Tittle : Pocky Boy (Sehun's past) part B
Cast : Sehun, Jongin and other
Author : Xandeer
Rate : T+, ada bagian yang nyerempet M
Disclaimer : I own this story, I own this plot, sisanya pinjem/?
.
.
.
.
.
.
.
If you just plagiator, Just Leave As Soon As Posible
.
.
.
.
.
.
.
.
.
…
Sehun menghempaskan tubuhnya ke sofa coklat dan memejamkan matanya. Base camp wolf gank, disinilah dia setiap ia tertekan seperti ini.
"Kenapa kau datang lagi ? Kau bilang ingin pulang dan tidur" Ujar Min jun yang duduk di sebelahnya.
"Entahlah, aku agak tertekan hyung" Balas Sehun. Menyenderkan kepalanya pada sofa dan memijat kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Hey, aku punya barang bagus untuk membuatmu rileks" Ujarnya. Ia mengeluarkan beberapa plastik berisi bubuk putih yang tampak tak asing untuk anak berandalan seperti mereka.
Narkoba
Sehun menatap barang itu ragu.
"Kau mau ?" Tanyanya. "Ini bisa membuatmu fly" Lanjutnya.
"Entahlah"
"Bawa saja, barangkali kau butuh" Ujar Min jun lagi, memberikan plastik berisi bubuk putih itu dengan sebuah suntikan. Sehun mengangguk, memasukkan narkoba dan suntikan itu ke dalam sakunya.
"Sudah jangan terlalu memikirkan ayahmu itu, kita main basket saja seperti biasa" Ajak Min jun. Sehun mengangguk lagi lalu mengikuti Minjun dan yang lain untuk bermain basket di lapangan dekat base camp mereka.
Berjam – jam mereka habiskan untuk bermain basket hingga lelah. Anyways, karna mereka berandalan bukan berarti mereka tidak bermain permainan anak – anak normal. Mereka berlima sama – sama senang bermain basket, sejak Sehun bergabung pun mereka selalu mengajarinya bermain basket hingga sekarang Sehun bisa dibilang pemain andalan jika harus melawan gank lain.
Sehun menjatuhkan dirinya di aspal dan mengatur napasnya. Ia mulai melupakan masalahnya, basket memang ampuh untuk menghilangkan stress selain rokok, clubbing dan alkohol. Jin uk melemparkan handuk ke arah Sehun dan diterimanya dengan senang hati. Ia duduk dan mengelap keringatnya.
"Kau pasti lelah, pulang dan tidur sana" Ujar Jin uk. Sehun terlihat ragu. Rumah mengingatkannya akan ayahnya.
"Entahlah" Ujarnya.
"Pulanglah, barangkali saja noonamu itu menunggumu lagi" Ujar Jin uk lagi. Sehun menghela napas dan mengangguk.
"Ara. Aku pulang dulu hyung. Terima kasih" Ujar Sehun. Berdiri dan berpamitan dengan mereka sebelum berjalan pulang ke rumahnya.
...
"Kenapa kau datang lagi" Baru saja Sehun masuk ke rumah, ia sudah disambut perkataan menjengkelkan ayahnya yang sedang minum kopi di sofa sambil menonton tv. Sehun berjalan ke loteng, berusaha tak memperdulikan ucapan ayahnya.
"Kenapa kau tidak pergi dan tidak kembali saja" Ayahnya angkat bicara lagi. Sehun tetap berjalan.
"Rumah ini akan lebih baik tanpa kehadiranmu" Sambungnya pedas. Sehun merasa sakit hati tentu saja.
"Diam saja, aku juga sudah muak hidup" Balas Sehun dingin. Ia masuk ke kamarnya, duduk di lantai dan bersandar di kasurnya. Tangannya mengeluarkan suntikan dan plastik berisi narkoba dari kantungnya.
"Apa aku harus memakai ini ?" Tanyanya pada diri sendiri. Ia memejamkan matanya sebentar lalu membuka plastik itu dan memasukan bubuk putih itu ke dalam suntikan. Ia melihat suntikan berisi narkoba dan menghela napas. Sehun kembali memejamkan matanya. Sebenarnya ia masih ragu tapi disisi lain ia tak ingin terus tertekan seperti ini, setidaknya narkoba dapat memberinya ketenangan walau hanya sementara. Maka, ia menaruh jarum suntik di permukaan kulitnya, hampir memasukkan jarum itu lebih dalam sebelum...
"OH SEHUN !" Suara tinggi noonanya mengagetkannya. Entah sejak kapan noonanya itu sudah berdiri di ambng pintu. Memandangnya dengan tatapan marah. Noonanya mendekati Sehun yang masih di tempatnya semula. Ia mengambil suntikan itu dan membuangnya ke sembarang arah dan...
PLAK !
Perih, pipinya perih tapi hatinya jauh lebih perih. Hancur melihat noonanya yang rapuh dengan air mata mengalir begitu deras dari matanya.
"Kenapa kau lakukan itu pada noona ?! Kau bilang, noona adalah satu - satunya orang yang kau sayangi ! Apakah ini caramu menunjukkan bahwa kau sayang pada noona ?!" Tanya noonanya. Sehun hanya diam, tak bisa menjawab.
Apakah Sehun menyesal melihat noonanya menangis ? Yeah, pasti.
Tapi apakah Sehun menyesali perbuatan brengsek yang selama ini ia lakukan ? Entahlah. Ia juga tidak tau.
Maksudnya, Sehun suka seperti ini, dalam hati nuraninya ia merasa pedih harus melakukan semua ini hanya karna ingin diperhatikan, namun sisi gelapnya senang. Senang sampai tidak ingin semua berakhir begitu saja, ia ingin terus menjadi Sehun yang seperti ini, terlalu menyenangkan untuk tubuhnya. Akhirnya, orang – orang mengakui keberadaanya, walaupun dengan cara bodoh yang jelas – jelas salah yang penting Sehun senang.
Ia hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa tak selamanya ia adalah anak ingusan lemah yang selalu diam dan mudah dibully. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa tak selamanya mereka dapat menyiksanya. Semua kesabaran manusia memiliki batas, begitu juga Sehun. Sehun akhirnya merasakan, bagaimana rasanya berkuasa dan ia sangat senang, sangat puas menjadi Sehun yang sekarang, persetan dengan image baiknya yang telah hancur lebur, yang penting jiwanya senang.
Sekali lagi, miris
"Sehun kenapa kau menjadi seperti ini ?" Noonanya berucap lirih.
Sehun sendiri tak berani menatap noonanya yang menangis di didepannya. Terlalu menyakitkan untuk melihat noonanya yang menangis karna dirinya yang bodoh.
Tapi Sehun bisa apa ?
Noonanya itu menatap Sehun dengan pandangan sedih dan kecewa, membuat hati Sehun bergetar penuh rasa sakit.
"Cukup Sehun, jangan pernah mencoba untuk mengkonsumsi narkoba itu lagi. Bukankah sudah cukup dengan semua barang haram yang kau konsumsi selama ini ?"
"Cukup Sehun, jangan lagi. Jangan buat noona lebih menderita melihatmu lebih dari ini"
Lagi – lagi Sehun tak bisa membalas.
"Berjanjilah padaku Sehun, jangan pernah menyentuh barang itu lagi. Noona mohon" Ujar noonanya memelas.
"Ne, aku janji noona" Sehun tak punya pilihan lain selain menyetujui noonanya, ia tak ingin membuat noonanya lebih kecewa. Sang noona segera memeluk adiknya, membasahi kemeja sekolahnya dengan air mata berharga miliknya.
"Mianhae" Ujar Sehun pelan.
...
Sehun sedang berjalan – jalan sendirian dengan alkohol di tangannya, ia sedang dalam mood yang buruk karna beberapa menit yang lalu Jae hwa memanggilnya pembawa sial lagi. Sehun duduk di sebuah bangku, ia menatap ke depan dimana ada televisi besar yang sedang menayangkan mv Bigbang – loser.
