Chapter sebelumnya.

Gerbang Konoha.

"Kau akan ikut dengan kami, Sasuke?" tanya Itachi yang melihat Sasuke berdiri dan bersandar di pintu kayu besar itu.

"Hm, aku akan membantu kalian.." ucapnya sambil menatap Itachi dengan mata Rinnengan yang baru saja terlahir.

"Menarik..." senyum Itachi...

"Ayo!"

"!"

Pasukan Elite Konoha mulai bergerak! Pertempuran yang sebenarnya akan segera terjadi!

Chapter 34 update!

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre – Family, Adv, Mistery, Supernatural.

Power of White © Yoshino Tada

Power of White ..

Chapter 34

Itachi & Sasuke vs Madara

Sunagakure.

"Kelihatannya, Naruto sudah mengambil tindakan cepat, pertemuan para Kage selanjutnya akan diadakan di Konoha, hari ini." Gaara memegang kertas yang berisi tentang undangan rapat penting untuk membahas AKATSUKI yang telah menghancurkan desa Kumogakure, di sisi lain Iwagakure, Kirigakure, dan Kumogakure, telah menyutujui adanya undangan rapat itu, namun masih belum ada tanggapan yang jelas dari pihak Kumogakure, karena negara mereka berada di ujung tanduk dan harus mendapat bantuan segera.

Konoha.

"Seharusnya, semua pesan telah terkirim, tinggal menunggu kedatangan mereka saja." Kata Shikamaru yang telah menyelesaikan tugasnya. Naruto sedang melamun, ia terus-menerus merasakan kegelisahan dan tekanan batin, tapi ia sendiri tidak tahu. 'Apa yang terjadi denganku?' batinnya.

"Shikamaru?"

"Iya?"

"Siapkan semua keperluan rapat, ruangan dan hal-hal yang dibutuhkan nanti."

"Aku mengerti," jawab Shikamaru. Pria berambut seperti nanas itu pun meninggalkan ruangan Naruto, dan akhirnya Naruto di ruangannya sendirian. 'Gawat, aku merasakan firasat yang buruk, apa yang harus kulakukan?'

Hutan.

Itachi, Sasuke, Nagato, Deidara, dan Kisame telah melakukan perjalanan untuk mencari markas dan info seputar organisasi AKATSUKI yang baru, dipimpin Itachi mereka berempat berjalan dengan santai.

"Kenapa kita hanya berjalan? Ayo kita naik burung seniku," ujar Deidara merasa jengkel.

"Misi kita hanya memantau mereka saja, tidak lebih. Lebih baik kita berjalan dan menyembunyikan keberadaan kita, jika kita memakai burung-burungmu, kita akan mudah ketahuan, bersabarlah sedikit." Tanggap Itachi tenang. Deidara hanya bisa mendengus kesal, setidaknya mereka memiliki anggota yang kuat. Dari kejauhan, Ashura merasakan keberadaan Pasukan Elite Konoha. Itachi juga merasakan hal yang sama ketika aura chakra mengerikan berhasil menjangkau mereka berlima.

"Mustahil..." keringat gelisah mulai menyelimuti tubuh Itachi, tangannya terasa lemas, begitu juga tubuhnya. Aura mengerikan itu hanya bisa dirasakan Itachi, karena dia bisa mendeteksi chakra musuh dari kejuhan tapi ini... "Terlalu mengerikan, chakra siapa ini?"

"Ada apa Itachi?" tanya Nagato ikut larut dalam kepanikan Itachi.

"Semuanya menghindar!" Sasuke, Nagato, Kisame, dan Deidara meloncat bersamaan, ketika sebuah bola api raksaksa menghujam mereka dari atas langit.

DUARRRRRRR!

Daratan yang berada di sekitar tempat itu hancur luluh lantah akibat hantaman api besar tersebut, pepohonan juga banyak yang terbakar, termasuk daun-daun hijau. Mereka berlima telah bersembunyi di tempat masing-masing, Itachi di atas pohon, Sasuke di belakang pohon, Deidara melakukan jutsu dan menaiki burung putih miliknya, Kisame berada di ruang lingkup jutsu air sedangkan Nagato juga bersembunyi di balik pohon. Setelah debu hasil api besar itu lenyap, datang seseorang yang meloncat ke kawah yang telah terbentuk akibat jutsunya.

