POW update lebih cepat...karena besok sabtu paketan saya habis!

Chapter 25 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 25

Terakhir

Tengah malam, seseorang berjubah putih bergelar Hokage keenam telah mendapatkan tangan kiri yang baru, tangan itu masih berwarna semu keputihan menunjukkan bahwa tangan itu baru selesai dipasang, pemuda berambut putih itu mencoba melatihnya sedikit-sedikit, dimulai dari gerakan mudah, ia berusaha membolak-balikkan halaman buku yang ia baca menggunakan tangan kirinya. 'Aku mulai bisa, walaupun masih belum sempurna seperti tangan asli pada umumnya.' Naruto pun melanjutkan membacanya di bawah lampu yang diterbangi serangga-serangga kecil. Dan ia menyadari sesuatu bahwa kehancuran dunia telah dimulai…

'Gawat, aku harus bertindak, kenapa harus disaat seperti ini…' wajah sang Hokage nampak cemas, ia langsung bergerak menuju ke tempat persembunyian di mana ia bisa berkonsentrasi tanpa ada gangguan sedikit pun. Namun disaat ia melewati jalanan desa yang sunyi dan sepi, ia melihat ke langit, sebuah meteor dengan ekor api yang membara mulai masuk ke wilayah Konohagakure melewati langitnya dan menuju ke sembarang tempat di sekitar desa.

Tidak ada seorang pun di sana, warga desa sudah tertidur lelap, tanpa menghiraukan bencana besar ini… bukan tidak menghiraukan namun mereka tidak tahu, Naruto memang sengaja tidak memberitahu kepada masyarakatnya agar tidak timbul kepanikan karena ia yakin bahwa dirinya dapat melindungi desa Konoha.

Naruto berlari tergesa-gesa, sambil melihat ke atas langit yang semakin lama semakin banyak meteor yang berjatuhan. Naruto membuat handseal di tangannya. "Kagebunshin no Jutsu!" 15 bunshin telah terbentuk dan mereka menyebar ke seluruh penjuru desa Konoha, menuju ke semua titik yang telah ditandai oleh Naruto sebelumnya.

Di semua rumah, tampak terlihat Chouji yang sedang tertidur pulas, Kiba yang memeluk Akamaru, Ino juga tertidur nyenyak bermimpi tentang 'Sasuke' sementara itu Sakura tidur lagi di rumah Naruto untuk menunggu kepulangannya, semua warga desa juga sama, mereka masih tidur tanpa tau apa yang terjadi di dunia nyata sekarang, satu orang Hokage berusaha menyelamatkan desa sendirian. Walaupun seperti itu, Shikamaru masih menemani Naruto, ia hanya melihat dari gedung lantai atas dengan mengepal tangannya erat. 'Apa yang bisa kulakukan sekarang! tchh'

Guru Kakashi menyadari sesuatu ketika ia tidur melalui mimpi, namun rupa-rupanya ia tidak bisa bangun disaat itu juga, karena jam menunjuk pukul 01:00 dini hari, semua terlelap dari malam yang mengerikan.

Duarrr! Satu meteor telah menyentuh daratan bumi di sebelah utara desa Konoha 10 kilometer jauhnya, namun ledakannya terdengar sampai telinga Naruto. 'Aku harus segera melakukannya…'

Di luar desa, bunshin-bunshin Naruto telah bersedia di tempat masing-masing, mereka membuat sebuah handseal di tangan dengan keselarasan waktu yang tepat. Naruto asli telah tiba di tempat yang ia tuju, sebuah ruangan di atas perbukitan patung Kage, di situ terdapat satu ruangan yang hanya dikhususkan untuk Hokage berupa singgasana terbuat dari batu dan meja kecil yang tak jauh dari kursi tersebut, Naruto membuat handseal dan serentak seluruh bayangan menirukan ucapannya.

Ninpou: Shisekiyoujin!

