Gekkan Shoujo Nozaki-kun

Belong to Izumi Tsubaki sensei

.

.

.

Simple Romance, Little Hurt

a bit Humor

.

.

.

a fanfiction Gekkan Shoujo Nozaki-kun

"Permainan Hati"

by Shireni Hime

Last Chapter

Perasaan Nozaki Part I

.

.

.

"...terimakasih karena sudah menemani hidup kami di Roman School ini. Guru, teman, ibu kantin, dan semuanya. Terimakasih. Mari kita sambut dan berjuang untuk masa depan yang akan datang..."

Kalimat yang diucapkan dewan mahasiswa tersebut menutup upacara kelulusan di Roman School. Mereka semua keluar aula dan saling berfoto untuk kenang-kenangan terakhir di SMA. Seorang gadis kecil tengah berfoto dengan temannya yang bersurai cokelat, Yuzuki Seo. Kemudian datang beberapa orang lainnya.

"Sakura, apa benar kau akan ke Amerika?", tanya Kashima.

"Yah begitulah, pulang dari sini aku langsung ke bandara"

"Nee, Sakura... Apa kau mau berfoto denganku? Nanti kau bisa merindukan orang tampan sepertiku, bukankah di Amerika tidak ada yang seperti aku?", seru lelaki berambut merah dengan gombalannya.

"Ah, Mikorin. Aku akan merindukanmu dan juga yang lainnya. Jadi aku tidak hanya merindukan mu"

"Kalau begitu kita berfoto berasama!", seru Yuzuki. Mata Chiyo masih mencari seseorang.

"Hey, dimana Nozaki-kun?"

"Kau mencarinya? Dia ada disana, seperti nya dia sangat dibenci hingga teman-temannya melakukan itu", jawab Yuzuki. "Ah, sepertinya begitu", tambah Kashima. Chiyo menoleh kearah Nozaki. Ia dikerubuni oleh teman-teman sekelasnya, kebanyakan dari mereka ingin menonjok, menampar,bahkan membuat bajunya sobek. Tapi ada juga yang merangkulnya.

"Yah, tentu saja hanya aku yang paling dirindukan. Tidak kah kalian melihat antrian gadis yang ingin kancing pertama bajuku?", Mikoshiba melemparkan kecupan kepada gadi-gadis yang menunggunya. Membuat mereka berteriak histeris.

Jika memang harus berfoto bersama, maka harus ada Nozaki didalamnya. Akhirnya ia menarik keberanian untuk memanggil namanya.

"Nozaki-kun!", Chiyo melambai-lambai. Hingga Nozaki menghampirinya.

"Ah kalian berkumpul?", tanya Nozaki.

"Kita berfoto, ayooo!", ajak Chiyo antusias. Ia melihat kancing baju pertama Nozaki yang sudah tidak terpasang disana. "Nozaki-kun, kancing bajumu sudah ada yang mengambilnya?", Chiyo murung. Sedikit kecewa padahal ia ingin sekali memilikinya.

"Oh ini?", ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan itu adalah kancing bajunya sendiri. "Aku mencopotnya sendiri", tambahnya.

"A...apa!? Memangnya kenapa?"

"Kalau tidak begini akan ada yang mengambilnya", ia terhenti. Matanya melihat Chiyo. "Ini untuk mu, Sakura"

Chiyo menatap Nozaki dengan penuh perasaan, pipinya merona merah.

Apa kau tahu artinya memberikan kancing pertama seragammu pada seorang gadis, Nozaki-kun?

"U...untuk ku, Nozaki-kun?", ia mengambil dan menggenggamnya. Mendekapnya dalam dada. "Kenapa kau memberikannya padaku?", Chiyo memberanikan dirinya. Ia berbalik menatap Nozaki. Menanti jawaban dengan debaran jantungnya.

"Kenapa? Mungkin karena kau penggemar beratku, Sakura".

