Chapter 30 update! (Last Chapter)

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre–Yang sekiranya sesuai

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 30

Orang-orang yang kusayangi.

White akhirnya bisa disegel di tempat ia muncul untuk pertama kali, dengan mengerahkan seluruh kemampuannya Naruto berhasil menyegel White menggunakan jutsu terlarang milik klan ibunya. Sedangkan disisi lain, Naruto sepertinya masih tidak percaya bahwa dia benar-benar telah mengalahkan White, ini seperti khayalan yang menjadi kenyataan. Mimpi yang tak bisa digapai berhasil ia raih dengan mengandalkan kegigihan serta semangat juang yang hebat.

Kushina masih mendekap hangat Naruto, kehangatan itu begitu nyaman dirasakan Naruto, ia tak bisa berhenti tersenyum atas kesuksesannya mengalahkan White, wajah cantik sang ibu pun juga tak kalah menarik daripada Naruto, wanita berambut merah itu juga tersenyum sambil mengelus-elus rambut putih Naruto.

"Ibu?"

"Hmm?"

"Aku berhasil…"

"Iya, aku sudah tahu itu.."

"Aku berhasil bu.."

"Iya, ibu sudah tau Naruto.."

"Aku benar-benar berhasil bu…."

"Iya nak, ibu sudah tau"

"Aku benar-benar berhasil kan bu… hiks hiks hiks.."

"Iya, sekarang kau bisa menemui teman-temanmu, masyarakat desa Konoha yang telah menunggu kesadaranmu, dan calon istri serta anakmu, dattebane…"

"Hiks hiks hiks disaat seperti ini, ibu masih bisa bercanda… tapi kau benar bu.. aku harus sadar dan melindungi mereka lagi, untuk 10 tahun kedepan, 20 tahun kedepan, dan selama aku masih bisa bernafas karena merekalah orang-orang yang kusayangi…"

"Ibu bangga kepadamu, Naruto… seandainya ibu bisa melihatmu menjadi Hokage, tersenyum sambil mengenakan jubah putih dan caping kebanggaan para Hokage terdahulu, ibu pasti sangat bangga kepadamu…" kata Kushina yang perlahan melepas pelukannya dan menatap iris lembut Naruto yang berlinang air mata kebahagiaan.

"Ibu tak perlu cemas, aku… akan selalu mengingat ibu…"

"Pasti, itu harus… sekarang, ayo kita temui ayah dan gurumu." Ujar Kushina sambil berdiri pelan-pelan, Naruto yang sudah tak memiliki tenaga lagi pun juga berdiri tertatih namun Kushina terlihat membantunya untuk berdiri. "Pegang tanganku, Naruto"

Tangan mereka saling bersentuhan, dan tiba-tiba mereka menghilang dari dunia kegelapan itu menghilang seutuhnya menuju ke dunia di mana mereka berdua sudah menunggu kedatangan Naruto untuk yang terakhir kalinya. Jiraiya dan Minato terlihat duduk berdua sambil tertawa membahas sesuatu.

"Jiraiya-sensei? Ayah?" ucap Naruto dari belakang mereka berdua, Jiraiya dan Minato pun menoleh ke arah Naruto. "Naruto? kau berhasil…"

"Tentu saja, diakan muridku…hehe.. duduk sini!" dan mereka berempat pun duduk di bawah bintang-bintang yang berkelap-kelip, ruangan itu berwarna kuning cerah, sangat berbeda dengan tempat yang sebelumnya. Di sini penuh dengan kehangatan, kenyamanan, dan ketentraman. Sehingga membuat hati Naruto tenang dan rilex. Mereka berempat bercanda ria, melupakan kejadian yang baru saja menimpa mereka,White telah dikalahkan dan itu membuat mereka senang, termasuk Naruto sendiri.

"Naruto? waktu kami disini hanyalah 30 menit saja, ayo tanyakan semua pertanyaan yang ingin kautanyakan, kata-kata yang ingin kau sampaikan kepada kedua orang tuamu juga boleh… di sini kami memperlakukanmu sangat spesial,"

"Apanya yang spesial, dasar ero sennin!"

