Gekkan Shoujo Nozaki-kun
Belong to Izumi Tsubaki sensei
.
.
.
Simple Romance, Little Hurt
a bit Humor
.
.
.
a fanfiction Gekkan Shoujo Nozaki-kun
"Permainan Hati"
by Shireni Hime
Last Chapter
Perasaan Nozaki Part II
.
.
.
"Nozaki-kun...", mulutnya mengucap nama itu. Perasaannya campur aduk bukan main. "Aku sungguh bukan ingin mengatakan itu, sungguh", kepala mungil itu tenggelam dalam manga. Isak tangisnya mulai pecah.
.
.
.
CERITA DALAM MANGA
Look like Nozaki's Point of View
.
.
.
Manga itu berisi perasaan Nozaki Umetarou yang tidak atau belum tersampaikan kepada seseorang. Seseorang yang selalu memanggil namanya dengan lantang dan gembira. Sakura Chiyo, seseorang yang selalu mengidolakan dirinya.
.
.
Volume 1
Sakura Chiyo menyatakan perasaan sukanya pada Nozaki Umetarou, namun malah diberi tanda tangan. Sungguh bukan itu yang di inginkan Nozaki. Ia menanti kalimat manis yang akan diucapkan gadis mungil dihadapannya, tentu ia tahu sebagai seorang mangaka manga shoujo. Namun, perkiraannya meleset gadis itu malah mengatakan dirinya sebagai seorang penggemar. Saat itu jantungnya seolah berhenti. Ia mulai berfikir apa yang akan dilakukannya. Tanpa pikir panjang Nozaki Umetarou memberikan tanda tangannya kepada Sakura Chiyo.
'Bertepuk sebelah tangan yah?'
"Aku ... ingin terus bersama mu!"
'Apa dia sungguh ingin bersama ku? tapi sebagai penggemar? apa gunanya?
.
.
"Hah? kau seorang mangaka, Nozaki-kun?!"
'Bukannya sejak awal kau sudah tahu? Kau mengaku sebagai penggemarku, Sakura Chiyo'
Saat itu Nozaki mulai memilih jalur mangaka-asisten sebagai hubungannya dengan Sakura Chiyo. 'Mungkin ini caraku untuk lebih dekat denganmu, Sakura'
.
.
Volume 2
'Hei katakan sesuatu, jangan membisu seperti ini. Rasanya benar-benar canggung. Dasar Seo kenapa malah meninggalkan kami disini, hanya berdua'
"Ah, benar juga. Semua tidak akan percaya karena Nozaki-kun tidak tercermin seperti Yumeno Sensei",
'Tidak seperti Yumeno sensei? Aku hanya menunggu, Sakura..'
"Syukurlah...", aku lega melihat senyumanmu yang sudah kembali. Aku terus menatapmu karena pikiranku campur aduk melihat kondisimu sekarang, aku tahu kau habis menangis semalaman.
.
.
"Ternyata benar, kau demam Sakura. Wajah mu merah sekali. Aku bahkan bisa mendengar jantungmu yang tak beraturan itu. Suaramu juga seperti kodok"
'Lihat! Betapa lancangnya aku melakukan ini, bahkan wajahmu merah padam. Entah karena demam atau perasaanmu yang tidak jelas itu. Aku hanya ingin memastikannya, Sakura'
BRUUK!
'Panas!'
"Kau panas sekali, Sakura. Gomen" ...membuatmu menangis semalaman, aku hanya menunggu..
.
.
Nozaki menatap seorang gadis yang tengah tertidur pulas di ranjang uks. Matanya terpejam lelah namun air mukanya nampak tenang. Sorotan cahaya matahari yang mulai tertidur membuat surai oranye nya semakin indah. "Pikiranku teralihkan hanya karena wajahmu, aku bahkan tidak bisa menulis ide cerita"
.
.
Nozaki dan Chiyo berjalan beringan namun mata Nozaki menangkap gadis dibelakangnya tengah berlari kecil untuk menyusulnya. 'Kakimu sangat mungil, bahkan kau harus berusaha mengejarku', ia menganggapnya lucu hingga tak mampu memalingkan wajahnya dari depan. Ia ingin tersenyum lepas melihat segala tingkah pujaannya itu.
