Season 2 Power of White: Akatsuki Revolution

Chapter 31! (new)

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre–Family, Mystery, Adv

Power of White 2 © Yoshino Tada

Power of White 2: Akatsuki Revolution

Chapter 31

5 tahun

Konoha, 5 tahun setelah pemakaman Jiraiya.

5 tahun semenjak dimakamkannya Jiraiya, 5 tahun yang penuh akan kebahagiaan, canda tawa di mana-mana, tidak ada peperangan, dan tidak ada yang yang harus dikorbankan. Semuanya telah terwujud sejak White disegel di dalam perut Naruto, tapi ancaman baru muncul tanpa sepengatahuan siapapun.

"Ayah! Bisa jalan pelan-pelan!"

"Ayah sudah berjalan pelan, Nasa.. baiklah sini ayah gendong!"

"Hihihi.."

Sekarang sebuah keluarga harmonis telah berjalan di tengah taman bunga yang harum, mereka hendak pergi menuju ke pemakaman ayah dan ibu Naruto serta Jiraiya. Senyuman manja gadis kecil terus terpancar manis menghiasi bibir mungilnya, digendong oleh ayahnya adalah kesenangan tersendiri, dan ini waktu yang sangat baik mengingat ayahnya selalu sibuk mengurusi urusan desa. dan sang istri Haruno Sakura sudah berjalan berdampingan dengan suami dan anaknya, sambil membawa keranjang yang dipenuhi bunga untuk ditaburkan ke makam nanti.

"Sudah 5 tahun kah?"

Naruto melihati istrinya dengan wajah ingin tahu, begitu juga Nasa. Gadis berumur 4 tahun berambut merah muda itu memandang sang mama yang baru saja berbicara sesuatu. Tapi sorot mata sharingan Naruto tak mau berubah dari waktu ke waktu hingga sekarang, ia masih sama saja dengan yang dahulu.

"Setelah ditemukannya Jiraiya-sama, muncul anak-anak penerus desa yang mengagumkan… mungkin Nasa juga termasuk diantaranya.. hehe.." ucap Sakura sambil tersenyum manis ke wajah Nasa.

"Emmm. Bisa tidak ya? Nasa menjadi kuat seperti papa, menjadi cantik seperti mama. Dan menjadi seorang Hokage terhebat melebihi Hokage-hokage terdahulu..." ungkap gadis imut itu sambil dihiasi senyum-senyum kecil menggemaskan, membuat kedua orang tuanya tersenyum bangga terhadap anak kesayangan mereka tersebut, Naruto mengelus-elus rambut halus Nasa dan bilang kepadanya.

"Aku yakin, Nasa bisa melakukannya. Karena Nasa cantik dan kuat. Seperti papa dan mama…"

"Mama juga sependapat dengan papamu, Nasa… kau pasti bisa menjadi Hokage hebat suatu saat nanti.."

"Papa? Mama? Emh! Aku akan berusaha! Ngomong-ngomong papa, tolong turunkan aku.."

"Ada apa?"

"Pokoknya turunkan aku…" Nasa berlari menjauh setelah turun dari gendongan papanya, sambil berteriak lucu. "Seorang calon Hokage tidak boleh digendong! Dattebasa!" ujarnya dari kejuahan sambil berlari pelan menuju ke pemakaman ayah dan ibu Naruto, setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka telah tiba ke tempat sakral itu. bunga-bunga berwarna merah dan putih ditaburkan Sakura dan Nasa bersamaan, sedangkan Naruto hanya memandangi nama-nama yang terukir di batu nisan tersebut.

'Namikaze Minato, Uzumaki Kushina, dan Jiraiya-sensei? Ayah, ibu dan kakek? Kejadian saat menyegel White masih terngiang-iang di dalam pikiranku, berkat kalian….. semuanya berjalan dengan semestinya..' tak terasa bunga-bunga itu telah menyelimuti tanah liat kuburan, dan bunga-bunga yang dibawa Sakura juga sudah habis ditaburkan untuk ketiga makam sekaligus. Mereka bertiga terlihat berdoa di masing-masing pemakaman itu.