"Ahaha...", dia mencoba untuk tertawa. Dia tahu itu sangat menyakitkan. Dua minggu tidak bertemu dengan Nozaki, dan perpisahan mereka saat itu penuh air mata.

Apa aku harus menangis lagi?

"Cepat kita berfoto!", ajak Yuzuki. Mereka semua antusias.

"Kalau kita semua ada didalam foto, lalu siapa yang memotret?", tanya Kashima. Semua terdiam, tampak saling berpikir. Mereka saling menatap satu sama lain, siapa kira-kira yang akan dijadikan tumbal.

"Ah! Waka!", teriak Yuzuki pada seorang junior. Pria itu menghampiri. Mereka memang berjodoh, karena dia juga sedang mencari gerombolan Nozaki.

"Senpai! Omedetou!", serunya bersemangat.

"Nah Waka! Tunjukan dedikasimu pada senior yang akan meninggalkan kehidupanmu ini", Yuzuki menatapnya tajam. Wakamatsu hanya mengangguk dengan terharu.

Mereka berbaris dengan rapi. Chiyo berada didepan paling pinggir, dibelakanganya ada Nozaki. Kemudian di sisi Chiyo ada Yuzuki dan Kashima. Dibelakangnya, sejajar dengan Nozaki ada Mikoshiba. Wakamatsu memberi aba-aba untuk mereka. Tapi ia tidak jadi mengambilnya.

"Eto... Sakura senpai?", katanya.

"A..ada apa Wakamatsu?"

"Bisakah kau tersenyum? Kau terlihat murung..."

"Ehh? Chiyorin kau tidak apa-apa?, tanya Yuzuki.

"Sakura?", Kashima dan Mikoshiba terheran. Mereka menanyakan hal yang sama. Nozaki hanya melihatnya dari ekor matanya.

"Ah, tidak apa-apa. Maaf aku jadi ingat kalau kita akan berpisah", lalu ia sedikit tersenyum.

Benar aku harus ceria!

"Baiklah, kita ambil sekali lagi!", pinta Wakamatsu.

Mereka semua bergaya dengan senyumannya masing-masing. Menunjukkan betapa bahagianya mereka selama berteman di sekolah ini. Sakura Chiyo sudah bisa mengembangkan senyumnya lagi. Biarlah Nozaki tetap menjadi Nozaki yang seperti ini. Yang membuat Sakura Chiyo berulang kali menyerah akan perasaannya sendiri, dan berulang kali juga membuat jatuh cinta padanya. Hari ini dimana kebahagian dan kesedihan berakhir, dimana kesedihan dan kebagian dimulai.

"Satu kali lagi, hoi Waka!"

"Baik! Baik!"

Sakura Chiyo, tanpa pernah ia duga seseorang dibelakang mengacak rambutnya di foto terakhir. Seketika wajahnya refleks menghadap sang pemilik tangan. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari angin topan. Terakhir kalinya. Ia mengingat senyuman itu, dibawah pohon sakura. Sama persis, senyuman milik Nozaki.

.

.

.

.

New York, 3 tahun kemudian

.

.

.

Seorang gadis dengan rambut oranye sepinggang tengah berdiri ditumpukan rak alat lukis. Dia nampak berpikir dan memilah mana yang akan ia beli.

"Hei... ini edisi terakhirnya belum keluar juga yah?", seru seorang anak sekolah di sebelah Chiyo. Mereka juga tengah memilih alat untuk melukis. Chiyo tidak menghiraukan mereka.

"Aku penasaran dengan akhir ceritanya"

"Tapi yang ku baca di forumnya, dia tidak akan menerbitkannya dalam bentuk buku"

***maksud 'buku' yang dibicarakan oleh anak sekolah adalah 'Tankōbon' ,kalau dijepang itu berarti manga yang berseri dalam bentuk volume, Seperti yang kita lihat pada umumnya*

Lalu kalau tidak diterbitkan dalam bentuk buku, bentuk apa? Gelas?

