Chapter 3
Don't Like, Don't Read!
Happy Reading genk~
..
..
..
Sudah 3 hari sejak kejadian itu. Aku dan Naruto memlih untuk diam dan tak saling bertegur sapa. Sepertinya Naruto sangat marah padaku. Ahh apa peduliku? Dia hanya makhluk egois yang menganggapku seorang pengemis. Kepalaku sedikit sakit saat melihat kenyataan bahwa akhir Desember nanti aku akan meninggal. Itu berarti 3 bulan lagi aku akan meninggal. Dibuku itu tidak dituliskan alasan mengapa aku bisa meninggal. Penyakit kronis? Setahu ku aku tak punya penyakit seperti itu. Walau tubuh ku kurus aku ini sehat.
"ughh.." aku memegang kepalaku yang berdenyut sakit. Terlalu memikirkan hal-hal seperti itu membuat kepala ku makin sakit.
"Sasuke-kun kau tidak apa-apa?" tanya Kakashi. Aku menggeleng kearahnya.
"aku tidak apa-apa Kakashi-san" aku mencoba tersenyum kearahnya. Kakashi memberikan obat sakit kepala kepadaku. "minumlah, wajahmu pucat" kata Kakashi khawatir. Aku mengambil obat itu dan mengucapkan terima kasih padanya.
Ah, sudah 3 hari aku bekerja disini. Kakashi-san adalah orang yang baik. Dia bilang kalau dia sebatang kara, dia bahkan menganggapku seperti adiknya sendiri. Aku yakin, dia pasti akan menjadi seorang kakak yang baik.
Kring! Lonceng dipintu toko berbunyi. Pertanda ada pelanggan yang datang ke toko ini.
"selamat datang, anda ingin pesan apa?" tanya ku
"jadi disini termpat mu bekerja Sasuke?" orang itu tersenyum kearah ku.
"Naruto? Sedang apa kau disini?" tanya ku. "hanya sedang jalan-jalan. Kebetulan perutku lapar jadi aku mampir kesini" katanya. "jangan berbohong padaku, aku tahu kau ingin membicarakan sesuatu padaku" kataku dingin. Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman
"maaf, aku sedang bekerja sekarang" kataku. Ia mendengus kecewa. "oh ayolah, ini tak akan lama" lanjutnya.
"Sasuke-kun, bukankah sekarang waktu istirahatmu? Kau bisa istirahat sekarang" kata Kakashi yang sedang mengelap meja. Aku hanya mendengus. Bagus, sekarang aku harus berduaan dengan si pirang bodoh ini.
Kami duduk disamping sebuah jendela besar yang mengadap jalanan. Dimeja kami sudah tersedia roti gandum coklat dan sebuah chesse cake. Tak lupa secangkir capucinno hangat dan segelas susu coklat.
"terima kasih Kakashi-san" kataku ketika Kakashi mengantarkan minuman itu ke meja kami. Kakashi hanya tersenyum lalu meninggalkan kami.
"jadi, dia itu atasan mu?" Naruto mengambil potongan roti gandum itu.
"hng" kataku malas. Kami terdiam sesaat.
"Sasuke, maafkan aku. Aku tahu kalau aku salah" kata Naruto.
"..." aku tak membalas perkataannya.
"aakhh! Kau tahu aku benar-benar tersiksa jika sedang marahan dengan mu! kau tahu! aku bahkan kelaparan karena kau tidak pernah masak dirumah!" kata Naruto dengan ekspresi yang benar-benar menyesal. Aku menghembuskan nafasku.
"baiklah, aku maafkan. Tapi bisakah kau tidak mengatur kehidupan pribadi ku? Aku ingin hidup mandiri" kataku sambil meminum susu coklat itu.
"yeah aku tahu. Tapi saat itu aku benar-benar refleks! Maksudku aku tidak suka jika kau bekerja dengan orang lain. Ada perasaan aneh yang mengganjal dihatiku. Seperti perasaan kekhawatiran?" Naruto menggaruk rambutnya yang tak gatal. Aku terkekeh geli.
"Dengar Naruto, aku ini sudah dewasa. Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan lagi, kau itu bukan ibu ku jadi jangan pernah mengatur kehidupan ku" kataku. Naruto hanya mendengus kesal.
"hei hei teme, apa kau tidak curiga dengan atasan mu? maksudku lihatlah dia, penampilannya sangat mencurigakan. Ditambah lagi dia menggunakan masker! Apa jangan-jangan dia seorang buronan yang sedang bersembunyi? Mungkin saja dia sedang menyembunyikan identitasnya" bisik Naruto. Aku terdiam. Kenapa ia bisa berpikiran seperti itu?
"uhuk! Maaf saja jika penampilan saya mencurigakan seperti buronan. Saya menutup wajah saya dengan masker bukan karena saya menyembunyikan identitas saya" tiba-tiba kakshi berdiri dibelakang Naruto. Ia menyerahkan kartu tanda pengenalnya pada Naruto.
Glek! Tiba-tiba wajah Naruto memucat.
"ma—maafkan aku!" Naruto berdiri sambil menunduk meminta maaf. Kakashi hanya tersenyum. Ia membuka maskernya. Wajahnya terlihat sangat tampan, namun ada sebuah luka bakar disalah satu pipinya.
"aku menutup wajahku dengan masker karena wajahku cacat. Ada luka bakar tepat dipipiku. Saat aku menggoreng donat minyaknya mengenai wajahku. Maka dari itu aku menutupinya" ujarnya. Naruto menunduk malu.