"Baiklah, kita pulang…" ucap Sakura sambil mengelus rambut putrinya yang sebelumnya menempelkan kedua telapak tangan serta memejamkan mata beberapa detik.

"Aku yakin, doa Nasa akan sampai pada Kakek dan Nenek…"

"Emm!"

Mereka bertiga pun kembali pulang ke rumah, dan untuk sementara Naruto ikut dalam perjalanan pulang meskipun tugasnya sebagai Hokage masih menunggu di tempat kerjanya. Tapi Sakura mengajak Naruto untuk pergi ke rumah keluarga Uchiha sebentar, karena ada sesuatu yang ingin ia ambil.

"Selimut?"

"Iya, semalam wanita itu meminjamnya, entah mau diapakan selimut itu, yang pasti aku akan mengambilnya sekarang, kau harus ikut, Nasa juga!" ujar Sakura dengan nada meninggi karena teringat wajah wanita konyol berambut merah yang mesum. "Kita akan bermain di rumahnya? Shin?" tanya Nasa dengan suara rendahnya, tergambar jelas bahwa gadis kecil itu juga ingin pergi berkunjung ke rumah Shin.

"Baiklah, aku akan menemanimu…karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya, yang menyangkut desa." Sakura dan Nasa tersenyum melihat Naruto yang setuju dengan ajakan mereka berdua, dan mereka telah tiba di kediaman Shin. Keluarga Uchiha yang sebelumnya diacuhkan. Setelah memasuki gerbang utama, mereka telah disambut Sasuke yang sedang mencabuti rumput-rumput liar.

"Kau apakan rumput-rumput itu?" ucap Naruto dengan setetes keringat di belakang kepalanya.

"Hei Shin!?" teriak Nasa sembari berlari mendekati Shin. Shin terlihat mencabuti rerumputan bersama ayahnya. Sepertinya mereka baru saja mendapatkan hukuman dari mama Karin, melihat Nasa berlari ke arahnya, Shin langsung meninggalkan hukumannya dan menghampiri Nasa.

"Nasa? Tumben kau ke sini… Hokage juga? Biasanya kan ayahmu selalu sibuk mengurusi urusan desa?" tanya Shin ingin tahu, Nasa pun membisik-bisikkan sesuatu ke telinga Shin. "Oh begitu ya? baiklah ayo kita main ke sana.."

"Ya!"

"Hei! Nasa! Jangan jauh-jauh mainnya!"

"Tidak kok ma!"

"Dasar anak-anak…" Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bertanya pada Sasuke yang sudah berdiri menunggu mereka berdua.

"Tidak biasanya kau berkunjung ke sini. Naruto?"

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Sasuke."

"Lebih baik kita pindah ke ruangan sebelah, seorang Hokage sepertimu. harus tetap kuperlakukan dengan istimewa, setelah semua yang kau lakukan kepadaku selama 5 tahun ini."

"Jangan kau ingat-ingat itu kembali Sasuke.." melihat keakraban itu, Sakura tersenyum senang. sampai ia lupa tujuannya ke sini untuk apa. "Oh ya! Karin di mana, Sasuke?" sela Sakura yang mendadak teringat tujuan sebelumnya ke sini.

"Oh.. kau masuk saja. dia sedang ada di dapur, sekalian bilang.. buatkan teh dan cemilan untuk Hokage." Mendengar itu Naruto malah merasa sungkan. "Ah, tidak usah repot-repot Sasuke."

"Tidak apa-apa, sangat jarang menerima orang penting sepertimu."

"Kau terlalu formal, Sasuke." dan mereka berdua berjalan masuk ke rumah keluarga Uchiha dan masuk ke salah satu ruangan yang di sana tertutup rapat tanpa ada yang bisa menguping ataupun melihat mereka berdua yang sedang berbincang. Sakura pun terlihat seperti pencuri ketika mengendap-endap masuk ke dalam rumah Sasuke untuk menemukan Karin.