"aku suka sakura"
'Apa kau sungguh hanya penggemarku, Sakura?'
"Bukan kah bunga sakura itu cantik, semua orang suka bunga sakura"
'Tidak, yang aku sukai bukanlah bunganya, bukan. Wajah kecewamu itu, menguatkan perasaanku. Tapi aku masih menunggu, Sakura'
"Menyenangkan bisa menatap bunga sakura mekar bersama mu",
'aku menatapmu seperti ini, apa jantungmu berdegup kencang? Kalau aku, iya...'
"Dialog Suzuki untuk Mamiko, romantis bukan?"
'Entah sampai kapan aku harus mengelak untuk menutupinya'
"Sakura..." ...akhirnya aku bisa tersenyum lepas untukmu, apa perasaanku sampai melalui senyuman ini? Tapi kau hanya mematung menatapku...
.
.
Lihat pakaian yang kau pakai. Aku benar-benar ingin tertawa. Kalau saja kau lebih memilih seragam sailor itu, mungkin aku tidak perlu menahan tawa seperti ini. Kau begitu kecil, aku ingin memelukmu.
"Kali ini saja, Nozaki-kun aku ingin memelukmu... Kali ini saja"
'ya, kali ini saja. Lain kali, biarkan aku yang memelukmu. Aku masih menunggu, Sakura'
.
.
"Sakura, kau boleh memakainya"
'Pakailah, kau benar-benar cocok memakai kaos itu. Aku bahkan ingin terus menatapmu, tapi aku takut'
"Eh tapi, ini kaos mu Nozaki-kun. Lagi pula...",
'itu milikmu, Sakura. Bahkan perasaan ini juga milikmu'
"Terlalu besar", ...sangat besar, dan pose mu merentangkan tangan itu benar-benar lucu..
"Sakura!", ...jangan menggantinya! mungkin aku harus melakukan sesuatu..
.
.
"Sa...saa...kura?", ...kenapa kau malah diam saja!
"Ce...cepat pakai rokmu, Sakura!"...aku masih seorang laki-laki, mana mungkin aku tidak malu melihat,,pahamu...
.
.
Volume 3
"Jadi, kalian tidak pacaran?", sebuah kalimat tanya yang membuat Nozaki melirik Chiyo tajam. 'Dasar Mayu! kau bertanya pertanyaan bodoh, tapi aku juga ingin mendengar jawabannya...'
"Ee...to...", ...kau kebingungan, Sakura? Sudah pastikan...
"Oh Sakura? Kau tahu dia itu penggemarku, benarkan Sakura?"
'Apa aku salah bicara? ada apa dengan senyum terpaksamu itu? Kau sendiri yang bilang kalau kau adalah penggemarku, Sakura'
.
.
"Chi-nee chan!"
'Dari sekian kemungkinan, kenapa kau memanggilnya seperti itu! Aku bahkan belum berani memanggil nama depannya!'
.
.
"Mayu. Chi-nee chan bisa memanggilku Mayu, tanpa suffix",...lancang sekali kau Mayu! Jangan tertawa kepadaku, seringaian bodohmu itu. Aku harus tetap tenang, tapi aku iri padanya, adikku sendiri?
.
.
"Eh, Nozaki tidak usah seperti Mayu. Aku bisa makan sendiri"
'Kau curang, Sakura. Jangan menyiksa batinku seperti ini...'
"I..ini untuk Suzuki dan Mamiko"
"Oooh begitu rupanya. Ba..baiklah Nozaki-kun"
Cara ini selalu berhasil, apa kau begitu menyukai mangaku, Sakura Chiyo? Kau benar-benar membuatku bimbang.
.
.
"Jangan sentuh meja belajarku, Sakura. Apapun alasannya"
'Aku lepas kendali, apa aku membuatmu takut? Maaf... aku akan membuatmu menangis lagi malam ini..'
.
.
"Sungguh tidak mau meminta maaf pada Chi-nee chan?"..aku sangat ingin, Mayu...
"Memang apa yang telah aku lakukan?"
"Apa kau tidak sadar telah membentaknya?"...sangat sadar, aku hanya hilang kendali...
.
.
