[Twoshot]
Title : He is Uchiha
By : Gatsuaki Yuuji
Chapter : 02/02
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Meibi humor
BGM : Da Ice - Hush Hush


Ralat untuk chapter sebelumnya.
Di sini nama Naruto itu Uzumaki Naruto, bukan Namikaze Naruto. Anggap aja papanya Naruto itu Uzumaki Minato, mamanya Namikaze Kushina...ahahaha...kok jadi kebalik?

Jadi, Namikaze itu nama gank yang dipimpin Naruto. Anggotanya ada 5 plus 1 anak bawang.


Di markas.

Seperti yang diumumkan, sudah seminggu lebih Sasuke tidak masuk sekolah. Rasanya sangat membosankan jika dia tidak ada. Lebih baik kesal melihat tingkahnya, daripada dia menghilang tanpa kabar seperti ini. Ini membuatku uring-uringan dan tidak nafsu makan. Aku rindu masakannya.

"Syukuri apa yang ada~ Hidup adalah anugrah~ Tetap jalani hidup ini~", Neji bernyanyi diiringi petikan gitar oleh Kiba dan beatbox ala Chouji. Sedangkan Shikamaru memilih untuk tidur di sofa.

"Bisa tidak, jangan lagu itu?", protesku.

Dulu aku menyukai lagu itu, tapi sejak Sasuke menyanyikannya, mendadak aku membenci lagu itu. Lagu itu menyuruhku untuk mensyukuri apa yang tidak aku inginkan.

"Kau mau lagu apa, Dobe?", tanya Neji sengaja memanggilku 'Dobe'.
"Shut up, Neji! Yang boleh memanggilku seperti itu hanya Sasuke!", tegasku kebablasan.

Aku bungkam seribu bahasa, sedangkan mereka bertiga menahan tawa, menatapku dengan pandangan 'ciee ciee'.

"Pokoknya jangan lagu itu lagi!", aku berbaring di meja kayu berkaki pendek, mengambil majalah dewasa milik Kiba, sebagai penutup wajahku. Aku harus tidur, karena jam tidurku terlalu singkat akhir-akhir ini.

"Ada apa ada apa denganku? Salah apa salah apa diriku? Selalu saja hatiku meragu~ Oh, Tuhan tolong aku~", mereka menyanyikan lagu 'Sayang Bilang Sayang'.

Aku mengenyahkan majalah dari wajahku, menatap mereka satu persatu.
"Kalian menyindirku?",

"Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang sayang", mereka mengabaikanku, "Jangan ditunda-tunda, nanti diambil orang",

"Hey! Berhenti menyindirku!",

"Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang sayang. Jangan berpura-pura, nanti kau kesepian",

Lagu itu ada benarnya juga. Aku memang kesepian tanpa keberadaannya.

"Aku pulang saja! Jya!", pamitku.

Ada apa dengan diriku? Tidak mungkin kan kalau aku menyukainya?


Entah apa yang membuatku melangkahkan kaki ke rumah Sasuke.

"Wrong turn!", aku melangkah balik menjauhi rumah itu.

Tap Tap Tap

"Terlanjur!", aku berbalik lagi mendekati rumah itu.

Sebelum menekan bell, tampak 2 orang pria bongsor keluar dari gerbang.

"Aku tidak menyangka, kau akan datang lagi", ucap salah satu pria.
"Ya. Aku ingin bertemu Sasuke",
"Sasuke-sama sedang di Suna",
"Di Suna?",
"Menghadiri acara keluarga",
"Kapan dia pulang?",
"Tidak bisa dipastikan",
"O, begitu. Bisa titip pesan untuknya?",
"Hn. Silakan",
"Jika dia sudah pulang, tolong temui Naruto... maksudku Dobe",
"Hn. Akan aku sampaikan pada Sasuke-sama",

Aku membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkan mereka.


Di markas.

2 hari kemudian, Sasuke masih belum menemuiku juga.

"Bocah itu kemana ya?", tanya Kiba mulai menggosip bersama Chouji dan Shikamaru. Neji tidak ikut, karena harus menjaga adik kecilnya. Aku memilih untuk berpura-pura tidur, aku tidak ingin mereka menyindirku lagi.
"Di Suna", jawab Chouji enteng.
"Sedang apa dia di Suna?", tanya Kiba lagi.
"Urusan keluarga",
"Aku tahu itu",
"Lalu? Mengapa kau bertanya?",
"Tidak kah kalian merasa curiga?", tanya Kiba lagi dan lagi. Kekepoan Kiba tidak pernah tuntas sebelum rasa keponya itu hilang.
"Curiga kenapa?", tanya Chouji.
"Bocah itu ke Suna dan tidak tahu pasti kapan dia akan kembali ke Konoha. Apa kalian tidak curiga bahwa terjadi sesuatu padanya?", jelas Kiba.
"Aku curiga sih. Tapi aku tidak ingin berpikiran negatif tentangnya", ucap Shikamaru.
"Apa hanya aku saja yang tidak merasa curiga sama sekali?", tanya Chouji.

Jeda sesaat sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, kurasa mereka tadi melirikku dari belakang.

"Saat bermain basket, dia tiba-tiba terjatuh. Lalu keesokan harinya dia tidak masuk sekolah. Seminggu tanpa kabar, tahu-tahu malah ada di Suna dan tidak tahu kapan akan kembali. Menurutku dia sedang berobat di Suna", jelas Shikamaru.