"Hoii!" seru Sakura sambil mengagetkan Karin dari belakang, tapi tampaknya usaha itu hanya sia-sia. "Apa yang kau lakukan?" tanya Karin tanpa ekspresi. "Kau lupa? Aku ninja tipe sensorik?" imbuh wanita berkacamata itu.

"Haha… gagal kah? ehh, di mana selimut yang kau pinjam semalam, tolong kembalikan sekarang."

"Hmm, maaf sepertinya tidak bisa Sakura, selimutmu baru saja aku jemur di halaman belakang rumah."

"Huh? Memang apa yang akan kau lakukan dengan selimut itu?"

"Aku hanya ingin merajutnya kembali, untuk Shin dan Sasuke? hitung-hitung berpura-pura melakukan sesuatu kegiatan yang bermanfaat, karena akhir-akhir ini. dia sering keluar rumah malam-malam." Ucap Karin mempelankan suaranya.

"Hah? Maksudmu, Sasuke?" Karin mengangguk. Sakura penasaran dan ingin tahu apa yang Sasuke lakukan di tengah malam seperti itu. 'Aku pikir, dia dan suamimu sedang merencanakan sesuatu, ini mengenai desa."

"Begitu ya? baiklah nanti coba aku tanyakan pada suamiku, siapa tahu dia mau memberitahukan sesuatu kepadaku.."

"Baguslah kalau begitu, aku tidak mau Sasuke keluyuran di tengah malam." Seketika itu Sakura teringat permintaan Sasuke. "Oh ya, Karin, Sasuke menyuruhmu untuk membuatkan teh dan cemilan, untuk Hokage.."

"Hokage? Bukankah dia suamimu?"

"Biar terlihat formal hihi.." tambahnya dengan nada bercanda. Karin pun membuatkan sesuatu yang diminta Sasuke, sedangkan Sakura menungguinya di pinggir rumah, duduk santai sambil menyangga dagunya, rerumputan dan air mancur bambu adalah pemandangan yang ada di hadapannya, suara air yang menenangkan hati juga turut ia dengar menggunakan indera pendengarannya. Di tempat lain, Nasa dan Shin terlihat bermain bersama, mereka terlihat akrab sekali, bukan seperti Naruto dan Sasuke ketika masih anak kecil, mereka begitu akrab dan terlihat dekat.

Uchiha Shin adalah anak dari Uchiha Sasuke dan Uzumaki Karin, anak laki-laki itu memiliki rambut merah seperti ibunya, tapi dengan gaya rambut yang mirip dengan ayahnya, tatapannya dingin namun mudah bergaul dengan siapapun.

Anak-anak itu terlihat duduk seusai bermain-main di halaman rumah Uchiha. Mereka duduk dan menatap dinding lambang klan Uchiha yang terlukis rapi di hamparan dinding tua tersebut. "Hei hei? Shin?"

"Hmm?"

"Sebenarnya apa arti dari lambang Uchiha? Mereka mirip kipas dengan dua warna yang berbeda.. aku penasaran, apa kau mengerti maksudnya?" tanya Nasa sambil melihat wajah Shin yang memandang agungnya lambang klannya itu.

"Tentu saja aku tau.. Ayah bilang kepadaku, bahwa lambang itu diartikan sebagai kipas pelindung desa Konoha, yang menyapu seluruh musuh yang mengancam ketentraman desa." ucap Shin tanpa memandang wajah Nasa. Anak laki-laki itu terus menatap lambang klannya.

"Oh begitu ? mmm" gadis berambut merah muda itu tampak paham dengan apa yang dimaksud Shin dan ia hanya menunggu giliran Shin untuk bertanya, sampai pertanyaan serupa ditanyakan oleh Shin.

"Kalau begitu, apa arti dari lambang klan Uzumaki? Bukankah lambang itu berbentuk bulat, seperti pusaran dan berwarna merah, pakaian Jonin selalu ada lambang itu." tanya Shin. Ia pun juga melihat baju putih Nasa yang memiliki gambar lambang klan Uzumaki di tengahnya. Nasa pun membalasnya dengan senyuman sebelum mengucapkan sesuatu.

