Tittle : Pocky Boy
Cast : HunHan and other
Author : Xandeer
Rate : T
Disclaimer : I own this story, I own this plot, sisanya pinjem/?
.
.
.
.
.
.
.
If you just plagiator, Just Leave As Soon As Posible
.
.
.
.
.
.
.
.
.
…
Sebelumnya...
"Oh mereka manis sekali" Puji Kyungsoo setelah melihat Sehun dan Luhan tidur berdampingan. Luhan tidur menyamping sedangkan Sehun terlentang, dada Sehun dijadikan bantal untuk kepala Luhan, dan tangannya melingkari perut pemuda itu. Sehun sendiri menaruh tangannya di atas tangan Luhan sedangkan tangan lainnya memeluk punggung Luhan.
"Aku setuju soal itu" Ujar Jongin. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengubahnya ke mode kamera lalu mengambil beberapa gambar HunHan yang sedang tidur berdua dari beberapa angle.
"Akan kupakai untuk blackmailing Sehun nanti" Jongin tersenyum evil. Kyungsoo terkekeh. "Kurasa kau harus mengirimkannya juga padaku" Ujar Kyungsoo. Jongin dengan senang hati mengirimkannya pada Kyungsoo.
"Kita tinggalkan mereka sekarang, biarkan mereka menikmati momen mereka" Saran Kyungsoo. Jongin mengangguk setuju.
"Mau kuantar pulang sekarang ?" Tawar Jongin lagi.
Kyungsoo tersenyum "Tentu"
-POCKY BOY 13-
Sehun terbangun, ia mendudukan dirinya di kasur lalu menyisir rambutnya perlahan. Mata sipitnya mengerjap beberapa kali kemudian ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, kakinya ia turunkan di samping kasur kemudian ia menguap.
"Ermhh~" Sehun menoleh ke blakang dimana seekor rusa (Read : Luhan) sedang menggeliat dalam tidurnya. Masih dalam mata tertutup, tangan mungilnya meraba sebelahnya, mencari keberadaan Sehun mungkin ?
Sehun masih memperhatikan bagaimana si rusa meraba kasur sebelahnya sebelum alisnya mengernyit karna tidak menemukan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Mata lentik itu terbuka perlahan, pemiliknya mengusapnya perlahan. Masih dengan mata mengantuk, ia menatap tubuh didepannya. Dari punggung lalu naik ke leher yang dihiasi titik hitam (bagian favoritnya) lalu rahang tajamnya lalu bibir sexy yang ingin ia kecup, hidung bangirnya dan akhirnya matanya bertemu dengan mata elang pujaannya.
Dan mereka bertatapan.
Tak lama karna Sehun langsung memutus tatapan itu. Ia berdeham canggung dan bangun dari kasur. Kini Luhan yang memperhatikan bagaimana namja calon kekasihnya itu berjalan ke arah kamar mandi, handuk biru yang tadi ia ambil terlampir di bahu lebarnya. Di ambang pintu, lelaki albino itu menoleh ke blakang dan kembali bertemu tatap dengan Luhan. Mulutnya terbuka sedikit namun kemudian tertutup lagi, ia hanya berdeham sekali lagi lalu pintu kamar mandi itu tertutup.
Luhan menghela nafas, ia terduduk di kasur dan meregangkan tubuhnya. Ia melirik kamar mandi yang kini terdengar bunyi air yang mengucur. Luhan bangun, menatap dirinya di cermin lalu merapikan rambutnya sedikit sebelum keluar dari kamar Sehun. Ia berjalan menuju kulkas Sehun, mengambil beberapa apel, mencucinya sebelum memotongnya dengan pisau. Untung Kyungsoo sudah mengajarinya memotong apel walau hasilnya masih agak berantakan.
Pintu kamar terbuka dan pemuda albino itu muncul dengan seragam sekolah yang sudah rapih, mulutnya sudah mengemut pocky rasa green tea. Luhan menyambutnya dengan senyum. "Apel ?" Tawarnya. Lelaki itu mengangguk dan menghampiri Luhan. Ia mengambil sepotong apel dan mengunyahnya bersama dengan pockynya.
"Hyung bawa baju ?" Tanya Sehun setelah mulutnya telah kosong.
"OH ! Dia memanggilku hyung ?!" Batin Luhan, ia tersenyum dalam hati.
Luhan menggeleng sebagai jawaban. Ia melirik tubuhnya sendiri yang masih terbalut seragam sekolah yang kemarin, Sehun mengikuti pandangannya.
"Mandilah dulu, handuknya sudah kusiapkan, untuk seragam kau bisa memakai punyaku, ah...atau punya Jongin. Kurasa akan lebih baik punya Jongin karna tubuhnya lebih kecil dariku" Luhan menggeleng. "Punyamu saja, tak masalah jika kebesaran, aku bisa pinjam baju cadangan Baekhyun nanti" Sehun mengangguk mengerti.
"Bajunya ada di lemari paling kanan" Ujar Sehun. Luhan mengangguk sebelum berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi utama yang ada di kamar Sehun. Sebelum menutup pintu kamar, ia menolehkan kepalanya ke arah Sehun yang sedang memakan apel.
"Sehun" Panggilnya, si pemilik nama menoleh. "Tak apa kan jika hari ini aku cuti memasak ?" Tanyanya. Sehun tersenyum samar.
"Ya, tak masalah" Jawabnya. Luhan menghela nafas lega, masalahnya ia tidak mungkin memasak tanpa Kyungsoo, bisa – bisa dapur Sehun hancur seperti dapurnya.
Setelah Luhan menghilang dari pandangan, Sehun berjalan menuju dapur. Ia hendak memasak sesuatu sebelum menangkap sebuah foto polaroid dan sticky note terpasang di lemari dapurnya.
"Albino, ada sup untukmu dan Luhan di kulkas. DO hyung dan (sangat sedikit) aku yang membuatnya kemarin. Kau berhutang terima kasih padaku :P DO hyung bilang cepat sembuh"
Sehun tersenyum membaca note tersebut. Rasanya memang senang jika diperhatikan.
Ia mengambil foto polaroid yang menampilkan Jongin dan Kyungsoo sedang tersenyum, Jongin memegang kameranya sedangkan Kyungsoo memegang sendok sup, didekat mereka ada panci berisi sup yang terlihat menggiurkan.
Sehun mendengus "Cih, dasar pengambil kesempatan" Monolog Sehun. Ia membuka kulkas dan benar, disana sudah ada mangkuk besar yang berisi sup. Ia menaruhnya di microwave dan memencet beberapa tombol untuk memanaskan supnya. Sehun dapat melihat si mangkok berputar – putar di tempat.
"Kau sedang memasak ?" Seseorang bertanya. Sehun menoleh dan mendapati Luhan dengan seragam kebesaran, kedua tangan mungilnya memegangi celana yang jelas sekali melorot.
"Apa aku tampak konyol ?" Tanya Luhan melihat Sehun yang terus menatapnya (menatap pakaiannya).
"Ya" Sehun menjawab jujur. Luhan mendengus.
"Kau sedang apa ?" Tanya Luhan lagi. Ia mendekati Sehun yang sedang memperhatikan microwave.
"Memanaskan sup, Do hyung membuatnya kemarin" Ujar Sehun, memberikan foto polaroid Jongin-Kyungsoo berserta sticky notenya kepada Luhan.
