Gekkan Shoujo Nozaki-kun
Belong to Izumi Tsubaki sensei
.
.
.
Simple Romance, Little Hurt
a bit Humor
.
.
.
a fanfiction Gekkan Shoujo Nozaki-kun
"Permainan Hati"
by Shireni Hime
Chapter 3
Sang Tamu
A/N : Yang baca manga nya pasti tahu siapa/seperti apa Nozaki Mayu, meskipun masih pakai sedikit sifat bawaan dari Izumi Tsubaki sensei tapi Mayu mengalami sedikit atau kelewat OOC dalam cerita ini. Dalam serial manga "Komikus Shoujo Nozaki" dijelaskan oleh Izumi Tsubaki sensei Nozaki memiliki dua orang adik. Satu seorang laki-laki dan satu seorang perempuan, hanya saja adik perempuan Nozaki belum muncul dalam manga ataupun animenya. Jadi tidak akan digambarkan Siapa, bagaimana dan seperti apa. Adik perempuan Nozaki cukup dipanggil 'adik' dalam cerita ini.
"Chi-nee chan" adalah panggilan yang author buat sendiri, karena blm dijeleskan panggilan khusus untuk Chiyo dari Mayu. Karena scene nya memang sedikit sekali.
.
.
.
Sekarang adalah hari Sabtu, gadis berpita dua itu tersenyum dalam setiap langkahnya. Bukan karena dia ada kencan, bukan juga karena dapat undian. Sakura Chiyo, gadis berambut oranye itu akan melakukan rutinitasnya menjadi asisten mangaka Nozaki Umetarou. Bagi Chiyo, menjadi asisten dan bertemu Nozaki saja sudah membuatnya senang. Apalagi ia akan mengembalikan kaos yang dipinjamnya saat menginap beberapa hari yang lalu.
"Semenjak demam, aku baru bertemu Nozaki-kun lagi. Menyenangkan", gumamnya pelan sambil memeluk tas berisi kaos itu. Padahal ketika ia melihat kaos itu ia selalu terbayang pahanya yang terpampang di depan Nozaki.
Kini Chiyo sudah berada di depan pintu bertuliskan Nozaki. Tangan mungilnya maju mundur seolah ragu untuk mengetuk. Sesekali ia benar-benar teringat insiden paha itu. Chiyo menguatkan hati, Ia baru akan mengetuk pintu saat Nozaki membuka pintunya.
"Ah, Sakura..", Nozaki merapikan jaketnya. Cuaca memang mulai dingin. Padahal bunga sakura baru saja bersemi.
"Kau mau pergi, Nozaki-kun?"
"Ah... iya", wajahnya tanpa ekspresi. Ia menarik pintu dan menguncinya. "Ada apa, Sakura?" tanya Nozaki.
"Sepertinya waktuku kurang tepat yah...", Chiyo tertawa garing. "Aku mau mengembalikan ini", ia menyodorkan tas berisi kaos Nozaki. Sementara Nozaki hanya meliriknya bingung. "Lalu..."
"Lalu...?"
"Kau kan yang menyuruhku datang kerumah mu untuk mengerjakan beta, kenapa sekarang kau akan pergi, Nozaki-...". Kalimat Chiyo dipotong.
"Ah, suman Sakura. Aku tidak lupa, tapi aku harus menjemput seseorang. Kalau begitu, ini...", Nozaki memberikannya kunci. "Anggap saja rumah sendiri", kini pria jangkung itu meninggalkan Chiyo didepan kamar apartment nya.
"yah... mau bagaina lagi", Chiyo menghela napas. Kemudian ia membuka pintu apartment Nozaki. "Permisi...", Chiyo memasuki apartment Nozaki.
Chiyo terlihat sangat bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa, sementara tuan rumah tidak ada ditempat. Ia jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk minum saja tidak berani. Chiyo melihat tumpukan kertas diatas meja belajar Nozaki.