"Aku bertaruh besok mata Chi-nee chan pasti sembab dan merah"
'Aku bertaruh hal yang sama'
.
.
"maaf mengganggu waktumu. tolong datang kerumah untuk membeta lagi, Sakura"
"Pada akhirnya aku meminta maaf untuk hal lain, haaaaah~", napas berat dibuang begitu saja oleh Nozaki.
.
.
Volume 4
"Aa...a...aku, me..me...menang main catur dengan ayah. I...iyaah begitu, Nozaki-kun.",
'Jadi aku masih harus menunggu lebih lama lagi, Sakura?'
.
.
"Chi-nee chan...", Mayu tiba-tiba memeluk Chiyo. 'Aku bahkan belum pernah memeluknya, Mayu.. ayolah menggendong dan memeluk itu sesuatu yang berbeda...'
"Aku sangat ingin punya kaka perempuan. Tapi aku malah memiliki kaka seperti dia", 'Apa maksud kata dan tatapanmu?! Kenapa kalian berdua begitu akrab? Kalian baru bertemu kemarin! Jangan begitu akrab seolah kalian sudah berjumpa sangat lama, Mayu! Sakura! TAPI... Sepertinya aku hanya iri, sepertinya...'
.
.
"Cuaca yang cerah" ...secerah kalian berdua, hanya aku yang mendung. Aura macam apa ini...
Panggilan masuk?. 'Ayah? Mau apa lelaki ini'
'Kenapa kau masih menghubungiku!'
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin bertanya tentang Mayu. Dia ke apartemenmu kan! Suruh dia pulang!"
"Anak itu datang sendiri! Mana mungkin aku mengusir adikku sendiri?!"
"Kalau begitu kau larang dia untuk tidak menemuimu!"
"Aku tidak bisa melarangnya!"
"Kau ini kakaknya mana bisa kau memberikan pengaruh burukmu itu! Lebih baik hentikan saja semuanya!"
"Apa? Siapa yang mengatur disini?"
"Aku tidak mengaturmu! Ini untuk adikmu sendiri! Sudah, berhenti saja!"
"Berhenti? Aku kan sudah bilang tidak akan berhenti!", apa kau gila meyuruhku berhenti begitu saja..
"Berhenti atau kau tinggalkan Mayu dan keluarga ini..."
'Apa aku benar anakmu?'
"Baiklah, sampai aku menyelesaikan yang terakhir"
Ingin sekali rasanya aku membanting handphone itu, tapi semua nomer penting ada didalamnya. Sial! Kenapa seperti ini? KENAPA! Pikiran ku kacau!
"Pulanglah, Mayu", Maafkan aku Mayu, tapi aku yakin kau pasti mengerti...
.
.
"Ti..tidak apa-apa, aku jadi tahu sisi Nozaki-kun yang lain. Iya kan?", ..sisiku yang lain? Aku bahkan tidak ingin menunjukkan sisi memalukan ini, Sakura
"No..nozaki-k..." ..APA! aku benar-benar kacau!
"A..aku mau beli minuman. Apa kau ingin membeli sesuatu?".
Minuman yah? Mungkin berjalan sebentar akan menenangkan pikiranku. Lagipula, cuacanya sedang cerah. "Aku ikut saja, Sakura"
.
.
"Mungkin aku harus melebarkan pintu ini",
"Ha? untuk apa Nozaki-kun?"
"Biar bisa keluar bersama".
"Ayo"
Sepertinya kau mulai biasa dengan semua yang aku lakukan kepadamu, Sakura. Sepertinya aku akan menunggu lebih lama dari yang aku pikirkan.
.
.
Kau dilihat dari manapun tetap lucu. Caramu memilih minuman saja lucu, apa harus kau menyentuh semua minuman itu? Aku sungguh ingin tertawa...
.
.
Apa yang kau lakukan Sakura? Jangan memaksa untuk menyentuh yang lebih tinggi! BURUK! Aku tidak bisa lepas dari matamu!
Bagaimana caraku menghentikan pandangan liar ini? Aku jadi mengingat insiden paha itu, hah! Kenapa aku jadi mesum!