"Oh, jadi mereka datang kesini kemarin" Guman Luhan.
Bunyi ting dari microwave menandakan sup yang Sehun panaskan sudah hangat. Sehun mengambil kain dan membuka microwave serta mengeluarkan sup tersebut dan menaruhnya di meja makan. Keduanya duduk dan makan dalam keheningan.
"Kau sudah sembuh ?" Luhan memulai pembicaraan.
"Masih agak pusing, tapi bukan masalah" Jawabnya. Ia menyeruput kuah sup dan mengguman 'mashita' dengan pelan.
Terima kasih hitam sudah membawa Kyungsoo kesini –Ucap Sehun dalam hati.
"Hey Hyung" Sehun memanggil Luhan. Luhan menoleh. "Terima kasih" Ucap Sehun kemudian. Luhan tersenyum.
"Ya sama - sama"
...
Setelah makan dan membersihkan meja serta piring kotor. Sehun serta Luhan bersiap – siap berangkat sekolah. Dipundak keduanya sudah terlampir tas masing – masing. Sehun sedang memilih kotak pocky mana yang akan ia santap pagi ini sedangkan Luhan sedang menonton kartun pagi yang sayang kalau dilewatkan.
Setelah dipikir matang – matang/?, Sehun memilih pocky rasa pisang dan memasukan sebatang pocky kedalam mulutnya. Ia mengambil kunci mobilnya lalu berjalan menuju pintu. Ia meraih knop pintu, membukanya sambil menoleh pada Luhan yang masih asyik menonton makhluk kuning berlubang dan temannya bintang lautnya yang bodoh.
"Hyung ayo berang-"
"Selamat pagi Lovebird !" Seseorang dengan wajah sumringah dan kulit gelap berdiri di depan Sehun dan memotong ucapan Sehun.
"-Kat...Apa itu Lovebird ?" Sehun menaikan satu alisnya.
"Kau dan Luhan. Lovebird" Ucap pemuda gelap itu, atau sebut saja Jongin. Sehun mendengus kemudian acuh, ia hendak memanggil Luhan lagi sebelum Jongin menyenggol lengannya.
"Taraa...Lihat ? Lovebird" Ujar Jongin lagi. Ia menunjukan foto dimana ia (Sehun) dan Luhan sedang berpelukan di tempat tidur.
"Shit !" Sehun mengumpat refleks. "Kemarikan pesek !" Jongin berusaha menghindar tapi Sehun lebih dulu berhasil menyambar foto tersebut.
"Ambil saja. Aku masih punya fotonya di ponselku, di laptopku, di flashdisk bahkan DO sunbae juga menyimpannya" Jongin menyeringai evil.
"Ya !"
"Apa yang kalian perdebatkan ?" Tanya Luhan, menghentikan aksi Sehun yang hendak membanting Jongin dan mengunci tubuhnya dengan kneelock judonya.
"Tidak ada sunbae. Hanya membicarakan Lovebird" Jongin terkikik. Sehun mendengus. Luhan heran.
"Memangnya ada apa dengan Lovebird ?" Luhan bertanya lagi. Jongin makin terkikik senang.
"Tidak ada apa – apa hyung. Ayo berangkat" Sehun berusaha menghentikan topik tidak penting ini.
"Ya, tidak ada apa – apa hyung. Hanya aku menemukan sepasang lovebird sedang tidur dengan mesra, aku memfotonya dan si penjantan tiba – tiba mengamuk, aku tau sih ia tidak marah hanya malu" Tapi si pesek Jongin tidak peduli penderitaannya, bahkan ia meniru Sehun memanggil Luhan dengan 'hyung' dan apa katanya tadi, ia malu ? Sehun malu ?
Bingo, itu benar sekali. Bisa tenggelamkan Jongin sekarang ?
"Ohhh..." Luhan oh-ing panjang. "Pejantannya lucu sekali. Bisa lihat fotonya ?" Luhan bertanya, tawa Jongin meledak. Sehun membuang pandangannya ke arah lain karna rona merah sedikit menjalar ke pipinya.
Jongin masih tertawa puas, ia merogoh ponselnya. Hendak mengerjai Sehun lebih jauh. Itung – itung balas dendam. Tentu saja, Sehun makin (malu) marah.
"Damn ! Aku pergi !" Ujar Sehun kesal dan berlalu cepat dari pandangan Jongin dan Luhan. Luhan terkejut.
"Hey Sehun ! Tunggu !" Panggil Luhan panik, ia langsung lupa dengan topik Lovebird yang sempat mereka diskusikan. "Aish kenapa ia tiba – tiba marah ?" Luhan mendengus kesal dan berjalan cepat mengejar Sehun yang sudah jauh di depan, Jongin berjalan disebelahnya, masih terkikik.
"Sehun badmood karna kau melupakan morning kissmu" Ujar Jongin membuat Luhan terkejut dan malu.
Stupid Jongin and his f*ckin brain
...
"Hi bro ! Masih ngambek ?" Tanya Jongin setelah mendudukan dirinya di sebelah Sehun. Ia merangkul sahabatnya yang tengah mengunyah pocky, tanda ia kesal.
"Diam kau" Sehun menjawab sinis. Ia melepas rangkulan Jongin dan membuang pandangan ke arah jendela.
"Hey hey sorry oke, tenang saja, semua rahasiamu aman denganku" Oke, Jongin bohong.
Luhan sudah tau rahasia masa lalu Sehun, karna siapa ? Karna Jongin.
Sehun mendengus. Ia memasukan pocky ke dalam mulutnya dan langsung mengunyahnya.
"Hey bino jangan marah lagi" Bujuk Jongin. Ia menyenggol lengan Sehun untuk mendapat perhatiannya.
"Bino" Jongin memanggil lagi.
"Cicak" Lagi.
"Komodo" dan lagi.
"Sehun ?" Suara familiar memanggil Sehun, kali ini jelas bukan Jongin karna suaranya lebih lembut dan enak didengar. Sehun menoleh kesumber suara dengan cepat. Ia menemukan Luhan mengintip dari balik pintu. Setelah ditemukannya Sehun, Luhan masuk ke dalam sendirian, tanpa Kyungsoo membuat Jongin mendesah kecewa.
"Hey, kalau Luhan yang memanggilmu langsung ditanggapi. Dasar Lovebird" Sehun menoleh pada Jongin cepat. Mengirimkan tatapan kematian untuk Jongin.
Luhan mengusir teman Sehun yang duduk di kursi depan Sehun seperti biasa, lalu duduk menghadap Sehun. Ia tampak bingung dengan situasi yang sedang terjadi namun kemudian ia acuhkan.
"Jongin bilang kau badmood" Ujar Luhan. Sehun menatap keluar jendela lagi lalu kembali mengunyah pocky.
"Bgitulah" Jawabnya acuh.
"Karna tak mendapat morning kiss ?" Tanya Luhan. Agak malu sebenarnya. Sehun dan Jongin terkejut.
"Apa ?" Reaksi Sehun.
"Jongin bilang bgitu" Sehun kembali mendeath glare Jongin. Jongin hanya pura – pura tidak tahu.
Belum sempat mencincang Jongin menjadi 20 bagian, dua telapak tangan hangat memegang pipinya dan membuatnya menoleh pada si rusa. Sehun bingung namun kemudian ia menyadari sesuatu "OH ! Jangan bilang kau perca-"
CUP~
.
.
.
