Seandainya aku tidak berbicara dengan White waktu itu, semuanya tidak akan pernah terjadi...

Chapter 28 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre–Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 28

White

"Dahulu kala aku hanyalah seonggok kekuatan yang berbentuk pohon, dan aku tidak memiliki perasaan kepada siapapun, tersenyum bahkan tertawa pun aku tidak bisa, tapi…. Aku mempunyai seorang teman, dialah teman pertamaku….dan nama anak itu adalah White…"

a more years ago!

Beratus-ratus tahun yang lalu, daratan bumi natural, rumah-rumah manusia hanya sedikit saja, masih banyak hutan-hutan yang belum dikelola atau dimanfaatkan oleh manusia, mereka tidak memiliki chakra untuk mempermudah pekerjaan mereka, klan-klan pun masih belum terbentuk, orang-orang yang tak mengenal arti chakra itu pun bergantung pada satu sama lain, bergotong royong untuk mencapai tujuan bersama-sama, tidak ada perang, tidak ada anak yang harus dikorbankan, itulah dunia masa lalu yang tidak akan pernah dilupakan Juubi. Dunia damai tanpa peperangan….

Pohon besar menjulang ke atas langit, orang-orang menganggap pohon itu sebagai pohon kramat dan menyembahnya sebagai tuhan, tapi anak kecil berumur 5 tahun menentang hal itu, ia menganggap pohon itu adalah makhluk hidup biasa, yang seharusnya dirawat, bahkan ia menganggap pohon Shinju sebagai temannya, itu adalah hal yang konyol untuk teman-teman seumurannya. Namanya White… anak kurus bertinggi 140 cm dan berambut putih lurus. Ketika White berjalan di tengah-tengah pemukiman warganya, anak-anak menertawakannya, sebagai anak yang aneh.

"Itu White! dia anak teraneh yang pernah aku temui… dia mengira dewa Shinju adalah teman, benar-benar aneh…hahaha" ejek salah satu bocah yang berada tidak jauh darinya, mereka bertiga berdiri di samping White sambil tertawa terbahak-bahak.

White pun tak ambil pusing dengan permasalahan itu, ia melanjutkan jalan kakinya untuk menuju pohon Shinju, ia melewati hutan belantara, butuh beberapa menit untuk tiba ke lokasi itu, dan ketika dia sampai ke tempat tujuannya, White hanya bersandar di pohon itu tanpa menghiraukan garis yang berfungsi untuk pembatas pohon-pohon yang dikeramatkan.

"Aku tidak tahu, kenapa orang-orang menyembahmu… aku pikir kau itu hanyalah pohon yang besar, tidak lebih, bahkan aku bermimpi kau bisa hidup dan bermain bersamaku, apakah aku yang bodoh ya? hah? Benar, aku benar-benar bodoh, siapa saja yang bicara dengan pohon itu akan dianggap orang gila termasuk aku… Ahhh! Aku bodoh, kau bodoh, semuanya bodoh!" teriak White sambil mengacak-acak rambutnya karena kesal, namun pohon itu tetap saja diam, hanya daun-daun berwarna merah yang jatuh dari ranting raksasanya, tertiup angin entah ke mana.

"Aku pikir, aku memang bodoh… baiklah aku akan pulang, bicara dengan pohon, heh, aku bodoh…"

White berjalan seraya merundukkan kepalanya, letih dan lelah bersamaan dengan kecewa karena mimpi yang dialaminya hanya bualan semata, ia kembali melewati hutan yang lebat, dan ketika ia sudah kembali ke desa, langit telah berubah menjadi gelap, malam pun tiba. Ia pulang dengan membawa nafas yang terengah-engah, ia langsung beristirahat di kamarnya, melihat foto orang tuanya yang sudah meninggal dunia. "Aku benar-benar sendirian…" senyuman kedua orang tuanya, semakin menambah penderitaannya di tengah malam, bulan begitu besar ketika itu, dan bintang-bintang terlihat sangat banyak daripada zaman sekarang.

Hari berganti dan hari ini, kepala desa membawa kabar hangat, istrinya berhasil melahirkan seorang anak perempuan, ini adalah kegembiraan banyak orang karena perempuan di sini sangatlah sedikit, bahkan hanya beberapa saja, dan dia menamainya bayi itu Kaguya.

