Chapter Update!
Yoshino Tada kembali setelah break/hiatus cukup lama karena lebaran, mohon maaf lahir dan batin yaa.. dan terima kasih telah menunggu story gaje ini.. fufufu..
Seseorang dengan kekuatan misterius, pemimpin anggota AKATSUKI yang baru akan menggemparkan dan membuat dunia Shinobi kacau, sebenarnya siapakah dia? Sampai-sampai Madara merasa takut dengan dirinya.
Chapter sebelumnya
Naruto mengalami demam naik turun yang membuat istrinya cemas, sedangkan Madara harus tunduk di bawah pemimpin baru AKATSUKI. Dan dia merencanakan sesuatu untuk mencegah hal menjijikkan tersebut menimpa dirinya.
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre – Family, Adv, Mistery
Power of White © Yoshino Tada
Power of White ..
Chapter 32
Kumo in Dangerous!
Malam hari, kira-kira tengah malam Naruto terbangun dari tidur lelapnya, demam yang ia alami sudah mulai reda dan itu membuat Sakura lega. Melihat suaminya meninggalkan ranjang, Sakura hanya bisa melihat punggung lebarnya tanpa bersuara.
'Sebenarnya apa yang dia cemaskan?' batin wanita berambut merah muda itu. Naruto menuruni tangga kamarnya dan menuju ke lemari es sambil mengambil satu gelas minuman dingin untuk menemani dirinya di tengah malam yang sepi.
Naruto melamun sendirian di meja makan, terduduk dengan tidak sengaja mendengar suara jarum jam yang berdetik. Suasana sepi itu semakin menjadi-jadi ketika ia teringat White yang sebelum disegel tersenyum menyeringai dan mengatakan beberapa patah kata.
"Dunia ini akan tetap hancur.. jangan menganggap semuanya telah selesai, Naruto!"
Naruto memegangi kepalanya sesekali, dan mengira ancaman itu akan datang suatu hari nanti, dan hal itulah yang membuatnya takut.
"Ayah?"
"Ouhhh!" Brukkk!
"Kenapa Ayah belum tidur?" tanya Nasa yang tiba-tiba saja berada di dekat Naruto dan mengejutkannya.
"Seharusnya Ayah yang berkata seperti itu.. ayo cepat tidur..." Naruto mengantarkan anaknya ke kamarnya, dan menidurkan Nasa. Seketika itu Nasa telah tertidur sambil menarik selimutnya Ayah berumur 21 tahun itu tersenyum bahagia.
"Kau cantik sekali ketika tidur Nasa, dan itu membuat Ayah tenang. Selamat tidur. Cup,"
Pergi meninggalkan buah hati, dan menuju ke kamarnya untuk kembali tidur, karena senyuman anaknya barusan membuat sang Hokage lebih tenang daripada sebelumnya. "Kau belum tidur? Sakura?"
"Aku tidak bisa tenang, aku menunggumu."
"Kau ini..." Naruto membaringkan tubuhnya di samping Sakura, dan mencium kening wanita bahagia itu dengan penuh kasih sayang. "Sekarang tidurlah... aku sudah ngantuk.." imbuhnya sambil berbalik berlainan arah dengan Sakura.
"Ah moo~"
Di suatu tempat yang belum diketahui. Markas AKATSUKI yang baru.
Pemimpin misterius AKATSUKI duduk di sebuah singgasana sambil menyilangkan salah satu kakinya di atas kaki kirinya, ia memakai topeng berwarna putih dengan dua lubang mata, rambutnya yang lurus dan sedikit panjang adalah ciri khas darinya, akan tetapi ia memakai topeng tersebut agar semuanya tidak mengetahui wajahnya yang asli. Tempat yang ia tempati sekarang merupakan gua perwujudan dari markas AKATSUKI sebelumnya, gelap gulita, hanya penarangan lilin-lilin kecil yang tak seberapa, dan dari kejauhan sang pemimpin AKATSUKI mendengar suara derap langkah kaki yang mendekatinya.
"Kau?" ucapnya ketika melihat Uchiha Madara yang sudah berada di hadapannya.