Loser, loner
A coward who pretends to be tough
A mean delinquent. In the mirror, you're
JUST A LOSER
A loner, a jackass covered in scars
Dirty trash
Ia tersenyum remeh karna kata – kata dalam lagu itu terdengar menyindirnya. Sehun meminum alkoholnya lagi.
"Lihat anak itu, masih kecil saja sudah minum dan berantakan seperti itu" Bisik seorang wanita 30 tahunan kepada temannya yang seumuran. Sehun tau mereka sedang membicarakan dirinya tapi ia mencoba tak peduli.
"Ne, mau apa dia kalau sudah besar" Bisik wanita yang lain.
Jadi bajingan. Sehun membantin.
"Apakah orangtuanya tidak pernah mengajarinya bersikap yang benar"
Kalian benar
"Mungkin mereka sudah angkat tangan karna kelakukannya"
Yeah, Jae hwa bodoh itu memang sudah tak peduli lagi padaku
"Mempunyai anak seperti dia pasti hanya membawa malu keluarga"
Sehun tersenyum, ia meneguk kembali alkoholnya dan menatap dingin ibu – ibu itu dengan mata tajam elangnya.
"Berhentilah membicarakanku, b*tch" Sehun berujar dingin. Ibu – ibu itu terkejut mendengar ucapan Sehun.
"Dasar tidak tahu sopan santun !" Sehun hanya menaikan jari tengahnya pada mereka sambil meneguk alkoholnya. Ibu – ibu itu mendengus sebal dan segera pergi dari sana sebelum mereka lebih naik pitam.
Kejadian barusan tentu mengundang banyak perhatian, bahkan orang – orang yang tadinya tidak memperdulikan kehadiran Sehun mulai berbisik – bisik satu sama lain, membicarakan betapa hancur dirinya. Sehun mendengus sebal, ia paling tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini, maka ia berdiri dan berjalan pergi menjauh dari sana.
"Dasar sampah masyarakat" Sehun menghentikan langkahnya, hatinya berdenyut nyeri.
Seperah itukah dirinya ?
Ya, Aku memang hanya sampah masyarakat. Batin Sehun membenarkan perkataan mereka. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana dan lanjut berjalan.
...
"Tuan Kwon, maaf tapi saya tidak bisa membantu nilai anak anda lagi jika ia bahkan tak pernah mau masuk sekolah dan sikapnya saja seperti itu" Ujar sang kepala sekolah pada Kwon Jae hwa melalui telepon.
"Please, aku akan membayar berapa saja" Ujar tuan Kwon memelas.
"Maaf tuan"
"Berapa yang kau ingin huh ? Sebut saja nominalnya ? Aku akan memberikannya. Seluruh fasilitas sekolah akan aku perbaiki hanya saja biarkan anak brengsek itu lulus, aku tak bisa menanggung malu jika ia sampai tidak lulus" Tuan Kwon semakin memelas. Terdengar helaan nafas dari arah sana.
"Araseo, aku akan membuat anak ini naik, tapi ini yang terakhir karna ia sudah akan naik ke kelas 3"
"Terima kasih, cek akan kuberikan padamu secepatnya"
"Hmm, araseo~"
Jae hwa mematikan teleponnya dan mendesah kesal. Semakin besar tubuh Sehun semakin besar pula masalah yang selalu ia bawa, membuat Jae hwa benar – benar muak. Jika bukan karna Su jeong yang sangat menyayangi adiknya, Sehun sudah ia buang dari sejak bayi.
Ia keluar dari ruang kerjanya dan mendapati anak perempuan yang ia sayangi sedang berdiri sambil memegangi pinggiran tangga untuk menopang tubuhnya. Wajah anak perempuannya itu terlihat pucat. Cepat – cepat ia mendekat dan memegangi tubuh anak perempuannya yang lemas.
"Ada apa denganmu Su jeong ?" Tanyanya khwatir.
"Anieyo, tidak ada apa – apa appa" Jawab Su jeong lemah.
"Kau sakit ?"
"Ne, tapi tak apa. Aku hanya pusing, mungkin demam. Aku hanya butuh tidur" Ujarnya pelan.
"Ara. Appa antarkan" Ujar ayahnya. Ia menuntun tubuh Su jeong ke kamar dan membaringkannya di kasur.
"Appa jika Sehun yang sakit apa appa akan merawatnya seperti appa merawatku ?" Tanya Su jeong walau ia sudah tahu jawaban ayahnya.
"Tidak akan, dia hanya membawa masalah" Ujar ayahnya tegas. Su jeong menatap ayahnya sedih.
Ayahnya membelai rambutnya dan keluar dari kamar anaknya, ia memanggil bibi Oh untuk merawat Su jeong karna ia harus kembali ke kantornya untuk memulai rapat. 2 jam setelah ayahnya pergi, Su jeong merasa haus, maka dengan tubuh lemahnya ia mencoba berdiri dan turun ke bawah namun tiba – tiba dadanya sangat nyeri, ia sesak nafas, matanya berkunang - kunang dan akhirnya ia jatuh pingsan. Bibi Oh yang mendengar suara aneh dari lantai atas sangat kaget mendapati nyonya mudanya pingsan. Segera ia memanggil supir Gong untuk membantu mengangkat Su jeong ke mobil.
Pintu kediaman Kwon terbuka dan tampaklah seorang perempuan seumuran Su jeong yang menatap mereka terkejut. Mereka semua tahu bahwa perempuan ini adalah sahabat Su jeong, Kim Tae hee.
"EH ?! Ada apa dengan Su jeong bibi ?!" Ujarnya khawatir.
"Entahlah, nyonya muda pingsan begitu saja" Jawab bibi Oh sama khawatirnya.
"Kajja, kita bawa ke rumah sakit secepatnya !" Ujar Tae hee lagi dan mereka berempat segera ke rumah sakit.
...
Buagh !
Sehun memukul salah satu musuhnya hingga tersungkur. Setelahnya, ia membantu yang lain untuk menghabisi sang musuh. Fyi, Wolf gank sedang terlibat perkelahian lagi dengan gank lain seperti biasa. Sehun menarik kerah salah satu musuhnya dan memukul wajahnya hingga babak belur.
Loser oetori sen cheokhaneun geopjaengi. Mosdoen yangachi geoul soge neon
Just a loser oetori sangcheoppunin meojeori. Deoreoun sseuregi geoul soge nan I'm a
"Shit !" Sehun mengumpat, benar- benar terganggu dengan bunyi ponselnya yang terus terdengar, begitu berisik. Ia menghempaskan musuhnya yang sudah tak berdaya dan mengambil ponselnya yang terus berbunyi tidak tau waktu.
"WAE ?!" Sehun menjawab panggilan itu dengan ketus setelah mengelap mulutnya yang mengeluarkan darah.
"Sehun...Noonamu pingsan dan baru saja masuk rumah sakit tohoshinki" Ujar seseorang dari sebrang sana.
Deg !
Jantung Sehun berdebar menakutkan, kakinya melemas, dan tak peduli bahwa perkelahiannya belum selesai, ia berlari meninggalkan mereka semua dengan wajah bingung.
...
Jae hwa berjalan tergesa ke dalam rumah sakit, emosinya langsung tersulut melihat pemuda pembawa sial berambut merah itu duduk di depan ruangan dimana anak perempuannya diperiksa, kemeja sekolah pemuda yang dibencinya itu kusut dan berantakan. Wajahnya tertunduk lesu tapi ia dapat melihat beberapa lebam di wajahnya, tangannya bahkan terdapat noda darah, jelas sekali bahwa anak itu baru saja berkelahi. Ia mendekati Sehun, menarik kerahnya sampai tubuh Sehun dipaksa berdiri.
Jika biasanya Sehun akan melawan kini ia hanya diam, otaknya dipenuhi oleh noonanya. Satu – satunya yang ia pedulikan sekarang adalah kondisi noonanya.