10 tahun kemudian…

Hari hari penuh kesendirian dialami White begitu saja, penuh pilu dan kesedihan, namun sekarang semua itu sudah biasa menurutnya, seperti hari-hari biasa, ia menyempatkan diri untuk pergi ke pohon Shinju. Sudah kesekian kalinya White berdialog sendiri dengan pohon besar bisu itu, seorang gadis berambut putih pun melihatinya dari kejauhan..

"Hihi, White aneh, dia selalu mengajak pohon itu bicara, apakah ini sebabnya, orang-orang selalu menjauhinya?" Kaguya berjalan mengendap-endap guna mendekati White, dan White sepertinya sadar akan hal itu, ketika suara ranting terinjak oleh alas kaki Kaguya.

"Siapa itu?"

"Sssttt!" Kaguya malah memberi kode diam dan bersikap seolah-olah dia yang tidak ada di sana. Wajah White pun memerah, ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi. "J-jangan-jangan k-kau mendengarku? T-tidak m-mungkin, s-sekarang a-aku benar-benar akan d-dianggap orang gila oleh semua orang!"

"Tidak akan-tidak akan, aku akan mengunci mulutku rapat-rapat White, hihi."

"White? aku ini lebih tua 5 tahun dibanding denganmu, tau.."

"Jadi kau ingin aku laporkan pada orang-orang desa?"

"Tidak-tidak! ya ya kau boleh panggil aku sesukamu!"

"Hehehe… boleh aku duduk di sampingmu, White?"

"Hmm, tidak masalah…." White bergeser sedikit, ketika Kaguya duduk di sampingnya, di akar tunjang yang timbul dipermukaan tanah itulah mereka berdua tertawa bersama, bersenda gurau tak kenal waktu. Mereka merasa telah disatukan oleh pohon itu.

"Kaguya?"

"Hmm?"

"Aku mempunyai rahasia . . . ."

"Apa itu…"

"Pohon ini benar-benar hidup… maksudku dia bisa bicara."

"Heee? Jangan konyol haha, tidak mungkin dia bisa berbicara.." Kaguya tertawa terbahak-bahak mendengar itu, perutnya terasa sakit jika teringat ekspresi White yang serius bukan main, dan tiba-tiba saja White menatap wajahnya dengan serius.

"Aku serius, Kaguya.."

"Kau, tidak mungkin itu bohongkan?"

"Aku berbicaranya dengannya, di alam mimpi…"

"Pfft… hahahaha. Kau membuatku tidak bisa bernafas White, kau lucu sekali, Wkwkwk perutku sakit mendengar leluconmu…"

"Berhentilah tertawa Kaguya, itu seperti kenyataan, dia berbicara denganku panjang lebar, dan kita berteman di sana, dia memiliki tubuh yang unik dengan kulit berwarna putih dan kepalanya botak, ia selalu ingin tau tentangku, bagaimana aku hidup, dan sebagainya.. berbicara dengannya sangat menyenangkan…"

"Kau ini… sukanya bercanda, jangan membuatku tertawa lagi White… jangan berbicara yang aneh-aneh , atau aku tidak mau berbicara denganmu lagi.."

"Heh, tapi itu benar… aku tidak bohong.."

"Aku bosan mendengar bualanmu itu, aku pergi dulu jaa, dasar aneh." Wajah Kaguya pun dibuat cemberut oleh White, ia marah ketika White membicarakan hal yang aneh, ia tidak bisa mempercayai White, karena ia tidak mau dianggap aneh juga oleh warga desa, dan akhirnya Kaguya meninggalkan White sendirian di sana, tanpa ada seorang yang menemaninya.

"Kaguya? Satu-satunya orang yang mau berbicara denganku, pergi meninggalkanku begitu saja.. aku memang benar-benar bodoh…" pemuda berumur 15 tahun itu menundukkan kepalanya, menggores-gores tanah dengan ranting kecil yang ia pegang, ia tidak tahu harus berbuat apalagi, kini semua orang tidak lagi mempercayainya. Marah tidak bisa, tertawa pun sudah tidak mampu, dan White hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri, meskipun begitu ia tidak menyesal karena sudah 10 tahun ini ia mempercayai pohon tersebut, karena di setiap tidurnya ia terus bermimpi bertemu dengan wujud pohon itu. dan itulah yang membuat kesepiannya hilang walau sedikit.

"Aku teringat betul, waktu pertama ia datang ke dalam mimpiku.."

Dream White .

