Chapter 4
Dont't Like, Don't Read
Happy reading genk!
..
..
..
[Author POV]
"hei Naruto, dari mana saja kau? Karena hujan acara barbeque-annya sepertinya gagal. Utunglah Kakashi-san mau mentraktir kami makan daging pang— astaga! kenapa kau basah kuyup?" tanya Kiba saat melihat Naruto datang dengan keadaan basah kuyup. Naruto tak peduli, ia membereskankan semua pakaiannya.
"Na—Naruto-kun? Kau mau kemana?" tanya Hinata.
"maaf Hinata, ada sesuatu yang belum aku kerjakan. Aku harus pulang. Permisi" pamitnya. Ia menatap tajam ke arah Kakashi. Kakashi hanya membalasnya dengan senyuman.
"apa yang terjadi dengan Naruto?" tanya Neji. "entahlah, memang akhir-akhir ini ia terlihat aneh" balas Kiba. Yang lain hanya terdiam. Hinata terlihat khawatir dengan Naruto.
Bruk! Tiba-tiba terdengar suara orang terjatuh.
"Sasuke-kun!" Kakashi langsung membantu Sasuke untuk berdiri. Nafas Sasuke tersenggal-senggal. Tubuhnya juga gemetar menahan hawa dingin.
"kenapa kau basah kuyup? Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kakashi. Sasuke tak menjawab.
"Ka—Kakashi-san. Bisakah kita pulang? Aku ingin istirahat dirumah mu saja" lirih Sasuke. Bibirnya mungilnya bergetar dan membiru.
"baiklah" Kakashi menggendong tubuh lemah Sasuke, di lilitkannya selimut agar ia tidak kedinginan.
"maaf semuanya, sepertinya saya tidak bisa ikut berpesta dengan kalian. Saya harus pergi, permisi" pamit Kakashi. Yang lain hanya mengangguk.
"baju Naruto dan Sasuke sama-sama basah? Apa yang sebenarnya mereka lakukan?" guman Sakura. "apa mungkin mereka sedang bertengkar?" ucap Ino.
"hmm bisa jadi" balas Sakura. Hinata terdiam.
"Naruto-kun? Apa yang terjadi dengan mu?" lirihnya..
..
..
..
Kakashi memarkir mobilnya didepan rumah mewahnya. Digendongnya Sasuke dengan perlahan agar Sasuke tak terbangun. Kakashi mengeringkan tubuh Sasuke dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Kakashi menidurkan Sasuke dikamarnya yang luas.
"ughh.." lirih Sasuke. Badannya terlihat gemetar, wajahnya yang putih kini terlihat pucat. Bibirnya membiru menandakan ia sangat kedinginan. Dengan perlahan Kakashi menyelimuti tubuh Sasuke agar ia tak menggigil kedinginan. Kakashi juga menempelkan plester penurun panas di dahi Sasuke.
Kakashi duduk disamping ranjang. Menjaga Sasuke sampai Sasuke tertidur. Kakashi memperhatikan wajah Sasuke. Ia terdiam, entah kenapa hatinya sakit melihat Sasuke seperti ini. Tiba-tiba rasa iba pada Sasuke timbul dalam diri Kakashi. Dengan cepat Kakashi menggeleng, menepis pikiran aneh yang ada dikepalanya.
"tidak.. seharusnya aku tidak mengasihaninya"guman Kakashi.
..
..
..
..
"cih! Kuso!" Naruto membanting gelas yang ia pegang. Gelas kaca itu kini tak berbentuk lagi akibat perbuatan Naruto. Naruto duduk di kursi makannya, memijit pangkal hidungnya.
Ia pusing, ia stress, ia tertekan. Ia marah. Itulah yang ia rasakan saat ini. Naruto benci jika Sasuke dekat dengan Kakashi, namun perkataan Sasuke saat itu menyadarkannya. Naruto sudah mempunyai Hinata. Hinata adalah orang yang dicintai Naruto, bahkan Naruto sudah bersiap-siap untuk melamar Hinata sebentar lagi. Namun setelah bertemu dengan Sasuke perasaannya jadi aneh. Naruto yakin dia masih normal. Ia sangat yakin.