"Dia kan? "

"Mustahil..."

"Uchiha Madara?" ujar Itachi tak percaya.

"Ayo keluarlah, tikus-tikus kecil, aku ingin bermain-main dengan kalian..." teriak Uchiha Madara dengan gelak tawanya, seseorang Uchiha yang gila dengan pertarungan. Lalu di belakangnya berjalan dengan pelan seorang pria berambut panjang lurus. "Kau terlalu terburu-buru Madara, Sial! Kenapa tubuhku bergerak sendiri..!"

"Haha, ayo bersenang-senang Hashirama!"

"Kalian berdua terlalu santai, pertarungan yang sebenarnya adalah menganalisa setiap gerakan, dan menyerang dengan kekuatan penuh.." lalu diikuti pria bermata biru langit yang chakranya sampai ditakuti oleh Uchiha Itachi. "Uchiha Madara, Senju Hashirama, dan... siapa orang yang sangat kuat itu?" pikir Itachi. Sasuke masih mengamati mereka bertiga, namun tindakan ceroboh dilakukan Deidara.

"Haha, kena kalian! Katsu!" burung besar yang memiliki leher 30 centimeter telah terjun bebas, terbang melewati hembusan angin yang berlawanan untuk menuju ke tempat mereka bertiga.

DUARRRR!

Ledakan yang hebat, gemuruhnya sampai terdengar sampai radius 2 kilometer, tiupan angin yang kencang mengakibatkan pohon-pohon hampir jatuh, dan daunnya berterbangan ke mana-mana, di samping itu, Itachi dan lainnya mencoba mencari perlindungan di segala tempat yang dinilai aman untuk berlindung.

WHUSHHH!

Itachi, Sasuke, Nagato dan Kisame masih bersembunyi di tempatnya masing-masing sedangkan Deidara masih terbang menggunakan hewan putih berupa burung dengan kepala aneh, Deidara terkikih nista, mulut yang berada di telapak tangannya terus menerus menjulurkan lidahnya. "Seniku berhasil meledakkan mereka! hm" ucapnya dengan dihiasi gelak tawa.

Akan tetapi semua itu diluar perhitungannya, dia terlalu meremehkan kekuatan pendiri Konoha, Uchiha Madara dan Senju Hashirama. "Jutsu yang unik, walaupun ledakan itu cukup mengejutkanku tadi, tapi sepertinya kami berada di level yang berbeda denganmu nak." Madara dan Hashirama masih berdiri kokoh di hamparan tanah yang telah terbentuk kawah hasil ledakan itu, namun pohon-pohonnya masih berdiri dengan tegap walau daunnya telah hangus terkena semburan api dari ledakan tersebut, senyuman legenda itu mengejutkan Pasukan Elite Konoha, terutama Deidara.

"Mustahil, seharusnya ledakan itu mengenai mereka." Pungkas Deidara panik.

"Ledakanmu memang mengenai tubuh kami, tapi ledakan itu terlalu lemah untuk melukai tubuh kami, sebaiknya kau berlatih lagi." Balas Madara meremehkan, Ashura yang terkena serangan Deidara tidak merasakan dampak apapun, dia masih santai seperti sebelumnya. Mata biru langitnya tidak menatap ke atas, melainkan lurus ke depan.

"Mereka berdua terlihat tidak terluka, namun ledakan itu telah membuat tubuh mereka tergores sedikit, akan tetapi orang itu, dia sama sekali tidak mengalami luka sedikit pun." Sasuke sedari tadi mengamati mereka bertiga, termasuk orang misterius yang berdiri di belakang Madara dan Hashirama.

"Sebenarnya siapa orang itu?" lanjutnya.

"Dengan jarak seperti ini, seharusnya aku bisa melancarkan serangan kejut.." ujar Kisame yang telah mempersiapkan jutsunya dari perlindangan angin ya telah ia buat. Tangan birunya ia letakkan ke tanah. "Jutsu Air: Serangan ikan Hiu!" ikan-ikan hiu terlihat berenang menyelusuri tanah yang telah bercampur chakra air, hiu-hiu itu mengincar Madara dan Hashirama.

