[BTS]|| You Are Much Better Than Him||Chapter.5 [EnD]

Tittle : You Are Much Better Than Him

Author : Rae

Genre : Yaoi, BoyXBoy, Hurt, Sad Romance, and Others

Rated : T, G, K

Cast : HopeKook couple from BTS as main cast, slight : HopeV, JinV, and YoonMin. other BangTan's members

Length : Chaptered

Summary : "Apa sih lebihnya Taehyungie Hyung, Hyungie ? Apa yang Taehyungie hyung punya tetapi Jungkookie tidak punya ? Apa yang Tae Hyung bisa lakukan tetapi Jungie tidak bisa melakukannya, Hyungie ?" pertanyaan-pertanyaan itu berjubel di otak Jungkook. Pertanyaan yang sama setiap harinya. Pertanyaan tentang apa lebihnya seorang Kim Taehyung dari Jeon Jungkook.

Author's Note : Sebenarnya saya agak maksa bikin slight HopeV nya. Why ? Because I don't like HopeV. Apapun itu tentang HopeV, sekalipun hanya tulisan "HopeV" saya pasti akan nangis. Nulis partnya HopeV di ff ini pun saya betah-betahin :D. Demi terselenggaranya/? ff ini. Kkkk~ xD *author aneh*. Okay ,No bacot from author. Enjoy it and Review Please. ^^.

.

.TYPO(s). IT'S YAOI ! DON'T LIKE DON'T READ ! NO PLAGIAT ! RnR PLEASE ^^

~Rae Present~

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook mengerjap pelan, membiasakan penglihatannya dari seberkas sinar yang menelusup masuk melalui jendela kamarnya. Ugh...Jungkook lupa tidak menutup gordennya lagi -_-. Menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya dan mulai memejamkan kembali matanya. Namun belum sampai ia terpejam, selimutnya sudah ditarik menjauhi tubuhnya.

"Ugh...hyung...lima menit lagi..." Jungkook menepis pelan lengan kokoh yang mencoba memeluk pinggangnya dari belakang.

"Ayo bangun...kau bisa terlambat sayang~" si pemilik lengan berbisik di telinga Jungkook.

"Khan sekolahnya masuk siang hyung~~ Jungkook masih ngantuk~" Ughh...Jungkook tengah merengek manja rupanya.

CHUP~

Oke. Sekarang mata Jungkook sukses terbuka lebar. Beberapa detik yang lalu, bibir seseorang mencuri sebuah kecupan dipipinya.

"Bagaimana ? Masih tidak mau bangun, hm ?"

Dengan bibir mengerucut lucu dan sedikit hentakan kecil kakinya pada selimutnya, Jungkook bangkit duduk diatas tempat tidurnya dan mengucek-ngucek pelan matanya.

"Ayo mandi !" orang itu menepuk-nepuk puncak kepala Jungkook sebelum beranjak meninggalkan Jungkook. Dan sebuah dengusan mengiringi langkah malas Jungkook menuju kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

.

"Bisakah kau tidak mengurusi ponsel laknatmu itu Park. Jimin. Sshi ?!"

"Apa sih hyung ?! Aku hanya ingin menghubungi Jirin !"

"Kau sudah menghubunginya lebih dari tujuh kali Jim ! Jika Jirin tidak mengangkat panggilanmu, yasudah biarkan ! Jangan terus-terusan mengutaki ponselmu !"

"Hyung ! Wajar jika aku melakukannya ! Dia adikku hyung ! Dan wajar jika aku khawatir, karna aku kakaknya !"

BRAKK.

"Oke ! Urusi saja semua keinginanmu ! Dan jangan lagi pedulikan aku !"

BLAMM.

Jungkook mengerjap pelan saat mendapati pintu depan dorm bangtan ditutup secara tidak manusiawi. Ia menatap blank seseorang yang tengah mengasak rambutnya frustasi. Itu Jimin. Dan yang tadi itu Yoongi. Ugh...bahkan ini masih pagi, tapi dua anak manusia itu sudah bertengkar.

"Jimin hyung, Yoongi hyung kenapa ?"

Bukannya menjawab, Jimin malah berlalu meninggalkan Jungkook.