Jutsu penghalang yang dapat menghentikan Bijuu dama besar sekaligus telah menyelubungi seluruh desa Konoha, sekarang desa daun itu telah terselimuti setengah lingkaran berwarna kemerah-merahan transparan, satu meteor jatuh menghantam desa.

Duarrr!

Namun meteor itu tidak bisa menembus kuatnya pertahanan jutsu terlarang tersebut, dan ketika jutsu itu hanya berlangsung beberapa detik saja, Naruto telah mengeluarkan darah dari lubang hidungnya. Uogghh…! Darah mengalir keluar lubang hidung dan menetes sampai bibirnya. 'Tubuhku tidak kuat menahan jutsu dengan mengandalkan chakra besar ini, meskipun aku telah melakukannya dengan sempurna, tapi tetap saja, tubuhku tidak bisa menahannya.' Naruto masih berusaha untuk melakukan yang terbaik, sesuatu hal yang mendorong dirinya untuk mengorbankan nyawa sampai seperti itu ialah ketika ia melihat anak-anak desa berlari-larian dan tertawa bersama, orang-orang desa yang selalu tersenyum kepadanya, memuji-mujinya,

'Hokage?'

Jika semua orang mendengar kata itu, pasti dalam benak mereka terpikir seorang yang…... 'Sepertinya ini adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk kalian semua, terima kasih….'

Duarrrr!

Duarrr!

Duarrr!

Meteor itu berjatuhan silih berganti, sampai beberapa diantara warga desa terbangun dari tidur lelapnya, melihat meteor itu menerjang desa dengan bengis, ingin rasanya mereka berlari, tapi ketika mereka melihat meteor tersebut terhalang oleh sebuah pelindung, mereka mulai menunjukkan senyum kegembiraan. Jam menunjuk pukul 03:00 dini hari, dan masyarakat desa beranjak dari ranjangnya dan berlarian ke luar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Meteor itu terhalang oleh sebuah pelindung!"

"Sepertinya itu adalah salah satu jutsu Naruto-sama!"

"Yee! Kita terhindar dari kehancuran…"

"Terima kasih, Hokage-sama…."

Guk Guk Guk! Gonggongan Akamaru membangunkan Kiba dan disaat itulah pemuda penyuka anjing itu terkejut dengan kejadian di luar rumah, ia keluar dari rumah dan melihat langit yang dalam keadaan mengerikan. "T-tidak mungkin… dan penghalang itu, aku yakin pasti dia….' Kiba mengeraskan giginya dan berlari mencari-cari di mana pemuda berambut putih itu.

Sedangkan Shino telah menyebarkan serangganya untuk mencari-cari di mana Naruto berada. 'Aku harus membantunya…'

Walaupun berbadan gemuk Choji sepertinya sudah menyadari situasi yang terjadi sekarang ini, dia berlari-lari di sepanjang jalan desa melewati orang-orang yang berhamburan di tengah desa melihat kejadian langka tersebut, mereka menjadikan itu sebuah pemandangan indah yang sangat jarang ditemui.

'Tidak ada di sini, tidak ada di sini… di mana kau, Naruto!"

Sedangkan Shikamaru masih berada di lantai gedung paling atas, ia hanya bersandar di sebuah tiang penyangga genting sambil berharap kepada tuhan untuk menyelamatkan desa Konoha dan Naruto. 'Meskipun aku tau ini adalah pilihan yang sangat sulit, tapi tetap saja sebagai penasihat Hokage aku sudah gagal dalam tugasku, pada akhirnya aku tidak bisa menemukan solusi yang terbaik atas bencana ini dan hanya berharap kepada Naruto seorang.'