"sepertinya aku memang harus cepat-cepat melamar Hinata." guman Naruto
..
..
..
..
Sudah seminggu Sasuke tinggal dirumah Kakashi, dan sudah seminggu juga ia tidak bertemu dengan Naruto. Sasuke bahkan tak ada niatan untuk bertemu dengan Naruto. Ia sangat malas betemu dengan makhluk egois seperti Naruto.
Tok! Tok! Ketukan pintu menyadarkan Sasuke. "masuk" ucap Sasuke. Pintu itu pun terbuka, memperlihatkan Kakashi yang sedang membawa nampan berisi makanan.
"Sasuke-kun, aku membawakan makanan" kata Kakashi sambil duduk disamping ranjang Sasuke. Sasuke tersenyum. "terima kasih Kakashi-san, maaf kalau aku merepotkanmu" ucap Sasuke. Kakashi menggeleng lalu tersenyum lembut kearah Sasuke.
"kau tidak merepotkan ku sama sekali. Kau tahu aku senang jika kau ada disini. Biasanya rumah ini sepi namun karena kau ada disini suasananya jadi sedikit lebih ramai—" kata Kakashi. Ia mengacak-acak rambut Sasuke. "—yaa walau selama seminggu ini kau mengurung diri dikamar" sidir Kakashi. Sasuke hanya menunduk sambil meminta maaf.
"Sasuke, boleh aku bertanya? Apa kau dan Naruto-kun bertengkar?" tanya Kakashi. Sasuke terdiam. Wajahnya terlihat murung.
"eum jika kau tidak mau menjawabnya tak ap—"
"ya, aku bertengkar dengannya." Jawab Sasuke. Ia mencengkram erat selimut yang menutupi kakinya.
"kau tidak mau pulang? Maksud ku, sudah seminggu kau dan Naruto tidak bertemu" kata Kakashi.
"tidak, lagi pula makhluk egois memang pantas hidup sendiri. Ku rasa Naruto tak akan mati jika ditinggal sendirian" kata Sasuke. Ia melirik handphone miliknya yang ada diatas lemari kecil disamping ranjangnya. Di handphone Sasuke bahkan tak ada satupun pesan dari si pirang egois itu.
Kakashi hanya terdiam. "baiklah jika itu mau mu. ah, sudah jam segini sebaiknya aku pergi ke toko dulu. jangan lupa makan yang banyak agar tenaga mu kembali pulih" kata Kakashi. Sasuke mengangguk.
Blam! Kakashi menutup pintu kamar Sasuke. Meninggalkan Sasuke sendiriian.
..
..
..
"Naruto-kun?" tegur Hinata.
"eh? ah! iya ada apa Hinata-chan?" tanya Naruto. Hinata memandang Naruto dengan tatapan aneh.
"kenapa kau melamun? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Hinata. Glek! Naruto menelan salivanya. Wajahnya terlihat seperti orang linglung.
"a—aku tidak melamun" sanggah si pirang itu sambil meminum susu kotak ditangannya. Hinata lagi-lagi memandang Naruto dengan tatapan menyelidik.
"baiklah, jika kau tidak melamun bisakah kau memberi tahuku apa yang sedang kita bicarakan tadi?" tantang Hinata. Naruto menggaruk tengkuk lehernya. Mencoba mengingat-ingat pembicaraan tadi.
"eum— itu, bukankah kita tadi membicarakan tentang pesta kejutan untuk sepupu mu Neji?" kata Naruto. Hinata menghela nafas. "bukan, kita tidak membicarakan itu. benar dugaan ku kalau kau melamun Naruto-kun" kata Hinata. Naruto hanya menunduk sambil meminta maaf.
