Gekkan Shoujo Nozaki-kun

Belong to Izumi Tsubaki sensei

.

.

.

Simple Romance, Little Hurt

a bit Humor

.

.

.

a fanfiction Gekkan Shoujo Nozaki-kun

"Permainan Hati"

by Shireni Hime

Chapter 4

Ayah

.

.

.

"Apa benar kau baik-baik saja, Chi-nee chan?", tanya Mayu. Ia memberikan kompres berisi es batu pada Chiyo. Chiyo hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian ia meletakkan kompresan itu di matanya. "Sungguh?", tanya Mayu lagi.

"Aku sangat baik Mayu, kau tidak perlu khawatir", ucap Chiyo menenangkan.

"Memang apa yang kau lakukan sampai matamu seperti itu, Sakura?", tanya Nozaki sambil memberinya segelas teh hangat.

"Masa begitu saja tidak tahu, kak?", tegur Mayu.

"Aku tidak tahu. Mayu.. TUNGGU!", ia terhenti dengan tiba-tiba. "Apa kau benar-benar seorang cenayang?", kemudian menggosok dagunya.

Bukankah kau berlebihan, Nozaki-kun?

"Aku pikir Mamiko yang bertemu cenayang dan meramalkan kisah cintanya dengan Suzuki adalah cerita yang bagus. Tapi ramalan itu bukan ramalan yang baik, hubungan mereka dikutuk oleh dewa ikan mas yang mereka pancing di sungai", lanjutnya. Wajahnya entah mengapa begitu sumringah.

"Semakin ngawur, Nozaki-kun", komentar Chiyo dengan tawa yang kecil.

"Jadi? Ada apa, Sakura?"

Jantung Chiyo berderu kembali, tapi tidak sehebat biasanya. Dia sudah terlalu biasa merasakan hal seperti ini, dan kali ini ia cukup lebih tenang.

"Dia itu habis menang...", Tangan mungil Chiyo langsung menyambar bibir Mayu. "Aa...a...aku, me..me...menang main catur dengan ayah. I...iyaah begitu, Nozaki-kun.", Chiyo melanjutkan. Semetara Mayu hanya manyun dan memalingkan wajahnya kearah lain.

"Oh, begitu rupanya", Nozaki bangkit dari duduknya. Ia mengambil berkas yang siap di beta oleh Chiyo. "Maaf memintamu dalam keadaan seperti ini, Sakura". Ia meletakkan berkas itu dihadapan Chiyo dari belakang. Kepala mereka hampir saja bertemu. Tapi Chiyo tidak sepanik biasanya, walau hatinya masih bergetar saat berada di dekat pria jangkung itu.

Mereka larut dengan aktivitasnya masing-masing. Nozaki dengan manganya, Chiyo dengan beta-nya, dan Mayu dengan kemalasannya. Pria itu hanya menyandarkan tubuhnya di meja, sesekali mengangkatnya lalu tiduran dan kembali bangun. Lalu matanya menatap mata Chiyo yang masih sembab. Ia pun menggeser dudukannya kesebelah Chiyo, persis disisinya.

"Hey, Chi-nee chan...", panggilnya.

"hmmm?"

"Kenapa kau tidak bilang saja kalau kau habis menangis", serunya bisik-bisik di telinga Chiyo. Chiyo yang mendengar itu langsung menegapkan dudukannya, ia menoleh kearah Mayu yang tepat berada disisinya. Mata mereka saling bertemu. Chiyo menelan ludahnya sendiri.

"Ssssssstttttt!", ia kembali menutup mulut Mayu. "Jangan bilang siapapun", lanjut Chiyo. Mereka pun saling berbisik.

.

"Kenapa tidak bilang saja kalau habis menangis!"

"Tidak mau!"

"Kakak itu tidak akan peka dengan kondisimu yang seperti ini, jadi lebih baik diucapkan saja"

"Ka ..kalau cerita akan dijadikan bahan manga-nya, Mayu"

"Be..benarkah?"

Chiyo mengangguk hebat. "Waktu aku menembaknya, aku terlalu gugup dan lidah ku terpeleset. Aku bukannya bilang suka tapi malah bilang penggemar. Dan aku dapat tandangannya"

"Apa kau serius?!", kali ini Mayu tidak berbisik dan dia tertawa cukup keras.

"Mayuuuu! berhenti menertawakanku!"

"maafkan aku Chi-nee chan, tapi cerita ini benar-benar lucu. Lalu setelah itu?"

"Aku mencoba untuk menembaknya lagi dan, aku mendapatkan tanda tangan yang ke dua", bisik Chiyo. Kali ini Mayu hanya meresponnya dengan tawaan.

"Hey itu menyakitkan, Mayu!",suaranya lepas mendali.

"Ma...maafkan aku, tapi... kau kasihan sekali!", masih dengan tawanya.