Chiyo tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Lalu apa?", tanya salah seorang mereka pada salah seorang lainnya.

"Di forum Yumeno sensei mengatakan kalau chapter terakhir akan diterbitkan dalam majalah komik"

***majalah komik: di Jepang biasanya terdiri dari beberapa judul komik yang masing-masing mengisi sekitar 30-40 halaman majalah tersebut. Seperti Nakayoshi, atau re:ON comics dari Indonesia*

Chiyo yang mendengar nama Yumeno sensei langsung terdiam. Dia menjadi penasaran. Ia mendengarkan setiap perkataan dari kumpulan anak Sekolahan itu.

"Kalian tahukan manga Let's Love karya Yumeno sensei? Aku baca di forum, katanya terpaksa ditanamatkan walau ceritanya belum klimaks"

"Yah, tapi akhir ceritanya cukup bagus"

"Lalu bagaimana dengan, Nozaki-kun yah?"

Nozaki-kun? Kenapa mereka menyebut namanya?

Telinga Chiyo semakin menajam mendengar nama itu. Perasaannya masih sama seperti 3 tahun yang lalu. Ia selalu mengingat bagaimana ia menghabiskan waktu di ruangan Nozaki untuk membeta. Terkadang dia rindu dengan ketidakpekaan Nozaki, meski dulu ia sangat membencinya.

"Ah, seandainya aku tidak kehilangan handphone ku. Aku pasti tahu kabarnya dan yang lain juga". Ia menghembuskan napas nya dengan berat. "Dia mencoba menghubungiku tidak yah?", gumamnya dalam bahasa Jepang. Membuat orang disekitar memperhatikannya.

"Permisi, kalau boleh tahu komik apa yang sedang kalian bicarakan?", tanya Chiyo akhirnya pada sekumpulan anak sekolah itu. Tentu saja dalam bahasa inggris.

"Oh, itu komik dari Yumeno sensei", jawab sigadis bertubuh kurus.

"Yumeno sensei? setahuku ia tidak membuat komik lagi setelah Let's Love berakhir"

"Tidak-tidak. Dia masih membuatnya", ucap anak sekolah berbadan gemuk. Ia sedikit ragu.

"benar", yang lain menguatkan.

"Tapi 'Komikus Nozaki-kun' ini benar-benar hebat! Sudah cetak beberapa juta kopi diseluruh dunia", sela anak berambut panjang.

"Komikus Nozaki-kun?", tanya Chiyo.

Apa Nozaki memakai namanya sendiri untuk karakter? Apa tidak ada nama lain di dalam pikirannya?

"Benar! hanya tinggal menunggu cerita terakhirnya saja. Katanya akan diterbitkan di majalah komik", jawab si gemuk.

"Tapi lama sekali, hampir setengah tahun namun belum dikeluarkan juga", rambut panjang menambahkan.

"Apa edisi sebelumnya masih dijual?", tanya Chiyo. Ia sungguh penasaran, apa isinya. Kenapa ada nama Nozaki disana. Apa lelaki itu telah kehabisan ide hingga menggunakan namanya sendiri sebagai karakter.

"Emmm, spertinya begitu. Tapi kau harus menunggu agak lama untuk mendapatkannya. Benar-benar barang yang sedang diburu"

"Begitu, baiklah. Terimakasih yah teman-teman". Chiyo akan pergi.

"Kaka orang Jepangkan?", tanya yang berambut panjang. Chiyo mengangguk.

"Pernah bertemu dengan Yumeno sensei?"

"Iya pernah, dia sangat..." tidak sama dengan karyanya!

"Sangaat apa?", mereka semua bertanya dengan antusias.