Si taring putih, Hatake Kakashi sudah memakai pakaiannya lengkap dan keluar dari rumahnya untuk mengamati insiden ini dengan mata kepalanya sendiri dan sesekali menyuruh genin atau jonin untuk mengatur warga desa supaya tidak panik. 'Kenapa bencana ini tiba-tiba terjadi begitu saja, dan penghalang apa ini? apakah Naruto yang melakukan semua ini? tapi… ini memerlukan chakra yang sangat besar dan konsentrasi yang tinggi…. Tidak mungkin dia bisa melakukannya sendirian.' Kakashi tampaknya sangat khawatir terhadap situasi yang menimpa Naruto sekarang, meskipun ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Hokage keenam tersebut.

Di samping itu, Iruka-sensei telah berbaur dengan warga desa, menyuruh warga desa untuk tenang, dan tidak terlalu terlarut dalam nuansa langka itu, indahnya rembulan, beserta meteor-meteor yang dapat dilihat secara jelas dari dalam pelindung itu, membuat sebagian orang malah tidak takut lagi, mereka melihat itu sebagai pemandangan alam yang elok nan cantik, mengesampingkan seseorang yang telah menderita karena menggunakan jutsu terlarang ini. puluhan meteor berapi-api menghantam pelindung tersebut, namun kokohnya penghalang itu tetap tidak berubah, bahkan penghalang berwarna merah tembus pandang tersebut tidak tergores sedikit pun, bertubi-tubi meteor itu menjatuhinya tapi tetap sama saja seperti sebelumnya, ledakan yang menimbulkan asap hitam itu terlihat tertiup angin dengan cepat sehingga langit biru tua masih terlihat jelas di semua mata yang memandang ke angkasa.

Iruka masih melihat ledakan meteor itu dari bawah, melihatnya saja sudah membuatnya panik, apalagi jika meteor-meteor itu berhasil menembus pelindung itu, desa Konoha pasti hancur dan akan menewaskan korban yang tak sedikit.

'Naruto apa kau yang melakukannya?' tanya Iruka dalam hatinya sembari melihat meteor-meteor itu yang masih berjatuhan terus-menerus. Langit masih berwarna biru tua, dan bongkahan-bongkahan meteor serta meteorid masih tertib menghujani daratan bumi khususnya bagian 5 negara besar yang notabene ialah rute meteor-meteor tersebut.

Sai masih berlari-larian di tengah desa, bingung mencari-cari keberadaan sang Hokage, Lee dan Tenten juga demikian mereka sibuk mencari Naruto, dan pada akhirnya mereka semua bertemu pada satu tempat yakni sebuah perempatan di salah satu jalan desa Konoha.

"Kalian?" ucap Neji yang sedari tadi menggunakan Byakugannya untuk mendeteksi keberadaan Naruto. Ino, Chouji, Kiba, Shino, Hinata, Tenten, Lee, Neji, dan Sai tak sengaja berkumpul di tempat itu, keramaian masih menjalar di sekitar mereka, dengan nafas terengah-engah Lee berusaha mengawali pembicaraan itu.

"Apa kalian juga ingin menemukan Naruto?" tanya Lee sambil meletakkan kedua tangannya di lutut sebagai tumpuan atau penyangga tubuh. Ino dan lainnya menggelengkan kepala. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kiba kebingungan, meteor-meteor itu belum berhenti, malah semakin banyak dari yang sebelumnya.

"Kita harus menyebar lagi untuk menemukan Naruto," jawab Neji memutuskan, semuanya pun sepakat dan mencari Naruto di seluruh penjuru desa, sampai sudut-sudut yang sulit dijangkau pun mereka datangi hanya untuk memastikan keadaan Hokage. Sedangkan di tempat lain Tsunade bersama Shizune hanya bisa menatap ke langit malam yang dipenuhi hujan meteor yang dahsyat, angin malam yang dingin tak bisa mencegah keringat wanita itu untuk keluar dari kulitnya, keringat kegelisahan terus mengucur membasahi wajahnya.

"T-tidak mungkin….."

"Tapi Tsunade-sama, kita telah terlindungi oleh selubung aneh itu," sela Shizune sambil menunjukkan jarinya ke atas.

