CHANGE

©Boku No Hero Academia by Horikoshi Kouhei.

CHANGE by Usei.

Chapter 3 : Feels Off

.

.

.

Midoriya Izuku's POV

.

.

"Ayo bergegas ganti pakaian kalian karena kita akan kembali melakukan battle!"

"Uwoooohhh!"

Seisi kelas meriah dengan kedatangan All Might beserta pelajaran serunya. Tentu saja karena praktek lebih diutamakan di sini, apalagi bagi kami yang bercita-cita menjadi pahlawan profesional. Aku sendiri begitu penasaran dengan apa yang akan kami praktekkan kali ini, lagi-lagi battle, katanya. Sebelumnya aku setim dengan Uraraka-san dan melawan tim Kacchan-Iida-kun. Dari sanalah aku melihat perubahan sikap Kacchan. Ia tidak lagi menjahiliku seperti biasanya, walaupun cara bicaranya masih saja kasar pada siapapun.

"Kita kembali akan melakukan duel tim. Kali ini, siapa yang berhasil melukai tim lawan akan diberikan poin tambahan. Tujuannya adalah menimalisir luka pada diri dan tim kalian, karena kalian akan berusaha keras untuk menghindari tim lawan melukai kalian. Ini adalah dasar penting untuk keberhasilan tim."

Me..Melukai lawan? Bagaimana ini, dibandingkan melukai lawan, aku malah akan melukai diriku sendiri jika kekuatan ini aku kerahkan. Apa yang harus kulakukan?

"Sekarang kita bagi timnya dengan menggunakan kocokan ini."

All Might menunjukkan kocokan seadanya yang ia buat hanya menggunakan gelas plastik, kertas dan karet. Kenapa jadi seperti kocokan arisan?

"Dua nama yang keluar akan menjadi setim. Baiklah kita mulai saja ya!"

Siapa? Kira-kira siapa yang akan setim denganku? Aku harap siapapun itu, aku tidak ingin menjadi bebannya.

All Might berusaha mengeluarkan dua nama dalam satu kocokan. Setelah dua gulungan kertas keluar berurutan, pahlawan kebanggaan itu kembali mengocoknya untuk membentuk tim lawan yang dihadapi dua orang yang namanya tertera pada gulungan kertas yang sudah keluar terlebih dahulu. Entah kenapa aku merasa gelisah ketika All Might membuka gulungan kertas itu satu per satu dan mulai berdeham singkat ketika melihat siapa lawan siapa.

"Midoriya-shoujo dan Kirishima-shounen."

Kirishima-kun? Lawannya?

"Versus..."

Ayolah cepat.

"Bakugou-shounen dan Todoroki-shounen."

Dunia terasa terbalik ketika mendengar aku kembali melawan dua orang pemuda yang paling mengerikan power-nya. Ingat betapa mengerikannya ledakan Kacchan saat aku setim dengan Uraraka-san, sudah pasti aku akan terluka parah karenanya. Ughh. Apalagi Todoroki-kun, lihatlah tangan dan jari-jariku, sudah remuk karena melawannya. Dan sekarang aku melawan mereka berdua? Aku lebih baik mati saja. Hiiii. Tolong akuuu.

"HAAAA? Yang benar saja, kenapa juga aku harus setim dengan si hanbun-yaro?!" Kacchan protes sebisa mungkin. Aku yakin ia begitu benci berada setim dengan orang yang ia kalahkan di festival olahraga dengan mudah karena orang yang dimaksud tidak mengerahkan seluruh kekuatannya pada saat itu. Kurasa Kacchan masih sangat kesal dengan Todoroki-kun.

"Bukan aku yang meminta." Sudut mata Todoroki-kun terasa mengerikan ketika berpandangan melawan Kacchan. Aku tidak menyangka seperti ada aura hitam diantara keduanya. Sejak kapan rivalitas mereka menjadi sepekat itu?

Dibandingkan itu, apalagi aku? Harus melawan kalian berdua? Mati sajalah aku. Kenapa tangan All Might sial sekali?

Ah, aku merasa ada yang menepuk pundakku.