"Sangat hebat. Aku diberi kesempatan untuk melihatnya membuat manga. Bahkan aku dapat 2 tanda tangan darinya"

"Benarkah?", Chiyo mengangguk. Kemudian ia mengeluarkan sebuah map anti air. Ia mengeluarkan isi map itu. Dua buah tanda tangan yang pernah Nozaki beri untuknya. Mereka semua menatap takjub, mereka menginginkan hal yang sama.

Seorang diantara mereka menatap Chiyo lekat. Dia memikirkan sesuatu. Memperhatikan Chiyo dari atas sampai bawah. Lalu matanya tertuju pada pita yang mengikat sebagian rambut panjangnya. Ya, semenjak kuliah Chiyo sudah menanggalkan kedua pita dari kepalanya. Menurutnya hal itu terlihat norak untuk orang yang tinggal di New York.

"Mamiko...", gadis itu bergumam hingga diperhatikan oleh teman-temannya. Begitu juga dengan Chiyo.

"Chiyo...", gumam gadis berbadan kurus itu lagi.

"Iya?"

"Chiyo?", gadis itu masih ragu.

"I...iya? Ke..kenapa kau memanggil namaku terus?"

"Tidak mungkin!", ujar si kurus terkejut bukan main.

"Mirip sekali! Bahkan namanya juga!", gadis bertubuh gemuk menyadarinya juga.

"Wah... benar! benar-benar mirip!", seru si rambut panjang.

"Keren! Boleh minta fotomu? Kita foto berdua", pinta si kurus.

"Eh?"

"Aku juga mau", diikuti sigemuk.

"Eh?"

"Aku juga...", serta si rambut panjang.

"Eh?"

Pada akhirnya Chiyo meladeni permintaan foto mereka. Membuat Chiyo semakin penasaran. Ia ingin membeli manga Nozaki yang tengah heboh itu.

"Aku pikir, Suzuki dan Mamiko adalah yang terakhir. Dan anak-anak tadi untuk apa mereka meminta fotoku, mereka juga tahu namaku", gumam Chiyo yang berjalan menuju kasir.

"Maaf, apa komik 'Komikus Nozaki-kun' masih ada?"

"Ah, maaf nona. Kami belum mengambil cetakannya lagi. Masih dalam proses cetak karena banyak yang ingin membelinya"

"Oh begitu"

.

.

.

Handphone-nya tiba-tiba saja ramai, kebanyakan dari twitternya. Karena penasaran ia mengeceknya sendiri. Retweet-an seseorang membuatnya terkejut.

"Ken-san?", ia meletakkan handuk di lehernya.

Ternyata anak sekolah yang meminta foto Chiyo me-mention foto tersebut kepada Ken-san, editor Nozaki untuk manga Let's Love. Anak itu menyebutkan 'Ken-san! Aku bertemu seseorang yang mirip dengan Sakura Chiyo! Dia benar-benar mirip!'.

Kemudian teman Chiyo yang tidak sengaja, entah dia kenal dengan anak sekolah itu atau memang mem-follow twitter Ken-san , meretweetnya kepada Chiyo lalu di retweet lagi oleh teman dari teman-temannya Chiyo di NY. Sebenarnya biasa saja kalau seseorang mirip dengan seseorang, tapi ini dirinya yang disebut-sebut, Lengkap dengan nama keluarganya. Yang membuat heboh adalah balasan dari Ken-san yang di retweet oleh jutaan penggemar Yumeno Sakiko.

'Oh Kau bertemu dengannya? dia itu asistennya Yumeno sensei. Ternyata NY sempit yah~haha'

"Kenapa kau mengatakannya, Ken-san!" teriaknya di depan layar handphone. "Lagi pula, aku sudah bukan asistennya lagi. Bahkan ia membuat komik baru tanpa aku", lanjut Chiyo lemas.

Chiyo membuka laptopnya. Ia mencari informasi tentang manga Nozaki yang heboh itu. Ia masuk ke beberapa forum yang malah membuatnya semakin penasaran.

