Semenjak kejadian itu, sang Hokage tidak sadarkan diri hampir satu minggu lamanya, para penduduk desa masih ada yang menunggu di depan rumah sakit, ketika mereka pulang bekerja mereka juga menyempatkan diri untuk menjenguk sang Hokage yang masih tak sadarkan diri, dan keadaan desa semakin menjadi tidak stabil, di sinilah peran pengganti Hokage sementara sangat dibutuhkan, namun warga desa menolak adanya pengganti Hokage yang menggantikan posisi sementara Naruto, karena mereka menilai, Naruto adalah Hokage paling berjasa di Konoha, dan sampai sekarang belum ada kepastian akan kesadaran Hokage keenam.

Chapter 26 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre –Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 26

Pertarungan yang sengit

Kau bisa mendengarku, Naruto?

Naruto masih terjebak dalam ilusi yang tiada batas, matanya gelap gulita, tetesan air terdengar seperti biasanya, dan di depannya dirasakannya seorang guru tua berambut panjang, berdiri tegak dengan wajah menantang. Dan kedua orang berambut putih itu akan bertempur habis-habisan, dengan tujuan yang berbeda. di belakangnya, pemuda yang memiliki garis tipis di wajahnya itu, masih tidak bisa berdiri tegak, ia hanya bisa duduk lemah tak berdaya, wajahnya merunduk bak seorang sampah yang tak berguna, kedua bola matanya benar-benar hilang entah ke mana.

Mata Rinnengan Naruto telah terpasang ke lubang mata White. White pun memutar bola mata itu, melihat ke wajah pria tua Bangka yang telah berdiri di sana,

"Kau? Guru Naruto kan? penyebab kebencian seutuhnya? Jika kau tidak mati, Naruto tidak akan seperti ini dan aku tidak akan bangkit dari segel yang terlalu dalam."

"Cukup sudah penderitaan yang selama ini diderita oleh muridku, aku tidak akan membiarkanmu menyiksanya lebih dari ini." ujar Jiraiya berusaha membela Naruto yang masih dalam keputusaasaan dan kebimbangan dalam memilih tujuan hidup, Naruto masih tidak bisa berbuat apa-apa, jiwanya terguncang, semangatnya redup, dan tidak ada satu pun yang bisa menolongnya…

"Menyiksa? Justru sebaliknya, aku yang melindungi dia, memberi dia kekuatan, membuat dirinya balas dendam, bukankah itu yang Naruto inginkan? Sekarang keinginannya sudah terwujud, dan dia tidak tau harus melakukan apa? Melawanku? Haha. Masa bodoh…. Kalian tidak akan menang, karena aku abadi."

Kyubi yang masih tersegel, hanya bisa melihat pemandangan itu dengan terkekeh dalam batinnya, berpikir semuanya akan segera berakhir, dan dirinya dapat meninggalkan penjara busuk ini untuk selama-lamanya dan menghirup udara segar di luar sana. 'Sesegera mungkin, aku akan meninggalkan tempat terkutuk ini, aku sangat menantikannya.' Batin Kyubi. White masih dalam posisi yang sama, berdiri menatap tajam mata Jiraiya yang tenang tanpa pemikiran yang jelas, karena dirinya juga tahu, bahwa ia bukan tandingan White, pencipta alam semesta ini, beserta seluruh energinya.

White masih memegangi pedangnya, dan bersiap menyerang Jiraiya kapan saja. "Tidak ada makhluk yang lebih kuat dariku, dan untuk itu akulah yang memegang kematian seseorang…. Tidak ada alasan kau muncul kembali di alam bawah sadar ini, kau sudah mati, dan untuk itu juga aku akan melenyapkanmu sekarang!" White bergerak secepat kilat, melebihi kecepatan shinobi tercepat di dunia sekalipun.

