Cerita mendekati klimaks…. Mungkin beberapa chapter lagi POW akan tamat.

Kehancuran dunia semakin dekat...

Chapter 24 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 24

Ramalan

Masih dalam ketenangan yang sunyi, nuansa senyap masih menyelimuti alam sadar Naruto, di sana dua monster yang berbeda bentuk masih berbincang-bincang untuk menghabiskan waktu, menunggu kedatangan hari itu.

"Jadi Naruto sudah memutuskan untuk melawanmu, White-sama?"

"Sehebat apapun dia dalam menggunakan Rinnengan, dia masih tidak akan bisa mengalahkanku, karena akulah sang pencipta Rinnengan itu sendiri."

Hushhhhh…. Semilir angin yang begitu menusuk tulang meniup bulatan-bulatan salju putih yang menghujani hutan desa Samurai, hutan itu sudah terlihat tidak berwujud lagi, hanya keputihan yang nampak terlihat dari dekat ataupun dari jauh, sang Hokage keenam, Kakashi dan Neji masih dalam perjalanan pulang menuju ke Konoha. Dan mereka melewatinya tanpa hambatan apapun, setelah beberapa jam kemudian, mereka bertiga telah sampai ke Konoha membawa kabar gembira bahwa pertemuan Kage telah sukses.

Di gerbang mereka sudah disambut oleh beberapa jonin, chunin serta masyarakat biasa. Angin menghembus jubah putih Hokage, rambut putihnya pun juga melayang-layang tertiup angin, dan dari kejauhan ia terlihat memiliki karisma yang tinggi.

"Naruto niichan!" teriak Konohamaru dan teman-temannya, tak lupa sambutan dari Iruka-sensei, Sakura, Shikamaru pun juga tak mau ketinggalan, menyambut mereka dengan senyuman hangat, memberikan kenyamanan ketika mereka telah tiba dari rapat Kage yang sangat penting bagi seluruh penduduk desa Konoha ini. dan Sakura tersenyum saat Naruto sudah sampai ke gerbang.

"Selamat datang kembali.."

"Iya.."

Naruto menerima sambutan itu dengan baik, ia berjalan masuk ke desa, memberikan senyuman sepantasnya kepada para hadirin yang telah menyambut kedatangannya. Ia sangat tersanjung dapat disambut seperti ini, padahal ini hanyalah pertemuan Kage biasa. Tapi menurut masyarakat desa, tugas Hokage sangat penting pengaruhnya terhadap perkembangan desa.

"Apa kau merasa senang, Naruto?" tanya Sakura yang menemani Naruto berjalan menuju ke rumah untuk beristirahat sejenak.

"Ya, aku senang. aku akan pulang ke rumah dan beristirahat."

"Bolehkah aku ke rumahmu? Etto mungkin menyiapkan makanan atau menata kamarmu yang berantakan…" ucap Sakura memberanikan diri, wajahnya tersipu malu dan ia tidak berani memandang wajah Naruto, ia memalingkan pandangannya ke arah-arah lain yang terpenting bukan ke wajah Naruto.

Naruto menoleh ke Sakura sebentar. "Tidak masalah," jawabnya dingin. Sakura pun sangat senang atas izin yang diberikan Naruto, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Kakashi-san dan Neji boleh pulang sekarang, beristirahatlah selama dua hari…"

"Baiklah…"

"Hai !"

Sekarang tinggal mereka berdua yang berjalan menyelusuri jalanan desa, tampak orang-orang desa yang tengah menikmati waktu bermasyarakatnya dengan membeli keperluan sehari-hari di pedagang pinggir jalan, sesekali mereka tersenyum kepada Naruto, membungkuk hormat dan menyapa sang Hokage berkarisma tersebut.