'Memang… tapi ini sangat mustahil, jutsu tersebut hanya bisa digunakan oleh beberapa ninja yang kekuatannya sederajat dengan Hokage terdahulu, tapi kekkai ini sangat sempurna, dan jangkauannya sangat luas, bahkan tidak ada celah kecil sedikit pun dipelindung ini, sebenarnya siapa yang melakukannya." Ujar Tsunade penuh keringat, ia menyadari sesuatu, tidak ada orang lain selain Naruto yang bisa melakukannya, anak itu memang sangat luar biasa.

'Itu pasti, Naruto." jawab Shizune tersenyum lega.

"Aku tau itu…. tapi-"

"Tapi apa Tsunade-sama?"

"Jutsu ini pasti ada resikonya, dia tidak boleh melakukan ini sendirian…"

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

"Tentu saja, kita cari dia sampai ketemu."

"Baik!"

Kedua wanita itu langsung berpencar untuk menemukan di mana Naruto berada. Meteor terus menghujani pelindung desa, membombardir layaknya nuklir yang dahsyat, tapi pelindung itu masih terlihat kuat untuk menghadang meteor-meteor tersebut, di tempat persembunyian Naruto, Naruto masih mempertahankan heandsealnya sambil berkonsentrasi agar keseimbangan seluruh bunshinnya tetap terjaga sehingga kekkai berwarna merah tembus pandang yang memayungi desa itu tidak goyah sedikit pun.

Darah masih mengalir dari lubang hidung Naruto, keringat kelelahan juga ikut turun bersamaan dengan darahnya yang menetes, namun sang Hokage masih belum mengatakan kata menyerah. Ia masih berpegang teguh pada keputusannya walau cobaan ini sangatlah berat. Dan tak terasa, hari mulai pagi, ditandai dengan terbitnya matahari di ufuk timur, serpihan cahaya rembulan masih bersisa beserta kegelapan malam yang menyelimuti desa Konoha.

Sudah berjam-jam Naruto mempertahankan jutsu tersebut, sebentar lagi chakarnya akan habis. Dan oleh karena itulah, keretakan muncul dibeberapa bagian penghalangnya. 'Damn!, disaat-saat terakhir, ughh ughh..' batin Naruto sambil tak kuasa menahan rasa sakit yang dideritanya, berulangkali ia batuk-batuk disertai darah yang keluar dari mulutnya.

Dan beberapa meteor masih menghujani wilayah desa, hasilnya pelindung tersebut hancur… dan 3 meteor berhasil menembus desa. namun Kakashi, Guru Guy, dan shinobi lainnya berjibaku untuk mengantisipasi kerusakan yang terjadi akibat 3 meteor itu dengan menghancurkannya sebelum menghantam daratan.

"Iyaah! Konoha Senpou!"

"Raikiri!"

Meteor terakhir pun berhasil dilumpuhkan, senyuman Guy dengan kedipan mautnya membuat keberhasilan itu semakin terasa, dan hari yang sangat mengerikan pun akhirnya berakhir, matahari terbit dari ufuk timur menyudahi hujan meteor yang terjadi semalaman suntuk, para warga desa pun sangat senang bisa lolos dari bencana besar tersebut.

"Ini berkat, Hokage-sama.."

'Kita selamat!'

"Yeahh!"

Guru Guy dan Kakashi juga merasakan hal yang sama, desa ini telah dilindungi oleh Naruto untuk kesekian kalinya, senyuman antara sesama rival itu menunjukkan seberapa besar jasa Naruto untuk desa. Neji yang sedari tadi mencari-cari keberadaan Naruto akhirnya berhasil menemukannya, Naruto ditemukan tergeletak di ruangan rahasia yang hanya dikhususkan untuk para Hokage saja.

