[Extra]
Title : He is Uchiha
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Sepertinya hurt
BGM : Da Ice - Hush Hush


Chapter ini biarlah Itachi yang menjelaskan semua ketidak puasan readers. Wkwkwk... Sebenarnya aku lagi kangen Itachi.

Warning : Memang sedikit banyak moment ItaSasu, tapi semuanya menjurus ke NaruSasu.


- Itachi PoV -

Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri di ranjangku. Perjalanan 6 jam dari Suna ke Konoha dengan mobil, membuat pinggangku sakit.

GReeeeP
Sesuatu yang dingin dan basah mencengram kakiku, spontan aku berteriak horror dan langsung menarik kakiku ke atas ranjang.

"Ahahaha...", tawa seseorang dari kolong ranjang. Aku mengenali suara tawa itu.

"Aniki, teriakanmu seperti peremuan saja.. Ahahaha...", sosok itu keluar dari kolong ranjang.

Sosok itu adalah Sasuke, adikku satu-satunya.

Aku menarik yukatanya hingga tubuhnya ikut terangkat, membantingnya ke ranjang.

"Puas?",
"Hn!", angguknya menahan tawa.

Aku hanya bisa mencibir dan menekuk masam wajahku saat melihatnya terus menertawakanku. Kalau saja wajahnya jelek saat tertawa, mungkin aku sudah menjitaknya.

"Ayo senyum, aniki!", tangan dingin Sasuke menarik kuat pipiku, "Nanti keriputmu bertambah kalau tidak banyak senyum",

Kugenggam kedua tangannya yang dingin dan basah.

"Mengapa tanganmu sedingin ini?", aku menggosok-gosokkan tangannya agar hangat.
"Aku terlalu lama merendam tanganku di air es", jawabnya dengan santai, dia tidak tahu bahwa aku mencemaskannya.
"Mengapa kau melakukan itu?",
"Agar kau terkejut dan aku berhasil mengejutkanmu!",
"Untuk apa kau mengejutkanku? Seperti tidak ada kerjaan saja!",
"Agar kau tidak terkejut lagi saat aku memberimu kabar gembira",
"Kabar gembira? Kulit manggis ada ekstraknya?", candaku.
"Ha! Tidak lucu!", Sasuke memasang wajah garing.

Garing ya?

"Ne, mengapa aku harus terkejut? Seharusnya aku ikut gembira juga kan?",
"Kabar gembira bagiku, belum tentu kabar gembira bagimu juga",

Benar. Aku dan dia jarang berpendapat sama. Perbedaan pendapat sering membuat kami bertengkar.

"Kabar apa itu?",
"Aku punya seme!",
"Seme?",

Aku mulai membayangkan hal aneh ketika mendengar kata itu. Aku tahu apa itu 'seme'?

"Hn. Dobe telah mengakui bahwa aku ukenya. Sekarang, kami resmi berpacaran! Iyeey!",

Bagai tersayat katana, aku mendengar kabar 'gembira' itu. Adikku gay? Dan yang terparah, dia uke?

"Apa maksudmu?",
"Sudah kuduga kau akan terkejut, aniki",
"Ya, aku terkejut untuk yang kedua kalinya",

Sasuke menarik tangannya dari genggamanku.
"Singkatnya, aku berpacaran dengan laki-laki. Aku uke lho", dia tersenyum.
"Jangan bercanda!",

Senyum di wajahnya luntur seketika.
"Apa aku terlihat seperti bercanda?", dia menatapku tajam.
"Apa yang kau rencanakan?",
"Aku serius!", tegasnya.
"Apa ini rencanamu untuk menolak perjodohanmu dengan Sakura-chan?",

Sasuke menjambak rambutnya dengan kesal. Jika dia marah atau kesal, dia selalu menjambak rambutnya atau memukul kepalanya. Aku tidak suka dengan perangainya ini.

"Orang yang kucintai bukan Sakura-chan! Tolong, jangan terus-terusan mengatur hidupku!",
"Kau melangkah di jalan yang salah",
"Kalian tidak tahu perasaanku!",

Sasuke melompat turun dari ranjang, dan berlari meninggalkan kamar sambil membanting pintu kamar dengan kuat.

Dia marah lagi, padahal sudah lama kami tidak berbicara seakrab ini. Kesibukanku di Suna, menyita waktuku untuk dekat dengan Sasuke.

Sejak orang tua kami meninggal, Sasuke yang masih berumur 7 tahun, dididik keras oleh kakek. Sasuke merasa terkekang dan mencoba memberontak, tetapi kakek malah memarahi dan menghukumnya. Sasuke terpaksa mengikuti semua aturan dan perintah kakek. Lama kelamaan, Sasuke mulai terbiasa hidup keras.

Sedangkan aku, yang saat itu telah berumur 12 tahun, bisa mengurus diriku sendiri. Kakek yakin bahwa aku adalah anak yang mandiri. Kakek telah mempercayakan perusahaan keluarga yang ada di Suna padaku.

Kakek memang memperlakukan kami berbeda, kakek lebih menyayangi Sasuke ketimbang aku. Aku tidak iri, karena aku dan kakek sependapat. Bagi kami dan semua pengikut klan Uchiha, Sasuke adalah pusaka berharga keluarga Uchiha.

Tidak ada yang boleh menyakitinya.


Sasuke tidak pulang ke rumah lagi. Dari informasi yang kudapat, dia menginap di rumah pacarnya. Aku tidak menyangka orang yang dipacari Sasuke adalah Uzumaki Naruto, ketua Namikaze yang pernah kukalahkan dulu.

Ck! Kuharap mereka tidak memanfaatkan adikku lagi!


Sasuke pulang ke rumah hanya untuk mengambil pakaiannya. Dia berniat untuk menetap di rumah Naruto.

"Sebutkan 2 yang terpenting dalam hidupmu", tanyaku pada Sasuke yang sibuk berkemas.

Sasuke menghentikan gerakan, dia mengernyit mendengar pertanyaanku.
"Jawab saja, Sasuke",
"Hanya 1, yaitu Dobe", jawabnya.
"Harus 2",
"Kau dan Dobe", jawabnya malas, kembali membereskan pakaiannya.

Aku senang bahwa aku termasuk 2 yang terpenting baginya.

"Jika aku tomat, dan Dobe natto, mana yang akan kau pilih?",
"Natto",
"Natto? Bukankah kau tidak suka natto?",
"Hn. Karena natto itu Dobe",
"Kau tidak suka tomat?",
"Suka",
"Mengapa tidak memilih tomat?",
"Natto lebih penting dari apapun",
"O, begitu", aku sengaja memasang wajah sedih di hadapannya.