Mimpi itu bagai kenyataan, waktu itu White sedang makan malam di meja sendirian, di temani lampu kecil yang tepat berada di atas meja itu, penerangan yang seadanya, dan White pun juga makan dengan lauk seadanya. "Awmm. Sendiri lagi kah? aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini," pikir White sambil sesekali memakan makanannya sesuap demi sesuap. Dan ia terkejut ketika suara ketukan pintu terdengar dari dalam.

"Tumben sekali ada yang bertamu, kira-kira siapa ya?" White membuka pintunya pelan.. White langsung dikejutkan oleh pelukan pria asing plontos tersebut, pria itu menyrobot masuk tanpa izin dan makan semua makanan yang dimiliki White.

"ehhh! Kau ini siapa!? makan makanan orang tanpa izin!"

"Maaf White… aku lapar," balas pria asing itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal..

Dan itulah awal perbincangan mereka terjadi, dan sampai sekarang White sering didatangi pria yang mengaku bentuk asli pohon itu di setiap tidurnya..

White masih menggores-goreskan sesuatu yang tidak jelas di tanah liat, mengingat kejadian itu pun membuatnya semakin kesal. "Ahhh! Mungkin itu Cuma kebetulan!" teriak White sambil melempar ranting kecil itu ke depan tanpa melihat. dan seketika itu juga ranting itu kembali dan mengenai kepala White.

"Aduhh,, siapa yang berani-" White terperanga ketika ia mendapati pria yang ia maksud sudah berada di hadapannya, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi, ia mengusap-usap kedua matanya, mencubit kulitnya, dan membenturkan kepalanya di tembok.

"Ini bukan mimpi bodoh!" teriak pria itu, yang mengaku bernama Juubi.

"Juubi? Sebenarnya itu nama yang aneh… emmm, apakah kau benar wujud pohon ini?" tanya White penasaran. Walau dalam keadaan yang masih tak percaya, selang penghubung masih tersambung di leher bagian belakang Juubi, dan itu membuat White bingung.

"emmmm… bagaimana ya menjelaskannya White. bisa disebut aku adalah sosok tunggal yang diutus Juubi untuk menemuimu, tapi aku sendiri juga Juubi.. aduh aku bicara apa ini…"

"Hahaha, seperti biasa kau memang bodoh.."

"Hehehe.. kau juga sama bodohnya denganku…"

Mereka berdua pun berbicara satu sama lain, berjalan-jalan di hutan yang lebat, melihat air terjun bersama-sama, mencari ikan di sungai, dan terlihat canda tawa dari White, yang membuat Juubi tersenyum. Sebenarnya Juubi tidak bodoh, tapi ia berpura-pura bodoh hanya demi menghibur hati White yang kesepian, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika semua orang menjauhinya. Dan inilah cara terbaik untuk menghibur White.

'Dia berpikir bahwa aku adalah teman pertamanya kah?' batin Juubi yang bisa membaca isi hati White. ia pun tersenyum ketika melihat tawa White. "Ayo Juubi, kita berenang!"

"Baiklah! T-tapi aku tidak bisa berenang…"

"Hahaha, masak umur pemuda seumuranku masih saja tidak bisa berenang, ayo ke sini aku ajari nanti…"

"Hmmm, baik… byuuurrr! Tolong-tolong!"

Juubi pun tenggelam dan berakhir pingsan di tepi sungai. Malam hari telah tiba, langit biru tua bertabur bintang indah dan banyak adalah pemandangan yang kini disaksikan oleh kedua orang berbeda wujud tersebut, mereka membuat api unggun di pinggir sungai sambil menikmati hasil memancing ikan tadi siang, empat tusuk ikan bakar telah tersaji dan siap disantap.

"Mmm, ini enak.."

"Benarkan? Ikan bakarku memang enak Juubi, jika kau ingin memakannya, makan saja punyaku.."

"Tidak apa-apa nih?"

"Ambil saja, aku sudah kenyang kok. Terima kasih ya telah membuat hariku menyenangkan, aku memiliki seorang teman sekarang hehe… "

Juubi pun terdiam, tapi masih mengunyah ikan bakarnya, ia melihat mata White yang berkaca-kaca seperti ingin meneteskan air mata, senyuman itu terlihat jelas ketika api unggun berada di sekitarnya, dan Juubi merasa senang bisa melakukan sesuatu untuk White.

"Kau adalah temanku. Juubi, mulai sekarang mohon bantuannya ya…"

"Teman kah? baiklah! White.."