"Hahahaha.." semua ikut larut dalam candaan itu. dan setelah tawa itu berakhir, Naruto terlihat memikirkan sesuatu, sesuatu yang selama ini ia pendam dalam hatinya, senyuman itu mengawali pembicaraan yang menyedihkan.

Naruto tersenyum sebelum memulai perkataannya. Minato, Kushina dan Jiraiya terlihat menyaksikan senyuman penuh penderitaan tersebut, yang sudah disembunyikan selama bertahun-tahun. "Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, sejak kecil aku tidak memiliki siapapun, aku hidup sebatang kara, aku kira Sandaime adalah kakekku, tapi rupa-rupanya tidak, saat aku mencoba berteman dengan anak seumuranku, aku malah diacuhkan, aku terus berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari warga desa, namun yang bisa kulakukan hanyalah berbuat keonaran, menarik perhatian dengan bersikap bodoh adalah salah satu cara yang tepat, tapi bukannya disukai aku malah semakin dibenci…. Penderitaanku tidak berakhir di situ saja, di ujian untuk menjadi Genin aku gagal total…. Walaupun pada akhirnya Iruka-sensei meluluskanku karena ketidaksengajaan… ketika aku melihat keluarga yang bahagia, aku jadi terpikirkan sesuatu… 'Aku ingin kedua orang tuaku memelukku, mengajakku jalan-jalan, membelikanku es krim, makan malam bersama, dan kegiatan lain yang seharusnya bisa aku jalani bersama kalian….. Tapi… mengapa kalian tidak berada di sisiku! Kenapa sejak aku lahir kalian telah mati! aku membutuhkan kalian! Benar-benar membutuhkan kasih sayang kalian! Aku hancur! Aku menyedihkan… bagaimana bisa kalian meninggalkan seorang anak kecil tanpa bimbingan dari orang tua! Kalian orangtua yang menyedihkan! Hah hah hah? …."

"Naruto?" mendengar keluhan itu, Kushina tak bisa menahan air matanya. sedangkan Minato hanya bisa menundukkan kepalanya sambil tetap mendengar isi hati Naruto.

"Akan tetapi….. setelah aku hidup cukup lama, akhirnya aku berhasil menemukan orang-orang yang bisa kupercayai, yaitu teman-temanku… pada saat itulah kehidupanku sudah tak begitu sepi lagi, dan ditambah kehadiran Jiraiya-sensei yang membuatku bisa tersenyum lepas, namun….. Jiraiya-sensei meninggal dunia, dan itu membuatku sangat sedih. Pada akhirnya aku masuk ke dalam lubang kebencian… dan sampai sekarang aku masih belum bisa keluar dari lubang itu, rambut berwarna putih ini lah yang menjadi tandanya… sebenarnya aku bukan Naruto yang dulu, ayah? Ibu?"

Kushina pun memegang kedua pundak Naruto, "Mendengar keluhanmu itu, benar-benar membuat ibu sangat sedih… jika ibu bisa kembali ke masa lalu, ibu pasti akan melindungimu dan menyelamatkan nyawa ibu agar bisa memberimu kasih sayang, perhatian seperti anak-anak pada umumnya, ibu mengerti, benar-benar mengerti perasaanmu… Hiks hiks hiks.. ibu menyesal, telah meninggalkanmu Naruto." ucap Kushina yang sudah tak sanggup membendung air matanya, Minato yang tampak acuh mencoba mendekati anaknya. Ia memeluk Naruto dan Kushina bersamaan.

"Maaf Naruto, sebagai ayah aku memang benar-benar gagal… aku tak bisa membayangkan penderitaanmu selama ini, karena ayah tau… itu sangat menyakitkan… Naruto? ada hal yang ayah ingin sampaikan kepadamu… jangan sesali apa yang telah terjadi, bangkitlah dan berjalan untuk masa depan yang cerah… ayah yakin, semua pemikiranmu selama ini tentang kita. Akan berubah… dan menurutku kau tetap anakku, dan kau tidak akan berubah… kaulah Namikaze Naruto atau Uzumaki Naruto… pakailah marga yang menurutmu paling cocok untukmu… dan aku hanya ingin menitipkan sebuah pelukan kepadamu, kepada istrimu dan anakmu nanti, ayah dan ibu akan selalu menyayangimu.." ujar Minato sambil tetap memeluk istri dan anaknya.. Jiraiya yang melihat Suasana haru penuh tangis itu pun juga ikut-ikutan dalam dekapan hangat tersebut…. dan kakek tua berambut panjang itu memeluk ketiganya dengan sangat eratnya…