"Kau dihormati ya, banyak orang yang menyanjungmu, menghormatimu, menghargaimu.. bahkan memujamu, kau adalah Hokage termuda dalam sejarah Konoha, kau cerdas, kau kuat… dan banyak wanita yang mengagumimu dan menyukaimu, bukankah ini waktu yang tepat untuk menikah, Naruto?" tanya Sakura dengan wajah semu memerah, malu karena wanita menanyakan pertanyaan tersebut, tapi Naruto terlihat tak acuh.

"Aku belum ingin menikah, aku masih memiliki tanggung jawab yang besar untuk memimpin desa ini 10 tahun ke depan, bahkan sampai tua pun aku yakin aku masih bisa menjadi seorang Hokage…"

Mereka berdua berjalan santai dengan pemandangan patung-patung Hokage yang terpapar indah sejauh mata memandang, dengan cahaya dari sinar matahari yang cukup menyilaukan. "Souka.." jawab wanita berambut merah muda itu, ia terlihat bingung sekaligus kecewa, sepertinya Naruto belum memiliki perasaan kepada dirinya.

"Sakura?"

"Hmm?"

"Bolehkah aku mengajukan satu permintaan seumur hidupku…." Sakura terdiam, matanya berkaca-kaca, telinganya berusaha mendengarkan suara lirih yang keluar dari bibir manis Naruto, mata Rinnengan yang tajam menyorot mata aquamarinenya yang penasaran. Selama beberapa detik Sakura memandang wajah Naruto yang tepat berada di hadapannya. wanita itu mengangguk, ia masih menunggu permintaan sang Hokage.

"Aku ingin sebuah keluarga."

Jantung Sakura serasa ingin berhenti, air matanya ingin mengalir menuju pipinya, kakinya pun gemetaran karena saking tidak percaya terhadap permintaan Naruto, dan Naruto pun tersenyum kepada wanita itu sambil mengatakan. "Aku mencintaimu"

Sakura masih dalam kondisi setengah sadar, ia rasa ini hanyalah sebuah mimpi, 'Cubit aku' Naruto pun mencubit kulitnya.

"Sakitt, apa yang kau lakukan…"

"Hehe, ini bukan mimpi."

'Sebenarnya mata itu tidak cocok untuknya, tapi kenapa setiap aku melihatnya, aku merasa khawatir, matanya selalu dingin, seperti tidak ada perasaan di dalam hatinya, namun sekarang aku sangat senang…. Naruto menyatakan cintanya kepadaku…'

"Sebenarnya aku ingin menjadi orang bodoh yang bersemangat seperti dulu Sakura, tapi aku belum bisa mewujudkannya, jika kau berada di sisiku.. mungkin aku bisa menemukan jati diriku yang dulu… aku yakin kau juga merindukanku di masa lalu kan?"

'Iya, aku sangat merindukanmu, aku ingin kau kembali seperti dulu lagi, Naruto.' batin Sakura sambil mendekatkan tangannya dengan tangan Naruto, ia berusaha menyentuhkan tangan itu, namun ia belum memiliki kepercayaan diri untuk menyentuhnya.

"Ayo kita pulang."

"Iya"

Sakura tidak bisa meraih tangan Naruto, tapi pada akhirnya mereka tetap berjalan pulang bersama-sama. setibanya di rumah, Naruto membukakan pintu untuk dirinya dan Sakura, mereka berdua segera masuk ke dalam, Naruto berdiri sebentar di depan tiang gantungan yang biasa untuk mengantung jubah Hokage miliknya. Namun tangan Sakura memberhentikan geraknya, ternyata Sakuralah yang ingin melepaskan jubah itu dan meletakkannya di gantungan.

"Kau beristirahatlah Naruto, aku akan membuatkan sesuatu untukmu pasti kau lelah karena perjalanan yang kau tempuh sangat jauh…" ujar Sakura tersenyum manis, Naruto mengangguk lalu ia berjalan menuju kamarnya, ia meletakkan seluruh tubuhnya di ranjang menatap langit-langit yang tak begitu jauh dari jangkauannya. Mata Rinnengan itu masih tajam seperti biasanya.