Sasuke menepuk punggungku dengan kuat.
"Tapi aku tahu, tomat selalu ada untukku",

Aku memang selalu ada untuknya, tetapi dia jarang menganggapku ada. Dia selalu mengatasi masalahnya sendiri. Padahal aku ingin membantunya. Apa aku tidak bisa diandalkan?


Gank Namikaze sedang nongkrong di teras cafe. Melihat aku berjalan menghampiri, mereka dengan sigap berdiri menyambutku. Meskipun sudah lama tidak bertemu, aku masih bisa mengenali mereka. Ada Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba dan... Akimichi Chouji? Bukan, si gendut itu tidak mungkin sekurus dan setinggi ini. Dia pasti anggota baru.

"Ada udang di balik bakwan. Sedang mencari apa kawan?", tanya Inuzuka.

Mereka belum berubah, tetap konyol seperti biasa.

"Daripada hanya nongkrong, kutraktir kalian",
"Heh?!", mereka malah terkejut dengan kebaikanku.


Di Cafe.

"Mana yang lebih penting, sahabat atau pacar?", tanyaku.
"Tentu saja sahabat!", jawab Nara dan Inuzuka kompak, sedangkan pemuda gondrong berambut coklat itu belum menjawab.
"Kalau begitu, jangan biarkan sahabatmu membelok terlalu jauh",
"Ini ada hubungannya dengan Naruto?", tanya Nara yang mengerti dengan orang yang kumaksud.
"Hn", anggukku.
"Kau tidak berpikir bahwa Naruto berpacaran dengan adikmu hanya untuk balas dendam kan?", tebak Inuzuka.
"Itu yang ada di pikiranku saat ini",
"Asal kau tahu, Naruto tulus mencintai Sasu-chan. Meskipun cintanya tidak sebesar cintaku pada Sasu-chan", jelas pemuda gondrong itu.

Ow! Si gondrong ini menyukai Sasuke? Ternyata, adikku benar-benar mempesona di mata siapapun, termasuk laki-laki. Apa aku harus bangga?

"Sebaiknya kau restui saja hubungan mereka", saran Inuzuka.
"Tidak semudah itu", tolakku.

"Apa kalian tahu? Naruto adalah anak tunggal di keluarganya. Keluarganya pasti mengharapkan keturunan. Jika bersama Sasuke, bagaimana bisa menghasilkan keturunan?",
"Bayi tabung", jawab Nara cepat, disertai dengan anggukan dari kedua temannya.

Ck! Mereka benar-benar kompak dan bodoh.

"Sasuke adalah adik kesayanganku satu-satunya. Aku ingin dia mendapatkan pendamping terbaik yang tidak akan mengkhianati ataupun menyakitinya. Jika pilihannya hanya ada Uzumaki Naruto, maka aku masih belum merestuinya",
"Rela tidak rela, kau harus merestuinya. Demi kebahagiaan adikmu", saran Nara.
"Aku masih belum yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk adikku. Untuk itu, kalian HARUS membantuku. Buktikan bahwa Naruto pantas untuk adikku",
"Caranya?", tanya Inuzuka.
"Hasut dia untuk memutuskan adikku",
"Tidak mau!", tegas mereka.
"Aku hanya ingin tahu, apa pilihannya? Sahabat atau Sasuke? Dari pilihan inilah, aku bisa tahu apakah dia pantas untuk adikku?",

Mereka bertiga terdiam.

"Jika dia mencintai adikku, dia pasti akan memilih untuk tetap bersama adikku dan mengabaikan hasutan kalian. Tapi, jika dia mengikuti hasutan kalian dan melepaskan adikku, maka dia sama sekali tidak pantas untuk adikku",

BRaaaaK
Inuzuka baru saja menggebrak meja, membuat semua mata tertuju padanya.

"Asal kau tahu, adikmu itu telah membuatnya membelok!", tegas Inuzuka.
"Aku tidak peduli", ucapku cuek.

Ya, itu bukan urusanku.

"Jika kalian mendukung mereka, maka bantu aku, agar aku bisa merestui mereka. Sederhana, bukan?", jelasku sambil tersenyum ramah pada mereka.
"Intinya. Apapun yang terjadi pada kami, Naruto harus tetap memilih Sasuke dari pada kami, begitu?", tanya Nara.
"Hn. Aku tidak suka adikku dinomor-duakan olehnya",

Inuzuka dan Nara mulai berdiskusi.

"Ah! Satu hal lagi. Adikku belum genap berusia 15 tahun. Dia masih labil. Apa kalian yakin, adikku benar-benar mencintainya?",

"Aku akan membantumu!", tegas si gondrong tanpa berdiskusi dengan mereka. Kedua temannya meliriknya dengan tatapan 'sumpe lu?'

"Aku tahu, Naruto pasti akan memilih sahabatnya daripada Sasuke", jelas si gondrong.

Sudah kuduga.

"Aku membantumu bukan untuk merusak hubungan mereka. Aku ingin tahu, apa yang akan dilakukan Sasu-chan jika Naruto mencampakkannya?",

Mencampakkan adikku? Ck! Kalimatnya sangat tidak enak didengar.

"Dari situ, kita bisa mengukur seberapa besar cinta Sasu-chan pada Naruto",

Apa yang dikatakan si gondrong ini ada benarnya juga. Aku yakin, Sasuke tidak serius dengan si kuning itu. Sasuke berpacaran dengan dia hanya untuk membuat kakek marah dan malu saja.

"Hn. Neji benar. Rasanya tidak adil kan jika hanya mengetes Naruto saja? Bisa saja adikmu yang tidak serius mencintai Naruto", sambung Inuzuka menyetujui pendapat dari si gondrong yang bernama Neji.

Akhirnya kesepakatan terjadi. Mereka mau bekerja sama denganku.


Beberapa hari kemudian.

Secara kebetulan, aku bertemu dengan Neji di jalan. Dia sedang bersama seorang anak perempuan, kira-kira berumur 6 tahun.

"Adikmu?", tanyaku.
"Hn. Hinata-chan, ayo beri salam pada paman Itachi", perintah Neji.
"Hai, paman Itachi!", sapa anak yang bernama Hinata-chan. Anak itu sangat manis, mengingatkanku pada Sasuke kecil.

Ngomong-ngomong, aku masih terlalu muda untuk dipanggil paman.

Kami berbincang-bincang sebentar, sambil menunggu adiknya selesai les piano.

Neji bilang, bahwa mereka sudah merancang sebuah rencana, dan mereka butuh bantuanku. Dalam rencana, aku disuruh untuk mengancam Naruto yang melibatkan keselamatan mereka. Lalu mereka sengaja mengacak-acak markas mereka ataupun berpura-pura terluka, seolah-olah Uchihalah pelakunya.