"Apa dia pernah bilang suka padamu?". Chiyo nampak berpikir untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka sudah tak berbisik, dan melupakan sosok Nozaki Umetarou disana.

"Dia pernah. Hanya saja..."

"Hanya saja?", Mayu mengehentikan tawanya. Mendengarkan Chiyo dengan serius.

"Hanya saja, dia bilang suka hanabi"

"Ha? Jadi apa maksudmu, Chi-nee chan? Bagian mana dia menyukaimu?"

"Saat festival kembang api, aku menyatakannya lagi. Hanya saja aku berlindung dibalik suara kembang api, aku berharap ia tidak mendengarnya. Tapi begitu aku mengatakan suka, kembang apinya malah berhenti"

"Bukankah itu bagus?"

"Memang, tapi jantungku nerdegup sangat kencang"

"Lalu, dimana ia mengatakan me-nyu-ka-i-mu?", Mayu memberi penekanan.

"Eto, saat ia berkata suka tiba-tiba kembang apinya menyala dan aku tidak bisa mendengar lanjutannya. Lalu saat dia kembang api itu berhenti, dia bilang suka hanabi".

Nozaki yang sepertinya mengenal cerita itu menggerakkan bola matanya, melirik kearah dua orang yang sedang mencurahkan isi hati.

"Ku turut prihatin padamu Chi-nee chan", Mayu duduk bersimpuh dan beberapa kali bersujud pada Chiyo.

"Mayuuuuuuu!"

"Dia pasti akan menyadarinya, cepat atau lambat. Aku mendukungmu, Chi-nee chan".

Chiyo merasa bahagia mendengarnya. Tapi dia juga cukup lelah dengan ketidakpekaan Nozaki.

Lantas, apa aku masih sanggup berjuang?

"Chi-nee chan...", Mayu tiba-tiba memeluknya. "Aku sangat ingin punya kaka perempuan. Tapi aku malah memiliki kaka seperti dia", matanya menuju Nozaki. Nozaki yang belum mrnarik bola matanya mengakibatkan mereka saling pandang. "Aaaaah aku bersyukur bisa bertemu denganmu!", Chiyo hanya tertawa pelan mendengar kalimat manja itu. Memiliki adik seperti Mayu tidak ada salahnya juga, lagi pula dia adalah adik Nozaki. Itu yang membuatnya spesial. Tanpa sadar ia malah mengelus rambut Mayu dengan lembut. "Mayu, rambutmu halus juga", Chiyo tertawa geli. Mayu melepaskan pelukannya, dan berlindung dibalik kakak kandungnya.

"Mayu itu paling senang dipegang rambutnya", Nozaki mengelus-elus rambut adiknya itu.

"Kenapa dengan Nozaki-kun tidak kabur?! Mayu kau curang!".

"Mungkin dia tidak terbiasa dengan tanganmu, Sakura", Nozaki menatap Mayu. Mereka saling menatap. "Katanya, dia geli. Tanganmu terlalu kecil jadi seperti ada kecoa yang menggerayangi kepalanya"

Kapan dia mengatakannya? dan darimana datangnya kecoa itu?

Tiba-tiba terlintas pikiran licik dalam kepala Chiyo. Ia akan mengerjai anak kedua keluarga Nozaki. Ia bersiap menangkapnya, tapi Mayu berhasil lari. Akhirnya mereka hanya berkejar-kejaran dalam ruangan. Obsesi Chiyo untuk menyentuh kepala Mayu sangat tinggi. Ia senang saat wajah Mayu menampakkan kegelian. Ada hiburan tersendiri untuk Chiyo. Ia berhasil menangkapnya dan mengelus rambutnya lalu Mayu kabur, dan seperti itu terus berulang. Belum ada yang menyerah.

Akibat tingkah mereka yang berisik dan sedikit ribut membuat Nozaki sedikit terganggu, mulai dari bisikan, teriakan, bahkan tawa-tawa itu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit langit apartemennya. Menghembuskan napas yang berat. "Cuaca yang cerah", gumamnya. Bukan gumaman yang kecil hingga telinga Mayu dan Chiyo dapat mendengarnya. Menghentikan candaan mereka.

"Nozaki-kun? Ada apa?", tanya Chiyo.

"Ah, tidak", kemudian handphone Nozaki berdering. Ia menatap nama yang terpampang di handphonenya. 'Ayah', ia membiarkannya sesaat hingga panggilan itu terputus sendiri. Tapi, beberapa detik kemudian panggilan itu masuk lagi. Dengan kesal Nozaki mengangkatnya.

"Ada apa?", tanyanya. Nozaki melirik Mayu, "Iya, dia disini". Mayu seolah tahu siapa yang menelepon kakaknya itu.