Namun Jiraiya sudah memperkirakan sebelumnya, jempolnya ia gigit darah pun keluar sedikit, dan ia lanjutkan membuat handseal di tangan tuanya. "Kuchiyose no Jutsu!"

Trrrnggg!

Katak Jiraiya berhasil menangkis ayunan pedang White, White tersenyum sinis. "Heh…" White pun bergerak elegan, dan menusuk katak itu bertubi-tubi… Buggh! Asap putih membumbung tinggi, katak itu tak kuat menahan tusukan White yang membabi buta, Jiraiya masih lebih jauh beberapa langkah dari White, dan itu membuatnya dapat berpikir, apa yang akan dia lakukan selanjutnya…

"Aku tidak menduga, dia bisa sekuat ini…. jutsu-jutsu yang mengerikan.."

"Kau benar. Aku memiliki 5 jutsu yang tidak bisa ditiru oleh manusia, pertama jutsu meleburkan tubuh manusia, membaca pikiran manusia, bergerak dengan kecepatan cahaya, menghidupkan orang mati tanpa segel, dan terakhir….."

Jiraiya terdiam beberapa saat, tubuhnya berguncang seperti dilanda ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang pantas, keringatnya tak berhenti mengucur, kegelisahan benar-benar mengambil alih dirinya yang tenang, alhasil kepanikan pun menjalar di seluruh tubuhnya.

"Menghancurkan bumi dan seisinya…" lanjut White tanpa berekspresi.

Desa Konoha.

Di sebuah ruangan rumah sakit ternama Konoha, terbaringlah sang Hokage yang masih terpejamkan matanya, hening begitu nuansa yang terpancar dari dalam ruangan itu, mereka membiarkan Hokage beristirahat, Tsunade pikir Naruto akan siuman dalam beberapa hari saja, akan tetapi perkiraannya meleset, dan hari ini sudah menginjak satu minggu. Naruto masih belum sadarkan diri.

Terlihat Shikamaru yang bersandar di dinding luar ruang perawatan Hokage, terlihat sekali ekspresi penyesalannya, ia hanya bisa marah terhadap dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa untuk Naruto dan desa. suara derap langkah kaki terdengar di indera pendengarannya, seketika itu ia menoleh ke arah dua orang yang berjalan mendekatinya.

"Sakura? Tsunade-sama?" ujar Shikamaru.

"Masih belum sadarkah, Naruto?" tanya Tsunade dengan wajah serius. Shikamaru diam saja memberikan sinyal bahwa Naruto belum sadarkan diri, Sakura mengerti akan hal itu, ia termenung sedih meratapi kenyataan berat ini.

"Bagaimana perihal warga desa yang bersikeras untuk menjenguknya?" tanya Shikamaru sambil melihat wajah wanita berparas cantik tersebut.

"Mereka masih berkeinginan kuat untuk melihat wajah Naruto, dan banyak dari mereka yang berdoa untuk kesembuhan Naruto, karena mereka telah menganggap Naruto sebagai pelindung desa, dan keluarga mereka sendiri, seperti ayah untuk anak kecil dan anak untuk orang tua, mereka benar-benar menghormati serta mengagumi Naruto," ungkap Tsunade jujur, ia melihat kejadian itu ketika hendak melintas koridor rumah sakit dan halaman rumah sakit, wajah-wajah penuh kesedihan dapat dirasakan ketika wanita itu melewati suasana senyap yang dipenuhi orang dengan tangisan yang tak henti-henti.

"Jadi begitu kah?"

"Iya."

Sakura masih terdiam, ia hanya berdiri di dekat Tsunade tanpa berkata apa-apa, dan kemudian mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Naruto, yang masih dalam proses penstabilan stamina dan energy Naruto, chakranya terkuras habis, darahnya juga tergerus oleh chakra yang digunakan berlebihan, dilihatnya mata Naruto masih terpejam, suhu dalam tubuhnya naik turun tak menentu, tangannya masih terhubung dengan selang infuse.