'Sebenarnya...apa yang sedang terjadi di pagi yang cerah ini?' Jungkook memandang sekeliling dengan bingung.

"YOONGI HYUNG KAU MEMBUATKU FRUSTASI ! ARRGGHHHHHH !"

Jungkook berjengit, 'apa-apaan Jimin hyung ?' ia cukup terkejut mendengar teriakan Jimin yang membahana ke seluruh dorm.

Jungkook menghela nafas kemudian melangkah meninggalkan ruang tengah menuju...kamarnya.

Jungkook memutar bola matanya malas melihat gundukan terbungkus selimut dihadapannya.

"Huft...hyung...tadi kau menyuruhku cepat-cepat bangun, tapi sekarang kau yang tidur!" bibir seksi Jungkook mempout dengan lucu. Kedua tangannya ia lipat didepan dadanya.

"Hyung~~"

"Hmmm." Hanya gumaman yang ia dapatkan.

"Bangunlah hyung~~ ayo~~~" Jungkook menggoyang-goyangkan gundukan berselimut didepannya.

SRET.

"Kyaaa!" Jungkook memekik kecil saat sepasang lengan kokoh menarik dirinya hingga terjatuh diatas ranjang.

"Nah, begini lebih baik Ny. Jung. Jangan terus mengomeliku, nanti kau cepat tua sayang~" si penarik berdendang dengan manis ditelinga Jungkook, sementara kedua lengannya semakin erat memeluk pinggang ramping Jungkook.

"Hopie Hyung ! Apaan sih !" Jungkook menyikut dada orang yang mendekapnya. "Lepas tidak ?!"

"Tidak akan sayang~"

"Dasar ! Lepaskan aku hyung~~~" Jungkook merengek.

"Mwo ? Aku tidak dengar sayang, ayo ulangi~~"

"Lepaskan aku Tuan Muda Jung !" Jungkook berteriak setengah merengek.

"Kkkk~ baiklah baiklah, kulepaskan. Tapi, sebagai gantinya..." si penarik membalikkan badan Jungkook hingga sepenuhnya menghadap dirinya.

"Izinkan aku menciummu...Jungkook..."

Doe eyes Jungkook terbelalak. Mulutnya terbuka hendak memprotesi orang didepannya saat benda basah dan kenyal mnempel di bibirnya. Jungkook bungkam. Refleks, manik indah miliknya menutup seiring dengan lumatan kecil dibibirnya. Diam-diam ia tersenyum.

"Sampai kapanpun aku milikmu hyung. Jdi tak usah meminta izinku untuk diriku. Karna aku selamanya milikmu...

.

.

.

...Hopie hyung..."

.

.

.

.

.

.

.KLAP.

Kedua mata Jungkook terbuka pelan. 'Mimpi itu lagi...' gumamnya dalam hati. Dan ia merasakan sesuatu menempel dibibirnya. Refleks, ia bungkam. Mendapati sepasang mata mentapnya dan sesuatu dibibirnya terlepas.

"J-jungkook...kau t-terbangun ? M-maafkan aku...a-aku tidak bermaksud m-melakukannya...m-maaf..a-aku lan-"

CUP.

"Kau lebih baik saat diam hyung." Jungkook berujar datar dengan sorot mata yang memilukan stelah ia mencium namja tampan dihadapannya tepat dibibir yang beberapa detik lalu mencium Jungkook.

Jungkook menghambur kepelukan namja didepannya, menyembunyikan wajahnya di bahu sang namja tampan.

"Aku merindukanmu hyung. Sangat." Air mata mulai mengaliri paras manis Jungkook.

Sepi. Haya ada isak tangis Jungkook.

'Kenapa kau diam saja hyung ? Ayo katakan hal yang sama denganku. Katakan jika kau juga merindukanku hyung!'

Perlahan, namja tampan itu menarik tubuh Jungkook menjauhi dirinya. Menghapus air mata Jungkook.

"Maafkan aku Kookie-ah..." Ia menangkup sebelah pipi Jungkook dengan tangan kirinya. Mengusapnya miris.