Aku jadi teringat dengan wajahnya yang pucat dan berkeringat saat itu. Juga wajah sendu dan ucapannya yang membingungkanku. Aku merasa dia akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.

"Tolong, rindukan aku",

Lalu? Mengapa dia mengucapkan kalimat itu? Seharusnya dia mengucapkan 'Jangan rindukan aku', jika dia benar-benar tidak kembali.

"Apa sakitnya parah?", tanya Chouji.
"Menurutku bocah itu sakit Ataksia, seperti di dorama One Liter of Tears", tebak Kiba antusias.
"Ini bukan dorama, Kiba", protes Shikamaru.
"Aku kan hanya menebak. Menurut kalian, bocah itu sakit apa?",
"Mmm~ Mungkin leukemia, soalnya dari info yang kudengar, penyakit ini membutuhkan masa pengobatan lama, bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun", tebak Chouji.
"Sepertinya bukan itu. Kita tidak pernah melihatnya mimisan, tubuhnya tidak ceking atau pucat, bahkan rambutnya juga masih bisa nungging", jelas Shikamaru, tidak membenarkan jawaban yang diberikan Chouji.
"Benar juga. Menurutmu apa donk?", tanya Kiba.
"Mungkin jantung", tebak Shikamaru.
"Jantung? Tidak mungkin jantung, bocah itu kan masih muda", bantah Kiba.
"Jantung turunan. Penyakit warisan keluarga. Kudengar dia selalu membolos di pelajaran olahraga. Pasti karena penyakitnya itu, dia tidak boleh melakukakn aktivitas yang melelahkan",

"Cukup!", marahku pada mereka, "Jangan seenaknya menebak-nebak seperti itu!",
"Menurutmu bagaimana?", tanya Kiba.
"Dia baik-baik saja! Dia ke Suna karena ada urusan keluarga, bukan untuk berobat! Titik! Copy kalimatku ini ke pikiran negatif kalian!", tegasku.
"Hn!", mereka bertiga mengangguk kompak, "Tercopy!",


2 hari kemudian.

Aku tidak main ke markas karena kepalaku pusing, aku ingin secepatnya pulang dan berbaring di ranjangku.

"Tadaima~", ucapku malas.

Tap Tap Tap
Terdengar suara langkah cepat menghampiriku.

"Okaeri, Dobe!", sapa seseorang berpakaian tradisional, orang yang telah membuatku uring-uringan.

"Mau apa kau ke sini!", ketusku.

Sebenarnya aku senang melihatnya kembali, tapi aku sengaja memarahinya. Karena memang seperti itu caraku menghadapinya.

"Menemuimu. Bukankah kau rindu padaku?",
"Jangan mimpi!", aku berjalan menapaki anak tangga.
"Kau tidak ingin makan dulu, sayang? Menu hari ini Sasu-chan yang membuatnya lho", ucap mama tersenyum genit melirik Sasuke. Sasuke tersenyum penuh harap agar aku mau memakan masakannya.
"Aku ingin tidur saja", tolakku.


"Haaaa~", aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang.

"Dia sudah kembali", aku tersenyum kecil menatap langit-langit di kamarku.

Tok Tok Tok
Suara pintu kamar diketuk.

"Boleh aku masuk, Dobe?",
"Tidak!",
"Sebentar saja. Setelah itu aku akan pulang",

Pulang? Tidak boleh! Nanti dia akan pergi lama dan tak tahu kapan akan kembali!

Dengan cepat aku membuka pintu kamar dan menyuruhnya masuk.

"Apa yang ingin kau katakan?", aku melipat kedua tanganku di dada, bersikap angkuh.

Dia berbaring di ranjangku. Yukatanya tersingkap, menampakkan kakinya yang jenjang, putih, mulus tanpa bulu.

"Aku merindukanmu",
"Itu saja?",
"Apa kau merindukanku?",
"Apa yang kau lakukan di Suna hingga selama itu?", bukannya menjawab, aku malah bertanya padanya. Mendadak aku kepo, sekaligus menepis pikiran negatifku bahwa dia sakit parah.
"Ada urusan keluarga", jawabnya pelan.
"Itu urusan orang tua, kau masih muda, seharusnya kau tidak terlibat dalam urusan itu!",
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menolak", Sasuke memijit keningnya, "Aduh! Pusing kepala Sasu-ken!",
"Kau sakit?", tanyaku mulai cemas. Jangan-jangan, dia memang sakit.
"Hn. Tadi malam aku demam. Cuaca di Suna sangat panas",
"Istirahlah",
"Sebentar lagi aku akan pulang",
"Aku bilang istirahat ya istirahat! Jangan membantahku!",

Sasuke sedikit terkejut mendengar bentakanku. Lalu dia tersenyum menurutiku.

Sasuke tidur agak ke pinggir, dia ingin aku juga tidur di sampingnya. Karena sejak awal aku ingin tidur, dan tidak mungkin aku harus tidur di lantai, jadi aku terpaksa berbagi ranjang dengannya.

Sasuke melirikku sambil terus tersenyum tidak jelas.
"Apa yang kau tertawakan, kusogaki!",
"Boleh aku memelukmu?",
"Untuk apa?",
"Karena aku rindu padamu",
"Tidak boleh!",
"Come on, Dobe~ Sebentar saja. Aku janji tidak akan meraba yang lain. Hanya memeluk saja. Kumohon~", pintanya.

Aku mengizinkannya memelukku, karena aku kasihan melihatnya memohon.