"KAU ! DASAR PEMBAWA SIAL ! LEBIH BAIK KAU MATI SAJA !" Bentak ayahnya kasar sambil menarik kerah Sehun semakin keras.
"Benarkah ? Benarkah dirinya hanya pembawa sial ?" Sehun terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Ahjussi tenang ahjussi ! Ini rumah sakit !" Tae hee -noona yang menelpon Sehun- mencoba menenangkan Jae hwa, begitu juga beberapa dokter dan suster yang kebetulan lewat.
Sehun dihempaskan dengan kasar kala dokter berhasil menenangkan amarah appanya, Sehun sendiri tak membalas, ia hanya membenarkan posisi duduknya dan menunduk lagi.
"Tak cukupkah kau membunuh ibumu lalu Ibu tirimu ? Dan sekarang kau ingin membunuh noonamu ?" Tanya ayahnya. Sehun tetap diam, otaknya mencoba mencerna semua perkataan ayahnya dan satu kesimpulan akhirnya ia dapat.
Ya. Aku membunuh mereka. Aku memang pembawa sial
...
Su jeong sudah dipindahkah ke ruang inap biasa, dokter memvonisnya terkena penyakit jantung dan dia harus di opname sampai tubuhnya lebih baik. Bibi Oh, ayahnya dan Tae hee berganti – gantian menjaganya, sedangkan Sehun sudah di blacklist ayahnya untuk masuk ke ruang inap Su jeong namun jika tidak ada ayahnya, Sehun akan datang. Ia hanya akan duduk di depan ruang inap noonanya karena tidak berani masuk, ia merasa bersalah setiap melihat noonanya yang tampak lemah.
Tae hee selalu membujuknya untuk masuk tapi Sehun selalu menolak karna takut. Ia hanya akan masuk jika Tae hee bilang Su jeong sudah tidur sama seperti sekarang. Sehun duduk di kursi dan menatap noonanya yang sudah tidur. Rasa bersalah menyeruak begitu melihat wajah noonanya yang semakin kurus.
Kenapa noonanya harus sakit seperti ini ?
Kenapa tidak dia saja yang menggantikan noonanya ?
Ia yang lebih pantas untuk mengalami sakit, kenapa harus noonanya ?
Kenapa ? Lagi lagi, kenapa ?
Berhari – hari sudah berlalu dan Su jeong masih dirawat di rumah sakit karna penyakitnya. Noonanya yang sakit membawa sedikit perubahan yang baik bagi Sehun, walaupun masih sering merokok, ia semakin jarang berkelahi dan minum lagi karna waktu – waktunya ia habiskan untuk menengok dan menemani noonanya di rumah sakit.
Setiap pagi sampai siang akan ia habiskan bersama wolf gank dan sore sampai malam, ia akan ke rumah sakit untuk melihat keadaan noonanya, itupun jika ayahnya tidak ada. Sampai akhirnya, datanglah hari itu, hari dimana Sehun kehilangan segala.
Saat itu, Sehun sedang duduk di depan ruang inap Su jeong seperti biasa sampai Tae hee noona keluar, tersenyum ke arahnya dan menyuruhnya masuk karna Su jeong mencarinya. Sehun agak kaget, tadinya ia ingin menolak namun melihat tatapan harap dari Tae hee, Sehun mengangguk dan masuk dengan takut – takut.
"Sehun, kemarilah" Panggil noonanya begitu Sehun masih berdiri di ambang pintu dengan ragu. Sehun perlahan mendekati noonanya yang memandangnya sambil tersenyum.
"Tae hee bilang kau sudah jarang keluar malam karna kau selalu disini" Ujar noonanya. Sehun mengangguk.
"Noona bangga" Ujarnya lagi lalu tersenyum. Sehun ikut tersenyum. Senyuman itu pudar ketika noonanya menatap adiknya serius.
"Sehun, jika noona meninggal, jangan coba – coba untuk menyusul noona, araseo ?" Ujar noonanya. Hati Sehun berdebar takut, entah kenapa perkataan noonanya membuat alarm dalam dirinya berbunyi.
"Noona jangan bilang seperti itu, aku tidak ingin kehilangan noona juga" Ujar Sehun. Su jeong mengelus rambut merah Sehun yang membuat adiknya tampak lebih tampan dari biasanya.
"Sehun, noona hanya mohon satu hal, berjanjilah pada noona untuk kembali ke Sehun yang dulu" Sehun terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa, ia sangat puas dengan keadaannya sekarang tapi kini noonanya memintanya untuk kembali ke dirinya yang dulu, ia ingin sekali menolak namun ia tidak bisa.
Su jeong menggenggam tangan Sehun. "Noona ingin tangan ini dipakai untuk menyalurkan kasih sayang, bukan untuk berkelahi lagi. Kau bisa berjanji pada noona tentang hal itu ?" Pinta noonanya lagi.
"Noona a-"
"Berjanjilah" Ujar noonanya, nadanya semakin melemah. Sehun merasa takut luar biasa. Ia menggenggam tangan noonanya erat dan menatap wajah noonanya. Su jeong tersenyum lemah, tangannya terulur untuk mengelus pipi Sehun dengan lembut.
"Berjanjilah padaku Sehun" Ujarnya lagi. Sehun memejamkan matanya merasakan kehangatan yang disalurkan noonanya. Ia menyerah dan akhirnya mengangguk.
"Aku berjanji noona. Aku berjanji" Jawab Sehun.
"Terima kasih. Noona menyayangimu" Noonanya tersenyum lagi, sangat manis. Seharusnya Sehun senang melihat senyuman itu tapi hatinya malah berdebar tak karuan, yang terjadi selanjutnya justru kebalikan dari apa yang ia harapkan selama ini. Tangan noona Sehun melemah, tangannya yang terakhir masih tertempel di pipinya itu perlahan merosot ke bawah, mata noonanya perlahan terpejam namun senyumannya masih belum pudar.
Dan saat akhirnya mata noonanya terpejam seluruhnya dan tangannya terkulai lemas sekaan tak lagi bertenaga, bahkan tangan yang Sehun genggam perlahan mendingin. Rasa takut itu menjadi kenyataan, otaknya cukup cerdas untuk mengetahui noonanya telah tiada, meninggalkan dirinya di dunia ini untuk selamanya. Ia semakin menggenggam tangan noonanya, tangannya yang lain terulur untuk menutupi wajahnya sendiri lebih tepatnya matanya yang memanas, bahunya bergetar naik turun, dan air matanya tumpah begitu saja.
Sehun menangis. Setelah bertahun – tahun air matanya tersimpan dengan baik, akhirnya pria itu kembali menangis.
Kim noona melihat pemandangan di dalam ruang inap Su jeong melalui kaca dengan pandangan miris, sedih dan prihatin, ia tentu tau apa yang telah terjadi di dalam. Sahabat baiknya telah meninggal dan air matanya ikut tumpah setelahnya.
...
Pemakaman itu penuh dengan orang – orang yang datang untuk memberikan belasungkawanya, teman – teman serta sahabat noonanya, rekan bisnis ayahnya, pacar noonanya yang datang jauh – jauh dari China bahkan sampai tetangganya datang kesana. Mereka semua menangis sedih, menyatakan betapa sedihnya mereka telah kehilangan sosok tersebut. Noonanya memang sangat berarti, berbeda dengan Sehun, adiknya yang begitu dibenci. Entah kalau Sehun mati siapa yang datang, anjing saja mungkin enggan.
Sehun melihat pemakaman yang berlangsung dari sebuah bukit kecil dekat dengan makan noonanya. Ia tahu diri bahwa mereka semua tidak ingin kehadirannya maka ia menjauh. Ia hanya berdiri di sana sampai semua orang itu pulang barulah ia mendekat dan menaruh sebuket bunga yang ia beli tadi pagi. Sehun terduduk lemas. Ia mereka semakin kesepian. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini maka dari itu ia hanya duduk di situ bahkan sampai malam tiba. Ia baru pulang setelah dirinya merasa lapar.