Sakura terlihat memeriksa lemari es dan tempat penyimpanan makanan, hal yang sebelumnya ia perkirakan salah, biasanya tempat Naruto kumuh, kotor dan berserakan sampah di mana-mana, tapi justru sebaliknya kini tempat Naruto sudah bersih, rapi, dan nyaman untuk ditinggali bau ruangan ke ruangan lainnya pun wangi, padahal tidak ada yang menjaga selama Naruto pergi untuk bertugas keluar desa.

"Dia benar-benar berubah…." Sakura mengambil beberapa bahan dasar memasak, dan memasaknya secara cepat… dan sesegera mungkin dihidangkan untuk orang nomor satu di desa sekaligus orang yang sangat ia cintai. Tapi tanpa disadari, Naruto tertidur dengan sendirinya, rasa kantuk yang sebelumnya menghantui matanya telah terobati ketika ia memejamkan mata, dan tidur dalam senyuman yang istimewa.

"Naruto… aku sudah memasak makanan spesial untukmu, kau harus memakannya ya-" Sakura tersenyum saat mendapati Naruto tertidur dengan cepat, rasa-rasanya ia sangat kelelahan akibat tugas yang diembannya. "Dia pasti kelelahan?" Sakura menarik selimut agar menutupi seluruh tubuh Naruto, dengan senyuman manja ia memperhatikan wajah Naruto yang manis ketika tertidur.

'Saat ia tertidur, ia seperti kembali ke masa lalu, Naruto periang dan bodoh…' tapi disaat bersamaan Sakura terkejut, tiba-tiba saja air mata mengalir dari mata Naruto yang terpejam, ia pun mendengar Naruto mengigau. "Sensei, aku sudah membunuh semua anggota AKATSUKI, bolehkah aku kembali menjadi Naruto yang dulu?" mendengar kata-kata itu hati Sakura tersentuh, air mata tak kuasa ia bendung lagi membanjiri pipinya, ia berusaha menyeka air matanya sendiri namun saking banyaknya ia tak mampu. "Naruto? kau…" ucap Sakura sambil mendekap Naruto yang masih tertidur pulas, begitu hangat sampai dalam mimpi pun, Naruto bisa merasakan kehangatan itu. sore hari itu sangat damai, burung-burung senja berkicauan di langit bebas, masyarakat desa terlihat senang menikmati waktu bersama keluarga masing-masing… dan di rumah sang Uzumaki, Naruto dan Sakura tertidur sampai berjam-jam lamanya.

…..

Tanpa disadari Naruto telah terbangun, sedangkan Sakura masih tertidur di sampingnya dengan posisi duduk, pemuda itu bangkit dari ranjang dan menaruh selimut hangat ke badan Sakura agar tubuhnya tidak kedinginan, perutnya keroncongan dan matanya langsung tertuju pada makanan yang telah sengaja disiapkan oleh Sakura di meja makan, tanpa pikir panjang Naruto langsung melahapnya sampai tak bersisa sedikit pun.

"Enak sekali.."

"Naruto? kau sudah bangun?" tanya Sakura sambil mengusap-usap matanya yang masih ingin terpejam.

"Iya, baru saja."

"Bolehkah aku duduk?"

"Tentu."

Mereka berdua bercakap-cakap sambil memakan makan malam yang dibuatkan Sakura, dan hari itu, rumah sang Hokage jauh dari kesan sepi.

"Baiklah, aku yang mencuci piringnya."

Naruto mengangguk, ia membiarkan Sakura mencuci piring-piringnya dan disaat itulah nafsu Naruto terbangun, secara sadar ia melangkahkan kaki mendekati Sakura, semakin dekat dan dekat, ia memeluk Sakura dari belakang dengan satu tangannya.

"Naruto?"

"Sakura?."

Cup…

Kedua selaput bibir mereka bersentuhan manja, mereka berdua pun semakin larut dalam nafsu dunia antara dua manusia yang sedang jatuh cinta…

Keesokan harinya….