"Karena kita sebuah keluarga, dan ikatan kita tidak akan pernah terputus selama-lamanya… hihi.." tambah Jiraiya sambil tersenyum dengan suara khas kakek-kakek… dan suara itu membuat ketiganya larut dalam canda tawa, semuanya termasuk Naruto… tawa itu menandai era baru, dari dunia Shinobi dan untuk bertahun-tahun ke depan, dunia Shinobi di bawah kuasa Naruto akan aman sepenuhnya.

Keluarga harmonis itu berpelukan dengan sangat eratnya, hingga waktu berpisah pun telah tiba.. Minato, Kushina dan Jiraiya berpamitan kepada Naruto.

"Naruto? ayah tidak bisa berbicara banyak lagi, semuanya telah ayah sampaikan kepadamu… ayah belum mau menemuimu diwaktu yang singkat, karena ayah ingin melihatmu tumbuh dan memiliki umur yang panjang… dan dari langit, ayah ingin selalu melihat senyumanmu…" salam Minato dikesempatan terakhirnya berbicara.

"Ibu hanya ingin berpesan kepadamu Naruto, emmm apa ya? mungkin kau harus memilihwanita yang cantik, bisa memasak sayur-sayuran, melayanimu dengan baik.. yah seperti ibumu ini.. hehe… itu saja Naruto, jaga dirimu baik-baik ya..cup." ucap Kushina sambil mencium kening Naruto untuk terakhir kalinya.. Minato dan Kushina telah berdiri menjauh beberapa meter dari Naruto, dan yang terakhir Jiraiya..

Jiraiya pun langsung berbalik tanpa mendekati Naruto, ia juga tidak berbicara apapun ketika perpisahan itu terjadi namun saat ia sudah empat langkah berjalan, ia berhenti sejenak. Minato dan Kushina yang belum mengikuti Jiraiya pun masih terdiam di posisinya sambil melihat sikap Jiraiya yang aneh. Naruto hanya bisa melihat punggung lebar sang guru.

"Tidak ada yang ingin kubicarakan lagi denganmu, Naruto… tapi aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku, ini permintaanku seumur hidup.."

"Apa itu?"

Jiraiya berbalik sambil tersenyum bahagia. "Carikan jasadku yang tenggelam diperairan Amegakure.. aku tidak bisa bernafas di sana.."

Air mata lagi-lagi mengalir dari salah satu mata sharingan Naruto, mengalir pelan membasahi pipi bagian kanan. "Aku mengerti, Jiraiya-sensei.."

"Itu baru muridku..hehe.."

Ruangan perawatan Naruto.

Di samping itu, orang-orang yang telah menunggu Naruto di dalam ruangan perawatan dibuat tidak percaya ketika air mata tiba-tiba mengalir melalui sela-sela pelupuk matanya, air itu menetes pelan dan mengejutkan semua orang yang berada di situ.

"Naruto menangis?" ucap Kakashi terkejut.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" kata Sai penasaran. Tsunade, Inoichi dan Shizune pun bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di alam bawah sadar Naruto, namun semua jawaban itu belum bisa dijawab, karena Naruto masih belum sadarkan diri. Sakura yang melihat itu, tangannya berusaha menyeka air mata Naruto, dan meyakinkannya.

"Jangan menangis Naruto, ada aku, dan semuanya yang telah menunggu kehadiranmu kembali.. cepatlah sadar, dan jadilah Hokage seperti biasanya, karena semua orang yang tinggal di Konoha telah merindukan kepulanganmu.." tutur Sakura sambil mengelus-elus pipi lembut Naruto.

Alam bawah sadar.

Dan disaat bersamaan, mereka melayang di udara dan digantikan oleh serbuk-serbuk cahaya yang berkilauan, Naruto masih mendangak melihat senyuman terakhir mereka, dan saat itulah ia berpikir. Bahwa melindungi orang-orang yang ia sayangi adalah pekerjaan yang harus ia ambil, seberat-beratnya pekerjaan itu, akan lebih menyakitkan jika ada korban jatuh atau kematian merenggut nyawa orang yang kita sayangi.