"Selama di Suna, aku terus merindukanmu. Apa kau juga merindukanku, Dobe?", Sasuke mengencangkan pelukannya.

Aku diam, tidak menjawabnya. Tidak mungkin aku menjawab bahwa aku rindu padanya. Bisa-bisa dia berpikir bahwa aku menyukainya. Bagaimanapun, aku ingin lurus! Walaupun aku merasa bahwa aku mulai membelok.

"Kau tidak merindukanku, Dobe?",
"Jika aku tidak merindukanmu, bagaimana?",
"Aku akan menyerah dan tidak akan menemuimu lagi",

Aku merasa tertohok mendengar jawabannya itu. Aku merasa dia akan pergi jauh. Aku tidak ingin dia pergi lagi.

"Jika kujawab aku merindukanmu?",
"Maka aku tidak akan membuatmu merindukanku lagi, karena aku akan terus bersamamu",

Entah setan apa yang merasukiku? Aku tiba-tiba memeluknya, memeluknya sangat erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya di dadaku.

"Itu artinya kau merindukanku", ucap Sasuke mengartikan pelukanku.

Baru aku sadari ternyata aku telah jatuh hati padanya. Astaga, Jashin! Aku benar-benar membelok!


Di kelas yang gaduh karena tidak ada guru.

"Kurasa aku telah membelok", curhatku pada Neji. Sebenarnya aku ingin curhat dengan Shikamaru, tapi apa daya Shikamaru sedang tertidur pulas. Kiba dan Chouji sedang makan di kantin. Tinggal Neji yang sedang membuka situs gay dari ponselnya.
"You are not alone~ I am here with you~", Neji malah menyanyikan lagu 'You are Not Alone'.
"Apa aku benar-benar harus membelok?",
"Jika kau menyukainya, kau harus membelok", Neji tahu siapa orang yang kuceritakan itu.
"Kadang aku masih bingung dengan perasaanku. Antara benar-benar menyukainya atau sekedar kasihan padanya",

Neji menutup ponselnya, dia menatapku serius.
"Jangan pernah menyukai seseorang hanya karena kasihan padanya",

Aku membenturkan keningku ke meja.
"Aku tidak pernah segalau ini~", keluhku.
"Jika kau yakin ingin berbelok, belok saja, jangan ragu. Jika kau ragu, selamanya kau akan di tempat yang sama",
"Galau ini menyiksaku~",
"Tuhan telah mempertemukanmu dengan orang yang menyukaimu, sekarang keputusan ada di tanganmu. Jika suka, katakan suka dan tolong tulus mencintainya. Jika suka hanya karena kasihan, lebih baik tidak usah menyukainya",

Tuhan, apakah Sasuke itu benar-benar jodohku? Tolong dicek ulang, siapa tahu ada yang lain.


Sepulang sekolah.

"Hai, Dobe!", sapa Sasuke yang sedang menungguku di gerbang sekolah.

Dia mengenakan yukata panjang berwarna biru muda. Orang-orang di sekitar melirik dan ada pula yang tertawa melihat penampilannya.
"Hai, princess!", sahut Kiba.
"Bukan princess, tapi prince!", protes Sasuke.
"Princess lebih cocok... Kekekek...",
"Huh!", cibir Sasuke.
"Kau bisa ke sini, tapi mengapa kau tidak masuk sekolah?", tanyaku.
"Aku terlambat bangun", jawabnya.
"Memangnya tidak ada yang membangunkanmu?", tanyaku lagi.
"Tidak ada", jawab Sasuke singkat.

Apa sekutunya itu tidak membangunkannya?

"Kami ingin ke game center, kau mau ikut?", tawar Neji.
"Hn! Aku mau!", angguk Sasuke antusias.


Di game center.

Sasuke bertemu dengan ketiga teman SMPnya. Saat Sasuke hendak menyapa, mereka langsung pergi meninggalkan setengah permainan mereka. Mereka tampak takut untuk bertatap mata dengan Sasuke.

"Ayo!", Neji merangkul bahu Sasuke agar Sasuke tidak perlu memikirkan perlakuan teman SMPnya itu.
"Princess, aku ingin menantangmu!", seringai Kiba yang sudah siap di depan permainan melempar bola basket.
"Aku juga!", Choujipun tak mau ketinggalan.
"Hn", angguk Sasuke patuh.

Neji dan Shikamaru bermain balap motor, sedangkan aku melihati Sasuke bermain sambil menyeruput ice bubbleku.

Score Kiba dan Chouji terpaut jauh dari score Sasuke. Sasuke memang pandai menembak.

"Hey, princess! Sebagai uke yang baik, kau harus mengalah", protes Kiba yang tidak ingin dikalahkan Sasuke.
"O, begitu", Sasuke sengaja membuat tembakannya meleset sehingga Kiba dan Chouji bisa mengejar ketinggalannya.

Dia benar-benar mudah dibohongi.

Aku bosan melihat permainan mereka, aku pergi berkeliling mencari permainan. Aku ingin bermain tembak-tembakan, tapi permainan itu masih dipakai bocah lain. Akhirnya aku mampir ke Ufo Catcher, aku melihat sebuah boneka ayam berwarna kuning. Ayam itu seperti model rambut Sasuke. Entah apa yang membuatku harus berhasil mengambil boneka ayam itu.


"Gotcha!", aku tersenyum melihat boneka ayam yang berhasil kudapat, walaupun harus mengeluarkan banyak koin.