OH SHIT !
"Wow" Itu suara Kim (hitam sialan) Jongin.
"Umm...Jangan badmood lagi okay" Ujar Luhan pada Sehun yang membatu. Luhan jadi khawatir.
"Ia hanya terlalu bahagia hyung" Ujar Jongin menghibur Luhan. Luhan membulatkan mulutnya dan mengeluarkan kata 'Oh' yang panjang.
"Ara, aku ke kelas dulu kalau begitu. Bye !" Ujar Luhan. Ia menepuk dagu Sehun beberapa kali dan pergi keluar.
"Pffft, Lovebird" Guman Jongin disertai kikikan kecil namun masih dapat ditangkap oleh Sehun.
"Damn ! Sekali lagi kau ucapkan kata itu, kau akan kuikat, kugantung di kamarku dan kujadikan samsak !"
"Kejam sekali, dasar Love-"
GREP ! Belum Jongin sempat menuntaskan ejekannya. Sehun telah lebih dulu menaruh lengan kanannya melintasi leher Jongin sedangkan tangan kirinya membantu agar lebih kencang mencekik korbannya, Headlock mematikan Jongin dapatkan.
Seharusnya Jongin tau jangan pernah main – main dengan si setan Sehun.
"UHKK ! YA ! AMPUN SEHUN !"
...
"Kalau suka kenapa tidak bilang sih ?" Jongin menatap malas pada Sehun yang tengah memperhatikan Luhan dari jauh. Mereka sedang dikantin btw.
"Siapa suka siapa ?" Sehun bertanya balik. Jongin mendengus.
"Ck, kau dan Luhan, siapa lagi, dasar lovebird hopeless" Jongin menjawab malas. Sehun mendeath glare Jongin. Ups ! Jongin lupa kata tabu yang baru dia ucapkan. Ia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya ke arah Sehun membentuk simbol damai.
Ia jelas tak ingin hampir mati lagi karna kuncian Sehun. Lehernya bahkan masih memerah dan nyeri karna kejadian mendekati pembunuhan tadi.
"Cih" Sehun menegakkan tubuhnya, mengemut pocky dan bersikap (sok) acuh. "Aku tak menyukainya" Kemudian mengelak.
"Haha lucu sekali" Jongin tertawa hambar. "Awas saja kalau kau sampai tergila – gila nanti" Sambungnya.
"Ck, urusi saja penguinmu itu"
"Penguin ?"
"Do sunbae"
"Ahhh..." Jongin menggaruk lehernya. "Kau tau, kemarin kami bertukar nomer" Jongin jadi curhat.
"Oh"
"Semalam sudah kuhubungi dia lewat sms, hanya basa basi tapi kurasa itu awal yang bagus kan ?"
"Hmm"
"Ah, aku jadi ingat kami sudah berencana untuk mencari buku baru sabtu ini"
"Begitu"
"YA ! Bisa tidak menjawabku dengan antusias sedikit saja ?" Jongin akhirnya sebal juga.
"Tidak" Sehun menjawab singkat. Jongin frustasi.
"Apa yang membuatmu begitu putih dan dingin ?" Tanya Jongin kesal.
"Nah, apa yang membuatmu begitu hitam dan mengganggu ?" Sehun membalas.
"Argh ! Dasar cicak !"
"Tak masalah, karna kau kotorannya" Sehun menjawab santai.
"Urghhh ! Untung kau sahabatku, kalau tidak, kubakar kau dengan sinar matahari sampai menjadi abu"
"Berhenti menonton film vampire tak bermutu" Sehun memberi nasihat.
"Aku akan berhenti kalau kau juga berhenti menonton peragaan busana Viktoria's Secret" Jongin menyeringai. Sehun mendengus. Ia memilih mengabaikan Jongin dan kembali uhuk...memperhatikan sunbae yang belum lama ini menyita perhatiannya.
Merasa diacuhkan, Jongin mengikuti arah pandang Sehun dan menemukan Luhan sedang tertawa dengan para ganknya disana. Jongin meringis melihat cara Luhan tertawa. Ia kira Luhan tertawa dengan cara yang anggun namun kenyataannya ia malah seperti kuda nil #authordigebukin. Jongin kembali memperhatikan sahabatnya yang masih menatap Luhan dan mendesah.
"Pfftt, sudah kuduga dia itu hopeless" Jongin bersuara sekecil mungkin. Dan beruntung Sehun tidak mendengarnya kali ini.
Sehun mengemut pockynya sambil memperhatikan Luhan, tangan kanannya yang menganggur memutar - mutar batangan pocky lain. Sehun tertegun memperhatikan bagaimana Luhan tertawa yang sedikit (banyak) OOC, bagaimana pipi tembamnya memunculkan dimple lucu setiap ia tertawa, matanya yang indah seperti rusa benar – benar tidak menunjukkan ia ketua gank sama sekali. Luhan lelaki tapi daripada manly, ia malah tampak manis sekali.
PRAK ! Tiba – tiba Sehun secara tak sengaja (atau sengaja) menggigit pocky dalam mulutnya hingga patah menjadi dua bagian begitu juga dengan pocky yang sempat ia mainkan di tangannya. Jongin jadi heran melihatnya.
"Ah ternyata pocky ini gampang sekali patah ya" Sehun berucap aneh bahkan ia tertawa hambar. Jongin makin bingung. Ia menatap objek penelitian Sehun (Read : Luhan) yang kini sedang menepuk – nepuk bahu Kris.
PRAK ! Pocky yang baru Sehun ambil terbelah lagi di tangannya. Jongin kembali menatap Luhan dan ternyata si rusa sedang merangkul Kris.
"Astaga ! Ternyata batangan pocky ini memang gampang patah" Ujar Sehun lagi, masih dengan tawa hambar yang sama. Jongin terperangah/?
"Wow wow wow. Jangan bilang kau cemburu ?" Tanya Jongin.
"Hah ? Yang benar saja" Sehun mengelak.
PRAK ! Satu pocky lagi hancur karna kini Kris mengusak rambut Luhan.
"Ck, dasar kau ini memang hopeless" Jongin menepuk – nepuk bahu Sehun prihatin.
...
Bel berbunyi nyaring, jam pulang sekolah telah datang. Sehun meregangkan tubuhnya yang kaku, ia membereskan bukunya lalu melampirkan tasnya di bahu. Sehun meninggalkan kelas begitu juga Jongin yang mengikuti di sebelahnya.
Di koridor sekolah, sudah tak aneh jika siswa atas maupun bawah bertemu. Begitu juga jika Sehun-Jongin bertemu dengan Luhan and the gank. Luhan tersenyum sumringah, sedangkan manusia disebelahnya tampak tak suka, siapa lagi kalau bukan Kris. Manusia setengah tiang dengan alis angry bird yang sama pirang seperti rambutnya. Seseorang yang mengancamnya tempo hari, seseorang yang membuat Sehun tiba – tiba kesal saat dikantin tadi, seseorang yang Sehun anggap saingannya.
.
.
Eh ?! Tunggu ! Apa ia baru bilang Kris saingannya ? Astaga sadar Sehun ! Kau tidak peduli pada Kris atau kisah Lovebird bodoh ini.
Terkutuklah Jongin dan kulit hitamnya yang sama sekali tidak eksotis.
.
.
"Hey Hun" Sapa Luhan. Ia menggaet lengan Sehun namun Sehun yang memang hopeless melepaskan tangan itu.