Mereka berdua meloncat karena menyadari hal itu, namun hiu-hiu itu juga mengejar mereka. "Hm, jutsu air kah? Memanipulasi air dan mengubah bentuknya menjadi hewan buas. Menarik." Namun Hashirama telah menjawab serangan itu dengan cepat, dengan mengeluarkan akar-akar tunjang yang menyerap chakra air itu ke dalamnya.

"Dia menyerap chakra airku?" Hashirama langsung berlari cepat menuju Kisame, Kisama lengah. Tangannya masih ia letakkan ke tanah untuk mengontrol chakra barusan, Hashirama telah bersiap memukul wajah Kisame dengan pukulan terkuatnya. "Yahhh!" Kisame masih membatu. Melihat itu, Nagato tidak bisa tinggal diam, ia mencoba menolong Kisame dengan mengeluarkan Kuchiyose yang berwujud panda.

"Kuchiyose no Jutsu!"

Pukulan maut itu menghantam tubuh panda tersebut. Namun kerasnya pertahanan panda itu tidak bisa menghentikan pukulan dewa Shinobi, tubuh panda itu mulai mengalami keretakan, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

Bugh! (Suara menghilangnya hewan Kuchiyose)

Nagato dan Kisame lolos dari pukulan maut Hashirama, Deidara yang masih terbang telah diintai oleh Madara dari belakang, "Terlalu lambat!" teriak Madara sebelum memukul Deidara yang berbalik ke belakang karena mendengarkan suaranya.

Dash! (Suara pukulan keras)

Pukulan itu tersemat di pipi Deidara, Deidara melesat kencang ke tanah dengan hantaman yang sangat keras. Duarr! Deidara hampir tak bisa bergerak akibat satu pukulan tersebut. Itachi masih bersembunyi di antara pepohonan yang ada di atas, mengamati pertarungan itu dari jarak yang cukup jauh.

"Kekuatan mereka, jauh dari perkiraanku." Tuturnya sambil melihat pertarungan yang berat sebelah. 'Tapi aku harus membuat keputusan sekarang, melawan mereka atau kembali membawa musuh yang memiliki potensi untuk menghancurkan desa.' Lalu Itachi menoleh ke arah persembunyian Sasuke, "Dimana Sasuke?" ternyata Sasuke telah maju ke medan pertempuran. Karena melihat Madara lengah, Sasuke mengambil inisiatih menyerang. Madara telah mendarat di daratan, ketika itulah Sasuke menyerangnya dari belakang menggunakan pedang miliknya.

Ssss!

"Menyerang tanpa suara kah?" Madara menghindar, dan berbalik dengan sangat cepat. "Jurus api: Teknik Bola Api!" Madara mengeluarkan api dengan jangkauan luas padahal ia hanya berdiri beberapa meter dari tempat Sasuke berdiri. Sehingga mustahil Sasuke bisa menghindari serangan tersebut.

"Inilah yang kuincar! Itachi!"

"Yokaii!"

Sasuke mengeluarkan jubah jurus andalannya, Susano'o untuk menghalangi api itu, sedangkan Itachi telah berada di dekat Madara yang masih dalam kuda-kuda menggunakan jutsu api. Itachi mempersiapkan pedang yang telah terselimut api amaterasu. Tapi sebelum itu, ia memukul Madara dengan satu pukulan, dua pukulan secara berturut-turut dan menusuknya dengan pedang api amaterasu.

"Kombinasi Uchiha telah meruntuhkan benteng pertahanan, Uchiha Madara? Yang benar saja" ungkap Hashirama terkejut, Ashura masih dalam suasana santainya.

"Kau terlalu lengah, paman!" teriak Kisame yang sudah dalam mode bertarung, berulangkali ia menebaskan pedang Samehada miliknya ke Hashirama, tapi Hashirama selalu menghindar dengan sigap, dan mengakhirinya dengan pukulan maut. Mengalirkan energy alam ke dalam kepalan tangannya yang kuat.