"Naruto-kun, sudah ku bilang berapa kali jika kau ada masalah sebaiknya kau ceritakan padaku. Aku pasti akan membantu mu" kata Hinata sambil menggenggam tangan Naruto. Naruto hanya terdiam.
"apa— ini karena orang yang bernama Sasuke itu?" tanya Hinata
"e—eh? Sa—Sasuke? Ahahaha yang benar saja" Naruto tertawa terbahak-bahak sambil memeggangi perutnya. "—tidak terjadi apa-apa antara aku dan Sasuke. Kami tidak bertengkar kok hahaha" lanjut Naruto. Matanya melirik kearah lain, enggan menatap mata Hinata. Hinata hanya menghela nafas berat.
"ah, sekarang sudah sore, bukankah kau ada janji dengan sepupu mu? ayo aku antar kau pulang" ajak Naruto. Hinata hanya mengangguk.
Naruto mengantarkan Hinata sampai kedepan rumahnya.
"tidak mau mampir dulu?" tanya Hinata. Naruto menggeleng.
"Naruto-kun, jika kau bertengkar dengan Sasuke-kun sebaiknya kau minta maaflah padanya. Aku yakin Sasuke-kun orang yang baik" lanjut Hinata. Naruto hanya tersenyum menanggapi perkataan Hinata.
"baiklah aku masuk dulu" kata hinta
"Hinata-chan!" panggil Naruto. Hinata menoleh ke arah Naruto.
"aku mencintai mu" kata Naruto sambil tersenyum kearah Hinata. Hinata membalasnya dengan sebuah senyuman manis. Pipinya sedikit memerah mendengar perkataan Naruto.
"aku juga mencintai mu Naruto-kun" balas Hinata.
..
..
..
..
"haahh.. haaahh.. haahh.." dengan tergesa-gesa Naruto berlari menuju ke toko roti milik Kakashi. Tak peduli jika ia mendapat protes dari para pejalan kaki lantaran Naruto menabrak mereka tanpa meminta maaf.
Persetan dengan hal ini. Kini yang ada dipikirannya hanyalah Sasuke, dia harus minta maaf pada Sasuke.
Dengan kasar Naruto membuka pintu toko itu.
"selamat data—"
"dimana Kakashi?" tanya Naruto pada pelayan wanita itu.
"maaf, Kakashi-san tidak ada disini. Barusan ia pulang kerumahnya. Akhir-akhir ini Kakashi-san pulang lebih cepat dari biasanya" jawab pelayan itu.
"beri aku alamatnya" perintah Naruto. pelayan itu memandangnya bingung.
"cepat! Aku tak punya waktu lagi!" kata Naruto. Dengan sedikit ketakutan pelayan itu mengangguk. Ia menuliskan alamat rumah Kakashi disecarik kertas kecil. Pelayan itu memberikannya pada Naruto. Setelah mengucapkan terima kasih Naruto langsung berlari ke alamat rumah Kakashi.
Tok! Tok! Tok!
"Kakashi! Buka pintunya!" Naruto menggedor pintu rumah Kakashi dengan brutal. Kakashi membukakan pintunya.
"ada apa?" tanya Kakashi santai. Naruto menatap tajam kearah Kakashi.
"dimana Sasuke?" tanya Naruto. Kakashi hanya tersenyum.
"Kakashi-san, siapa yang berta— Naruto?" ucap Sasuke. "apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke. Naruto terdiam. Dengan cekatan ia menarik tangan Sasuke.
"ayo kita pulang" ajak Naruto. Sasuke hanya terdiam tak membalas perlakuan Naruto.
"Kakashi aku ucapkan terima kasih karena sudah menjaga Sasuke dan mempekerjakan Sasuke di toko mu. Kau memang terlihat seperti orang baik namun aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan. Sepintar-pintarnya bangkai disembunyikan, pasti baunya akan tercium juga" kata Naruto sambil menatap tajam kearah Kakashi.
"aku permisi" kata Naruto sambil manarik tangan Sasuke.
.
.
.
Naruto manarik tangan Sasuke dengan sedikit tergesa-gesa.