"Aku tidak pantas kau rindukan...maafkan aku.." Namja tampan itu mengecup kening Jungkook lama, sarat akan beribu makna, membuat Jungkook memejamkan mata untuk beberapa saat.

"Tidurlah lagi, ini sudah malam. Maaf mengganggu mimpi indahmu Kook. Maaf atas tindakanku tadi." Namja tampan itu tersenyum lembut pada Jungkook, ia menuruni tempat tidur dan mulai beranjak meninggalkan Jungkook. Jungkook tahu, itu senyum keterpaksaan.

Ia memandangi punggung tegap itu menghilang dibalik pintu kamarnya.

"Kau memang mengganggu mimpi indah yang menyakitkan untukku...Hopie hyung..."

.

.

.

.

. .YouAreMuchBetterThanHim#5

.

.

.

.

.

Hoseok baru saja akan memasuki kamarnya setelah ia merenung di balkon dua jam lamanya ditemani tepias air hujan yang mengguyur Gangnam. Ia berhenti dan menatap pintu putih ber-plat- "Namjoon-Jungkook" didepannya. Samar, ia mendengar suara erangan lirih dari dalam. Kening Hoseok sukses berkerut. Diambilnya kenop pintu dan memutarnya perlahan. Mengintip ruangan temaram dihadapannya.

"Jungkook ?" ia memanggil sosok yang dua jam lalu ia temui dikamar ini. Hening. Jungkook tak menyahut.

Hoseok melangkah lebih dalam memasuki kamar dan melangkah kearah ranjang Jungkook. Erangan itu kembali terdengar. Semakin dekat ia dengan Jungkook, semakin jelas pula erangan yang ia dengar.

Hoseok berdiri dihadapan Jungkook, menekan saklar lampu disamping tempat tidur Jungkook. Ia mengamati Jungkook sesaat sebelum matanya sukses terbelalak.

"Jungkook-ah.." Hoseok berjongkok dihadapan Jungkook. Mengusap pipi Jungkook yang memerah. Dingin. Itulah yang ia rasakan.

"Astaga..." Hoseok mengusap kasar wajahnya sebelum berdiri mendekati jendela. Menutup kacanya dan menarik tirai gordennya.

"Sshh..dingin..."

Hoseok menoleh, menatap Jungkook yang meringkuk kedinginan. Ia bahkan tak memakai selimutnya.

"Jungkook, kau mendengarku ? Katakan sesuatu kookie-ah..." Hoseok mengusapi pipi Jungkook. Ia begitu khawatir. Pasalnya suhu tubuh Jungkook begitu dingin.

'Kenapa ? Ya tuhan...' batinnya kalut.

"Kookie-ah...kau mendengar hyung ? Kookie-ah...katakan sesuatu..jebal.."

"Sshh...ssh..." hnya desisan pelan yang menjawab kekhawatiran Hoseok. Tubuh Jungkook bergetar kedinginan, bahkan bibirnya pucat pasi. Suhu tubuhnya pun masih sama, dingin.

"Ya Tuhan apa yang terjadi..."

Hoseok melepas sweater putih yang dipakainya dan tanpa pikir panjang melapiskannya pada tubuh Jungkook. Dan...oh...Hoseok baru menyadari jika Jungkook hanya mengenakan kaos tipis transparan, sedangkan diluar badai hujan sedang mengguyur. Dan Jungkook tidak menutup jendelanya ? Oh astaga...

"Kookie...katakan sesuatu...kau mendengarku kan ?" Hoseok berjongkok dihadapan Jungkook. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Jungkook, sementara tangan kirinya mengusapi pipi dingin Jungkook.

"Kookie-ah...Ya Tuhan...apa yang harus kulakukan...apa aku harus menelepon Namjoon ? Oh tidak tidak...ia tidak akan mengangakatnya...ini lewat jam 11..." Hoseok kalut, sangat. Ia diliputi kekhawatiran yang luar biasa.

Perlu diketahui, hanya ada hoseok dan Jungkook di dorm Bangtan saat ini. Yoongi sedang marahan dengan Jimin, ia pulang ke Daegu dan Jimin memaksa untuk ikut. Taehyung dan Seokjin menginap di Daegu, dirumah Taehyung. Dan Namjoon tadi mengirim pesan jika ia akan menginap di BigHit karena terjebak badai. Jadilah tinggal Hoseok dan Jungkook yang tersisa.