"Mungkin, pusaran berwarna merah itu mengartikan sebuah jimat keburuntungan Shin…"

"He?"

"Kau tahu kan? setiap Jonin memiliki misi yang berat disetiap tugasnya, dan itu untuk jimat keberuntungan supaya para Jonin bisa kembali pulang dengan selamat, tehe."

"Ah, kau hanya membual Nasa. Mana ada lambang klan yang mempunyai maksud semacam itu."

Dan tiba-tiba saja, Sakura merangkul kedua pundak mereka dari belakang, "Bukan seperti itu Nasa, kau salah mengartikan lambang klan papamu, baiklah akan mama jelaskan, Shin kau juga harus dengar ya."

"Mama?"

"Emm!"

Karin telah membuat teh dan camilan yang diminta Sasuke. wanita berkacamata itu pun berjalan pelan menuju ruangan diskusi mereka berdua. "Aku masuk.." ucapnya dari luar ruangan. Pintu pun ia buka dan ia letakkan semua yang ada di loyang ke meja kecil yang membatasi jarak Naruto dan Sasuke.

"Kau baik sekali, Karin."

"mau bagaimana lagi, kau seorang Hokage Naruto. aku harus menjamu dengan sambutan hangat."

"Jika tidak kuminta, kau juga tidak akan mengantarkannya." Sela Sasuke dengan kata-kata dinginnya.

"Hmmm! Bukan seperti itu, suamiku!"

"Baik, keluarlah.." usir Sasuke sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya, seperti mengusir sesuatu untuk menjauh. Karin pun nampak gusar dan menutup pintu itu dengan keras. Dug!

"Kau yakin tidak apa-apa, Sasuke?" tanya Naruto merasa tidak enak.

"Memang begitulah orangnya. Tapi sebelumnya., aku ingin berterima kasih sekali lagi kepadamu Naruto. karena kaulah, kehidupanku menjadi lebih menyenangkan. Tidak kusangka, aku benar-benar hidup dikelilingi kasih sayang, berbeda dengan 5 tahun yang lalu… kau juga memberiku mata ini.." ujar Sasuke sambil menunjukkan kedua mata sharingannya, sebelumnya dia hanya mempunyai satu mata sharingan karena ia gunakan untuk mengaktifkan jutsu Izanagi. Dan sekarang Naruto memiliki 3 mata sharingan, yang satu ia sembunyikan di lengan kanannya yang terbuat dari sel-sel Hashirama.

"Tidak usah dipikirkan Sasuke, lagi pula aku kelebihan mata sharingan, sebagai klan Uchiha seharusnya kaulah yang berhak menggunakan semua mata ini, tapi aku masih membutuhkannya untuk menjadi Hokage." Balas Naruto sembari menatap mata sharingan Sasuke yang bertomoe 3.

"Kaulah yang pantas menggunakannya, di tanganmu, aku yakin semuanya akan baik-baik saja…dan 5 tahun yang lalu aku masih tidak dipercayai oleh orang-orang Konoha, termasuk semua teman-teman, tapi lambat laun, semuanya mempercayaiku… ini semua berkat kepercayaan yang kau berikan kepadaku. Naruto" Sasuke masih ingin berterima kasih kepada Naruto, karena semua yang telah ia dapat adalah berkat Naruto juga. Namun Naruto tidak merasa melakukan apapun untuk Sasuke.

"Itu hanyalah kepercayaan teman masa kecil, aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu setelah itu, tapi kau berusaha dengan baik untuk meyakinkan kembali teman-teman dan warga desa Konoha, dan sekarang kehadiranmu telah disambut baik oleh masyarakat sebagai anggota klan Uchiha yang dirindukan." Lalu Naruto mengambil secangkir teh hangat yang telah disajikan barusan.

"Slrppp…"

"Jika begitu rasa terima kasih saja belum cukup.."