"Tidak akan lagi ada kematian, tidak akan ada lagi yang namanya tangisan maupun kebencian… yang ada sekarang hanyalah kasih sayang…" Naruto melihat ke atas, di mana langit-langit yang jauh telah menunggu kepulangannya, ia masih berdiri dan memejamkan matanya perlahan-lahan.

Sekarang hanyalah kegelapan yang dapat ia rasakan, bahkan ia tak bisa merasakan apapun, kecuali tubuhnya yang kaku tertidur di sebuah kasur empuk rumah sakit, tangan kanannya berusaha ia gerakkan, tapi hanya satu jari yang bisa bergerak. Pada saat itu juga tangannya merasa dipegang oleh seseorang, membuatnya memiliki keinginan yang lebih untuk membuka matanya, dan melihat apa yang telah berada di sekitarnya.

"Naruto?"

"Naruto?"

"Naruto? kau dengar aku?"

Ucapan-ucapan itu mulai terdengar bersahutan di gendang telinga Naruto, dan mata Naruto tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya. Tapi mata itu tidak bisa sepenuhnya terbuka, karena Naruto masih dalam halusinasi tingkat tinggi, bahkan untuk tersadar dengan cepat pun ia berusaha semaksimal mungkin.

Orang-orang yang melihat Naruto mulai menunjukkan senyuman kebahagiaan di bibir mereka masing-masing dan selang beberapa menit setelah gerakan tangan yang dilakukan Naruto, akhirnya kedua mata sang Hokage keenam dapat terbuka dengan lebar.

"Naruto!" teriak Sakura yang sudah sangat merindukan orang yang dicintainya tersebut, sedangkan yang lainnya hanya tersenyum, meneteskan air mata kebahagiaan, dan semuanya larut dalam suka cita. Dan akhirnya orang yang disayangi oleh semua warga desa Konoha, telah sadar kembali, dengan senyuman yang juga sangat dirindukan.

"Naruto? akhirnya kau sadar, kau telah terbaring selama hampir satu bulan.." ujar Sai sembari mengusap-usap pelipis matanya. Kakashi pun tersenyum dengan ciri khasnya, dan Tsunade juga demikian, diikuti Shizune dan paman Inoichi, mereka senang atas kesadaran Naruto.

Tanpa berbicara sepatah dua patah kata, Naruto mendengar suara teriakan-teriakan dari luar rumah sakit, suara yang cukup gaduh dan semarak itu membangkitkan keingintahuannya, ia duduk di ranjang dan berusaha berdiri sendiri.

Tapi…..

Naruto terjatuh…..

Wajahnya masih dingin dan tak menunjukkan ekspresi apapun….. ia masih dalam keadaan setengah sadar…

"Hati-hati Naruto, aku bantu…" ucap Sakura sambil berusaha membantu Naruto untuk berjalan mendekati jendela. dan ketika ia melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar, ia terkejut. dan hal itu membuatnya sadar sepenuhnya..

"Semuanya?"

"Hokage-sama!"

"Akhirnya, Hokage telah sadar!"

"Yeahh! Kita telah menunggu anda, Hokage-sama!"

Suara teriakan-teriakan itu berasal dari seluruh warga desa yang berduyun-duyun datang membanjiri halaman rumah sakit, semua warga desa pergi meninggalkan pekerjaannya, anak-anak pun juga tidak bermain untuk sementara, dan semuanya tumpah ruah diselimuti kebahagiaan yang sangat luar biasa, ada yang menangis haru, tersenyum karena senang, bersemangat, melompat-lompat kegirangan, dan masih banyak hal lagi yang terdapat di sana, Naruto yang melihat orang-orang desa yang berbondong-bondong datang hanya untuk menjenguknya seakan-akan masih tidak percaya dengan kejadian tersebut.

"Kau terlalu lama tertidur, baka."

"Sakura?"

"Tapi aku bersyukur bisa melihatmu lagi, matamu sedikit lebih baik…hehe.."

"Terima kasih Sakura, karena selama ini telah menungguiku tanpa lelah… setelah ini berakhir.. aku akan menikahimu…"

"Hee? I-itu terlalu cepat.."

Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu pun tertawa mendengar ucapan mengejutkan dari sang Hokage, dan Naruto pun hanya memandang wajah merona Sakura dengan senyuman tipis. 'Ibu? Aku telah menemukan pilihanku… Ayah? Apakah kau bisa melihatku? aku sedang tersenyum sekarang. dan Sensei? Setelah ini aku akan melakukan pencarian darurat di Amegakure…' batin Naruto sembari melihat ke bawah dan sesekali melihat ke angkasa yang luas, siapa tahu, ayahnya bisa melihat dirinya yang sedang tersenyum senang.


x


Keesokan harinya, Naruto telah terbangun dari tidur lelapnya yang panjang, serasa cukup beristirahat. Ia keluar dari rumah untuk menjalankan tugasnya seperti hari-hari biasanya, tapi ada sedikit yang berbeda, sebelum pergi ke gedung pemerintahan, sudah tersaji dua piring berisikan makanan, dan satu bekal untuk di bawa ke kantor.

"Sakura?" ucap Naruto terkejut.

"Kenapa kau melihatiku seperti itu, Naruto?"

"Em, kau cantik dengan celemek itu, aku berangkat…" ujar Naruto sambil mengambil kotak makan siangnya, dan roti yang belum masuk ke mulutnya. Wajah Sakura dibuat tersipu lagi, kali ini dengan pujian Naruto yang terlihat terpaksa.

"Aku belum jadi istrimu, ttebayou? Ahh… mo"

Hokage berjalan pelan menyelusuri jalanan desa yang ramai tapi terlihat senyuman-senyuman khas di pagi hari yang membuat Naruto betah berlalu lalang, melewati kerumunan orang, berdesak-desakan dan masih ada yang mengkhawatirkan kondisi Naruto.

"Hokage-sama, jangan memaksakan dirimu ya!"

"Beristirahatlah jika lelah…"

Naruto hanya membalas ucapan-ucapan itu dengan senyuman tipis, yang biasanya ia perlihatkan dipagi hari, seperti ini. setelah beberapa menit dalam perjalanan ke gedung pemerintahan, akhirnya dia telah sampai dan duduk di kursinya, Shikamaru dan Neji telah berdiri di depannya bersiap untuk menerima misi pencarian darurat ini.

"Aku bertemu Jiraiya-sensei pada saat aku bertarung di dalam tubuhku, dan dia berpesan kepadaku untuk mencarikan jasadnya yang tenggelam di perairan Amegakure, dan untuk itu aku perintahkan kalian berdua untuk meminta bantuan Jonin Amegakure, dan aku bersama seluruh pasukan Anbu akan ikut membantu pencarian.."

"Baik!"

Shikamaru dan Neji telah bergegas ke Amegakure dengan membawa surat pernyataan dari Hokage untuk meyakinkan Jonin Amegakure. Sedangkan disisi lain, Naruto telah bergerak menuju ke markas ANBU dan ROOT yang telah bergabung menjadi satu kesatuan. Naruto telah sampai ke gerbang markas ANBU dan ROOT, dan ia sudah disambut oleh penjaga gerbang di sana.

"Syukurlah anda telah sadar Hokage-sama,"

"Beritahu di mana mereka berkumpul, cepat."

"Laksanakan!"

Naruto sudah dibawa ke tempat luas dengan 50 pasukan ANBU dan ROOT terbaik, dan sisanya disiagakan di desa jika sewaktu-waktu ada masalah, seluruh pasukan berlutut ketika Hokage berdiri di depan mereka semua, lalu Naruto menyuruh mereka untuk berdiri dengan tegak.

"Ini adalah misi darurat rank S, semua pasukan yang berada di sini segera menuju ke perairan desa Amegakure, kalian aku tugaskan untuk mencari jasad dari salah satu legenda Sannin yang sekaligus guruku, Jiraiya. Bubar!"

Setelah mendengar perintah itu, seluruh pasukan langsung pergi keluar untuk segera menuju ke Negara Amegakure, lebih tepatnya di lautannya. Naruto pun juga tak tinggal diam di tempat, ia juga memutuskan untuk mencari jasad Jiraiya-sensei.