Dash!

"Sial, tidak ada celah sama sekali." Ujar Kisame kesal, Nagato yang berada dekat dengan Kisame mencoba sesuatu. Nagato mengeluarkan roket-roket kecil dari dalam lengan bajunya, roket-roket kecil itu meluncur ke tempat Hashirama berdiri. Hashirama tidak menghindar sama sekali, ia hanya membentengi dirinya dengan akar-akar tunjang yang terbentuk dari dalam tanah.

Duarr!

Ledakan maut itu tidak bisa menghancurkan pertahanan kayu milik Hashirama, namun Nagato memanfaatkan kepulan asap tersebut untuk menyerangnya secara diam-diam. Batang karbon hitam telah ia genggam, bersamaan dengan itu ia mengincar perut Hashirama.

Dari belakang Nagato mengincarnya, "Rasakan ini!" Hashirama menoleh, tapi reflectnya terlalu cepat. Ia bisa menghindar sambil mengeluarkan akar tunjang dengan ujung runcing ke tubuh Nagato. Melihat serangan kilat itu, Nagato merubah tubuhnya ke mode bertahan, tangan kirinya tiba-tiba saja mengeluarkan kerangka unik yang membentuk sebuah lingkaran bercabang.

Batang kayu runcing itu tertahan di dalam lingkaran itu, dan Nagato mengeluarkan tangan keduanya di bawah ketiaknya. Tangan kedua itu langsung mencekik leher Hashirama, dan tangan ketiga muncul dari punggung Nagato, tangan itu berubah menjadi gergaji lingkaran mini dengan putaran cepat.

'Aku terpojok? Bagus Shinobi muda, dengan begini dia tidak akan bisa mengendalikanku lagi' pikir Hashirama yang telah pasrah terkena serangan mengerikan itu. Akan tetapi Ashura yang tadi diam saja, akhirnya turun tangan. Ashura bergerak dengan kecepatan luar biasa, dan mematahkan tangan robot Nagato, tangan itu terlempar ke tanah, gergaji bulatnya masih berputar dan menghasilkan ledakan kecil.

Duar!

Hashirama terhindar dari maut, dan Nagato mundur beberapa langkah ke belakang, Ashura masih memperlihatkan sorot mata yang tajam. "Gerakannya cepat sekali, saking cepatnya aku tidak bisa melihat apa yang ia gunakan untuk mematahkan semua tanganku" tangan Nagato buntung semuanya, kedua tangan pokoknya telah dipatahkan oleh Ashura dengan kecepatan dan serangan yang halus namun sangat mengerikan. Apalagi mata biru langit itu mengingatkan orang-orang yang melihatnya kepada seseorang yang telah lama hilang, benar dia mirip sekali dengan Uzumaki Naruto, tapi dengan pandangan yang berbeda.

Di tempat yang sangat jauh, ketua AKATSUKI mengasumsikan sesuatu. "Hanya beberapa persen kekuatan saja yang aku keluarkan untuk melawan mereka berlima, akan tetapi mereka sudah terlihat kewalahan, baiklah. Waktunya untuk sedikit serius." Sosok misterius itu membuat handseal, dan ketika itu juga, Madara dan Hashirama telah dikendalikan sepenuhnya, namun masih bisa berbicara seperti biasa.

Madara masih bertarung dengan Itachi dan Sasuke, pertarungan yang sangat sengit. Itachi bersiap menghunuskan pedang amaterasunya pada tubuh Madara. "Kombinasi yang hebat, Uchiha muda... tapi! Susano'o!" Monster biru menyala muncul tiba-tiba disertai tiupan angin seperti beliung diantara mereka berdua akibatnya Itachi dan Sasuke terhempas, Sasuke terseret di tanah lalu ia mencoba untuk menyeimbangkan badannya agar tidak terjatuh. Itachi juga demikian, ia berusaha supaya tidak terjatuh untuk menghindari rasa sakit yang tidak perlu.