"Sa..sakura, kau mau capucino kan? Iyakan?" bodoh, kekikukan ini benar-benar bodoh... Aku tidak yakin bisa menunggu, Sakura...
"Sakura"
"Ha...hai",
"Mau jalan-jalan sebentar?", Mudah sekali membaca perasaanmu. jangan gugup! Kau akan membuatku salah tingkah.
"Aku kehabisan ide", alasan bodoh..
.
.
"Nee, Nozaki-k.."
"Ada apa, Sakura?"
"Kau ini senang sekali memotong ucapanku?", tidak.. hanya saja aku tidak nyaman dengan suffix itu. Kau bahkan bisa memanggil Mayu dengan nama depannya..
.
.
Kata-katamu membuatku tersentak : "Kau seperti bukan Nozaki-kun", sukses membuyarkan pikiranku.
"Biasanya, kalau kehabisan ide kau selalu bertanya padaku, iya kan? Kita selalu bertukar pikiran. Meskipun kadang idemu selalu aneh...", dia tertawa kecil. "...tapi ketika sudah diterbitkan benar-benar menakjubkan. Aku bahkan ingin terus membaca karya Yumeno Sakiko. Aku jadi ingat tanda tangan darimu, waktu itu aku...",aku masih menunggu, Sakura...
"Kau kenapa?"
"Aku... benar-benar menjadi penggemar beratmu, Yumeno Sensei!" ...penggemar yah?...
Senyuman yang indah, sangat tulus aku bisa merasakannya. Sepertinya aku benar-benar harus menunggu. Apa yang kau ragukan, Sakura?
Aku senang mendengar semua ucapanmu tapi ingin rasanya aku hapus ingatanmu dari kata penggemar!
.
.
"Sakura"
"Iya"
"Sampai kapan kau akan membaca karyaku?"
"He?",polos!
"Sampai aku menikah, menjadi seorang ibu, lalu menjadi ibu mertua dan menjadi nenek. Sepertinya aku tidak bisa lepas darim..",lanjutkan! Aku akan menunggu, Sakura
"...mangamu" ...benar-benar, sampai kapan aku harus menunggu?
.
.
"Kalau begitu terus saja membuat manga. Jangan berhenti, Nozaki-kun!",jangan menatapku sambil tersenyum sepert itu, sudah berapa kali kau tersenyum hari ini? Tapi sungguh, itu cukup membuatku sedikit lebih tenang.. sedikit...
"Kalau aku berhenti. Apa yang akan kau lakukan, Sakura?"
"Mungkin aku akan demo besar-besaran agar kau tidak jadi berhenti"
Jawaban macam apa itu, Sakura?
.
.
Volume 5
Baiklah. Aku sudah berjalan di hari yang cerah, berbincang dengan Sakura, menatap senyumnya. Tapi mengapa pikiranku masih kacau?
"Aaah, untung aku tidak menumpahkan tintanya", jangan buat aku menggambar ulang!
"Ah suman, Sakura"
"Bu...bukan salahmu, Nozaki-kun". Untunglah tidak harus menggambar ulang. "Belum dapat ide juga?". Bukan itu yang harus aku pikirkan, kertas dihadapanmu hampir habis karena gambarmu yang buruk. Apa Sakura mengatakan sesuatu?
.
.
Aku sudah tidak bisa menahannya. Pikiranku sangat kacau. Berhenti? Apa menurut ayah semudah itu aku berhenti. Karya terakhir ini benar-benar membuatku bingung sendiri, aku tidak benar-benar yakin ingin menghentikan semua ini, tapi Mayu.. kenapa kau sungguh egois, ayah?
Aku butuh sandaran! Entah kenapa tubuh ini berjalan sendiri kepadanya. Tubuh ini ingin sekali mendekap tubuh mungil itu. Pikiranku kacau...
"Nozaki-kun?",
"Jangan menoleh ke belakang, Sakura". Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapanmu, Sakura..
Pundakmu benar-benar sempit dan berapa berat badanmu. Tulang bahumu benar-benar terasa.
"Nozaki-kun kau baik-baik saja kan?" mana mungkin aku baik-baik saja...
.
.
