tidak membangunkan pria itu. Tangannya mulai usil dan mengacak rambut Nozaki pelan. Menyentuhnya dengan kelembutan.
"Kau tahu Nozaki-kun, aku selalu ingin melakukan ini", dia tertawa kecil sambil menatap wajah tidur Nozaki. Lalu ia segera menariknya. Chiyo tidak ingin sampai Nozaki terbangun dengan Chiyo menyentuh kepalanya. Sepertinya timing Chiyo cukup tepat, karena beberapa saat kemudian Nozaki memutar kepalanya menatap Chiyo yang tengah memperhatikannya. Wajah Chiyo terlihat sangat baik di mata Nozaki.
"Ohayou, Nozaki-kun", sapa Chiyo. Nozaki mengangkat kepala dan menggaruknya padahal tidak gatal.
"Ohayou, Sakura. Bagaimana dengan demam mu?"
"Sepertinya sudah jauh lebih baik, ber...", belum selesai Chiyo berkata Nozaki tiba-tiba menyentuh keningnya dengan tangannya yang besar. Kening Chiyo tidak dapat menampung tangannya hingga sebagian menyentuh kepala Chiyo.
"Sepertinya... kalau begitu akan ku buatkan sarapan dan aku antar pulang. Sekarang hari Minggu jadi kita bisa sedikit bersantai, Sakura".
Chiyo hanya mengangguk. Dia sudah bertekad untuk tidak lagi berharap pada Nozaki, meskipun rasa suka nya masih ada.
"Sakura, kau boleh memakainya", Nozaki menunjuk kaos yang dipakai Chiyo. Ia sendiri sedang memasak sarapan dengan celemek 'love ume' nya. Wajahnya masih datar.
"Eh tapi, ini kaos mu Nozaki-kun. Lagi pula...", Chiyo merentangkan tangannya. Menunjukkan kaos yang kelonggaran itu pada Nozaki. "Terlalu besar", tambah Chiyo. Nozaki tidak merespon. Ia tetap melanjutkan memasaknya. Sesekali ekor matanya melihat ke arah Chiyo yang sibuk membereskan seragamnya untuk di pakai lagi. Nozaki memacu kegiatan memasaknya dengan cepat, seolah ingin selesai lebih dulu dari Chiyo.
"Sakura!", Nozaki meneriaki Chiyo ketika hampir saja ia membuka pintu kamar mandi. Tangan Nozaki berayun memanggil Chiyo untuk mendatanginya. Chiyo yang kebingungan hanya mengiyakan.
Nozaki memegang sebuah kain chiffon entah sejak kapan ia mengambil benda itu. Kain itu cukup panjang, berwarna ungu muda yang lembut. "Sakura, rentangkan tanganmu", Nozaki berdiri dibelakang Chiyo. menyibak bagian lengan yang terlalu turun. Kemudian ia sedikit membungkuk untuk melilitkan kain chiffon itu di pinggang Chiyo. Dia membuat chiffon itu seolah kain obi untuk yukata. mengikat pitanya dengan manis dibelakang.
"Selesai!", Wajahnya sangat antusias. Ia memutar tubuh Chiyo untuk melihat hasilnya. "Kau seperti tokoh warior dalam anime, Sakura. Ijinkan aku untuk memotretmu!"
"Tidak mau, Nozaki-kun!", Chiyo tersipu malu. Tapi Nozaki malah memalingkan wajahnya. Ia menggaruk halus pipinya yang tidak gatal itu.
Hei! Harusnya aku yang seperti itu, Nozaki-kun!
"Nee, Sakura. Sepertinya karena diikat, bajunya agak naik sedikit", Nozaki menunjuk kearah paha Chiyo tapi wajahnya masih melihat ke arah lain. Chiyo hanya membatu. Aku.. Nozaki-kun melihatku, seperti ini. Bagaimana ini! Bagaimana!
"Sa...saa...kura?", ekor mata Nozaki melihat Chiyo yang masih mematug. "Ce...cepat pakai rokmu, Sakura!", Nozaki gugup bukan main. Dirasanya pipi mulai memanas, ia seperti malu tapi tidak tahu kalau ia sedang merasa malu. Ia hanya, "Sepertinya aku mulai demam lagi", gumam Nozaki memegang keningnya. Chiyo yang diteriaki seperti itu segera ke kamar mandi dan mengenakan rok sekolahnya.
"Hey Sakura, biarkan aku memotretmu!", Nozaki kembali memegang camera pocketnya. Wajahnya berbinar seolah menemukan ide cerita baru.
"Tidak mau!"
.
.
.
To be Continued
Next Chap summary ::
Nozaki-kun kedatangan seorang tamu. Seorang anak muda yang memanggilnya kaka. Tapi dia sangat senang menempel dengan Chiyo. Akan kah Nozaki menyadari perasaannya? Sementara itu, apakah Chiyo benar benar melepaskan Nozaki...?