"Hopie hyung..." Hoseok tersadar dari pikiran kalutnya saat sebuah suara memanggilnya lirih.

"Kookie..." Hoseok mempererat genggaman tangannya saat ia sadar Jungkook barusan memanggilnya.

"Hyungie...dingin..." suara Jungkook begitu lemah, bahkan sangat lirih. Butuh kejelian ekstra bagi Hoseok untuk dapat mendengarnya.

"Kau mendengarku kookie-ah ? Dimana yang dingin ?"

Jungkook tidak menjawab. Matanya menatap Hoseok dengan setengah terbuka. Ia menarik tangannya yang digenggam Hoseok. Membawa tangannya ke belakang kepala Hoseok. Meraih tengkuk Hoseok dan membawanya mendekat.

Cup.

Sebuah ciuman mendarat dibir Hoseok. Hanya menempel.

Hoseok diam, ia dapat merasakan dinginnya bibir Jungkook yang menciumnya. Ia mulai menutup matanya saat bibir Jungkook melumat bibir atasnya. Ia mulai membalas ciuman Jungkook, bahkan tangannya mulai beralih meraih pinggang Jungkook dan Jungkook mulai menarik Hoseok mendekat kearahnya.

Oh Tuhan...Jungkook begitu agresif, ia bahkan hanya setengah sadar saat ini.

Entah apa yang terjadi, yang jelas sekarang Hoseok sudah ikut berbaring disamping Jungkook. Bibir mereka masih bertaut, bahkan kedua lengan Jungkook terkalung dengan manisnya di leher Hoseok. Ciuman yang tadinya kalem pun mulai sedikit agresif.

Tiba-tiba saja, Hoseok menarik bibirnya dari bibir Jungkook. Menangkup pipi putih Jungkook dan menyatukan kedua kening mereka. Menatap penuh sayang mata setengah terbuka milik Jungkook yang balas menatapnya eummm...rindu ?

"Kookie-ah...apa yang terjadi ?" Hoseok menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit mata Jungkook.

"Katakan...apa...yang terjadi ?"

Jungkook menggeleng pelan. Matanya masih setengah terbuka, menandakan kalau ia sedang separuh sadar saat ini. Dan Hoseok mengetahui itu dengan jelas.

"Kookie...apa kau...sadar apa yang kau lakukan tadi ?"

"Huh ?" Jungkook menjawab pertanyaan Hoseok dengan tidak benar. Ia benar-benar sedang separuh sadar.

"Kookie..."

"Hyungie...kenapa ?"

Hoseok mengernyit bingung. Ada apa ?

"Kenapa dingin sekali hyungie ? Bibir Jungie juga..Jungie bahkan kesulitan berbicara."

Heol ?! Pantas jika Jungkook hanya berujar lirih sedari tadi. Bibirnya sedingin es!

"Hyungie..." Jungkook kembali menarik tengkuk Hoseok dan mempertemukan bibir mereka.

Kali ini Jungkook diam. Ia membiarkan Hoseok yang bergerak.

'Ya Tuhan...engkau apakan makhluk polos ini ?' Hoseok menyadari bibir Jungkook masih sangat-sangat dingin saat bersentuhan dengan bibirnya. Membuat Hoseok melumatnya pelan, berusaha menurunkan suhunya. Ia tahu bagaimana rasanya saat bibirmu membeku dan sulit untuk berbicara.

"Eummhh..." Jungkook melenguh saat bibir Hoseok mengulum bibir atasnya mesra. Ia semakin mengalungkan kedua lengannya dan ia merasakan pinggangnya semakin ditarik mendekat oleh namja tampan yang tengah memagut bibirnya.

Sebenarnya, Hoseok tengah berjuang melawan nafsunya saat ini.

Jungkook melepas ciuman mereka sebentar, ia butuh oksigen. Hoseok pikir, Jungkook akan berhenti setelah ciuman merekan terlepas. Namun yang didapatinya sungguh diluar dugaan. Jungkook kembali menciumnya, jauh lebih agresif dari sebelumnya. Bibir saling mengulum satu sama lain, lidah sudah mulai beradu di dalam mulut Jungkook, bahkan setetes saliva mulai menuruni leher Jungkook. Ugh, kenapa jadi terasa panas disini.