"Sepertinya melakukan beta akan lebih baik daripada hanya diam", ia melirik setiap kertas yang ada dimeja itu, mulut nya juga melafalkan mantra agar benda tersebut cepat ditemukan. "beta...beta...beta...beta...beta...", seperti itulah mantranya. Seperti nya ia tidak menemukan gambar yang siap untuk di beta. "Apa Nozaki-kun menyimpannya ditempat lain yah? Tapi setahu ku...",
BRUUUK!
Tangan Chiyo menyenggol tumpukan kertas lainnya. Kemudian ia merapikan kertas-kertas itu.
"Apa ini? 'tidak ada juduul' ", Chiyo membaca kertas ditangannya. Sebuah draft kasar yang tidak jelas gambarnya, bahkan teks pun blm ada. "Sepertinya karya Nozaki-kun yang lain". Ia meletakkan kembali dengan rapi kertas-kertas itu. Sepertinya ia menyerah mencari beta sampai akhirnya ia melirik ke arah dapur dan melihat setumpuk kertas dengan beberapa gambar penuh tanda x (r;silang).
"Hey, kenapa kau meletakkannya disini, Nozaki-kun"
Chiyo memulai kegiatannya membeta. Dia sudah memasuki halaman ketiga, dan terdengarlah ketukan pintu.
"Loh, Nozaki-kun cepat sekali...", pintupun diketuk lagi. "Iyaa iyaa, Nozaki-kun", Chiyo melepaskan kuasnya dan berjalan menuju pintu. Membuka kunci, dan membuka pintu.
"Kau cepat sekali, Noz...", Chiyo terkejut ketika yang berdiri dihadapannya bukanlah Nozaki, bukan Nozaki Umetarou. Mata Chiyo melirik dari dada ke atas dan memang bukan Nozaki.
"Ano...", kata pria yang sama jangkungnya dengan Nozaki, mungkin ia terlihat lebih pendek sedikit dari Nozaki. Kemudian ia celingak-celinnguk seperti mencari seseorang.
"Maaf, sepertinya saya salah kamar". Wajah pria itu tanpa ekspresi. Mengingatkan Chiyo pada Nozaki.
"Oh, begitu...", Chiyo tidak kalah dengan tanpa ekspresinya. Kemudian ia menutup kembali pintu apartment.
Pria didepan masih menatap pintu bertuliskan Nozaki dihadapannya. Kemudian mengetuk pintu lagi. Chiyo yang belum jauh dari pintu membukanya kembali, dan masih menemukan sosok lelaki jangkung itu didepannya.
"Ano..", ujar pria itu.
"Apa ada yang bisa ku bantu? Anda mencari siapa?"
Pria itu menunjuk papan nama 'Nozaki' yang ada didepan pintu.
"Anda mencari Nozaki-kun?"
"Nozaki-kun...?", pria itu malah bertanya balik.
"i...iyaa... Nozaki-kun pemilik apartment ini. Tapi maaf dia sedang keluar, katanya menjemput seseorang".
Pria itu kemudian mengambil handphone di sakunya. Mencari sebuah kontak dan mengirim email.
"Kalau begitu, permisi...", Pria itu melewati Chiyo dan masuk kedalam apartment.
.
.
Bagaimana ini? ada orang tidak dikenal masuk ke apartment Nozaki-kun. Bagaimana kalau dia ternyata... TIDAK! Cepat kembali, Nozaki-kun!
Chiyo membayangkan kasus pembunuhan yang mengorbankan anak gadis remaja. Entah dapat darimana gambarannya itu.
"Hey!", Chiyo merentangkan tangannya. Ia menghentikan langkah lelaki asing itu. "Siapa kau! Ja.. jangan masuk se-enaknya!". Pria itu hanya menunjuk ke arah meja yang penuh dengan tumpukan kertas yang harus Chiyo beta.
"A...apa kau kenalan Nozaki-kun?"
"Nozaki-kun?", dia bertanya balik.
"Kenapa kau selalu bertanya kembali? Nozaki... Nozaki Umetarou!"
Pria itu hanya berdehem dan duduk di depan meja. Kakinya menyilang, tubuhnya juga ia condongkan kemeja, kini pria besar itu benar-benar terlihat seperti pemalas. Chiyo mengambil posisi duduk melanjutkan beta nya.