"Anak itu datang sendiri! Mana mungkin aku mengusir adikku sendiri?!", nada suaranya menaik. Membuat Chiyo cukup terkejut dan jadi memandangi Nozaki.

"Aku tidak bisa melarangnya!"

"Apa? Siapa yang mengatur disini?"

"Berhenti? Aku kan sudah bilang tidak akan berhenti!", bentaknya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

"Apa? Kau...", nada suaranya mulai menurun namun penuh penekanan. "Sampai seperti itu...". Dia terdiam sejenak, kemudian mengambil napas cukup dalam dan berat.

"Baiklah, sampai aku menyelesaikan yang terakhir"

Nozaki meletakkan handphonenya diatas meja kerja. Ingin rasanya membanting handphone itu, tapi semua nomer penting ada didalamnya.

"Pulanglah, Mayu", suruh Nozaki. Suaranya lemas tak bertenaga. Ia memegang kepalanya sendiri. Merubuhkan kepalanya keatas meja kerja. Ingin rasanya ia memecahkan kepala itu.

"Kaka...", lirih Mayu. Kemudian ia bangun dan mengambil tasnya. Chiyo yang terkejut karena kemarahan Nozaki hanya bisa diam. Ia memang cukup terkejut dengan perkataan Nozaki kemarin, namun kemarahan Nozaki benar-benar membuatnya ketakutan. Terlebih ekspresi sedih Nozaki setelah menelpon membuat gadis mungil itu merasakan debaran yang luar biasa dijantungnya. Jika bisa, ia ingin memeluk Nozaki. Tapi dia tidak bisa. Atau tidak berani melakukannya.

"Chi-nee chan, aku titip kaka". Kata-kata Mayu membangunkan Chiyo. Tanpa sadar ia hanya mengangguk.

Sakura Chiyo hanya menatap kepergian Mayu dan juga menatap kesedihan Nozaki. Ia tidak bisa melakukan beta-nya. Bahkan Nozaki berhenti menggambar.

"Suman, Sakura. Kau jadi harus melihatku marah-marah, sungguh maafkan aku". Ucap Nozaki, ia menatap gadis didepannya. Ekspresi yang biasanya tanpa ekspresi berubah sedikit muram. Chiyo benar-benar menangkap kesedihan disana. Ia masih belum bisa berkata-kata. Ia hanya menggelengkan kepalanya.

Ada apa ini? Aku hanya terkejut saja, iya kan?

Setelah lima menit mereka terdiam, Chiyo mengeluarkan suaranya. 'Ti..tidak apa-apa, aku jadi tahu sisi Nozaki-kun yang lain. Iya kan?", dia memasang senyum di wajahnya. Tapi tangannya bergetar, entah apa yang dirasakannya kini. Chiyo bahkan benar-benar kebingungan. Nozaki hanya menanggapinya dengan anggukan.

Kau telat Chiyo!

"No..nozaki-k..."

Nozaki yang sedang memangku kepalanya itu menoleh kearah suara yang memanggil namanya.

"A..aku mau beli minuman. Apa kau ingin membeli sesuatu?". Nozaki menatap keluar jendela. "Aku ikut saja, Sakura", jawabnya. Dia mengambil jaket yang tegantung dekat pintu kamar. Begitu juga dengan Chiyo yang mengenakan jaketnya.

Mereka keluar apartemen bersamaan, membuat pintunya terasa sempit. Kemudian Nozaki mendorong Chiyo pelan agar maju lebih dulu.

"Mungkin aku harus melebarkan pintu ini", gumamnya.

"Ha? untuk apa Nozaki-kun?"

"Biar bisa keluar bersama". Nozaki menatap Chiyo lekat langsung ke matanya. Chiyo hampir saja merasa akan terbang namun sekali lagi, ia tahu bagaimana Nozaki. Tentu tidak ada maksud kesana. Terlebih saat Nozaki mengatakannya, ia nampak sedih.

Meskipun biasanya kau tanpa ekspresi. Entah mengapa, aku bisa merasakan kesedihanmu, Nozaki-kun. Tapi, aku tidak tahu apa yang membuatmu sedih.

"Ayo", ajak Chiyo. Ia memalingkan wajahnya dan berjalan didepan Nozaki. Terbesit dibenaknya untuk bertanya masalah Nozaki, namun ia tidak berani bahkan mengingat Nozaki yang sedang marah membuat tangannya gematar.

Mereka berjalan ke vanding machine terdekat. Chiyo memilih-milih minuman apa yang akan ia beli. Tangannya menunjuk beberapa minuman. Nozaki menatapnya dari belakang, sepertinya Chiyo terlalu larut dalam dunia memilih minuman. Nozaki mendahuluinya, ia memasukkan koin ke vanding machine. Tangannya bergerak menuju sebuah minuman kopi bernama capucino. Letaknya paling atas. Ia menekan tombol itu dan Chiyo yang tidak bisa mencapai minuman capucino itu berjinjit sekuat tenaga, sehingga jari mereka bertemu disana.