"dobe, bisakah kau lepaskan tangan mu?! aku bisa jalan sendiri bodoh" ucap Sasuke. Naruto hanya mendengus kesal.
"oke, fine!" Naruto melepaskan genggaman tangannya.
"jadi, kenapa kau datang kerumah Kakashi?"tanya Sasuke. Naruto memandang Sasuke dengan malas.
"bukankah sudah ku bilang. Kau itu bekerja padaku. Kau tahu, rumah begitu berantakan! Aku tak bentah tinggal dirumah dalam keadaan kotor seperti itu. Bukankah perjanjiannya kau akan membersihkan rumah ku" kata Naruto. Sasuke hanya menatap datar kearah Naruto.
"—dan juga, aku minta maaf. Aku memang orang yang egois. Aku tahu itu. Salahkan orang tua ku. Merekalah yang mewarisi sifat egois ini kepada ku" kata Naruto sambil menggaruk tengkuk lehernya. Ia enggan menatap mata Sasuke. Naruto lebih tertarik menatap pohon yang tertiup oleh angin. Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Naruto—" panggil Sasuke. Naruto menoleh kearah Sasuke. Menatap bola mata sehitam malam milik Sasuke. "—bisakah selama sebulan ini kita tidak bertengkar? Aku mohon" kata Sasuke. Naruto hanya mendengus.
"ya ya, terserah kau saja" kata Naruto sambil berjalan kembali. Sasuke berjalan dibelakang Naruto.
"oi dobe, kau tahu. Sebenarnya saat itu aku bersiap-siap untuk pulang. Tapi kau malah menjemputku. Mengajak ku pulang, dan menatap sinis kearah Kakashi seakan-akan Kakashi adalah selingkuhan ku" kata Sasuke. Naruto hanya mendengus kesal.
"seharusnya aku tak usah menjemput mu" guman Naruto. Sasuke mendengar perkataan Naruto. Dia hanya tersenyum tipis.
"akhirnya, Naruto yang dulu kini sudah kembali..."
..
..
..
..
[Sasuke POV]
Sudah sebulan semenjak kejadian itu. Kini aku dan Naruto tidak pernah bertengkar lagi. Naruto benar-benar menuruti permintaan ku.
Hari ini tanggal 23 Desember, kota Tokyo sudah diselimuti salju yang sangat indah. Tokyo terlihat sangat indah karena banyak hiasan lampu yang terpajang disepanjang jalan. Bukankah Desember itu identik dengan natal? Sebuah pohon natal raksasa bahkan sudah berdiri tegak dipusat kota Tokyo. Banyak orang yang pergi ketoko-toko untuk membeli perlengkapan natal. Termasuk aku dan si pirang ini.
"hachiuu!" Naruto tiba-tiba bersin. Ia menggosok-gosokan hidungnya yang memerah. "—aku benci hari natal" guman Naruto. Aku menatapnya bingung.
"kenapa? Bukankah natal itu menyenangkan?" tanya ku. Naruto menggeleng. "natal sangat membosankan" katanya sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Aku memberikan dua pasang sarung tangan kepadanya.
"sudah berapa kali kubilang. Jika ingin keluar rumah kau harus pakai sarung tangan agar tangan mu tidak membeku" kataku. Naruto hanya tersenyum bodoh.
"hei Sasuke, saat natal apa yang akan kau lakukan dengan keluarga mu?" tanya Naruto. aku terdiam. "entahlah aku tak tahu, bukankah sudah kubilang kalau aku hilang ingatan. Mana mungkin aku ingat hal seperti itu" kataku.
"oh iya, benar juga ya?" katanya. Aku melirik kesebuah toko kue. Disana ada sebuah keluarga yang sedang makan-makan bersama.
"mungkin, saat natal aku dan keluarga ku akan makan bersama" kataku. Naruto menatapku.
"lalu bagaimana dengan mu?" tanya ku.
"apanya?" Naruto malah balik bertanya. Aku mendengus kesal.
