Chapter 33 Up!

Chapter sebelumnya:

Kata-kata Minato sebelum pertarungan. Ketua AKATSUKI memiliki rencana cadangan jika kita gagal membawa Hachibi.

"Sudah cukup... Kau terlalu lama Uchiha Shisui.." Shisui terperanga ketika melihat seorang berjubah AKATSUKI datang menyelamatkannya supaya tidak disegel. Slllppp Slppp

"Tangannya menembus tubuhku? Ougghh?" Raikage tak kuasa menahan rasa sakit yang ia derita, rasa sakit tersebut teramat dalam sampai akhirnya... darah keluar mengucur dari mulutnya, "Uhuk Uhuk! Siapa kau?"

Namun pertanyaan Raikage hanya dijawab dengan senyuman membunuh.

'Apa aku akan mati di desaku sendiri? Berkorban untuk melindungi orang-orang yang kusayangi..'

Sebuah tangan berselimut api amaterasu menyerang tubuh Raikage dari belakang. Pria misterius bermata sharingan itu menyeringai dengan ancaman yang mengerikan.

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre – Family, Adv, Mistery

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 33

Pasukan Elite Konoha

Cerita ini terus berlanjut!

Hembusan angin yang membawa debu-debu bekas reruntuhan rumah terus tertiup ke selatan, tangan berselimut Amaterasu telah lenyap meninggalkan darah anyir dan semburat senyum mengerikan dari penggunanya. Uchiha Shisui yang terduduk lemah karena akan disegel Raikage hanya terdiam menyaksikan pria yang memakai jubah AKATSUKI itu.

"Siapa kau?" tanya Shisui gemetaran.

"Tidak perlu takut, kita berada di pihak yang sama, dan namaku Indera."

"Indera? Mustahil." Seolah tidak percaya dengan perkataan itu, Shisui terperanga. Ia berpikir tidak mungkin Indera leluhur pertama klan Uchiha bisa berada di hadapan matanya, sosok hebat itu telah tewas ratusan tahun yang lalu.

"Bagaimana anda bisa hidup kembali?"

"Pertanyaan yang tidak sopan nak. Sepertinya kau harus belajar tata krama dahulu terhadap leluhurmu ini, dan mengenai pertanyaanmu tadi aku akan menjelaskannya. Edo Tense? Seseorang telah menemukan fosilku di daerah batu ukiran tangan klan Uchiha. aku tidak tahu siapa yang menemukannya, tapi orang itulah yang hanya bisa membuatku tunduk. Oleh karena itulah aku mengikuti perintahnya."

Shisui yang masih duduk di tanah mencoba berdiri lagi, ia menunjukkan betapa hormatnya dia pada sang leluhur terdahulu. "Jadi? Ini rencana cadangannya?"

Indera mengangguk. "Bukankah incaran kita adalah ekor 8?" tanya Minato mendekati mereka berdua.

"Perubahan rencana. Kita akan kembali ke markas" perintah Indera, Minato dan Shisui mengangguk, lalu mereka menghilang menyisakan kerusakan parah di desa Kumogakure. Beberapa saat kemudian, seseorang berkacamata gelap dengan gaya rapnya menginjakkan kaki ke desa setelah berlatih di pulau bergerak. Betapa terkejutnya Bee ketika desanya luluh lantah.

"S-siapa yang m-melakukan s-semua ini?"

"Ini parah sekali, Bee. Sepertinya baru saja terjadi pemberontakan besar-besaran di sini."

"Kita tidak tahu, semua ini terjadi begitu saja.." Bee sangat marah, ia mengepal erat tangan kuatnya dan menggumamkan sesuatu "Siapapun yang melakukannya, tidak akan pernah kumaafkan.."

"Bee? Aku tidak bisa merasakan chakra Raikage dan Darui" ucap monster berekor delapan dari dalam perut Bee, dengan metode kebatinan yang mereka miliki, mereka seperti terhubung.

"Kau benar? apa jangan-jangan?" Dan sesegera mungkin Bee berlari untuk memastikan bahwa Raikage, Darui dan semuanya baik-baik saja.

Markas AKATSUKI.