"makanya, jangan pernah melihat seseorang dari luar saja! Kau ini" aku menjitak kepala Naruto. Ia hanya meringis kesakitan. Kakashi tertawa melihat tingkah konyol kami.
"jadi ini sahabat mu ne? Sasuke-kun?" tanya Kakashi. "eh? Sahabat? Bukan. Dia bukan sahabat ku. Aku tak punya teman" kataku. Naruto mendengus kesal.
"jangan dengar perkataan Sasuke. Namaku Uzumaki Naruto, aku teman Sasuke sekaligus teman satu atapnya Sasuke" Naruto berjabatan tangan dengan Kakashi. Kakashi terlihat bingung, ia menatap ku dengan tatapan menyelidik.
"hahhh, jika ada waktu akan kujelaskan nanti" kataku.
Akhirnya kami bertiga saling mengobrol satu sama lain.
..
..
..
Hari sudah malam, aku dan Naruto berpamitan untuk pulang. Lagi pula toko juga sudah tutup. Aku dan Naruto berjalan menuju rumah kami. Naruto terus mengoceh sepanjang jalan. Terkadang aku mendengus malas, entah kenapa si pirang bodoh itu suka sekali berbicara.
"Sasuke—" tiba-tiba Naruto memanggil ku. Aku menatapnya.
"—ternyata Kakashi-san baik juga" guman Naruto. Aku tersenyum sinis ke arahnya.
"hah! Makanya jangan asal omong sebelum kau mengenalnya! Aku bahkan sangat bersyukur bisa bekerja dengannya" kataku. Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya.
"ada ap—"
"jangan terlalu dekat dengannya Sasuke, aku merasakan ada hal yang ia sembunyikan" kata Naruto, ia mendekatkan wajahnya kewajahku. Mata kami saling bertemu. Karena meresa risih ku sentil keningnya hingga memerah. Ia meringis kesakitan.
"bisakah kau berhenti berpikiran negatif tentang Kakashi-san?" kataku. Naruto hanya mendengus kesal. Angin malam berhembus cukup kencang. Hawa dingin tiba-tiba menusuk tulangku
"hachiu!" aku menggosok hidungku.
"astaga, kau ini. Hanya karena angin malam seperti ini kau malah bersin. Ini pakailah! Aku tak ingin kau terkena flu lagi" Naruto memberikan jaketnya kepadaku. Aroma jeruk yang ada dijaket itu tercium oleh hidung ku. Tunggu? Aroma ini.. aku.. aku tau aroma ini!
"ughh!" tiba-tiba kepalaku berdenyut lagi. "Sasuke! Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir. Aku tak menjawab. Astaga kenapa kepalaku sangat sakit.
"Naruto itu sangat suka ramen! Saat aku besar aku pasti akan memsakan ramen untuk nya"
"nii-chan! Mau kah kau mengajariku memasak ramen?"
"eh? Ini kan baju Naruto? wanginya— seperti jeruk"
"hahh! Kau ini memang merepotkan!" Naruto menggendongku dipunggungnya.
"lihatlah! Kau ini ringan sekali, seharusnya kau banyak makan agar kau tidak mudah sakit" ucap Naruto. Aku hanya terdiam. Tak membalas ocehannya. Aku melingkarkan tanganku dilehernya. Memeluknya erat seakan tak mau jauh darinya.
Naruto memandang aneh kearahku.
"aku melingkarkan tanganku ke leher mu supaya aku tidak jatuh. Jangan berpikir yang macam-macam" kataku kesal. Naruto tertawa dengan keras. "baiklah, pegangan yang kuat ya tuan putri. Aku akan berlari agar kita cepat sampai dirumah" ucap Naruto
"eh? a—apa?!" Naruto berlari sangat kencang. Aku semakin mengeratkan peganganku pada lehernya. Naruto menambah kecepatan berlarinya. Tiba-tiba perutku terasa mual. Kepala ku juga tambah pusing. Ughh.. rasanya aku ingin pingsan.
"Sasuke bagaimana? Kau senang ti— gyaaa! Jangan muntah dibajuku!" kata Naruto panik.
Kami berhenti disebuah taman yang sepi.
"bagaimana? Sudah enakan?" tanya Naruto. Aku mengangguk. "ini semua salah mu, siapa suruh kau berlari" protesku.
"hehehehe.. maaf" ia tersenyum bodoh kearahku. Kami berdua terdiam. Hanya suara jangrik dan hembusan angin malam yang terdengar di telinga kami.
"Sasuke, apa yang terjadi dengan mu? akhir-akhir ini aku melihatmu seperti orang kesakitan. Memang apa yang terjadi dengan mu? apa kau terkena kanker otak?" ucapnya dengan asal-asal. Huh? Kanker otak? Sialan, seenaknya saja berbicara seperti itu. Rasanya aku ingin mengulitinya hidup-hidup.
Aku menatapnya dengan sinis. Naruto bergidik ngeri.
"entah lah aku tak tahu, saat kepalaku sakit aku seperti melihat pecahan-pecahan ingatanku yang hilang" kataku. "hilang? Maksudmu kau kehilangan ingatanmu?" tanya Naruto. Aku mengangguk.
"aku kehilangan ingatanku saat umurku 5 tahun. Saat itu aku mengalami kecelakaan. Orang tua serta kakak ku tewas ditempat" kataku. Naruto terdiam, ia terlihat menyesal karena mengingatkan ku pada masa lalu ku.