Malam hari penuh kenangan itu telah tergantikan oleh matahari yang muncul setelah bulan lenyap dengan sendirinya, langit biru tak berawan seakan menyambut Naruto dan Sakura untuk bangun dari tidurnya, nampak Naruto yang telah siap mengenakan semua perlengkapan kerjanya termasuk jubah putih bertuliskan 'Rokudaime' ia berbalik sebentar melihat Sakura yang masih terlelap, mata Rinnengan itu masih saja memperlihatkan sorot yang tajam, sang Hokage pun meluncur ke gedung pemerintahan guna mengerjakan apa yang harus ia kerjakan sebagai pemimpin desa Konoha. Ia telah sampai di gedung dan duduk santai sambil meminum secangkir kopi yang telah dibuatkan pelayan kantor, ketika ia hendak menyuprut minuman hangat itu, tiba-tiba saja Naruto menghilang dalam sekejap mata. Meninggalkan asap putih yang terbumbung ke langit-langit ruangan.

Naruto telah tiba di ruangan yang cukup besar, langit-langit terlihat menjulang ke atas, batu persegi panjang tipis adalah pijakannya, dan sekarang dihadapan Naruto telah bersantai seekor katak tua raksasa di dalam mangkok pemandian besar. Mereka menyebutnya pertapa katak yang agung, Naruto terkejut ketika tiba-tiba saja ia dihadapakan oleh makhluk berselaput tersebut.

"Maaf Naruto-chan, aku terpaksa membawamu ke sini… ada yang ingin pertapa agung bicarakan kepadamu" ucap Fukasaku yang sudah berdiri di samping Naruto, namun Naruto tidak terkejut sama sekali, ekspresinya sangat dingin bahkan dihadapan pertapa agung sekalipun.

'Mata Rinnengan kah? mata dari Rikudou-sama, darimana dia bisa mendapatkan mata itu?' pikir pertapa agung dengan gayanya yang bersandar santai menikmati hangatnya permandian khusus yang hanya diperuntukkan untuknya.

Meskipun Naruto dapat membaca pikiran pertapa agung, Naruto tidak mau membeberkannya, ia tetap diam sambil menunggu apa yang akan dibicarakan oleh katak raksasa itu.

"Uzumaki Naruto? kau adalah anak yang diramalkan sesudah Jiraiya, semua impian dan cita-cita Jiraiya telah berada di dalam hatimu, dan itu tidak bisa terbantahkan lagi, semuanya mengalir lembut di seluruh jiwamu, tapi kau berada di dalam kegelapan yang dalam, karena mata Rinnengan itu dan rasa balas dendam yang sangat tinggi karena kematian Jiraiya."

"Jadi kau hanya ingin mengatakan itu kepadaku?"

"Kau tidak sopan Naruto-chan, dialah pertapa agung yang dihormati. Dialah pemimpin para katak yang hidup di gunung Myoboku." Sela Fukasaku menasihati. Naruto pun mengangguk paham.

"Syukurlah kalau kau paham."

Pertapa agung kembali melanjutkan perkataannya. "Itu hanyalah pendapatku setelah melihat kondisi jiwamu sekarang Naruto, tapi cepat atau lambat kau akan kembali seperti semula tergantung upayamu untuk mengubah semua itu."

"Jadi kau tau semuanya?"

Pertapa agung itu mengangguk, tapi bukan itu yang ingin ia bicarakan kepada Naruto, ini menyangkut keselamatan warga desa Konoha, Naruto terlihat menunduk, ia hanya meratapi nasibnya, baru kali ini ada orang yang bisa mengerti penderitaannya, namun pertapa agung cuma memberikan saran untuk kebebasan diri Naruto, tidak lebih, meskipun begitu semua itu sudah cukup untuk Naruto.

"Tapi bukan itu yang ingin kukatakan kepadamu, Uzumaki Naruto."

"Lantas apa?"