Pemimpin AKATSUKI masih duduk di singgasananya, anggotanya telah berkumpul di depannya untuk menunggu perintah yang telah direncanakan sebelumnya. "Jadi? Ekor 8 belum tertangkap kah?" ucap pria misterius itu tenang. Dan mereka yang mendengar suaranya hanya bisa diam saja, termasuk Indera dan Madara. Kini telah berkumpul tujuh anggota AKATSUKI yang terpilih orang itu. Diantaranya ialah Minato, Shisui, Madara, Indera, Ashura, Orochimaru, dan Hashirama. Mereka semua mengenakan jubah AKATSUKI, dan masing-masing anggota tersebut memiliki kekuatan yang setara dengan kekuatan militer suatu negara, benar-benar mengerikan.

"Baiklah, kita anggap Kumogakure sedang beruntung, dan misi kalian selanjutnya ialah, kuberi waktu tujuh hari untuk melenyapkan Konoha, dan culik Hokage keenam, Uzumaki Naruto. Kalian mengerti?"

"Siapa yang akan ke sana?" tanya Uchiha Madara sopan.

"Mungkin tiga orang saja sudah cukup, berhubung Minato, Shisui, dan Indera telah melaksanakan misi sebelumnya maka Hashirama, Ashura dan Madara. Kalian aku tugaskan untuk menghancurkan Konoha.."

Mereka bertiga mengangguk. Akan tetapi dua diantara mereka terlihat meronta agar terbebas dari belenggu Edo tense ini. "Sial, siapa orang itu? Dia memiliki daya ikat yang luar biasa, bahkan kekuatanku tidak bisa memaksakan untuk lepas dari jutsu terkutuk ini.." pikir Hashirama.

Ashura dengan tenang melihat topeng putih yang terpasang di mukanya, namun ia belum bisa memastikan siapa yang ada dibalik topeng itu. "Tidak ada orang lain yang lebih kuat dari nenek, tapi apakah dia?"

Uchiha Madara malah antusias dengan tugas yang diberikan kepadanya, karena ini menyangkut 'Misi balas dendam' dan mereka bertiga keluar dari markas AKATSUKI untuk segera menuju ke Konoha.

Konoha.

Dari kejauhan, seseorang berjubah hitam memasuki gerbang besar Konoha dan disambut oleh penjaga yang berada di pos. "Selamat datang, Sasuke-sama."

"Sudah seminggu aku keluar desa untuk memantau pergerakan AKATSUKI yang baru, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali." Sasuke masih berjalan santai menuju gedung pemerintahan desa untuk melapor kepada Naruto.

"Sasuke?"

"Aku tidak menemukan hal yang aneh."

"Jadi begitu? Apakah mereka melakukan pergerakan dengan hati-hati?"

"Mungkin saja." Pembicaraan mereka berada di dalam ruangan Hokage, Naruto duduk dan Sasuke berdiri. Lalu seseorang masuk ke dalam ruangan tanpa mengucapkan sesuatu, Shikamaru datang tanpa suara. "Oh kau sudah kembali, Sasuke?"

Dia pun juga menceritakan hal yang sama kepada Shikamaru.

"Hmm, tapi kita harus tetap waspada, sesuatu yang mengerikan bisa saja terjadi secara tidak terduga." Kata Shikamaru memperingati.

"Kau benar." tambah Naruto.

"Tapi kita memiliki pasukan khusus kan? Naruto?" tanya Sasuke sambil memegang dagunya. Naruto menatapnya Sasuke dengan senyuman serius. Ia mengangguk. "Pasukan Elite Konoha, pasukan terkuat di dunia Shinobi, aku yakin mereka tidak akan kalah dengan mudah melawan Organisasi itu, karena merekalah yang terkuat!"

"Jadi? Akhirnya kita menggunakan itu kah?"

Para petinggi desa itu sepakat untuk menurunkan pasukan rahasia mereka. Untuk melacak AKATSUKI dan melindungi desa dari ancaman yang berbahaya. Naruto dan Sasuke telah tiba di suatu tempat yang amat gelap. "Kau menyembunyikan mereka di sini, Naruto?" tanya Sasuke terkejut.

"Mau bagaimana lagi, mereka hanya mayat hidup. Maaf Sasuke, kakakmu juga kita gunakan untuk melindungi desa."