Sakura mencoba menyentuhkan kedua tangannya ke dada Naruto, berusaha meredakan rasa sakit yang Naruto derita, terkadang dia merasakan denyut jantung yang lemah, seakan-akan mau berhenti. Jutsu medis telah ia gunakan, sinar berwarna hijau muda telah keluar, berharap pengobatan kecil itu akan bermanfaat walau sedikit.

'Sakura?' ucap Tsunade dalam hatinya.

"Jangan mati, aku mohon…"

"Jadi kau telah melakukannya? Naruto? kau harus bertanggung jawab…dasar.." imbuh Shikamaru dengan nada meledek, tapi dengan bumbu penyemangat agar Naruto dapat bangkit kembali seperti sedia kala.

Air mata menetes seketika itu, mengenai pakaian Jonin Hokage, dan sekarang wajah rupawan Sakura terhiasi oleh derasnya tangisan air mata, butiran-butiran air asin itu, tidak bisa berhenti dengan mudah.

"Hiks-hiks-hiks, jangan tinggalkan aku, Naruto."

Di tempat alam bawah sadar Naruto, Naruto masih meratapi keputusaasaannya sedangkan Jiraiya masih sibuk bertarung dengan White yang sangat mustahil untuk dikalahkan.

'Apa katanya? di dunia ini tidak mungkin ada jutsu-jutsu tidak masuk akal itu, yang bisa mendekati akal pikiran manusia hanyalah kecepatan, tapi apa ada orang yang jauh lebih cepat dari Minato?' pikir Jiraiya berusaha menyembunyikan rencana selanjutnya, tapi semua itu telah dibaca White dengan cermat.

"Minato kah? dia adalah muridmu yang digadang-gadang akan menyelamatkan dunia bukan? kecepatannya diakui oleh dunia Shinobi dan disebut dengan si kilat kuning dari Konoha, dia memang cepat, tapi aku jauh lebih cepat darinya." Balas White tak mau kalah, senyuman Kyubi pun mengiringi kepercayaan diri tinggi White, memang karena kekuatannya melebihi akal pikiran manusia.

White berjalan satu langkah mendekati Jiraiya yang gemetaran, dan mode sennin telah Jiraiya kuasai, energy alam menyelubungi tubuhnya, dan White berhenti di langkah selanjutnya, hanya energy alam yang bisa melukai tubuhnya. Namun White tetap tersenyum sinis, menunjukkan jarinya ke arah Jiraiya seakan-akan meremehkan pria berambut panjang tersebut.

"Energy alam kah? menarik." Pungkas White dengan kuda-kuda bersiap menyerang, Jiraiya juga tak mau kalah, malah ia beinisiatif untuk menyerang White terlebih dahulu, "Yaa!" Jiraiya bergerak secepat angin mengandalkan selaput di kaki dan tangannya, meloncat-loncat melewati air yang tak berarus.

Kecepatannya lumayan tinggi, tapi bagi White, itu hanyalah kecepatan sampah. White melaju kencang ke arah Jiraiya yang meloncat-loncat tak menentu arah, dengan sigap, ia berhasil mencekik leher besar Jiraiya dengan tangan kanannya yang kuat, cekikan itu menimbulkan darah yang keluar dari mulutnya. Darah berwarna merah itu mengucur sedikit demi sedikit.

White mencekik leher Jiraiya semakin kuat daripada sebelumnya. "Aku tidak tau apa rencanamu datang ke sini, tapi keberadaanmu di sini tidak akan berpengaruh apa-apa, kau lihat sendiri bukan? Naruto telah menyerah, dan sebentar lagi dia akan menyerahkan tubuhnya kepadaku sepenuhnya. kau tidak akan bisa mencegahku lagi," ujar White sambil melihat ekspresi Jiraiya yang nyaris mati akibat cekikan kuat itu, Jiraiya masih enggan menyerah dan memutuskan tetap berjuang untuk melindungi muridnya.