Aku kurang suka dengan rencana ini, mereka mengkambing-hitamkan Uchiha. Tapi mau bagaimana lagi, cara ini lumayan cepat untuk memutuskan hubungan Naruto dan Sasuke.

"Mana yang akan kau pilih, antara sahabat atau pacar?", tanyaku mengingat saat itu Neji belum menjawabnya.
"Pacar. Apa lagi kalau pacarku itu Sasuke", ucap Neji.
"Alasannya?",
"Jika Sasuke adalah pacarku, aku tidak perlu siapa-siapa lagi. Lagi pula, sahabat tidak akan meninggalkanku meskipun aku mengkhianati mereka",

Jawaban yang sama dengan Sasuke. Jika adikku benar-benar gay, aku rasa Neji lebih pantas untuk adikku ketimbang si kuning itu.

"Siapa namamu?", aku berpura-pura lupa. Aku ingin memastikan nama keluarganya.
"Hyuuga Neji. Kau boleh memanggilku Neji",

Hyuuga? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.


2 minggu kemudian.

Sasuke pulang sambil menyeret kopernya. Aura di sekitarnya tampak suram. Apa hubungannya dengan Naruto telah berakhir?

"Okaeri, adikku tersayang~", aku berniat memeluknya, tetapi dia malah melempariku dengan koper. Beruntung aku berhasil mengelak sebelum koper itu mengenaiku.

Tap Tap Tap...
Sasuke langsung berlari dan mengurung diri di kamar.

Tak lama kemudian terdengar suara kegaduhan dan teriakan dari kamar Sasuke.

Sasuke kalau sedang marah selalu membanting barang-barang di kamarnya dan berteriak seperti orang kesetanan.

"Apa sebaiknya anda berbicara dengan Sasuke-sama?", saran Kakashi-san.
"Biarkan saja. Nanti juga tenang sendiri",

Aku tidak ingin mengambil resiko sebagai pelampiasan Sasuke.

Dulu aku pernah ikut campur, alhasil Sasuke malah menggigitku. Dia galak, kalau sedang marah.


Malam haripun telah tiba.

Aku memberanikan diri untuk masuk ke kamar Sasuke. Dengan kunci duplikat, aku berhasil masuk ke sana.

Kamar yang gelap dan berantakan, barang-barang rusak dan pecah belah berserakan di lantai. Aku menekan saklar lampu sehingga ruangan menjadi terang.

Aku bisa melihat Sasuke tergeletak di lantai. Sepasang matanya yang tajam dan sinis menatapku. Seolah-olah aku mengganggu kesenangannya.

"Bereskan secepatnya. Jika kakek ada, kau pasti dimarahi lagi", aku meminggirkan bangku rusak yang menghalangi jalanku.

Sasuke enggan mengubrisku, tatapannya masih terfokus padaku.

"Mengapa kau menatapku seperti itu?", kucolek pipinya yang dingin.

Tapi dia malah menyambar dan menggigit lengan kiriku.

"Argh! Lepas!", teriakku.

Bukannya melepas, tapi Sasuke semakin menggigitku kuat. Melihat lenganku berdarah, tanpa berpikir lagi, aku langsung melayangkan tinjuku ke wajah Sasuke hingga gigitannya terlepas.

Sasuke tersungkur ke lantai, darah segar mengalir dari hidungnya. Aku memukulnya terlalu kuat.

"Mengapa kalian menyakitiku?", air mata mulai turun membanjiri pipinya.
"Kau menggigitku",
"Jangan menyakitiku lagi! Ini sakit! Sakit tahu!", Sasuke memukul-mukul dadanya, "Sakit!",

Aku memeluknya, mencegahnya untuk memukul dirinya.

"Maaf, Aku tidak sengaja. Maafkan aku, Sasuke",
"Sakit... Ini terlalu sakit...hiks..hiks...",
"Pukul aku saja! Jangan pukul dirimu lagi!",

Sasuke memelukku dengan erat, dia menangis dan berteriak sekuat mungkin, melampiaskan emosinya.

Apa yang sudah aku lakukan? Ini pertama kalinya, aku membuatnya menangis hingga sesakit ini.


Aku menyuntikkan obat penenang ke tubuh Sasuke. Terpaksa kulakukan karena Sasuke terus mengigau sambil menangis dan berteriak, tidurnya benar-benar tidak nyenyak. Dulu, saat orang tua kami meninggal karena kecelakaan, Sasuke juga tidak bisa tidur nyenyak, tidak mau makan, hanya menangis dan berteriak. Dokter akhirnya menyuntikkan obat penenang, sehingga Sasuke bisa tidur tenang tanpa rasa sedih. Perlahan, Sasuke mulai bisa menerima kepergian orang tua kami.

"Aku sangat menyayangimu, adikku", kukecup keningnya.

Aku miris melihat dadanya yang memar dan punggung tangan yang luka-luka. Hanya karena diputuskan oleh si kuning itu, dia sampai mengamuk dan melukai dirinya sendiri.

"Apa cintamu padanya sangat besar, Sasuke?",


Keesokan harinya.

Ini sudah tengah hari, Sasuke masih belum juga bangun. Biarlah dia tidur lebih lama lagi.

Aku mendatangi markas Namikaze, tapi aku tidak menemukan seorangpun di sana. Padahal aku bermaksud menanyakan banyak hal pada mereka. Aku ingin tahu, apa yang terjadi pada Naruto? Apa dia sama frustasinya seperti Sasuke?


Keesokan pagi harinya.

Aku melihat Sasuke sedang memasak di dapur. Kakashi-san bilang, Sasuke sudah bangun dari jam 4 dini hari, dia hanya duduk termenung di dapur, tidak melakukan apa-apa.

"Laki-laki tidak seharusnya di dapur", tegurku.

Jika kakek melihat ini, Sasuke pasti akan dimarahi.

Sasuke menghiraukanku, dengan cueknya dia mencincang daging.

"Tinggalkan itu, biar Shizune-san yang memasak!", perintahku.

TRaaaaNG
Sasuke membating golok dengan kuat sehingga talenan terbelah dua. Dia menatapku dengan pandangan tidak suka.

"Mengapa kau menatapku seperti itu?", aku kurang suka dengan tatapan sinis itu, terkesan tidak sopan.

Sasuke menghiraukanku lagi, dia kembali mencincang daging.

"Uchi...",
"Itachi-sama", sela Kakashi-san mengisyaratkanku untuk tidak mengganggu Sasuke.

Kakashi-san bilang, Sasuke dalam mood yang buruk. Lebih baik tidak usah mengganggu kegiatannya dulu. Lagi pula, kakek juga tidak ada di rumah. Biarkan kali ini, dia melakukan sesuka hatinya.