'Padahal tadi aku melewati tempat ini berulang kali, tapi kenapa aku baru sadar kalau Naruto ada di ruangan ini? apa jangan-jangan?' Neji berpikir bahwa Naruto menyembunyikan keberadaannya dengan jutsu klamufase yang mirip dengan salah satu Kuchiyose Rinnengan. Teman-teman Naruto sudah berada di ruangan khusus itu untuk segera memindahkan Naruto ke ruang ICU rumah sakit Konoha, karena dilihat dari segi manapun Naruto terluka sangat parah, bukan terluka tapi memang itulah resiko jutsu tersebut.

Tangisan mulai menyelimuti sebagian wajah-wajah mereka, diantaranya Chouji, Ino, Konohamaru, dan rekan-rekan lain yang sangat menyayangi Naruto. tubuh Naruto berlumur darah akibat terlalu memaksakan diri, darah yang keluar dari mulutnya sangatlah banyak sampai dia tak bisa sadarkan diri lagi, tubuhnya juga seperti mati rasa. Dingin, tidak ada kehangatan dalam tubuhnya.

"Naruto?"

"Naruto-niichan?"

"Naruto?"

"Hokage-sama?"

Naruto ditemukan tergeletak tak sadarkan diri pukul 08:00 pagi setelah jutsu klamufasenya telah berhenti dengan sendirinya.

"Shizune! Siapkan peralatan medis lengkap!" teriak Tsunade sigap.

"Yaaa!"

Naruto dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama, dari sekian banyak pasien yang berada dalam rumah sakit, Naruto menjadi sorotan seluruh warga desa, banyak orang yang menunggunya di depan rumah sakit berdesak-desakan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menimpa sang Hokage berkarisma tersebut. yang pasti tidak ada yang tau menahu mengenai perkembangan pemimpin desa itu, semuanya berharap keselamatan Hokage, berkumpul untuk berdoa bersama-sama. mata Rinnengannya telah terpejam, rambut putihnya terurai di landasan empuknya, semua penderitaannya akhirnya berhenti di detik ini. sampai seorang gadis berlari dan berteriak memanggil namanya.

"Naruto!" teriak Sakura dari luar ruangan operasi.

"Sakura-san, kau tidak boleh masuk ke sini, di sini hanya untuk petugas medis saja," ucap salah satu penjaga ruangan ICU yang di situ terdapat Naruto di dalamnya.

"Tapi aku juga petugas medis…"

"Saya tau, tapi ini untuk keselamatan Hokage-sama!" bentaknya diluar perkiraan Sakura, Sakura pun terdiam dan duduk lemas di lantai, "Sakura?" dan pemuda yang memanggil nama gadis itu langsung membangunkannya untuk memberikan wanita itu semangat. "Dia tidak akan mati, Sakura." ujar Sai sambil tersenyum dengan senyuman khasnya.

"Karena dia adalah Hokage terhebat sepanjang sejarah Konoha." Tutur Sai, Sakura mengusap-usap air matanya dan berusaha membalas senyuman Sai. "Terima kasih, Sai."

Di dalam ruangan itu, Tsunade, Shizune beserta seluruh petugas medis yang telah dipercaya berusaha mati-matian untuk menyelamatkan nyawa Naruto, tidak ada rasa pantang menyerah untuk membangkit jiwa sang Hokage kembali. Tsunade yang tidak lagi takut akan darah juga berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Naruto harus tetap hidup, ketika melihat wajah Naruto dengan mata yang terpejam, Tsunade jadi teringat akan masa lalu, tentang bocah bodoh yang mengumbar impian bodohnya yang sangat dirasa itu mustahil untuk diwujudkan.

"Namaku Uzumaki Naruto! dan aku akan menjadi Hokage! Aku akan mengambil kalung itu, lihat saja nanti!"

"Menjadi Hokage adalah impianku, karena itulah aku tidak akan mati sebelum menjadi Hokage!"

"Hihi, jika aku bisa mengambil kalungmu, berarti aku akan menggantikanmu menjadi Hokage suatu saat nanti!"

Bodoh!