"Tidak apa-apa, kau berhasil mempelajari Edo tensei selama 3 tahun dengan sempurna hanya untuk memperkuat pertahanan militer desa. Kau sungguh hebat."

"Entah kenapa, kau sekarang suka memujiku ya, Sasuke?"

Suara derap langkah kaki terdengar memantul di dinding-dinding bangunan tua itu, beberapa mayat hidup telah terkunci di sel mereka masing-masing. Dan Naruto membukanya satu persatu, dimulai dari mayat pertama hingga terakhir. Setelah semuanya dihidupkan, mereka dikumpulkan di sebuah tanah lapang yang berada di depan bangunan itu, angin berhembus semilir. Dan beberapa dari mereka terlihat tidak terima.

"Aku hidup lagi? Hm?"

"Dewa jasin memberkati, ucapkanlah rasa syukurmu terhadap dewa jasin."

"Sungguh merepotkan.."

"Kenapa? Aku hidup kembali? Edo tense kah?"

Hidan, Kakuzu, Nagato, Itachi, Kisame, Deidara, dan Sasori telah berdiri menghadap Naruto dan Sasuke. Ketika Itachi melihat Naruto, ia sedikit terkejut karena mata Naruto berbeda dengan sebelumnya. "Sharingan kah? Jadi kau bisa menguasainya Naruto?"

"Semuanya berkatmu, Itachi." Jawab Naruto.

"Sasuke? Lama tidak bertemu ya?" ucap Itachi sambil melihat adiknya yang semakin tumbuh dewasa.

"Iya, kau sungguh tidak berubah sama sekali kak."

"Oh ya, jika dilihat-lihat.. sudah berapa tahun sejak aku meninggal?"

"Mungkin 6 tahun.."

"Jadi?"

"Kau sudah menjadi paman untuk Sasuke, Itachi."

"Heh? Aku ingin bertemu dengannya."

Lalu tiba-tiba saja, Deidara menyela nostalgia mereka. "Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan! Tapi ada apa kalian berdua sampai repot-repot menghidupkan kami kembali? Hm?" ujarnya sambil berteriak-teriak tak jelas.

"Benar juga, aku belum menjelaskannya pada kalian. Sasuke tolong jelaskan pada mereka detailnya."

"Aku akan menjelaskannya. Organisasi AKATSUKI yang kalian huni telah lenyap ketika kalian mati satu persatu, namun 5 tahun kemudian, tepatnya sekarang. AKATSUKI kembali bergerak, mungkin tujuannya untuk meneruskan rencana kalian yang gagal di tengah jalan, namun bukan itu yang ingin aku katakan pada kalian, anggota mereka masih misterius, tidak ada data satupun mengenai salah satu anggotanya,"

"Jadi kalian menyuruh kami untuk mencari siapa sebenarnya mereka? Dan tujuan mereka, iyakan?" tanya Hidan menyela pembicaraan Sasuke.

Sasuke mengangguk.

"Maaf karena telah membangkitkan kalian lagi, tapi aku minta tolong pada kalian, aku membutuhkan kekuatan kalian untuk mewujudkan perdamaian yang sesungguhnya. Kemarin, aku mengalami mimpi yang sangat buruk, yaitu orang yang kutakuti kembali lagi, dengan kekuatan yang sangat dahsyat." Imbuh Naruto menengahi pembicaraan itu.

"Siapa yang kau maksud, Naruto?"

"Jiwa Juubi."

Mereka bertujuh terdiam, dan tidak mau berkata-kata. "Selama 7 tahun, aku melawannya, melawan kegelapan yang terus ia berikan ke dalam tubuhku. Namun setelah itu, aku berhasil menyegelnya, akan tetapi, musuh baru telah muncul dengan kekuatan yang tidak masuk akal, aku yakin ini semua ada hubungannya dengan jiwa Juubi."

Itachi mengangguk paham, "Aku mengerti apa yang kau bicarakan Naruto, semua kejadian itu cukup menakutkan jika dibayangkan, karena itulah demi desaku. Aku akan melakukan tugas ini.." kata Itachi sambil tersenyum. "Aku ingin melindungi desa dan mewujudkan perdamaian yang sebenarnya, bukan semuanya juga ingin seperti itu?" ucap Itachi sambil menoleh ke wajah teman-temannya.