Semua kalimat dan pertanyaan bodoh, kenapa kalian keluar dari mulut ini. Aku hanya berputar-putar di masalah yang sama. Seperti bendungan, kepala ini sudah tidak mampu membendung pikiran kacau yang sedaritadi bersemayam. TIDAK! Aku lepas kendali... aku.. menangis...
"Nozaki-kun?",aku tidak bisa menjawabmu, Sakura. Isak tangis ini akan terdengar, dan aku tidak ingin kau mendengarnya.
"Kau baik-baik saja?". Tidak, bahkan aku yakin kau tahu aku tidak baik-baik saja. Air mata ini sudah membasahimu, Sakura..
"Sakura, aku tidak bisa membuat manga lagi", Aku melepaskannya. Kalimat ini memecah tangisku.
"Nozaki-kun? A...apa maksudmu, No..nozaki-kun?"
Jangan bertanya, Sakura..aku takut untuk sekedar menjawabnya. Bahkan aku harus mengumpulkan semua keyakinanku untuk mengucapkannya: "Aku akan berhenti membuat manga".
"Jangan bercanda! Yumeno sensei!"
Kenapa kau berputar? Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini. Cukup berikan bahumu, Sakura...
"Nozaki-kun...",jangan menangis, Sakura. Aku terlalu sering membuatmu menangis.
Tanganmu begitu mungil. Hangat. Aku tidak bisa menahan diri untuk membenamkan kepalaku lebih dalam, sampai aku bisa mencium aromamu dari leher kecil ini. Menenangkan, namun air mata ini belum berhenti juga.
..
Aku sudah lebih baik, tapi jangan lepas rangkulanmu. Maaf aku harus menahanmu, Sakura.
"Maaf Sakura. Sebentar lagi saja"
Sakura, kenapa badanmu pendek sekali? Aku tidak kuat menahannya.
"No...no..no...nozaki-k...".
"Maaf, Sakura. Aku pegal"
Posisi ini benar-benar lebih baik. Apa kau bisa mendengar detak jantungku? Bukan kah ia berdegup lebih kencang dari biasanya?
.
.
"Aku ingin membaca karya-karyamu. Aku ingin terus membaca manga dari tangan ini",kau menggenggam tanganku dengan mudah, tapi entah kenapa seperti seorang anak menggenggam tangan ayahnya. Bisakah kau tumbuh sedikit lebih besar, Sakura?
"Ka..kaa.. karena a..ku..."
Yah, aku masih menunggu Sakura meski aku tahu apa yang akan kau katakan.
"Karena aa...aku... penggemarmu!",menangislah Sakura, aku masih akan menunggumu..
"Aku penggemarmu, Nozaki-kun",apa yang bisa aku lakukan? Mendekapmu seperti ini? Apa ini cukup untuk menguatkan perasaanmu, Sakura Chiyo?
"Aku tahu", aku benar-benar tahu..
.
.
Jadi ini yang membuat matamu selalu lebam sehabis menangis? Apa kau terlalu lelah, Sakura? Kalau begitu berhentilah jadi penggemarku, agar kau tidak perlu menangis setiap malam. Setidaknya aku tidak perlu lagi menunggu. Wajah pulasmu membuatku ikut mengantuk.
.
.
"Ada apa?". Kenapa kau diam saja, Mayu? Kertas? Laci?
"Itu! Apa yang kau lakukan?",
"Maafkan aku. Tadinya aku hanya ingin meminta ongkos pulang karena uangku habis. Tapi begitu sampai kalian sedang tertidur, entah apa yang kalian lakukan hingga tertidur dalam keadaan seperti itu"
"Tidak usah dibahas", memalukan...
.
.
"Kau sudah membacanya?"
"Sudah. Aku mengerti kenapa kau begitu marah pada Chi-nee chan",
"Aku tidak marah, hanya saja ini masih rahasia", benar-benar rahasia...
"Cerita akhirnya belum terbentuk. Aku penasaraaan bagaimana akhir ceritanya...", tidak usah menggodaku. Bahkan aku sendiri penasaran dengan akhir ceritanya.
.
.
"Wah... kau membuatnya menangis lagi?"
"Dia menagis dengan kemauannya sendiri" ...sepertinya...
"hnmmmm..."
"Hari ini terakhir kalinya dia menjadi asistenku"
"Ah, soal keberangkatannya ke Amerika?"