Hari terus berganti, Sehun masih tetap datang ke makam noonanya, selama seminggu ini, hampir seharian ia hanya duduk di bukit itu, bersandar pada sebuah pohon besar sambil menatap makam noonanya, ia hanya pergi saat jam makan siang atau saat ia mengantuk dan sudah jam makan malam.
Ia sudah keluar dari wolf gank, itu semua untuk menepati janjinya pada noonanya. Untungnya teman – temannya itu tidak ambil pusing, mereka mempersilahkan Sehun untuk keluar tanpa syarat. "Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami, kami pasti merindukanmu" adalah kata – kata Jung jin untuk terakhir kali. Sehun merasa beruntung karena pernah berteman dengan mereka, tak peduli bahwa mereka yang mengajarinya menjadi bad boy.
Kim noona selalu melihat Sehun di bukit itu setiap ia berkunjung ke makam sahabatnya. Ia adalah satu – satunya yang menyadari kehadiran Sehun sejak Su jeong di makamkan. Ia menatap sedih adik sahabatnya itu yang tampak sendirian dan kehilangan arah. Masih terpuruk atas noonanya yang hilang untuk selamanya.
Jika biasanya Kim noona membiarkan Sehun sendiri maka hari ini ia duduk di sebelah Sehun, menemaninya. Ia memberi Sehun roti coklat dan air minum yang sengaja ia beli di minimarket tadi.
"Kau selalu disini" Ujar Kim noona.
"Yeah" Jawab Sehun seadanya. Kim noona menatap kotak rokok serta puntung rokok yang tergeletak di sekitar Sehun.
"Masih merokok ?" Tanyanya.
"Hmm~"
"Berhentilah. Kau sudah berjanji pada noonamu kan ? Untuk menjadi Sehun yang baik ?" Sehun terdiam.
"Aku sedang berusaha, hanya saja, menghentikan kebiasaanku tidak semudah itu" Ujar Sehun. Kim noona mengangguk mengerti, ia mengelus rambut Sehun dan tersenyum.
"Aku tau kau bisa. Berusahalah. Kau tidak ingin mengecewakan noonamu kan ?" Sehun mengangguk.
"Ya" Jawabnya.
"Makanlah, kau pasti belum makan dari pagi" Ujar Kim noona. Sehun mengangguk lagi dan memakan roti pemberian Kim noona.
"Terima kasih" Ujarnya kaku.
"Terima kasih kembali, jja, noona akan pergi dulu, see ya" Ujar Kim noona lalu melambaikan tangannya pada Sehun, Sehun membalasnya.
...
Setelah Kim noona pulang ke rumahnya, ia segera menghampiri adiknya yang asyik main psp di kamarnya. Ia duduk di sebelah Jongin –adiknya- dan menatap Jongin yang masih asyik sendiri.
"Kim Jongin, kau tau Sehun ?" Tanya Tae hee. Jongin segera menghentikan permainannya dan menatap noonanya. Kebencian terpancar dari matanya.
"Tentu saja noona. Dia itu siswa brengsek yang tak punya masa depan cerah !" Ujar Jongin pedas namun noonanya hanya tersenyum maklum.
"Aku ingin kau berteman dengannya" Ujar noonanya membuat Jongin membelalakan matanya.
"MWO ? Yang benar saja noona. DIA ITU BRENGSEK !" Bantah Jongin.
"Bertemanlah dengannya Jongin. Noona yakin dia akan berubah mulai sekarang" Ujar noonanya mencoba meyakinkan tapi Jongin masih tidak percaya.
"Astaga noona ! Noona ingin adik tampanmu ini diumpankankan pada serigala sepertinya ?! Aish, noona tega sekali" Ujar Jongin mendramatisir. Tae hee memutar bola matanya malas.
"Bukan seperti itu Jongin. Dia akan berubah, noona yakin. Lagipula dia itu tidak seperti kelihatannya" Ujar noonanya lagi.
"Argh ! Noona, aku tak mau ! Aku tak mau mati muda !" Elak Jongin.
"Jongin. Ayolah..."
"Shireo !"
"Jongin"
"Andwae !"
"Kim Jongin"
"Aish ! Ara ara ! Akan kucoba !" Ujar Jongin menyerah. Ia mengacak – acak rambutnya frustasi.
Kim noona tersenyum. Ada alasan tersendiri ia menyuruh Jongin berteman dengan Sehun. Adiknya itu sangat friendly dan easy going. Semua orang ingin berteman dengannya bahkan anjing rabies yang suka berkeliling di sekitar perumahan tempat tinggal mereka pun tunduk pada Jongin. Pokoknya adiknya itu paling bisa diandalkan untuk dijadikan teman.
Jongin masih tampak frustasi, ia duduk di kursi belajarnya, mengambil selembar kertas dan sebuh pena lalu mulai menulis. Kim noona mengernyit heran.
"Sedang apa kau ?" Tanya Kim noona penasaran.
"Menulis surat wasiat" Ujar Jongin.
"Astaga kau ini. Kau tidak akan mati babo !" Jongin hanya menggidikkan bahunya, tetap menulis.
Untuk cinta masa depanku, tulang rusukku, setengah hatiku...
Mungkin aku tak akan bisa bertemu denganmu karna aku harus pergi melawan setam kejam yang sangat menakutkan. Jika aku selamat, kelak kita akan bertemu, kita akan menikah dan mempunyai banyak anak. Kita akan selalu bersama sampai ajal menjemput namun jika aku tidak selamat, aku hanya bisa menitipkan cintaku ini dan melihatmu dari surga. Semoga kau bahagia dengan pasangan hidupmu yang baru kelak. Aku mencintaimu :*
.
Untuk noonaku yang seenaknya mengorbankan diriku untuk setam kejam bernama Oh Sehun...
Noona aku ingin membencimu tapi aku tidak bisa. Aku hanya minta satu hal, jika aku tak kembali, tolong pspku disimpan baik – baik. Jangan pernah terpikir untuk disumbangkan atau dijual pada siapapun, karna kalau aku jadi hantu aku akan merasuki benda itu. Araseo. Sekejam apapun dirimu, aku menyayangimu noona.
Setelah selesai menulis surat wasiat –katanya-, Jongin merebahkan dirinya di kasur, memeluk gulingnya dan berguling – guling tidak jelas. Tae hee hanya bisa menatap adiknya heran.
"Aish, apa anjing rabies itu telah menulari Jongin ya ?" Batinnya.
...
Setelah Kim noona pergi, Sehun masih duduk di situ. Duduk dan merokok sampai akhirnya persediaan rokoknya habis. Ia berdiri dan membersihkan celananya sebelum pergi ke minimarket terdekat untuk membeli rokok baru.
Sehun memarkirkan motornya dan mendorong pintu masuk minimarket. Udara dingin langsung menerpa tubuhnya.
"Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya sang kasir yang berdiri di belakang konternya setelah Sehun mendekat.
"Aku ingin membeli rokok" Jawab Sehun. Si kasir itu tersenyum, ia membuka etalase yang khusus berisi rokok – rokok. Sehun memandang sekeliling sambil menunggu, tiba - tiba matanya tertuju pada box – box pocky berwarna warni. Memorinya melayang jauh ke saat - saat noonanya masih hidup.
"Cobalah Sehun. Pocky itu enak"
"Tuan ? Kau ingin yang mana ?" Si kasir bertanya, tapi Sehun tak menjawab.
"Sehun ayo kita beli pocky !"
"Tuan ?"
"Astaga Sehun, kau memberiku hadiah pocky di hari ulang tahunku ? Terima kasih ! Noona menyayangimu !"
"Tuan ?"
"Sehun, ini pocky untukmu karna kau sudah jadi juara satu !"
"Tuan ?" Pelayan itu memanggilnya lagi. Sehun tersadar dari lamunannya lalu tersenyum.
"Maaf, aku tidak jadi membeli rokok. Aku ingin pocky saja" Ujar Sehun, mengambil box – box pocky dari semua rasa dan menaruhnya di meja kasir. Sang kasir itu terlihat heran namun ia menurut saja.