"Tenang saja, Midoriya. Aku pasti akan melindungimu dengan badan jagoanku ini." Kirishima-kun mengeraskan kulit tangannya, menunjukkan keseriusannya akan melindungi satu-satunya wanita dalam perhelatan nanti. Aku sangat berterima kasih karena kejantanannya itu tetapi lawannya adalah Kacchan dan Todoroki-kun? Apa kau yakin, Kirishima-kun? Ah bodoh, tidak seharusnya aku pesimis begini. Sikap pesimis begini bukanlah Midoriya Izuku! Yosh!

"Onegaishimasu, Kirishima-kun. Kurasa kita harus lebih banyak bertahan dan menghindar karena mereka berdua petarung offensif."

Di saat aku sibuk berdiskusi dengan Kirishima-kun, disisi lain malah terjadi pertengkaran hebat. Siapa lagi penyulutnya kalau bukan Kacchan.

"SIALAN! Aku tidak sudi bekerjasama denganmu. Aku bisa sendiri!"

"Dengar, Bakugou. Aku tidak akan membiarkanmu bertindak gegabah seperti kejadian sebelumnya."

"HA? JANGAN BICARA SEOLAH KAU TAU! Kau bahkan tidak mengerahkan kekuatanmu saat melawanku. Jangan menceramahiku kalau bertindak saja kau setengah-setengah! KUSO YARO!"

"Apa katamu barusan?"

"KENAPA KAU HARUS BERADA DI SINI? KALAU TIDAK MAU MENJADI NOMOR SATU JANGAN BERDIRI DI HADAPANKU. AKU PALING BENCI ORANG SEPERTIMU!"

Tidak ada yang bisa menghentikan amarah Kacchan yang meledak. Aku pun bingung karena emosi Kacchan terasa janggal dan berlebihan meskipun aku tau betul seperti apa Kacchan kalau bicara. Tetapi sensitifitasnya terhadap Todoroki-kun sudah melebihi batas wajar. Ada apa dengannya? Apakah hasil festival olahraga begitu melukai kebanggaannya?

"Ka-Kacchan.."

Aku berusaha menahan Kacchan menerjang Todoroki-kun dengan telapak tangannya yang siap kapanpun meledakkan seisi ruangan. Bahkan Todoroki-kun sudah mengeluarkan asap es di balik tubuhnya itu, siap untuk membekukan siapapun. Aku seperti melihat sisi Todoroki-kun yang lain, sisi Todoroki-kun yang mulai kesal selain karena urusan Ayahnya.

"URUSAI DEKU!"

Tanganku dihepas ke udara oleh Kacchan. Tenaganya begitu kuat hingga keseimbanganku goyah. Aku hampir saja terjatuh kalau saja es itu tidak menghalangi tubuhku terhempas ke lantai.

"Midoriya!"

Lagi-lagi, pemuda itu, teman masa kecil itu bertindak semaunya. Apa ia masih tidak sadar apa yang ia lakukan kepadaku? Apa-apaan tatapan matanya itu? Kesal padaku? Kenapa Kacchan selalu begitu padaku?

"Bakugou, kau sudah keterlaluan. Midoriya tidak melakukan apapun."

"Ck."

All Might hanya berdiam diri dan menghela nafas. Apakah tujuannya untuk melihat situasi terlebih dahulu, mencari tau bagaimana interaksi kami, tetapi malah membuahkan kesalahan fatal? Hampir saja aku terluka lagi karena si raja peledak yang hilang kendali.

"Tolong kalian hentikan semua ini."

All Might memijat keningnya yang mulai sakit melihat keributan yang ada. Ia harus datang di waktu yang tepat agar murid-muridnya tidak melakukan tindakan di atas ambang kewajaran. Aku benar-benar minta maaf, All Might. Aku tidak bermaksud begini. Tapi Kacchan... dia...

"Bakugou-shounen.. Todoroki-shounen. Kalau kalian ribut lagi, aku akan menyatakan kalian gugur ujian praktek ini."