Kakashi-san memberitahukan sebuah rahasia padaku. Selama kakek dan aku tidak ada, Sasuke selalu membantu para koki memasak. Meskipun sudah dilarang, Sasuke tetap ngotot. Semua penghuni rumah terpaksa merahasiakan ini dari kakek dan juga aku, karena melihat Sasuke begitu bahagia bisa memasakkan makanan untuk mereka.

Mereka bilang, masakan Sasuke sangat enak.

Aku tidak menyangka, mereka bisa kompak menyembunyikan rahasia sebesar ini.


Setelah memasak, Sasuke memasukkan masakannya ke dalam kotak bento 3 susun. Lalu dia pergi sambil membawa kotak bento itu.

Wajahnya tampak berseri-seri. Aku penasaran dengan apa yang dilakukannya? Aku mengekorinya dari belakang.


Langkahnya terhenti di depan rumah keluarga Uzumaki. Dia tidak berani menekan bell. Akhirnya dia mengambil langkah menjauhi rumah itu.

Kurasa bento itu untuk Naruto, tetapi tidak jadi diserahkan, mengingat hubungan mereka telah berakhir.


Terlalu lelah berjalan, Sasuke mengistirahatkan kakinya dengan duduk di bangku taman. Tangannya mulai membuka kotak bento itu.

"Itadakimasu", ucapnya, lalu menyantap onigiri yang dibuatnya. Dia menyantapnya dalam hening.

Aku langsung keluar dari balik pohon dan menghampirinya. Aku tidak tega melihatnya makan sendirian. Kuambil onigiri dari kotak bento.

"Itadakimasu!", kulahap langsung onigiri itu. Rasanya enak, Sasuke memang pintar memasak.
"Makanan seenak ini, mau kau makan sendirian?",
"Kau mengikutiku, aniki?", tanyanya dengan pandangan tidak suka.
"Tomat selalu ada untukmu", tanpa izinnya, aku langsung duduk di sampingnya.
"Ck!", decaknya.

Sasuke memberikan semua kotak bento padaku.
"Habiskan jika enak!",
"Dengan senang hati!",

Sasuke melirikku.
"Ada apa?",
"Jangan beri tahu kakek, bahwa aku bermain di dapur",
"Buatkan dango yang enak untukku",
"Itu sogokan?",
"Hn",
"Jadi, kau mau membantuku merahasiakan ini dari kakek?", dia menatapku berbinar-binar seolah-olah aku adalah superhero yang telah menyelamatkannya.
"Tidak", tolakku, sebenarnya aku hanya bercanda.

Sasuke menggigit bibirnya, dia tampak cemas.
"Tamat sudah, riwayat koki Sasuke",

Aku tersenyum geli mendengar ucapannya yang terlalu lebay.

"Aku tidak tahu bahwa kau bisa memasak", kuacak-acak rambutnya dengan gemas.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui dariku",
"Hn. Apa saja itu?",

Sasuke menghela nafas.
"Jika aku benar-benar adikmu, kau pasti bisa memahamiku",
"Kau berkata seperti itu, seolah-olah kau bukan adikku",
"Hn",
"Apa maksud 'hn'-mu itu?",

Sasuke menghela nafas lagi.
"Jika aku bukan Uchiha, mungkin aku bisa terus bersamanya. Bebas dari kakek",

Dia berkata seperti itu, seolah-olah dia tidak betah tinggal di keluarga Uchiha. Padahal kami semua begitu menyayanginya.

"Jika kakek mendengarkan ini, kau pasti akan dihajarnya",
"Jika aku benar-benar adikmu, kau pasti akan membelaku",
"Aku tidak mungkin membelamu, karena kau memang salah!", sepertinya aku mulai terpancing dengan ucapannya.

"Gah!", dia memukul kepalanya, "Aku salah lagi!",

"Jangan memukul kepalamu terus! Aku tidak suka!",

Sasuke berdiri dari bangku, dia ingin melarikan diri lagi.
"Kau mau kemana?",

Sasuke tidak mengubrisku, dia berlari meninggalkanku yang sedang mengemas kotak bento.

"Uchiha Sasuke!", panggilku agar dia menghentikan langkahnya.

Sekali lagi, dia tidak mengubrisku.

Aku hanya bisa mengepalkan tinjuku, menahan diri dari amarah.

Apa yang kau inginkan, Sasuke?


Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Naruto di rumahnya. Bagaimanapun juga, dia harus bertanggung jawab dengan sikap Sasuke yang pemberontak.

Kedatanganku disambut baik oleh seorang wanita berambut merah panjang sepinggang. Wanita cantik itu adalah Uzumaki Kushina, mama Naruto.

Sambil menunggu Naruto pulang entah dariman, kami berbincang-bincang banyak hal. Kushina-san adalah tipe ibu yang gemar berbicara panjang lebar.

"Aku tidak menyangka bahwa Sasu-chan punya kakak setampan ini. Kupikir Sasu-chan anak tunggal..hehehee..",
"Sasuke tidak pernah cerita?",
"Tidak. Sasu-chan enggan bercerita tentang keluarganya. Kami juga tidak berani menyinggung hal itu, karena akan membuat Sasu-chan sedih",
"Hn. Sasuke masih sedih dengan kepergian orang tua kami",

Kushina-san memakluminya.

"Sasu-chan suka menginap di sini. Sasu-chan bilang dia kesepian sendirian di rumah. Kami sudah menanggap Sasu-chan seperti anak kandung sendiri. Sasu-chan adalah anak yang baik, rajin dan pintar memasak. Dia suka melakukan pekerjaan rumah dan bersih-bersih. Dia mau mengajariku memasak dan membuat kue. Sasu-chan memang multi talent. Ah~ sangat beruntung memiliki anak seperti Sasu-chan",

Aku bahkan tidak tahu bahwa Sasuke gemar bersih-bersih. Dia adikku, tapi aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

"Jika aku benar-benar adikmu, kau pasti bisa memahamiku",

Aku... seperti bukan kakaknya saja.

"Ah! Bagaimana kabar Sasu-chan? Apa dia baik-baik saja? Sudah lama dia tidak ke sini. Kami rindu padanya...ahahaha..",
"Hn. Dia baik-baik saja", bohongku.

Kushina-san sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi segan.
"Ada apa, Kushina-san?",
"Itu... Apa Itachi-kun tahu bahwa Sasu-chan dan Naruto berpacaran?",
"Hn", anggukku.

Ternyata keluarga Naruto sudah tahu hubungan mereka.

"Ini memang terdengar tabu, tapi percayalah...",
"Sebagai orang tua, anda seharusnya tidak mendukung hubungan mereka", selaku.
"Aku tahu. Ini memang salah, tapi aku tidak bisa menolak Sasu-chan. Aku bisa melihat kejujuran dan tanggung jawab yang besar, saat Sasu-chan mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan Naruto",
"Menikah?!",

Adikku memang benar-benar gila!