"Kau suka boneka, Dobe?", tanya Sasuke yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Hanya iseng mencoba", kulempar boneka ayam itu untuk Sasuke.
"Ini untukku?",
"Aku tidak suka boneka. Untukmu saja",
"Terimakasih, Dobe!", Sasuke menggesek-gesekkan boneka ayam itu ke pipinya. Dia sangat menyukai boneka itu.
"Kau suka boneka? Ck! Girly!", ejekku.
"Ini pemberianmu, tentu saja aku suka. Syukuri apa yang ada~ Hidup adalah anugrah~",

Ck! Lagu itu lagi!

Aku mengajak Sasuke bermain tembak-tembakan. Aku berhasil mengalahkannya. Entah dia sengaja mengalah atau tidak? Aku tidak peduli. Yang jelas, sebagai seme, aku harus bisa menakhlukkan uke!

Aku bicara apa sih!


Setelah puas bermain hingga sore hari. Kami memutuskan untuk pulang.

Di jalan, kami bertemu dengan gank Ryuu, salah satu musuh bebuyutan Namikaze. Tanpa berbicara panjang lebar, gank Ryuu yang terdiri dari 8 pemuda bangkotan, langsung berhamburan menyerang kami.

Aku menyuruh Sasuke untuk lari, tapi Sasuke hanya berdiri menepi dan diam memperhatikan perkelahian kami.

Aku terus memperhatikan Sasuke dari kejauhan, aku takut mereka akan melukai Sasuke. Aku kecolongan, hingga musuh berhasil menendang perutku. Aku terjatuh dan meringis kesakitan.

"Dobe!", Sasuke berlari menghampiriku.

Dengan cepat Ryuuki -sang ketua gank- menjambak rambut pantat ayam Sasuke.
"Singkirkan tanganmu darinya!", ketusku tidak suka melihatnya menyakiti Sasuke.

Tapi Ryuuki malah tertawa setan.
"Dobe bilang, singkirkan tanganmu dariku. Apa kau tidak dengar?", ulang Sasuke, tidak ada rasa takut di wajahnya.
"Hahahaa... Hey, manis~ Siapa namamu? Mengapa laki-laki manis sepertimu bergabung dengan gank payah ini?",
"Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke", Sasuke tersenyum pada Ryuuki, "Mereka bukan gank payah, mereka temanku",
"U, Uchiha...", mendengar nama itu, Ryuuki melepaskan jambakannya. Dia menyuruh anak buahnya untuk pergi.

"Kau tidak apa-apa, Dobe?", tanya Sasuke menekan-nekan perutku. Rasanya nyeri jika ditekan sekuat itu.
"Tidak apa-apa. Tendangan selemah itu tidak bisa membuatku sakit", bohongku.
"Syukurlah~",

"Aku tidak menyangka, mereka akan kabur setelah mendengar nama Uchiha", ucap Kiba.
"The power of Uchiha", sambung Chouji.
"Ternyata Uchiha memang menakutkan", Sasuke tersenyum kecil menanggapi.


Sasuke ditegur guru karena tidak mengenakan seragam. Dia mengenakan yukata berwarna hitam ke sekolah. Meskipun telah dilarang, dia tetap memakainya. Hingga gurupun malas menegurnya lagi. Mereka tidak ingin berurusan dengan Uchiha.

"Dobe suka melihatku mengenakan pakaian tradisional", itu alasannya.

Di mataku, dia memang cocok mengenakan pakaian tradisional, tapi dia terlihat aneh di mata orang-orang sekitar. Zaman sekarang, hampir tidak ada pemuda mengenakan pakaian tradisional di hari-hari biasa. Itu terkesan produk zaman dulu yang kolot. Hanya Sasuke yang PD melakukannya.

Tak heran, jika dia menjadi pusat perhatian, yang kebanyakan kaum perempuan. Itu membuatku risih. Aku tidak ingin Sasuke dilirik banyak orang.


"Jalan berdua. Aku dan Dobe. Ini seperti...", ucap Sasuke sambil membingkai wajahnya dengan tangannya. Seandainya dia perempuan, dia pasti akan berteriak 'Kyaa! Kyaa!'.

"Jangan berpikiran aneh! Kita hanya membeli buku!",
"Tapi aku senang, Dobe~",
"Kau senang terlihat aneh seperti ini?",
"Rasanya berbunga-bunga~",

Tolong bayangkan Sasuke sedang berputar-putar seperti balerina.

"Aku senang bisa berkencan de...", belum sempat dia melanjutkan perkataannya, aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku.
"Kau masih ingat dengat dengan 'Silent is gold'?", desisku.

Sasuke mengangguk.
"Cobalah untuk diam",
"Tapi, okaasan bilang itu tidak berlaku bagi keluarga kita",
"Kita? Hey! Keluargaku itu bukan keluargamu!",
"Okaasan sudah merestui. Jadi sekarang aku pacarmu kan?",
"Whatz!",
"Aku ukemu", jelas Sasuke yang membuat 2 siswi SMP tertawa diam-diam melihat kami.
"Aku mau pulang!", aku berjalan meninggalkannya, keluar dari toko buku tanpa membeli apa-apa.

Sasuke berlari menyusulku dari belakang.
"Kau malu, Dobe?",
"Aku tidak sama sepertimu yang tidak tahu malu!",
"Aku?", dia memiringkan kepalanya, "Kalau cinta, mengapa harus malu?",

Dia benar. Mengapa harus malu? Tidak, aku tidak malu. Hanya saja, aku masih belum yakin. Apakah aku serius menyukainya?