Dan saat itulah ia memulai kehidupan barunya/? menjadi Sehun si pocky boy.
...
Setelah insiden membeli pocky/?, Sehun mulai berubah menjadi lebih baik. Setiap ia ingin merokok, ia memasukkan pocky ke dalam mulutnya sehingga sekarang ia sudah tidak merokok lagi. Jika seminggu kemarin, ia hanya duduk di makam noonanya kini ia berbenah diri dan mulai masuk ke sekolah. Semua orang tentu terkejut melihat Sehun kembali bersekolah setelah berbulan - bulan ia membolos. Mereka lebih terkejut lagi ketika sikap Sehun berubah belakangan ini, ia memperhatikan semua guru dan tidak lagi tertidur di dalam kelas. Semua tugas ia kerjakan dengan baik, nilainya juga naik drastis, memang ia tidak mendapat nilai sempurna seperti dulu –sengaja karna ia tidak ingin tampil menonjol- tapi ia tetap mendapat nilai diatas 7 di semua pelajaran.
Brukkk...
"AH ! Mianhae Sehun ssi~...Jinjja mianhae. A-aku tak sengaja, kumohon jangan pukul aku" Anak itu membungkukkan badannya berkali – kali, terlihat sekali ia ketakutan. Siswa – siswi lain yang melihat hal itu menatap Sehun waspada. Ini pertama kalinya ada siswa yang menabraknya lagi setelah ia berubah.
"Hmm~" Sehun hanya membalas dengan gumanan sebelum meninggalkan anak itu tanpa menghajarnya. Anak itu melongo tak percaya bahkan semua yang ada disitu juga tak percaya dengan apa yang mereka lihat, termasuk Jongin. Ia menatap Sehun dengan tatapan heran, ternyata noonanya benar, Sehun berubah 180ᵒ.
Apa noonanya cenayang ya ? Pikir Jongin.
Sudah 2 minggu ini, Jongin –sebut saja- memata – matai Sehun. Ia belum menjalankan tugasnya untuk berteman dengan Sehun. Ia tak mau mengumpankan dirinya pada pembunuh berdarah dingin seperti Sehun begitu saja, ia harus mengecek situasi terlebih dahulu. Lebih baik main aman –kata Jongin-. Tapi, jujur saja ia masih takut sampai sekarang walau Sehun sudah menunjukkan perubahan yang signifikan.
Yang Jongin tau, Sehun memang berubah, tapi perubahan itu tak berdampak besar pada kehidupan sosialnya, masa lalunya yang berandalan itu telah membuat semua benci padanya. Walaupun ia berubah, ia tetap dibenci buktinya ia tidak bisa mendapat teman sampai sekarang, banyak yang tidak mau memaafkan kesalahan Sehun karna well, Sehun selalu main pukul dulu jadi wajar saja jika sampai sekarang ia tetap dibenci, Sehun sendiri tak mempermasalahkan hal itu karna ia memang terlahir dengan kebencian.
Tak punya teman membuat Sehun selalu menyendiri kapan pun dan dimana pun, misalnya saja seperti sekarang, Sehun hanya makan sendirian di meja yang terasing di belakang sana. Jongin jadi merasa iba, ia menghela nafas dan dengan segala keberanian yang ada ia mendekati meja Sehun, menaruh nampannya di meja tersebut dan duduk di depan Sehun. Untuk sepersekian detik Sehun menatapnya dingin namun ia tak mengusir kehadiran Jongin.
"Makan saja. Aku tak akan mengganggumu" Ujar Jongin dan memakan makanannya dengan santai. Sehun ikut melanjutkan acara makannya yang tertunda.
Kala Sehun berdiri setelah selesai makan, Jongin yang juga sudah selesai, ikut – ikutan berdiri dan mengekori Sehun. Sehun pikir ia hanya ikut sampai Sehun mencuci tangan dan menaruh nampannya di tempat piring kotor namun sampai ia berjalan – jalan santai di koridor sekolah, Jongin tetap mengikutinya. Sehun menghentikan langkahnya, ia berbalik untuk menatap Jongin tajam tapi si hitam itu hanya berpura – pura tidak melihat dan tetap mengikuti Sehun kemana pun ia pergi.
Jongin itu –bisa dikatakan- gila, ia mengikuti Sehun kemana pun bahkan sampai ke dalam toilet dan ia tak mau berhenti walaupun Sehun sudah mengusirnya secara tidak langsung dengan tatapan tajam bak elang miliknya. Jongin terus saja menempelinya seperti parasit sampai Sehun pusing sendiri.
Sehun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Jongin yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Apa maumu ?" Tanya Sehun datar. Jongin tersenyum, ia semakin mendekat dan merangkul bahu Sehun yang langsung menuai pandangan risih dari si albino.
"Menjadi temanmu, sahabatmu lebih baik" Ujar Jongin tak peduli Sehun masih memandangnya risih.
"Shireo !" Sehun langsung menolak. Ia hendak menyingkirkan tangan Jongin namun Jongin terus mempertahankan tangannya yang merangkul Sehun hingga Sehun memilih menyerah.
"Ok ! Sudah diputuskan, mulai sekarang kita bersahabat !" Ujar Jongin sengaja dan memaksa. Sehun menatap Jongin tidak suka, ia segera melarikan diri namun Jongin mengejarnya. Uh, Sehun berasa dikejar sapi gila saat itu juga.
Sehun bersembunyi di balik rak – rak buku besar yang ada di perpustakaan. Ia berharap, si hitam itu tidak menemukannya namun harapan Sehun pupus begitu melihat Jongin sudah berdiri di depannya dengan senyum sumringah.
"Hi sobat !" Sapa Jongin yang berhasil menemukan Sehun.
"Argh ! Kau lagi !" Ujarnya kesal. "Jangan menggangguku !" Sambungnya namun Jongin tak peduli dan merangkul Sehun lagi.
"Aku tak mengganggu, kita kan teman" Ujar Jongin. Sehun mendesah kesal namun akhirnya menurut saja. Ia berjalan keluar perpustakaan dengan Jongin yang masih merangkulnya. Murid lain memandang kedua makhluk/? berbeda warna itu dengan pandangan aneh, pasalnya ini pertama kali mereka terlihat berdua namun sudah terlihat akrab, mungkin.
Sehun yang mendapat tatapan heran dari murid lain merasa risih, ia menyingkirkan tangan Jongin tapi tangan hitam itu merangkulnya lagi. Sehun menatap tajam Jongin tapi Jongin hanya menampilkan senyum bodohnya. Uh, Sehun bisa gila.
"Kenapa ?" Tanya Sehun akhirnya. Jongin menatap Sehun.
"Hanya ingin saja" Jawab Jongin.
"Kau tak seharusnya berteman denganku. Resikonya tinggi" Ujar Sehun lagi.
"Jadi itu kenapa kau tak ingin berteman denganku ? Tak usah pedulikan mereka Man !" Balas Jongin.
"Pergi saja sebelum mereka tak mau berteman lagi denganmu"
"Sudah kubilang tak usah pedulikan mereka. Kau lebih membutuhkan teman daripada mereka jadi seharusnya kau berterima kasih karna aku mau jadi temanmu" Jongin menjelaskan dengan bangga. Sehun memutar bola matanya malas.
"Terserah" Sehun memilih tak peduli lagi.
"Terima kasih kembali kawan" Balas Jongin. Sehun hanya bisa mendecih sebal.
"Jadi kita berteman ?" Jongin bertanya penuh harap.
"Tidak" Jongin langsung merengut.
...
Hari – hari berikutnya tidaklah sama bagi Sehun sejak Jongin hadir dan berusaha menjadi temannya. Ia selalu menempel dengan Sehun, jika biasanya Sehun akan makan sendirian kini Jongin menemaninya. Jika di dalam kelas Sehun duduk sendirian di meja paling pojok dan paling belakang, kini Jongin duduk di sebelahnya dan terus mengajaknya berinteraksi walau Sehun tak pernah merespon ucapannya. Jujur saja, kesendiriannya selama ini membuat Sehun canggung untuk bersosialisasi lagi. Ia selalu menutup diri dan ketika Jongin berusaha masuk, tentu saja ia merasa aneh dan menolak kehadirannya.