"hahahaha, aku hanya bercanda—" Naruto merangkul pundak ku. "—saat natal, aku dan keluarga ku hanya makan-makan seperti keluarga yang lainnya. Bertukar kado, lalu memakan ayam kalkun buatan ibu. Selanjutnya menonton acara tv sambil memakan kue jahe dan segelas susu coklat panas. Kurasa hanya seperti itu. bukankah itu hal yang membosankan?" kata Naruto. aku menatap matanya.
Jumat, 23 Desember 2015
Dua hari lagi perayaan natal. Aku dan Naruto berbelanja untuk keperluan natal. Tapi Naruto terlihat murung. Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Kuharap tidak terjadi hal yang buruk.
(*) bujuk Naruto untuk menelpon kedua orang tuanya. Sebenarnya Naruto sangat merindukan keluarganya.
"kenapa kau tidak merayakan natal bersama keluarga mu?" tanya ku. Naruto terdiam, matanya melirik kearah lain seakan sedang mencari alasan.
"oh ayolah, aku sudah besar. Mana mungkin aku merayakan natal dengan keluarga ku? Aku bukan anak kecil yang ingin mendapat hadiah natal dari orangtuanya. Lagi pula aku sedang sibuk kuliah" kata Naruto.
"lalu jika kau tak ingin menemui keluarga mu kenapa kau tidak menelpon mereka saja?" kataku. Naruto mendengus kesal. "teme! Bisakah kau tidak membahas itu?" kata Naruto kesal. Aku hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
"jika kau tak ingin menelpon orang tua mu maka hari ini aku tak akan membuatkan ramen untuk mu" ancam ku. Naruto terlihat shock. "a—apa-apaan itu! ini tidak adil!" protesnya. Aku tak mempedulikannya. Naruto mendengus kesal.
"baiklah-baiklah terserah kau saja!" kata Naruto. Ia masuk kedalam bilik telepon umum. Aku menunggunya diluar. Terkadang aku terkekeh geli melihat tingkahnya. Hanya kerena digertak seperti itu Naruto langsung menurut padaku. Sepertinya kelemahannya memang hanya pada ramen.
kulihat Naruto mulai mengetik nomor yang aku yakini adalah nomor keluarganya.
Tut.. tut.. tut.. panggilan pun tersambung. Kelihatannya Naruto ragu untuk menelpon orang tuanya.
"halo? Disini keluarga Uzumaki—" kata suara seorang perempuan.
"..." Naruto hanya diam tak membalas. Aku yang sedikit kesal menendang bilik telepon umum itu. Naruto menoleh kearahku. Kutatap ia dengan sinis seakan memerintahkannya untuk menjawab telepon itu. Naruto hanya bergidik ngeri.
"halo? Jika anda tidak ingin bicara maka akan saya tutup tele—"
"ibu" kata Naruto
"Na—Naruto? apa itu kau?" tanya perempuan itu.
"hng, ini aku" Naruto menggaruk tengkuk lehernya.
"astaga Naruto, bagaimana keadaan mu nak? Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan teratur? Bagaimana dengan kuliah mu? kapan kau akan mengunjungi ayah dan ibu mu nak? Kau tahu ayah mu benar-benar mengkhawatirkan mu."
"aku baik-baik saja bu. Untuk saat ini sepertinya aku tidak bisa pulang kerumah. Aku sedang sibuk dengan kuliah ku" kata Naruto.
"baiklah ibu mengerti. Ibu sangat senang karena kau menelpon kesini. Sudah 8 tahun setelah kau meninggalkan rumah. Kau tahu ibu sangat khawatir, apalagi setelah ayahmu mengusirmu dari rumah. Kau tidak pernah menghubungi ibu lagi"
Aku terdiam. 8 tahun? Diusir oleh ayahnya? Memang apa yang dilakukan si bodoh itu?
"maaf jika aku tidak pernah menghubungi ibu. Aku sayang pada ibu" kata Naruto. Kulihat air matanya turun membasahi kedua pipinya.