"Aku ikut.." ucap Nagato. "Jika Itachi-san berbicara begitu, aku akan ikut dengannya," Kakuzu dan Hidan pun mengangguk, sedangkan Deidara dan Sasori sepertinya terlihat berbeda pendapat. "Aku akan melakukan apa yang kau perintahkan, Naruto," ujar Sasori.

"Hehhh? Sasori-sama! Kau ingin menyia-nyiakan kebebasan ini! Kita adalah seniman berbakat, seharusnya kita mencari refrensi untuk membuat karya baru selanjutnya! Hm!"

"Seniku hanya untuk membantu orang yang membutuhkan sekarang. Apa senimu hanya untuk meledakkan sesuatu yang tidak ada gunanya? Deidara?"

Deidara melipat tangannya. "Tapi kebebasan ini sangat sayang jika dilewatkan."

"Kebebasan katamu? Kau saja tidak pernah menang melawanku." Sasuke malah memprovokasi Deidara dengan kata-kata meledeknya. "Apa kau bilang! Sial kau!"

"Bertarunglah, Deidara. Buktikan kepadaku bahwa senimulah yang terkuat!"

"Hehehe, seniku memang yang terkuat. Baiklah aku akan meledakkan AKATSUKI yang baru itu! Hm!"

"Sudah diputuskan ya? Dan mulai sekarang, kalian akan aku angkat sebagai Pasukan Elite Konoha, dengan kapten, Uchiha Itachi."

"Sudah kuduga, Itachi-san lah yang akan menjadi pemimpin." Tanggap Kisame.

"Kau memang cocok menjadi kapten, Itachi!" ujar Deidara.

"Pasukan Edo Tensei yang merambah menjadi Pasukan Elite Konoha kah? Apakah ini hanya bersifat sementara saja?" tanya Hidan.

"Kecintaan terhadap perdamaian yang merupakan kunci masa depan dunia Shinobi, jika kalian tidak berkhianat, kalian bisa hidup kembali, tapi semua itu keputusan kalian. Aku tidak bisa menentukan, yang pasti. Perdamaian ada di tangan kita, jika AKATSUKI menang, dunia berakhir."

"Naruto? Apakah kita bisa menang?" tanya Sasuke pelan.

"Tidak perlu cemas, kita pasti menang."

Mereka pun membubarkan diri, dan untuk jaga-jaga Naruto memasang sebuah segel di tubuh mereka supaya mereka tidak kabur atau meninggalkan desa. Dan Itachi akhirnya berkesempatan untuk bertemu dengan keponakannya.

Rumah Sasuke.

Uchiha Shin, memiliki rambut merah seperti ibunya dengan gaya rambut seperti ayahnya, mudah akrab dengan siapapun tapi memiliki tatapan yang dingin. Mata Itachi sudah tidak seperti mata Edo Tensei pada umumnya karena Naruto sudah berhasil menyempurnakan jutsu itu dengan baik. Itachi berjalan memasuki halaman rumah.

"Sudah lama sekali, aku pulang." Ucapnya sambil membuka pintu rumah. "Selamat datang kembali." Karin terkejut ketika yang membuka pintu bukan Sasuke namun Itachi. "Itachi-san kan?"

"Siapa kau?" tanya Itachi.

Sasuke pun masuk dan menjawab pertanyaan Itachi. "Dia istriku kak." Imbuh Sasuke.

"Oh jadi dia istrimu? Cantik."

"Hehe, terima kasih Itachi-san. Tapi kenapa bisa anda ke sini? Padahal kan?" Itachi hanya tersenyum saja sedangkan Sasuke mengisyaratkan untuk diam saja. "Karin, ambilkan minuman untuk kakak."

"Baiklah!"

Mereka duduk bersama, dengan meja kecil sebagai pembatas. "Sudah lama kita tidak berbicara, Sasuke."

"Iya, kau benar."

"Jadi apa rencanamu untuk mengalahkan AKATSUKI?"

"Aku tidak tahu, kak. Mereka masih bergerak lamban. Tapi yang sesuatu yang pasti adalah mereka akan mendatangi Naruto."

"Naruto masih menjadi Jinchuriki kah?"

Sasuke mengangguk, teh yang dibuatkan Karin sudah siap dihidangkan dan mereka berbicara serius dari waktu ke waktu. Sampai Shin pulang dari akademi. "Aku pulang!"