"Loh? diterbitkan seminggu setelah keberangkatanku?", Chiyo bingung bukan main. "Apa ini manga yang sedang dibuat Nozaki-kun waktu itu?", dia mengingat kembali saat Nozaki mengatakan kalimat yang begitu dingin. Tapi bukannya bersedih ia malah tersenyum.

"Benar-benar rindu", ia menoleh ke sebuah kotak kecil bertutupkan kaca. Itu adalah kancing baju yang di berikan Nozaki. Dan tanda tangan itu juga, meskipun kadang ia suka membawanya sekedar untuk melepaskan rindu. Dia jadi ingat saat foto terakhir dengan semuanya, dengan Nozaki yang mengacak rambutnya.

"Apa kabar, kalian?"

Chiyo tidak ingin semakin larut. Ia harus mendapatkan manga itu. Setelah lelah mencarinya ditoko buku yang hasilnya nihil, ia mencoba mencarinya di beberapa situs online. Namun tetap saja, kebanyakan dari mereka sedang menunggu cetakan selanjutnya. Lagi pula Chiyo malas membaca versi bahasa inggrisnya. Kemudian ia melihat handphonenya yang masih menunjukan retweet-an dari Ken-san.

"Ken-san!", serunya. Ia kemudian mengacak isi internet mencari kontak Ken-san. Ia tidak menemukannya juga. Kalau melalui twitter tentu akan memancing hal yang lebih heboh. Direct Message, mungkin sudah ia lakukan jika Ken-san sudah mem-follow back-nya.

Chiyo menghempaskan tubuhnya ke kasur. Napasnya agak berat, ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna merah muda.

"Kak Miyako!", mangaka yang juga tetangga Nozaki di apartemen. Mereka saling follow dan Chiyo bisa dengan mudah mendapatkan kontak Ken-san. Tanpa basa-basi menanyakan kabar dan semacamnya, Chiyo langsung menanyakan kontak Ken-san. Tapi tidak langsung dibalas oleh Miyako. Ia menunggu dan menunggu, hampir satu jam. Warna langit sudah sangat gelap, tapi di Jepang seharusnya masih siang.

"Apa kak Miyako sedang sibuk yah?", guman Chiyo. Ia meninggalkan handphonenya untuk kedapur, tenggorokannya terasa haus. Begitu ia kembali sebuah pesan sudah masuk di handphonenya. Sebuah direct message.

'Ara, primadona Sakura-chan. Tanpa basa-basi kau langsung meminta kontak Ken-san?'

'Ah, gomenne kak Miyako aku benar-benar sedang butuh kontak Ken-san. dan maaf, Primadona?'

Lama tidak dibalas, handphonenya berdering kembali.

'Bagaimana tidak?dengan fotomu yang di retweet oleh Ken-san, haha. Akan ku tanya pada Maeno-san, karena aku tidak punya kontak Ken-san'

'Ah, itu berlebihan. aku sungguh tidak tahu apa-apa tentang manga Nozaki-kun yang sedang dibicarakan orang-orang- ,-'

'Maaf agak lama, Sakura-chan. Kau tahu kan bagaimana Maeno-san? Ini email Ken-san, kensan '

'Mustahil kau tidak mengetahuinya, Sakura-chan! Kau harus membacanya!'

'Aku benar-benar tidak tahu kak. Terimakasih untuk kontaknya. Ah, dan aku pasti membacanya!'

Pada saat itu juga Sakura Chiyo langsung mengontak email Ken-san. Ia hanya meminta nomer telepon yang bisa dihubungi. Dia tahu Ken-san akan malas kalau tidak penting. Tapi bagi Chiyo hal ini sangat penting. Tidak butuh waktu lama, seperti yang diharapkan dari Ken-san. Ia sangat cepat begitu tahu yang mengirim email adalah Chiyo, dan dengan segera memberikan nomer handphone-nya. Tanpa berpikir biaya telpon yang mahal antara NY dan Jepang, Chiyo langsung memanggil nomer tersebut.