"dokter bilang padaku kalau ingatanku selama 5 tahun itu sudah hilang. Namun akhir-akhir ini aku mulai mengingatnya. Saat aku kecil ada seorang bocah yang seumuran denganku menolongku dari serangan anak-anak nakal. Bocah itu terlihat sepeti pahlawan kesiangan. Melihatnya saja membuatku ingin muntah" kata ku. Naruto tersenyum sambil mengacak-acak rambut ku.
"tenang. Aku akan membantu mu untuk mengingat kembali ingatanmu yang sudah hilang. Ngomong-ngomong, bocah yang kau ceritakan itu memang menjijikan sekali. Berlagak seperti pahlawan. Jika aku ada disana pasti aku akan menertwai bocah sok pahlawan itu hahahaha" Naruto tertawa sangat keras. Aku tersenyum melihatnya. Ah, bagaimana jika aku menceritakan tentang buku harian itu pada Naruto? mungkin saja ia akan membantu ku.
"Naruto, apa kau tahu Time travel?" tanyaku. Naruto menatapku bingung. "maksudmu perjalanan waktu?" lanjutnya. Aku mengangguk.
"tentu saja aku tahu" ucapnya bangga.
"lalu apa kau percaya jika ada seseorang yang mendapatkan keajaiban untuk mengetahui masa depan?" tanyaku. Naruto mulai berpikir keras.
"maksud mu?" tanyanya
"yeah, maksudku keajaiban untuk mengetahui masa depan. Aku pernah baca disebuah artikel. Ada seseorang yang mendapat buku misterius. Ternyata buku itu dikirim oleh 'dirinya' yang ada di masa depan. Buku itu berisi kejadian-kejadian dimasa depan yang tidak pernah diketahui olehnya. Intinya buku itu adalah buku ajaib yang bisa meramal masa depan. Menurutmu apa kau percaya dengan kejadian itu?" tanya ku. Naruto terdiam. Ia mulai berpikir keras. Sudah 5 menit aku menunggu jawaban Naruto tapi dia masih asyik berpikir.
"er—tadi kau ngomong apa Sasuke?" tanyanya lagi. Ugh! Rasanya ingin kupukul kepalanya yan bodoh itu. Sudah kuduga, percuma aku bertanya padanya.
"sudah, lupakan saja. Ayo kita pulang" kataku. Naruto sedikit protes namun aku tidak mempedulikannya.
.
.
.
Sesampainya dirumah kami hanya terdiam. Entahlah kurasa keadaan kami menjadi canggung. Setelah mencuci mukanya Naruto berpamitan untuk tidur. Tapi entah kenapa aku mencegahnya. Naruto menatapku dengan ekspresi kesal. Aku meneguk salivaku.
"Naruto—" panggiku. Aku menggigit bibir bawahku. "—jika 3 bulan lagi aku akan meninggal apa yang akan kau lakukan?" tanyaku. Ia terlihat bingung dengan pertanyaanku.
"hmm.. jika kau meninggal 3 bulan lagi maka aku akan menyediakan pemakaman yang layak untuk mu" katanya sambil terkekeh geli.
"oh terima kasih. Kau memang teman yang baik" sindir ku. Aku membuka pintu kamar ku. Sudahlah, berbicara dengannya hanya akan menguras tenagaku.
"Sasuke—" Naruto memanggilku. "—aku yakin kau tidak akan mati secepat itu. Kau itu orang yang kuat. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau bisa menjaga dirimu sendiri? Lagi pula aku akan selalu ada disampingmu. Melindungimu" ia tersenyum kearahku.
"terima kasih Naruto" ucapku. Naruto memang bodoh, tapi aku yakin dia orang yang baik.
..
..
..
..
Keesokan harinya seperti biasa. Selesai kuliah aku pergi kerja sambilan di toko roti milik Kakashi. Keadaan toko hari ini tidak terlalu ramai. Dengan begini aku bisa beristirahat sejenak. Setelah mendengar perkataan Naruto entah kenapa jantungku berdetak sangat kencang. Apa yang terjadi dengan ku? Apa aku mulai menyukai Naruto?
Aku menggelengkan kepalaku. Tidak, tidak, tidak. Naruto mencintai Hinata. Mana mungkin ia mencintai mu Sasuke!
"Sasuke-kun. Bisakah kau menjaga toko ini sebentar? Aku ingin pergi ke supermarket. Sepertinya kita kehabisan tepung" kata Kakashi.
"ja—jangan!" cegahku. Kakashi menatapku bingung.
Sabtu, 30 september 2015
Kakashi-san menjadi korban perampokan. Andai saja saat itu aku mencegahnya untuk pergi ke supermarket. Pasti hal ini tidak akan terjadi. Kakashi-san mengalami luka bacok dipunggungnya. Ia dilarikan kerumah sakit. Dokter bilang lukanya tidak terlalu dalam tapi Kakashi-san harus dirawat dirumah sakit selama seminggu.
(*) cegah Kakashi. Jangan biarkan ia pergi ke supermarket.
"ada apa Sasuke-kun?" tanya Kakashi. Aku terdiam. Tubuhku bergetar hebat. Aku harus menolong Kakashi.
"kumohon, Kakashi-san jangan pergi kemana-mana. Tetaplah disini" kataku
"memang kena—"
"di supermarket itu ada seorang perampok. Jika Kakashi-san pergi kesana maka kau lah yang akan menjadi korban kemarahan perampok itu" kataku. Kakashi terdiam. Ia melepas kembali jaketnya dan memilih duduk disalah satu kursi disana.
"baiklah, jika itu mau mu" ucapnya. Keheningan menyelimuti kami. Untuk menghilangkan kecanggungan Kakashi menyalakan televisi.