"Besok, meteor-meteorid akan jatuh ke bumi, sangat banyak sampai tak terhitung jumlahnya.. maka dari itu… aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa keselamatan desa Konoha berada di tanganmu."

"Apakah ini sebuah ramalan yang nyata?"

"Kenapa kau bisa bicara seperti itu?"

"Karena aku mengalami mimpi yang hampir sama dengan apa yang kau bicarakan, pertapa agung."

Pertapa agung tampak kebingungan, baru kali ini ada yang mendahului ramalannya, bahkan itu tergambar jelas di sebuah mimpi, tapi kenyataannya Naruto belum tau itu akan terjadi kapan? Dan detail mengenai tragedy itu yang hanya ia tahu adalah Naruto merasakan kehancuran itu di dalamnya.

'Apakah Rinnengan itu yang mengatakan semuanya?' batin pertapa agung berspekulasi, suara serak dan lambannya menunjukkan seberapa tua umurnya. Mungkin 100 tahun ke atas, Naruto mengepal tangannya kuat-kuat, memikirkan segala cara untuk menghentikan musibah itu, tapi dengan apa? Pusing bercampur panik, namun semua kegelisahan itu telah sirna karena pemikirannya sendiri, dingin dan tenang… seperti bukan Naruto saja.

"Terima kasih telah memberitahukan informasi penting ini, pertapa yang agung. Aku berhutang budi kepadamu, aku akan menghentikan musibah itu dengan segala cara," ujar Naruto percaya diri, Fukasaku pun tersenyum bangga kepadanya, hal sama juga diperlihatkan oleh pertapa agung.

"Kami mengandalkanmu, Naruto-chan…"

"Eh? Tapi sebelum kau pergi dari sini… kenapa kau mengembalikan kami ketika kau melawan Pain?" tanya Fukasaku terlihat kesal.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak ingin kalian terlibat masalahku, maaf." Ucap Naruto sambil menggaruk-garuk rambut putihnya, Fukasaku pun sebenarnya tidak terima dengan hal itu, namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi begitu saja.

"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkanmu ke ruangan desa kembali, masa depan bergantung kepadamu, Rokudaime.."

Naruto mengangguk sambil memperlihatkan sedikit senyuman percaya dirinya, dan diwaktu yang bersamaan ia menghilang ditemani asap putih yang muncul sesudah hilangnya dirinya. Naruto telah terduduk di kursi Hokagenya, kali ini Shikamaru sudah berdiri di sampingnya, tampak ia terkejut dengan kemunculan Naruto yang tiba-tiba.

"Darimana saja kau?" tanya Shikamaru terkejut.

"Ada urusan penting dengan pertapa yang agung. Shikamaru? Ada berita buruk yang ingin kusampaikan kepadamu."

"Apa itu? jangan membuatku penasaran."

Naruto mengatakan semua yang baru saja ia dengar dari pertapa yang agung, dan Shikamaru terlihat syok sekaligus gelisah mendengar berita buruk tersebut, namun ia berusaha untuk tenang dan tidak membeberkan ini kepada seluruh warga desa, karena dianggap dapat menganggu kestabilan bermasyarakat seandainya hari ini normal, dan jika para Jonin memberitahukan informasi ini, dinilai akan menjadi boomerang untuk Hokage sendiri, sehingga menimbulkan kegaduhan dan kepanikan warga desa.

"Jadi apa yang harus kita lakukan, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Baru kali ini kau bertanya kepadaku tentang solusi yang tepat untuk masalah ini, dimana otak cerdasmu itu?"

"Kau yang sekarang lebih cerdas dariku, pemikiranku ini hanyalah omong kosong bagimu…" Naruto tidak tahu apa yang harus ia katakan mendengar gurauan itu, namun itu adalah candaan yang tepat dalam kondisi seperti ini.

"Tenang saja, aku telah mempersiapkannya secara matang dari dulu.." ujar Naruto dengan kepercayaan diri yang tinggi, sekarang tinggal menghubungi 5 negara besar serta desa-desa kecil untuk melindungi daerahnya masing-masing.