"Aku akan menguji kemampuanmu, orang misterius." Dari tatapan Madara, tatapan itu masih saja memperlihatkan bahwa dirinya tak mau direndahkan begitu saja, dan untuk itu ia ingin melakukan perlawanan.
"Omoshiroi..." senyum menyeringai dari sang ketua AKATSUKI yang menakutkan.
Di balik pintu, Kabuto menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat kedua tangannya. "Sudah kuduga, dia yang akan memulainya, sifat ego yang dimiliki Madara terlalu besar, aku yakin pertempuran ini akan menghancurkan markas baru AKATSUKI.."
DUARRRRR!
DUARRRRR!
Skip Fight.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya pertarungan mereka telah usai. Madara terluka sangat parah, pakaian AKATSUKI dan baju perisai merahnya lenyap tak bersisa, darahnya pun mengucur keluar tak bisa dikendalikan, 'Uhuk-Uhuk' pria itu juga batuk darah, dan dari kondisi, Madara hampir mati. Sedangkan ketua AKATSUKI masih dalam keadaan bugar, tidak ada luka sayatan pun di bajunya, ia benar-benar mengendalikan pertarungan, menguasai dan membaca seluruh situasi yang ada ketika melawan Madara.
"Kekuatannya.. Uhuk-uhuk..."
Setelah mengalahkan Madara, dia malah mendekati Madara dan menjabat tangannya. "Kau tidak perlu takut. Jadilah pengikutku, dan semuanya, semuanya yang kau benci di dunia ini... akan kuhapuskan. Yakinlah pada diriku ini, dan jadilah tangan kanannku.. kau terlalu berharga untuk mati, Uchiha Madara." Puing-puing bebatuan bangunan yang hancur akibat pertarungan tadi mengelilingi takdir yang perlahan mulai berjalan, dan juga menjadi saksi bisu kekalahan telak Madara setelah ia dikalahkan Hashirama dalam beberapa dekade terakhir.
Madara berusaha meraih tangannya sambil menunduk tak berani menatap topeng putih yang di dalamnya terdapat dua mata mengerikan. "Baiklah, aku akan mengiku-timu..."
"Itu yang kubutuhkan.."
Kumogakure, Siang hari.
Dua anggota AKATSUKI berjalan menuju desa Kumogakure yang hanya 1 kilometer lagi jaraknya, dengan chakra gelap dan kuat, mereka berjalan membawa ancaman. "Tak kusangka, aku dibangkitkan dengan Edo Tensei." Gerah pria berambut lurus jabrik sembari memperlihatkan sharingan.
"Kau tidak usah seperti itu, kau ingin bertemu dengan teman-temanmu kan? Shisui?"
"Memang, aku sangat merindukan keluargaku di Konoha. Aku harap klan Uchiha baik-baik saja, Itachi juga.. tapi jutsu ini terlalu kuat untuk dilepaskan, genggamannya sangat erat, bahkan aku tidak bisa meronta sedikit pun."
"Kau benar... aku tidak bisa berbuat apa-apa, jutsu ini mengendalikan kita dengan baik. Siapa yang berani melakukan perbuatan jahat seperti ini?" Shisui hanya melihat pria yang berjalan di sampingnya dengan tatapan kosong, dan pria yang dilihat Shisui masih berjalan memandang ke depan.
"Jadi tujuan kita menangkap, ekor 8?" tanya Shisui.
"Benar. Sistem saraf dalam otakku sepertinya memikirkan itu dari tadi, mereka mentransfer pikiran melalu jutsu edo tensei." Balas pria itu tanpa tersenyum, mereka mengikuti jalan setapak dan akhirnya tiba di lembah Kumogakure, berjalan tanpa takut ancaman dari penjaga desa Kumogakure. Lembah Kumogakure terletak di belakang desa, di sana terdapat tebing-tebing, gunung bebatuan, dan perairan. Pemandangan yang cukup indah jika dilihat dari atas. Dan tiba-tiba saja pria yang bersama Shisui menerima beberapa pesan dari markas pusat, dan sepertinya, mereka dikendalikan oleh pemimpin AKATSUKI yang baru, bukan Kabuto lagi.