"Hm?"

"Apa yang ingin kau minta dariku untuk melakukan sesuatu?"

"Kau sudah melakukan misi yang kuberikan dengan baik Sasuke, tengah malam kau berjaga-jaga di seluruh penjuru desa untuk mengawasi gerak-gerik AKATSUKI."

"AKATSUKI?"

"Iya.. aku mendapat sebuah informasi rahasia dari unit intel desa, di sebuah hutan yang berada di dekat perbatasan antara Iwagakure dan Kumogakure, terlihat dua orang yang mengenakan jubah AKATSUKI dari pergerakan mereka, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke desa Kumo." Jelas Naruto dengan serius, kali ini percakapan mereka lebih menjurus ke kepentingan desa.

"AKATSUKI muncul setelah 5 tahun kau lenyapkan bukan? tapi apa kau yakin itu benar-benar AKATSUKI? Apa ada Shinobi yang masih berpikiran seperti anggota AKATSUKI yang sebelumnya?" ucap Sasuke berusaha menganalisa permasalahan. Dan ia tau maksud yang dibicarakan oleh Naruto kepadanya.

Naruto mengangguk, yang berarti AKATSUKI masih hidup di dalam jiwa shinobi, tapi untuk alasan yang belum jelas mengapa AKATSUKI terlahir kembali? Namun untuk sekarang Naruto belum yakin karena ia belum melihatnya dengan mata kepala sendiri.

"Kau memintaku untuk memastikan langsung ?" tanya Sasuke serius. Naruto hendak berpikir sebelum melakukan sesuatu, namun baginya ini adalah semacam taruhan, Sasuke shinobi penting desa yang memiliki potensi menjadi Hokage sepertinya, dan memerintahnya untuk pergi sendirian harus ia pertimbangkan kembali, karena ia tidak mau kejadian seperti Jiraiya-sensei terulang kembali.

"Lebih baik, kau di sini saja Sasuke."

"Apa maksudmu? Dunia Shinobi sedang berada dalam ancaman? Ketentraman desa juga dalam bahaya…"

"Aku tau itu, tapi sebelum mengutusmu untuk keluar desa, aku harus memikirkan timbal balik, apa yang terjadi sesudahnya. Kali ini aku harus benar-benar cermat. Aku tidak mau gegabah dalam mengambil suatu keputusan karena bisa saja, desalah yang akan dirugikan nantinya."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?"

"Biarlah mereka melakukan sesuatu terlebih dahulu secara terang-terangan, dan jika itu benar-benar terjadi.. kita harus bergerak secepatnya… tidak akan kubiarkan semua senyuman menjadi pudar dalam hitungan detik." Sasuke mengangguk paham. Pria berambut hitam lurus itu meminum teh buatan istrinya… sambil menunggu perbincangan selanjutnya.

Sedangkan di tempat lain, Shin dan Nasa akhirnya mengerti apa arti sebenarnya dari lambang klan Uzumaki, mereka tersenyum mendengar cerita Sakura yang menarik. "Aku tidak menyangka begitu arti klan Uzumaki yang sebenarnya ya.. keren.."

"Hehe, akulah Uzumaki Nasa…. Dan aku ingin menjadi Hokage ketujuh!"

"Bukan kau yang ketujuh! Melainkan aku! Uchiha Shin!" mereka berdua berdiri dan saling menatap tajam… lalu tersenyum. Melihat perilaku mereka berdua membuat Sakura juga ikut tersenyum. "Berjuanglah kalian berdua.."

"Hmh!"

Karin berjalan pelan menghampiri Sakura, Nasa dan Shin. "Mama?" ucap Shin melihati mamanya yang sudah duduk di dekatnya. Dua anak itu pun berada diantara mama mereka. "Mama hanya ingin duduk di sebelah Shin.."

"Keluarga yang bahagia kah?" ucap Sakura melihat senyuman menarik yang dipertunjukkan Karin.