Jongin tau kalau Sehun itu tipe anti sosial, namun ia tak menyerah begitu saja. Ia terus membujuk Sehun untuk menjadi sahabatnya dan ia juga yang selalu mengajak Sehun mengobrol walau anak itu tidak tertarik untuk merespon. Jongin tau Sehun butuh waktu untuk menerima kehadirannya jadi ia menurut saja. Dibalik semuanya itu, Jongin tau kalau Sehun tidak ingin ia kehilangan teman karna dirinya.
Setelah pulang sekolah, Sehun sedang berjalan sendirian, headset putih terpasang di telinganya, tasnya tersampir di bahunya, jalanan sedang sepi kala itu ketika sekumpulan anak berandalan mengepung Sehun. Sehun hanya terdiam di tempatnya dan memandang mereka.
"Kita bertemu lagi Oh Sehun, kami akan membalas perbuatanmu yang kemarin – kemarin jadi panggil teman – temanmu itu kemari dan ayo kita berkelahi" Ujar sang ketua gank. Mereka gank musuh Sehun saat ia masih tergabung dalam Wolf gank. Sehun menghela nafas. Ia melepaskan tas dan headsetnya, lalu melemparnya ke sisi jalan.
"Dengar, aku sudah keluar dari wolf gank. Jika kalian membenciku, pukul saja aku sepuasnya, aku tidak akan membalas tapi aku minta setelah ini urusan kita selesai" Ujar Sehun. Komplotan itu saling menatap satu sama lain heran lalu menyeringai.
"Sesuai permintaanmu" Ujar si ketua, ia menarik kerah Sehun lalu memukulnya. Setelahnya anggota yang lain ikut memukuli Sehun.
Komplotan itu terus memukul Sehun sampai dirinya terjatuh ke aspal, kemudian mulai menendang dan menginjak – injaknya tanpa perasaan. Sehun hanya diam, menerima semua pukulan, tendangan dan injakan itu dengan pasrah. Setelah mereka puas, mereka langsung meninggalkan Sehun begitu saja.
Sehun yang masih sadar, berusaha bangkit namun seluruh tulangnya terasa remuk, akhirnya ia menyerah, menidurkan dirinya di aspal dan memejamkan matanya.
"Kenapa kau tiduran disini ?" Tanya seseorang. Sehun hanya diam, tak berniat membalas.
"Kau masih hidup kan ?" Orang itu bertanya lagi. Sehun yang merasa terganggu, membuka kedua matanya perlahan dan tampaklah seorang lelaki berkulit hitam yang belakangan ini sering sekali mengganggunya.
"Kau lagi" Ujar Sehun sebelum kembali menutup matanya.
"Ya Ya ! Jangan pingsan dulu ! Aku harus membawamu kerumah sakit dan aku tak ingin menggotongmu karna pasti berat !" Celoteh Jongin, Sehun dibuatnya tersenyum singkat. Ia tak menyangka akan ada orang seperti Jongin yang mau memperhatikannya lagi.
"Ara" Ujar Sehun. Ia membuka matanya dan mencoba berdiri sambil meringis sakit. Jongin mendengus sebal namun ia berjongkok dan melingkarkan tangan kiri Sehun di bahunya, membantu pemuda albino itu berdiri dan memapah Sehun ke rumah sakit terdekat.
"Hey hitam. Terima kasih" Ujar Sehun.
"Yeah, terima kasih kembali albino" Balas Jongin.
"Jadi kita berteman ?" Tanya Jongin.
"Kurasa ya" Ujar Sehun. Mereka berdua tersenyum.
...
Beberapa hari setelah kejadian itu, Sehun dan Jongin semakin dekat, mereka sudah tidak canggung dan sudah bisa saling mengejek satu sama lain. Selain itu, Sehun juga semakin dekat dengan keluarga Jongin karena Jongin pernah mengajak Sehun untuk bermain ke rumahnya dan Sehun menurut. Orangtua Jongin sangat baik, mereka memperlakukan Sehun lebih baik dari ayahnya sendiri. Kim noona juga ramah padanya. Sehun merasa diterima disana.
Kehadiran Jongin membuat Sehun merasa lebih 'normal'. Si hitam itu selalu tak keberatan untuk menemaninya ke manapun termasuk mengantarnya ke makam noonanya setiap hari sabtu. Perlu diketahui, Sehun bukan orang – orang di drama tv yang selalu menangis sambil memeluk batu nisan dan mengajak bicara orang yang sudah mati. Hey ! Ia tak semelow itu, ia bahkan tak pernah menangis lagi sejak percakapan terakhir dengan noonanya di rumah sakit.
Seperti biasa, Sehun hanya duduk di bawah pohon besar di atas sebuah bukit dekat makam noonanya. Hanya diam disana, memandang makam sambil memakan pockynya. Berjam – jam ia hanya akan duduk di sana, entah apa yang selalu di pikirkan Sehun setiap ia berkunjung. Ia hanya akan duduk, merenung dan terdiam. Ini selalu menjadi rutinitasnya setiap sabtu.
Ketika hari sudah menjelang malam, Sehun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari tempat pemakaman, ia mendapati Jongin yang sedang bersender pada motornya dengan muka masam.
"Kenapa kau lama sekali ?!" Jongin menggerutu.
"Sudah kubilang, kau pulang saja dulu"
"Aku tau, hanya saja aku merasa tak enak selalu meninggalkanmu di tempat horror seperti ini" Ujar Jongin.
"Kalau begitu, salahmu sendiri" Ujar Sehun. Jongin mendengus sebal.
"Dasar cicak" Ejek Jongin.
"Sebaiknya kita jangan lama – lama disini" Ujar Sehun tiba - tiba, ia memandang sekitar was – was membuat Jongin bergidik ngeri.
"Wae ?" Tanyanya panik.
"Karna nanti kau semakin menghitam dan tidak kelihatan" Jawab Sehun. Ia tertawa kecil karna berhasil menipu sahabatnya. Jongin menganga, ia merasa dibodohi. Dan terjadilah perkelahian kecil di makam itu, tapi tenang saja tidak akan ada yang terluka.
...
Hari kelulusan semakin dekat. Sebentar lagi Sehun dan Jongin akan menempuh ke jenjang yang lebih tinggi. Sehun merebahkan dirinya di kasur dan menatap langit – langit kamarnya. Setelah noonanya telah tiada, ia merasa rumahnya semakin hampa. Ia merasa tak punya alasan untuk tinggal di neraka ini lagi, dimana ayahnya, seseorang yang seharusnya menjaganya selalu menyalahkannya atas kematian ibu kandungnya, ibu tirinya serta noonanya, mengatakan bahwa ia hanyalah pembawa sial tak berguna. Kata – kata itu cukup membuatnya trauma dan emosinya terguncang.
"Aku akan pergi" Ujarnya mantap. Sama seperti ayahnya yang muak padanya, Sehun juga merasa muak dengan ayahnya karna itulah ia memilih untuk pergi agar ayahnya lebih bebas.
Sehun mengepak barang - barangnya, membawa semua uang yang ia kumpulkan dan turun ke lantai bawah untuk pergi. Ketika ia menuruni tangga menuju pintu utama, disaat yang sama ayahnya baru pulang dan masuk ke dalam rumah megahnya. Jae hwa melihat Sehun dan tak heran bahwa ia tampak tak peduli walaupun Sehun telah membawa koper besar di tangannya, bahkan para pelayan tampak lebih memperhatikannya dan bertanya – tanya kemana ia akan pergi.
Sehun mendecih. Ayahnya memang brengsek, jadi ia tak peduli jika lelaki itu mati sekali pun. Just like father like son.
"Kau akan kemana Sehun ?" Tanya bibi Oh khawatir.