'Susano'o kah? Edo tensei yang diciptakan Naruto memang istimewa. Tubuh Edo Tensei ini bisa merasakan rasa sakit, sehingga penggunanya dapat mati untuk kedua kalinya, oleh sebab itu aku tidak boleh gegabah dalam mengambil suatu tindakan,' Itachi masih memperhatikan lurus ke depan, dimana Susano'o berwajah dua milik Madara berdiri tegap dan kokoh, mata sharingan bertomoe tiga milik Itachi terus melihat kekuatan biru tersebut.

"Ayo kita bersenang-senang, Uchiha muda!" teriak Madara menggila. Tangan besar Susano'o itu telah menggenggam erat sebuah pedang biru yang tidak ada gagangnya, ia hantamkan pedang itu ke tanah, menghasilkan daya ledak besar, dan bumi serasa terbelah menjadi dua, Sasuke yang menyadari serangan itu menuju ke arahnya telah mengambil pergerakan cepat untuk segera menghindar. "Dia terlalu meremehkanku, Susano'oku tidaklah lemah!" Sasuke membangkitkan Susano'o tahap akhir yang bisa membuatnya terban seperti burung yang melayang-layang. Melihat itu Madara semakin tergugah seleranya untuk bertarung, Madara juga mengeluarkan Susano'o tahap akhir.

"Kita lihat, Susano'o siapa yang akan menang!" seru Madara, Sasuke telah melayang di langit, pedang ia codongkan ke depan dengan dalih untuk menusukkan ujungnya ke Susano'o Madara, dengan memanfaatkan berat gravitasi dan berat Susano'o itu sendiri, tidak lupa ia menambahkan sebuah serangan kejut di akhir nanti.

"Sasuke?" ucap Itachi yang masih berdiri menanti benturan mereka berdua.

"Menarik sekali!" Madara tidak gentar sedikit pun, ia mengamati pergerakan Sasuke dan bersiap menerima serangannya dengan mengandalkan dua pedang yang telah tergenggam di tangan besar Susano'o.

"Yah !"

Wushhhhh, DUARRR!

Benturan dahsyat itu adalah awal dari pertempuran yang sangat panjang.

Konoha.

Gaara adalah Kage pertama yang tiba di desa Konoha, ia disambut hangat oleh Jonin setempat dan mempersilahkan tamu penting itu untuk beristirahat di hotel yang telah sengaja dipesan untuk para Kage yang akan datang. "Desa ini tidak berubah sama sekali ya?" ucap Gaara sambil duduk di tepi jendela, dan menyaksikan suasana pedesaan Konoha, yang sudah lama tidak ia lihat kurang lebih 10 tahun. Sejak dia pertama kali bertemu dengan Naruto di ujian Chunin.

"Kau sedang bernostalgia, Gaara?" tanya Kankuro yang berdiri sambil bersandar di tembok dekat Gaara. "Iya, di tempat itulah untuk pertama kalinya kita bertemu, namun disaat itu, aku sama sekali tidak tertarik dengannya."

"Hahahaha, kau benar. aku juga tidak tertarik sama sekali dengannya, pandanganku hanya tertuju pada Uchiha Sasuke waktu itu."

"Hmm, tapi aku penasaran. Dimana Sasuke sekarang?" lanjut Kankuro yang hanya didengar oleh Gaara. Pria berambut merah tua itu bangkit dari duduknya, dan bersiap-siap ke tempat rapat. Sebelum para Kage yang lainnya datang. "Ayo, kita harus segera bergegas, panggil Temari-nee san."

"Seharusnya, kau yang berkunjung ke rumahnya, Gaara."

"Hmm, kau benar."

Rumah Shikamaru.

"Temari?"

"Hm?"

"Bukankah, adikmu, Gaara berada di sini? Kau tidak melihatnya?" tanya Shikamaru yang mampir pulang sebentar untuk menemui istrinya, yang sedang terlihat sibuk merajut sesuatu. "Dia adikku, seharusnya dialah yang mampir ke sini.."

"Benar juga."

Shikadai pulang, anak pertama dari pasangan Shikamaru dan Temari. Anak yang mirip dengan ayahnya itu masih berumur 4 tahun seumuran dengan Nasa dan Shin. "Tadaima!" ucapnya pelan.