Naruto masih dalam keadaan yang kacau, dirinya bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang, tangannya meraba-raba air yang tenang, di situ terpantul wajah dengan air mata yang berlinang di pelupuk mata yang kosong,

"Aku ingin mati."

Tes!

"Aku tidak bisa melanjutkan hidupku."

Tes!

"Aku tidak mau membebani orang-orang yang kusayangi."

Tes!

Air mata itu tetap jatuh dengan semestinya, merenggut keberanian Naruto yang selalu ada di dalam hatinya, ketika Jiraiya juga dalam keputusasaan, nasib dunia telah ditentukan dari sekarang.

"Menyerah saja, kau yang gurunya sekalipun tidak akan mampu mengalahkanku, induk dari semua chakra, semuanya….. bahkan shinobi terkuat sepanjang masa tidak akan bisa mengalahkanku. Kau harus tahu…"

"T-tidak, a-aku m-masih b-bisa bertarung, aku belum menyerah!" Jiraiya berteriak sekencang-kencangnya, rambut putihnya pun memanjang dan membentuk duri berupa perisai untuk melindungi tubuhnya, White pun terkena duri tersebut dan melepaskan cekikannya, Jiraiya berhasil lolos dari maut.

Ia langsung mendekati Naruto, dan memberikan moral sedikit, "Naruto? aku membutuhkanmu, untuk mengalahkannya…"

Naruto hanya diam saja.

"Naruto, dengarkan aku…. Aku mempunyai rencana untuk mengalahkannya, sehingga kau bisa sadar kembali…"

Naruto tetap diam.

"Naruto! sadarlah! Kau belum mati, dan aku akan menyelamatkanmu !" seru Jiraiya sambil menggerak-gerakkan tubuh Naruto.

"Aku ingin mati saja…."

Sontak ucapan itu membuat Jiraiya terhenyak, diam seutuhnya, karena baru kali ini ia mendengar Naruto mengeluh dan ingin segera menyudahi pertarungan ini, "Sensei? Kau tidak mengerti penderitaanku selama ini, aku-aku tidak bisa menanggung semua beban itu, aku bukanlah manusia yang tercipta dengan sempurna, aku hanya ingin… menjadi Naruto yang dulu."

"Naruto? jika seperti itu, rencana ini tidak akan bisa, kau tau? White itu tidak bisa mati."

Mata Naruto masih hitam, kedua lubang itu belum terisi oleh bola mata yang layak, dan ketika mereka berdua sedang serius berbicara, muncul lah White dari belakang yang tidak disadari oleh siapapun, seketika itu Jiraiya yang menggunakan mode sennin sedikit bisa merasakan keberadaannya, dan hasilnya…

Clppp!

Jiraiya tertusuk pedang White untuk melindungi Naruto, Naruto yang mendengar desahan rasa sakit itu segera berbalik dan merasakan kesakitan yang sekarang ini diderita oleh Jiraiya. "Ougghh!"

"Sensei?"

"Uhuk Uhuk! Sudah kubilangkan Naruto, meskipun ditusuk seperti ini, aku tetap tidak akan menyerah, karena itulah jalan ninjaku…. Sesuai dengan perkataanmu dulu, hehehe maaf aku menirunya." Darah mengucur lancar di seluruh tubuh dan pakaian Jiraiya, pakaiannya pun menjadi merah akibat darah tersebut, semuanya menjadi kacau balau. Keutuhan dunia benar-benar sudah tak bisa diselamatkan lagi.

"Sekarang? apa yang harus kulakukan? Hiks-hiks-hiks… aku-aku tidak bisa melakukan apa-apa, tidak bisa berpikir apa yang harus kulakukan… aku sudah tak sanggup lagi Sensei.."

"Uhuk, kau adalah muridku, seharusnya kau mencontoh gurumu ini, yang rela mati untukmu, ini sudah kedua kalinya…."