"Begitulah, dan juga aku memang tidak akan membuat karya lagi. Yang kau baca adalah karya terakhirku. Bahkan aku terpaksa harus mengakhiri kisah Suzuki dan Mamiko, sangat berat untukku"
"Jadi lebih berat melepas karyamu daripada melepas asisten tersayangmu?"
"Jangan bodoh, aku bisa bertemu dengan asisten-asistenku kapan saja", benar tapi aku masih saja mengelak. Kalau bisa, kalau aku tahu kepastiannya, mungkin aku cukup punya keberanian untuk menghentikan kepergiannya. Tapi aku tidak bisa, walau sangat ingin. Sangat ingin.
"TUNGGU! KAU BERHENTI?", Mayu! Kenapa kau berteriak! Kau membuatnya terbangun. Aku susah payah agar dapat moment ini!
.
.
"Akhirnya aku menyerah juga. Sekarang aku bingung bagaimana mengakhiri kisah Suzuki dan Mamiko. Ah, biar aku telpon Ken-san nanti. Tenang saja Mayu", apa Ken-san mau menerima naskah ku sekaligus yah? Aku baru terpikir apa yang terakhir ini bisa naik cetak, ini adalah cara satu-satunya untuk menguatkan perasaanmu, Sakura...
.
.
Kelulusan yah? Dua minggu tidak bertemu dengan Sakura rasanya aneh juga. Bagaimana saat dia di Amerika, Apa aku bisa tahan untuk menunggu? Kenapa kau tidak menyerah saja Sakura Chiyo...
Lihat aku masih bisa melihatmu melambaikan tangan kecilmu itu. Kau pasti akan segera menanyakan kancing pertama seragamku.
"Nozaki-kun, kancing bajumu sudah ada yang mengambilnya?", ada apa dengan wajahmu, Sakura? Aku ingin tertawa melihatnya..
"Aku mencopotnya sendiri"
"A...apa!? Memangnya kenapa?"
"Kalau tidak begini akan ada yang mengambilnya", apa dengan begini perasaanku bisa sampai padamu? "Ini untuk mu, Sakura"
Sepertinya kau senang...
"U...untuk ku, Nozaki-kun?", ia mengambil dan menggenggamnya. Mendekapnya dalam dada. Kau benar-benar, senangkan?
"Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Kenapa? Mungkin karena kau penggemar beratku, Sakura"., sama seperti yang selalu kau katakan...
Lebih baik kau tidak usah tertawa Sakura, tawamu benar-benar palsu.
.
.
"Eto... Sakura senpai?"
"A..ada apa Wakamatsu?"
"Bisakah kau tersenyum? Kau terlihat murung...", apa kau benar-benar berhenti tersenyum?
.
.
Maaf Sakura, bahkan disaat perpisahan ini aku masih saja membuatmu bersedih. Apa dengan mengacak rambutmu kau bisa sedikit lebih ceria? Kau tahu, jantungku berdetak sangat cepat sampai rasanya tidak sanggup menatap wajahmu, kurasa tersenyum saja cukup untuk foto...
.
.
Yumeno Sensei's note
Terimakasih untuk para pembaca yang sudah setia membaca 'Komikus Nozaki'. Aku pikir ini akan menjadi karya terakhirku. Oh ya, untuk cerita akhirnya tidak akan aku muat dalam Tankōbon melainkan dalam majalah komik. Bersabar yah...
Untuk Sakura Chiyo cepatlah kembali dari Amerika, Nozaki-kun menunggumu untuk akhir ceritanya!
Jya ganbatte!
.
.
End
.
.
Gadis itu sudah menghabiskan waktunya seharian hanya untuk membaca manga itu. Bukan karena ia yang lambat membacanya, jika Chiyo mau mungkin beberapa jam saja ia sudah melahap semua manga itu. Hanya saja, ia selalu terhenti dan menangis di beberapa bagian. Ada sedikit kekesalan dalam dirinya. Kenapa dia tidak bisa mengatakan 'suka' dengan beitu jelas kepada Nozaki.
"Nozaki-kun.. kau tahu perasaanku? Lalu apa yang kau tunggu! Jika kau menyukaiku, katakan! KATAKAN!"