"Kau juga memiliki keluarga yang bahagia!" seru Karin tidak terima diejek seperti itu, perang urat saraf kembali terjadi dan itu hal lumrah bagi kedua wanita tersebut.

"Hehehe.." canda tawa menyelingi perang urat saraf itu, Shin dan Nasa hanya bisa tertawa mendengar celotehan mama mereka.

"Ngomong-ngomong, sampai berapa lama lagi mereka akan berbicara? Ini sudah satu jam lebih…" gumam Sakura kesal, Karin juga merasa begitu, tapi melihat situasi dan lamanya mereka berbicara pasti mereka sedang membahas sesuatu hal yang penting.

"Sudah biarkan saja, suamimu juga butuh istirahat.. dia terlalu bekerja keras akhir-akhir ini, tidak ada waktu untukmu dan keluargamu… " ucap Karin.

"Kau benar.. baru kali ini, dia bisa meluangkan sedikit waktunya untukku dan Nasa.. Nasa sangat senang bisa jalan-jalan bersama papanya, dia memang ayah yang hebat." Balas Sakura sambil menundukkan sedikit kepalanya, Nasa dan Shin pun hanya bisa mendengar percakapan mereka berdua.

"Jadi mulai besok? papa akan kembali bekerja seperti biasanya?" tanya Nasa dengan nada memelas dan mata yang berkaca-kaca.

"Menjadi seorang Hokage memang sangat berat Nasa, tanggung jawab yang dipikul oleh Ayah sangat besar, melindungi semua warga desa juga termasuk di dalamnya, mama harap Nasa bisa mengerti, ya?" Karin dan Shin yang memperhatikan Sakura berbicara pada Nasa hanya bisa diam, tidak berani mencampuri urusan keluarga Sakura. karena dibalik itu semua, memang Naruto orang yang sangat sibuk dan tipikal ayah yang pekerja keras.

Nasa terlihat murung sebentar, Sakura berusaha menghibur Nasa dengan mengelus-elus rambutnya. "Nanti malam, kita makan Ramen kesukaanmu ya?"

"Benarkah?"

"Em… "

"Yeah!"

'Kenapa cepat sekali kembalinya?' pikir Karin dan Shin kompak.

Naruto dan Sasuke telah selesai dengan pembicaraan mereka, mereka berdua terlihat menghampiri istri dan anaknya masing-masing. "Apa aku terlalu lama?" ujar Naruto yang sudah berada di dekat mereka, melihat ayahnya telah selesai, Nasa pun berlari dan memeluknya erat.

"Ayah!"

"Ayo kita pulang."

"Emm." Jawab Nasa dengan rona merah di wajahnya. "Baiklah, kami pulang dulu ya, Sasuke, Karin…" ucap Sakura sambil menundukkan sedikit kepala, dan Nasa pun melambai-lambaikan tangannya pada Shin yang juga melalukan hal yang sama. "Ke sini lagi ya, Nasa!"

"Apa yang kau bicarakan dengan Hokage?" tanya Karin penasaran.

"Tidak ada hubungannya denganmu,"

"Apa ! kaubilang tidak ada sangkut pautnya denganku! aku ini istrimu!" Karin malah berteriak-teriak tidak jelas, dan marah-marah terhadap Sasuke.

"Aku tau. aku tau.. nanti malam akan kuceritakan.."

"Mereka berdua selalu saja…" Shin pun hanya bisa geleng-geleng kepala meliat kelakuan Mama dan Papanya.

Naruto dan Sakura masih dalam perjalanan pulang ke rumah, dan hari menjelang petang. Matahari terbenam di ufuk barat, memberikan efek indah untuk keluarga yang bahagia itu, sang Hokage berambut putih itu mendapat sapaan-sapaan khas warga desa, termasuk juga dengan istri dan anaknya.

"Lihat itu, putri Hokage cantik sekali ya."

"Kau benar.. aku ingin memiliki anak selucu dan secantik dia.."