"Hihi.. habiskan-habiskan, setelah ini, ayo kita ke rumahku, ada sesuatu yang menarik di sana.."

"Aku sudah tak sabar, sekarang saja!"

"Emm, oke.."

Hari demi hari berlalu, dan mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama, sampai hari itu tiba.

Kaguya berjalan melewati pepohonan yang menjulang tinggi, wanita berambut putih itu ingin menemui White, di tempat biasanya ia mengobrol sendiri dengan pohon Shinju. Lalu ia melihat buah yang tiba-tiba jatuh dari ujung pohon. Buah berwarna oranye yang aneh tapi terlihat menggiurkan. Dan ketika itu Kaguya dalam keadaan lapar, tanpa pikir panjang ia memakan buah itu, dan semuanya yang akan terjadi berawal dari kesalahan besar ini. Juubi dan White tidak ada di sana, sedangkan buah itu hanya jatuh 100 tahun sekali, Juubi berdiam diri di pohon hanya untuk mengambil buah itu sewaktu-waktu terjatuh untuk menjauhkannya dari tangan manusia, tapi ia tidak tahu karena sedang asyik bermain dengan White. sampai ia menyadarinya. . . . secepat mungkin Juubi berlari menuju tubuh aslinya, meninggalkan White begitu saja.

"Kau mau ke mana, Juubi?"

"Sebentar, aku akan kembali."

"Buah ini enak," Kaguya mendangak ke puncak pohon yang tertutup awan. "Apakah di atas sana juga ada banyak buah seperti ini? tapi tidak ada orang yang berani memanjat pohon ini… sayang sekali yah. Crshh emm."

Dan tiba-tiba saja sesuatu mengalir dari dalam tubuh Kaguya, detak jantungnya pun meningkat derastis, dan Juubi sudah tiba dan menusuk Kaguya dari belakang dengan akar kayu yang terbentuk dari tangan kanannya. "Oughhh?"

"Apakah aku terlambat? Bagaimana bisa aku teledor seperti ini? membiarkan buah dewa di makan oleh manusia kotor .."

"S-sakit… W-white? A-ayah? Tolong aku.." pinta Kaguya dengan suara rintih dan pelannya, ia telah tersungkur di tanah dengan darah yang berceceran.

"Aku harus membunuhnya, sebelum terjadi kekacauan di dunia ini. hmmmm luka itu sudah cukup untuk membunuhnya, aku harus segera kembali ke tubuh asliku, atau akan terjadi sesuatu kepadaku, maaf White sepertinya pertemanan kita berakhir sampai di sini saja, terima kasih telah merubahku, pertemanan singkat itu tidak akan pernah kulupakan.." Juubi kembali ke tubuh pohonnya, dan setelah itu White melihat Kaguya yang telah tergeletak tak berdaya dengan darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya.

"S-siapa yang melakukan ini!" teriak White penuh amarah, ia pun menggendong Kaguya untuk segera membawanya kembali ke desa…"Tahan Kaguya, aku akan menyelamatkanmu…." White berlari sekencang-kencangnya, menerjang rerumputan dan pepohonan hutan, waktu itu White tidak bisa memikirkan apa-apa, hanya keselamatan Kaguya yang ada di benaknya, dan akhirnya White telah sampai ke desa…

"Hah hah hah? Kaguya… Kaguya…" ujar White sambil menyerahkan Kaguya kepada keluarganya, dengan cepat dokter desa pun bertindak untuk menutup luka Kaguya sedangkan ayah Kaguya masih syok atas kejadian yang menimpa putrinya.

"Siapa yang melakukannya, White?" tanya ayah Kaguya yang sekarang duduk bersama White.

White hanya diam, sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya menetes ketika melihat kilas balik saat Kaguya tergeletak bersimbah darah, ia berpikir saat itu, ia tidak ada di sampingnya. Gadis itu tersiksa sendirian tanpa ada seorang pun yang tau.

"A-aku memang bodoh, benarkan Hikari-san?"

"Apa yang kau katakan? kau sudah menyelamatkan putriku, tidak seharusnya kau menyebut dirimu bodoh, aku berterima kasih kepadamu, White. dan maaf jika aku beranggapan buruk tentangmu."