"Saat itu juga, aku dan suamiku bertekad akan membantu mewujudkan keinginan Sasu-chan", ucap Kushina-san dengan semangat kemerdekaan.

Kushina-san dan suaminya juga sudah gila.

"Sebagai seorang kakak, Itachi-kun pasti tahu apa yang inginkan Sasu-chan",

"Orang yang kucintai bukan Sakura-chan! Tolong, jangan terus-terusan mengatur hidupku!",

"Kalian tidak tahu perasaanku!",

"Jika aku benar-benar adikmu, kau pasti akan membelaku",

"Sasuke memang mencintai anak anda. Tapi, apakah anak anda juga begitu?",
"Tentu! Naruto mencintai Sasu-chan juga. Walaupun Naruto malu untuk menunjukkannya pada kami", ucap Kushina-san dengan yakin.
"Kalau dia mencintai Sasuke, lalu mengapa dia mencampakkan Sasuke?",
"Heh!? Mencampakkan Sasu-chan?",
"Rasa cintanya pada Sasuke tidak sebesar rasa cinta Sasuke untuknya. Makanya dia tega mencampakkan Sasuke seenaknya",

Kushina-san terdiam menunduk, tangannya terkepal erat di pangkuannya.

"Ya, Itachi benar. Rasa cintaku tidak sebesar yang Sasuke berikan untukku", sambung Naruto yang sudah berdiri di belakang kami. Kami tidak menyadari kedatangannya.

Seragam yang kotor, bibir pecah, penampilannya sangat berantakan. Terlihat lemah.

Kushina-san menghampirinya. Aku bisa merasakan hawa pembunuh mengitari Kushina-san.

BuuuuG
Kushina-san meninju wajah Naruto hingga terpental menghantam pintu masuk.

"Tega sekali kau menyakiti Sasu-chan!",

Wow! Owesome mom!


Kushina-san mengusir Naruto dari rumah. Tidak mengizinkan Naruto pulang sebelum berbaikan dengan Sasuke.

Naruto enggan melakukannya, lebih memilih duduk termenung di taman sekitar.

Teman-temannya sudah memberi tahu Naruto bahwa akulah yang menyuruh mereka untuk menghancurkan hubungannya dengan Sasuke. Dia tidak marah padaku, dia malah berterima kasih padaku karena telah memberi pelajaran berharga padanya. Setelah merasakan hari-harinya tanpa Sasuke, barulah dia sadar bahwa Sasuke lebih penting dari apapun.

"Seharusnya kau memilih Sasuke daripada sahabatmu",
"Aku melepaskannya, karena cintaku padanya tidak begitu kuat. Seharusnya aku tahu, bahwa Namikaze tidak akan meninggalkanku meskipun aku menghiraukan mereka. Mungkin karena aku takut kesepian, sehingga aku lebih memilih mereka. Aku telah menyakiti Sasuke, aku memang tidak pantas untuknya", lirih Naruto.
"Hn", anggukku.
"Bagaimana keadaan Sasuke?",
"Dia baik-baik saja",

Naruto tersenyum lega.

"Dia sedang di Suna. Sibuk menyiapkan pesta pertunangannya", bohongku.
"Pesta pertunangan?", wajahnya tampak terkejut.

Rasakan ini! HYaaaa!

"Hn. Dia sudah dijodohkan dengan gadis lain, mereka akan menikah setelah lulus sekolah nanti",

Kalau yang ini, aku tidak berbohong lho! Sasuke dan Sakura-chan memang akan menikah setelah lulus sekolah nanti.

"O, begitu. Aku senang dia bisa hidup normal", dia memaksakan diri untuk tersenyum, padahal aku bisa melihat matanya memerah.
"Kau sakit hati?",
"Hn", Naruto mencengkram dadanya, "Padahal akulah yang mencampakkannya, tapi rasanya seperti dialah yang mencampakkanku. Miris...",

Sebenarnya yang lebih miris itu aku. Aku sudah tahu bahwa mereka saling mencintai, tapi aku malah memisahkan mereka semakin jauh. Tapi, ini untuk masa depan Sasuke.

"Sasuke akan melupakanmu dan hidup bahagia. Kuharap kau juga bisa move on", saranku.
"Kau pikir, bisa semudah itu move on?",
"Sasuke bisa melakukan",
"Ck!", decaknya.

DRttt DRtttt
Ponselku bergetar di dalam saku celanaku.

"Ah! Dari Sasuke. Dia pasti ingin bercerita banyak tentang tunangannya yang cantik itu", bohongku lagi.

Naruto segera berpamitan padaku, tapi tidak kuhiraukan.

"Ya? Ada apa, Sasu-chan?",
"Aniki...bagaimana ini?...Aku memotongnya terlalu dalam...", suara Sasuke sangat pelan.
"Apa yang sedang kau potong?",

Mendengar nada suaraku yang cemas, Naruto tidak jadi pergi.

"Terlalu dalam...darahnya banyak... Aku... pusing...",

Dalam pikiranku langsung terbayang, Sasuke sedang melukai dirinya.

"Kau dimana, Sasuke!", teriakku.
"Aku...melihat okaasan...",
"Ini tidak lucu! Katakan kau dimana!",

Naruto langsung menyambar ponselku.
"Kusogaki! Kau dimana sekarang!", bentak Naruto, wajahnya tak kalah cemas dariku.
". . . . .",
"Aku tidak akan meninggalkanmu! Katakan, dimana kau sekarang!",
". . . . .",
"Markas?",

Naruto mulai berlari, sambil terus terhubung dengan Sasuke. Dengan tangan yang lain, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Memberikan ponselnya padaku, menyuruhku untuk memanggil ambulance.


Di markas, kami tidak menemukan Sasuke. Dia tidak ada di sana.

"Kusogaki! Kau membohongiku?", marah Naruto yang masih terhubung dengan Sasuke.
". . . . ."
"Kusogaki! Jawab aku!",

Naruto mematikan panggilan dan mencoba menghubungi Sasuke kembali. Panggilan tersambung, tetapi tidak diangkat. Kami berkeliling di sekitar markas untuk mencari Sasuke.

Tullallit Tullallit
Terdengar bunyi ponsel yang berasal dari belakang markas. Segera kami berlari menuju ke sana.

Tullallit Tullallit
Tampak Sasuke tergeletak tidak bergerak, darah segar mengalir dari pergelangan tangan kirinya yang teriris, wajah pucatnya terciprat darahnya sendiri.

"Kusogaki!", Naruto memeluk tubuh Sasuke.

Samar-samar bibir pucat Sasuke bergerak, ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak keluar.

Naruto membisikkan sesuatu ke telinga Sasuke. Sasuke membalasnya dengan tersenyum kecil.