"ibu juga menyayangi mu, Naruto.. ah! apa kau disana sudah punya kekasih?" tanya perempuan itu sambil terkekeh
"eh? ah iya, aku lupa bilang pada ibu kalau aku sudah punya kekasih. Namanya Hyuga Hinata, ia wanita yang sangat baik. Saat aku lulus aku akan segera melamarnya"
"benarkah? Seharusnya kau membawa pacarmu itu kerumah dasar anak bodoh. Ibu dan ayah mu juga ingin berkenalan dengannya"
"hahahaha.. iya, kapan-kapan aku akan membawa Hinata kerumah"
"Naruto, ayah mu ingin bicara padamu—" kata perempuan itu
"eh?"
"Naruto, ini ayah. Maaf jika ayah mengusir mu saat itu. Ayah benar-benar gelap mata. Ayah harap kau akan memaafkan ayah"
"iya. Aku maafkan." Kata Naruto. Ia mengelap matanya dengan lengan bajunya.
"ayah harap kau cepat-cepat menikah dengan Hinata. Ayah benar-benar ingin cepat-cepat punya cucu"
"iya, akan aku usahakan.."
Naruto terus berbicara panjang lebar dengan ayah dan ibunya. Mengeluarkan semua rasa rindu yang ada didalam hatinya. Aku senang melihat Naruto yang tersenyumtulus seperti itu.
"Sasuke? Ayo kita pulang" kata Naruto. "kau sudah selesai?" tanya ku. Naruto mengangguk.
"Sasuke, terima kasih. Berkat kau aku bisa berbicara lagi dengan orang tua ku. Sebagai gantinya kau ku traktir makan dango? Bagaimana?" tanya Naruto.
"terserah kau saja" kataku. Naruto lagi-lagi merangkul pundak ku. "yosh! Ayo kita pergi ke toko dango dattebayo!" kata Naruto semangat. Aku hanya medengus malas.
"Naruto, kudengar kau diusir oleh ayah mu. memang apa yang kau lakukan?" tanya ku. Naruto berpikir sejenak.
"saat aku SMA aku benar-benar anak yang nakal dan tak bisa diatur. Ayahku adalah pemilik perusahaan Uzumaki yang bergerak dibidang otomotif. Saat tahu kalau anaknya pembuat onar ayahku marah besar padaku. Ia bilang kalau aku hanya membuatnya malu. Aku tak peduli dengan ucapannya. Namun saat aku lulus SMA, aku ingin melanjutkan kuliahku di Tokyo. Aku ingin menjadi seorang dokter. Ayahku marah karena aku ingin menjadi seorang dokter. Ia bilang kalau aku harus menjadi seorang pembisnis untuk meneruskan perusahaanya. Ia menyuruhku untuk kuliah diluar negeri. Tentu saja aku tidak mau, aku terus melawannya sampai akhirnya ia mengusir ku dari rumah" kata Naruto panjang lebar. Aku menatapnya prihatin. Tak kusangka, ia memiliki seorang ayah yang tegas. Kami berdua terdiam.
"dulu, kau memang anak yang kurang ajar ya?" sindirku.
"a—apa?! hei teme! Tarik kembali kata-kata mu itu!" Naruto terlihat kesal. Aku hanya mendengus malas.
"dasar kekanak-kanakan" kataku. Naruto hanya mengoceh tidak jelas dihadapan ku. Aku tak mempedulikannya.
23 Desember ya? Berarti 2 hari lagi akan akan mati...
..
..
..
..
[Author POV]
Setelah selesai mentraktir Sasuke, Naruto dan Sasuke pun pulang ke rumah. Mereka melepas mantel dan syal masing-masing dan menggatungnya di gantungan baju.
"badanku pegal-pegal. Aku ingin mandi dulu" kata Sasuke. Naruto hanya mengangguk. Ia berjalan kearah dapur. Membuka sebungkus kopi dan menyeduhnya dengan air panas.