Neji dan Shikamaru masih berada dalam perjalanan menuju ke perairan Amegakure, namun sebelum keberangkatan mereka, Shikamaru mengirimkan surat melalui burung pengantar surat untuk mendapatkan persetujuan mereka, setelah beberapa jam dalam perjalanan. Akhirnya Shikamaru dan Neji sampai di gerbang besar Amegakure, Negara yang masih menangis sampai sekarang. hujan tiada berhenti dan itulah yang membuat Amegakure dijuluki desa yang selalu menangis.

Pemimpin Amegakure telah mengkonfirmasi surat dari Konoha, dan mereka berdua diizinkan untuk masuk guna menemui ketua Jonin di desa Amegakure. Mereka bertiga telah berada di ruangan yang tenang, hanya ada Shikamaru, Neji, dan ketua Jonin yang menggantikan peran Hanzo yang telah wafat.

"Maksud kedatangan kami ke sini untuk meminta persetujuan anda mengenai pencarian salah satu legenda sannin Konoha, Jiraiya. Yang diketahui telah wafat di perairan Amegakure." Ucap Shikamaru sopan.

"Emm, memang benar, Jiraiya telah tewas dibunuh oleh Pain, namun Pain telah tewas dibunuh muridnya Jiraiya, aku anggap itu impas, kalian aku izinkan untuk mencari jasad Jiraiya…"

"Dan ada satu hal lagi."

"Apa itu?"

"Saya ingin meminta anda memberi bantuan Jonin Amegakure yang memiliki kualitas dalam pencarian."

"Jangan meremehkan Jonin kami, kami akan membantu Konoha… tapi sebagai gantinya berikan kami perdamaian…"

"Tentu saja, Hokage kami pasti bisa melakukan itu." jawab Shikamaru percaya diri.

Di satu waktu, para ANBU telah sampai ke tempat tujuan, Shikamaru dan Neji serta para Jonin Amegakure telah menunggu kedatangan mereka. sedangkan Hokage sudah berdiri di depan sendiri membelakangi para ANBU tersebut.

"Bagaimana Shikamaru?"

"Seperti yang kaulihat, Naruto."

Naruto pun menjadi daya tarik tersendiri oleh sebagian Jonin Amegakure yang menganggap dirinya adalah anak yang diramalkan, "Itu Hokage keenam, Naruto Uzumaki.."

"Benar, orang yang dapat menyatukan 5 negara besar dalam satu waktu, padahal umurnya terbilang masih muda."

"Dia memang Hokage muda yang hebat."

"Kau dengar itu kan, Naruto?" ujar Neji dengan senyuman dinginnya.

"Aku bisa membaca pikiran mereka."

Dan di tengah hujan yang lebat itu, Naruto memimpin jalannya pencarian. "Sekarang aku ambil alih kepimpinan di sini, aku sudah memberikan pembatas di sebagian lingkar laut, dan kalian hanya perlu mencari di dalam lingkar ini, gunakan sensorik jika ada yang memilikinya, karena tubuh Jiraiya masih terselubung dengan energy alam, sehingga jasadnya masih utuh.. baiklah pencarian dimulai dari sekarang!"

Walaupun sudah diberi pembatas para ANBU dan Jonin Amegakure masih terlihat kesulitan, karena mereka harus berenang ke dasar laut untuk mencari satu tubuh jasad yang sangat sulit untuk dideteksi, Neji berusaha mencarinya dengan mata Byakugan, tapi tetap saja, ia masih terlihat kesulitan, bukan karena gelombang yang menganggu konsentrasinya tapi juga curah hujan yang tinggi sehingga menganggu daya jelajah mata Byakugannya.

Shikamaru terlihat berpikir untuk memecahkan masalah ini, sampai satu hari berlalu mereka belum menemukan jasad Jiraiya. Hari kedua, Naruto dan lainnya kembali melakukan pencarian kali ini curah hujan tidak begitu deras.

"Di sini tidak ada!"

"Di sini juga tidak ada,"

"Ayo kita cari lagi!"

"Ya!"

"Targetku hanya 3 hari pencarian saja, membutuhkan stamina dan konsentrasi tinggi untuk menemukanmu, Sensei." Naruto pun berpindah menjadi Mode sennin, ia berusaha mendeteksi keberadaan energy alam Jiraiya yang menyelubungi tubuhnya. Dan pada saat yang tak terduga, Naruto berhasil menemukan sisa-sisa dari energy alam yang sedikit, sesegera mungkin ia menceburkan diri ke laut dan menyelam ke dasar laut yang dalam.