Telah terjadi perampokan disebuah supermarket didekat stasiun x. Perampok tersebut berhasil mengambil dompet sang korban. Korban yang menerima luka bacok dipunggungnya kini dibawa kerumah sakit tedekat—
"a—apa?" Kakashi menatap televsi itu tak percaya. Ia menoleh kearahku. "Sa—Sasuke-kun? Ba—bagaimana bisa kau—"
"aku punya buku yang bisa membaca masa depan" kataku santai. Kuhampiri Kakashi dan duduk dihadapannya. Ke keluarkan amplop yang berisi buku harian itu lalu aku tunjukan kepada Kakashi. Kuharap ia bisa membantu ku. Hanya dialah yang benar-benar aku percayai selain Naruto.
Kakashi membaca helai demi helai kertas itu. "apa maksudnya ini?" tanyanya
"Kakashi-san, apa kau percaya Time travel?" tanyaku. Ia hanya terdiam, memandangiku dengan ekspresi bingung.
"aku menerima buku ini sekitar 3 minggu yang lalu. Ada seseorang yang memasukan amplop ini kedalam kotak surat ku. Sesuai dengan tulisan yang tertulis disini kalau buku misterius ini dikirim oleh 'diriku' yang berasal dari masa depan" kataku. Kakashi mulai membaca surat yang dikirimkan 'diriku' yang ada dimasa depan.
"buku ini seperti buku harian. 'diriku' yang ada dimasa depan meminta tolong padaku untuk menghapus penyesalannya. Disini tertulis kejadian-kejadian yang terjadi dibulan ini." Kataku menjelaskan. Kakashi mulai terkekeh geli.
"mungkin ini hanya kerjaan orang iseng" katanya. Aku menggeleng.
"jika ini kerjaan orang iseng lalu bisakah kau jelaskan kenapa kejadian di supermaket itu benar-benar terjadi" kataku. Aku menunjukan lembaran kertas yang tertulis hari dan tanggal yang sama dengannya.
Sabtu, 30 september 2015
Kakashi-san menjadi korban perampokan. Andai saja saat itu aku mencegahnya untuk pergi ke supermarket. Pasti hal ini tidak akan terjadi. Kakashi-san mengalami luka bacok dipunggungnya. Ia dilarikan kerumah sakit. Dokter bilang lukanya tidak terlalu dalam tapi Kakashi-san harus dirawat dirumah sakit selama seminggu.
(*) cegah Kakashi. Jangan biarkan ia pergi ke supermarket.
Kakashi terdiam. Ia menatap ku dengan pandangan horor. "ba—bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya. Aku menggeleng.
"dengar Sasuke-kun. Apa buku ini sudah menganggu hidup mu?" tanya Kakashi.
"sejauh ini aku tidak terganggu" kataku. Kakashi mengusap kedua pipiku. Seakan-akan ia takut jika aku terluka. Ku lihat wajahnya yang terlihat sangat khawatir.
"dengar Sasuke-kun. Lebih baik kau buang buku aneh ini. Aku takut jika terjadi hal buruk padamu" katanya. Aku tersenyum lembut kearahnya. "tidak Kakashi-san. Aku tidak bisa membuang buku ini. 'diriku' yang ada dimasa depan meminta tolong padaku agar aku menghapus semua penyesalannya. Aku harus membantunya. Lagi pula ini menyangkut kehidupan ku sendiri" kataku. Kakashi hanya terdiam.
"baiklah jika kau merasa tidak terganggu. Tapi jika ada hal yang mencurigakan lebih baik kau laporkan pada polisi" kata Kakashi.
"iya aku mengerti. Tapi Kakashi-san ada hal yang ingin aku tunjukan padamu—" kataku. Ku buka halaman terakhir yang ada dibuku tersebut.
"Sa—Sasuke-kun. I—ini.." wajah Kakashi memucat.
"yeah, tepat pada tanggal 25 desember aku akan meninggal. Aku tak tahu alasan mengapa aku bisa meninggal." Kataku. Tiba-tiba Kakashi memelukku dengan sangat erat, seolah-olah ia tidak ingin kehilangan diriku.
"tenang lah Sasuke-kun. Aku pasti akan melindungi mu. Aku yakin takdir pasti bisa diubah" katanya. Aku hanya terdiam, ku balas pelukannya itu. Hangat.. entah kenapa aku merasa sangat nyaman. Tak terasa aku meneteskan airmataku. Takut, sungguh aku sangat takut. Hidupku tinggal sebentar lagi.
..
..
..
[Author POV]
Naruto duduk dibawah pohon Sakura dikampusnya. Ia hanya menatap kosong kedepan. Banyak pikiran yang melintas dikepalanya.
"—jika 3 bulan lagi aku akan meninggal apa yang akan kau lakukan?"
Perkataan Sasuke saat itu benar-benar menganggu pikirannya. Kenapa? Kenapa Sasuke yang dingin dan minim ekspresi itu bisa berbicara seperti itu? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan? Dan lagi, kenapa hanya Sasuke yang ada dipikiran Naruto?
"aakhhh! Sial!" Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Na—Naruto-kun. Apa aku mengganggu mu?" tanya Hinata yang sudah berdiri dihadapan Naruto.
"Hi—Hinata-chan?!" Naruto sedikit terkejut dengan kehadiran Hinata. Hinata hanya tersenyum, ia pun duduk disamping Naruto.