"Ish kau ini memang menyebalkan" Luhan menendang kaki Sehun pelan sebagai ungkapan kesal. Jongin tertawa melihat tingkah Luhan.
"Lu, jadi kan kita main basket sore ini ?" Kris mencoba menarik perhatian Luhan. Luhan menoleh "Tentu !" Jawabnya semangat. Raut wajah Sehun (sedikit) berubah, orang awam tak mungkin mengetahuinya tapi Jongin jelas menangkap perubahan ekspresi sahabatnya. Sebagai sahabat yang baik Jongin memberi sinyal – sinyal pada Luhan untuk mengajak Sehun. Kalau berhasil kan ia jadi bisa sekalian pdkt sama DO sunbae.
"Hun ah kau ingin ikut ?" Tanya Luhan setelah menangkap sinyal Jongin. Sehun terdiam cukup lama. Agak bimbang namun kemudian ia menggeleng dan pergi begitu saja. Luhan memberengut, Kris tersenyum senang, Jongin memijat pelipisnya pusing.
"Hopeless" Ujar Jongin sendu. Pupus sudah acara mari-pdkt-bersama-Kyungsoo-sunbae.
...
Luhan menyeruput bubble teanya dengan kesal. Jongin yang duduk di depannya hanya memperhatikan dengan tidak niat. Jongin heran juga sih, kenapa bisa ia terjebak diantara manusia kutub utara dan manusai setengah rusa yang sama – sama membuatnya pusing.
"Sahabatmu itu, bisa tidak beri ia emosi serta rasa peduli" Jongin menggidikan bahu.
"Susah" Jawab Jongin singkat. Luhan menghela nafas, ia menaruh kepalanya di meja dan membentur – benturkan perlahan.
"Apa yang harus kulakukan Jongin ? Apa aku harus menyerah saja ?" Tanyanya frustasi. Jongin ikut menghela nafas.
"Aku juga tidak tau hyung. Aku tau ia sudah punya rasa padamu tapi sepertinya ia ragu dengan dirinya sendiri. Kau tau kan dia itu hopeless" Jawab Jongin.
Keduanya terdiam, meratapi calon kekasih dan sahabat yang tidak tau harus diapakan/?. Jongin mengetuk jari – jarinya di meja, ia menatap Luhan yang masih menidurkan kepalanya di meja lama - lama kemudian mendapatkan ide.
"Aku mendapat ide, tapi tidak tau ini baik atau buruk" Luhan mengangkat kepalanya, tertarik.
"Bagaimana kalau kau berpura – pura berhenti mengejarnya ?"
"Ne ?" Luhan bingung.
"Kau terus mengejarnya tapi ia tidak peduli kan ?" Tanya Jongin. Luhan mengangguk lesu. "Bagaimana kalau kau berpura – pura berhenti mengejarnya dan saat itu kita bisa lihat reaksinya ?" Sambungnya.
"Ara, berapa lama aku harus menghindarinya ?" Tanya Luhan.
"Bagaimana kalau sebulan ?"
"Bukankah terlalu lama ?" Ujar Luhan lesu.
"Kalau begitu 2 minggu saja, kita mulai dari Senin depan" Jongin memotong masa karantina/? Sehun. Luhan mengangguk pasrah.
"Baiklah ! Jika ia peduli padamu pasti ia merasa kehilangan dan jika ia cuek sama sekali..." Ada jeda sebelum "Sudah saatnya kau move on" keluar dari mulut Jongin.
Luhan meneguk ludahnya kasar.
Semoga Sehun peduli padanya.
Semoga.
...
Hari Senin, sesuai rencana, Luhan menghindari Sehun. Awalnya DO bingung kenapa Luhan berhenti kursus memasak-untuk-calon-kekasih-tercinta dengannya, namun kemudian ia tak peduli karna hari – hari memasak bersama Luhan adalah kenangan menakutkan sendiri bagi dirinya. Kemudian Lay dan Xiumin ikutan bingung, ia menanyai Luhan tentang ini dan hanya dijawab dengan "Aku sedang bosan dengan Sehun". Yang terakhir adalah Kris, pemuda pirang itu juga bingung namun kemudian ia memilih untuk tidak peduli karna mungkin saja Luhan memang sudah bosan diacuhkan oleh Sehun. Bukankah kini saat yang tepat ia masuk lebih jauh ke dalam hidup Luhan ?
Nah, sayang sekali. Dalam mimpimu saja Kris.
Tidak menemui Sehun adalah hal yang amat sulit bagi Luhan. Kebiasaannya untuk mengusik pemuda itu harus ia pendam dalam – dalam. Wajahnya dibuat acuh senatural mungkin agar tidak ada yang curiga bahwa ia hanya berpura – pura. Dan sejauh ini berhasil.
Hal yang paling berat di hari pertamanya adalah ketika berpapasan dengan Sehun di koridor atau bertemu dengannya di kantin. Inginnya sih sentuh – sentuh Sehun tapi kemudian ia urungkan. Hahhh, semoga saja Sehun benar – benar menunjukkan sesuatu seperti kata Jongin, kalau tidak ia tidak tau harus move on dengan cara apa.
Disisi lain, Sehun dibuat bingung dengan tingkah Luhan yang tiba – tiba menghindarinya. Saat pagi tadi, sengaja atau tidak, ia menanti Luhan muncul dari balik pintu dengan tempat bekal berbentuk kepala rusanya. Bahkan sampai bel berbunyi, Sehun masih menatap pintu kelas dengan sedikit berharap, namun sampai guru masuk ke dalam kelas Luhan belum juga muncul yang membuat si albino secara refleks menghembuskan nafas. Jongin menyeringai diam – diam tentu saja.
Lalu saat di koridor, ia sempat berpapasan dengan Luhan namun si rusa hanya melewatinya tanpa kontak mata sama sekali. Sehun mengernyit heran, ia menatap Jongin yang kemudian dibalas dengan gidikan bahu.
Tak hanya disitu, di kantin pun ia di acuhkan sedemikian rupa oleh Luhan. Sehun mengecek ponselnya, barangkali Luhan mengiriminya pesan namun nihil, tidak ada pesan sama sekali. Sehun menghela nafas, ia berhenti memperhatikan Luhan sepanjang hari itu dan memilih fokus pada kekasih pertamanya.
.
.
.
Hari kedua, menjadi lebih berat untuk Luhan. Ia mencoba sebisa mungkin untuk menghindari Sehun. Kris mengalihkan perhatiannya setiap Sehun lewat dengan bermacam – macam cara, mengajaknya ngobrol, membicarakan basket atau sepak bola, atau membicarakan klub rusa sedunia dan hal – hal lainnya. Setidaknya pengalihan dari Kris sedikit membantu, Luhan akan berterima kasih padanya nanti.
Setelah lelah dengan ritual mari-jauhi-Sehun di sekolah, Luhan pulang dalam keadaan lesu. Ia akan membanting dirinya di kasur dan mencurahkan isi hatinya pada Laogao yang sudah kembali ke Beijing dan sahabatnya itu hanya menanggapi dengan tertawa.
Lain lagi dengan Sehun, ia tidak menunjukkan wajah kehilangan namun hatinya jelas kehilangan Luhan. Padahal baru 2 hari namun rasanya sudah lama ia tidak berbicara dengan Luhan. "Ada apa dengan Luhan ?" Adalah pertanyaan yang disampaikan Sehun pada Jongin namun Jongin hanya menggidikan bahu (pura – pura) tak mengerti.