Naruto harap dengan meminum ini, tubuhnnya akan menjadi hangat.
Tok tok tok! Terdengar ketukan pintu didepan rumah Naruto. Naruto melirik jam dinding yang bertengger manis di dindingnya. "jam 11? Siapa yang bertamu?" guman Naruto. Ia membuka pintu itu.
"ada paket untuk tuan Uzumaki Naruto" kata seorang pria yang mengenakan topi. Naruto terdiam. Paket? Untuknya? Dari siapa?
Naruto mengambil paket itu. "silahkan tanda tangan disini" kata orang itu. Naruto mengangguk.
"terima kasih, maaf sudah menganggu anda malam-malam. Saya permisi" kata orang itu. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Naruto. Naruto hanya terdiam menatap punggung pengirim paket itu.
"wajahnya pengirim paket itu tidak terlihat dengan jelas. Hmm aku curiga dengan paket ini.. apa jangan-jangan ini bom?" guman Naruto. Buru-buru Naruto menepis pikiran anehnya. Ia pun masuk kedalam rumahnya.
Pengirim paket itu tersenyum.
"kuharap kau bisa membantu ku, Naruto" gumannya.
Naruto membuka isi paket itu dengan hati-hati. Setelah dibuka dan ternyata isinya bukan bom ia pun mulai memeriksa isi paket itu. Seketika wajahnya memucat.
"a—apa ini?"
..
..
..
[Sasuke POV]
Sang fajar telah muncul dari persembunyiannya. Walau mentari telah menyinari bumi namun udara dingin masih setia menyelimuti kota Tokyo.
Aku terduduk diranjangku. Ku pegang buku harian itu erat-erat.
"kurasa untuk kali ini aku tidak bisa melakukannya" guman ku. Kulirik kalender yang ada didinding kamar ku. Sekarang tanggal 24 Desember, itu artinya esok aku akan mati..
"Sasuke! Sasuke!" Naruto menggedor-gedor pintu kamar ku. Dengan malas aku membukanya.
"ada apa?" tanya ku. Naruto memegangi perutnya.
"aku lapar, masakan sesuatu untuk ku" katanya.
"hng" balasku
Setelah menyiapkan makanan, Naruto bersiap-siap untuk pergi kuliah.
"Sasuke, mungkin aku akan pulang telat. Kau tidak usah masak makan malam. Hari ini aku akan makan malam dengan Hinata" katanya girang. Aku terdiam.
"baiklah, aku pergi dulu!" pamit Naruto. Dia meninggalkan ku sendirian dirumah. Kugigit bibir bawah ku. Menahan rasa linu yang ada dihati ku.
"makan malam dengan Hinata? Lalu kau akan melamarnya, iya kan Naruto?" guman ku
..
..
..
Hari sudah berganti malam. Aku melirik jam yang ada dipergelangan tangan ku.
"sudah jam 9 ternyata" guman ku. Aku menghabiskan nasi yang ada dimangkuk ku dan membereskan meja makannya. Aku mendengar suara dari luar. Seperti suara Naruto. Aku melihat kearah jendela dan benar saja disana ada Naruto dan juga Hinata.
"terima kasih untuk makan malamnya Naruto-kun" kata Hinata sambil tersenyum
"iya, sama-sama. Hinata-chan, terima kasih sudah menerima ku apa adanya" kata Naruto sambil tersenyum ke arah Hinata. Hinata mengangguk dengan wajah yang memerah.
"mau kuantar?" tanya Naruto. Hinata menggeleng.
"supir ku sudah menunggu disana. Aku akan jalan sendiri" katanya. Naruto mengangguk.
"baiklah, oyasuminasai Hinata-chan" kata Naruto
"oyasuminasai, Naruto-kun" balas Hinata. Naruto memandang lekat wajah Hinata. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. Mencium lembut bibir Hinata.
Aku terdiam. Ku gigit bibir bawahku. Sadarlah Sasuke, kau tak akan pernah bisa memiliki Naruto.