"Di sekitar sini? tapi?" Naruto melihat bebatuan yang menumpuk, dengan kekuatan mode sennin ia berusaha mengangkat batu-batu itu, sampai akhirnya ia menemukan jasad Jiraiya-sensei yang berada di antara bebatuan. 'Akhirnya aku menemukanmu, Sensei. Blug.' Naruto mengangkat jasad Jiraiya-sensei ke permukaan.

Byurrr!

"Naruto? kau berhasil menemukannya?" ujar Neji terkejut, Shikamaru juga berpikir demikian.

"Sudah ketemu jasadnya…"

"Pencarian kita selama dua hari tidak sia-sia.." dan perhatian tertuju pada Naruto seorang, ia masih mengangkat Jiraiya dengan kedua tangannya yang kuat, sembari melihat langit yang masih menangis. 'Aku berhasil menemukan jasadmu, Jiraiya-sensei? Bolehkah aku membawanya pulang?" ujar Naruto tersenyum tipis ke arah langit yang masih gelap.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Naruto, lantas Naruto langsung menoleh ke kanan. "Akhirnya kau menemukannya, cepat makamkan aku di tempat yang layak, dan setelah ini aku bisa beristirahat dengan tenang. Hehe.."

Seolah-olah halusinasi belaka, namun yang berbicara pada Naruto itu memang Jiraiya yang menyampaikan sepatah dua patah kata sebelum menghilang tanpa meninggalkan jejak. "Serahkan padaku, Sensei.." jawab Naruto yang masih tersenyum pada langit yang menangis.

Pencarian itu telah selesai, dan membuahkan hasil. Jiraiya akhirnya ditemukan dengan keadaan yang utuh.

.

.

.

.

.

1 jam sebelum pemakaman, Tsunade, Naruto, Sakura, dan rekan-rekan lain masih melihat kondisi Jiraiya untuk terakhir kalinya, di peti mati dengan hiasan bunga itulah sang guru terbaring lemah dengan senyuman di bibirnya seolah-olah menyampaikan kebahagiaannya lewat senyuman di bibirnya yang tak akan pernah pudar.

Dan pemakaman itu pun dilakukan, diikuti oleh ninja dari tingkatan rendah sampai tinggi, Naruto sebagai Hokage memimpin doa untuk Jiraiya. Yang sekarang telah tersenyum di foto yang diletakkan di atas peti matinya sebelum ia benar-benar dikuburkan.

'Jiraiya adalah salah satu legenda sannin yang terhormat di Konoha, dia memiliki kekuatan yang hebat dan dijuluki pertapa katak, namun kekuatannya tidak seimbang dengan catatan prestasinya karena ia hanya memikirkan wanita dan menulis novel dibandingkan melindungi desa sebagai Hokage, tapi dia suka berkelana untuk mencari tahu informasi seputar ancaman Konoha, yang sewaktu-waktu bisa dia hentikan sendiri tanpa melibatkan penduduk desa, dan dari situlah ia berperan penting dalam menghentikan AKATSUKI, kini dia telah tiada menyisakan luka dalam bagi siapapun yang mengenalnya, tapi kalian tahu? dialah Shinobi terhebat yang pernah kukenal, guruku, Jiraiya-Sensei.'

Tiba-tiba saja langit mendung, dan hujan deras mengguyur pemakaman yang didatangi banyak pelayat tersebut, namun suasana di situ malah semakin menjadi-jadi ketika air mata Tsunade menetes dengan sendirinya, itu wajar karena wanita itu memiliki banyak kenangan dengan Jiraiya di masa kecilnya.

Naruto menengadah air yang jatuh dari langit.. dan sekali lagi ia harus meneteskan air mata.. kali ini air mata kesedihan..

"Jiraiya-sensei? Kau akan selalu dikenang banyak orang atas dedikasimu yang tinggi, dikenang sebagai pahlawan Konoha oleh masyarakat desa dan kau akan selalu ada di sini… di dalam hatiku.."