"Selamat siang, Ken-san?"

"Iya, selamat siang, Sakura-san"

"Ano, aku ingin bertanya mengenai manga Nozaki-kun yang terakhir"

"Ha? Kau belum membacanya?"

"Be..begitulah. Kupikir Let's Love benar-benar yang terakhir"

"Tidak, tapi sayang sekali dia benar-benar harus berhenti membuat manga. Tapi, aku masih menunggu akhir cerita dari manga terakhirnya ini"

"Aku dengar juga begitu. Di New York, manga Nozaki-kun benar-benar laku keras walaupun akhir ceritanya masih menggantung. Sangat di sayangkan ia berhenti"

"Apa kau tahu kenapa ceritanya belum dibuat juga?"

"Aku tidak tahu, aku kehilangan handphoneku jadi tidak bisa menghubungi Nozaki-kun. Bahkan dia membuat manga saja aku tidak tahu. Kapan dia terakhir menyerahkan naskahnya?"

"Ah itu sekitar...", Ken-san terhenti sebentar. Ia terdengar sedang berpikir di telinga Chiyo. "...ah tiga tahun yang lalu".

"Ke...kenapa lama sekali? Bukankah harusnya sekitar setengah tahunan saja? Kenapa selama itu?"

"Anak itu menyerahkan naskah sekaligus tiga tahun yang lalu. Naskahnya terlalu tebal makanya tidak diterbitkan sekaligus melainkan dibuat berseri. Setelah itu ia meminta ijin untuk berhenti"

"Lalu bagaimana dengan akhir ceritanya?"

"Anak itu mengerjaiku. Saat aku sampai pada chapter terakhir, ceritanya menggantung. Dia bilang nanti akan ku berikan kalau sudah dapat ide"

"Benar-benar seperti Nozaki-kun", ia tertawa halus sebentar. "eto... Kenapa anda tidak membatalkannya saja, Ken-san?"

"tidak bisa, beberapa sudah naik cetak. Lagi pula responnya ternyata cukup bagus. Bahkan kami harus mencetaknya lagi dan lagi. Ah maaf, jadi apa yang bisa aku bantu?"

"Karena anda adalah editornya, kupikir anda memiliki beberapa cetakan dari volume satu sampai sekarang Ken-san, bolehkah aku memintanya? Ah tidak aku akan membelinya!"

"Memang di New York tidak ada? sampai harus memesannya padaku? dan dari volume satu..."

"Seperti yang aku ceritakan. Aku benar-benar belum membacanya, lagi pula aku tidak tahu ada manga yang lain dari Nozaki-kun, dan disini semua toko buku sedang menunggu cetakan yang baru"

"Baiklah, Karena kau penggemar Nozaki maka aku akan memberikanmu gratis, kau tidak perlu membayar Sakura-san. email-kan saja alamatmu di sana"

ahhh, penggemar yah... jadi rindu..

"Benar sungguh tidak apa-apa aku tidak membayarnya? Ongkos kirimnya pasti sangat mahal Ken-san?"

"Tidak apa-apa, tenang saja. Aku menggunakan uang royalti milik Nozaki"

"Ehhh? Ken-san tunggguuuuu!"

Tiba-tiba sambungan terputus dari Jepang sana. Chiyo benar-benar beruntung tapi juga benar-benar merasa tidak enak.

"Bagaimana kalau Nozaki-kun tahu? Ken-san pasti menceritakannya pada Nozaki-kun! Bagaimana ini?!"

Chiyo akhirnya mengirim email kepada Ken-san dan meminta agar dirinya membayar semua manga dan ongkos kirim itu. Namun Ken-san tetap menolak dan memaksa agar Chiyo mau menerimanya. Dengan tegas dalam emailnya Ken-san berkata, "Kau harus menerimanya agar kau dapat mengetahui perasaan Nozaki, Sakura-san."