Jungkook sedikit tersentak saat matanya yang masih setengah terbuka itu tak sengaja melirik abdomen bawah Hoseok dan menemukan abs liat diperut Hoseok.

'Tunggu...'

"Kookie-ah...wae ?" Hoseok bertanya dengan suara beratnya saat tiba-tiba saja Jungkook kembali melepas ciumannya. Ia sudah mulai terjebak alur permainan ini. Ia bahkan lupa tujuan awalnya mencium Jungkook.

"H-hyungie...kau...topless ?" Doe eyes Jungkook-yang masih saja setengah tertutup-sedikit membelalak.

Hoseok terkekeh. " Kau kedinginan, jadi kupakaikan kau sweaterku."

Cup. Hoseok mencuri sebuah kecupan di bibir Jungkook.

"Huh ?" Jungkook kembali menjawab tidak benar.

"Oh...astaga kookie~ Kau bahkan masih setengah sadar, tapi kelakuanmu...oh astaga..." Hoseok sedikit terkekeh.

"Kookie-ah..." Hoseok sedikit tertegun saat jemari Jungkook turun menyusuri bentuk abs-nya.

Cup. Hoseok kembali mencium bibirnya. Sedikit melumatnya lebih kasar.

"Kau menyukainya ?" Ia berbisik tepat dihadapan bibir Jungkook dengan kening menyatu.

Jungkook tersenyum kemudian mengangguk pelan diikuti semburat merah dikedua pipinya.

Oh Tuhan...Hoseok bersumpah...perasaanya menghangat.

Ia kembali mencium bibir Jungkook dengan agresif dan Jungkook membalasnya. Ia menurunkan ciumannya ke perpotongan leher dan bahu Jungkook. Menghisapnya pelan terkadang menggigitinya. Menghasilkan noda kemerahan disana. Ia tersenyum kemudian mengusap noda itu penuh sayang dengan ibu jarinya.

"Eunghh...hyungiehh...hentikanhh..." Jungkook mulai menggeliat tak nyaman saat Hoseok kembali menghisap perpotongan lehernya yang lain, menciptakan noda yang lebih jelas dari sebelumnya. Namun ucapannya tak digubris oleh Hoseok. Hanya gelengan manja yang ia dapatkan.

"Jangan hentikan aku...kau yang memulainya." Hoseok mengecup noda itu cukup lama dan bergumam 'Aku mencintaimu' disana. Dan ia mulai menindih tubuh Jungkook, melepas sweaternya dan kaos transparan yang melekat ditubuh Jungkook.

'Maafkan aku Jungie...kau yang memulainya...'

.

.

.

.

. .YouAreMuchBetterThanHim#5

.

.

.

.

.

.

The Red Bullets, BTS BEGINS

Agustus, 12, 2015

.

Jungkook memandang ponselnya yang menampilkan gambar seorang namja tampan tengah mencium mesra pipi namja cantik yang tersenyum disampingnya. Senyum miris terpampang di wajah cantiknya. Ia bawa ibu jarinya untuk mengusap wajah namja tampan di foto tersebut.

"Hyung...i miss you..." lirih Jungkook.

"I miss you too, Kookie..."

DEG.

Jungkook mendongak dan menatap seorang namja tampan yang tersenyum kearahya. Ia memejamkan matanya sebentar, berharap ini hanya sebuah mimpi. Namun sayang, ini kenyataan.

Orang itu berjalan mendekati Jungkook. Berjongkok dihadapan Jungkook dan membawa jari-jemari Jungkook ke dalam genggamannya.

.

.

.

"Ayo kita temui orang tuamu, Kookie..."

.

.

.

.

Seoul International Hospital, 5 April 2015

.

Hoseok dan Yoongi duduk berdampingan di sebuah bangku panjang di taman sebuah rumah sakit di Seoul. Yoongi yang sedari tadi menatap datar tanpa ekspresi kedepan dan Hoseok yang bersandar tak nyaman pada sandaran kursi karena Yoongi yang tidak kunjung bicara sejak kurang lebih sepuluh menit mereka duduk diam disitu.