Tangisnya benar-benar pecah. Bukan saja karena kekesalan pada dirinya sendiri melainkan pada Nozaki yang diam-diam tahu perasaanya tapi hanya diam saja. Bahkan selalu bersikap tidak peka.
.
.
.
Jepang, enam bulan berlalu
.
.
.
Sakura Chiyo, menyambangi sebuah rumah sederhana. Rambutnya sudah semakin panjang hingga menutupi bagian belakang tubuhnya. Dengan sebuah pita manis ia menarik sebagian rambutnya seperti biasa, seperti saat kuliah dulu. Ia menarik napas yang cukup panjang. Tangannya bergerak cepat menekan bel rumah tersebut.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu itu. "Chi..yo..", gumamnya. "Ayah!", teriak wanita itu. Kemudian seorang pria yang sedikit lebih tua datang menghampiri mereka. "Sakura... Chiyo..", serunya. Chiyo hanya tersenyum dan mengucapkan salamnya.
"Apa dia ada?"
"Masuklah, dia ada di kamarnya", jawab wanita berambut pendek itu.
"Hei, kau sungguh?"
"Ayah, biarkan saja. Ini waktunya untuk anak kita"
"Baiklah"
"Aku permisi..."
Chiyo menaiki anak tangga dengan hati-hati namun penuh kekesalan, dia sungguh tidak sabar bertemu dengan orang itu. Ia terhenti di depan pintu kamar yang tidak tertutup. Menatap seorang pria yang sedang duduk di kursi depan meja kerjanya. Pria itu menatap langit di luar jendela. Hembusan angin dapat Chiyo rasakan mengoyak geraian rambutnya, walau sedikit.
"Hari minggu masih saja bekerja, Nozaki-kun?", tanya Chiyo. Ia memasuki ruangan itu penuh dengan ketegangan, namun ia mencoba untuk lebih rileks. Pria itu tidak sedikitpun menoleh padanya hingga Chiyo berdiri tepat disampingnya. Pria itu terkejut bukan main dengan angin yang menyibakkan rambut panjang Chiyo.
Chiyo membalikkan tubuhnya."Apa kau tidak mendengarku, Nozaki-kun?", serunya agak kesal.
"Aku mendengarmu, Sakura"
Mereka saling tatap. Chiyo memalingkan wajahnya, jelas kekesalan membaca manga Nozaki masih tersimpan apik di wajahnya. Ia mengeluarkan manga karya Nozaki dari tasnya. Membantingnya di atas meja. Nozaki tahu hal ini akan terjadi, hanya dua kemungkinan saat manga ini diterbitkan; Chiyo menerima atau Chiyo menolak.
"Bukankah sudah terlalu telat, Sakura?", tanya Nozaki, ia masih tenang. Chiyo tidak menghiraukannya.
"Apa yang kau tunggu! Kau bilang kau tahu perasaanku,lalu kenapa?", nada suaranya mulai meninggi. Ini seperti puncak kekesalan yang Chiyo rasakan.
"Aku masih menunggu, Sakura. Kata-kata itu... aku masih menunggunya"
Pria itu tersenyum lembut. Tangannya menggapai jemari Chiyo yang bebas tergantung dari bahu. Chiyo bisa merasakan panas ditubuhnya semakin memuncak.
"Kau berbohong Nozaki-kun.. perasaanku...", air mata Chiyo mulai mengalir. Satu tangan bebasnya menyeka air mata. Bahkan sudah tidak bisa dihapus. Air mata itu masih mengalir meski ia tahan dengan telapak tangannya.
"Kau tahu, tapi tidak mengatakannya. Kenapa Nozaki-kun?"
"Aku hanya ingin meyakinkan perasaanmu"
"Aku sudah cukup yakin, tapi kau terus saja bersikap seolah kau tidak peka, tidak tahu apa-apa.."
"Kau selalu menyebut dirimu penggemarku, Sakura"
"I...iitu karena kau sendiri yang bersikap seperti itu jadi aku... tidak mau berharap lagi, tapi kau... ah sudahlah! ini salahmu, Nozaki-kun!"
"Kenapa?"