Dengan telak, All Might mendeklarasikan ancaman. Dibandingkan gugur, mereka memilih untuk diam dan menenangkan diri. Tidak ada salah satu dari mereka yang berusaha membuka pembicaraan bahkan sesampainya kami ke lokasi praktek, mereka masih diam membisu dengan tampang yang mengerikan.

Lokasinya adalah lokasi yang cukup familiar karena bentuknya hampir sama dengan lokasi ujian masuk Yuuei. Tetapi yang berbeda kali ini adalah tempat dimana kami akan berduel. Ya, kami dibatasi lapangan seluas 30 meter kali 30 meter untuk praktek kali ini. Seperti waktu festival olahraga saja.

All Might menjelaskan bagaimana peraturannya. Masing-masing tim akan berada pada masing-masing sisi lapangan. Setiap tim boleh melakukan apapun selama di dalam lapangan tersebut. Luka yang disebabkan di area lapangan akan terhitung sebanyak 10 poin. Yang mendapatkan poin terbanyak selama periode praktek adalah pemenangnya. Sekecil apapun luka yang diberikan, akan membuahkan poin. Tetapi luka parah tidak akan menambah poin, sebab hal itu diharap untuk diminimalisir. Lagipula tidak ada untungnya juga. Duel akan dilakukan selama sepuluh menit saja. Teman-teman lain bisa menonton dari jarak aman sekitar 5 meter dari lapangan.

Aku berdiri bersisian dengan Kirishima-kun, sedangkan di sisi yang lain Todoroki-kun dan Kacchan berdiri berjauhan dengan ekpresi wajah masam. Jantungku berdebar kencang karena ketegangan yang dihasilkan. Detik-detik sebelum All Might menentukan kapan dimulai benar-benar membuatku merinding, merinding akan kebrutalan dua manusia yang akan kami hadapi. Aku menelah ludah. Tidak ada waktu untuk ketakutan. Aku akan jadi pahlawan, aku akan mencetak poin.

"Mulai!"

Aku menarik nafas dalam-dalam. Apa langkah pertama yang harus aku lakukan? Sebelum menyadari harus berbuat apa, tiba-tiba saja Kacchan sudah terbang dengan cepat ke arah kami, ia mencoba menyerang kami! Gawat!

"Kirishima-kun!"

"HAIYO. Maju, Bakugou!"

Duar!

Ledakan itu begitu dahsyat di hadapanku. Aku bahkan sampai memejamkan mata karena cahaya yang dihasilkan. Tetapi tidak ada satupun yang terluka, tubuh Kirishima-kun mengeras tepat sesaat Kacchan mengeluarkan ledakan telapak tangan andalannya. Selain itu, posisi tubuh Kirishima-kun adalah posisi bertahan sambil melindungiku di balik punggungnya agar tidak terkena efek ledakan.

"Haha, aku tidak akan lengah seperti kemarin, Bakugou-kun~"

"Cih."

Kirishima-kun melayangkan tinju sekeras besinya ke arah wajah Kacchan tetapi berhasil dihindari.

"Midoriya!" Kirishima-kun meneriakkan aba-aba. Aku menjentikkan jariku ke udara tak jauh dari lompatan Kacchan. Membuat udara di sekitarnya bergemuruh dan membuat Kacchan terlempar jauh hampir keluar lapangan. Jariku terasa seperti ditusuk, tetapi tidak biru sama sekali. Apakah aku mulai bisa mengendalikan energinya?

"Sepuluh poin untuk tim Midoriya-Kirishima."

Apa? Kok bisa?

Ternyata Kacchan mendaratkan wajahnya lebih dahulu ke tanah sehingga goresan batu mengenai wajahnya hingga meneteskan darah. Ah! KACCHAN! Aduh, aku minta maaf! Dia pasti akan marah besar padaku. Hiii.

Sebelum kebrutalannya menjadi-jadi, aku dan Kirishima-kun berlari menjauhi keberadaan Kacchan tetapi karena itu pula kami tidak menyadari ada seseorang menunggu kesempatan. Seseorang yang dengan tenangnya berjalan perlahan, menciptakan es di sekitar kakinya. Kemudian ia berlari cukup kencang ke arah kami! Gawat! Ia mulai lompat dari bongkahan es yang ia ciptakan meninggi. Apa yang ia akan lakukan dari posisi yang tinggi itu? Jangan-jangan! Gawat aku bisa terkena tendangan kakinya dengan posisi begini!