Hoseok yang pada dasarnya memang tidak bisa diam pun mencoba mengajak Yoongi berbicara.

"Hyung, kau mau mengatakan apa ? Kalau tidak ada, aku harus segera kembali ketempat Jungkook. Aku takut ia akan mencariku saat bangun nanti."

"..." Yoongi masih betah dalam diamnya. Ia tak memberikan tanda-tanda akan menjawab ucapan Hoseok.

"Hah...baiklah hyung kalau kau tidak jadi bicara. Aku harus kemb-"

"Tinggalkan Jungkook."

Hoseok berhenti, mengurungkan niatnya untuk melangkah meninggalkan Yoongi dan menatap Yoongi dengan terkejut saat perkataannya dipotong oleh kata-kata ambigu dari yoongi.

Yoongi mendongak menatapnya.

"Tinggalkan Jungkook, Hope-ah..." ujarnya pelan.

Hoseok masih terkejut dibuatnya. Perkataan Yoongi menari-nari di fikirannya.

Apa ? Tinggalkan Jungkook katanya ? Hoseok berani bersumpah ia akan loncat dari atas atap gedung BigHit Entertaiment jika ia salah dengar. Tapi ia tidak salah dengar ! Barusan Yoongi mengatakan...

"Bisakah kau tinggalkan dia Hope-ah ?"

DEG.

Hoseok berbalik menghadap Yoongi. "Hyung...wae?"

Yoongi menghela nafas.

"Aku tahu kau sebenarnya mengetahui alasanku memintamu untuk meninggalkan Jungkook. Dan kurasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi."

"Maksudmu...orang tua Jungkook?"

Yoongi mengangguk. "Kedua orangtuanya melarang hubungan kalian. Begitu pula orang tuamu. Mereka lebih menyetujui kau dengan Taehyung. Bukankah mereka juga pernah mengancammu jika kalian tetap meneruskan hubungan ini?"

Hoseok menghela nafas berat. "Hyung, aku tahu orang tua kami tidak pernah menyetujui hubungan kami. Tapi itu bukan berarti aku harus meninggalkan Jungkook, apalagi harus bersama Taehyung. Kuakui perasaanku sempat goyah, tapi aku tahu di mana sebenarnya aku menapak. Jungkook. Dia segalanya bagiku hyung."

"Lalu? Bagaimana dengan orang tua Jungkook? Mereka bahkan memintaku untuk memisahkan kalian. Dan aku tahu ini sangat egois." Yoongi menunduk.

"Aku menghargai mu Hyung. Dan aku sudah memikirkan ini semua jauh-jauh hari. Dan aku juga tahu apa yang harus kulakukan."

Yoongi mendongak menatap Hoseok bingung.

.

.

.

.

"Akan kutinggalkan Jungkook untuk sementara. Dan aku akan kembali saat semua sudah kutata dengan rapi"

.

.

.

.

.

"Ayo kita menemui orang tuamu, Kookie..."

Jungkook mengerjap pelan. Setetes air mata terjatuh menuruni pipinya.

"Hyung janji...ini akan segera berakhir. Penantianmu, rasa sakitmu, dan semua beban yang kau tanggung. Ini akan segera berakhir."

Hoseok-namja tampan- tersenyum. Membawa jemari Jungkook untuk di kecupnya penuh sayang.

"Maukah kau menunggu lebih lama lagi?"

.

.

.

.

.

Busan, 11 November 2015

.

"Hyung...Kookie takutt~~" Jungkook menggenggam erat telapak tangan Hoseok yang bertautan dengan miliknya. Mereka tengah berdiri di hadapan pintu kebesaran Keluarga Jeon.

"Tenanglah..semua akan baik-baik saja.." Hoseok tersenyum dan mengusap sayang rambut Jungkook.

Bohong jika ia tidak takut sekarang. Bahkan jantungnya serasa ingin melompat keluar. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya berdiri di pintu kebesaran 'Jeon'. Ini kali kedua nya jika kalian ingin tahu.