"Hey, namamu siapa?", tanya Chiyo. Bukan jawaban malah tatapan yang Chiyo dapatkan. Membuat Chiyo bergidik ngeri. "He...ey...?", Chiyo terbata. Lelaki itu kemudian menyentuh kerongkongannya sendiri dan berdehem kecil.
Maksudnya itu, dia meminta minum. iya..kan?
"Kau mau minum sesuatu?", wajah pria itu kini lebih berbinar. Ia mengangguk dengan cepat. Chiyo hanya tertawa garing. Dalam benaknya, ia sedang berurusan dengan pria aneh.
"Maaf , aku bukan tuan rumah jadi hanya bisa memberimu ini". Chiyo menyuguhkan air mineral pada pria itu. "Silahkan", pria itu langsung meneguk air tersebut sampai habis.
Oi! Kau benar-benar ke hausan!?
Pria itu kembali menatapnya. Ia mengetuk-ngetuk gelasnya.
"Kau benar-benar kehausan yah?". Pria itu kembali hanya mengangguk dengan cepat. Kali ini Chiyo menambahkan es batu kedalamnya. "ini, silahkan", Pria dihadapannya itu semakin berbinar lebih dari gelas yang pertama.
Itu hanya air mineral, iya kan?
"Sakura!", terdengar sebuah teriakan dari luar pintu dan kemudian hembusan napas yang terengah-engah semakin mendekat.
"Sa...kur..aa", seru Nozaki.
"Nozaki-kun?", Chiyo heran melihat sosok Nozaki yang terengah dan dibasahi keringat. Walau ia nampak keren di mata Chiyo. Oh shoujo manga...
Mata Nozaki lalu beralih pada seorang pria yang duduk dihadapan Chiyo. "Mayu!", teriaknya.
"Yo, kaka..." tangannya terangkat memberi salam.
"Ka...ka? KAKA?!", Chiyo sangat terkejut bahkan dia bisa merasakan jantungnya akan berhenti. Kemudian ia menatap Nozaki. Meminta kepastian.
"Ah, suman Sakura. Dia ini adikku. Nozaki Mayu. Dia masih SMP, jadi santai saja"
"S-m-p? Ja...jangan bercanda, Nozaki-kun", Chiyo nampak ragu. Tentu saja, pria yang tinggi nya hampir 190 itu adalah anak SMP. Ditambah perawakannya, setidaknya Chiyo menganggap kalo pria ini seumuran dengan Nozaki.
Pria bernama Mayu itu kemudian menarik celana Nozaki, tidak sampai kedodoran, tentu tidak.
Mata kedua pria itu bertemu, yang satu tanpa ekspresi dan yang satu juga tanpa ekspresi. Membuat seorang Sakura Chiyo merasa bukan bagian dalam lingkungan itu.
"Kau lapar?", tanya Nozaki dan adiknya hanya mengangguk.
Percakapan apa yang kalian buat?!
"Jadi, kalian tidak pacaran?", sebuah kalimat yang membuat tinta beta Chiyo melenceng dari alurnya.
"Ee...to...", Chiyo tentu bingung harus jawab apa.
"Oh Sakura? Kau tahu dia itu penggemarku, benarkan Sakura?", seru Nozaki dari dapur. Dapur nya memang berhadapan tanpa dinding dengan ruang tengah yang biasa dipakai Chiyo dan asisten lainnya.
Mendengar kalimat itu hati Chiyo cukup teriris, tapi nasi sudah menjadi bubur dan itu memang salahnya sampai-sampai Nozaki berpikir bahwa ia adalah penggemarnya.
Chiyo hanya berdehem dan sedikit tersenyum sampai akhirnya ia melanjutkan kegiatan betanya.
Penggemar yah?
Mayu menatap Chiyo sungguh dalam. Memperhatikan gadis mungil di hadapannya.