"Semua itu telah kau wujudkan ya? Naruto… Hiks-hiks-hiks.." air mata berlinang di pelupuk mata wanita berparas cantik itu, Shizune hanya bisa terharu melihat tangisan Tsunade.

"Tsunade-sama?"

Dan ketika mata Naruto telah terpejam seutuhnya, drama ini akhirnya berakhir….., White berdiri dari duduknya, sebelumnya ia bersandar di tiang berwarna merah segel Kyubi. "Sudah selesai kah?" ujar White sambil melepas handsealnya. White pun berjalan selangkah demi selangkah untuk bertemu dengan seseorang yang menunggunya. "Maaf telah membuatmu menunggu, White."

"Heh? Akhirnya…..bolehkah aku membunuhmu sekarang?"

"Hahahaha… kau bisa membunuh Naruto kapan saja, White-sama."

"Diamlah, Kyubi… aku akan menyelesaikan ini sendirian, dan menghancurkan bumi dengan cepat."

Dalam alam bawah sadar yang sulit dijangkau oleh siapapun itu berdiri 2 monster dan 1 manusia yang berhadapan, White tersenyum menyeringai sambil memperlihatkan ekspresi membunuhnya, dan sebelum membunuh Naruto, ia menuju ke salah satu tiang penyangga untuk mengambil sesuatu. Di balik salah satu penyangga itu terdapat sebuah pedang peninggalan Rikudou-sennin. "Aku tidak mempunyai kekuatan apapun di dalam tubuh ini, tapi merebut kembali jutsu-jutsuku akan berguna nantinya..." mereka berdua telah berhadapan satu sama lain, White memegang pedangnya dengan elegan. Seperti tidak ada celah yang terbuka dipertahanannya. Rambut Naruto telah berubah warna menjadi kuning, tapi rambut Naruto yang berada di tubuh aslinya masih putih.

Selubung berupa chakra Kyubi telah membentuk sebuah lingkaran yang diperuntukkan sebagai arena pertarungan antara mereka berdua, Naruto yang masih mempunyai Rinnengan sangat diunggulkan dalam duel ini, tapi orang yang menciptakan Rinnenganlah yang lebih diunggulkan daripada Naruto. "Aku tidak akan mati!" teriak Naruto sambil mengeluarkan jutsu andalannya. "Shinra Tense!" seru Naruto, White berjalan tanpa ada gangguan sedikitpun, dia seperti tidak terpengaruh jutsu tersebut, sambil membawa pedangnya dia tersenyum menyeringai.

"Shinra Tense kah?"

Naruto berusaha tetap tenang dan mengendalikan kegelisahannya, keringat mulai mengucur dari pori-pori kulit wajahnya, seakan-akan semuanya sudah diambang batas.

Sringggg!

Pedang itu White hunuskan ke kepala Naruto, tapi Naruto berhasil merunduk sehingga terhindar dari tebasan tersebut, sangat cepat sampai White tidak bisa merasakan gerakan Naruto, Naruto mengeluarkan batangan hitam dan menghujamkannya ke tubuh White, namun White menghalanginya dengan pedang yang ia pegang sekarang. kedua senjata itu saling bergesekan.

"Kau sudah terikat kontrak denganku, seharusnya kau tidak boleh melawanku, Naruto… apa yang membuatmu ingin melawanku?"

Naruto terdiam sejenak, di dalam benaknya ia terpikirkan sesuatu tentang 'Kematian'

Flashback…..

Naruto dan Jiraiya sedang dalam pengembaraan untuk berlatih agar menjadi lebih kuat, di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah rumah kecil, mereka pun duduk sejenak di sana untuk memulihkan tenaga dan stamina. Jiraiya terlihat sedang menuliskan sesuatu di gulungannya, Naruto yang melihat itu hanya bersikap biasa saja, karena memang itulah aktivitas Sensei jika ada waktu senggang ketika beristirahat. Namun kali ini rasa penasaran Naruto jauh lebih tinggi daripada biasanya.