Ia semakin penasaran. Perasaan apa yang sedang Ken-san bahas. Akhirnya Sakura Chiyo menerima tawaran itu.

"Maafkan aku! Aku pasti akan mengganti uangmu, Nozaki-kun!"

Setelah dengan pasti ia akan menerima tawaran itu Chiyo langsung meng-email alamat rumahnya di New York. Kini ia hanya tinggal menunggu paket itu tiba dirumahnya.

.

.

.

Sudah hampir dua bulan tapi paketnya belum sampai juga. Chiyo menanti dengan gelisah. Ia sangat penasaran untuk membaca isi manga Nozaki yang terakhir. Chiyo sangat menghargai para mangaka, ia tidak pernah membaca manga secara online. Atau mungkin ia goyah dan mencoba mencari manga online milik Nozaki. Namun pencariannya di website serba tahu itu tidak membuahkan hasil. Ia hanya di arahkan kepada blog-blog dan juga forum yang sudah ia baca. Dan semua itu hanya membuatnya penasaran.

Chiyo menatap layar laptopnya. Ia berpikir sejenak. Masih ada yang lebih penting yang harus ia selesaikan, tugas akhir kuliahnya. Dengan bakat Chiyo, ia dapat dengan mudah memperoleh nilai yang bagus. Ia hanya perlu menyelesaikan satu karya terakhirnya dan membuat pamerannya sendiri untuk tugas akhir. Ia mencoba menggoreskan kuas di kanvasnya sebulan yang lalu, tepat saat perasaan penasarannya memuncak. Ia menatap kembali kanvas itu. Masih putih dengan satu buah titik yang belum terselesaikan. Gadis yang masih mungil itu membuang napasnya berat.

"Oh ayolah Chiyo!"

Ia menyemangati dirinya sendiri. Beranjak dari kasurnya ke depan kanvas berukuran 1x1 meter. Dia terduduk disana. Menatap kosong titik di kanvasnya. Imajinasinya mencoba melayang setinggi yang ia bisa. Meraih seuatu imajiner yang masih samar.

"Aaah! Jangan bodoh!", teriaknya kemudian membanting kanvas itu hingga sisi kayunya patah dan kanvasnya robek. "Bagus! Sekarang aku harus membeli kanvas baru!", ia mengutuki emosinya sendiri.

Cuaca bersalju diluar jendela memberi ketengan untuknya. Serba putih dan dingin. Sedingin perasaan Nozaki padanya.

"Hei... sampai kapan aku harus menunggu, Nozaki-kun?"

.

.

.

Sebuah kardus dibungkus kertas kado ada di meja belajar gadis yang baru sampai dari kegiatan belanjanya. Seketika matanya membelalak dan berlari dengan cepat dari arah pintu. Ia mebukanya penuh dengan semangat. Benar saja, itu adalah paket yang ia tunggu-tunggu hampir selama empat bulan dan selama itu pula kanvas barunya masih benar-benar baru.

Tanpa sabar tangan kecilnya merobek kertas dan plastik yang membaluti paket itu. Ia menatap lima buah manga di depan matanya. Ia menatap mereka penuh dengan rasa penasaran.

"Hanya lima buku? Tapi sampai bertahun-tahun?", gumamnya.

Ia membolak-balik setiap volume. Menelisik setiap cover dan resume cerita dibaliknya. Matanya semakin terbelalak mengetahui namanya ada di dalam setiap resume. Chiyo dengan tak sabaran membuka volume pertama. Ia membacanya dengan teliti dengan penuh rasa haus penasaran. Setiap lembar yang ia baca setiap itu pula matanya mengejang, jantungnya mulai berdegup semakin cepat.

.

.

.

A/N : tidak menyangka endingnya akan terlalu panjang. Tetap di chapter 5, tapi author mempublish jadi dua chapter biar nggak pegal bacanya.

press next page to continue