"Kau tidak menyukaiku, Dobe?",
"Entahlah",
"Kau tidak ingin menjadi semeku?",
"Aku masih belum paham tentang hubungan sejenis",

"Wah! Wah! Kita bertemu lagi", seseorang menginterupsi pembicaraan kami.

Aku tidak menyangka gank Ryuu datang mengusik kami lagi. Sialnya aku hanya bersama Sasuke, tidak ada teman-temanku. 2 lawan 6, rasanya tidak fair.

"Hai!", sapa Sasuke ramah.
"Aku tidak percaya bahwa kau adalah Uchiha", seringai Ryuuki.
"Lalu?",
"Ayo, lawan aku!",
"Aku tidak suka kekerasan", tolak Sasuke.

Ryuuki marah dan menarik kerah yukata Sasuke, melayangkan tinjunya ke wajah Sasuke. Sasuke diam dan tidak membalas.

Aku marah dan berniat menghajar Ryuuki, tapi dengan cepat kelima anak buahnya menjegatku. Kulawan mereka, meskipun aku tahu aku akan kalah.

Tinju, tepis, tendang, tangkis.
Aku tidak boleh kalah, aku harus melindungi Sasuke!

"Gawat!", seru Ryuuki.

Kami berhenti berkelahi, dan menoleh ke arah Ryuuki. Ryuuki tampak terkejut melihat Sasuke yang tergeletak tidak bergerak di tanah. Yukata Sasuke tersingkap memperlihatkan punggung dan lengannya dipenuhi dengan tatto. Melihat tatto itu, merekapun lari meninggalkan kami.

"Sasuke!", aku berlari menghampir Sasuke yang nyaris tidak sadarkan diri. Selain punggung dan lengan, tubuh bagian depannya juga tak luput dari tatto.

Aku ngilu melihat tatto mengerikan sebanyak ini.

Sasuke membuka matanya, mengerjap-ngerjap menatapku.
"Jangan takut...kumohon, jangan takut padaku...", lirihnya.

Aku bisa melihat air matanya mengalir dari kelopak mata yang lebam itu. Darah segar juga mengalir dari lubang hidung dan sudut bibirnya. Kurapikan kembali yukatanya yang menyembunyikan tattonya.
"Mengapa aku harus takut padamu? Memangnya kau hantu?",

Sasuke tersenyum kecil mendengar ucapanku.


Di kamarku.

"Aku masih boleh bersamamu kan, Dobe?", tanya Sasuke.

Aku baru saja mengobati luka di wajahnya.
"Tanpa seizin akupun, kau akan terus menempeliku",
"Kau tidak takut padaku kan?",
"Kalau kau hantupun, aku tidak takut",
"Syukurlah~", Sasuke tersenyum lega.
"Dengar, ya! Aku tidak takut pada siapapun, pada hantu ataupun tatto Hello Kitty-mu itu!", tegasku.

Aku tahu, Sasuke pasti memikirkan tentang tattonya itu. Memang sih tattonya itu menakutkan dan sangar, tetapi wajah Sasuke mengalahkan semuanya. Dia memang tidak cocok dengan tatto itu. Sayang sekali, tubuh putih halusnya itu tidak sebening yang aku bayangkan.

"Malam ini, kau menginap saja di sini", tawarku.
"Hn", angguknya pelan.


Malam harinya, aku tidak bisa tidur karena Sasuke terus memandangi wajah tampanku, meskipun lampu kamar telah kupadamkan. Seharusnya aku menyuruhnya tidur di lantai saja, tapi sudah terlanjur berbagi ranjang dengannya.

"Aku menyukaimu, Dobe",
"Tidurlah!",
"Kau tidak menyukaiku?",
"Enatahlah!",

Entah mengapa dia selalu bertanya hal itu? Mengapa dia terkesan terburu-buru?

"Jujur", Sasuke menarik bahuku, memaksaku untuk menatapnya. Kamarku tidak begitu gelap, sehingga aku bisa melihat ekspresinya.
"Mmm~ Kadang kau menyebalkan, itu membuatku risih",
"Lalu? Apa lagi?",
"Kadang kau membuatku malu dan marah",
"Hn. Begitu",
"Meskipun begitu, kurasa... aku menyukaimu",
"Benarkah?",
"Ya, sedikit menyukaimu",

Sasuke memelukku, menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Aku senang, kau mau menyukaiku",
"Baguslah kalau kau senang",
"Kau mau menciumku, Dobe?", pinta Sasuke.
"Heh?!",

Sasuke mendongakkan kepalanya, wajahnya mulai mendekati wajahku.
"Men, menjauh dari wajahku", mendadak aku gemetaran. Meskipun aku akui bahwa aku menyukainya, tetapi aku belum siap menciumnya.

"Hn", Sasuke menjauh dariku, dia berbaring memunggungiku, "Terimakasih telah menyukaiku. Oyasuminasai",

Cara bicaranya membuatku berpikiran yang aneh-aneh. Aku merasa dia akan pergi meninggalkanku.

ARG! Apa-apaan ini! Sasuke tidak mungkin sakit parah!


Keesokan pagi harinya, aku terbangun lebih cepat dari biasanya. Bahkan aku masih bisa melihat Sasuke tertidur pulas di sampingku.

Yukatanya tersingkap hingga menampakkan tatto di dadanya.