"Rambut merah muda, kulit putih, dan senyuman yang menawan. Mirip dengan ibunya.." meski tak bisa didengar oleh Naruto, Sakura, Nasa, tetap saja ucapan-ucapan itu membuat daya tarik tersendiri. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka bertiga sampai ke rumah. rumah Naruto memiliki lantai dua dan bersebelahan dengan rumah kedua orang tua Sakura. yang sudah menanti kedatangan mereka bertiga, terutama Nasa.

"Nasa!"

"Nenek!"

"Darimana saja kau, aku merindukanmu, cucuku tersayang…"

"Em, oh ya nek. Tolong lepaskan aku."

"He kenapa?"

"Seorang calon Hokage, tidak butuh pelukan wek!" ejek sang cucu sambil berlari ke dalam rumah, meninggalkan tawa untuk kedua orang tuanya, nenek pun mengejarnya dengan penuh semangat. tiba-tiba saja, ayah Sakura menghampiri mereka berdua.

"Lama sekali?"

"Iya, tadi sekalian mampir ke rumah Sasuke.."

"Begitu kah?" Naruto hanya diam saja, dan pergi meninggalkan Sakura dan Ayahnya. Untuk beristirahat sejenak di kamar. "Aku akan menyiapkan makan malam untukmu, Naruto!" teriak Sakura sambil melihat suaminya berjalan menaiki tangga. Naruto mengangguk dan menunggunya di kamar.

"Dia aneh sekali… ya sudah.. aku ke dapur dulu."

Naruto telah duduk di kamarnya, sembari melihat fotonya bersama istri dan anaknya. Senyuman mereka benar-benar membuat perasaan Naruto tenang. 'Seandainya aku bisa kembali normal seperti dulu, aku pasti akan lebih bahagia… White (Jiwa Juubi) masih tersegel di dalam tubuhku, dan selama 5 tahun ini aku telah melatih pengendalian chakra milik Kyubi yang sekarang sudah bisa aku control dengan baik… tapi…. Bagaimana cara mengeluarkan White dari dalam tubuhku? Resiko yang kudapat jika mengeluarkannya juga sangat berbahaya… dia terlalu kuat untuk dikalahkan. Apa aku biarkan saja dia terkurung selama-lamanya di dalam tubuhku?' batin Naruto yang masih duduk di tepi kasurnya, sambil menundukkan kepalanya, serasa kebingungan apa yang harus ia lakukan untuk ke depannya.

Mendengar kegelisahan itu, White malah tersenyum sinis, di dalam alam bawah sadar yang paling dalam, ia terlihat sangat percaya diri.. bahwa kebangkitannya masih memiliki harapan. 'Selama-lamanya? Jangan bodoh….'

Sakura masuk ke kamar, dan menuangkan secangkir teh dan makanan untuk Naruto, lalu ia duduk di sampingnya. "Kau kenapa? Kau terlihat gelisah?" tanya Sakura cemas.

"Aku tidak apa-apa, Sakura." keringat dingin tiba-tiba mengucur di wajah Naruto. "Benar kau tidak apa-apa?" tanya Sakura semakin cemas. "Benar, aku tidak apa-apa.." Sakura masih tidak percaya dengan hal itu, karena perasaannya mengatakan tidak, tangannya pun ia sentuhkan ke dahi suaminya.

"Ya ampun, kau panas sekali Naruto…lebih baik kau tidur dulu, aku akan ambilkan kompres…" secepatnya Sakura turun ke bawah dan mengambilkan handuk yang direndam untuk suaminya, Naruto pun terlentang di kamar sambil memandang langit-langit ruangan.

'Kenapa tiba-tiba saja aku gemetaran? Sebenarnya apa yang terjadi? tubuhku juga merasakan ketakutan yang luar biasa?' Naruto tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, takut, cemas menjadi satu. Menimbulkan keanehan pada dirinya sendiri.

'Sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku' Naruto masih tertidur di kamarnya, dan Sakura telah memeraskan handuk dinginnya untuk segera ia tempelkan ke dahi Naruto, ia juga memberikan pengobatan medis untuk suaminya.