"Apa yang kau persiapkan Naruto?"

"Sebuah kekkai yang besar, namun resikonya sangat tinggi… jika aku mengaktifkan kekkai ini. mungkin saja chakraku bisa habis…"

"Tapi-!" Shikamaru berusaha menentang rencana itu. ia lebih memilih solusi yang lainnya, meskipun telah ditentang asisten, sang Hokage tetap bersikeras mempertahankan rencananya. "Aku tidak akan mati semudah itu.."

Shikamaru terdiam, ia benar-benar kagum terhadap Naruto, disaat-saat genting seperti ini… Naruto dapat mengendalikan situasi, ketenangan, dan suasana agar tidak kacau balau. Padahal ini adalah pekerjaan yang sulit, di masa mudanya Naruto harus melindungi warga desa sendirian. "Karena ini adalah tanggung jawabku, sebagai Hokage."

"Shikamaru?"

"Ya!"

"Hubungi 5 negara besar dan beritahu detail informasi supaya mereka dapat mempercayai berita ini…"

"Baik!"

"Aku akan melindungi desa Konoha untuk yang terakhir kalinya…"

Sunagakure.

Seekor burung elang merapat di tempat pos shinobi Suna untuk memberikan sebuah gulungan berupa informasi terpecaya dari Hokage, surat itu telah sampai ditangan Kazekage. "Dari Naruto? apa isinya? –Tidak mungkin…."

Kumogakure.

"Raikage-sama! ada berita dari Konoha.."

Raikage pun membentangkan surat itu dan dibacanya perlahan-lahan, "Kekonyolan apa ini? tidak mungkin besok ada hujan meteor.."

Iwagakure.

"Hmm, dari Hokage? Tumben sekali dia mengirimku sepucuk surat… I-ini t-tidak m-mungkin, besok sebagian wilayah akan dihujani meteor yang tidak terhitung jumlahnya? Kita harus bertindak cepat."

Kirigakure.

"Mizukage-sama, ada surat untuk anda."

"Surat? Apakah ada yang menyatakan cinta melalui surat kepadaku? Akhirnya… setelah sekian lama…"

"Etto, mungkin anda salah menjabarkannya, itu dari Hokage desu."

"Hokage? Apakah dia ingin melamarku?"

"Maaf sekali, saya tidak tahu.."

Mizukage membuka surat itu dan membaca isinya secara seksama, keringat mulai mengucur dari kulit wajahnya, kegelisahan menyelimuti tubuhnya begitu saja. 'I-ini mustahil, dari sumber terpercaya, pertapa yang agung? Bukankah itu adalah salah satu hewan kuchiyose milik sannin, Jiraiya? Tapi pertapa agung ialah dewa katak yang berada di gunung Myoboku.. tidak salah lagi ini adalah ramalan yang menentukan nasib dunia, katak itu benar-benar tau akan masa depan? ….baiklah aku harus segera melakukan sesuatu untuk melindungi desa ini."

Konoha.

Shikamaru telah selesai dengan tugasnya, sekarang ia memasuki ruangan Hokage kembali. "Aku sudah melakukan sesuai perintahmu, Naruto."

"Bagus, sekarang tinggal persiapannya saja. dan ada lagi yang harus kau lakukan Shikamaru?"

"Perintahkan seluruh Jonin, Chunin, Genin, dan masyarakat Konoha yang berada di luar kawasan desa untuk segera masuk ke dalam desa, pikirkan apapun agar mereka mau masuk ke dalam kawasan desa."

"Baiklah."

Dan Naruto keluar dari ruangan tersebut, untuk memeriksa tempat-tempat yang cocok untuk dijadikan tumpuan kekkai (pelindung/benteng) untuk menutup seluruh wilayah desa Konoha dari luar, terutama bagian atas. Naruto mensurvey posisinya nanti untuk berpijak, ia telah sampai di luar desa Konoha dan menjajaki tanah-tanahnya sambil menancapkan sebilah kunai.