Di rumah sakit.

Naruto masih terus berjaga di sisi Sasuke yang masih belum sadar dari tidur panjangnya.

"Pulanglah, biar aku yang menjaganya",
"Aku ingin dia melihatku saat bangun nanti", tolaknya, pandangan menatap sendu ke wajah pucat Sasuke.
"Hubungan kalian sudah berakhir",
"Sasuke seperti ini karena aku",
"Maka dari itu, kau tidak seharusnya menampakkan diri di hadapannya",
"Aku berjanji tidak akan meninggalkannya",
"Dia tidak butuh janjimu",
"Jangan mengusik hubungan kami, Itachi-san", pintanya, "Kumohon~",

Karena tatapannya begitu mengiba, akhirnya aku terpaksa mengalah. Kutitipkan Sasuke padanya.


2 hari kemudian.

Keadaan Sasuke sudah agak membaik, meskipun kadang dia mengeluh kepalanya masih pusing karena bau obat-obatan. Besok dia sudah diizinkan pulang. Akibat dari usaha bunuh dirinya itu, tangan kirinya tidak dapat berfungsi dengan baik.

"Seperti bukan tanganku saja", Sasuke menatap tangan kirinya yang kaku dan sulit digerakkan.
"Salahmu sendiri",
"Hn. Aku selalu salah", angguknya.
"Mengapa kau ingin bunuh diri?",
"Aku tidak ingin mati sebelum keinginanku tercapai!",
"Lalu ini apa?", aku menunjuk pergelangan tangannya yang diperban.
"Iseng",

Aku menarik piyamanya, menatapnya penuh amarah.
"Iseng, kau bilang? Apa kau tahu bahwa nyawamu hampir melayang?",
"Aku tidak tahu!",
"Kau benar-benar bodoh!", aku menggigit bibirku, menahan diri untuk tidak menghajarnya.
"Jangan terus menyalahkanku!", Sasuke menghentakkan kepalanya dengan kuat, untung di belakangnya ada bantal. Kalau dinding? Dia mungkin sudah gegar otak.

"Mengapa kalian terus menyalahkanku? Tolong, bela aku. Sekali saja, aniki. Bisa kan?", matanya mulai berkaca-kaca.

Aku melepaskan cengkramanku, dan beralih memeluknya. Mengusap-usap punggungnya.

"Jika ada masalah, kau bisa cerita padaku. Jangan memendamnya sendiri. Bukankah aku adalah kakakmu?",
"Hn. Aku nyaris melupakan itu",

Dasar, adikku yang bodoh!


Di taman, masih di sekitar rumah sakit.

Aku sedang mengintip Naruto dan Sasuke. Aku penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Naruto? Aku takut, Naruto berbuat macam-macam pada Sasuke.

"Kau tidak marah padaku?", tanya Sasuke ragu.
"Untuk apa?",
"Karena aku menampakkan diri di hadapanmu. Bukankah kau bilang, tidak ingin melihatku lagi?",
"Hn", angguknya, "Awalnya aku memang tidak ingin melihatmu lagi. Tapi, jika ada kau di sisiku, rasanya jauh lebih hidup dan berwarna",

Sasuke mencubit pipinya dengan gemas. Memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.

"Lalu, akhirnya?", tanya Sasuke menunggu kelanjutan perkataan Naruto.
"Akhirnya aku memutuskan bahwa... Uchiha Sasuke tidak boleh jauh dari Uzumaki Naruto",

Wajah Sasuke berseri-seri merona mendengar gombalan itu.

"Kau harus bersamaku, Suke!",

Sasuke menutup mulutnya yang menganga terkejut.

"Aku boleh tinggal bersamamu?", tanya Sasuke meyakinkan Naruto.
"Tentu!",
"Selamanya?", Sasuke menjulurkan jari kelingkingnya, meminta Naruto untuk beryubikiri.
"Hn. Selamanya", Naruto ikut mengaitkan jari kelingking ke jari kelingking Sasuke.

Sasuke menahan diri untuk tidak melompat dari kursi roda.
"Ne, Dobe. Ayo, cium aku!", pintanya tiba-tiba.
"Heh!?", Naruto dan aku sama-sama terkejut.
"Kau tidak mau menciumku?", cibir Sasuke yang tampak menggemaskan di mataku.
"Baiklah",

Naruto perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Secepat kilat, aku menghampirinya. Menarik jauh kursi roda yang diduduki Sasuke.

Yatta! Aku berhasil menyelamatkan bibir perawan adikku!

"Aniki, kau merusak momen first kissku!", desis Sasuke.

Aku beralih menatap Naruto yang sedang tecengar-cengir bodoh.
"Adikku masih di bawah umur. Jika ingin menciumnya, tunggu hingga umurnya 20 tahun ke atas!",
"Terlalu lama, aniki!", bantah Sasuke.

"Kurasa anikimu benar. Kau harus menunggu 5 atau 6 tahun lagi, Suke", bujuk Naruto mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Uh! Terlalu lama!", dengus Sasuke.
"Tidak terlalu lama, jika kita terus bersama",

Sasuke menatap Naruto dengan tatapan 'Oh~ So Sweet~'.

Ck! Si kuning ini pintar sekali menyenangkan hati Sasuke. Apa aku harus berguru padanya?


Mengetahui Sasuke sudah pulang dari rumah sakit, Naruto langsung bergegas ke rumah. Beruntung, Sasuke sedang tidur sehingga usahanya untuk bertemu dengan adikku sia-sia.. ahahahaa..

Sambil menunggu Sasuke bangun, dia ingin berbicara berdua saja denganku. Aku membawanya ke dojo, untuk berbicara lebih privat.

"Izinkan aku untuk memacari adikmu!", pinta Naruto membungkuk 90 derajad.

Sedikit terkejut dengan sikapnya itu. Menghiraukannya, aku mengambil 2 buah pedang bambu.

"Adikku adalah pusaka berharga di klan Uchiha. Tidak semudah itu kau merebutnya dari kami!", kulempar sebuah pedang bambu padanya. Dengan sigap, dia menangkap pedang bambu tersebut.
"Lawan dan kalahkan aku!", perintahku dalam posisi ready.
"Heh?!",
"Buktikan kalau kau pantas untuk adikku!",

Dengan sangat terpaksa dia mengambil ancang-ancang, bersiap bertanding denganku.

Skip skip skip

TaaaaK
Pedang bambu yang dipakai Naruto patah karena seranganku yang begitu kuat.

"Ck! Kau kalah!", decakku sambil berseringai kemenangan, "Orang lemah tidak mungkin bisa melindungi adikku",
"Aku memang kalah darimu. Tapi aku bukan orang lemah!",

Naruto tiba-tiba berdogeza.
"Izinkan aku untuk berpacaran dengan Sasuke! Aku berjanji akan menjaga dan tidak menyakitinya lagi! Tolong restui hubungan kami!",

Aku cukup tergerak dengan sikapnya yang ngotot ini.