"Kita diperintahkan untuk menghancurkan desa Kumogakure."
"Bukan dengan cara sembunyi-sembunyi kah?"
"...Ini tidak bisa dimaafkan."
Kedua pria berjubah AKATSUKI itu langsung melesat ke penjagaan. "I-itu, AKATSUKI!" teriak kedua penjaga yang telah bersiaga di pintu belakang Kumogakure. Penjaga berkepala plontos dan satunya terlihat tidak berguna. Penjaga itu melemparkan kunai dengan kertas peledak yang mengarah kepada Shisui.
Duarr!
Shisui menghindar dengan lincah dan menghunuskan pedangnya ke dada penjaga tersebut, sedangkan penjaga satunya telah tertusuk kunai, dia dibunuh oleh pria AKATSUKI yang satunya. Namun setelah mereka lewat, salah satu penjaga yang tersungkur barusan merayap ke salah satu pos penjagaan guna memencet tombol sirine siaga 3.
Suara aneh telah terdengar ke seluruh penjuru Kumogakure dan sampai terdengar ke telinga Raikage. "Ini? Siaga bahaya ke 3? Siapa yang sedang menyerang?" para Jonin lainnya pun juga mendengar suara siaga bahaya ke 3 dan langsung mencari permasalahan tersebut.
Darui berlari ke sudut-sudut desa untuk mencari pemberontak itu.
Jonin dan Chunin mendapat tugas untuk mengamankan penduduk desa.
Dan beberapa Jonin lain berusaha melacak keberadaan musuh
Raikage juga ikut dalam pencarian itu. Samui, Omoi, Motoi, dan beberapa jonin yang kuat lainnya ikut dalam pencarian di sekitar desa.
"Semuanya! Cari pemberontak itu, dan bunuh dia di tempat!"
"Ya!"
Dan desa Kumogakure yang sebelumnya aman-aman saja, sekarang menjadi kacau balau akibat penyerangan mendadak dari kedua anggota AKATSUKI.
"Shisui? Lebih baik kita berdua berpencar. Tapi jika kau butuh bantuanku, ambil ini.." Shisui setuju dan menerima penanda yang diberikan kepadanya lalu mereka berpencar kedua arah yang berbeda guna mencari Hachibi.
"Tubuhku tidak bisa kukendalikan..."
Shisui telah sampai di tengah-tengah kota, dan jonin-jonin Kumo terlihat terkejut ketika mendapati anggota AKATSUKI yang masih hidup.
"Itu kan?"
"Tidak salah lagi.."
"Tidak mungkin, bukankah AKATSUKI telah lenyap 5 tahun yang lalu.." keringat takut menyelimuti para jonin itu yang tak menyangka kedatangan AKATSUKI, apalagi mereka melihat ikat kepala Konoha di kening Shisui.
"Dia shinobi dari Kono-" belum sempat melanjutkan perkataannya, 10 shinobi itu telah masuk dalam genjutsu mata Shisui yang paling kuat yaitu jutsu pengendali pikiran seseorang dengan menggunakan Kotoamatsukami. Ke 10 shinobi itu berhasil dimanipulasi Shisui, dan mereka menyerang rekan-rekannya sendiri.
Mereka saling menebas satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan bodoh!"
"Aku tidak tau, tapi aku sangat ingin membunuhmu!"
"Aku juga sangat ingin membunuhmu!"
Sringg! Sringg!
Kekacauan pun semakin menjadi-jadi, pertumpahan darah ada di mana-mana, namun untung saja para penduduk desa sudah dievakukasi di tempat yang aman. Dan dari belakang seseorang terlihat menghunuskan pedangnya ke arah Shisui.
Trnggg!
Shisui memutar badan dan menangkis serangan itu dengan pedangnya. "AKATSUKI kah? Tidak henti-hentinya mereka menebar ancaman dan teror yang menyebalkan.." ucap Darui dengan wajah malasnya.
"Darui-san?"
"Kau? Uchiha Shisui? Dan mata itu? Edo tensei?"
Mereka berdua masih saling menangkis serangan menggunakan pedang, dan saling menatap satu sama lain. "Lama tidak bertemu.. terima kasih telah menolongku disaat-saat terakhir.."