"Mayu... berhenti menatapnya seperti itu. Dia bisa membencimu", ujar Nozaki sambil memakai celemeknya, membuat Mayu dan Chiyo menatap Nozaki. Mayu menunjuk-nunjuk Chiyo.
"Ah! Aku lupa. Dia Sakura Chiyo, asisten yang membantuku untuk beta. Dan... walaupun mungil Sakura seumuran denganku, artinya dia adalah kakakmu juga"
"Kaka...k? Sakura atau Chiyo saja cukup"
"Chiyo?"
"Sakura. Kau boleh memanggilnya begitu, Mayu", titah Nozaki.
"Chiyo...", gumam Mayu.
"Ha...hai", Chiyo malah menjawabnya dengan gugup.
"Mayu?", Nozaki bertanya namun penuh penekanan. Bahkan Mayu cukup menatapnya tajam.
"Chi-nee chan!", Mayu memangku kepalanya dengan kesua tangan miliknya yang cukup besar itu.
"Eeeh?", Nozaki dan Chiyo sama terkejutnya.
Kalimat yang tidak pernah akan dibayangkan Nozaki, tidak sama sekali.
"Chi-nee chan? Hoy Mayu!"
"Tidak apa, Nozaki-kun", Chiyo tersenyum kearah Nozaki dan Mayu.
"Terimakasih, Mayu-kun"
"Mayu. Chi-nee chan bisa memanggilku Mayu, tanpa suffix", kemudian ia tertawa sedikit dan menatap Nozaki dengan seriangaiannya. Nozaki hanya menatapnya tanpa ekspresi dan kembali memasak.
"Hai... hai... Mayu", Chiyo melanjutkan betanya.
.
.
Nozaki selesai memasak makanan untuk Mayu dan juga Chiyo. Ia meletakkan makanan di meja tempat Chiyo membeta. Membuat Chiyo harus merapikan kertas-kertas itu agar aman dari noda makanan ataupun minuman.
"Ini untuk Mayu", ia meletakkan sepiring omelet ukuran besar. "Dan ini untuk Sakura", Nozaki memberikan omelet yang sama besarnya dengan milik Mayu.
"Ano, Nozaki-kun. Ini terlalu besar"
"Kalau begitu bagi dua saja", Nozaki kembali kedapur dan mengambil sendok.
Sa...satu piring berdua dengan Nozaki-kun. Cara seperti apa yang harus aku gunakan?
Wajah Chiyo mulai seperti kepiting rebus. Kemudian semakin menjadi ketika Nozaki menyuap dari piring yang sama.
"Apa kau demam lagi, Sakura? Wajahmu merah sekali", Nozaki hampir saja menyentuhkan tangan kirinya di kening Chiyo. Namun Chiyo memundurkan dudukannya. Bisa dibilang ia menghindar. Karena perhatian Nozaki akan membuatnya tenggelam dalam harapan.
"Ti...tidak Nozaki-kun, Aku hanya..." hap~ Mayu menyuapi Chiyo yang sedang bicara.
"Masakan kaka itu enak, Chi-nee chan. Sayang kalau kau tidak memakannya"
"O...oishii"
"Ya kan?", Mayu kembali menyantap makanannya. Kini Chiyo nampak lebih rileks. Meskipun ia hampir sering makan masakan Nozaki, tapi kali ini rasanya lebih nikmat. Semburat merah kini kian menipis dari wajahnya. Ia menyendok nasi dari piring yang sama dengan Nozaki penuh kebahagian.
Setidaknya aku masih bisa merasakan nikmatnya makan sepiring berdua denganmu, Nozaki-kun.
"Sakura" Nozaki mengejutkannya. Terlebih dengan sebuah sendok dihadapan Chiyo.
"Eh, Nozaki tidak usah seperti Mayu. Aku bisa makan sendiri", kata Chiyo diakhiri dengan tawa terpaksa. Tentu ia sangat ingin disuapi oleh Nozaki.