"kau terlihat murung akhir-akhir ini? Apa kau ada masalah?" tanya Hinata sambil menatap khawatir ke arah kekasihnya itu. Naruto hanya tersenyum sambil mencubit pipi Hinata gemas.
"tidak. Aku tidak apa-apa" jawab Naruto. Hinata tersenyum sambil mengusap pipinya yang berdenyut sakit.
"Naruto-kun, jika kau punya masalah tidak ada salahnya kalau kau menceritakanya padaku. Mungkin kau pikir aku selalu ikut campur dengan urusan mu, namun aku hanya ingin menolongmu walau tak seberapa" ucap Hinata. Naruto yang mendengar kekasihnya berbicara seperti itu hanya tersenyum. Ia sangat bersyukur memiliki seorang wanita yang sangat perhatian seperti Hinata.
"aku bersyukur memiliki kekasih perhatian seperti dirimu Hinata" ucap Naruto sambil mencium mesra pipi Hinata. Hinata yang kaget atas perlakuan Naruto hanya menundukan wajahnya. Menutupi rona merah dikedua pipinya.
"ah! ba—bagaimana kalau kita makan siang? A—aku membawakan makanan untuk mu" Hinata mengeluarkan kotak bekal berwarna merah muda didalam tasnya.
"benarkah? Aahh syukurlah, kau tahu aku sangat lapar sekarang" Naruto tersenyum senang. Hinata terkekeh geli melihat tingkah laku kekasihnya. Ia membuka kotak bekalnya.
"huoohh kue kering? Aku suka kue kering! Apa lagi biskuit!" kata Naruto bersemangat. Hinata terdiam. Ia memandang aneh ke arah Naruto.
"eum Naruto-kun, ini bukan kue kering. Ini cupcake" ucap Hinata. "a—apa?" Naruto menggosok kedua matanya memastikan penglihatannya tidak salah. Namun benar apa yang Hinata katakan. Disana tak kue kering, melainkan hanya ada cupcake coklat dengan krim putih diatasnya.
Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aneh, kenapa ia mengatakan kue kering? Naruto yakin jika matanya tidak minus.
"ah! ji—jika Naruto-kun suka kue kering lain kali aku akan membuatnya. Aku tidak tahu kalu ternyata Naruto-kun juga suka kue kering" ucap Hinata.
"—aku menemukan sekantong kue kering didalam loker ku. Kupikir, orang yang menaruh kue ini salah loker ternyata tidak. Kue itu bentuknya seperti wajahku. Karena aku lapar akupun memakan kue itu. Aku tercengang! Rasa kue itu sangat enak! Lebih enak dari masakan ibu ku! Baru kali ini aku memakan kue kering paling enak sepanjang masa. Aku tak tahu siapa yang membuat kue ini, namun jika aku bertemu dengan nya aku akan mengucapkan terimakasih padanya dan akan menjadikannya sebgai istriku"
"ughhh.." Naruto memegang kepalanya yang berdenyut. Ingatan saat ia kecil dulu tiba-tiba terputar kembali.
"Na—Naruto-kun? Kau tidak apa-apa?" tanya Hinata. Naruto menggeleng. "maaf Hinata, sepertinya aku tidak enak badan. Aku ingin pulang sekarang. Aku permisi" pamit Naruto. Ia meninggalkan Hinata sendirian dibawah pohon Sakura yang teduh itu. Hinata memandang punggung Naruto yang semakin menjauh.
"Naruto-kun, apa yang terjadi dengan mu?"
..
..
..
..
Jam menunjukan pukul 12 malam. Suasana sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu lalang. Sepertinya mereka adalah pekerja lembur.
Naruto berjalan dengan lunglai menuju rumahnya. Dirapatkan jaketnya agar hawa dingin tidak masuk ketubuhnya. Ia baru saja selesai pergi minum-minum dengan sahabat-sahabatnya. Naruto pikir dengan pergi minum semua pikiran yang ada diotaknya akan hilang. Namun nyatanya tidak, bayang-bayang Sasuke masih selalu berada dipikirannya.
"aku pulang" ucap Naruto sambil membuka pintu.
"..." tak ada jawaban, rumahnya benar-benar sepi. "mungkin Sasuke sudah tidur" guman Naruto. Ia melepaskan jaketnya dan mengambil handuknya, bersiap-siap untuk mandi.
Saat melewati meja makan, ia melihat sebuah cup ramen instant. Diatas cup ramen itu terdapat sebuah kertas kecil.
"makanlah ini jika kau lapar. Maaf aku tak bisa membuat makan malam aku sangat lelah"
Naruto membaca isi kertas itu. Ia memilih menaruh ramen instant itu kedalam rak makanan. Toh sekarang dia sudah kenyang. Narutopun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi dan mengenakan baju tidurnya, Naruto melirik ke kamar tidur Sasuke. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Sasuke. Kamarnya gelap, hanya ada lampu tidur yang menyala disamping ranjang Sasuke. Naruto perlahan mendekati Sasuke. Ia tersenyum melihat Sasuke yang tertidur sangat lelap. Wajahnya terliha sangat kelelahan.
"kapan terakhir ia memotong rambutnya?" guman Naruto saat melihat rambut hitam Sasuke nyaris menutupi wajahnya. Dengan perlahan, Naruto membetulkan tatanan rambut Sasuke. Menyelipkan rambut panjang Sasuke kebelakang telinganya. Sasuke tidak merasa terganggu, sepertinya ia benar-benar kelelahan sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Naruto.
Naruto berjongkok dihadapan Sasuke. Ia genggam tangan ramping nan halus milik Sasuke.