"Okaeri." Sambut ibunya.

"Ayah ibu? paman Gaara dan paman Kankuro datang."

"Beri salam pada pamanmu dengan benar, Shikadai! Dia Kazekage! Bodoh!" teriak Temari lantang karena melihat anaknya yang tak ada sopan santun sama sekali terhadap pamannya. Gaara dan Kankuro hanya senyum-senyum aneh, Shika pun meminta maaf dan pergi ke kamarnya.

"Baru saja sampai?" tanya Temari sambil mempersilahkan mereka berdua duduk.

"Iya, Shikadai sudah tumbuh besar ya?"

"Memang, tapi dia benar-benar mirip Ayahnya."

Shikamaru yang tak sengaja lewat pun hanya bisa cemberut. "Aku dengar lho, Oh ya untuk Kazekage-san, rapat akan diadakan pukul 12:00 siang, jadi setengah jam dari sekarang."

"Baiklah, Shikamaru." Mereka bertiga pun menikmati ngobrol santai yang jarang dilakukan, karena kesibukan masing-masing. Shikamaru bergegas ke kantor untuk mempersiapkan segalanya untuk rapat nanti.

Gerbang Konoha.

Datang Mizukage ditemani oleh Ao dan Chojiro. Mereka disambut baik oleh Jonin dan dibimbing ke penginapan untuk segera bersiap-siap ke tempat rapat yang akan diadakan di ruangan khusus di dalam salah satu pahatan patung Hokage. Diikuti oleh Tsuchikage yang berada di belakang sendiri, namun perwakilan Kumogakure masih diragukan kedatangannya. Hokage juga memaklumi hal tersebut, karena itulah dirinya mengumpulkan para Kage untuk rapat membahas kehancuran Kumo dan pergerakan yang dibuat oleh AKATSUKI baru.

Jam 12:00 pm. Ruangan khusus rapat, yang terletak di dalam pahatan patung Minato.

Ruangan itu memiliki ventilasi udara yang selalu menyaring udara segar untuk masuk, dan membuang udara kotor untuk keluar. Kursi yang tersedia di dalam ruangan itu berjumlah 5 kursi, pengawal dari desa-desa perwakilan tidak diperbolehkan duduk, mereka berlima dibatasi sebuah meja bundar yang cukup lebar. Dengan caping-caping yang mereka letakkan di sisih samping yang sekiranya terdapat ruang untuk meletakkan benda itu.

"Selamat datang di Konoha, terima kasih telah menghadiri rapat penting ini, para Kage yang terhormat." Sambut Naruto dengan sopan santunnya, layaknya seorang pria dewasa yang telah mengerti akan seluk beluk tata krama dan pemerintahan dunia Shinobi.

Dan diantara kursi-kursi itu, hanya satu yang masih kosong yakni kursi Raikage. "Sepertinya Raikage tidak bisa datang ya?" ucap Mizukage mengawali pembicaraan setelah sambutan Naruto baru saja.

"Raikage telah wafat... setelah rapat selesai, aku pikir kita harus ke sana untuk melihat keadaan desa Kumo." Pungkas Tsuchikage. Gaara menyahut tanggapan itu. "Kita masih tidak tahu siapa yang menyebabkan semua kehancuran itu, jadi kita harus waspada." Tambah Gaara tegas.

"Benar apa yang dikatakan Gaara, saat ini dunia Shinobi tidak stabil, Kumogakure telah hancur, kita tidak bisa bergerak seenaknya untuk pergi ke sana, karena desa kita juga membutuhkan perlindungan, siapa tahu ketika kita lengah, kehancuran yang sama akan kita alami sepeti kehancuran Kumo. Aku pikir mengutus wakil untuk ke sana adalah hal yang tepat." Kata Naruto dengan pemikiran yang kritis. Semua kage menyetujui hal itu, dan sekarang waktunya untuk membahas pokok permasalahan.

"Pada pertemuan kali ini, ada dua pokok inti permasalahan yang kita hadapi. Pertama, kita harus mengumpulkan dana yang cukup besar untuk membantu Kumogakure untuk bangkit dari keterpurukan dan yang kedua..." sebelum melengkapi perkataannya, Tsuchikage menyela pembicaraan Naruto.