"MIDORIYA!"

Brak!

Tendangan kaki kanannya yang menimbulkan es itu mengenai tepat pundak Kirishima-kun yang berusaha melindungiku. Sisi pundaknya terkena pukulan mulai dijalari oleh es yang merambat cepat. Aku berusaha mencari posisi aman untuk kembali melayangkan jari-jariku agar Todoroki-kun menjauh.

"Kuso! Power-nya.."

Kirishima-kun berdecih. Tubuh kerasnya mulai membeku.

Di kejauhan sana, aku mendengar komentar yang aneh dari teman-teman.

"Gerakan Todoroki tadi... eh? Kau melihatnya?"

"Sepertinya tadi ia ingin menendang Midoriya-chan tetapi tiba-tiba memutar balik tubuhnya dan mengenai Kirishima-chan, gero..."

"Kenapa ia tidak menendang Midoriya saja, posisinya benar-benar telak kalau kena, dijamin mereka dapat poin."

"Entahlah."

Kalau dipikir, ada benarnya juga. Posisiku benar-benar telak jika kena tendangan tadi, kenapa Todoroki-kun mengubah rencananya? Apa yang sebenarnya ia rencanakan? Aku harus waspada!

"Sumassuuuuu."

Aku kembali menjentikkan jari di balik rambut Kirishima-kun. Efek anginnya begitu dahsyat sampai-sampai wajah Kirishima-kun sulit menoleh. Sedangkan Todoroki-kun, ia berhasil meloloskan diri dan kembali menyeimbangkan tubuhnya dengan bongkahan es di balik punggungnya.

"Terima kasih, Midoriya. Aku hampir kewalahan karena pundak kiriku mulai beku. Jangan sampai ia mengenai pundakku lagi, aku tidak bisa mengeraskannya lagi karena suhunya dingin sekali."

"Lebih baik kita kembali bergerak. Kacchan sudah bangkit dan berlari kesini."

Kami berlari menjauhi Kacchan dan Todoroki-kun yang mulai agresif menyerang. Kami sudah dapat poin dari luka goresan ringan di wajah Kacchan, kami hanya perlu mempertahankan diri sampai waktunya berakhir. Kami harus meloloskan diri dari dua manusia super itu!

"KIRISHIMA SIALAN! KOROSU ZOOO!"

"Dasar Bakugou yaro." Kirishima-kun menyeringai. Kenapa ia menyeringai begitu?

"Bakugou! Jangan asal bertindak. Kau bisa terhempas seperti tadi!"

"BERISIK! AKU TIDAK PERLU PENDAPATMU!"

"CIH."

Ga-Gawat, Kacchan pasti berniat menggunakan howitzer impact kalau melihat posturnya! Kami bisa mati kalau begini! Bagaimana ini? Harus lari kemana? Todoroki-kun pun sudah hampir mencapai posisi kami!

"AWAS MIDORIYA!"

Aku merasa tubuhku didorong sangat kuat, pelakunya siapa lagi kalau bukan Kirishima-kun. Di saat yang sama serangan itu telak mengenainya, ternyata ia tak dapat bergerak lagi karena kakinya sudah dibekukan es dari es-es di kaki Kirishima-kun yang terhubung dengan es sepanjang jalan hingga langkah kaki Todoroki-kun. Sepertinya ia menggunakan tenaga terakhirnya untuk mendorongku sejauh mungkin. Aku bisa melihat ia menggunakan seluruh quirk di tubuhnya mungkin untuk menahan serangan Kacchan, tetapi kalau ia setengah beku apakah akan baik-baik saja?

DUAR!

Ledakannya gila. Sungguh gila. Ledakan yang disertai runtuhan bongkahan kecil es yang turun bagaikan hujan.

"KIRISHIMA-KUN!"