"Kenapa Sensei harus ke sini? jika sudah tau apa yang akan terjadi nantinya!" Naruto malah kesal dan menyalahkan Jiraiya, seharusnya Jiraiya tidak datang ke sini, karena ia tidak mau melihat orang yang ia sayangi mati lagi, ketika mendengar teriakan kekhawatiran itu, Jiraiya hanya bisa tersenyum. Senyuman dari guru kepada muridnya.

"Karena aku mengkhawatirkanmu, Naruto."

Naruto terhenyak dengan kata-kata singkat itu, meskipun singkat namun kata-kata itu berhasil membangkitkan semangat Naruto sedikit demi sedikit. 'Sensei? Ada apa sebenarnya denganku? apa yang salah denganku? seharusnya aku melawannya… melawan orang yang telah berani melukai Guruku..'

Meskipun tertatih, Naruto berusaha berdiri sendiri, dengan segenap kegigihannya. Sambil berdiri ia mengambil sesuatu dari kantung ninjanya, sebuah kapsul yang berisi dua mata peninggalan Uchiha Itachi, yang ia simpan ketika melawan Danzo, lalu, ia memasang kedua mata itu dengan cepat tanpa bantuan medis sekalipun. Karena ia sudah tahu teknik transplantasi mata yang benar dan cepat.

White tersenyum dingin, dan melepaskan tusukan itu, Sringg… pedang itu telah keluar dari perut Jiraiya, Jiraiya pun tergeletak dan darahnya menyebar ke air yang tenang. "Kau masih belum menyerah juga, Naruto?" tanya White yang masih ingin bermain-main dengan Naruto, namun kali ini Naruto akan serius.

"Tidak akan terjadi lagi untuk kedua kalinya," ujar Naruto sambil melesat menuju White berdiri.

White masih terdiam sambil melihat Naruto yang semakin dekat, White pun memanfaatkan salah satu jutsunya untuk menghabisi Naruto. "Shinra Tensei!"

Daya gravitasi itu mementalkan tubuh Naruto, ia pun terdorong sejauh beberapa meter, namun masih bisa berdiri. "Sial, apakah ini rasanya terkena Shinra Tense? Aku selalu menggunakan jutsu ini."

Naruto kembali berusaha melancarkan serangan, mata sharingannya pun ia aktifkan, tiba-tiba saja shuriken besar menghujani White, White sudah menyadari bahwa serangan itu hanyalah genjutsu mata. "Kau tidak akan bisa menang melawanku, karena aku mutlak."

White bisa membaca seluruh pergerakan yang disusun Naruto, Naruto yang masih berlari menuju ke arahnya pun seperti mati langkah ketika dihadapannya. 'Serangan yang kuat tapi….'

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, sudah kubaca semuanya…!" White bergerak secepat suara menembus akal pikiran Naruto yang memiliki iq diatas rata-rata, tomoe sharingan Naruto berputar-putar membaca pergerakan cepat White. White muncul dari samping, dan seketika itu tebasan mengenai tubuh Naruto.

'Sial! Aku tidak sempat menghindar!'

Sringgg!

Naruto terbelah menjadi dua bagian, tubuhnya pun terlempar ke sembarang tempat, tercebur ke air tenang yang tidak ada dasarnya…

'Sudah berakhir kah?'

Naruto belum menyerah.

Tubuh yang dibelah tadi ternyata hanyalah Kagebunshin, dan Naruto keluar dari permukaan air dengan sangat cepat, sambil membawa rasengan shuriken di tangannya. "Rasakan ini," padahal sebelumnya White tidak merasakan kehadiran Naruto, namun dalam hitungan detik ia berhasil menghindari serangan berdaya besar itu dengan jeda waktu yang sangat singkat kurang dari satu detik. 0,1 detik. Kecepatan yang luar biasa.