Chiyo dan Nozaki sama-sama kaget. Chiyo yang menonggakkan kepalanya keatas menatap sebuah mata yang sama terkejutnya dengan dirinya. Nozaki menundukkan kepalanya hingga dapat bertemu pandang dengan wajah yang sama merah dengannya. Bukannya menarik jari, mereka malah saling menatap hingga seekor kucing mengeong di atas tembok. Mereka tersadar dari lamunannya, mungkin saat ini Sakura Chiyo meraskan jantungnya hampir terhenti. Sementara Nozaki hanya bersikap biasa saja, namun tetap memalingkan wajahnya dari Chiyo. Ia jadi ingat insiden paha ketika Chiyo sakit.

"Sa..sakura, kau mau capucino kan? Iyakan?", Nozaki menunjuk-nunjuk minuman kopi itu. Ia sedikit terbata mungkin karena ingat insiden paha itu. Nozaki memasukan koin dan menekan tombol untuk membeli capucino tersebut. Karena letaknya cukup tinggi, Chiyo yang hanya bertubuh 145cm tidak akan sampai. Nozaki tahu itu.

Sementara itu Chiyo yang masih gugup hanya mengangguk cepat.

"Ini, Sakura"

"Te...terimakasih, Nozaki-kun"

Kini mereka merasakan kecanggungan luar biasa. Chiyo yang fokus akan dirinya, tidak benar-benar memperhatikan bagaimana Nozaki saat menatapnya. Ia hanya melihat mata Nozaki. Begitupun dengan Nozaki, ia tidak memperhatikan bagaimana Chiyo karena ia hanya menatap matanya.

"Sakura", Nozaki sudah bisa mengendalikan dirinya lagi.

"Ha...hai", Chiyo masih berdebar.

Mudah sekali jatuh cinta kepadamu, Nozaki-kun

"Mau jalan-jalan sebentar?", Chiyo hanya menatapnya, rona dipipinya belum hilang. "Aku kehabisan ide", sambung Nozaki.

SUDAH KUDUGA!

Pada akhirnya Chiyo hanya bisa menganguk lagi dan lagi. Mereka berjalan menuju taman. Pikiran Nozaki melayang jauh dari tubuhnya. Sementara pikiran Chiyo mungkin berputar putar disekitar Nozaki yang tidak jauh disisinya. Mereka berjalan berdampingan. Membuat Chiyo merasa ada dalam kencan, meskipun mereka sering pulang besama. Ia melirik Nozaki dari ekor matanya, usaha yang cukup keras karena Nozaki yang terlampau tinggi.

"Nee, Nozaki-k.."

"Ada apa, Sakura?"

"Kau ini senang sekali memotong ucapanku?"

"Ha?"

"aah, lupakan saja", ia menatap lurus kedepan. Nozaki masih melihatnya dari ekor matanya yang agak sedikit atau terlampau menurun. "Kalau kau kehabisan ide, kau bisa bertukar pikiran denganku, Nozaki-kun", Ia kembali menatap Nozaki. Tapi, kali ini Nozaki yang memalingkan wajahnya dan menatap kedepan. Ia tidak menjawab apa-apa.

"Kau seperti bukan Nozaki-kun", Chiyo tertawa garing berhasil mengalihkan pandangan Nozaki padanya. "Biasanya, kalau kehabisan ide kau selalu bertanya padaku, iya kan? Kita selalu bertukar pikiran. Meskipun kadang idemu selalu aneh...", dia tertawa kecil. "...tapi ketika sudah diterbitkan benar-benar menakjubkan. Aku bahkan ingin terus membaca karya Yumeno Sakiko. Aku jadi ingat tanda tangan darimu, waktu itu aku...", dia menghentikan ucapannya. Tahu bahwa semua telah lepas kendali. Ia hanya tersenyum mengingat rasa pahitnya.

"Kau kenapa?", tanya Nozaki. Chiyo memutar badannya agar bisa menatap Nozaki.

"Aku... benar-benar menjadi penggemar beratmu, Yumeno Sensei!", sebuah simpul senyum tulus keluar dari sana. Tentu Chiyo menjadi penggemar Yumeno Sensei tapi ia tetap menyayangi Nozaki Umetarou.

Ingin rasanya aku berteriak 'Aku menyangimu, Nozaki-kun' bahkan sebelum aku tahu kau seorang mangaka. Aku ingin berteriak itu. Tapi aku tidak bisa, karena yang terucap selalu berbeda dari yang aku rasakan, Nozaki-kun...

Nozaki yang mendengar hal itu merasa tersanjung. Berharap dia bisa memenuhi keinginan gadis itu.