"Sebentar.."

"Anda tidak sopan, Tsuchikage-dono." Ujar Mizukage menegur kelakuan Tsuchikage.

"Biarkan saja, Mizukage. Ada apa Tsuchikage? Apakah anda keberatan dengan mengumpulkan dana untuk membantu Kumogakure?"

"Iya, karena desa kami berada dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Maka dari itu aku pikir masih terlalu dini untuk memberi bantuan pada Kumogakure, terlebih rakyatku juga membutuhkan bahan-bahan pangan dan sebagainya." Kata Tsuchikage berterus terang, dan semua orang terlihat berpikir. Termasuk Naruto. Lalu Shikamaru mengemukakan pendapatnya tentang krisis ekonomi yang sedang dihadapi Iwagakure.

"Boleh saya mengemukakan pendapat ?"

Naruto mempersilahkan Shikamaru untuk berbicara mengenai pendapatnya. "Jika yang terjadi memang demikian, aku pikir. Iwagakure tidak harus menyumbangkan dana atau bahan-bahan pangan untuk Kumogakure, terlebih lagi Iwa memiliki perhutanan luas, yang bisa dimanfaatkan kayu-kayunya, atau mungkin tenaga manusia juga bisa digunakan untuk membangun kembali rumah-rumah Kumogakure yang hancur... banyak yang bisa kita manfaatkan untuk membantu mereka, contohnya hal-hal yang terdapat di sekitar kita bisa kita manfaatkan.. mungkin itu saja pendapat saya, terima kasih." Shikamaru berhenti berbicara, dan kata-katanya masih dikelola di otak para Kage semua.

Menurut mereka, Iwagakure tidak perlu menyumbangkan sesuatu yang tidak bisa mereka sumbangkan, jika memang mereka mengalami krisis ekonomi yang panjang. Malah Naruto berpikir, ia dapat membantu Iwagakure.

"Yang dikatakan Shikamaru-san benar," ucap Gaara. "Aku pikir juga begitu" tambah Mei Terumi. Tsuchikage pun menyetujui hal tersebut. "Mengenai bantuan, berdasarkan kemampuan dari desa masing-masing dan selebihnya kita utus orang-orang terpercaya untuk berangkat ke sana, dan sekarang kita bahas pokok permasalahan kedua."

Semua Kage dan pengawalnya terhenyak, ruangan itu menjadi sunyi.

"AKATSUKI baru telah melakukan pergerakan."

"APAA!?"

"Mustahil..."

"Ini tidak mungkin, kan?"

Hutan.

Ledakan besar itu meluluhlantahkan daratan yang tertanam pohon-pohon besar di hutan itu, menjadikan sebuah kawah raksasa yang berdiamater kurang lebih 4 kilometer, dan hanya tanah coklat bercampur abu hitam yang ada dataran sana. Itachi berlindung di Susano'onya, Kisame berlindung di jutsu air, Nagato bersembunyi di balik hewan Kuchiyose, Hashirama berada di perlindungan akar-akar tunjang yang terlihat sangat kuat dan kokoh. Dan Ashura masih berdiri dan tak bergeser sedikit pun.

"Hah? Hah? Hah?"

"Rinnengan kah? Mata yang seharusnya sudah kubangkitkan, tapi kenapa aku tidak bisa menggunakannya sekarang." Gumam Madara kesal. Sasuke berusaha mengatur napasnya berulang kali, sedangkan Itachi terlihat bersiap menyerang Madara secara diam-diam. Susano'o mereka berdua telah menghilang akibat benturan hebat tadi, dan Itachi memanfaatkan itu untuk membelah Madara menjadi dua, menggunakan pedang keramat Susano'o.

SRRRRNGGG!

Seretan pedang itu melesat lurus ke tempat Madara berdiri, Madara dengan sigap menghindar ke atas sambil mengeluarkan jutsu elemen api, yang menyebar seperti peluru-peluru. Namun ukurannya sangat besar, sehingga akan sulit untuk menghindari serangan itu. Itachi melepas Susano'onya dan kembali ke mode asal.