"Sial... jasadmu dicuri kah?"
"Mungkin begitu. Hentikan aku.."
Mereka melepas tangkisannya, dan memperlebar jarak antara 10 hingga 15 meter. Shisui merangkai sebuah jutsu di tangannya, dan melepasnya dengan menghirup nafas panjang. "Katon: Gouka no Jutsu!"
Api berdiamater 10 meter menuju ke tempat Darui berdiri, pria berambut putih itu tidak mau kalah. "Doton: Doryuheki!" tanah berbentuk sebuah benteng muncul dari tanah dan melindunginya dari amukan api yang tak bisa terelakkan.
Whushhh!
Api itu menjalar ke mana-mana, menyebar ke sudut-sudut, ke rumah-rumah warga yang sudah kosong. Setelah adu ninjutsu selesai, Darui meloncat ke udara dan menembakkan panther hitam, panther hitam itu berjumlah dua berlari menuju Shisui. Auman sang panther hitam tersebut cukup menakutkan petir hitam adalah tubuh dua binatang rekaan tersebut.
Shisui menunggu serangan itu datang.
Susano'o!
Susano'o berwarna hijau telah menyelimuti tubuh Shisui, dan dua harimau panther yang terbuat dari petir tadi digenggam oleh tangan kuat Susano'o hijau, serangan itu telah lenyap. "Susano'o?" gumam Darui terkejut.
Susano'o hijau yang terlihat kuat dan kokoh, memiliki pedang berbentuk tanduk pegasus, serta wajah tengu yang menyeramkan. Shisui memegangi matanya yang telah berdarah, mungkin karena dia sudah lama tidak bertarung, tapi ini baru permulaan saja.
Tempat lain, pusat Kumogakure.
Jubah AKATSUKI terhembuskan angin, di tanah lapang yang cukup luas dengan bebatuan di mana-mana itu, beberapa Jonin dan Raikage terlihat berhadapan dengan satu anggota AKATSUKI saja, dan ketika seorang AKATSUKI itu menunjukkan wajahnya, Raikage A terkejut.
"... Tidak mungkin.. Namikaze Minato?"
"Si kilat kuning dari Konoha? Bukankah dia sudah mati 20 tahun yang lalu?" ucap Motoi menambahi.
"Jadi sekarang kau telah menjadi Raikage ya, A?" kata Minato sambil berdiri tak gentar, jubahnya berkibar-kibar terkena hembusan angin siang. Dan semuanya.. menatap iris bening berwarna biru langit miliknya. Tapi ada sesuatu yang aneh.
"Edo tensei?"
"Tidak ada waktu untuk berbicara... aku sudah dikendalikan.." Minato mengambil kunai dari dalam jubahnya ia lemparkan disaat yang bersamaan. "Shuriken Kagebunshin no jutsu!" Shuriken unik milik Minato berpencar menjadi seribu dalam satu detik, dan itu membuat beberapa orang yang ada di depannya panik. Saking banyaknya shuriken tersebut, dataran tanah itu sampai hancur berantakan, menyebabkan debu-debu yang bertebaran ke mana-mana, membumbung tinggi ke langit yang biru tak berawan.
Namun hanya persekian detik saja, Raikage telah keluar dari debu itu dan telah berada di hadapan Minato sambil mengeraskan tangannya. "Rasakan ini!"
"Cepat sekali," Minato berhasil menghindar, dan menuju ke kunai yang menyebar tadi, kunai unik itu ia lemparkan ke Raikage, Raikage bereaksi cepat dan telah berada di belakangnya lagi. 'Chakra petir yang menyelimutinya, menjadikan dirinya sangat cepat, jutsu teleportasiku tidak berguna disaat-saat seperti ini.'
"Kau mau ke mana lagi? Aku tidak akan membiarkanmu kabur..,' hanya satu kunai yang ia lempar tadi, dan kali ini tidak akan kubiarkan dia lolos,' matilah kau!" ujar Raikage memperingkatkan. Dan ketika Raikage hanya terfokus pada Minato yang ia kejar. Minato yang asli telah membunuh beberapa joninnya.