"Sakura"

"Iya"

"Sampai kapan kau akan membaca karyaku?"

"He?", Chiyo sedikit heran namun tidak terbesit apapun dalam pikirannya. "Sampai aku menikah, menjadi seorang ibu, lalu menjadi ibu mertua dan menjadi nenek. Sepertinya aku tidak bisa lepas darim..", lidah Chiyo hampir terpeleset. "...mangamu", sambungnya.

"Apa aku bisa memenuhi semua itu?"

"Kalau begitu terus saja membuat manga. Jangan berhenti, Nozaki-kun!", Chiyo menatap Nozaki serius tapi setelahnya ia tersenyum. Entah sudah berapa kali Chiyo tersenyum, itu yang dipikirkan Nozaki.

"Kalau aku berhenti. Apa yang akan kau lakukan, Sakura?"

"Ha?", pertanyaan luar biasa yang membuatnya berpikir keras namun berakhir dengan pemikiran kau pasti bercanda...

"Mungkin aku akan demo besar-besaran agar kau tidak jadi berhenti"

"Kita pulang, Sakura. Aku masih ada deadline"

.

.

.

.

Perasaan Chiyo sudah cukup membaik. Kini jemarinya sudah tidak bergetar lagi. Ia dapat melakukan beta dengan baik. Pekerjaannya hanya menyisakan 3-4 lembar lagi. Dihadapannya ada lelaki jangkung yang entah kenapa begitu semangat menggambar manga. Ia sangat tergesa-gesa hingga tidak selembarpun digambar dengan baik olehnya. Menggambar, kemudian meremas kertanya, dan membuangnya. Seperti itu terus hingga tanpa ia sadara sudah banyak kertas yang berserakan disana. Dan satu buah kertas membuat Chiyo tidak beruntung. Tangannya terkena lemparan kertas, dan membuat beta nya berantakan. Walau sedikit.

"Aaah, untung aku tidak menumpahkan tintanya", keluh Chiyo menghempaskan napasnya.

"Ah suman, Sakura"

"Bu...bukan salahmu, Nozaki-kun". Tidak ada respon. "Belum dapat ide juga?" tanya Chiyo. Nozaki masih diam saja. menatap kertas dihadapannya.

"Sakura"

"Iya?"

Nozaki bangun dari tempat duduknya. Berjalan ke belakang Chiyo. Kemudian duduk tepat dibelakangnya.

"Nozaki-kun?", Chiyo hampir memutar tubuhnya sampai tangan besar Nozaki menghentikannya. Membalikkan gadis itu agar menghadap ke depan.

"Jangan menoleh ke belakang, Sakura".

"Ba...baik"

Nozaki menjatuhkan kepalanya pada pundak Chiyo. Ia bisa merasakan tulangnya.

"Nozaki-kun kau baik-baik saja kan?"

tidak ada jawaban. Mereka terdiam untuk beberapa menit.

"Sakura"

"I...iya?"

"Dua minggu lagi, upacara kelulusan kan?", Chiyo menggumam pelan.

"Memangnya kenapa, Nozaki-kun?"

"Apa kau jadi melanjutkan studi mu di Amerika?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Apa kau jadi melanjutkan studi mu, di Amerika?", Nozaki mengulang pertanyannya. Ia ingin jawaban. Entah apa yang dipikirkan Nozaki.

"Be..begitulah. A..ayah kan harus bekerja disana. Aku tidak bisa menolak permintaan Ayah untuk kuliah disana"

"Kau akan mengambil design?"

"Bu..bukankah aku sudah menceritakannya, Nozaki-kun?"

"Kau... akan mengambil design, Sakura?", Chiyo menganguk. Nozaki bisa merasakan gerakan di pundak Chiyo.

"Lalu, kapan kau akan berangkat?"

Kau sudah tahu kan Nozaki-kun? Mengapa menanyakannya kembali? Aku sudah pernah membicarakan ini.

"Sakuu...", seolah tahu kelanjutannya Chiyo memotong kalimat Nozaki. "Setelah upacara kelulusan aku akan langsung berangkat". Sanggahnya, Nozaki hanya diam. Sekarang Chiyo merasakan sesuatu di bahunya.

Basah...

"Nozaki-kun?", Suara Chiyo lirih. "Kau baik-baik saja?".

Harusnya aku tahu, bukan ini yang ingin kau bahas.

"Sakura, aku tidak bisa membuat manga lagi", suara Nozaki pecah. Bariton itu bergetar, berusaha menahan tetesan air matanya. Tapi ia tidak sanggup. Kopi, jalan santai, mengobrol, tidak membantunya untuk menyelesaikan pikirannya yang tidak karuan.

"Nozaki-kun? A...apa maksudmu, No..nozaki-kun?"