"Selamat datang." Yang menyambut rupa-rupanya orang yang tidak Shin kenali, "Siapa anda?"

"Yang Sopan Shin, dia kakak ayah, lebih tepatnya Pamanmu."

"Paman? Jadi aku memiliki paman?"

Sasuke terdiam, Itachi tersenyum pada ponakannya. "Kau mirip sekali dengan Ayahmu waktu kecil, Shin."

"Heh? Memangnya Ayah semanja ini ya paman Itachi?" Itachi mengangguk setuju, dan wajah Sasuke memerah. "Ganti baju dulu sana"

"Iya.." ujarnya sembari berlari menuju kamarnya.

"Baiklah, sekarang kakak istirahat, besok kita akan melaksanakan misi,"

"Hm, kau juga."

Pusat Konoha.

Sakura dan Nasa berjalan bergandengan tangan di tempat keramaian untuk mencari bahan-bahan dapur. Tangan mungin Nasa mengenggam erat tangan halus ibunya, "Bu? Kenapa Ayah selalu sibuk ? padahal kemarin dia bilang akan menemani kita berbelanja." Kata Nasa dengan nada merengek merindukan Ayahnya. Sakura tersenyum melihat wajah Nasa yang cemberut.

"Tentu saja Ayahmu kan Hokage, dialah yang mengatur desa ini. Jadi Nasa harus mengerti ya, Ibu juga terkadang merasa kesepian tanpa Ayah, hehe."

"Hehe, ibu sangat mencintai Ayah ya?" Goda putrinya. Wajah Sakura memerah, "Tentu saja, ibu sangat mencintainya, Nasa sendiri?"

"Nasa juga sangat mencintai Ayah hehe."

Mereka masih mencari bahan-bahan yang diperlukan, sampai sore hari tidak ada yang menyangka mereka akan dibuntuti sekawanan bandit dari luar desa. "Eh? Ada wanita cantik sekali di sini.."

Di gang sempit itulah, mereka berdua terjebak diantara enam laki-laki yang menakutkan. "Siapa kalian!" teriak Nasa marah-marah.

"Hoi, anak kecil? Berani-beraninya kau?"

Seorang pria berbadan kekar menghampiri mereka berdua, berjalan mendekati mereka dengan tatapan mesum yang sangat menjijikkan. Tangannya hampir menyentuh tangan halus Sakura, sampai Naruto datang dari atas dan menendang kepala pria besar itu.

"Siapa yang berani menganggu istri dan anak Hokage?" bentak Naruto penuh amarah.

"Mereka keluarga Hokage!?"

"Maafkan kami, Hokage-sama!"

Enam orang itu langsung bersujud dihadapan Naruto dan meminta ampun, Naruto pun mendekati mereka, "Jangan pernah menginjakkan kaki kalian di desa ini, jika aku melihat wajah kalian lagi.. tidak ada ampun lagi."

"Ayah kau keren sekali!" puji Nasa sambil berlari ke pelukan ayahnya.

"Kau tidak apa-apa kan, Nasa, Sakura?"

Sakura tersenyum, begitu juga Nasa. "Ayo kita pulang."

Malam hari, Hutan.

Dedaunan pohon berjatuhan terkena tiupan angin, di bawah pohon yang rindang duduk Uchiha Madara ditemani Senju Hashirama. Mereka bersandar di dinding pohon itu, sambil menghela napasnya. Sedangkan Ashura berdiri bertumpu pada pohon di sebelah pohon tersebut.

"Ini aneh, Madara."

"Kenapa, Hashirama?"

"Aku tidak bisa melepas segel Edo Tensei ini, apa kau tau penyebabnya?" tanya Hashirama bingung, Madara tak memandang Hashirama, ia hanya melihat lurus ke depan dan menjawab pertanyaan Hashirama.

"Jelas saja, orang itu memiliki kekuatan luar biasa. Dia bisa mengendalikan kita dengan mudah."

"Jangan-jangan, kau!"

Madara mengangguk, "Iya, aku kalah telak dengannya, dihadapannya Edo tensei hanyalah sampah, ia bisa melukai tubuh Edo tensei ini." Hashirama tercengang, Madara yang merupakan lawan sepadan untuknya, telah kalah telak dengan orang itu. Ashura mendengar percakapan mereka, tapi dia masih diam saja. Laki-laki memakai ikat kepala putih itu melipat tangannya sambil memejamkan matanya.