"Entahlah, mungkin Seoul bukan ide buruk" Jawab Sehun. Ayahnya yang duduk di sofa dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Kau ingin apa ?" Tanya bibi Oh lagi.
"Aku akan melanjutkan sekolahku disana. Aku ingin menjauh dari sini bibi" Jawab Sehun jujur.
"Jangan mempermalukanku disana" Ayahnya tiba – tiba angkat bicara.
"Aku tidak akan mempermalukanmu tuan Kwon. Aku juga tidak akan memberi tahu siapapun bahwa aku adalah anakmu, tapi dengan satu syarat" Ujar Sehun. Ayahnya menatapnya tertarik.
"Seluruh biaya sekolah kau yang tanggung dan kirimkan aku uang jajan yang cukup mulai sekarang, maka aku tak akan datang mencarimu untuk menghancurkan hidupmu" Ujarnya dingin. Ayahnya hanya tersenyum remeh dan mengangguk setuju, uang bukan masalah hidupnya, ia bisa saja membelikan Sehun 5 buah mobil sport saat itu juga.
Sehun memeluk bibi dan pamannya untuk terakhir kali. Ia membungkukkan badannya pada mereka semua sebelum pergi dari sana. Ia menghela napas, ia tak tahu harus kemana, akhirnya ia terpaksa menginap di rumah Jongin selama beberapa minggu sampai libur kelulusan tiba. Sehun mengatakan akan bersekolah di Seoul setelah ia lulus, Jongin tentu saja langsung ingin ikut, Kim ahjussi dan Kim ahjumma setuju saja, bahkan mereka yang mendaftarkan keduanya di SOPA high school setelah ijazah keduanya telah keluar.
Ayahnya yang brengsek itu menepati janji, Sehun selalu menerima uang dari rekeningnya. Dengan uang jajan dari ayahnya yang tidak sedikit jumlahnya dan uang tabungannya, Sehun berhasil membeli sebuah mobil sport merah dan motor sport hitam untuk ia pakai saat di Seoul nanti. Dan saat libur 3 bulan itu datang, Jongin dan Sehun berpamitan untuk pergi ke Seoul. Keduanya menempati gedung apartemen yang sama, hanya saja berbeda kamar, Sehun masih cukup normal untuk tidak sekamar dengan Jongin.
Di Seoul, entah bagaimana orang – orang baik bermunculan dan membuat hidupnya lebih berwarna. Mungkin noonanya yang di surga meminta kepada Tuhan untuk mengirimkan Sehun teman. Saat itu Jongin sedang merangkul bahu Sehun dan keduanya berjalan – jalan di sekitar apartemen sampai...
"Kau Sehun kan ?" Sapa seseorang. Sehun menoleh dan mendapati sosok yang tidak asing sedang menatapnya ragu.
"Oh, Yunho hyung" Ujar Sehun. Yunho adalah anggota gank Rising God, mereka adalah musuh Wolf gank saat Sehun masih bergabung.
Yunho tersenyum, tak menyangka akan menemui Sehun lagi di kota yang berbeda. Yunho mengajaknya mampir ke sebuah cafe dan terjadilah perbincangan teman –atau musuh- lama itu. Yunho mengatakan padanya jika Rising God sudah bubar namun mereka berlima membuat sebuah usaha MMA, Yunho yang tau Sehun jago berkelahi mengajaknya untuk ikut MMA. Sehun menyetujuinya, Sehun pikir libur 3 bulannya pasti akan sangat membosankan, apalagi hanya dengan Jongin, jadi ia memilih ikut sekedar untuk melepas stress dan bosan, lagipula bagus juga karna ia dibayar setiap ia tampil.
Tidak Yunho saja yang menjadi teman barunya. Saat ia dan Jongin sedang melihat penari jalanan di tengah kota, seorang pria mendatangi keduanya dan bertanya apakah mereka bisa menari. Sehun maupun Jongin merasa bingung dan menggeleng sebagai jawaban, orang itu terlihat kecewa namun mengajak Sehun dan Jongin untuk ikut bersamanya. Ia membawa Sehun dan Jongin ke sebuah studio. Pria itu menyuruh Sehun dan Jongin duduk lalu memanggil seorang noona cantik yang diketahui bernama Kwon Boa.
Boa adalah penyanyi sekaligus penari yang cukup terkenal di korea dan pria itu meminta Sehun dan Jongin untuk menjadi backdancernya untuk sementara waktu. Awalnya mereka menolak tapi kemudian mereka setuju karna hanya untuk 2 setengah bulan dan hanya saat di Seoul saja mereka bekerja.
Sehun pikir sampai disitu saja namun pria itu meminta Sehun untuk menjadi partner Boa untuk menari, ia bilang ada sebuah koreografi dimana Boa akan menari duet dengan penari pria dan Sehun terpilih untuk menari bersama sang diva. Sehun sempat bingung namun ia setuju saja. Dan sejak itulah, Sehun dan Jongin diajari untuk menari. Yang awalnya hanya pekerjaan itu mulai berubah menjadi hobi untuk keduanya. Sehun juga semakin dekat dengan Boa karna noonanya itu sangat perhatian padanya sama seperti Su jeong noona.
3 bulan liburannya cepat berakhir karna banyaknya kegiatan yang mereka berdua kerjakan. Ingin fokus pada studinya, Sehun memutuskan untuk vakum pada dunia MMA, Yunho tentu saja kecewa karna fans Sehun banyak tapi ia tidak memaksa karna ingin yang terbaik untuk hoobaenya. Sehun tersenyum karna Yunho perngertian padanya.
Kini hari pertama sekolah telah tiba, Sehun sudah memakai seragam barunya, begitu juga Jongin. Sehun memacu mobilnya dan Jongin memacu motornya untuk ke sekolah baru mereka, SOPA high school. Setelah memarkirkan kendaraan mereka, keduanya berdiri di depan gedung utama SOPA HS.
"Siap untuk memulai hidup barumu di sekolah baru cicak albino ?" Tanya Jongin.
"Yeah hitam" Jawab Sehun.
"Kajja !" Ujar Jongin semangat.
Keduanya pun masuk ke gedung utama itu dan memulai hari – harinya di School Of Performing Art Seoul High School.
.
.
.
Pocky Boy ; Sehun past - THE END
Author's note :
Chap ini bosen kaga ? Pasti bosen dah, sudahlah terima saja. Kalau ada yang kira- kira aneh juga sudahlah, aku sudah muak/? #apaan
Lumayan lah ya gw updatenya ga lama - lama amat, give me applause #plak
Udah kejawab semua kan tentang masa lalu Sehun, tentang 'dia', tentang pocky, tentang kenapa Sehun trauma sama kata - kata pembawa sial, trus udah pada tau semua kan apa yang Luhan liat di punggung Sehun, kalo belum, silahkan baca ulang sampai mabok :D
Sip, so pr gw sekarang adalah bikin Hunhan moment. Ini dia, bisa gw tunda 3 ato 4 chap lagi kaga ? #sringg/? #ceritanya_ilang #Cuma_bercanda #Jangan_hantuin_gw
Mana noh yang minta Sehun disiksa karna ga peka sama Luhan ? Stelah tau masa lalu Sehun kya gini, Masih mau Sehun disiksa ato engga ? #ini_serasa_ngomongin_bedeesem_btw
Berita baik untuk kalian, gw udah tau ini endingnya bakal gimana #terharu/? #trus_kenapa/? #sip_gw_hanya_sedang_mabok_tugas/?
Untuk reader yang namanya SPPhunhan, selamat hipotesis anda benar semua ! :D Mungkin anda cocok jd cenayang #apaan
Untuk maple Fujoshi2309, maaf mungkin anda butuh snickers :D Gw masih muda elah, jgn panggil ahjussi -.- panggil gw maknae 8D
Untuk ide - ide kalian yang wow, saya tampung dan kalo bisa saya masuk2in dah biar readerservice gtu/?
Sekian~
.
.