"Hoaaam~", aku masih mengantuk, tetapi aku tidak bisa tidur nyenyak.

Tadi malam aku bermimpi tentang Sasuke. Dia terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Beberapa selang tertancap di tubuhnya, masker oksigen menempel di mulutnya. Wajahnya sangat pucat. Sepasang kelopak mata itu mulai membuka perlahan.

"Kau menyukaiku, Dobe?",

Aku hanya diam memandanginya. Dia sangat kurus dan pucat. Apa yang terjadi padanya?

"Kau tidak menyukaiku?", tebaknya.
"Aku menyukaimu!",
"Tidak. Kau terpaksa menyukaiku", dia tersenyum, tapi aku bisa melihat air matanya mulai keluar.
"Aku...",
"Tidak apa. Aku bisa pergi dengan tenang",
"Apa maksudmu, kusogaki!",
"Oyasuminasai", kelopak itu mulai terpejam.
"Hey!", teriakku.

Aku mengguncang-guncang tubuhnya, tetapi dia tidak membuka matanya. Malah aku yang terbangun dan tersadar bahwa aku sedang bermimpi.

Gara-gara mimpi itu, aku jadi takut untuk memejamkan mata. Aku memandangi punggung Sasuke cukup lama, hingga mataku lelah dan kembali tertidur.

"Lepaskan aku!", tiba-tiba Sasuke menjerit.
"Eh! Ayam goreng!", kagetku latah.

Kutendang kaki Sasuke dengan kesal. Dia langsung terbangun dari igauannya.

"Kau mengagetkanku, kusogaki!",
"Hn",
"Apa yang kau igaukan?",
"Mmmm~ Apa ya?",
"Kau baru saja berteriak 'Lepaskan aku!'",
"O...",
"Kau mimpi digrape-grape orang?",
"Hn", angguknya, "Zombie. Mereka mengrape-grapeku",
"Gah! Pergi sana mandi! Setelah itu, buatkan sarapan untukku!",
"Hn", dia segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Di sekolah.

"Itu ukemu", Shikamaru menunjuk Sasuke yang sedang duduk menepi di lapangan. Dia sendirian, sedangkan teman-temannya sibuk berolahraga.
"Apa dia terlihat seperti orang sakit?", tanyaku pada Shikamaru.
"Mungkin",
"Begitu ya?",
"Dia tidak mengganti pakaian tradisionalnya dengan pakaian olahraga. Dia juga tidak ikut berolahraga", jelas Shikamaru, "Menurutmu, apa dia baik-baik saja?",
"Aku tidak tahu",
"Kau harus lebih perhatian padanya. Kau kan semenya", Shikamaru menepuk pundakku, lalu melenggang pergi.

Aku berlari menghampiri Sasuke. Dia langsung berdiri dan tersenyum melihatku.

"Kau kangen padaku, Dobe?",
"Mengapa kau tidak mengganti pakaianmu? Mengapa kau tidak ikut berolahraga?", tanyaku langsung, menghiraukan pertanyaannya.
"Itu...", Sasuke ragu-ragu menjawab.
"Jawab aku! Apa kau baik-baik saja!", bentakku, membuat orang-orang di sekitar beralih memperhatikan kami.

"Tidak. Aku tidak mungkin baik-baik saja", jawabnya.

Deg!
Aku nyaris lupa caranya bernafas. Dia benar-benar sakit.

"Apa kau...sakit?", tanyaku.
"Hn. Aku sakit",
"Kau sakit apa?",
"Sakit hati",
"Jangan bercanda, kusogaki!", marahku sambil mencengkram yukatanya.
"Kusogaki, kusogaki! Namaku Sasuke! Bukan kusogaki!", Sasuke balas meneriakiku, tatapannya tajam penuh amarah.

Dia menepis kuat tanganku hingga cengkramanku terlepas. Lalu dia berlari meninggalkanku.

Baru pertama kali, aku melihatnya marah.

"Dia kenapa?", aku masih bisa merasakan tepisannya yang terasa panas ini.

Tanpa termenung lagi, aku langsung berlari mengejarnya, meminta jawaban darinya.


Kuikuti dia hingga ke UKS.

Dia sedang berbaring di ranjang sambil bergumul di dalam selimut.

"Kau kenapa?", kutarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tapi dia enggan menyingkirkan selimut dari wajahnya.
"Pergi, Dobe! Aku ingin sendiri dulu!",
"Uchiha Sasuke! Sebagai sememu, aku ingin kau jujur!", tegasku kesal.
"Semeku?", Sasuke mengintip dari balik selimut, "Aku sudah jadi ukemu kah?",
"Hn! Kau uke, aku seme! Puas?",
"Aku puas dan senang!",
"Perlihatkan wajahmu! Aku ingin berbicara!",
"Tunggu sebentar!", Sasuke masih betah di dalam selimut.

Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di dalam.

"Ada apa, Dobe?", Sasuke mengenyahkan selimut dari wajahnya. Meskipun dia tersenyum bodoh, aku bisa melihat matanya yang sembab.

"Mengapa kau menangis? Uchiha tidak secengeng ini", aku menyeka sudut matanya.
"Uchiha juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati",
"Jangan bicara dengan menyomot lirik lagu!",
"Hn", angguknya pelan.