"Madara?" ucap Ashura, yang telah berdiri di dekatnya.

"Apa kau berniat membantu orang itu?"

"Apa maksud anda?" tanya Hashirama, yang telah mengerti tentang Ashura, yang merupakan leluhur klan Senju dan Uzumaki. "Karena aku yakin, jika Hashirama tidak menginginkan ini semua, dia mencintai perdamaian yang nyata. Tapi untukmu aku tidak begitu yakin, apa kau ingin mengikuti jejak pemimpin itu?"

Madara masih termenung melihat tanah gersang di malam hari, api ungun yang berada tak jauh darinya semakin redup seiring dengan habisnya kayu bakar. Angin malam sepoy-sepoy, dan membuat rambut mereka melayang-melayang. "Aku tidak tahu, tubuhku dikendalikan dengan sangat kuat, bahkan aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri."

"Kalau kau, bagaimana Hashirama?" tanya Ashura sambil memandang wajah Hashirama.

"Aku tidak akan menghancurkan desaku, aku akan berusaha keras agar tidak ke sana." Tiba-tiba Hashirama mengeluarkan chakra luar biasa dari dalam tubuhnya, untuk meruntuhkan segel Edo Tensei. "Ya!" teriaknya.

Ashura mundur beberapa langkah, sedangkan Madara telah menjauh dari Hashirama. Ashura terdiam ketika melihat kekuatan Hashirama yang sebenarnya, "Dia sangat kuat, tapi dia masih belum bisa melampauiku."

"Hashirama?" gumam Madara.

Markas Akatsuki.

"Hashirama? Sepertinya dia tidak bisa tunduk terhadapku, tekadnya yang kuat untuk melindungi Konoha, berpengaruh besar dengan kekuatannya sekarang." Ucap laki-laki bertopeng putih yang masih duduk di singgasananya. "Tapi, semuanya tidak akan berubah."

Hashirama masih mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk melepas segel Edo tensei.

"Ya!"

Seluruh pepohonan tiba-tiba saja ambruk satu persatu, diikuti dengan tanah bergoncang dan mengeluarkan akar tunjang yang besar. Madara masih berdiri di sekitar tempat itu, tangannya ia gunakan untuk menghalau debu yang akan masuk ke matanya. Sedangkan Ashura masih diam saja, ia berdiri santai sambil melihat kekuatan Hashirama.

"Masih tidak bisa lepas juga? Yaaa!" teriaknya menggelagar, bumi pun bergetar, dan keseimbangan hutan tersebut menjadi terganggu dan hasilnya hutan baru terbentuk dengan cepat. Semuanya berakhir... tapi Hashirama masih terbelenggu jutsu Edo tensei.

"Hah? Hah? Hah?" Napasnya terengah-engah, denyut jantungnya tidak beraturan, ia mengeluarkan chakra yang cukup banyak untuk melepas segel Edo Tensei. Ashura berjalan mendekati Hashirama yang masih dalam keadaan tidak stabil. "Kau tidak perlu cemas, Hashirama."

"Hah? Hah? Apa maksud anda?"

Ashura tidak menjawab pertanyaan itu dan membiarkan hari esok terjadi seperti biasanya. 'Ada sesuatu yang ia rencanakan? Sebenarnya apa itu' pikir Madara sambil menatap mata biru langit Ashura.

Rumah Hokage, 19:00 pm.

"Selamat makan!" ujar keluarga Uzumaki bersemangat, menikmati masakan Uzumaki Sakura yang memiliki aroma yang lezat, sampai tercium ke seluruh sudut rumah.

"Enak, bu!"

"Iya, kan?"

"Ayah dengar Nasa juga ikut membantu ibu memasak ya?" kata Naruto sambil memakan makanan itu satu demi satu suapan. Nasa mengangguk riang, Sakura mengelus rambutnya yang halus.

"Jadi, Naruto?"

"Apa?"