Apakah ini yang Kirishima-kun sebut sebagai plan B? Plan B dimana jika situasinya sudah sangat mendesak maka hanya ia saja yang akan menerima serangan telak meskipun akan terluka parah sedangkan aku harus tetap menyelamatkan diri. Karena jika kami berdua sama-sama terluka maka poin yang mereka dapat akan mengganda.

Selain itu, KACCHAN SUNGGUH GILA. APA-APAAN ITU TADI? Ia menyerang tanpa ampun! Kirishima-kun! Bagaimana keadaannya? Asap mengebul itu menutupi pemandangan, aku tidak bisa melihatnya. Aku harus menyelamatkannya!

Aku dapat melihat helaian rambut merah itu. Aku berlari secepat mungkin dan menarik tubuh yang tinggi itu sebelum dua manusia itu menyadarinya.

"CIH, DIMANA KIRISHIMA!"

Aku berhasil menyelamatkannya. Tetapi aku tak dapat mencegah luka di sekitaran wajahnya itu. Goresannya begitu banyak disana. Kurasa es yang meliputi tubuh Kirishima-kun cukup melindunginya dari serangan telak Kacchan? Apakah Todoroki-kun sengaja agar ia tidak terluka parah? Atau, memang ia hanya berusaha menahan Kirishima-kun agar bisa terkena serangan Kacchan?

"Tim Bakugou-Todoroki 10 poin."

Apa?

"Kirishima-kun? Kirishima-kun?"

Ia kenapa? Pingsan? Apakah batas waktu quirk-nya tepat habis saat Kacchan menyerangnya?

"Sepertinya Kirishima tidak sadarkan diri."

"Mungkin ia hanya shock saja dengan ledakan itu."

Aku menoleh ke arah gerombolan teman sekelas dan All Might. Aku melihat guru kesayanganku itu tampak berpikir keras. Seingatku, meskipun salah satu dari kami pingsan, duel ini harus tetap berjalan sampai batas waktunya dan juga..

"Tambahan 10 poin untuk Todoroki-Bakugou."

Tambahan poin karena salah satu dari kami sudah pingsan dan tidak dapat melanjutkan duel.

Apa yang harus aku lakukan tanpa Kirishima-kun? Apa rencana yang harus aku jalankan untuk menghindari mereka dan melukai mereka? Mereka, terlalu hebat. Aku.. Aku.. Bagaimana ini?

"Giliranmu, deku!"

Hiiii. Kacchan!

"Haduh, habislah Midoriya.."

Jangan bicara begitu, Kaminari-kun!

Aku akan menyusun rencana tetapi apa? Langkah kaki itu semakin dekat. Suara gemericik api di telapak tangan itu terdengar jelas sekali. Tunggu dulu, Kacchan!

Kacchan berlari kencang. Tangannya yang siap meledak sudah mengarah ke arahku. Aku memejamkan mata karena saking paniknya. Aku harus apa?! Setelahnya aku mendengar ledakan yang besar, tetapi tubuhku tidak merasakan apa-apa.

Eh?

"TEMEE.. Apa yang kau lakukan?"

Bongkahan es yang sangat tinggi itu menghalangi langkah si raja peledak. Membuat seorang Bakugou Katsuki semakin geram.

Apa.. yang... dilakukannya? Bukannya.. mereka.. setim?

Mata dua warna yang tajam itu melirikku jeli dari kejauhan. Tubuhnya yang jangkung kemudian memunggungiku, menghalangi pandanganku dari Kacchan.

Todoroki-kun...

"Apa... yang dilakukan Todoroki?"

"Jangan bilang..."

Tidak hanya kalian yang bertanya-tanya. Aku pun begitu. Pemandangan macam apa ini? Kenapa Todoroki-kun menghalangi Kacchan mendekatiku? Kenapa sudut matanya tak bergeming dan menusuk teman setimnya sendiri? Ada apa dengannya?

"... Todoroki.. mencoba melindungi Midoriya?"

Eh?

Masa iya...

"Aku akan bertanggung jawab atas dirimu."

Tidak mungkin 'kan?

.

.

.

To be Continued.

.

.

A/N : Maaf karena tidak ada preview untuk next chapter supaya lebih seru. Terima kasih sudah membacanya.