"aku yakin sekali, kita pasti pernah bertemu disuatu tempat Sasuke. Tapi dimana? Kenapa aku tidak ingat?" guman Naruto. Ia semakin mengenggam erat jari-jari tangan Sasuke.
"kau tahu, saat aku berduaan dengan Hinata kenapa kau selalu muncul dikepala ku? Lalu, saat aku memikirkan kue kering kenapa hanya kau yang terbesit dipikiran ku?" lirih Naruto.
"siapa kau sebenarnya, Sasuke?"
DRTTT.. DRTTT.. tiba-tiba handphone Naruto bergetar. Ia memilih meninggalkan Sasuke, takut membuat Sasuke terbangun. Setelah menutup pintu kamar Sasuke, Naruto berjalan menuju balkon rumahnya.
"Naruto-kun? Apa aku menganggu mu?" tanya Hinata diseberang sana
"tidak, ada apa kau menelpon ku, Hinata-chan?" tanya Naruto
"apakah besok kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu pergi ke onsen. Bagaimana? Apa kau bisa?" tanya Hinata. Naruto berpikir sejenak.
"eum baiklah" kata Naruto. Hinata tersenyum.
"besok aku tunggu distasiun jam 9. Oyasuminasai Naruto-kun. Aku mencintai mu" ucap Hinata lembut.
"oyasumi, aku juga mencintai mu" balas Naruto. Sambungan telepon pun terputus. Naruto menghela nafasnya.
"tak apalah, anggap saja ini liburan. Lagi pula sudah lama aku tidak pergi berduaan dengan Hinata" guman Naruto sambil tersenyum. "—aku harap dengan begini pikiran ku akan menjadi jernih" lanjutnya.
..
..
..
..
[Sasuke POV]
Sinar Matahari memaksa masuk dari sela-sela tirai ku. Aku meregangkan tubuhku yang sedikit pegal karena posisi tidurku.
"hm? Wangi parfum jeruk?" guman ku. Apa semalam Naruto kemari? Untuk apa dia kemari? Tak mau ambil pusing aku memilih untuk pergi kekamar mandi dan mencuci muka ku. Lagi pula aku harus menyiapkan sarapan untuk Naruto.
Setelah mencuci muka, aku membuka laci dan mengambil buku berwarna biru itu. Hmm.. kira-kira kejadian apa yang akan terjadi hari ini? Aku mulai membaca kata-kata yang terlulis dikertas biru itu.
Minggu, 1 Oktober 2015
Naruto bilang padaku kalau ia akan pergi menginap di onsen bersama Hinata selama 2 malam. Naruto terlihat bahagia ketika ia membayangkan akan berduaan dengan Hinata. Aku hanya menjawabnya dengan malas. Lagi pula aku tidak peduli ia pergi dengan siapapun.
(*) jangan biarkan mereka berdua pergi. Cegah Naruto, aku mohon padamu.
"mereka pergi ke onsen hanya berdua?" gumanku. Entah kenapa hati ku sakit melihatnya. Apa ini? Apa aku menyukai Naruto? tapi, Naruto itu milik Hinata, ia mencintai Hinata. Lalu, apa-apaan perintah ini? Kenapa 'diriku' yang berada dimasa depan begitu egois? Bagaimanapun juga, Naruto hanya mencintai Hinata. Aku tahu itu.
"Sasuke? Apa kau sudah bangun?" Naruto mengetuk pintu kamar ku. "ah? iya" balas ku. Aku membuka pintu kamarku dan benar saja Naruto sudah terlihat rapih. ia bahkan sudah menenteng tas yang ku yakini berisi bajunya.
"aku mau pergi menginap di onsen bersama Hinata. Tidak lama kok, hanya 2 malam saja. Kau jaga rumah ya?" katanya. Aku terdiam enggan menjawab.
"hehehehe, bilang saja kau takut sendirian teme" ejek Naruto, aku hanya menatapnya dingin.
"—tenang saja teme. Aku akan membawakanmu oleh-oleh. Sudah ya, aku pergi dulu. dahh"pamitnya. Ia meninggalkan ku sendirian disini.
"ha—hati-hati, Naruto.." guman ku.
..
..
..
..
"terima kasih sudah datang ke toko kami" kataku pada seorang pelanggan. Pelanggan itu tersenyum padaku.
"hei hei, Sasuke-kun kau tahu! ternyata omset penjualan kita naik drastis" ucap Kakashi
"benarkah?" kataku pura-pura tertaik. Kakashi mengangguk penuh semangat. Ia menghampiriku dan merangkulku.
"hmm, bagaimana kalau kita pergi ke onsen? Kutraktir biayanya" kata Kakashi. Aku berpikir sejenak.
Minggu, 1 Oktober 2015 ( pukul 15.00 )
Kakashi-san mengajak ku pergi ke onsen. Dan kau tahu, semua biayanya dia yang traktir! Wow, bukankah itu kesempatan emas. Lagi pula dirumah juga tidak ada siapa-siapa, lebih baik aku berlibur dengan Kakashi-san.
(*) jangan terima ajakannya! Jangan pernah pergi berdua dengannya!
"baiklah aku ikut" kataku. Kakashi tersenyum sambil memelukku erat.
Entah sudah berapa kali aku melalaikan perintah dibuku itu. Kadang aku berpikir, kenapa 'diriku' yang ada dimasa depan begitu egois? Jika memang ini demi kebaikan ku maka aku lebih memilih mati dengan rasa penyesalan dari pada mati dengan sifat keegoisan.
..
..
..
..