"Hei, Pertapa genit?"

"Apa?"

"Sebenarnya apa yang kau tuliskan?" tanya Naruto sambil sesekali melirik tulisan Jiraiya.

"Ini hanya cerita yang kubuat iseng-iseng…" jawab Jiraiya yang masih focus menulis ceritanya.

"Ohhhh…" Naruto sudah tidak lagi penasaran akan hal itu, ia pun hanya beralih memainkan lonceng yang ada di sana, sampai Jiraiya bilang ke sungai sebentar untuk buang air kecil, dan disitulah Naruto melihat buku itu terbang dan membalikan halaman-halamannya. Naruto terus mengamati balikan buku yang secepat kilat itu dengan seksama, sampai tiba halaman terakhir yang membuat dirinya penasaran untuk membaca tulisan tersebut.

'Kematian itu adalah sesuatu yang tidak diingin oleh siapapun, termasuk aku…. Orang kuat seperti aku pun tidak ingin mati, karena pasti mereka yang menyayangiku akan merasa kehilangan dan sedih, untuk itulah aku ingin berlatih lebih keras lagi supaya bisa melindungi orang-orang terpenting dalam hidupku, masyarakat Konoha, teman-teman, dan murid-muridku….'

'Pertapa Genit?'

Naruto merasa seperti seorang pecundang ketika membaca tulisan itu, tulisan yang sangat berarti untuk hidupnya, yang sekarang menuntunnya ke arah yang benar, bahwa dirinya tidak mau mati. dia tidak akan meninggalkan teman-teman yang menyanyanginya.

Flashback end.

"Karena aku… tidak ingin meninggalkan mereka yang aku sayangi…" pungkas Naruto dengan air mata yang menetes dari sela-sela matanya, pelupuk mata Rinnengannya yang mengerikan telah bersurut menjadi sejuk perlahan demi perlahan.

"Menarik sekali," White yang hanya memiliki mata putih polos, hanya bisa meremehkan Naruto dengan tawa kecilnya. ketika Naruto berusaha menangkis serangan pedang White, pedang Rikudou telah menusuk dadanya..

Clpppp!

Arrghhh!

Naruto mengerang kesakitan, darah keluar dari mulutnya membasahi dagunya, menetes ke permukaan. Tes tes tes, White menusukkan pedang itu semakin dalam, dan kesakitan karena tertusuk pedang itu pun semakin menjadi-jadi, "OUGHHH!"

Kyubi yang melihat pertarungan itu hanya tersenyum senang. "Sebentar lagi, White-sama akan menang." Tutur Kyubi sambil tetap melihat pertarungan itu dari jarak yang tak begitu jauh. Dan disaat bersamaan, White mengambil kedua mata Rinnengan Naruto.

'Oughhh!" teriak Naruto kesakitan.

White pun mundur ke belakang dengan menggengam kedua mata Rinnengan Naruto, dan sekarang ia memasangkannya ke kedua lubang matanya. "Dengan kedua mata ini, aku akan menjalankan rencanaku… sebagai jiwa Ekor 10…"

"Ketika Rikudou-sennin memecahku menjadi 9 kekuatan yang berbeda, jiwaku juga ikut terlempar bersama dengan Kyubi, tapi saat Kyubi berhasil disegel di tubuhmu, perlahan-lahan kesadaranku sebagai jiwa Juubi mulai bangkit namun bukan di tempat ini, melainkan di tempat yang lebih dalam dari tempat segel ini." tutur White menjelaskan. Naruto masih memegangi kedua matanya yang sekarang berdarah, darah mengucur membasahi pipinya, terlalu banyak sampai Naruto sendiri tak mampu untuk menyekanya. Matanya telah hilang, dan ia tidak bisa melihat apa-apa lagi.

Akhir dunia telah berada di ujungnya.

Darah itu menetes bak air mata yang tidak bisa berhenti.