"Tidak masalah, itu sudah biasa untukku." Semburat senyum diperlihatkan White ditengah-tengah keterpurukannya, melihat Kaguya yang tengah diambang kematian, White pun hanya bisa berharap terhadap keselamatan Kaguya… selang beberapa hari semenjak kejadian itu, Kaguya akhirnya dinyatakan pulih, ini sebuah keajaiban, dan sesuatu aneh yang menolongnya adalah partikel berwarna hitam yang membentuk sebuah bulatan bulatan kecil di sekujur tubuhnya, matanya pun berubah menjadi putih, dan sikapnya berubah menjadi tempramental.

Ketika ditanyai tentang siapa pelaku dari penusuk itu, Kaguya menjawab dengan tegas. 'Pohon itu…. yang telah melakukannya..' Ayah Kaguya tidak percaya akan hal itu, dan Kaguya pun mencoba meyakinkan ayahnya, dan setelah berhari-hari dalam debat pendapat akhirnya warga desa memutuskan untuk menghancurkan pohon itu..

Kaguya masih tertidur di kamar dengan tubuh yang sudah tak biasa, ia merasa mempunyai kekuatan yang dahsyat dari dalam tubuhnya, "Aku tidak mau diacuhkan olehmu lagi White… termasuk pohon itu." dan Kaguya akhirnya menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya.

White tidak akan tinggal diam jika temannya disakiti.. dan itu terjadi begitu saja. White telah menghadang laju orang-orang desa agar tidak mendekati pohon itu walaupun hanya satu jengkal. "Aku tidak akan membiarkan kalian menebang pohon ini… aku akan melindungi temanku apapun yang terjadi…"

"Tapi dialah yang telah melukai Kaguya, White kau harus percaya itu!" bentak Hikari sambil membawa pedang yang tajam dan runcing.. semua pengikut kepala desa itu pun juga menyuarakan pendapatnya.

"Bukankah kalian telah menganggap pohon ini tuhan? Jika kalian menghancurkannya, kalian akan kena kutukan…"

"Kutukan? Heh… sebenarnya tanpa pohon ini pun, kehidupan kami akan tetap tentram, kitalah yang merubah hidup, bekerja sehari-hari untuk keluarga, bukan karena pohon itu…"

"Akhirnya kalian menyadari kesalahan kalian, tapi mengapa? Mengapa pohon ini yang harus menjadi korbannya? Aku-aku… tidak akan membiarkan kalian menyentuh temanku…!"

"Tchh hahahaha…" gelak tawa pun terdengar keras dari warga desa yang sebelumnya marah. Kata teman itulah yang membuat mereka tertawa sedemikian rupa. "Kau ini.. benar-benar membuatku muak White! lebih baik kau mati saja!"

Clppppp!

Tusukan itu adalah awal dari bencana dunia…

Ketika Juubi melihat kejadian itu, ia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri….

Manusia sampah itu sudah melewati batas…..

Juubi sangat murka… dan akhirnya ia menampakkan wujud aslinya…

"Kalian memang sampah, berani-beraninya kalian membunuh teman baikku…. Kali ini tidak akan ada ampun lagi… Teppenchi!" Duarrrr! dan tempat itu hancur luluh lantah, para warga desa telah lenyap, dan hanya tersisa satu orang saja..

Ootsuki Kaguya, dan setelah beberapa tahun ia mengembara untuk berlatih mengendalikan kekuatannya sambil mendekap kalung peninggalan White yang diberikan kepadanya. "Aku akan membalaskan kematianmu, White… aku akan mencari kekuatan untuk mengalahkan pohon itu…"

Flashback end…

"White adalah teman baikku, dia tidak memiliki rasa balas dendam sedikit pun, ia melihat seonggok pohon sepertiku sebagai teman. Dia melindungiku, merelakan nyawanya untukku, tapi kesalahan terbesarku ialah berbicara dengannya, jika saja aku tidak berbicara padanya, semua ini tidak akan terjadi…. dan untuk itulah aku ingin mengakhiri era dunia ini, dunia yang diciptakan dengan kekuatanku melalui salah satu anak Kaguya, yaitu Rikudou…"

White masih terkepung oleh tiga orang, Minato, Jiraiya dan Naruto kagebunshin. Bunshin spesial dengan menggunakan teknik mata sharingan Shisui. Dan di samping itu Naruto masih berusaha menyeret chakra Kyubi untuk masuk ke dalam tubuhnya, Kushina juga berusaha keras untuk membuat Kyubi tidak meronta-ronta saat diambil chakranya.