"Apa!? Bunshin?" Raikage marah besar terhadap Minato yang telah menghabisi sebagian prajuritnya. Hanya beberapa yang tersisa, Karui, Omoi, Motoi, dan Samui. Omoi yang berada dekat dengan Minato berusaha berlari sekencang-kencangnya sambil membawa pedang yang telah siap ia tebaskan ke tubuh Minato.
Minato melayani serangan itu hanya dengan kunai bercabang tiga miliknya, dan tebasan terakhir yang dilayangkan Omoi ke tubuh Minato dapat ia hindari dengan mudahnya, kunai yang ada digenggamannya ia jatuhkan ke belakang tubuh Omoi dan disaat itulah ia menghilang.
"Rasengan"
Serangan dari belakang yang mengejutkan berhasil melumpuhkan Omoi, Karui tak mau terima dan menyerang Minato, bersamaan dengan itu Motoi dan Samui menyerang Minato juga, namun Minato memilih untuk menggunakan teleportasinya untuk menghindari semua serangan mereka. Namun pada akhirnya, teleportasi Minato dapat digagalkan.
"Dari tadi kau sibuk mempermainkan kami... tidak akan kumaafkan!" seru Raikage yang sebelumnya memperhatikan pergerakan Minato dan menyerangnya disaat ia lengah. Raikage telah berada di depan Minato dengan wajah mengerikan, otot-otot tercetak di dahinya, dan ia sangat siap melepaskan bogem mentahnya ke wajah Minato.
"Yosh, mode senninku telah terisi penuh." Minato menangkis pulukan itu dengan satu tangan kanan walaupun ia terselimut mode sennin, tapi tetap saja ia terlempar jauh sampai menghantam rumah unik khas desa Kumogakure.
"Di sini, kita ditugaskan untuk membawa Hachibi... tapi sebenarnya bukan itu tujuan kami berdua datang ke sini.."
"Apa maksudmu? Tidak akan kubiarkan kau membawa adikku!, AKATSUKI harusnya sudah lenyap, tapi kenapa kalian bisa bangkit lagi? Siapa pemimpin kalian?"
"Jangan bicarakan pemimpin kami.. aku saja takut untuk menyebutkan namanya.. walaupun aku ragu itu nama asli atau bukan.." Minato masih tak berdaya di bebatuan yang hancur akibat tubuhnya yang melesat kencang tadi, ia berusaha untuk bangkit kembali. Namun ia berbicara di situ sambil menunduk tanpa menatap mata Raikage.
"Sebenarnya, aku tidak mau melakukan hal seperti ini, tapi tidak ada cara lain.. kami berdua tidak bisa mengendalikan tubuh kami.."
"Jadi kau berdua?" tanya Raikage yang melihat Minato terduduk tak berdaya. Minato masih berusaha bangkit meskipun tertatih-tatih.
"Iya.. dia juga mengacau di Kumogakure, aku yakin. Dia sudah membunuh banyak orang,"
"Sialan kau, Yondaime Hokage!"
"Jangan kau sentuh desa Konoha hanya gara-gara ini, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kami berdua, meskipun kami adalah shinobi Konoha tapi tetap saja, mereka tidak bisa disalahkan.."
"Aku mengerti, dan anakmu pasti tau.."
"Iya, pasti dia akan sangat sedih jika dia mengetahui bahwa musuhnya adalah aku.. ayahnya sendiri.." Akhirnya Minato bangkit dan mengeluarkan jutsu terbaiknya. Mode Kyubi telah menyelimuti seluruh tubuhnya. "Maafkan aku A, aku .."
"Chakra Kyubi?"
Kekuatan sebenarnya akan ia pertunjukkan di hadapan Raikage.
Tempat pertarungan Shisui vs Darui.
Susano'o masih berdiri perkasa, monster chakra bertinggi 10 meter lebih itu menghunuskan pedangnya ke arah Darui, Darui meloncat untuk menghindarinya, namun tangan kiri Susano'o berhasil menyapunya tanpa ampun, Darui terhempas ke tebing bebatuan dan terjatuh di sana. Bebatuan itu pun menjatuhi tubuhnya, sampai ia tertimbun dan tak terlihat lagi tubuhnya.