Semuanya berkumpul di bawah langit yang menangis ...

Kekuatan White

Selesai!

Flow- Sign! (My inspiration) setelah lagu ini berakhir, ada kejutan di bawahnya…

Aku menyadari jeritan kesakitan..
Terdengar keras di pikiranku..
Namun aku akan terus maju dengan luka ini..

Tak masalah jika melupakan segalanya dan berakhir tanpa perasaan..
Aku telah mengunci hatiku yang terkikis..

Tak masalah jika aku terluka dan tidak merasa sakit lagi..
Aku akan berlari meski jika harus menyeret kakiku..

Aku kehilangan jati diri..
Hancur dalam suara yang pecah..
Yang terdengar hanyalah deruan angin..

Ingin ku sampaikan padamu dan menyembuhkan lukamu..
Sebelum aku hancur dalam beratnya dunia..
Apakah kamu ingat langit yang penuh air mata?
Luka yang selalu menjagamu sejak itu..
Luka yang sama akan selalu menjagamu..

"Pilihlah kebaikan yang tidak dapat melukai dengan kekuatan"
Suara itu masuk ke dalam diriku dengan penyesalan..

Seperti tombol yang tidak sesuai..
Hati dan tubuhku pun terpisah..
Mencoba memahami hati ini sekali lagi..

Ingin ku sampaikan padamu dan menyembuhkan lukamu..
Sebelum aku hancur dalam beratnya dunia..
Apakah kamu ingat langit yang penuh air mata?
Luka yang selalu menjagamu sejak itu..
Luka yang sama akan selalu menjagamu..

Suara tangisan yang terdengar..
Tanpa diragukan lagi, merupakan tangisanku..
Semua itu demi seseorang..

Aku yakin kamu sudah tahu sejak awal..
Maka jangan pernah menyalahkan dirimu lagi..
Kamu harus merasakan tanda yang ku berikan untukmu..
Luka yang selalu menjagamu sejak itu..

Ingin ku sampaikan padamu dan menyembuhkan lukamu..
Dengan begitu dapat ku katakan tidak ada yang perlu ditakutkan..
Jangan pernah lupakan arti di balik senyuman itu..
Luka yang selalu menjagamu sejak itu..
Luka yang selalu menjagamu sejak itu..
Luka yang sama akan selalu menjagamu..


x


Power of White! prolog! Season 2!

5 tahun setelah pemakaman itu..

"Ayah, ayah! Bangun ayah!"

"Hmm?"

"Aku dan Ibu akan pergi ke pemakaman kakek, mau ikut?"

"Kau lucu sekali, Nasa?" Ditarik si kecil itu ke dalam selimut ayahnya.

"Naruto? ayo kita pergi ke pemakaman ayah dan ibu?" sahut Sakura sambil membuka selimut itu.

"Huh? Nasa? Jangan dekat-dekat ayah, dia bau.."

"Aku mengerti..tehe."

"Kalian ini, Humm.."

Persembunyian Orochimaru.

Seorang berkacamata dan kutu buku telah selesai mengumpulkan beberapa anggota AKATSUKI yang baru, salah satunya adalah Uchiha Madara. Peti itu terbuka, dan Madara telah dibangkitkan kembali..

"Aku di mana?"

"Rencana Obito telah gagal, dan kali ini aku membangkitkanmu untuk menjadi anggota AKATSUKI… namun aku akan bekerja bukan untukmu.."

"Menarik sekali, apa ada orang yang lebih kuat dariku…?"

"Tentu saja, dia lebih kuat dari Ashura dan Indra…"

Madara terkejut ketika Kabuto menunjukkan sesuatu dengan jarinya…

"Tidak mungkin..."


Author Note: Akhirnya selesai! bisa namatin fanfik itu sangatlah menyenangkan, dan terlebih lagi yang suka story ini banyak, jadi gak sia-sia ngetik sampai ribuan word... sampai malam suntuk... tolong di review ya, dan bagi silent reader harap mereview chapter terakhir ini... muncul lah kepermukaan dan bilang 'Aku ada' hahaha...

Oke!

See you next Season!

Waktu masih belum saya cantumkan… bisa lebih cepat bisa sebaliknya…. tapi kalau review ini mencapai 100, 1 juli akan saya publish...!