.
.
.
Hari – hari berikutnya makin menyiksa keduanya. Luhan bahkan sudah merengek pada Jongin untuk menghentikan hal gila ini namun Jongin terus meyakinkannya supaya ia bersabar, hanya menunggu seminggu lagi sebelum eksperimen menemukan kepedulian Sehun berakhir. Mau tak mau Luhan akhirnya pasrah dengan keadaan. Sehun diam – diam frustasi juga, segala frustasinya ia curahkan di MMA, makannya tak jarang Sehun datang ke sekolah dengan rahang yang membiru, hidung yang terluka, pelipis yang berdarah atau bibir yang robek. Kalau sudah begitu, Luhan meminta 100 boneka rusanya agar memberinya kekuatan untuk tidak menyentuh Sehun.
Satu minggu terlewati. Mencapai hari ke 10, semuanya menjadi sedikit mudah bagi Luhan. Ia mulai mendekatkan diri dengan teman seganknya untuk menghilangkan Sehun dari benaknya. Ia akan mengajak Kyungsoo untuk mengajarinya membuat kue, mengajak Xiumin untuk menemaninya mencari boneka rusa yang baru atau mengajak Kris untuk tanding basket dengannya. Menyibukan diri dengan temannya adalah cara terbaik agar ia tidak terus teringat Sehun, walau begitu, menghilangkan Sehun dari benak Luhan sepenuhnya adalah hal yang mustahil, jika sudah terbayang – bayang/? Wajah Sehun, Luhan memilih curhat dengan Laogao dan laki – laki brewok itu akan menceritakan hal –hal konyol yang membuat Luhan tertawa.
Sedangkan si albino lebih murung dari biasanya. Alih – alih menceritakan masalahnya (yang Jongin sudah tau), Sehun melepas stressnya dengan memukuli samsak tak bersalah atau lawannya di MMA, jika ia kalah, Sehun akan menjadi lelaki paling sensi yang pernah Jongin temui, disaat seperti itu Jongin harus membelikannya pizza atau menyetel video peragaan busana Victoria's Secret atau memanggil Boa untuk menemani Sehun ke kedai bubble tea. Dibalik penderitaan Sehun ada Jongin yang tertawa puas. Sejauh ini eksperimennya/? berhasil. Sehun peduli dengan Luhan yang artinya Luhan memiliki kesempatan kalau saja Sehun ini berani menyatakan perasaannya, tapi setiap Jongin mendesaknya untuk menyatakan perasaannya pada Luhan, Sehun dengan muka temboknya akan berkata "Aku tidak menyukainya"
.
.
.
Hari ke 12, Sehun menghabiskan 24 box pocky untuk meredam stressnya. Dibalik wajah temboknya, ia sedih. Hatinya sakit karna seperti ada sesuatu yang direnggut darinya. Rasa perhatian Luhan, rasa sayang dan kepeduliannya pada Sehun hilang begitu saja. Rasa kehilangannya semakin mendekati saat ia kehilangan noonanya. Sehun menggeram hampir memukul meja namun kemudian ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas berkali – kali.
Sehun menatap pintu kelasnya. Berdoa dalam hati agar Luhan segera muncul, bahkan walau Luhan hanya membawa roti gosong dengan telur yang ketumpahan garam pun Sehun akan senang dan rela memakannya. Namun tidak ada tanda Luhan akan muncul maupun mendekatinya lagi, yang Sehun temui ketika berpapasan dengan Luhan hanyalah sunbaenya yang sedang tertawa dengan Kris. Hati Sehun memanas setiap melihat mereka berduaan dan begitu intim, apalagi ditambah tatapan kemenangan yang Kris berikan setiap harinya, membuatnya muak dan hampir meninju wajah lelaki bule itu. Sehun merasa kalah dengan Kris bahkan sebelum mereka sempat bertanding.
"Sebenarnya ada apa dengan Luhan, Jongin ?" Tanya si albino ketika keduanya sampai di kantin. Sesekali melirik ke arah bangku Luhan dan menghela nafas ketika si pemuda rusa tidak menatapnya sama sekali. Jongin memperhatikan wajah lelah Sehun, ia kasihan juga namun tak apalah, Sehun memang harus diberi pelajaran karna mengacuhkan Luhan selama ini.
"Hmmm, mungkin ia bosan denganmu" Adalah kata paling menyakitkan yang Jongin pernah ucapkan padanya. Sehun menghela nafas lagi. Ia bangun dan pergi dari kantin, tak ingin lebih lama melihat si rusa yang malah asyik dengan teman ganknya.
"Kenapa tidak langsung katakan pada Luhan bahwa kau merindukannya ?" Tanya Jongin heran.
"Aku tidak merindukan siapa pun" Dan Sehun selalu membantahnya. Alasannya satu, ia gengsi.
.
.
.
Hari ke 13, berhubung hari Sabtu, Sehun melajukan motornya ke Incheon seperti biasa. 50 menit perjalanan, ia sampai pada tujuannya. Dengan sebuket bunga yang masih segar Sehun memasuki kawasan kuburan itu. Ia menelusuri jalan setapak dan sampailah ia pada salah satu gundukan tanah dengan batu bertuliskan 'Kwon Su Jeong' noona tercintanya. Ia menaruh bunga di atas gundukan tanah peristirahatan noonanya kemudian duduk tak jauh di depannya dan merenung.
"Aku harap noona disisiku sekarang" Sehun memulai pembicaraan satu arah dengan noonanya.
"Rasanya menyakitkan dan aku tidak tau apa yang harus aku lakukan" Sehun mengerang frustasi.
"Aku..." Sehun menghela nafas "Merindukannya. Merindukan Luhan". Lelaki albino itu berbaring di rerumputan yang empuk, memejamkan mata dan menikmati semilir angin yang membelai lembut rambutnya. Mungkin noonanya yang di surga sedang mencoba menghiburnya.
...
2 minggu telah berlalu, itu artinya Luhan dapat bertemu dengan Sehun lagi. Ia tersenyum sumringah dari sejak ia keluar dari kamar dan duduk di ruang makan. Sepupunya yang baru datang dari Beijing 2 hari lalu menatapnya heran.
"Tumben kau tersenyum begitu, 2 hari yang lalu kau tampak seperti ingin mati" Ejek sepupunya. Luhan mendengus.
"Ish, berisik" Luhan menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan ceria seperti anak kecil dan ia masih keukeuh bahwa ia lelaki paling manly di dunia.
"Sudah baikan dengan calon kekasihmu itu ya ?" Sepupu Luhan mencoba menebak. Luhan mengangguk sebagai jawaban.
"Baguslah, aku jadi tidak perlu mendengar ocehanmu tentang si Sehun dan segala kesempurnaannya, pffttt"
"Kalau kau melihatnya juga nanti kau terpesona"
"Aku ? Maaf saja ya, aku ini sudah punya pacar. Tidak sepertimu yang jomblo dan tidak laku" Sepupunya membanggakan diri disertai ejekan untuk Luhan dan si rusa hanya bisa mendengus sebal.
.
.
.
Luhan berjalan dengan semangat sepanjang koridor, teman seganknya lagi – lagi dibuat heran. Ketika bertemu dengan sosok albino berwajah tembok yang ia cari – cari, Luhan ingin segera menyentuh dagu runcing itu, tapi kemudian ia mendapat sinyal dari Jongin untuk menghentikan niatnya.