Air dangkal yang menjadi khas tempat Kyubi, merasa tak bisa menampung air mata darah tersebut.

Keputusasaan telah mendera jiwa dan tubuh Naruto, seakan-akan dia sudah mati, mati dalam senyuman keputusasaan.

Kedua tangannya berusaha menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Meskipun telah berusaha keras tetap saja, ia terjatuh dan kepalanya masuk ke dalam air dengan mata yang masih terpejam. 'Apakah ini akhirnya? Apa aku akan menyusul Jiraiya-sensei di surga sana? Dan meninggalkan teman-temanku… jika seperti itu, aku harus menerimanya, karena usiaku telah ditentukan oleh dewa, 18 tahun kah? itu cukup lama dattebayou…..'

Tetesan air…

Tetesan darah merah..

Dan tetesan air mata menjadi satu padu, membentuk kesedihan yang tak terhingga, ketika semuanya dianggap telah berakhir….

Naruto tenggelam di dalam lautan alam bawah sadarnya, dan White tidak ambil pusing karena Naruto telah kalah dan tubuh Naruto bisa ia gunakan untuk membangkit tubuhnya sekali lagi, tidak ada rasa takut, hanya senyuman kegembiraan yang terpasang di wajah White, wajah Naruto. dengan mata Rinnengan yang mencerminkan hatinya….

….

"Naruto?"

"Apa?"

"Jika kau berhasil menjadi Hokage apa yang ingin kau lakukan?"

"Emmm, apa ya? mungkin aku akan bersenang-senang denganmu, Sensei."

"Seharusnya kau sibuk, tolol!"

"Haa!? Apa Hokage sesibuk itu?"

"Kau sebenarnya niat tidak menjadi Hokage?"

"Aku serius!"

"Berlatihlah dengan keras dan berjuanglah sampai akhir…. Jadilah Hokage yang baik dan menjadi panutan warga desa… anak-anak kecil harapan desa akan menirumu, menjalani hidup yang keras sepertimu, untuk membentuk jati diri yang sebenarnya, kau paham?"

"Baik!"

Naruto masih tenggelam dalam lautan alam bawah sadarnya, air mata bercampur dengan lautan air berwarna semu kuning itu, dan di dalam situ, ia menangis…. 'Sekarang apa yang harus aku lakukan ? disaat semua orang menunggu kesadaranku, berdoa untuk kepulihanku, menangis karena perbuatanku, aku hanya bisa menangisi diriku sendiri'

Tiba-tiba saja terdengar seseorang yang berenang mendekati Naruto, orang itu berenang ke dasar untuk menjangkau tubuh Naruto, meraih tangan Naruto, gelembung-gelumbung udara hasil pernapasan orang misterius itu muncul sampai ke permukaan, dan dia hanya bisa berusaha meraih tangan Naruto yang hanya beberapa meter saja.

Pughh!

Tangan Naruto berhasil ia genggam, dan seketika itu, Naruto merasa ada yang membawanya ke atas.. suara cipratan air menemani kemunculan orang itu dan Naruto, White yang melihat peristiwa itu sedikit terkejut, karena ini sesuatu yang diluar dugaan.

"Apa kau ingin menyerah sekarang, Naruto?"

"Heh?" Naruto merasa tidak asing dengan suara itu. suara yang benar-benar ia rindukan, suara serak dari pria tua yang membosankan.

"Kau tidak berubah ya…. hehe.."

"Sensei?"

"Lama tidak bertemu, Naruto… maafkan aku, karena tidak mengatakan apa-apa saat aku mati, sebagai gurumu aku akan melindungimu karena kau adalah murid yang paling aku sayangi… (smile)."

"Jiraiya-sensei?"

Air mata itu telah berhenti menetes…..

To be continue!

Chapter 25 END

Terima kasih telah membaca, sempatkan bberapa detik untuk mereview cerita ini ya!

See you next week!