Darui masih belum menyerah, ia muncul dari timbunan bebatuan tadi dan mengeluarkan jutsunya. "Lancer Circus!" serangan petir hitam miliknya terlihat sangat kuat, dan itu mengarah ke tubuh Susano'o Shisui.
"Percuma saja..." petir itu berhasil mengenai sasaran, tapi kelihatannya serangan tersebut malah terserap ke dalam tubuh Susano'o Shisui. Shisui menatap tajam Darui yang berdiri beberapa meter di depannya, tatapannya begitu menakutkan apalagi dengan darah yang keluar dari matanya, menambah aura kegelapan yang sebelumnya tidak ia miliki sama sekali, AKATSUKI telah membawanya ke dalam kegelapan. Di tempat lain, ketua AKATSUKI tersenyum menyeringai.
"Maafkan aku Darui-san, Amaterasu!"
"Apa?"
. . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Api hitam itu langsung membakar tubuh Darui . . . dan kejelasan nasibnya masih dipertanyakan ketika Shisui langsung pergi begitu saja.
Shisui bergerak ke tempat di mana Minato berada, ia melewati atap-atap rumah dan menghabisi shinobi yang ia temui di perjalanan, tanpa ampun ia membunuh beberapa shinobi yang cukup kuat. Menghajarnya tanpa belas kasih.
'Pondasi ROOT telah mengajarkanku berbagai hal yang penting, termasuk menghancurkan lawan tanpa ampun, membunuhnya meskipun mereka meminta ampunan, tapi... aku tidak akan pernah membunuh shinobi yang berasal dari Konoha... tidak akan pernah.' Pikir Shisui yang masih mencari-cari keberadaan Minato.
Tempat pertarungan Minato vs A Raikage dkk
Disaat yang sama Minato telah bangkit dengan kekuatan yang baru, chakra Kyubi menyelimuti tubuhnya. "Mengendalikanmu cukup mudah, Kyubi."
"Kau tidak perlu mengendalikanku untuk menambah kekuatanmu, jika kau berjalan di jalan yang sama denganku, pasti akan kuberikan kekuatanku kepadamu." Balas Kyubi berbicara pada Minato di alam bawah sadarnya.
Minato bergerak sangat cepat, seolah tidak terlihat oleh kasat mata. Gerakannya mengejutkan A, A terkejut sampai tidak bisa menghindar ketika pukulan dengan memanfaatkan mode sennin mengenai perutnya.
"Ough? Sakit sekali." A terhempas jauh sampai terkena bangunan rumah desa, rumah tersebut runtuh dan menimbunnya. "Raikage-sama!" teriak Samui dan Karui bersamaan, mereka cemas terhadap nasib Raikage, "Tidak akan kumaafkan, kau teme!" teriak Karui sambil membawa pedang andalannya. Belum sampai ke tempat Minato, mereka berdua telah digenggam erat oleh kedua tangan chakra Minato, terlalu keras sampai mereka tak sadarkan diri. Kedua wanita itu tersungkur di tanah dan tak berdaya, tinggal Motoi yang tersisa. Dan seseorang pun telah tiba di tempat tersebut.
"Aku telah mencarinya ke mana-mana, tapi Hachibi tidak ada."
"Pasti mereka sembunyikan di suatu tempat."
"Kau melawan Raikage? Minato-san?"
"Aku rasa, dia belum kalah.."
"Tinggal satu orang di sana... lebih baik kita bawa dan kita jadikan sandera saja." Ucap Shisui menengahi pembicaraan itu. Ia memikirkan segala macam cara dengan otaknya yang cukup cerdas, namun disamping itu Minato juga jenius jadi dia akan membagi pikirannya dengan Shisui.
"Sandera kah? Dia hanya orang biasa.. kupikir Raikage bisa menjadi opsi terbaik untuk dijadikan sandera.. untuk memancing Hachibi agar mau keluar.."