"Kenapa tiba-tiba kau jatuh sakit Naruto? apa yang terjadi?" rasa takut dan gelisah benar-benar menghampiri Naruto, dan secara tidak sadar…. Ia telah ketakutan meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia takuti, sampai ia kembali ke tempat White disegel.

"Tempat ini?" ucap Naruto datar.

"Lama tidak melihatmu…Naruto" ujar White yang masih terkurung di segel berbentuk lingkaran yang berlapis-lapis, namun White masih bisa santai dengan keadaan seperti itu.

"Kau tidak akan bisa keluar dari segel itu, dan aku pastikan kau akan terbelenggu selama-lamanya.."

"Jangan bercanda…. Apa kau tidak merasakannya?"

"Apa maksudmu?"

"Tentang ketakutan yang sebenarnya."

Naruto terhenyak disaat itu juga. Dan ia terbangun seperti baru saja mengalami mimpi buruk. Sakura yang sudah tidur lelap di sampingnya pun juga ikut terbangun dengan sendirinya. "Ada apa?" tanya Sakura panik.

"Hah hah hah?"

"Jawab aku, Naruto.."

"Tidak ada apa-apa, tidak ada yang harus dikhawatirkan, Sakura…" ujar Naruto sambil beranjak dari ranjangnya. "Eh bukankah kau masih sakit, tunggu kau mau ke mana?"

"Mau mengambil air minum sebentar…" waktu itu jam menunjukkan pukul 12 malam.

Persembunyian AKATSUKI.

Di tempat asing, Kabuto, Madara masih memperbincangkan sesuatu. Madara tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. 'Rinnengan yang melebihi Rinnengan biasa? Dia bukan manusia lagi…' pikir Madara gelisah. Seseorang yang dimaksud tersebut pun bangkit dari peti matinya. Dan tersenyum kepada mereka berdua..

"Tunduk dan patuhlah terhadapku, dan semuanya akan berjalan dengan semestinya….." dan bersamaan dengan itu, Madara dan Kabuto tunduk terhadap orang misterus tersebut. meskipun sebenarnya Madara masih tidak terima dengan kenyataan ini. tapi memang dia harus melakukan ini, jika tidak, nyawanya tidak akan terampuni.

'Resiko membangkitkan orang ini adalah harus tunduk dan patuh terhadapnya, karena semua perasaannya telah lenyap…. Dia sudah tidak bisa disebut sebagai manusia lagi..' batin Kabuto yang tak berani menatap matanya, pemimpin AKATSUKI baru itu melangkahkan kakinya, dan membuka satu persatu peti yang telah berisi mayat yang dibangkitkan.

"Jadi kau sudah mengirim 2 orang untuk memburu ekor 8?"

"Iya… dengan begitu tinggal ekor 9 saja.."

'Dia lebih cerdas daripada aku…' Madara masih tunduk dan mengutarakan ucapannya dalam batin.

"Kau jangan berbicara…. Uchiha Madara."

'Kenapa dia bisa tahu?'

"Hmm, karena aku mengetahui segalanya…"

Pemimpin baru AKATSUKI terlahir kembali!

To be continue

Chapter 31 END!

Untuk pemanasan, cukup segini dulu aja ya.. karena chapter-chapter berikutnya akan lebih greget daripada yang ini... sengaja saya publish tanggal 30 juni, karena besok paketanku habis...

Tambahan chara OC:

Uzumaki Nasa.

Umur: 4 tahun

Ciri-ciri: Rambut merah muda, Mata biru seperti Naruto, Kulit putih seperti Sakura, rambut pendek, tinggi 120 centimeter, hanya bisa shuriken no jutsu, karena belum masuk akademi.

Uchiha Shin.

Umur: 4 tahun

Ciri-ciri: Rambut merah, gaya rambut seperti Sasuke, mata sharingan tapi belum aktif, tinggi 130 centimeter, tidak memakai kacamata,

Mungkin itu saja... maaf jika terlalu singkat, chapter depan akan saya tambah lagi... tolong reviewnya ya! See you next week!