"Aku tidak akan membiarkan ini terjadi….!" disela-sela keadaan darurat itu, Kyubi berusaha menyemburkan bijuu dama yang telah terbentuk di depan mulutnya. Bijuu dama berwarna hitam gelap itu melesat ke arah Naruto yang masih berkonsentrasi untuk menarik chakra Kyubi ke dalam tubuhnya. "Tidak akan kubiarkan…" pungkas Kushina sambil mengekang leher Kyubi dengan rantai emasnya. Dan sekaligus mengubah jalur bijuu dama tersebut, menjadi ke atas langit-langit kegelapan.

"Bagus, bu…" puji Naruto sembari tetap berkonsentrasi. 'Diriku sudah kubelah menjadi dua bagian untuk menyelamatkan Sensei, dan aku butuh tingkat kekuatan yang lebih untuk menarik chakra Kyubi keluar dari tubuhnya.. jika tidak maka kekuatanku tidak akan bertambah… aku harus melakukan sesuatu.' Naruto berambut putih masih berusaha keras untuk menarik chakra Kyubi. Kushina pun juga mulai kelelahan akibat menahan pergerakan Kyubi.

"Sebentar lagi, chakra Kyubi akan masuk ke dalam tubuhku… aku harus tetap terjaga."

"Bocah sialan!" gumam Kyubi penuh amarah.. chakranya pun terus tersedot ke dalam tubuh Naruto, perlahan-lahan tapi pasti. "Sedikit lagi Naruto, ayo berjuanglah…" batin Kushina sambil melihat Naruto yang berjuang keras menarik chakra Kyubi ke dalam tubuhnya.

Dan pada akhirnya… Chakra Kyubi berhasil ditarik oleh Naruto sepenuhnya. "Aku berhasil." Seketika itu juga tubuh Naruto menyala-nyala dan api chakra Kyubi telah dapat ia kendalikan seutuhnya, meskipun chakranya akan berkurang sedikit demi sedikit, tapi ini adalah cara tercepat untuk mendapatkan kekuatan.

"Dengan ini pasti bisa.."

"Yosh! Kau berhasil Naruto, ibu bangga kepadamu.."

Wajah Kyubi sangat murka, "Kau telah membuatku marah besar Naruto, jangan kau pikir kau bisa kabur dari amarahku! Bijuu da-!" Bijuu dama berukuran raksasa telah terkumpul di depan moncong Kyubi, lalu Naruto melentangkan tangannya serta menurunkan kayu-kayu pondasi berwarna merah untuk mengekang Kyubi.

"Kau terlalu lemah.." Brukk! Kyubi pun terjatuh ke bawah dan tubuhnya tak bisa digerakkan lagi, ia benar-benar kalah sekarang….

Di tempat lain, White masih terkepung tiga orang bergelar sannin. 3 orang yang sudah terselubungi chakra senjutsu telah mengincarnya sejak tadi. Regenerasi White berjalan dengan sangat cepat, hanya dalam hituangan detik, tubuhnya sudah kembali seperti semula.

White pun melihat ke tempat Kyubi dari kejauhan.. "Hah? Sepertinya dia butuh bantuan, dasar monster tidak punya otak.." tanpa memperdulikan ketiga orang itu, White sudah berada di atas kepala Kyubi dengan kecepatan cahaya. "Kau-? Jangan-jangan kau sudah mengalahkan Minato dan Jiraiya-sensei?" tanya Kushina terperanga ketika melihat White muncul di atas kepala Kyubi.

"Tidak mereka belum mati… baiklah Kyubi, aku akan melepaskanmu dari belenggu ini… setelah ini mengamuklah… dan jangan beri mereka ampun… semuanya akan berakhir dengan cepat ketika kau telah bersungguh-sungguh…"

"White-sama?"

"White pun turun dari kepala Kyubi dan mengangkat gerbang merah itu perlahan-lahan ke atas dengan ayunan lembut. Setelah beberapa gerbang itu terangkat, akhirnya Kyubi telah terbebas dari belenggu itu.

"Kali ini, kau tidak akan kuampuni Naruto!" teriak Kyubi sambil mengerahkan seluruh chakranya, hasilnya tubuh Kyubi telah diselimuti oleh chakra berwarna oranye, dan hal itu membuat perairan bergelombang..