"Aku akan berhenti membuat manga". Chiyo bisa merasakan sekuat apa Nozaki berjuang mengucapkan kalimat itu. Bahunya semakin basah, tanda Nozaki sudah cukup banyak menangis. Entah kenapa, kata-kata yang baru saja di ucapkan Nozaki sangat menusuk hatinya. Seolah ia mengerti bagaimana perasaan Nozaki. Chiyo hanya bisa memegang tangannya sebelum air mata juga membasahi pipinya. Dia tidak peduli dengan apapun.

"Jangan bercanda! Yumeno sensei!"

Gadis itu memutar tubuhnya, membuat kepala Nozaki terangkat sedikit. Kini mereka saling berhadapan. Namun Nozaki masih membungkuk, ia menyandarkan kembali kepalanya pada bahu yang masih kering.

"Nozaki-kun...", suara Chiyo semakin lirih. Air matanya benar-benar tumpah. Ia tau ini bukanlah candaan. Tangaan mungil itu kini melingkar di leher Nozaki. Menyentuh kepalanya dengan hangat dan lembut. Kepala Nozaki tidak lagi tersandar pada bahu Chiyo. Ia membenamkannya lebih dalam, sampai ia bisa mencium aroma Chiyo dari lehernya. Menenangkan, namun tidak cukup untuk menghentikan buliran air dari matanya.

Banyak sekali yang ingin Chiyo tanyakan, tapi semakin ia bertanya maka perasaan Nozaki akan semakin tertekan. Ia membiarkan pria jangkung itu menangis sampai puas. Hingga akhirnya terhenti sendiri.

Chiyo akan melepaskan rangkulannya, tapi Nozaki menahannya.

"Maaf Sakura. Sebentar lagi saja", suaranya sudah mulai tenang walaupun agak serak. Chiyo mengiyakan. Namun, posisi ini membuat Nozaki pegal, karena Chiyo terlalu kecil Nozaki harus membungkuk.

Nozaki menarik tubuhnya dengan masih memeluk Chiyo sehingga tubuh gadis itu ikut tertarik. Nozaki menyandarkan tubuhnya pada tembok.

"No...no..no...nozaki-k...". ucap Chiyo terbata. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Mereka masih saling meerangkul. Posisi ini membuat Chiyo semakin berdebar. Sekarang seolah Chiyo yang sedang menangis di pelukan Nozaki. Kepala Chiyo tersandar manis di dada bidang Nozaki.

"Maaf, Sakura. Aku pegal"

BEGITU RUPANYA!

"No..nozaki-kun..?"

"Ada apa, Sakura?"

Harusnya aku yang bertanya seperti itu...

"Apa kau sudah lebih baik?"

"Sedikit"

"Ka...kalau boleh aku tahu. Kenapa kau akan berhenti? mendengarnya membuatku sedih", suara Chiyo agak dalam dipenghujung kalimat. ia memegang kuat baju Nozaki. Kemudian melepaskannya lagi.

"Ayahku..."

"Ayahmu?"

"Sejak awal, ayah tidak pernah mengijinkan aku menjadi mangaka. Ayah ingin aku tetap menekuni bola basket, seperti dirinya"

"Ayahmu atlet basket, Nozaki-kun?", Chiyo mencoba mengangkat kepalanya. Ia ingin melihat raut wajah Nozaki yang sekarang sedang memeluknya namun, tangan besar itu menghentikan kepalanya hingga Chiyo terbenam kembali ke dada Nozaki.

"Yah, itu dulu... sekarang dia sudah pensiun dan menjadi pengusaha"

"Hebat...", Chiyo mulai terbiasa. Bahkan ia senang dapat mendengar detak jantung Nozaki sejelas ini.

Kau berdebar sangat kuat, apa perasaanmu belum tenang juga?

"Dia memang hebat. Itu mengapa aku tidak bisa jadi seperti dirinya", pelukan Nozaki dirasa Chiyo semakin erat. "Aku diam-diam membuat manga, dan mengumpulkan uangku sendiri. Karena sudah merasa mampu menghidupi diriku sendiri, aku kabur dari rumah. Aku tinggal di apartemen ini dan terus membuat manga. Tapi, pada akhirnya aku menyerah dengan keputusan ayah..."

"Menyerah?"

"Lelaki itu mengancamku untuk berhenti, kalau tidak...", suara Nozaki mulai bergetar lagi.

"Nozaki-kun?", Chiyo mencoba mengangkat kepalanya lagi tapi usahanya sia-sia, kepala itu ditahan oleh tangan Nozaki.

"Mayu...", kini air mata Nozaki pecah. Chiyo hanya bisa merangkulnya, meskipun lengannya tidak sampai memeluk seluruh tubuh Nozaki. "Mayu sebenarnya punya bakat untuk menjadi asistenku, karena ia dapat meniru gambar dengan baik. Tapi ayah benar-benar melarangnya tepatnya melarangku, pada intinya melarang kami untuk bertemu. ayah hanya ingin Mayu fokus dengan judonya. Tetap fokus tidak beralih haluan sepertiku"

"Seperti Nozaki-kun?"