'Kecepatan macam apa itu,' sambil menghindar White mengeluarkan sebuah bola berdiameter 10 meter yang berwarna gelap bercampur biru tua, kekuatan yang dahsyat berupa bijuu dama yang terlahir dari tangan kosongnya. "Coba kauhindari ini,"

White melayang di udara sambil mengarahkan bola besar itu ke arah Naruto, bola besar itu melesat ke bawah dan meledak dengan dahsyat, saking dahsyatnya air tenang itu menjadi gelombang laut yang hebat, ledakan itu meluluhlantahkan air yang tenang tersebut, memberikan pendapat tentang kematian Naruto.

DUARRR!

'Aku tidak yakin, dia bisa hidup setelah terkena serangan itu.' batin Kyubi yang masih mengamati pertarungan dari dalam segel. Jiraiya yang tadinya terkapar tak berdaya, hanya bisa mengeluhkan rasa sakitnya sambil terombang-ambing dalam lautan alam bawah sadar, dan sedikit demi sedikit, ia berusaha memperbaiki luka lebar yang terdapat di perutnya dengan sebuah energy alam.

"Aku harus cepat…."

Naruto telah tenggelam ke dalam air yang tak dangkal, ia hanya bisa melihat ke permukaan air yang tidak ada cahaya yang cerah. Kegelapan masih merasuki tubuhnya, dan itu akan menjerat dirinya selama-lamanya. Ketika ia dalam keputusasaan untuk sekali lagi, Naruto memilih jalan yang diambil gurunya.

"Serangan itu memanglah dahsyat, tapi aku… tidak akan menyerah," Naruto bergerak cepat menuju ke permukaan, Byurr! Air tersebut telah tumpah ruah, dan Naruto muncul kembali dengan luka yang tak terlihat. "Tidak mungkin.." pungkas Kyubi terkejut.

White tersenyum bangga. "Tidak kusangka kau bisa menghindari serangan itu.."

"Hm? Jangan terkejut seperti itu, karena aku jenius..."

Naruto mengaktifkan mangekyou sharingan, mata itu berubah motif dan pola, dan ia menyerangkan Amaterasu ke tubuh White yang berdiri santai di atas air yang sudah mulai tenang kembali. White yang diam saja pun terkena api hitam abadi itu, api itu membakar tubuhnya, perlahan-lahan, Naruto turun dan berdiri di atas air, melihat White yang diam dan terlihat seperti menikmati api hitam tersebut.

"Ini mustahil," ujar Naruto terkaget, White hanya bisa menahan gelak tawanya. "Amaterasu kah? aku tidak tau kenapa ini bisa terjadi, tapi aku benar-benar tidak bisa terbakar oleh api ini" White berjalan pelan mendekati Naruto, dengan diselimuti oleh kobaran api hitam itu, White berupaya untuk menyalurkan api tersebut ke tubuh Naruto.

"Aku ingin tau, apa kau bisa menahan panas ini?"

Naruto mundur beberapa langkah karena sedikit was-was, dan ia pun akhirnya menghilangkan api hitam itu, "Ini jauh lebih ringan daripada yang tadi" White mengeluarkan pedangnya lagi, kali ini ia berinisiatif untuk melakukan serangan mendadak. "Sepertinya aku harus mengakhiri ini, Naruto. aku sudah lelah bermain-main denganmu." ucap White meremehkan, ia pun mengulurkan tangannya ke arah Naruto.

"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Naruto akan tetapi White tetap diam tanpa menggubris pertanyaan itu dan tetap ingin menyelesaikan ini dengan segera. "Jutsu mengendalikan kematian siapapun yang berada di hadapanku, dengan memberikan tekanan di dalam tubuh seseorang dan mengeluarkannya dengan tekanan lebih besar, maka akan menghasilkan ledakan dari dalam tubuh…. Kau akan mati… heh."