"Itu ide yang bagus. Baiklah aku akan . . ." ucap Minato sambil berjalan ke arah Raikage untuk melihat dia telah sadar atau belum. Namun belum genap berjalan dua langkah, Raikage telah muncul dengan kekuatan penuh, ia bangkit dengan semangat petir Kumogakure.. "Tidak akan kubiarkan kalian menghancurkan desaku, desa peninggalan Ayahku serta Raikage-raikage yang terdahulu.."
"Pada dasarnya semua akan lenyap, tanpa terkecuali.. kami hanya menginginkan Hachibi, tidak lebih. Jika kau menyerahkannya, aku pastikan desamu akan aman." Jawab Minato tanpa pikir panjang, tujuannya di sini adalah Hachibi, tapi ketua AKATSUKI memiliki rencana cadangan jika mereka berdua gagal dalam melaksanakan tugas.
"Motoi! Beritahu semuanya agar tetap tinggal di tempatnya dan minta bantuan 5 negara besar, aku akan menghalangi mereka berdua .."
"Baik!" Motoi berlari tergesa-gesa ke tempat evakuasi, namun Shisui yang dari tadi melihatnya tak tinggal diam begitu saja, Sringgg! Hunusan pedang telah ia lancarkan ke punggung Motoi, Shisui membunuh orang itu tanpa ampun.
"Hanya tersisa Raikage."
"Sialan, kau membunuh Motoi! Tidak akan kumaafkan kau!" Raikage bergerak sangat cepat dan memukul wajah Shisui tanpa ampun, Shisui terhempas ke bangunan rumah, tertembus terhempas lagi, sampai 500 meter jauhnya.
"Kuat sekali? Pukulannya.." ucap Shisui yang perlahan-lahan bangkit kembali, jika dia tidak edo tensei, dia pasti sudah meninggal akibat pukulan super tersebut. Shisui terduduk di reruntuhan bangunan, sambil menunggu lukanya sembuh dengan sendirinya.
"Aku bisa menyegelnya... tapi dia terlalu jauh, sial!" Raikage dalam mode tercepatnya, berusaha memikirkan segala cara untuk mengalahkan kedua anggota AKATSUKI tersebut.
"Ini seperti apa yang ayah bicarakan dulu."
Flashback.
Raikage berumur 19 tahun, dan ia sudah dipercaya oleh Ayahnya untuk menjadi calon Raikage digenerasi selanjutnya.
"A? Ayah ada pertanyaan untukmu..."
"Apa itu Ayah?"
"Jika kau berada dalam bahaya, apa kau memilih untuk mati demi teman-temanmu.. atau kau ingin menyelamatkan diri bersama teman-temanmu?"
"Heee? Tidak ada pilihan lain Ayah?"
"Jangan mengada-ngada, ini penting sebagai bekalmu menjadi seorang Raikage di masa depan.."
"Tentu saja aku memilih, mengorbankan nyawa untuk teman-temanku.. untuk orang yang harus kulindungi.."
Ayah A tersenyum mendengar jawaban dengan ekspresi serius dari anaknya.
"Hahahaha"
Flashback End.
'Sekarang aku berada di posisi ayah dulu, tapi ini berbeda, aku hanya melawan dua orang saja... sedangkan Ayah harus melawan 10000 prajurit selama 3 hari 3 malam tanpa beristirahat, bagiku ini hanyalah masalah kecil, tapi bukan itu yang kumaksud, yang kumaksud adalah melindungi orang-orang yang kusayangi, warga desa telah kuanggap seperti keluargaku sendiri, jika kubiarkan mereka menerobos masuk, aku yakin ketua AKATSUKI akan mengendalikan mereka secara membabi buta dan membunuh para warga desa yang tak berdosa, anak-anak, wanita, akan menjadi korbannya... untuk itulah aku bertarung... aku sudah mengerti maksudmu, Ayah.."
A masih mengepal tangannya erat-erat, dan bersiap untuk menyerang Minato. 'Seharusnya aku meminta bantuan dari kelima negara besar disaat-saat seperti ini,' pikir A berkeluh kesah, dan ia pun dengan kecepatan tinggi telah bergerak menuju Minato yang menjadi target keduanya.