"Dulu saat SMP aku sangat fokus dengan basket dan tim ku selalu menang kejuaraan, ayah sangat bangga dan memintku untuk menekuni basket. Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih kusukai dari basket", ia terhenti sebentar. Melirik Chiyo yang masih mendengarkannya dalam diam. Ia melanjutkan, "Akhirnya jadwal latihan ku pun terganggu karena deadline, pelatih tidak lagi menempatkanku di posisi-posisi penting. Hingga aku akhirnya mengundurkan diri dan tidak menekuni basket lagi. Padahal saat masuk SMA aku mendapat tawaran untuk masuk timnas Jepang", ia tertawa kecil.

"Apa yang buruk dari membuat manga?"

"Ayah bilang aku bisa membuat Mayu menjadi seorang mangaka, Mayu bisa meninggalkan judo nya. Masa depan yang lebih cerah"

"Ka..kalau begitu harusnya melarang Mayu", ia terhenti. "Bukan kau, Nozaki-kun" lanjutnya lemah.

"Mayu itu.. ", Nozaki melihat kearah jendela. Benar-benar sore yang cerah. "...akan mengikutiku terus. Sejak kecil dia selalu berada di belakangku. Ia selalu diejek oleh teman-temannya, mungkin karena dia dulu bantet"

Hoi...hoiiiii dia adikmu!

"Jadi aku menyuruhnya untuk mengikutiku saja, dan terus terjadi sampai sekarang. Meskipun dia lebih senang dengan judo, ayah tetap mendukungnya karena Mayu selalu membawa mendali apabila ikut kejuaraan. Jika seperti ini terus, bukan tidak mungkin ia akan meninggalkan judo". Nozaki mengeratkan pelukannya. "Aku hanya tidak ingin tidak bertemu dengannya".

"Kenapa ayahmu sejahat itu, Nozaki-kun?", kini Chiyo yang membasahi baju Nozaki. "Melarangmu bertemu dengan Mayu, itu jahat. Padahal dia seorang ayah tapi melarang anak-anaknya sendiri untuk bertemu", Chiyo terhenti. Ia menarik dirinya dari rangkulan Nozaki, kali ini Nozaki lengah dan Chiyo berhasil lepas. Chiyo menatap Nozaki dalam.

Bagaimana kalau aku mengatakan suka padamu, disaat seperti ini. Kau tidak akan bercanda lagi kan?

"Aku ingin membaca karya-karyamu. Aku ingin terus membaca manga dari tangan ini", Chiyo mengenggam tangan Nozaki yang besar itu. seperti anak gadis yang memegang tangan ayahnya. Sangat hangat. "Ka..kaa.. karena a..ku..."

Kau bisa, Chiyo!

Nozaki masih menatapnya. Menunggu kalimat apa yang akan Chiyo ucapkan, meski tahu ia tetap menunggu.

"Karena aa...aku... penggemarmu!", Chiyo mengutuk lidahnya yang selalu kelu menyebut kata 'suka' kepada Nozaki. Ia membenamkan wajahnya pada dada Nozaki. Air matanya mengalir hebat. "Aku penggemarmu, Nozaki-kun", lirih Sakura Chiyo di iringi isak tangis. Nozaki menguatkan dekapannya. Membuat gadis itu semakin kuat menangis.

"Aku tahu", respon Nozaki yang tanpa ekspresi keluar dengan sendirinya. Membuat Chiyo yang mendengar tanggapan itu benar-benar menangis.

Kau tidak tahu, Nozaki-kun... tidak tahu...

.

.

.

.

Suara kertas diruangan yang sepi membangunkan Nozaki. Rupanya ia tertidur dengan Chiyo yang masih berada dalam pelukannya. Ia melihat keluar jendel yang sudah gelap, hanya ada cahaya lampu dari jalan. Matanya menelisik seseorang yang sedang duduk di meja kerjanya. Lampu meja menyala dan orang itu tengah membolak-balikkan kertas.

"Mayu?", tanya Nozaki. Pria yang sedang duduk itu menoleh.

"Kau sudah bangun, ka?"

"Hmm, begitulah" jawab Nozaki seadanya. Mayu menatap Nozaki dengan senyuman, tidak biasanya adik keduanya itu tersenyum menggoda seperti itu.

"Ada apa?". Mulut Mayu terkunci dan tangannya mengangkat setumpuk kertas. Nozaki spontan melirik kearah laci meja belajarnya. Matanya cukup terkejut.