Naruto tak bisa berkutik lagi, keringat kegelisahan mengucur di wajahnya, membashi sebagian pipinya, dan ia sudah tidak tau apa yang harus ia lakukan. 'Melakukan mode sennin akan percuma saja, ada sesuatu yang masuk dalam diriku, sesuatu berupa chakra dengan tekanan tinggi… apa ini yang dia maksud?' pikir Naruto sambil merasakan sesuatu yang mengalir di dalam tubuhnya, White masih mengarahkan tangannya ke tubuh Naruto yang telah ia kunci menjadi targetnya. "Semuanya akan segera berakhir, Naruto."

"Sial, aku tidak bisa bergerak, sebenarnya jutsu apa ini?"

"Matilah!"

Clppp!

Tiba-tiba saja, Jiraiya telah berdiri di belakang White dan menggagalkan aksinya, sebuah kunai tajam menusuk punggung White, White pun cukup terkejut atas serangan dadakan tersebut. 'Hawa keberadaannya tipis sekali, kemungkinan besar stamina dan chakranya telah terkuras habis untuk menyembuhkan lukanya sendiri…' batin White tanpa melihat ke arah belakang, dan Jiraiya masih menusukkan kunai itu ke dalam tubuh White.

"Ternyata kau bisa diandalkan di detik-detik terakhir ini… Jiraiya.." White berbalik dengan cepat, dan menguhunuskan pedangnya yang ia genggam di tangan kiri, Sringgg! Namun Naruto mencoba sesuatu, ia menyelamatkan Jiraiya dari tebasan pedang itu, dengan gerakan lincahnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu, melukai guruku lagi." pungkas Naruto sambil meletakkan tubuh Jiraiya di perairan tenang, Jiraiya hanya tersenyum dan berkata. "Terima kasih Naruto, kau benar-benar muridku yang paling hebat." Kali ini berbeda dengan sebelumnya, Naruto telah berdiri di depan Jiraiya dengan tegap, berkeinginan kuat untuk melindungi sang guru yang telah terluka parah.

"Seharusnya aku yang berterima kasih kepada sensei, karena sensei telah menyelamatkanku dan mengarahkanku ke jalan yang benar. Terima kasih! Jadi aku ingin, sensei memberitahuku tentang rencana itu…"

"Tidak masalah,"

Jiraiya pun berbisik-bisik dengan Naruto, dan menyembunyikan rencana itu terhadap White, tapi tetap saja White bisa membaca pemikiran mereka berdua. 'Hanya itulah satu-satunya cara untuk menghentikanku, tapi apa mereka bisa melakukannya?' pikir White yang masih membawa pedang di tangan kirinya, pedang itu telah berlumuran darah yang dihasilkan dari tubuh Jiraiya.

"Jadi begitu ya? aku tidak tau itu akan berhasil atau tidak, tapi jika itu satu-satunya cara untuk menghentikannya, apa boleh buat, kita harus mencobanya." Ujar Naruto bersemangat, tapi dengan tatapan serius dan tanpa berekspresi, Jiraiya pun tersenyum percaya diri, melihat muridnya yang telah berdiri gagah di depannya yang melindunginya, rela mengorbankan nyawa hanya untuknya.

"Permainan baru saja dimulai, Naruto." White berjalan ke belakang dan menuju ke pintu gerbang segel Kyubi, "Jadi White-sama akan membukakan segel ini untukku? Ini adalah saat-saat yang telah aku tunggu." White berjalan di atas air dengan nyaman dan santai seperti tidak menghiraukan apapun yang berada di sekitarnya termasuk Naruto dan Jiraiya, dan disaat itulah Naruto berusaha memanfaatkan kesempatan itu. tiba-tiba saja Naruto telah muncul di depan White dengan mengandalkan bunshin air, kedua bunshin itu memegang rasengan di tangan mereka masing-masing dan disertai api amaterasu untuk menetralkan rasengan tersebut.

"Api itu lagi kah?"