Luhan murung, ia terpaksa berbalik dan menjauhi Sehun.
"Eh ? Kau ingin kemana ? Kelas kita kan disana ?" Tanya Lay heran.
"Aku mau bolos saja hari ini" Jawab Luhan lesu dan memilih mendekam di base camp EXO sepanjang hari.
.
.
.
Pulang sekolah, Sehun meminta Jongin menemaninya membeli bubble tea. Hatinya masih sakit saat tadi pagi, dengan sengaja Luhan memutar arahnya setelah melihat Sehun. Sehun duduk paling pojok, menyeruput bubble teanya setiap kunyahan bubble dalam mulutnya berhasil ia telan.
Ketika ia melihat sosok familiar lewat dan membeli ddeobokki tak jauh dari kedai tersebut, mata Sehun yang sipit semakin menyipit, nyaris hilang. Ia memperhatikan wajah tak asing itu lama – lama kemudian menyenggol lengan Jongin.
"Ne ?" Tanya Jongin.
"Bukankah itu Luhan ?" Sehun menunjuk seseorang di belakang Jongin. Jongin menoleh namun tak mendapati Luhan dimanapun.
"Mana ?" Tanyanya lagi.
"Itu, baju merah" Sehun menunjuk seseorang yang sedang membeli ddeobokki di stand sebrang. Jongin pikir sosok baju merah ini benar – benar Luhan, namun kenyataannya yang Sehun tunjuk adalah perempuan dengan body sexy.
"Kau berhalusinasi ya ?" Jongin bertanya heran. Sehun mendengus.
"Lihat dulu wajahnya, mirip sekali" Ujar Sehun. Jongin mengikuti saran Sehun. Ia menatap wajah gadis berbaju merah dan memperhatikan fitur – fitur wajahnya dan The Hell ! Memang wajahnya mirip sunbae rusa mereka.
"Luhan transgender ?" Tanya Jongin asal. Sehun memukul kepala sahabatnya yang suka tak masuk akal itu.
"Mungkin kembarannya" Sehun menggidikan bahu pada Jongin yang sedang mengusap kepalanya.
"Dasar idiot, Luhan itu anak satu - satunya" Ujar Jongin. "Ayo ikuti dia" Sambung si hitam.
"Kau gila ? Untuk apa ?" Sehun menolak tentu saja.
"Luhan sedang menyamar jadi cewe, kau tidak tertarik dengan alasannya ? Mungkin saja kan ia sedang ingin menemui orang yang spesial ?" Jongin mengompori Sehun. Sehun agaknya termakan omongan Jongin.
"Baiklah, tapi jangan macam - macam" Ujar Sehun. Jongin memberikan jempolnya pada Sehun.
...
Perempuan itu berjalan menyusuri jalanan Seoul, sesekali berhenti di sebuah toko baju lalu masuk ke dalam sana. Perempuan kan kalau sudah masuk ke dalam toko baju pasti lama, Sehun sampai bosan menunggunya.
"Ayo hentikan saja, kakiku pegal" Sehun mengeluh.
"Sabar, aku ingin tau sedang apa dia sampai harus menyamar segala"
"Jongin, aku rasa itu bukan Luhan, ayo pulang" Sehun ingin menyeret Jongin menjauh dari toko tersebut namun malah Jongin yang menyeretnya kembali untuk mengikuti si Luhan versi cewe yang sudah keluar dari toko.
Kini gadis itu tengah masuk ke dalam toko kue, ia melihat – lihat kue beraneka warna yang terlihat menggiurkan. Setelah memilih satu kue red velvet dengan toping strawberry Handphonenya berbunyi dan gadis itu merogoh tasnya untuk mengambil ponsel pintarnya. Setelah menggeser tombol hijau, didekatkannya ponsel itu ke arah telinganya.
"Hi sayang" Ucapnya pada lawan bicaranya. Jongin terkejut, Sehun hanya diam.
"Aku juga merindukanmu, aku sedang di toko kue" Ujar gadis itu lagi.
"Hmm, tentu saja, red velvel toping strawberry sesuai keinginanmu" Gadis itu tersenyum. Jongin menatap Sehun prihatin.
"Oh my, ia selingkuh di belakangmu" Jongin menyenggol – nyenggol lengan Sehun. Sehun hanya bersikap acuh.
Setelah membayar, si gadis itu keluar dengan plastik berisi box kue pesanannya. Sehun dan Jongin masih mengikutinya sampai ke jalanan yang agak sepi namun kemudian gadis itu berhenti dan berbalik. Menatap garang duet catur yang menampakkan wajah terkejut.
"Kenapa kalian mengikutiku terus ? Kalian berdua orang mesum ya ?" Tanya si gadis. Jongin menggaruk tengkuknya kemudian tertawa kecil.
"Kami tau rahasiamu Luhan sunbae" Ujar Jongin. Gadis itu mengernyit.
"Luhan ?"
"Ya, kau, Luhan" Ujar Jongin, menunjuk gadis di depannya.
"Dengar ya tuan kulit gelap, aku bukan Luhan, aku Jimin"
"Apa itu nama samaranmu saat menjadi perempuan, sunbae ?" Tanya Jongin.
"Enak saja, aku ini bukan Luhan !" Elaknya.
"Ayo pulang Jongin" Sehun berusaha membujuk Jongin namun dasar si bodoh Jongin, ia tidak menuruti Sehun dan malah mendekat pada gadis mirip Luhan yang kini berkuda – kuda mempertahankan diri.
"Ini sumpalan kan ?" Jongin menyentuh payudara gadis didepannya. Gadis itu terkejut, Sehun membatu.
"Eh ? Kenapa terasa asli ?" Jongin heran, ia menatap gadis di depannya yang sudah mengeluarkan aura hitam. Uh Oh ! Sehun sepertinya benar, gadis ini bukan Luhan.
Kemudian hening.
.
.
.
.
.
"KYAAAAA ! ORANG MESUMMMMM !"
PLAKKKK !
Satu tamparan keras untuk Jongin (bahkan sampai berbekas) kemudian keduanya kabur cepat – cepat sebelum orang – orang berkumpul dan memukuli mereka.
...
"Aku menyentuh dada wanita Sehun, aku menyentuhnya. Aku ternoda" Ujar Jongin, berpura – pura menangis, sungguh dramatis. Sehun mendengus kasar.
"Salahmu sendiri" Ujar Sehun acuh. Ia duduk di kasurnya dan memikirkan sesuatu.
Jongin masih menatap tangannya dengan pandangan bersalah, seperti ia baru saja melakukan perbuatan dosa yang besar, namun sepertinya itu benar.
"Kau tau dimana rumah Luhan hyung ?" Tanya Sehun. Jongin mengusap air mata imajinernya sebelum menatap Sehun. Duh, Sehun jadi ingin muntah.
"Tentu saja, memangnya kenapa ?" Tanya Jongin penasaran, duduk sebelah Sehun yang sedang merenung.
"Aku rasa aku ingin menemuinya" Ujar Sehun, pelan namun sangat jelas. Jongin tersenyum, ia meninju lengan Sehun pelan.
"Nah, itu baru cowo gentle"
.
.
.