"Itu! Apa yang kau lakukan?", Nozaki sedikit berteriak. Ia hampir membangunkan Chiyo yang masih tertidur pulas. Tentu ia terkejut bukan main, itu adalah karyanya yang masih dirahasiakan. Bahkan dari asisten-asistennya. Dia benar-benar mengerjakannya sendirian.

"Maafkan aku. Tadinya aku hanya ingin meminta ongkos pulang karena uangku habis. Tapi begitu sampai kalian sedang tertidur, entah apa yang kalian lakukan hingga tertidur dalam keadaan seperti itu"

"Tidak usah dibahas", Nozaki memalingkan wajahnya. Mayu hanya tertawa kecil.

"Aku mencari dompet dikamarmu tapi tidak ada, jadi aku mencari di meja belajar. Saat aku mencari, malah menemukan tumpukan kertas ini", jari telunjuknya menghentak-hentak diatas naskah Nozaki.

"Kau sudah membacanya?"

"Sudah. Aku mengerti kenapa kau begitu marah pada Chi-nee chan", ia menatap kearah wanita yang masih tidur dipelukan Nozaki.

"Aku tidak marah, hanya saja ini masih rahasia"

"Cerita akhirnya belum terbentuk. Aku penasaraaan bagaimana akhir ceritanya...", nada suara Mayu seperti menggoda.

"Mayu, tolong nyalakan lampunya. Gelap". Adiknya hanya menatapnya malas. "Ayolah, aku tidak bisa bangun"

"Baiklah... baiklah...", dengan tergontai malas Mayu berjalan menuju saklar lampu. Sekarang sudah terang. Nozaki Mayu dapat melihat kakaknya dengan jelas. Ia berjongkok didepan Nozaki. Menatapnya penuh kecurigaan, kemudian beralih menatap Chiyo.

"Wah... kau membuatnya menangis lagi?"

"Dia menagis dengan kemauannya sendiri"

"hnmmmm..."

"Hari ini terakhir kalinya dia menjadi asistenku"

"Ah, soal keberangkatannya ke Amerika?"

"Begitulah, dan juga aku memang tidak akan membuat karya lagi. Yang kau baca adalah karya terakhirku. Bahkan aku terpaksa harus mengakhiri kisah Suzuki dan Mamiko, sangat berat untukku"

"Jadi lebih berat melepas karyamu daripada melepas asisten tersayangmu?"

"Jangan bodoh, aku bisa bertemu dengan asisten-asistenku kapan saja"

"TUNGGU! KAU BERHENTI?", Teriakan Mayu sukses membangunkan Sakura Chiyo. Ia mengerang pelan. Ia mulai membuka matanya. Sadar masih dalam dekapan Nozaki, ia segera menarik tubuhnya. Wajahnya memerah.

"No...no..no..no..nozaki-kun!"

"Maaf membangunkanmu, Chi-nee chan"

"Ma..ma..mayu!"

"Dasar bodoh", Nozaki menjitak Mayu pelan. "Akan kubuatkan makan malam, Mayu telponlah ayah. Bilang kau akan pulang setelah makan malam". Nozaki bangun dari duduknya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

"Jadi, kau akan berhenti juga?", pertanyaan itu menghentak hati Chiyo. Ia menatap Nozaki nanar. Mungkin ia akan menangis lagi. Ditatapnya Nozaki yang tanpa ekspresi. Ia berhenti memasak. Lalu menjawab pertanyaan itu dengan biasa saja.

"Akhirnya aku menyerah juga. Sekarang aku bingung bagaimana mengakhiri kisah Suzuki dan Mamiko. Ah, biar aku telpon Ken-san nanti. Tenang saja Mayu"

"Aku mana bisa tenang!", suaranya sangat keras. Nozaki tidak menanggapinya. Ia hanya melanjutkan kegiatan memasaknya.

"Kemarilah, Mayu", suruh Nozaki. Mayu menghampiri kakaknya itu. Ia berdiri dihadapan Nozaki. Kakanya itu mengambil sebuah sendok dan mengisinya dengan makanan yang sedang dimasak. Meniupnya sebentar, kemudian meyuapinya kepada Mayu.

"Enak tidak?", Mayu hanya mengangguk sambil mengunyah.

"Ketika aku menyelesaikan yang terakhir, kau bisa makan masakanku tiap hari. Aku akan pulang kerumah, iya kan?"

Mayu hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia. Ia membayangkan nikmatnya masakan kaka yang dimakan bersama semua keluarga.

Mudah sekali dibujuk!

.

.

.

To be Continued

.

.

Next Chapter Summary ::

Sakura Chiyo berpisah dengan Nozaki Umetarou. Chiyo pergi dengan kenangan yang tidak pernah ia lupakan.

di New York Chiyo tiba-tiba menjadi artis?

Kisah berakhir, Yang berbohong akan di adili. ini diantara Chiyo dan Nozaki, Kebohongan apa yang mereka buat?

Next is the LAST!