"Oh begitu", Ia kembali menarik tangannya. Wajah Nozaki tertunduk. "I..ini untuk Suzuki dan Mamiko"
"Oooh begitu rupanya. Ba..baiklah Nozaki-kun", Nozaki mulai menyodorkan tangannya kembali. Akhirnya nasi itu masuk ke mulut Chiyo. Nozaki menatap lekat Chiyo. Wajah Chiyo hampir saja memerah namun ia ingat bahwa ini untuk manga Nozaki. Akhirnya ia hanya berkata, "Oishii, Nozaki-kun" dengan di akhiri senyuman yang ia coba setulus mungkin. Nozaki bernapas lega kemudian ia mengambil note yang selalu di bawa dalam sakunya, namun tidak ia temukan. Kemudian ia mulai mencarinya disekitar, juga di meja belajarnya.
"Jadi, idenya membuat Suzuki menyuapi Mamiko yah?", tanya Chiyo. Nozaki yang sedang mencari notenya kemudian mengalihkan pandangannya kearah Chiyo. Ia hanya mengangguk, didampingi tawa Chiyo yang entah mengapa terdengar menyakitkan
di telinga Mayu.
Sepertinya, cukup seperti ini yah, Nozaki-kun. Tapi, aku bahagia.
Namun kebahagian itu hanya sesaat.
"Sakura!", Nozaki kembali mengejutkannya. Ia menunjuk tumpukan kertas dimeja nya. Wajahnya terkejut bukan main. Membuat Chiyo cukup speechless, ia tidak pernah melihat wajah semengejutkan itu dari Nozaki.
"Ha...hai...i, Nozaki-k..." belum selesai kalimat Chiyo dipotong oleh Nozaki.
"A...aapa... ka...u mem...memmba...canya?", Nozaki terbata.
"Ah, itu maaf, Nozaki-kun aku.."
"Kau membacanya?! Sakura!?", Kali ini membuat Chiyo benar benar takut, suara yang keluar dari mulut Nozaki begitu keras. Tidak seperti biasanya.
"I...ituuu aku memang membacanya ta...taa..pii tapi aku sungguh tidak bisa membacanya. Sungguh. Ma...ma...maksudku itu, ano tidak bisa kubaca Nozaki-kun. Bahkan aku tidak bisa mengenali gambarmu. Ku pikir itu karya barumu yang belum selesai karena tidak ada judul dan masih draft kasar. Maafkan aku, Nozaki-kun. Sungguh maafkan aku. A..aapa halamannya teracak, bi..biar ku rapikan, Nozaki-kun!", Chiyo bahkan terbangun dari duduknya. Ia hampir saja mendekati Nozaki, hingga...
"Jangan sentuh meja belajarku, Sakura. Apapun alasannya", Kalimat itu dikatakan Nozaki dengan begitu dingin. Rasa dinginnya terlalu menusuk hingga membuat hati Chiyo terasa beku. Kini ia berpikir kalau ia benar-benar bersalah.
Apa aku mengacaukan semuanya. Haruskah seperti itu, Nozaki-kun. Rasanya, sakit...
.
.
"Kaka", Nozaki menatap asal suara itu. Seorang anak SMP dengan tubuh bongsornya. Dari meja belajar itu Nozaki hanya menyahuti nya dengan gumaman.
"Kau ini bodoh atau apa?". Kalimat ini sukses membuat Nozaki membalikkan tubuhnya dan menatap Mayu searah.
"Apa maksudmu, dik?"
"Sungguh tidak mau meminta maaf pada Chi-nee chan?"
"Memang apa yang telah aku lakukan?"
"Apa kau tidak sadar telah membentaknya?"
"Kapan kau akan pulang? Apa ayah tidak mencemaskanmu?"
"Pengalihan", Mayu memutar matanya. "Apa kaka tidak ingin pulang dan bertemu dengan ayah?"
Nozaki hanya merebahkan tubuhnya pada sandaran bangku. Ia bisa merasakan kelelahan luar biasa di bahunya. Seolah butuh seauatu yang cukup hangat untuk membuatnya nyaman.
"Hay Mayu, ambilkan aku handuk yang direndam air hangat", Mayu hanya berbaring dan mengguling-gulingkan badannya. Pada akhirnya Nozaki harus mengambil sendiri handuk itu. Ia duduk disamping Mayu yang asik dengan mengguling-guling sendiri.