~#A n Q and Few Of Review Reply#~
Q : Sehun nya kapan peka? | sehun kapan bengkok?;( | kapan sehun bakalan tertarik sama luhan? | Kapan sehun takluknya :'v
A : Chap depan mungkin/? ato chap depannya lg, diusahain secepetnya dah
Q : Btw si sehun napa gak ada rasa ama luhan si?
A : Soalnya dia cuek/?
Q : masa lalu sehun dibahas chapter depan kan? | semuanya bakal dijelasin chap depan kan? Jgn stengahstengah ya kak :D
A : Yo'a. Ga setengah2 kok, udah tuntas
Q : Trus jadi si sehun ngebunuh siapa? Apakah noona nya? Atay bapaknya?:'v*abaikan waks
Q : Dia ngebunuh hayati di rawa - rawa/?
Q : sehun itu bekas apa sih thor/? preman/? anggota genk/? perampok/? pembunuh/? *abaikan pertanyaan absurd ini*
A : Bekas preman sama anggota genk, bukan pembunuh tapi ._.
Q : dsini uke nya siapa ? Lulu ge kan ?
A : Lulu pasti
Q : Apa nanti Sehun gk akan marah ke Jongin krna udh ceritain ttg masalalu.a ke Luhan? | hee jong jong kalau lu ceritain masa lalu sehun, emg sehun gak sewot nanti._.
A : Oh iya, ga kepikiran, tapi ga kayanya/?
Q : Nanti ada Kaisoo gak?
A : Ada
Q : BTW DID DYO STRAIGHT HERE OR WHAT?
A : I DUNNO :D
Q : Kyungsoo udah mulai muncul ya?
A : Yup
Q : Apa Kyungsoo gk curiga sama Luhan yg datang tiba" dan obrak-abrik album foto.a?
A : DO curiga waktu Luhan dateng tiba2, tapi dia gtw Luhan obrak - obrik album fotonya
Q : Kenapa Kris ogah"an gitu? Apa Kris cemburu sama Sehun? Kris punya prasaan ya sama Luhan?
A : :O ya ya bisa jadi !
Q : Sehun tinggal dimana? Apartemen ato nyewa rumah bareng Jongin? Ato punya rumah sendiri di Seoul?
A : Apartemen chingu
Q : Ohhhh. Dia itu berarti ya noonanya Sehun? Atau beda lagi? | 'dia' itu siapa?
A : That's right ! :D dia itu noona Sehun yang udah meninggal tapi ntar diidupin lagi biar kaya dragon ball #apaan
Q : ada adegan luhan tau kalo sehun anak mma?teruss dia tetep suka sehun gaaaa?
A : Ada. Tetep, tenang aja, Luhan setia /?
Q : Berarti jongin sama sehun kenal laogao dong ya?
A : Ga kenal, cuma tau
Q : ah sehun dianggap pembawa sial ya sama ayahnya?tapi kenapa?apa pas ngelahirin sehun ibunya meninggal makanya dikata pembawa sial?
A : Bingo !
Q : kamu cowo author?
A : Yo'a
Q : Umur 17 tapi ++ maksudnya apa?
A : ya, 17 itu umur gw 17 tahun, ++ itu lebih 2 bulan 30 menit/? :v
Q : Author mesum kek jongin ya? O.o
A : ^ -.- Gw polos :v
Q : Waaww oppanya unyuu ngegemesin~ fanboynya sehun ya?
A : makasih, tp gw manly :D yo'a
R : Kkamjong cepet amat jadi beloknya X'D tapi ngga papa. Lebih cepat lebih baik X3
RR : Kan ceritanya kekuatan cinta/? -sebenernya sih biar ga tambah lama aja-
R : buat Sehun sengsara dong abis itu ada cowok lain yg suka ama luhan dan luhan jadi berpaling ama cowok itu,abis itu gantian sehun yg ngejar ngejar luhan/?*apaini? | Btw kak, nanti atau kapan... buat Sehun yang ngejar" Luhan ne~
RR : Kasian Sehun'y kesiksa mulu. Gw juga belum kepikiran adegan Sehun yang ngejer Luhan
R : Bikin luhannya nyesek tersakiti temewek-mewek dah pokoknya thorr .. Kkk krn pada intinya gua suka sama Luhan yang menderita gegara Sehun /plak!
RR : Lol, kejam amat chingu...kasiah weh, ntar pada jadi Sehun haters semua
R : Oya oppa, ceritain juga dong ttg masalalu.a Luhan, walaupun cman dikit. Biar imbang gitu sama Sehun
RR : Masa lalu Luhan ? Hmm, sebenernya ga da yang penting sih sama masa lalu Luhan #plak
R : Laogao ganteng bgt ampe pacaranya cantek2 hshshsh. Rain d kemanain btw?
RR : haha, yo'a, biar ga mainstream/?. Rain sama boa aja ntar
R : aku geli sendiri baca luhan yg pengen nembak sehun, kenapa caranya feminim banget? Padahal dia tau sendiri pan kalo si sehun itu kyk gitu, pokoknya tipetipe yg nggk mungkin kerayu sama yg kyk begituan wkkk~
RR : Sengaja biar lucu, itu juga kalo lucu
R : MAKE SEHUN JELLY LATER PLS
RR : Dicoba :D
R : hunhan kok rasanya ga ada developing feelings for each other ya.. luhan kesannya main2 gitu, (perasannya ke sehun ga dalem) trs yg sehun juga ga tertarik.. jadi romance dramanya berasa kurang.. malah disini yg baru muncul setelah 8 chapter juga kaisoo.. bisa aja ini emang konsep author buat lebih nonjolin sehunnya daripada hunhan sih ya ._. apalagi bakal dateng 'dia' nya sehun, hunhan rasanya malah makin tenggelam dong ;_; tp kalo itu sih terserah author yg udh merencanakan cerita..
RR : Luhan serius kok sama Sehun n Sehun akan saya pelet biar cepet suka sama Luhan, so stay tuned :D Emg, saya lebih nonjolin Sehun sih, soalnya tonjolan dia besar #ok_mulai_salah_fokus, hunhan ga akan tenggelam kok, pasti saya buat hunhan jatuh cinta secepatnya, Sorry klo bkn greget -bow-
R : kayaknya ff nya berchapter banyak ya.. soalnya masih banyak yang belum di bahas...
RR : Gtw, belum ditentuin n dikira2 ._.
R : btw iyaa seohyun sma yonghwa ajaa. jangan hurt hurt eaaa oppa
RR : okeh
R : Ehem... menurutku ke-agresifan Luhan itu udah maks banget. Knp? Krn menurutku, klo uke itu terlalu agresif, entah knp jd bikin ilfiil. Bener kan? Kayak si Sehun yg gk pernah gubris semua godaan/?/ Luhan. Mmm... jadi maksudku gini, (menurutku) uke yg bikin cepet tertarik itu adl uke yg sikapnya acuh. Tp itu terserah oppa sih... (aku pasti nurut aja sama cerita oppa )
RR : Iya sih, tapi klo Luhan acuh trus Sehun jg acuh ya ga ktemu2 :/ jd sengaja gw bikin Luhan agresif ._.v
R : next chap fast update yaw | musti cepet" diupdate thor ok | pokoknya cepetan update oppa! :) | Lanjut yang cepet | Fast update pwis thoorrr | fast update ya opp! | next fast update thor, awas kalo gak gue bunuh lohh | lanjut aja deh thor. kalau bisa jangan lama lama ya... | Dan cepetin update nya ya thor! ditunggu~ | PLS NEXT CHAPPIE YOU NEED UP ASAP PLS | fastt updateeeeeee oppaaa | next chapter jngan lma2 thor | please fast update dong'-')
RR : Mudah - mudahan. Yang pengen ngebunuh itu, horror banget ._.
Done ! :D Thanks for review fav, foll, saran, kritik dan protes'y :D Feel free to comment n asking :D Bebas asal sopan ! :D -deep bow-
.
.
.
Akhir kata
.
.
.
So, Mind To Review ?