Aku menyiapkan pakaian ku dan memasukaannya dalam tas. Setelah kurasa sudah lengkap aku menutup pintu rumah dan menguncinya. Aku menghampiri Kakashi yang sudah menunggu didalam mobilnya. Akhirnya kami pun pergi ke onsen.
Suasa di onsen tersebut tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang mandi disana. Penginapannya juga tidak terlalu ramai.
Aku meletakkan tas ku di atas lantai tatami. Ku pakai yukata berwarna putih gading itu. Ahhh aku ingin cepat-cepat berendam air panas. Saat aku membuka pintu pemandian itu sebuah senyuman menyambutku. Kakashi melambaikan tangannya seakan mengajak ku untuk berendam dikolam air panas tersebut. Aku tersenyum lalu menghampirinya. Ah? apa ini rasanya memiliki seorang kakak?
Aku dan Kakashi berbicara panjang lebar disana. Maklum dipemandian itu hanya ada aku dan Kakashi. Lagi pula mana ada orang yang ingin mandi jam 9 malam?
Saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba pintu pemandian terbuka.
"loh? Bukankah kau Sasuke?" tanya seorang pria dengan tato segitiga terbalik di pipinya. Aku memandangnya bingung. Kenapa dia bisa tahu nama ku? Pria itu menghampiriku. Dia ikut berendam disamping ku.
"hahahaha.. kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu nama mu" kata pria itu. Aku hanya memandangnya risih, bagaimana tidak? Dia merangkul ku dengan mesra dihadapan Kakashi. Astaga mau taruh dimana mukaku?
"nama ku Kiba, aku sahabatnya Naruto" kata orang itu sambil berjabatan tangan dengan ku. "err.. pria yang didepan mu siapa?" bisik Kiba.
"oh? Namanya Hatake Kakashi, dia bos ku" kataku.
"hei, jangan bilang kau datang ke sini berdua dengannya?" bisiknya lagi. Aku memandangnya risih. "kalau ia memang kenapa?" tanyaku. Kiba tertawa, sungguh orang yang aneh.
"ku kira kau datang kesini bersama Naruto" kata Kiba. Aku memandangnya bingung.
"Na—Naruto?" tanyaku. Kiba mengangguk. "iya, dia menginap disini bersama Hinata. Kebetulan sekali aku, Neji, Shikamaru, Chouji, Ino, dan Sakura bertemu mereka berdua disini" ucap Kiba. Aku terdiam.
"waaahh.. kebetulan sekali ya" kata Kakashi sambil tersenyum. Kiba lagi-lagi mengangguk. "nanti malam kami akan mengadakan pesta barbeque. Kalian mau ikut?" tanya Kiba.
"tentu saja kami ikut, iya kan Sasu—"
"aku tidak ikut" ucapku. Pergi memasak barbeque dengan Naruto? lalu melihat ia bermesraan dengan Hinata? Tidak, lebih baik aku tidur dikamar. Kakashi dan Kiba menatapku dengan ekspresi bingung
"—aku sedang tidak enak badan" kataku bohong. Kakashi dan Kiba mengangguk.
"baiklah, jika kau tidak enak badan lebih baik kau beristirahat dikamar" kata Kakashi
"hng.." jawabku seadanya.
..
..
..
..
[Naruto POV]
"Naruto! jangan melamun! Nanti dagingnyya gosong!" teriak Sakura
"hng.." jawabku malas. Sial, kenapa ini bisa terjadi? Bagaiman bisa para penganggu itu menginap di onsen ini? Ahh mungkin ini bukan hari keberuntungan ku.
Aku memandang langit malam. Tak ada bintang disana, langitnya juga terlihat mendung. Ahhh.. aku jadi khawatir dengan keadaan Sasuke. Sekarang dia sedang apa? eh? tunggu? Untuk apa aku memikirkan si teme itu? astaga sepertinya aku sudah gila,
"Naruto-kun, jika kau tidak enak badan biar aku saja yang memasak dagingnya" tawar Hinata. Aku menggeleng. "aku tak apa-apa, lebih baik kau bantu Sakura dan Ino menyiapkan meja makan. Sepertinya dagingnya sebentar lagi matang" kataku sambil tersenyum ke arahnya. Hinata mengangguk, ia melakukan apa yang aku perintahkan.
"haiii semuanya! Kiba datang membawa tamu baruuuu!" tiba-tiba Kiba berteriak sangat kencang
"bisakah kau pelankan suara mu? dasar merepotkan!" ucap Shikamaru sinis. Kiba hanya terkekeh.
"errr Kiba, siapa yang kau bawa itu?" tanya Chouji. Sakura dan Ino melirik orang yang dibawa Kiba itu.
"astaga tuan! Anda tampan sekali!" puji Sakura dan Ino dengan wajah yang memerah.
"perkenalkan, namanya Hatake Kakashi. Aku baru saja berkenalan dengannya di pemandian. Sebenarnya ada 1 orang lagi tapi dia bilang dia tidak mau ikut karena tidak enak badan" ucap Kiba. Aku terdiam. Apa? Hatake Kakashi? Aku menatapnya sinis.
"oh? Naruto? ternyata kau disana." Kakashi tersenyum kearah ku. Aku menghampirinya.
"jangan katakan kalau kau datang bersama Sasuke" tanyaku sinis. Kakashi hanya tersenyum.
"sepertinya tebakanmu benar" lanjutnya. Aku mengepalkan kedua tangaku dengan kencang hingga telapak tanganku memutih.