"Di sini, di sini, dan di sini…" total kunai yang telah ditancapkan Naruto adalah 15 kunai, di seluruh sudut desa Konoha. Ia telah memperkirakan secara detail dan tata letak kunai tersebut, Naruto berhenti sejenak di bawah pohon yang rindang dan mengamati kunai terakhir yang baru saja ia tancapkan.

'Ini adalah pekerjaan yang sangat berat, aku harus membuat 15 bunshin dan berkonsentrasi untuk membuat kekkai yang kuat, supaya meteor-meteor itu tidak menembus kekkai dan menghancurkan desa. meskipun begitu aku tidak boleh menyerah sampai di sini karena masa depan desa ada di genggamanku.' Naruto mencoba berpikir keras, wajah dinginnya masih terpasang, sorot Rinnengan tidak berubah sama sekali, ketika ia dihadapkan masalah seperti ini, Naruto teringat akan sesuatu dan pada akhirnya, ia akan menderita.

Kehidupan sangatlah berat bagi sang Hokage, tapi ia harus menjalaninya dengan tulus, apalagi sekarang ada orang yang benar-benar memperhatikannya di rumah, jika dia tahu apa yang sekarang Naruto lakukan, pasti dia akan mencegahnya, melakukan apapun untuk menggantikan posisinya. "Aku mengerti… aku akan segera mengakhiri semua ini." Naruto berjalan menjauhi dari area yang telah ia tandai dan kembali masuk ke dalam desa, tapi sebelum itu ia tampak melihat-lihat konstruksi bangunan Konoha yang 98% hampir sempurna, ia mengawasi para pekerja yang sudah masuk hari ke 12 bekerja.

Teriakan para pekerja untuk menggarap rumah yang terakhir pun bersahutan dari sudut ke sudut, seolah mereka terhubung satu sama lain.

"Hey kayunya!"

"Baik!"

Hokage yang melihat keseriusan itu tampak senang dan antusias melihat para pekerja tersebut, ada juga yang sedang beristirahat di tumpukan balok kayu yang belum rampung digarap. "Hey itu Hokage, ayo cepat kita kerjakan." Ujar pemuda yang melihat Hokage dan takut jika sewaktu-waktu dimarahi karena dia beristirahat waktu bekerja. Naruto pun hanya melambai-lambai dan memberikan semangat dengan jempol.

Dan para pekerja itu mengartikan kode jempol dengan kalimat 'Kerja yang bagus'

"Hokage-sama!"

"Kami akan selalu bekerja dengan giat!"

Naruto berjalan kembali ke desa, tangan kirinya masih buntung dan Naruto menyadari itu, secepat mungkin ia ingin mengganti tangan tersebut dengan tangan sel Hashirama. sebuah gulungan telah ia genggam di tangannya. "Aku mengambil sel putih ini sewaktu hendak meninggalkan ruangan rapat itu, sel ini bisa mencair dan memadat dengan sendirinya, dan aku pikir ini bisa aku gunakan di tangan kiriku… jika aku bisa mengembangkannya sendiri, mungkin aku bisa mendapatkan tangan kiriku kembali…' batin Naruto sambil berjalan tenang ditemani hembusan angin yang menerbangkan jubahnya beserta lengan hampa di tangan kirinya.

Pemandangan desa sama sekali tidak berubah, ketika sang Hokage berjalan melewati jalanan ramai, pasti banyak yang meminta jabat tangan, menyapa, dan hal-hal lainnya, Naruto juga berusaha untuk berbaur dengan masyarakat untuk menilik lebih dalam lagi tentang kehidupan mereka sehari-hari, dan pada akhirnya Naruto tiba di kedai ramen Ichiraku, ternyata di sana ada Chouji, Ino dan Sai.

"Ehh? Hokage?" ucap Ino yang cukup terkejut akan kehadiran Hokage.