"Ka...karena... kau tahu, tapi tidak bilang padaku. Padahal kau juga merasakan hal yang sama"
"Aku hanya menunggu, Sakura. Bagaimana aku bisa yakin kau akan menerimaku kalau kau selalu menyebut dirimu penggemarku?"
"i..it..ituuu"
"Sakura...", Nozaki mengambil telapak tangan itu. Mata Chiyo terkejut namun senyum simpul yang manis keluar dari bibirnya, Ia menatap pria yang disukainya tengah memasangkan cincin di jari manisnya yang mungil.
"Kau terlambat, tidak... kau terlalu lama Sakura Chiyo"
Kau pikir siapa yang membuatku mengulang tugas akhirku?
"Jadi, bagaimana akhir ceritanya?"
Nozaki dengan lembut menarik tubuh Chiyo pelan, hingga bibir mereka bertautan lembut.
"Seperti ini...", jawab Nozaki. Ia memeluk Chiyo dengan erat namun tidak menyakitkan. "Aku mecintaimu, Sakura Chiyo. Menikahlah denganku.."
Chiyo yang membalas pelukan hangat Nozaki kemudian menarik dirinya, Menatap mata lelaki itu begitu dalam.
"Menyerahlah, Sakura... aku sudah menciummu-kan?", pinta Nozaki lembut.
"Aku hanya penggemarmu, Nozaki-kun...", seketika mata Nozaki membelalak besar. Ia mengendurkan pelukannya. "Aku hanya bercanda, jangan lepaskan pelukanmu, Nozaki-kun"
"Kalau begitu menyerahlah"
"hai...hai...", ia terdiam. Entah kenapa rasanya masih sama seperti saat pertama aku menyatakan perasaanku padamu, Nozaki-kun..
"A..a...ku...", jantung Chiyo bedegup sangat kencang. Ditambah Nozaki yang sudah tahu perasaanya tapi tetap memaksa Chiyo mengungkapkan perasaannya sendiri.
"Aku menunggumu, Sakura", sela Nozaki.
"Aku tahu! Sebentar! Ini tidak semudah yang kau bayangkan, Nozaki-kun". Nozaki mulai geram. Ia menarik Chiyo kedalam dekapannya lagi, kini lebih dalam. Bahkan ia sudah memangku tubuh mungil itu. "No..no..zaki-kun..."
"Aku maa-siiiih men-nung-gu, Sakura"
Chiyo menarik napasnya dalam. Mencoba menarik semua keberaniannya. Kini ia hanya berharap tidak ada yang salah dengan lidahnya. "A..ku... mencintaimu, Nozaki-kun". Aku mengatakannya!
Chiyo membenamkan kepalanya ke dalam dekapan Nozaki.
"Umetarou. Panggil aku Umtarou, Chiyo"
Chiyo berbalik memeluk Nozaki dengan erat, membelai rambut Nozaki dengan lembut. "Hai, suamiku". Lalu ia tertawa geli karena ucapannya sendiri.
"Jadi kita sudah menikah?"
"eh?"
Nozaki bangun dari kursinya. Ia mengangkat Chiyo yang ada dipangkuannya lalu menggendongnya dengan bridal style. "Aku ini tetap seorang lelaki, SAKURA CHIYO"
"Chotto... matte! Matte! Nozaki—kun!"
silahkan menerka sendiri apa yang mereka lakukan~
"ekhem!", suara berat terdengar dari balik pintu.
"Ayahmu, Nozaki-kun!", Nozaki melirik Chiyo tajam. "Maksudku, Um...um..umm"
"CHIYOOOOOOOOO!"
Sudah seperti ini tapi jantungku masih berdegup kencang. Kau selalu membuatku jatuh cinta, Nozaki Umetarou .. Ayo kita menikah~~
.
.
.
Happy ENDING
.
.
A/N : Terimakasih untuk readers yang setia membaca fanfiction ini sampai akhir. Cerita ini memang tidak sempurna tapi author berharap kalian senang membacanya. Terimakasih sekali lagi.
Thankyou for readers who have loyalaty to read this fanfiction until the end. This story/fanfiction is unperfect but i hope all of you have enjoyed and happy to read them. Hontou ni arigatou gozaimasu~~