Aku duduk di sampingnya, agar dia bisa enjoy bercerita.
"Mengapa kau menangis?",
"Aku kesakitan...", Sasuke menunjuk dadanya,"...di sini...",
"Mengapa bisa sakit?",
"Karena aku terlalu sensitive",
"Apa karena aku memanggilmu 'kusogaki'?",
"Hn. Itu salah satunya",
"Baiklah. Aku akan memanggilmu 'Sasuke'",
"Itu kepanjangan",
"'Suke' saja",
"Hn. Boleh",

Sasuke merebahkan tubuhnya, menjadikan pahaku sebagai bantal.
"Lalu apa lagi yang membuatmu sakit?",
"Aku kesepian",
"Kesepian? Apa kau sulit membaur dengan teman-teman sekelasmu?",
"Aku tidak boleh membaur, nanti mereka takut",
"Memangnya kau hantu?",
"Lebih menakutkan daripada hantu",

Ah, iya! Aku baru ingat bahwa dia itu Uchiha.

"Saat aku menyapa, mereka terlihat ketakutan, tiba-tiba menjauhiku dan mengabaikanku. Mereka berteman, bercerita, bermain dan tertawa. Aku ingin sekali berbaur dengan mereka, sayangnya aku hanya bisa melihat dari jauh. Tidak ada yang mau berteman denganku. Kadang aku benci, mengapa aku harus menyandang nama Uchiha?",
"Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah", ucapku tersenyum karena berhasil menggunakan lirik lagu itu untuknya.
"Hn. Aku harus bersyukur. Tidak buruk juga, terlahir di keluarga Uchiha. Meskipun keras dan menakutkan, mereka tidak pernah mengabaikanku",

Ya, mereka memperlakukan Sasuke bak seorang ratu. Meskipun tampang dan gaya bicara mereka menakutkan, tapi hati mereka Hello Kitty.

"Sekarang, aku tidak kesepian lagi. Karena aku punya kau, Dobe!",
"Hn. Hiraukan saja orang-orang yang mengabaikanmu. Kau tidak perlu memikirkan mereka. Kau sekarang punya aku, keluargaku, dan juga Namikaze",
"Terimakasih, Dobe", Sasuke tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.
"Mengapa kau secengeng ini?",
"Aku kan sensitive",

Sasuke menjelaskan semuanya padaku. Alasan dia selalu absen di pelajaran olahraga adalah untuk menyembunyikan tattonya. Lagi pula, percuma berganti pakaian, jika tidak ada yang mengajaknya bergabung ke dalam team. Dia sengaja berlihat lemah untuk menarik perhatian teman sekelasnya, tetapi itu tidak berguna.

Dia juga bercerita tentang kondisi tubuhnya yang tidak tahan berlama-lama berjemur di bawah terik matahari. Karena sejak kecil selalu diantar jemput dengan mobil, tubuhnya masih belum bisa beradaptasi dengan hawa panas. Mungkin itu yang membuatnya pusing saat bermain basket dulu.

Jadi, bukan karena sakit. Syukurlah~


Sasuke memutuskan untuk tinggal di rumahku. Aku setuju saja, daripada dia sendirian di rumahnya yang angker itu. Dia sangat membantu pekerjaan okaasan. Mulai dari memasak, mencuci, hingga menyapu dan mengepel. Semua pekerjaan rumah yang biasa dilakukan okaasan, diambil alih olehnya. Dia memang uke multi tallented.

Namikaze sudah tahu bahwa aku telah berpacaran dengan Sasuke. Namikaze juga sering datang main ke rumahku. Mereka ketagihan dengan masakan Sasuke. Okaasan tidak ingin kalah sebagai seorang ibu, akhirnya memutuskan untuk belajar dari Sasuke.

Kedekatan orang tuaku dengan Sasuke sangat akrab. Aku sedikit iri. Tapi aku teringat bahwa orang tua Sasuke telah meninggal. Rasanya seperti orang jahat, jika aku melarangnya untuk akrab dengan orang tuaku.

Rasa iriku menghilang, saat melihatnya tersenyum. Senyumnya segalanya bagiku. Huf~ Sejak kapan aku segombal ini?


Suatu hari. Tanpa diduga, Itachi datang dan menjegatku di depan rumah. Dia ingin berbicara berdua saja denganku. Aku mengajaknya ke taman dekat rumah.

"Apa kau dan adikku memiliki hubungan khusus?", tanya Itachi langsung ke inti.
"Ya. Kami pacaran. Dia ukeku", jawabku dengan bangga.
"Apa yang kau inginkan? Jika kau masih dendam padaku, lawan aku. Jangan manfaatkan adikku!", desis Itachi tidak suka.
"Aku tidak ingin melawan calon kakak iparku", seringaiku.

Itachi mengepalkan kedua tangannya. Aku berhasil memanas-manasinya.

Uchiha memang selalu tenang. Dia mencoba relax menanggapiku.
"Jauhi adikku, jika tidak ingin terjadi sesuatu pada Namikaze", dia membalas seringaiku dengan seringainya.

Dia pergi meninggalkanku yang tertegun memikirkan Namikaze.

Lihat saja! Jika terjadi sesuatu pada Namikaze, aku akan membalasnya dua kali lipat, meskipun aku akan kalah dan babak belur.


"Ne, Dobe! Saat aku ulang tahun nanti, aku ingin mengundangmu dan Namikaze ke rumahku. Aku ingin berpesta bersama kalian. Aku juga ingin memperkenalkan semeku pada keluargaku. Mereka pasti kaget!", ucap Sasuke yang baru saja melingkari tanggal 23 July di kalendar mejaku dengan spidol merah.