"Duduk-duduk, Rokudaime."

"Apa kabar, Naruto?" tanya Sai sopan.

"Baik. Ramen satu."

"Segera mendarat!"

"Bagaimana pekerjaanmu sebagai Hokage Naruto? dengar-dengar kau menjadi pusat perhatian dunia Shinobi setelah berhasil membuat para Kage lain menunduk terhadapmu, hehe." Ujar Ino tanpa memperdulikan tata krama dan sopan santun. Naruto pun hanya diam saja, sebelum ia benar-benar mau menjawab pertanyaan Ino.

Naruto tidak memandang wajah Ino sama sekali. "Begitu kah?" jawaban sesingkat itu langsung menusuk hati Ino. "Singkat sekali?"

"Ada apa Ino, apa kau baik-baik saja?" ujar Chouji sambil menepuk bahu Ino.

"Berisik!"

"Hehehe" Sai hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.

"Baiklah, satu ramen siap!"

Slrppp, Naruto memakan ramen itu tanpa pikir panjang dan menghabiskannya sesegera mungkin, hitung-hitung untuk menambah stamina dan tenaga agar dapat menggunakan jutsu terberat esok hari, 'Makan adalah sesuatu yang harus aku lakukan untuk menjaga stamina." Dan tidak terasa 10 mangkuk ramen telah dilahap Naruto, ia memakan dengan kunyahan pelan dan terlihat ramah.

"Uangnya aku tinggal di situ paman, termasuk milik mereka bertiga."

Ino, Chouji dan Sai pun merasa senang dan terkejut, ramen mereka telah dibayar oleh Naruto. yang berarti Naruto sedang memiliki banyak uang, karena menjadi Hokage bayarannya tidak sedikit.

"Terima kasih, Naruto"

"Lain kali traktir kami lagi ya!"

"Padahal tadi cuek, kenapa dia merubah pandanganku secepat ini, tapi dia benar-benar keren."

Naruto pun berjalan ke lab penilitan yang ditinggalkan Orochimaru waktu dulu, di sana banyak penjaga yang telah sengaja disiagakan di situ untuk melindungi penelitian-penelitian berharga milik Konoha yang disokong oleh Orochimaru sendiri.

'Sudah lama aku tidak ke sini, setelah transplantasi mata Rinnengan imitasi itu…' batin Naruto sambil memasuki laboratorium tersembunyi itu ditemani sambutan hangat dari penjaga yang berada di situ. Naruto memasuki salah satu ruangan yang disitu berguna untuk mengembangkan sel-sel kayu milik Hokage pertama, Hashirama. Naruto menuju ke rak buku dan membaca buku-buku tersebut, satu buku, dua buku, tiga buku, dan semuanya telah habis dibaca Naruto, hingga malam hari Naruto masih berada di dalam ruangan tersebut sambil duduk santai dan membaca buku terakhir.

'Jadi itu rahasianya? Aku sudah mengerti, sekarang aku dapat melakukan percobaan implant tangan ini.' dan operasi akhirnya dimulai…

Di langit yang indah seperti biasanya, satu meteor telah jatuh di tempat yang tidak diketahui dan itulah awal dari kehancuran 5 negara besar yang berada dalam rute jatuhnya meteor-meteor itu.

"White-sama?"

"…..?"

"Bukankah ini buruk, meteor-meteor itu mulai mendekati Konoha."

"Tenang saja, dia pasti akan melakukan sesuatu. Karena kehancuran dunia yang sebenarnya adalah berada di dalam tubuhnya sendiri."

To be continue

Chapter 24 END!

Beberapa chapter lagi POW akan tamat .. terus tunggu ceritanya... spoiler dapat dilihat di fbku. Yoshino Tada... tapi spoiler chapter 25 akan saya update besok...

See you next week! :)

jangan lupa reviewnya ya! karena itu adalah penyemangatku untuk tetap berkarya.

UPDATE: Sabtu, 23 MEI 2015. pukul 14:00