White dengan cepat mengeluarkan pedang dari lengannya, Sringg! Sringg! Bunshin itu berhasil ia lumpuhkan, bunshin itu lenyap dalam hitungan detik, dan kemudian Naruto asli datang dari atas. Perpaduan antara rasengan shuriken dan elemen api amaterasu ia jadikan satu, dan sebuah rasengan super besar telah terbentuk dalam waktu yang singkat. "Tidak akan kubiarkan kau melepas segel itu!"

Rasengan Amaterasu!

White mendangak ke atas, di mana sebuah serangan telah membahayakan dirinya, dan mata Rinnengan itu telah mengawasi serangan itu sebelum dibentuk, jutsu berdaya besar itu berhasil dihentikan hanya dengan tangan kosong, White menyerap rasengan amaterasu dengan lamban namun pasti.

"Jutsu ini, menyerap segala jutsu?"

"Asal kau tau saja, aku bisa melakukan apapun yang kumau…. Naruto," Naruto yang masih mengudara pun, di belakangnya telah muncul White, Dashh! White menendang Naruto dengan kerasnya sampai ia terpontang-panting di perairan yang tenang tersebut, 100 meter lebih Naruto terlempar dan ia sanggup berhenti meskipun sebagian tulangnya retak-retak akibat tendangan kuat itu.

"Apa kau sudah menantikan ini, Kyubi?"

"Tentu saja, ini adalah saat-saat yang sudah kutunggu-tunggu…" White terbang dengan sebuah bola-bola hitam di tubuhnya, ia pun melepas segel tersebut, dan gerbang berwarna merah itu akhirnya terbuka, dan itu adalah awal dari segala kehancuran yang ada.

White langsung berdiri di atas kepala Kyubi, seakan-akan dirinya adalah majikan dari Kyubi sendiri. seketika itu Kyubi mengeluarkan bijuu dama di mulutnya, sebuah bulatan raksasa telah terbentuk dengan sangat cepatnya, sampai Naruto sudah tidak bisa berpikir lagi untuk menghentikan jutsu itu.. "Sekarang aku sudah kehabisan akal."

Jiraiya hanya tersenyum, karena semua ini telah direncanakan sebelumnya. Bulatan besar itu telah terbentuk dengan sendirinya, dan Kyubi akhirnya melepaskan serangan dahsyat tersebut ke arah Naruto dan Jiraiya. Dengan ini, tamatlah sudah…

"Kalian berdua….." ucap White dengan tatapan mengerikannya, Rinnengan yang selalu mengawasi segalanya dari jarak jauh maupun dekat, Bulatan besar itu meluncur dengan kencang ke arah mereka berdua, dan Naruto akhirnya pasrah dengan kejadian itu.

"Aku tidak bisa menghentikan serangan itu…."

…..

…..

…..

Bijuu dama tersebut telah mencapai target dan bersiap meledak akan tetapi…

Slingg!

Tiba-tiba saja, Bulatan raksasa itu lenyap tak bersisa, menghilang tanpa jejak, dan Naruto yang menyadari itu telah melihat seseorang yang tidak ia kenali,

"Yondaime Hokage?"

"Maaf aku terlambat, Naruto, Sensei."

"Akhirnya kau datang juga, Minato…"

Dan seseorang wanita berambut merah mendatangi Naruto, memeluk Naruto dengan eratnya… "Akhirnya, ibu bisa bertemu denganmu lagi, anakku, Uzumaki Naruto…"

"?"

Pertemuan itu akhirnya terjadi!

To be continue!

Chapter 26 END

Chapter 26 selesai sudah! lumayan menguras tenanga, saya pengen cepat tamat jadi kalau review diatas 50 maka chapter 27 akan saya buat lebih cepat mungkin hari selasa, itu kalau review diatas 50 kalau tidak, tidak bisa /dia mah pengen mencapai 1000 review xD

Terima kasih telah membaca chapter 26! see you next week!

Yoshino Tada