"Kekuatan yang dahsyat. Apa aku bisa mengalahkannya?" pikir Naruto cemas, disaat-saat seperti ini dia tidak bisa berpikir dengan jernih, ketenangannya dalam menganalisa hilang dalam sekejap, ia pun hanya memikirkan cara untuk selamat dari amukan Kyubi, "Bersenang-senanglah, Kyubi.." ucap White sambil menepuk kaki Kyubi dan meluncur langsung ke tengah-tengah tiga orang yang telah menunggunya.

"Maaf telah membuat kalian menunggu, Minato, Jiraiya, dan Naruto bunshin?"

Jiraiya pun memberikan kode kepada Naruto dan Minato untuk menjalankan rencana kedua guna mengambil mata Obito yang berada dalam kantung ninja White, dan mereka bertiga sudah tahu akan rencana tersebut dan memutuskan untuk menyerang White setelah sudah siap.

"Seranglah dari manapun, aku masih ingin bermain-main dengan kalian.. tapi setelah ini akan kupastikan cerita kalian berakhir…"

"Kita tidak tahu sebelum mencobanya… kami bertiga akan mengalahkanmu White.." balas Minato dengan wajah serius. sedangkan di dunia nyata sudah dua minggu lamanya Naruto tidak sadarkan diri, dan itu menimbulkan kepanikan beberapa kalangan masyarakat desa, mereka pun terus berdoa untuk kesadaran sang Hokage, dan teman-teman dekat Naruto juga seringkali menengok perkembangan terkini mengenai kondisi Naruto sekarang, dan paling akhir… Sakura, Kakashi, Tsunade dan beberapa orang yang menjenguk Naruto melihat rambut Naruto berubah menjadi kuning, dan kembali menjadi putih itu berangsur-angsur seterusnya sampai seminggu lamanya, dan ayah Ino yang memiliki jutsu kebatinan menganggap kejadian itu tidak biasa.

"Bagaimana Inoichi?" tanya Tsunade yang meminta Inoichi untuk memeriksa keadaan sang Hokage.

Saat Inoichi menyentuhkan tangannya ke dahi Naruto, tiba-tiba saja ia terlempar dan menghantam dinding. "Kekuatan menakutkan apa i-ini?"

"A-apa yang sebenarnya terjadi, jelaskan Inoichi?"

"A-aku tidak tahu, tapi aku pikir… Naruto sedang bertarung dengan monster…"

Semua orang yang berada dalam ruangan itu terkaget mendengar kata-kata dari Inoichi-san, ia pun berdiri dan berusaha tetap tenang walau kakinya tidak setenang apa yang mereka pikirkan, kakinya gemetaran setelah menyentuh dahi Naruto dengan jutsu penglihatan pikiran.

"Kekuatannya terlalu besar sehingga aku tidak bisa masuk dan memeriksa pikiran Naruto, tapi aku berspekulasi, Naruto sedang melawan musuh yang sangat kuat… bahkan lebih kuat dari akal pikiran manusia, itu terbukti ketika aku terpental tadi… dari jarak yang sangat jauh pun, antara alam bawah sadar dan dunia nyata, ia bisa memberikan efek serangan kepadaku, aku pikir dia juga bisa memberikan serangan yang lebih berbahaya dari pada yang tadi."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Sakura cemas, gadis berambut merah muda itu mulai panik dan bertanya-tanya mengenai solusi yang terbaik supaya Naruto bisa terselamatkan.

"Aku tidak tahu. tapi yang bisa kita lakukan hanyalah mempercayai Naruto.. dan menunggu kesadarannya, detak jantungnya mulai stabil dan itu akan berdampak baik bagi tubuhnya di sana, Sakura?"

"Apa?"

"Aku pikir, jika kau memberikan pengobatan medis kepada Naruto, itu juga akan berpengaruh kepadanya di alam bawah sadar… dan secara tidak langsung tubuhnya yang ada di sana akan tersembuhkan dengan sendirinya…"

Dengan langkah seribu Sakura langsung melakukan apa yang dikatakan Inoichi… dan di dalam ruangan itu telah hadir, Kakashi, Sai, Inoichi, Tsunade dan Shizune.. yang melihat dan mendengar kenyataan pahit tersebut.

"Kesalahan terbesarku adalah berbicara dengan White."

Rahasia besar telah terungkap!

To be continue

Chapter 28 END!

Emm, flashbacknya sudah aku singkat jadi gak kelamaan dan bertele-tele,,,

Terima kasih telah membaca, berikan reviewmu ya !

See you next week!

mendekati chapter akhir ^^