Cklek~

Pintu besar itu terbuka perlahan. Bagai gerakan slow motion, pintu itu dibuka dari dalam, sedikit-sedikit mulai memperlihatkan siluet perempuan paruh baya di baliknya. Semakin lebar pintu itu terbuka, semakin keras detakkan jantung keduanya dan semakin erat pula tautan jemari mereka.

"Annyeong Jungkook-ah...Hoseok-ah.."

Pintu telah terbuka sempurna. Namun Jantung Hosoek masih saja berperang di dalam sana.

.

.

.

.

.

.

.YouAreMuchBetterThanHim#5

.

.

.

.

.

Hoseok berdiri kaku dihadapan 'orang-orang besar' dikeluarga Jeon. Dihadapannya berdiri ayah Jungkook yang memandangnya tidak suka. Ngomong-ngomong, Jungkook dipaksa saudara-saudara nya untuk berdiam diri di kamarnya. Jadilah hanya ada Hoseok,ayah&ibu Jungkook beserta beberapa orang saudara Jungkook yang lainnya.

"Duduklah." Bahkan suara ayahnya begitu dingin.

Hoseok melangkah kaku mengikuti ayah Jungkook yang mempersilakannya menduduki salah satu sofa disana.

"Apa Yoongi atau Jimin tidak memberitahumu sampai kau dengan berani mengunjungi kami untuk kedua kalinya? Apa kau sudah benar-benar menepati janjimu tiga bulan yang lalu" ayah Jungkook kembali berujar dingin.

"S-sudah abeoji.." Ugh Sial! Suara Hoseok bergetar!

"Lalu?"

Hoseok menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengatur seluruh fungsi oragn pada tubuhnya untuk siap menerima apapun yang dikatakan ayah Jungkook setelah ucapannya nanti.

"Abeoji..." hoseok memberanikan diri menatap ayah Jungkook.

"Saya sudah berusaha meninggalkan Jungkook setelah hari dimana Abeoji menolak saya saat itu." Hoseok menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.

"Tetapi...saya semakin tidak bisa meninggalkannya. Maafkan saya abeoji..."

Hoseok menunduk. "Jadi...saya memohon untuk kedua kalinya kepada Anda, Abeoji..."

Hening sesaat. Hoseok mempersiapkan dirinya terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.

.

.

.

"Izinkan saya meminta Jungkook dari anda..."

.

.

.

.

.

.

Seoul, 28 Desember 2015

.

"JinV!"

"MinSu!"

"JinTae! Seokjin Taehyun is Real!"

"Jimin Suga! Let's get married!"

Semua member BTS tersenyum menatap banner-banner yang diangkat tinggi-tinggi oleh beberapa ARMY yang duduk di lantai atas aula tempat mereka mengadakan konser In The Mood of Love pt.2.

Jimin dan Yoongi tengah melakukan fanservice. Mereka berpelukan dengan Jimin yang sesekali mencuri ciuman dipipi Yoongi. Yang mengakibatkan teriakan heboh dari para fans.

Taehyung dan Seokjin? Mereka berada di sisi panggung sebelah kiri. Tengah menyapa fans dan mengambil beberapa hadiah dari fans.

Di tengah panggung bundar yang berada ditengah-tengah penonton. Seorang namja tampan tengah mendekap erat pinggang ramping namja cantik disampingnya. Mereka tersenyum cerah, lebih cerah di banding yang lainnya. Rona bahagia terlihat jelas diwajah keduanya.

Lantunan lagu Convers High mengiringi mereka.

Alright ppaljunochopanambo

Ni bare mujigaeneun shot like rambo

Nal jeogyeokhae tangtang shout out wow wow

Ni mommaewa hamkkemyeon deo haakhaak

Kkeon taxi kkeon cycle kkeon subway

No thanks nan kkeon bus tago brungbrung

Jeo haneul byeolbodan oneureun ni sinbalui byeoreul bollae

Haha da namjuni mollae

Hoseok memeluk pinggang Jungkook erat. Dan tepat setelah ia menyelesaikan part rapp nya, ia mencium sekilas pipi Jungkook. Mengundang teriakan heboh dari para fans.