"Di mana pun kau berada! Tidak akan kubiarkan kau menghirup udara dengan bebas, dasar AKATSUKI brengsek! Lariat!"
Duarrrr!
Minato terkena serangan tersebut, ia terpental sangat jauh, akan tetapi tubuhnya kembali lagi seperti semula, perlahan namun pasti. "Aku harusnya menyegelnya," Raikage mengeluarkan kertas dan gulungan putih dengan jutsu pemanggil benda.
Tapi usahanya menemui kegagalan, ketika Shisui menendang kepalanya dari belakang. Tendangan itu belum terjadi.. Raikage bisa menghindar dengan cepat dan mencekik leher Shisui sampai ia terjatuh ke tanah.. "Kecepatan level 5 adalah batas maximumku, selama 5 tahun terakhir aku terus mengasahnya... kecepatan ini melebihi kecepatan teleportasi milik Minato."
"Susano'o!"
Dengan cekatan, Shisui mengeluarkan monster hijaunya, dan membuat Raikage menjauh dari tubuhnya. Minato belum pulih 100% dan itu memudahkan Raikage untuk menyerang Shisui. "Bukan hanya kecepatan yang aku asah, tapi kekuatan tubuhku juga!"
Kecepatan menakjubkan kembali diperlihatkan Raikage..
Pukulan berdaya besar itu mengenai tubuh Susano'o Shisui, dan alhasil.
Krtttkk Krtkkk Krtkkk
Wajah Shisui menunjukkan kalau dia tidak percaya bahwa cangkang Susano'o terkuat miliknya bisa dihancurkan dengan sekali pukul. "Mustahil."
Susano'o tersebut lenyap, dan Raikage memukul wajah Shisui tanpa ampun untuk sekali lagi, Shisui terhempas ke rumah-rumah yang runtuh, dan Raikage telah berada di dekatnya untuk menyegel tubuhnya.
"Aku akan menyegelmu, Shisui."
Shisui tertunduk, segala kekuatannya telah lenyap, dan di dalam hati ia bersyukur. "Akhirnya aku bisa disegel, terima ka-"
Kata-kata Minato sebelum pertarungan. Ketua AKATSUKI memiliki rencana cadangan jika kita gagal membawa Hachibi.
"Sudah cukup... Kau terlalu lama Uchiha Shisui.." Shisui terperanga ketika melihat seorang berjubah AKATSUKI datang menyelamatkannya supaya tidak disegel. Slllppp Slppp
"Tangannya menembus tubuhku? Ougghh?" Raikage tak kuasa menahan rasa sakit yang ia derita, rasa sakit tersebut teramat dalam sampai akhirnya... darah keluar mengucur dari mulutnya, "Uhuk Uhuk! Siapa kau?"
Namun pertany aan Raikage hanya dijawab dengan senyuman membunuh.
'Apa aku akan mati di desaku sendiri? Berkorban untuk melindungi orang-orang yang kusayangi..'
Sebuah tangan berselimut api amaterasu menyerang tubuh Raikage dari belakang. Pria misterius bermata sharingan itu menyeringai dengan ancaman yang mengerikan.
To be continue
Chapter 32 END
Note Author: Apakah para reader penasaran? Jika jawabannya iya.. maka impian saya membuat orang-orang penasaran telah terwujud wkwk. Soalnya, dulu waktu saya baca manga Naruto dari MK, saya selalu penasaran, siapa sih ketua AKATSUKI? Ada yang bilang Minato, Madara, Hokage pertama.. berbagai spekulasi bermunculan, sekarang sudah enggak penasaran karena semua pertanyaan itu telah terjawab HAHA..
Saya juga masih penasaran di anime serial One Piece.. tentang nama D di One Piece /Lo kok melenceng ke one piece? Haha/abaikan...
Dan sekarang saya puas.. bisa membuat para reader penasaran.. xD
Baiklah, sampai di sini dulu...
RIP Raikage... :(
Terima kasih telah membaca chapter 32, sempatkan beberapa detik untuk mereview chapter ini...
Jika review kalian panjang, akan saya jawab melalui pm.. baiklah sampai jumpa sabtu depan.
Jaaa!