Ya, mereka pasti kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Uchiha bungsu ini membelok. Ditambah dengan posisinya sebagai uke.

"Ah~ Aku tidak sabar menunggu~", Sasuke berguling-guling di ranjang, "Aku ingin secepatnya menikah denganmu, pindah ke rumah ini, menjadi bagian Uzumaki",

Aku terbatuk mendengar ucapannya.
"Umurmu berapa?",
"Jalan 15",
"Kau masih muda, tapi pikiranmu sampai sejauh ini",
"Kau harus cepat-cepat menikahiku. Kalau tidak cepat, nanti aku diambil orang",
"Memangnya ada orang yang mau denganmu?",
"Ada donk!",
"Siapa orang sial yang mau denganmu itu?",
"Uzumaki Naruto",
"Gah! Itu kan aku!",
"Ahahaha... Kau tidak sial kok, kau beruntung telah memilikiku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Nah sekarang, ayo cium aku!", Sasuke memejamkan matanya, menungguku untuk menciumnya.

Kutarik hidung peseknya dengan gemas.
"Tunggu saat umurmu 17 tahun",
"Huh!", dengus Sasuke tidak suka, "Di pesta ulang tahunku nanti, aku ingin kau menciumku!",


Markas Namikaze diacak-acak dan dicoret-coret oleh orang tak dikenal. Semua perabotan hancur tak berbentuk. Aku tahu siapa pelakunya. Uchiha Itachi.

Aku tidak berniat membalasnya, karena Uchiha Itachi adalah calon kakak iparku.


Selang beberapa hari setelah insiden perusakan markas. Kiba dan Chouji dikeroyok oleh sekelompok pria bertubuh bongsor dan sangar. Dari pakaian yang dikenakan, yukata hitam dengan simbol kipas. Pelakunya pasti orang-orang Uchiha.

"Akan kuhajar mereka!", desisku dengan kepala panas. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Sebaiknya kau putus saja dengan princess Uchiha itu", saran Kiba mencegahku.
"Kita kalah jumlah dari mereka", tambah Chouji yang kesakitan pada perut buncitnya.
"Benar. Sangat beresiko jika berurusan dengan Uchiha", ucap Shikamaru.

Neji enggan memberi komentar.

Apa benar, aku harus memutuskan hubunganku dengan Sasuke? Tapi aku sudah terlanjur belok, aku sudah menyukainya.

Jika aku tidak putus dengan Sasuke, maka Namikaze yang akan ditumbalkan.


Di kamarku.

"Kau kenapa, Dobe?", tanya Sasuke yang melihatku sedang tidak bersemangat.

Kutatap wajah manisnya.
"Apa kau serius ingin berpacaran denganku?",
"Hn. Aku serius!",
"Aku rasa kau hanya main-main",
"Aku serius, Dobe! Aku serius!", tegas Sasuke sekali lagi.
"Kau masih muda dan polos, kau belum mengerti apa cinta itu sebenarnya? Aku yakin ini hanya cinta sesaat",
"Tidak, Dobe! Aku serius! Aku ingin menikah denganmu! Aku ingin tinggal bersamamu! Meskipun umurku masih muda, tapi pola pikirku seperti orang dewasa kok!",

Ya, pikirannya terlalu dewasa. Aku yang nyaris berumur 20 tahun saja tidak pernah berpikir untuk cepat-cepat menikah.

"Di mataku, kau hanya bocah yang kekanak-kanakan",
"Tidak! Aku bukan bocah!", teriak Sasuke mulai marah, "Aku bukan bocah!",
"Jangan meneriakiku!", aku balas meneriakinya, aku malah terpancing.
"Aku bukan bocah!",
"Kita putus!", akhirnya kalimat keramat itu keluar juga dari mulutku.

Mata Sasuke terbelalak, tubuhnya membatu berdiri. Dia shock mendengar pernyataanku.
"Aku ingin hidup normal. Aku tidak ingin berhubungan dengan Uchiha. Jadi, tolong menjauh dariku",

Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi Namikaze.

"Bukankah kau menyukaiku?", tanya Sasuke pelan, kepalanya menunduk menatap lantai.

Ya, aku menyukaimu.

"Tidak. Kau menyebalkan. Mana mungkin aku menyukaimu", bohongku.
"Kau bohong!",
"Aku tidak bohong!", aku berjalan menuju lemari pakaian dan mengeluarkan semua pakaian Sasuke, "Kemasi barang-barangmu, cepat pergi dan jangan datang lagi",

Kukira Sasuke akan membantahku dan memohon, tapi ternyata dia dengan patuhnya mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Setelah berkemas, dia pamit.

"Maaf, telah membebanimu selama ini", Sasuke membungkuk hormat, "Jangan rindukan aku. Sayonara, Uzumaki-san",

BLaaaM
Pintu tertutup, sosok Sasuke telah lenyap bersama kopernya. Dia telah pergi.

"Jangan rindukan aku", akhirnya kalimat itu kudengar. Rasanya dia tidak akan kembali lagi.

"Kuso!", umpatku.

Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang, mencengkram dadaku yang terasa sesak.

Aku telah melepas orang yang kucintai. Aku benar-benar bodoh.

Aku tidak bisa menahan rasa sesak ini, hingga akhirnya aku menangis.


The End?


Sebenarnya endingnya memang gantung begini.

Kurang puas? Silakan komplain.
^3^