"Baru-baru ini, kau sangat sibuk sekali? Ini pertama kalinya kita makan malam bersama sejak seminggu yang lalu, memang ada masalah?" tanya Sakura mengkhawatirkan suaminya. Naruto masih menikmati makanannya dan berhenti sejenak. "Aku minta maaf, tapi aku sangat sibuk hari ini. Aku kembali ke tempat kerja dulu, Nasa jangan tidur terlalu malam ya?" kata Naruto sambil berdiri dan berjalan menjauh dari Sakura dan Nasa.

"Eh? Ayah mau ke mana? Kita baru saja berkumpul.."

"Ada sesuatu yang harus Ayah lakukan Nasa, maafkan Ayah." Pintu rumah telah ia tutup, Sakura yang ditinggalkan begitu saja oleh Naruto pun hanya bisa diam saja. "Ayo Nasa, kembali ke kamarmu."

"Tapi bu?"

"Kau dengar apa kata Ayahkan tadi?"

"Iya..." Nasa mengangguk mengerti, dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Sakura masih duduk terhenyak di sana. Jam berdentik lamban, penerangan lampu cukup terang menerangi Sakura di malam sunyi, ia menundukkan kepalanya pertanda kekecewaan yang dalam.

"Sakit sekali, apa aku menganggunya?" setelah beberapa saat, ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya, dia duduk di tepi kasur sembari memegang foto saat pernikahannya dengan Naruto.

Flashback.

Pernikahan itu tidak begitu mewah, walaupun demikian itu sangat berkesan bagiku. Disaat dia menikahiku, aku telah mengandung anaknya. Pernikahan itu dihadiri teman-teman, warga desa Konoha, dan para petinggi desa-desa lainnya. Semuanya datang memberi ucapan kepadaku, kepada Naruto juga. Terlebih dia adalah Hokage, banyak perempuan yag cemburu terhadapku tapi aku tidak memperdulikan itu, seberapa besar derajatnya, statusnya, ketampanannya, menurutku ia hanyalah Naruto, teman masa kecilku yang sangat bodoh dan begitu perhatian denganku.

Yang kusukai darinya?

Senyumnya.

Yang kubenci darinya?

Kadang dia tidak memperdulikanku.

Yang membuatku jatuh cinta kepadanya?

'Apa kau tahu Sakura? Ketika kau melihat bintang di malam hari, kau akan merasa tenang, seberapa besar masalahmu, seberapa besar kau gelisah, saat kau melihat bintang-bintang kau akan dapat menenangkan pikiranmu, karena di sanalah wujud dari senyumanmu sendiri.'

Baka!

'Hehe!'

"Sekarang aku telah menjadi istrinya, tapi kenapa aku merasa kesepian? Kenapa?. Naruto, cepatlah pulang, aku menunggumu."

Naruto memandang langit berbintang di tengah malam melalui jendelanya. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya yang tak pernah berkurang. Secangkir kopi telah dibuatkan Shizune untuk menemani Naruto menangani pekerjaannya. "Terima kasih, Shizune-san."

"Sama-sama, meskipun aku murid Tsunade-sama, tapi aku akan tetapi bertugas di pemerintahan desa ini, jika ada yang kau minta cukup panggil aku saja."

"Iya"

Shizune keluar dari ruangan itu membiarkan sang Hokage bekerja sendirian. "Sudah 5 tahun kah? Aku menjabat gelar Hokage, dan aku rasa Kakashi-sensei harus kuikutkan dalam Pasukan itu, dia cukup hebat dan berkompeten, tapi melihat musuh yang belum diketahui identitasnya, apakah ini terlalu berlebihan?"

Tiba-tiba saja, Naruto telah berada di dalam segel musang ekor sembilan, ia berdiri di hadapan monster oranye itu dengan air yang tenang serta suara tetesan yang muncul entah darimana. "Kenapa kau membawaku ke sini? Kyubi?" tanya Naruto datar.

"Tentang persiapanmu mengenai Pasukan Elite Konoha, aku hanya ingin memberitahumu. Apa yang kau lakukan itu sudah benar, aku merasakan chakra yang luar biasa dari arah selatan, satu orang itu bisa mengalahkan 2 orang Pasukan Elite, bahkan bisa lebih. Mungkin ketujuhnya bisa lenyap." Naruto terhenyak disaat itu juga.

"Benar, kekuatan mereka tidak terbayangkan besarnya." Ucap Kyubi lagi.