"dimana Sasuke?" tanyaku
"dia ada dikamar. Sepertinya sedang istirahat" jawabnya santai. Aku langsung pergi meninggalkan Kakashi. Sahabat-sahabat ku termasuk Hinata hanya memandang bingun kearah ku. Aku tak peduli dengan mereka, yang jelas yang ada dipikiran ku hanya 1.
Menemukan Sasuke.
Entah kenapa emosiku memuncak. Bagaimana bisa dia pergi berduaan dengan Kakashi? Bukankah sudah kukatakan pada Sasuke untuk tidak terlalu dekat dengan Kakashi? Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kakashi. Aku yakin dia bukan orang yang baik.
Brak! Ku dobrak pintu itu. kulihat Sasuke sedang duduk dibalkon sambil meminum teh hijaunya. Ia hanya mengenakan yukata merah bermotif bunga. Sasuke yang merasa terganggu menoleh ke belakang.
"Na—Naruto?" wajahnya memucat. Dengan kasar aku menarik tangannya hingga gelas keramik yang ia pegang terlepas.
Aku menarik tangan Sasuke dengan keras. Ia sedikit meringis kesakitan. Aku membawanya keluar dari onsen, masuk kedalam hutan yang tak jauh dari onsen tersebut. Langit makin bergemuruh, aku yakin sebentar lagi akan turun hujan.
Brak! Aku mendorong bahu Sasuke ke dahan pohon yang besar.
"kenapa kau pergi?" tanyaku. Sasuke menatapku bingung.
"kenapa kau pergi dengan orang itu? kenapa kau pergi berduaan dengan Kakashi? Bukankah sudah ku bilang jangan mendekatinya!" kataku. Sasuke hanya terdiam. Ia menggigit bibirnya.
Tes.. tess.. tess... gyurrrr! Tiba-tiba hujan deras turun membasahi bumi. Yukata kami basah, rambut kami pun basah. Aku bisa merasakan hawa dingin masuk kedalam kulitku.
"dengar Sasuke! Kakashi buka orang yang baik! Aku bisa merasakan aura jahat dari dalam dirinya! Berhentilah mendekatinya" kataku. Kucengkram bahu Sasuke dengan kuat.
"apa urusan mu?" tanyanya. "—kau bukan siapa-siapaku? Kenapa kau marah jika aku dekat dengan Kakashi?" tanyanya. Ia menatapku tajam. Wajah putihnya makin memucat.
"itu karena aku mengkhawatirkan mu Sasuke!" balasku. "bukankah sudah kubilang? Aku bisa menjaga diriku sendiri Naruto!" kata Sasuke. Tubuhnya makin bergetar, aku tahu bahwa ia kedinginan.
"bukankah kau sudah memiliki Hinata? Seharusnya dialah yang kau jaga, dialah yang kau khawatirkan. Bukan aku—" lirih Sasuke. "—aku ini bukan siapa-siapa mu, bodoh!" lanjutnya.
Aku terdiam. Apa? Apa yang terjadi dengan ku? Benar apa kata Sasuke, aku sudah memiliki Hinata. Kenapa aku malah mengkhawatirkan Sasuke, bukan Hinata? Lalu, kenapa aku marah hanya karena Sasuke pergi berduaan dengan Kakashi? Aku bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengan Sasuke. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ku?
Ctar! Bunyi petir yang menggelegar terdengar jelas ditelinga ku. Aku terdiam. Ku tatap Sasuke dengan tatapan datar.
"baiklah jika itu mau, aku tak akan lagi menjagamu. Benar kata mu, aku dan kau tidak memiliki hubungan apa-apa. Maaf jika aku membuat mu kaget" kataku.
Aku meninggalkan Sasuke sendirian, ia hanya berdiri mematung disana.
Minggu, 1 Oktober 2015 ( pukul 24.00 )
Aku bertengkar hebat dengan Naruto. Aku membencinya! Kenapa dia begitu egois? Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa. Lantas kenapa dia marah denganku? Dia marah hanyan karena aku pergi berdua dengan Kakashi. Bukankah dia juga pergi berduaan dengan Hinata? Dasar makhluk egois!
(*) kumohon, jangan tersulut emosi. Jangan membentaknya. Janganlah bertengkar dengannya. Aku mohon padamu.
Sasuke menangis dibawah guyuran hujan. Ia tahu, jika ia melanggar perintah buku itu maka ini semua akan terjadi.
Bertengkar hebat dengan Naruto...
TBC...
*ngupil* akhirnya selesai juga. Kok saya ngerasa alurnya gak jelas ya? Ahahhhahaha maklum saya gak ada bakat bikin cerita. Saya bikin cerita beginian karena saya bosen dirumah. Maap kalo disini Sasuke kaya orang ringkih, entah kenapa saya suka yang ringkih-ringkih... *krik.. krik.. krik..*
Kalo yang bingung sama karakter Naruto sini saya jelasin. Bang Naru itu punya sifat egois, entah kenapa dia khawatir banget sama bang Sasu. Padahal doi baru ketemu sama bang sasu. Walau egois doi orang yang punya penciuman tajam (?).
Bang Sasu ini karakternya yaaa gimana ya? Saya juga bingung, yang jelas dia gak inget apa-apa karena dia ilang ingata. Terus dia itu merasa buku itu terlalu egois. Walau dia suka sama Naru dia gak bakal ngerusak hubungan Naru sama Hina *uhuuukk*
Hetdah ini kenapa saya jadi sopiler... *makan biji ketapang* yaudahlah, tunggu kelanjutannya, makasih yang udah review *peluk chayank*.