Perjalanan ke rumah Luhan hanya memakan waktu 15 menit, keduanya menaiki mobil merah Sehun. Ketika mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Luhan, bodyguard rumah Luhan menghampiri mereka sehingga Sehun harus menurunkan kaca jendela mobilnya.
Sehun ingin menjawab namun Jongin telah lebih dulu menyela dengan "Aku Jongin teman Luhan dan pria albino ini calon kekasihnya" Sehun mendengus kasar sedangkan si satpam hanya berdeham canggung. Gerbang itu terbuka ketika si satpam sudah konfirmasi dengan tuan mudanya.
Mobil Sehun masuk, parkir di parkiran luas rumah Luhan dan mereka keluar dari mobil setelahnya. Jongin memimpin di depan, Sehun mengikuti dari belakang setelah mengambil plastik hitam berisi barang yang ingin ia berikan pada Luhan.
Jongin mengetuk pintu beberapa kali dan seorang pelayan membukanya. Mereka dipersilahkan duduk di sofa panjang sedangkan si pelayan memanggil tuannya. Tak lama suara langkah kaki terdengar dari atas, tak hanya satu namun dua, disertai obrolan yang sepertinya seru.
"Dua orang mesum itu benar – benar mengikutiku ! Si putih hanya menatapku dengan muka temboknya tapi itu menakutkan !" Ujar seseorang dari mereka, kalau dari suaranya seperti suara perempuan. Jongin mencuri dengar obrolan mereka dan ia merasa familiar dengan cerita ini.
"Dan Si hitam menyentuh dadaku Lu ! Dia menodaiku ! Kalau ketemu lagi akan kucincang kemaluannya !"
GLEK ! Jongin menelan ludahnya refleks. Untuk mengkonfirmasi, ia menoleh pada sumber suara dan menemukan gadis yang telah ia nodai dengan tangannya.
"F*CK ! / ASTAGA ! DIA ORANGNYA LU !" Jongin dan gadis korban pelecehan Jongin berucap bersamaan. Jongin buru – buru menarik Sehun hingga berdiri lalu sembunyi di belakang punggung pria albino itu.
"OH SI MUKA TEMBOK ! LIHAT KAN LU ? IA MENYERAMKAN !" Si gadis memekik kaget melihat Sehun. Namun kemudian ia menatap garang kembali pada Jongin.
"JANGAN SEMBUNYI TUAN MESUM ! KEMARI KAU ! AKAN KUCINCANG TELUR DAN SUSISMU ITU !" Ujar si gadis menggebu – gebu.
Sehun dan Luhan speechless. Mereka bertatapan dan hanya terdiam canggung, sedangkan Jongin sudah ngibrit sambil dikerjar gadis yang sudah mengeluarkan tanduk setannya.
"Emm, Hi hyung" Sehun menyapa canggung.
"Emm, hi juga" Luhan membalas tak kalah canggung.
"Aku..." merindukanmu. Kenapa kau menjauhiku ? "Membawa gantungan rusa pengganti gantunganmu yang sempat aku rusak" Ujar Sehun, ia mengeluarkan sebuah gantungan rusa yang sangat cantik dari plastik hitam yang ia bawa dan menaruhnya di tangan Luhan.
"Aku tidak tau apakah itu sama tapi semoga kau suka" Ujar Sehun. Luhan terperangah, ia menatap gantungan rusa itu dengan pandangan kagum. Memang tidak sama namun lebih indah yang Sehun belikan untuknya.
"Tidak masalah, ini bagus. Terima kasih" Ujar Luhan. Tersenyum pada Sehun yang tampak kaku.
"Syukurlah" Sehun menghela nafas lega.
Hening...
Sehun menggaruk tengkuknya. "Hyung...Apa kau...Apa kau marah padaku ?" Tanyanya. Luhan menatapnya heran kemudian menggeleng. Sehun tersenyum samar melihatnya.
"Kukira kau menjauhiku karna marah" Ujar Sehun lagi.
Oh ? Apakah Sehun peduli padanya ?!
"Aku tidak marah, hanya memberimu privasi setelah selama ini aku mengusik hidupmu"
"Oh begitu"
"Kenapa sampai repot – repot datang kesini ?" Tanya Luhan.
"Aku...Emm, di sekolah kau selalu menjauhiku jadi aku berinisiatif kesini. Apa aku mengganggu ?" Tanya Sehun. Luhan menggeleng.
"Aku senang kau datang" Luhan mendekati Sehun dan menepuk – nepuk dagu si albino hingga ia terenyum.
"Pfft, Lovebird" Jongin menginterupsi. Luhan terkejut, Sehun membuang wajahnya dan bersemu. Luhan mendapati wajah Jongin yang memerah karna jurus tapak budha/? Sepupunya, ia mengusap pipinya dan meringis perih sedangkan di sebelahnya ada sepupunya yang melipat tangan di dada dan memasang wajah kesal.
"Lu, jangan bilang si albino itu calon kekasihmu yang kau ceritakan padaku ?" Luhan mengangguk. Sehun semakin malu.
"Lu, dari sekian banyak lelaki gay di dunia, kau memilih muka tembok itu ?" Sepupunya mengucapkan dengan sinis. Sehun mendengus.
"Ish, kau dan mulut lebarmu itu" Luhan membalas tak suka.
"Jongin ayo pulang" Sehun menginterupsi sebelum ia membuat manusia kembar itu semakin bertengkar.
"Eh ? Sudah mau pulang ?" Tanya Luhan sedih. Sehun hanya mengangguk. Ia hampir keluar dari pintu utama sebelum ia berbalik menatap Luhan.
"Hyung bisa aku minta sesuatu padamu ?" Tanya Sehun. Luhan terlihat penasaran kemudian mengangguk.
"Bisa menungguku datang ke kelasmu besok ?" Tanya Sehun lagi.
"Eh ?" Luhan bingung namun Sehun tak menjelaskan lebih lanjut sehingga Luhan hanya menjawab dengan "Okey".
Sehun tersenyum sebelum duet catur itu menghilang untuk pulang.
...
Besoknya Luhan benar – benar duduk manis di bangkunya, menunggu Sehun muncul dari balik pintu. Kris menatapnya heran.
"Sedang apa ?" Tanyanya penasaran. "Menunggu seseorang" Jawab Luhan.
Dan tak lama, lelaki yang ditunggu masuk ke dalam kelas Luhan. Ia tampak canggung, menatap sekelilingnya mencari Luhan. Wajah pertama yang ia lihat adalah wajah Kris yang tidak suka dengan kehadirannya namun kemudian ia mengalihkan tatapannya pada lelaki di depan Kris yang tersenyum manis padanya.
Sehun menghampiri Luhan, ia duduk di depan Luhan yang kebetulan kosong kemudian menaruh kotak bekal berbentuk box pocky di atas meja Luhan. Luhan terkejut, ia mengambil kotak itu dan membukanya. Ada beberapa egg salad sandwich menggiurkan disana, Luhan segera mengambil salah satu dan memakannya dengan senyum manisnya.
"Mashita. Kau membuatkannya untukku ?" Mata Luhan berbinar – binar.
"Hmm, sesekali biar aku yang membuatkan bekal untukmu" Ujar Sehun malu - malu.
"Terima kasih !"
CUP~
Luhan mengucap bibir Sehun sekilas. Sehun lagi – lagi membatu.
"A-aku..." Sehun berubah gugup. Luhan tertawa melihatnya. Ia mengelus bibir Sehun yang terdapat bercak mayonaise karna ulahnya dan kemudian menepuk dagu Sehun.