"aku mencintai Naruto-kun" kata Hinata. Naruto lagi-lagi tersenyum.
"terima kasih sudah mencintai ku Hinata" balas Naruto. Ia memeluk tubuh mungil Hinata.
Cukup! Sungguh aku tak kuat melihatnya. Aku memilih untuk menutup tirai jendela. Menenangkan hatiku yang sedikit sakit melihat adegan itu.
"Sasuke! Aku pulang!" kata Naruto dengan semangat. "selamat datang" kataku
"hei hei, kau tahu! tadi waktu makan malam, Hinata terlihat sangat cantik. Ia memakai gaun berwarna merah yang sangat elegan—"
Cukup...
"—lalu, saat Hinata melihatku. Ia memujiku dan bilang padaku kalau aku ini tampan. Hahahaha padahal jas yang aku pakai ini adalah milik Kiba—"
Hentikan Naruto kumohon..
"—saat kami sedang makan, dengan perlahan aku menggenggam tangannya. Hinata terkejut melihat tingkah ku. Dengan sedikit gugup aku pun melamarnya! Kau tau, aku benar-benar melamarnya! Rasanya aku ingin terbang saja—"
Jangan dilanjutkan lagi, ini sangat menyakitkan...
"—Hinata menerima lamaran ku. Ia terlihat sangat senang. Aku lega ternyata dia menerima lamaranku. Saat kami pulang aku mencium bibirnya. Dan kau tahu, bibirnya sangat manis seperti madu. Aakhhh aku senang sekali!"
Sabtu, 24 Desember 2015
Naruto pulang dengan keadaan sumringah. Aku sedikit heran dengan tingkahnya. Dia bilang padaku kalau ia baru saja melamar Hinata. Ia terlihat sangat senang namun aku tak peduli. Naruto kesal karena aku menganggapnya tidak serius. Ia mulai menyindir ku, aku yang tersulut emosi ikut memakinya, menghina-hina wanita yang bernama Hinata. Naruto marah dan menampar ku. Aku yang kesal hanya menatapnya sinis dan memilih untuk meniggalkannya. Aku sangat membencinya, ku harap aku tak akan pernah bertemu lagi dengan Naruto.
(*) jangan bertengkar dengan Naruto. dengan perlahan katakanlah padanya kalau kau ikut senang. Saat suasana sudah memungkinkan—
"oi Sasuke! Bagaimana? Kau tidak mau mengucapkan selamat padaku? Sebentar lagi aku akan melepas masa lajang ku" Naruto tersenyum sambil memamerkan gigi-giginya.
Aku mengulurkan tangan ku sambil tersenyum.
"selamat ya! Akhirnya kau akan menikah" kataku.
"eh? ah! iya, terima kasih" katanya sambil membalas uluran tangan ku.
—Katakanlah pada Naruto bahwa kau mencintainya. Kumohon..
Naruto tersenyum kemudian memeluk ku. Ia terlihat sangat bahagia hari ini.
Mengatakan padanya kalau aku mencintainya? Yang benar saja, sungguh aku tak bisa melakukan itu. Walau sebenarnya aku ingin tapi aku tak bisa. Lidah ku rasanya kelu. Maaf.. maafkan aku. Mungkin diriku yang ada dimasa depan akan kecewa dengan keputusan ku. Maafkan aku..
TBC...
*Setel lagu afgan – Sadis*
BAPERRR...
BAPERRR...
BAPERRR...
Wkwkwkwkwk maapkan saya kalo ceritanya makin kaya sinetron. Besok adalah chapter terakhir yeeyyy akhirnya utang saya lunas juga :'). Makasih yang udah ngereview dan udah dukung saya selama ini *setel lagu syukur*. Mohon maap bila mata kalian pedih kalo ngeliat typo dimana-mana.. mata saya aja udah menciut nyari kata-kata yg typo hahaha..
Yaudahlah akhir kata mohon maaf wassalamualaikum *maen suling*