"Dasar pemalas", Nozaki mengacak lembut rambut adiknya itu.
"gomenasaiiiiiiiiii~", seru Mayu dengan lemas.
"Bagaimana, sekolahmu?"
"Baik"
"Ibu dan adik?"
"Baik"
"Hmmm"
"Ayah?", kini Mayu yang bertanya. Tubuhnya tengkurap, Wajahnya menengadah keatas menatap Nozaki.
"Aku tahu dia baik-baik saja". Nozaki menghentikan kata-katanya. "Jadilah anak baik, Mayu. Jangan seperti kakamu ini", lanjutnya.
"Sejak kecil aku selalu mengikutimu ka"
"Benar juga. Kau masih bermain judo?"
"hmmm"
"Tidurlah, kau harus pulang kerumah besok". Ia kembali berguling guling dilantai.
"Kau tidak paerlu menggelar futon, tidurlah dikasur", mata Mayu berbinar-binar seolah berkata 'terimakasih kaka ku tersayang'
"Hai...haiii... tidurlah sana"
"Aku bertaruh besok mata Chi-nee chan pasti sembab dan merah"
"Apa?"
Mayu malah menutup pintu kamarnya dan sepertinya mulai tertidur karena saat Nozaki memanggilnya tidak ada jawaban. Mayu adalah adik Nozaki yang pertama, sangat pemalas dan menghemat energinya untuk judo.
.
.
Chiyo masih berusaha tegar dengan semua harapan dan ketidak pekaan Nozaki. Namun, kali ini sungguh membuat hatinya jauh lebih sakit.
"Aku lebih memilih untuk terus berharap padamu Nozaki-kun. Kata-katamu tadi itu, sangat menyakitkan"
Chiyo memeluk gulingnya. Ia merasakan buliran hangat membasahi pipinya, matanya sudah tidak kuat menampung bulir-bulir itu.
Handphone nya berdering, dan itu dari Nozaki. Ia tidak sanggup mengangkatnya, dengan suara seperti ini. Tidak menutup kemungkinan Nozaki akan mendengar isak tangisnya kan?
Tidak lama kemudian sebuah email masuk. Email dari Nozaki.
"Kupikir kau akan meminta maaf, Nozaki-kun" setelah menatap tulisan 'maaf mengganggu waktumu. tolong datang kerumah untuk membeta lagi, Sakura'
"Pada akhirnya aku membawa pulang kaos mu lagi, Nozaki-kun"
.
.
Ketukan pintu terdengar sangat lemas. Seperti biasa, Chiyo langsung masuk ke dalam.
"Permisi", ucap Chiyo begitu lemas. Seperti beberapa waktu yang lalu, ia habis menangis semalaman dan tertidur dengan sendirinya. Rambutnya memang rapi, tapi wajahnya benar-benar kusut.
"Chi-nee chan!", Mayu yang bermalas-malasan itu berlari menuju Chiyo. Ia terlampau gembira. Namun ia terhenti ketika melihat keadaan Chiyo yang hampir seperti zombie.
"Kau baik-baik saja, Chi-nee chan?", Nozaki yang mendengar kalimat itu segera membalikan tubuhnya yang sedang menggambar manga.
"Apa kau demam lagi, Sakura? Matamuuu..."
"Aku hanya kurang tidur, Nozaki-kun. Kalian terlalu menghawatirkanku", Ia tidak mau kegiatan menangisnya diketahui oleh Nozaki bersaudara.
"Hey Mayu, apa kau punya kemampuan seorang cenayang?"
"Hah?", Sakura dan Mayu saling tatap dan berbalik menatap Nozaki dengan penuh keheranan.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
Next Chapter Summary ::
Mayu yang selalu senang saat ada Chiyo mulai meluluhkan hati Chiyo. Lalu, apa Chiyo akan pindah hati pada adik kecil, Mayu?
Ayah Nozaki menelpon. Nozaki menangis?