"Bagaimana jika kau melanggar janjimu?",
"Aku akan menerima konsekuensi darimu",
"Hn",

Tidak enak hati menolak permintaannya, ditambah lagi dia rela berdogeza di hadapanku. Aku ragu, apa dia bisa membahagiakan Sasuke?

"Terimakasih, aniki!", ucapnya dengan tegas, kembali membungkuk.
"Hey! Aku tidak bilang 'iya'",
"Hn itu 'iya'", dia malah tercengir bodoh.

Ya. Aku tidak bisa menolak. Jika aku bersikeras menentang hubungan mereka, bisa-bisa Sasuke yang tersakiti.

Kuharap dia bisa membahagiakan Sasuke.


Walaupun masih belum sembuh total, Sasuke ngotot ingin mengurus pesta ulang tahunnya akan diadakan di rumah. Semua menu, dialah yang memasaknya. Sasuke sangat menantikan pesta ini. Dia bahkan telah menyebar kartu undangan yang dibuatnya sendiri kepada teman-temannya.

"Ini akan menjadi pesta ulang tahun yang tak terlupakan!", serunya antusias.

Dia melakukan ini semua tanpa izin kakek. Saat kakek pulang nanti, dia pasti akan dimarahi habis-habisan. Dan aku sebagai kakak, akan maju di garis depan untuk membelanya.

Aku tidak ingin merusak momen indah Sasuke.

Ah~ Semoga saja kakek betah liburan lebih lama lagi di Hawaii sana.


Hari itu telah tiba, pesta 2 jam lagi akan dimulai. Sakura-chan beserta 12 bodyguardnya datang memberi kejutan untuk Sasuke. Mereka datang jauh-jauh dari Suna. Luar biasa!

Sakura-chan terlihat anggun mengenakan kimono pink, bercorak bunga Sakura. Rambut pinknya, tersanggul rapi dengan konde khas klan Haruno.

"Sasuke-kun~", panggil Sakura-chan dari kejauhan.
"Sakura-chan~",

Silakan bayangkan mereka seperti adegan di film Bollywood.

Mereka saling berpegangan tangan sambil berputar-putar. Sasuke menyambut kedatangan Sakura-chan dengan senang.

Aku tidak menyangka mereka bisa semesrah ini. Setahuku, Sasuke tidak menyukai Sakura-chan. Atau jangan-jangan, Sasuke ingin poligami?

"Aku rindu padamu, Sasuke-kun~", Sakura-chan mencium pipi Sasuke.
"Aku tidak suka ini, Sakura-chan", dengan cepat, Sasuke menghapus noda lipstik yang menempel di pipi porcelainnya.
"Ow, maaf, maaf... Aku terlalu rindu padamu...hahaha...", Sakura-chan membantu menghapus noda lipstik di pipi Sasuke.

Menyadari keberadaanku, Sakura-chan datang menghampiriku.

"Hai, aniki!", sapanya tersenyum manis.

Sakura-chan adalah gadis yang manis dan cantik. Aku heran, mengapa Sasuke tidak klepek-klepek padanya?

Jika aku ada di posisi Sasuke, aku tidak akan menolak Sakura-chan. Sangat beruntung memiliki istri secantik dan sepintar Sakura-chan.


Sudah jam 7 malam. Pesta telah dimulai. Tapi tak satupun teman-teman Sasuke datang, termasuk Naruto dan Namikaze.

Apa-apaan ini? Mereka ingin mempermainkan Sasuke?
Akan kuhabisi mereka semua!

"Kau tidak salah menulis undangan kan, Sasuke-kun?", tanya Sakura-chan pada Sasuke yang sedang berdiri di pintu gerbang, menanti kedatangan teman-temannya.

Sasuke menyandarkan keningnya di bahu Sakura-chan.
"Terulang lagi~", lirih Sasuke lemas.

Aku jadi teringat dengan pesta ulang tahun Sasuke yang ke 5. Saat itu, tidak ada seorangpun yang datang ke pestanya. Orang tua mereka terlalu takut untuk mengajak anak-anaknya menginjakkan kaki di rumah ini. Sejak dari itu, kami tidak pernah mengundang siapapun datang ke pesta ulang tahun Sasuke. Kami hanya merayakan bersama pengikut klan Uchiha, walaupun mereka semua adalah orang dewasa bertampang sangar -membuat Sasuke ketakutan. Keberadaan mereka cukup menghibur Sasuke.

"Sasuke-kun, kau tidak lapar? Aku sudah sangat lapar. Aku ingin mencicipi masakan calon suamiku", bujuk Sakura-chan, "Ayo!",

Sakura-chan menarik lengan Sasuke, Sasuke pasrah ditarik oleh Sakura-chan.

Sakura-chan mengambil sepiring sushi, memakan sushi itu dengan lahap. Cara makannya sangat tidak anggun. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat Sasuke tertawa.

"Boleh dibungkus untuk kubawa pulang? Ini benar-benar enak! Aku rela gemuk karena memakan makanan seenak ini!",

Sasuke tersenyum kecil, cukup terhibur dengan ucapan Sakura-chan. Meskipun mata Sasuke tidak pernah lepas dari pintu, dia masih berharap bahwa teman-temannya datang.

Aku marah pada orang-orang yang telah mengecewakan Sasuke. Aku harus menghajar mereka!

Saat aku keluar gerbang, kulihat segerombolang orang menuju kemari. Di baris depan, tampak Naruto dan gank Namikaze.

"Maaf, kami terlambat", ucap Neji.
"Apa pestanya sudah dimulai? Aku sudah lapar~ lapar~", tanya Akimichi mengelus-elus perutnya yang buncit, dia anggota Namikaze yang berbadan tambun.
"Ayo teman, kita makan gratis sepuasnya!", ajak Inuzuka merangkul teman-temannya. Mereka tampak takut-takut memasuki rumah kami, seperti sedang memasuki obake saja. Aku merasa, Namikaze memaksa mereka untuk ke sini.

"OSH!", seru Namikaze.

Akhirnya mereka memberanikan diri untuk masuk. Ketakutan mereka berubah menjadi takjub ketika melihat dekorasi ruangan yang dipenuhi dengan balon warna-warni dan lampu berkerlap-kerlip seperti pohon natal. Di hadapan mereka terhampar makanan lezat ala jepang dan barat.

Sasuke terharu melihat kedatangan teman-temannya ini.
"Maaf, kami terlambat", ucap Naruto.
"Kupikir aku salah menulis undangan", setetes air mata turun membasahi pipi Sasuke.
"Hey, lihat! Uchiha menangis! Kita berhasil membuatnya menangis!", ejek Naruto menyeka air mata di pipi Sasuke.