"Jika begitu, aku juga akan melakukannya... Jurus api: teknik bola api!" bola-bola api juga bersahutan dari mulut Itachi, api-api itu bertabrakan satu sama lain, lalu. Sasuke sudah berada di belakang Madara dan menendang punggungnya ke bawah, Madara jatuh menghujam tanah. Tanah berhamburan akibat tubuhnya yang tertendang kuat. "Sialan kau!"

Serangan Sasuke tidak berhenti di situ saja, ia mencoba mengeluarkan Susano'o dengan panah amatersu. Anak panah berselimut amaterasu telah ia tembakkan dan menghujam tubuh Madara, Api amaterasu tersebar ke mana-mana, di sekitar tempat tersungkurnya Madara, terbakarlah api-api hitam yang melingkar menutupi seluruh sudut, agar Madara tak bisa melarikan diri.

Sasuke memegangi mata kirinya, Itachi yang melihat itu seolah tidak percaya bahwa adiknya telah berhasil. "Semua ini melalui proses yang panjang." Hashirama dan Ashura cukup terkejut dengan kekalahan Madara, namun mereka masih fokus dengan lawannya masing-masing.

"Madara kalah? Tidak mungkin? Ini terlalu cepat." Ujar Hashirama, "Hmm, dia terlalu meremehkan kekuatan Itachi-san." Balas Kisame membela. "Madara kalah kah?" Ashura masih berdiri santai sambil mengamati mata Rinnengan Nagato. "Hmm, Rinnengan yang bagus. Aku tidak tahu kau mendapatkan mata itu darimana, tapi kekuatanmu, tidak akan bisa membuat luka di tubuhku."

"Hmm, jangan meremehkanku. Seperti Uchiha Madara yang kalah karena terlalu meremehkan Kombinasi kakak-adik Uchiha, Itachi dan Sasuke." Bungkam Nagato, perihal kekalahan Madara.

"Kalah? Aku pikir tidak..."

"Apa maksudmu?"

"Lihat itu..."

Tiba-tiba saja semuanya dikejutkan oleh kebangkitan Madara yang berhasil membangkitkan mata Rinnengan dan menyerap api amaterasu. "Terlalu dini untuk merayakan kemenangan kalian, aku pikir kalian harus belajar jutsu lebih banyak lagi untuk mengalahkanku. Madara baru akhirnya telah terlahir, dengan mata ini. Aku pasti akan lebih kuat." Sasuke dan Itachi masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat tapi ini kenyataan, dan mereka berdua tidak bisa membantahnya.

"Sial!"

"..."

"Tidak mungkin," ujar Nagato tak percaya, demikian dengan Kisame. Sedangkan Deidara masih tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Ashura masih melihat mata Rinnengan Nagato, Nagato juga menatap mata biru langit Ashura "Matamu mirip dengannya.."

"Siapa?"

"Uzumaki Naruto, orang yang akan menyelamatkan dunia ini dari ancaman AKATSUKI."

"Hmmm, aku ingin bertemu dengannya, namun sebelum itu aku akan memberimu pelajaran sedikit, bocah bermata Rinnengan...akan kuperlihatkan sebagian kekuatanku." Kata Ashura sambil tersenyum bersemangat.

"Senyuman itu? Mirip dengannya?"

Akhirnya orang itu akan menunjukkan kekuatannya!

To be continue

Chapter 34 END!

N/A: Pada chapter ini, hanya berisi pertarungan antara pasukan elite konoha melawan 3 orang anggota AKATSUKI yang masih belum menunjukkan kekuatan penuhnya... penasaran dengan kelanjutannya? Terus ikuti PW2, dan review JGN LUPA ya!

Dan di tengah-tengah chap nanti, kita akan kluar dari alur cerita sejenak, untuk membahas pernikahan Naruto, Pernikahan Sasuke dan Karin, serta hal-hal lainnya yang belum diceritakan di POW sebelumnya, baiklah sampai di sini dulu, review lebih banyak akan semakin cepat updatenya.. xD

See you again!