"Tapi, kenapa kau memberitahu semua ini kepadaku?"

"Tidak tahu, aku pikir apa yang sudah kulakukan ini memanglah benar, tapi aku memiliki firasat buruk tentang semua ini.."

"Apa itu?"

"Bumi akan segera binasa, karena White belum sepenuhnya kalah, memang White sudah kau segel di dalam tubuh terdalammu, tapi dengan kekuatan mereka semua, aku yakin kau akan kalah dan White bisa dibebaskan."

"Jadi? Mereka-"

"Benar, mereka semua mengincarmu, Naruto!"

Keesokan harinya.

Itachi, Deidara, Kisame, Nagato telah berdiri di hadapan Naruto, di ruangannya. "Tugas kalian hanya memantau pergerakan AKATSUKI, jika mereka berniat menghancurkan desa ini hambat mereka dan berikan kami sinyal untuk mengirim bantuan. Karena Kakuzu, Hidan, Sasori akan aku tugaskan untuk melindungi desa.

Itachi mengangguk paham. Mereka bertiga pun keluar ruangan Hokage, "Sepertinya semua rencanamu berjalan dengan baik sejauh ini, Naruto? Aku cukup terkejut kau bisa mengendalikan mereka untuk menuruti perintahmu.."

"Aku sedikit memanipulasi mereka dengan mata ini, tapi untuk Itachi, dia sangat spesial. Atas kehendaknya sendiri dia mau melakukan semua perintahku."

"Kau memang Hokage yang hebat, Naruto."

"Tapi kita tidak tahu, ancaman apa yang akan mereka lakukan terhdap kita? Desa ini benar-benar dalam bahaya." Tiba-tiba saja.. "Lapor Hokage-sama!"

"Heh! Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu" ujar Shikamaru. Naruto memberikan isyarat dengan tangan kanannya. Shikamaru terdiam. "Kumogakure! Telah diserang dan Raikage A tewas dalam pertempuran!"

"Apa katamu? Tidak mungkin..." Naruto tidak menduga kejadian ini akan terjadi begitu saja tanpa sepengetahuannya. "Apakah desa lain sudah mengetahui hal ini?" tanya Shikamaru.

"Iya.."

"Baiklah, Shikamaru hubungi semua desa untuk segera melakukan rapat penting."

"Siap!"

"Sudah kuduga, AKATSUKI telah bergerak cepat."

Gerbang Konoha.

"Kau akan ikut dengan kami, Sasuke?" tanya Itachi yang melihat Sasuke berdiri dan bertumpu di pintu kayu besar itu.

"Hm, aku akan membantu kalian.." ucapnya sambil menatap Itachi dengan mata Rinnengan yang baru saja terlahir.

"Menarik..." senyum Itachi...

Pasukan Elite Konoha mulai bergerak! Pertempuran yang sebenarnya akan segera terjadi!

To be continue

Chapter 33 END.

Pasukan Elite Konoha. Terdiri dari 7 orang anggota AKATSUKI terdahulu.

Uchiha Itachi. Rate 73

Hoshigaki Kisame Rate 67

Sasori. Rate 65.

Deidara. Rate 67

Uzumaki Nagato. Rate 73

Kakuzu Rate. 69.

Hidan Rate 55.

Memakai jubah putih dengan awan merah.

Anggota NEW AKATSUKI.

Leader ? Rate 100.

Ashura. Rate 93

Indera. Rate 92

Senju Hashirama. Rate 84

Uchiha Madara. Rate 83

Orochimaru. Rate 70

Namikaze Minato. Rate 71

Uchiha Shisui. Rate 70

Rating itu adalah detail mengenai kekuatan mereka dari segi fisik maupun mental, dari bertahan sampai menyerang. Selanjutnya

Hokage keenam Uzumaki Naruto,. Rate ?

See you next Week!

Author Note: Maaf telah membuat kalian menunggu, saya terlalu sibuk di RL, bahkan plot Power of White pun sya lupa, jadi harus baca dari chapter 25 dulu XD
Jika ada salah salah penulisan, tolong dimaklumi ya.. /hiatus 5 bulan xD DAN...

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA SAMPAI SELESAI, DAN REVIEWNYA JANGAN LUPA YA! ARIGATO!