Seuchimyeon inyeon seumyeodeulmyeon sarang

Irago nuga malhaesseottneundae

Neon aye naege muldeuleobeoryeottna

Niga joha geurado kkeonbeoseurouneun sinji ma

Jungkook menatap Hoseok penuh binar dan mendaratkan ciuman manis di pipi kanan namja-nya. Sorakan fans semakin menggebu.

Neoui Convers High

I really really want yo

Convers High

I really really like yo

Covers High

I really really need yo

Convers High convers High

"Jungkook-ah! Saranghae!" Hoseok berteriak. Mengucapkan kata cinta untuk Jungkook. Bukan fans service atau yang lainnya. Tapi mewakili perasaannya.

"Nado saranghae Hopie Hyung!"

Neoui Convers High

I really really want yo

Convers High

I really really like yo

Covers High

I really really need yo

Convers High convers High

Converse High…

SRET.

Sorakan fans semakin keras memenuhi aula. Bahkan para member Bangtan memandang takjub kearah lantai tiga. Terutama Hoseok dan Jungkook. Meski terhalang beberapa konveti Encore, mereka benar-benar dapat melihat dengan jelas. Sesuatu menggantung di pembatas lantai tiga. Membuat Hoseok tersenyum cerah dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping jungkook. Bahkan Jungkook menangis haru sekarang.

"ARMY-deul...j-jeongmal gomawoyo...hiks...Kangsamida...hiks...Jeongmal Gamshahae...Kangsamida!" Jungkook tidak henti-hentinya membungkuk untuk berterimakasih pada semuanya, tidak hanya ARMY.

"ARMY-ya! Aku akan menjaga apa yang telah kalian percayakan padaku! Jeongmal gomawo!" Hoseok juga ikut membungkuk berterimakasih.

"Kurasa...J-Hope oppa teringat dengan Jungkook-sshi. Bukankah HopeKook terlihat lebih manis daripada Vhope ?"

"Kalian sudah dua tahun bersama, harusnya kau lebih tahu dimana hatimu berpijak hyung"

"Aku percayakan putraku padamu. Sepenuhnya"

Hoseok dan Jungkook menatap banner besar yang tergantung dengan jelas di depan mereka. Senyum bahagia dan air mata haru melengkapi perasaan mereka.

'Semuanya...akan kujaga dengan baik apa yang telah kalian percayakan padaku. Aku berjanji, tidak akan menghadirkan lagi air mata kesakitan dari mata indahnya. Tidak akan meninggalkannya, menyakitinya,...akan ku ukir senyum manis di wajahnya selalu. Karena ia jauh lebih baik dari siapapun di dunia. You Are Much Better than Him, Her, and others. Eomma, Appa, Eomonim, Abeoji, Hyungdeul, ARMY, Bangtan...jeongmal gamshahae...'~J-HOPE

"HOPEKOOK IS REAL—LET'S MAKE SOME GOOD MEMORY TOGETHER—LET'S LOVE EACH OTHER AND FOREVER—ITS HOPEKOOK—NOW AND FOREVER—WE WILL SUPPORT YOU—WE LOVE U"

.

.

.

.

EnD

.

.

Huwaaaaa~~~ akhirnya end juga~~ adakah yang masih ingat ceritanya? maafkan saya sudah membuat anda menunggu lama~~ terimakasih buat yang sudah mau menunggu dan mendukung saya~~ 3 dan buat tanggalnya TRB yg diatas, itu 100% asli Ngawur! Bukan kenyataan ya~~

Endingnya benar-benar tidak sesuai rencana awal, karena kesibukan dan beberapa ide yang mulai menjejali otak saya, saya jadi lupa sebagian plot untuk endingnya. Alhasil saya harus mengubah hampir 85% isi cerita. Maafkan saya jika endingnya tidak sesuai harapan readers-deul..jeongmal jeoseonghamnida *bungkuk 90o *

Dan maaf juga gak bisa bales review satu-satu *again*, masih dalam pekan Ujian Tengah Semester ,,,u.u

Akhir kata...Kangsahamida~~~ Jeongmal gamshahae~~~

Annyeong~~ see you next story~~

Rae#