Teman-temannya malah menertawakan Sasuke. Rasanya kesal karena mereka telah membuat adikku menangis. Tapi, aku senang, karena kedatangan mereka, membuat pesta ini sangat berkesan bagi Sasuke.

"Aku senang, Dobe! Sangat senang! Terimakasih!", Naruto merangkulnya, menepuk-nepuk punggungnya.

"Ayo, kita berpesta!", ajak Naruto memberi semangat.
"OSH!", seru mereka bersemangat.

Tidak ada ketakutan dan keseganan lagi, mereka sangat menikmati hidangan dan pesta ini.

Ini pasti kenangan yang tak telupakan bagi Sasuke dan juga bagiku.


"Siapa gadis cantik ini?", tanya Inuzuka melirik genit pada Sakura-chan.
"Aku Haruno Sakura, tunangan Sasuke-kun~", Sakura-san memeluk erat lengan Sasuke.
"Heh?!",
"Jangan dengarkan dia!", bujuk Sasuke panik, segera melepaskan diri dari Sakura-chan.

Aku bisa melihat kecemburuan di wajah Naruto.

Apa yang akan kau lakukan, Uzumaki Naruto? Apa kau akan melepaskan Sasuke lagi?

Naruto tiba-tiba menarik Sasuke ke atas panggung kecil.

"Lihat ke sini! Semua!", teriak Naruto.

Semua mata tertuju pada mereka, aku ikut berbaur dan mengambil posisi terdepan agar bisa melihat dengan jelas apa yang akan Naruto lakukan pada Sasuke?

"Bantu aku merekam ini, teman!", perintah Naruto pada gank Namikaze.

Mereka mengangguk kompak, segera mereka mengeluarkan ponsel mereka, bersiap merekam apa yang ingin dilakukan Naruto.

"Sebagai SEME dari seorang Uchiha Sasuke", Naruto menatap ke arahku, lebih tepatnya ke sosok yang berdiri di sampingku, Sakura-chan.

"Mungkin aku tidak bisa memberi apa-apa di hari ulang tahunnya ini. Tapi aku punya sesuatu yang sangat dia inginkan dariku",

Jangan-jangan...

Naruto berseringai, lalu menarik tubuh Sasuke, memeluk pinggang Sasuke, mencondongkan tubuh, mengeliminasikan jarak, lalu...

CHuuuu~
Naruto mencium bibir Sasuke! Bibir adikku sudah tidak perawan! Oh! NO!

Kehebohan, seruan dan siulan menghiasi adegan ciuman panjang itu.

Sakura-chan menggigit bibirnya, mengepalkan kedua tangannya. Dia pasti sangat marah melihat tunangannya dicium laki-laki di depan umum.

"Selamat ulang tahun, Suke~", Naruto menyudahi ciumannya. Wajah Sasuke memerah luar biasa.

Sakura-chan menghentakkan kakinya kesal, kemudian berjalan menghampiri gank Namikaze. Mengambil paksa ponsel milik Nara.

Dia memutar ulang adengan ciuman itu.
"Kirimkan padaku juga!", perintah Sakura-chan.

GUBRaaaaK

Sakura-chan, jangan katakan bahwa kau seorang Fujoshi!


Pestapun telah berakhir, tapi kemesrahan mereka masih belum berakhir.

"KYaaaa! Kyaaa!", jerit Sakura-chan yang sedang menonton berkali-kali adegan tadi dari ponselnya.

Kujitak kepalanya, karena dia terlalu berisik.
"Seharusnya Sakura-chan cemburu karena tunanganmu direbut",
"Harus kah?", kembali dia memutar video itu lagi.
"Bukankah Sakura-chan mencintai Sasuke?",

Sakura-chan melirik kiri kanan, memastikan bahwa sekelilingnya aman.

"Aku hanya menyukai Sasuke-kun sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu. Sasuke-kun juga tahu kok", bisik Sakura-chan.

Sakura-chan membocorkan banyak hal padaku. Saat lulus SMP, mereka pertama kali dipertemukan. Sasuke sudah berterus terang pada Sakura-chan bahwa dia mencintai seseorang. Sakura-chan juga berterus terang pada Sasuke, bahwa dia juga mencintai orang lain. Mereka saling bahu-membahu untuk mewujudkan keinginan masing-masing. Sakura-chan terus mendorong Sasuke agar lebih agresif mengejar orang yang dicintainya, karena waktu mereka tidak banyak.

"Aku senang, akhirnya Sasuke-kun bisa bersama orang yang dicintainya. Aku saaangaat senang, rasanya ingin guling-guling di aspal!",
"Lalu? Bagaimana dengan Sakura-chan?",
"Aku?",
"Siapa orang yang Sakura-chan cintai?",
"Uchiha Itachi!", jawabnya tegas, tanpa ragu dan malu-malu.
"Heh!? Aku?!"
"Hn!", angguknya sambil tersenyum manis padaku.

-Itachi PoV End-


Happy Ending?


Bonus scane :

Naruto diam-diam membawa kabur Sasuke dari rumahnya. Dengan motor, mereka berkeliling menikmati angin malam. Hingga berakhir di sebuah hotel.

Sasuke langsung melempar diri di atas ranjang.
"Ayo, Dobe!", Sasuke menepuk space kosong di sampingnya, "Kita bercinta malam ini!", ajak Sasuke.

Naruto menepuk keningnya, dia heran mengapa Sasuke bisa semesum ini? Padahal umurnya baru 15 tahun.

Tapi, ketika mendapatkan tawaran mengiurkan tersebut, mana mungkin Naruto menolaknya.

Naruto menghimpit tubuh Sasuke. Tangannya perlahan menyusup ke dalam yukata Sasuke. Sasuke meneguk liur, dia sangat gugup.

"Tunggu 6 tahun lagi, Suke~", bisiknya sambil menyentil kening Sasuke.
"Uh!", dengus Sasuke.

Naruto telah berjanji pada Itachi, bahwa dia akan menjaga keperjakaan Sasuke hingga Sasuke telah berumur 20 tahun nanti. Cukup lama, tapi dia harus sabar menunggu. Dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan yang telah Itachi berikan padanya.

Naruto berbaring sambil mendekap tubuh Sasuke.
"Aku akan menunggumu hingga dewasa. Bersabarlah, Suke~",
"Kau akan tua nanti, Dobe",
"Tapi perasaanku tidak akan menua",
"Ow, so sweet~", Sasuke mengeratkan pelukannya.


The End


Akhirnya NaruSasu bersatu. Dan Itachi tidak jomblo lagi. Iyeey!

Happy NS Day

#NaruSasuDays_SunAndMoon2015