"Uhh...Selamat tinggal hyung" Ujar Sehun. Ia berjalan cepat keluar kelas sedangkan Luhan tersenyum manis.
.
.
.
TBC
Bukannya ngerjain tugas malah update. Dear dosen maafkan mahasiswamu yang tampan ini #plak
Gw update setelah (kayanya) 2 bulan ngilang dari peredaran. Dan yeah ini 6000+ Word loh bebs/?. Karna kemarin pada sebel karna ffnya pendek kaya 'anu' Luhan/?, sekarang gw update yang panjang kaya 'anu' Sehun/?...Bosen engga bacanya ? Lagi tertekan sama tugas jadi nulisnya berasa gimana gitu/?
Sehun dijauhin Luhan = check. Sehun cemburu = check. Jimin Ace of Angel minta dimunculin = check. Minta kata asing dimiringin = check. Hunhan moment = check. Kaisoo moment = belum ada ide. Update cepet = mustahil
Eh iya, kemarin pada bilang Q n Anya terlalu panjang. Sebenernya panjang pendeknya itu tergantung seberapa banyak yang nanya sih. Trus ada beberapa yang bilang untuk ngilangin part ini karna (kayanya) mengganggu cerita. Gw fine – fine aja sih walau bakal gatel untuk bales komen kalian. Toh itu juga dibuat biar gw brasa deket sama reader #sokiyabangetyagw.
Tapi, gw ga mungkin bales reviewnya satu – satu lewat pm karna gw mengidap penyakit berbahaya yang disebut males. Karna itu gw jawabnya sekalian dibawah dalam Q n A, sebenernya biar ga da lagi pertanyaan yang diulang – ulang juga. Tapi terserah dah gimana, mo diapus ato pertahanin nih ?
Sekian~
.
.
~#A n Q and Few Of Review Reply#~
Q : Luhan kenapa kehilangan sikap manly disini?
A : Luhan khilaf/?
Q : Kapan mereka fix jadian? ayolah kak bikin hunhan jadian~ | Trus luhan dan sehun kpn jadiannya... Jgn lama2 yakkk | Hunhan kapan jadian?
A : Setelah gw lulus mereka jadian
Q : oy sehun nnt baikan dgn appax?
A: Ini masih rahasia beb. Mungkin mereka malah duel rap/?
Q : trus khidupan luhan d luar skolah gmna?
A: Ga gmana - gmana :D/?
Q : centil butuh asupan kaisoo, jadi you know lah. *kedip''*
A : Kamu siapa ? #mukapolos #plak
Q : Oh iya.. Kakak bikin si Tao cinta ama Kris gaa?.-. Adain ChanBaek dund :3
A : Gak ah/?
Q : kris akhirnya sama siapa? plis thor,jangan bikin dia jadi pho
A : Sama kalian bebs/? Dilelang sok/?
Q : Beb, konfliknya mana nih? Nungguin konflik yang berat nih :3 /mukapolos/
A : Konflik berat kaya gmana ? :3 Sehun kecelakaan, lupa ingatan ?
Q : Trus member laen pda kemana kak...? Ngilang gtu aja jangan jangan...
A : member lain lagi sibuk kombek/?
Q : Beb? Masih idup ya, beb? Akhirnya :'D
A: Masih kok. Masih seterong, dah minum suplemen baygon rasa green tea tadi (y)
Q : KENAPA JARANG UPDATEEE?!
A : Sibuk ;o;
Q : kemana aja thor kok baru update?
A : Dikarantina sama dosen
Q : ntar next chapternya lama lagi gk updatenya?
A : Pasti
Q : btw, 95 nya bulan berapa ? | bro, line 95 bulan apa? kalo tuaan elu, jadian yok.
A : Mei :o | Lebih tua siapa kah ?
Q : eh udah skripsian belum?
A : Lum skripsi tapi udah mau sidang. Makannya gw lg eneg2nya sama kuliah
Q : jadi kamu baru ngeh aku ngomen dek? pantesan aja sehun baru nyadar persaannya ke luhan kamu aja baru nyadar ada aku disini(?v
A : Iyeh, maklum ya nun/?. Kalo baca review sk ga baca unamenya jadi bgitulah. Gw sama Sehun agak mirip karna pada dasarnya kita sepupu #plak
Q : btw klo yg ini udh End bikin HunHan lagi ya tp yg fluff gitue okeeee
A : Abis pocky slese, gw udh rencana mo post ff baru 'Shixun si kemplud/?' (judul samaran/?)
Q : Thor coba bikin ff baru donk, castnya luhan tp sifatnya manly kek pocky boy trus genrenya luhan hareem wkwk
A : Ha ? Luhan di grepe2 banyak orang is not my style #plak
R : kalo ada adegan kiss aja kak jangan ada adegan ranjang aku masih polos yha wkwk
RR : Sama kok saya juga masih polos :3
R : bikin fansclub gih
RR : Jirr, Lightxandeer/? club xD
RR : pasti msh nge rp ini dirimu thor.. gaya bahasanya rp banget/? :v
RR : Mungkin kebiasaan, tapi soal RP gw udah out dari 2 - 3 tahun yang lalu :|
R : Cari diriku di dorm exo thor :v
RR : Gw kangen dorm EXO Dx
R : Ah rp sehun, biasanya kalo rp sehun itu songong2 gimana gitu ya, trus pasti mesum, dikit2 remes2
RR : Etdah, gw mah anak alim, baik hati dan masih polos/?. Plis, dikit2 remes ? Yang ada jg gw yang diremes2. Seme ternodai ;o; /?
R : loh lu kelahiran 95? Seumuran sama mantan kapel rp gua huwhuw /mendadak baper/
RR : Cie, terjebak nostalgia/?
R : NEXT dalam satu bulan ini nggak! HARUS! WAJIB! KALO ENGGA GUE BEGAL! :'v | ditunggu next chap~~~fast update please...hehe | FAST UPDATE PLISSSS JANGAN LAMA-LAMA UPDATENYAAA | BTW APDET FAST DONG SEMINGGU SEKALI MINIMAL *digampar bolak balik* | apdetnya jan lama2 ya kak aku lelah menunggu mu untuk apdet kembali(?) | CEPETTTT UPDATE! *DEMO* | fast up oke? Jangan bikin aku nunggu 2 bulan egen, apalagi kalo nambah sampe dua taon -_- | cepetin dong kak update nya | next chap ny fast up yeth..!| ceptan apdet pokoknya ga mau tau gue santet dosen lo nih | Aaa a kkhhhh/? Updatenya cepet der/? Gak sabar, gak tahanhhh/? *tabok* duhh makk... cepetlah Updatenya, Nti gua do'ain lightsaber lu makin panjang *apa ini* | pokonya harus fast update /? | arghhhhh...thor cepetan lanjutin
RR : Kita udahan aja ya. Kamu sukanya update langsung. Aku sukanya update lama ;O; Maafin aku/? Update memang satu, waktunya yang beda. Haruskah kita lantas pisah meski sama - sama suka epep #backsound
Done ! :D Thanks for review, fav, foll, saran, kritik dan protes'y ya :D Saya sangat menghargai siders yang bertobat -deep bow- Salam so I'm untouchable man/?
.
.
.
Akhir kata
.
.
.
So, Mind To Review ?
