Chapter 5 END

Aku membereskan kamarku hingga rapih. Membersihkannya sampai besih hingga tak ada satupun debu yang tertinggal. Setelah selesai, aku membuka buku harian itu.

"disini tidak ada keterangan waktunya.." gumanku. Dibuku harian itu tidak dituliskan pukul berapa aku akan mati. Disana juga tidak dituliskan penyebab nyawaku hilang. Aku meremas ujung baju ku. Takut.. itulah yang aku pikirkan, namun tidak ada pilihan lain. Kematian tidak akan bisa diubah jika sudah ditakdirkan.

Aku memakai mantelku dan melilitkan syal merah dileherku. Kubuka pintu kamar ku. Naruto yang kebetulan lewat menatapku dengan pandangan bingung.

"teme? Kau mau kemana?" tanya Naruto.

"pergi ke makam keluarga ku. Aku ingin mendoakan mereka. Sekaligus merayakan hari natal" kataku.

"ah! kalau begitu aku juga ikut, aku juga ingin mendoakan keluargamu" kata Naruto namun aku menggeleng. "tidak usah, kau disini saja. Lagi pula aku tak akan lama" kataku.

"eum baiklah" kata Naruto. kulihat wajahnya yang terlihat khawatir. Aku tersenyum tipis lalu menjitak kepalanya. Naruto mendengus kesal karena tindakanku.

"sudah kukatakan berapa kali, kau tidak usah khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri dasar dobe. Yasudah, aku berangkat. Ah! aku lupa, hari ini aku tidak masak jika kau lapar kau bisa memasak ramen instant di dalam rak. Baiklah aku permisi" aku berpamitan dengannya.

"hati-hati" kata Naruto. Aku hanya tersenyum.

Naruto, terima kasih. Dan.. Selamat Tinggal...

..

..

..

..

Aku sampai di stasiun kereta. Makam keluarga ku ada disebuah desa dikaki gunung. Untuk pergi ke desa kira kira memakan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan kereta.

Dengan hati-hati aku memasuki kereta itu. Kereta itu pun berjalan dengan kecepatan penuh. Aku sedikit takut, ku pegang erat-erat ujung mantelku. Mungkin saja aku bisa mati disini karena kecelakaan kereta.

Aku memejamkan mataku. Kuharap dengan begini rasa takutku akan hilang. "tenang Sasuke, bukankah kau siap menghadapi kematian mu?" guman ku.

'Pemberhentian selanjutnya stasiun konoha..'

Ku buka mataku. Eum? Sepertinya aku tak akan mati disini.

Aku berjalan keluar stasiun. Suasana desa yang tenang dan sunyi terdengar ditelingaku. Kurapatkan mantelku dan berjalan menyusuri desa itu. Saat aku memasuki desa itu warga-warga desa menyambutku dengan tatapan sinis.

"hei, bukankah itu Uchiha?"

"yeah, dia Uchiha yang selamat dari kecelakaan itu"

"Uchiha Sasuke maksud mu? ku kira dia akan mati dibunuh oleh pamannya yang gila itu"

"sepertinya nasibnya sedang beruntung. Tapi aku yakin ia akan mati secepatnya"

Aku hanya menatap datar kearah depan. Tak mempedulikan perkataan mereka. Ocehan mereka kuanggap angin lalu.

Aku terus berjalan menyusuri desa ini. Akhirnya akupun sampai ketempat tujuannku. Disana ada beberapa batu nisan yang tertancap ditanah. Ini adalah makam keluarga Uchiha. Uchiha yang telah meninggal akan dikubur ditempat ini.

Aku mencari sebuah pohon yang ada dipemakaman itu. Seingatku, makam keluargaku terkubur dibawah pohon itu.

"ah, itu dia" gumanku. Aku menghampiri batu nisan itu. Ada 3 batu nisan yang tertancap ditanah.

Uchiha Fugaku, ayahku.

Uchiha Mikoto, ibuku.

Dan, Uchiha Itachi, kakak laki-lakiku.

Aku mengepalkan kedua tanganku. Berdoa agar arwah keluargaku tenang dialam sana. Kubersihkan salju yang menutupi makam ini. Tak lupa kubersihkan rumput liar yang menganggu. Setelah selesai ku usap dan kucium masing-masing batu nisan itu.

"selamat natal ayah, ibu, nii-san. Aku mencintai kalian. Mungkin tak lama lagi aku akan menyusul kalian" kataku sambil tersenyum getir. Ku peluk batu nisan milik kakak ku.

"nii-san, aku tahu kau adalah kakak yang baik. Walaupun ingatan ku hilang tapi aku masih bisa merasakan kehangatan mu saat kau memeluk ku. Nii-san kau tahu, aku bertemu dengan seorang laki-laki. Namanya Kakashi, ia orang yang sangat baik. Ia seperti sosok seorang kakak yang baik sama sepertimu. Kau tahu, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan nya—" kataku. Angin musim dingin kembali bertiup. Menggerak-gerakkan surai hitamku yang sedikit panjang.

"—nii-san, apa kau kenal dengan Naruto? dia orang yang baik walau sedikit bodoh. Naruto bilang kalau ia pernah bertemu denganku disuatu tempat. Aku tak tahu apa-apa, ingatanku benar-benar hilang. Lalu, saat bersama Naruto entah kenapa dengan perlahan ingatan ku sedikit-demi sedikit muncul kembali. Bukankah waktu kecil aku pernah meminta tolong padamu untuk membantuku membuat ramen?—" aku tersenyum sambil mengelap air mata yang menetes dipelupuk mataku.

"—nii-san, siapa Naruto sebenarnya? Kenapa ada perasaan aneh yang muncul dalam hatiku ketika aku melihatnya. Andai saja ingatanku kembali. Mungkin aku bisa mengingat siapa Naruto sebenarnya. Nii-san, bantulah aku" kataku. Angin bertiup makin kencang. Salju pun mulai turun dan udara disekitar sini juga makin dingin. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari pemakaman ini.

..

..

..

Aku berjalan menuju rumah ku yang dulu. Rumah keluarga Uchiha. Rumahku cukup besar dan luas. Desain rumahnya juga seperti rumah adat Jepang. Jika terawat dengan baik rumah ini pasti sangat indah. Namun rumahku kini terlihat tidak terurus. Banyak rumput-rumput yang tertutup salju. Pintu gerbangnya juga sudah lapuk.

"hei, apa dia ingin masuk ke rumah terkutuk itu?"

"biarkan saja, paling-paling ia akan mati disana karena dimakan oleh iblis"

"dia Uchiha Sasuke kan? harusnya dia mati. Dengan begitu semua Uchiha akan musnah!"

"kau benar, ia pantas mati!"

Lagi-lagi penduduk desa ini mencaci ku. Aku tidak peduli dengan mereka. Aku tetap masuk kerumah itu dan membuka pintunya.

"tadaima" kataku

"..." sepi hanya ada suara angin yang keluar dari jendela. Kulangkahkan kaki ku untuk masuk lebih dalam. Disana banyak perabotan Uchiha yang tidak tersentuh sama sekali. Perabotan itu kini hanya ditutupi oleh debu. Aku melihat kedinding, disana ada sebuah foto keluarga. Aku yakin itu foto keluargaku. Aku bisa melihat ayah, ibu, nii-san dan aku tersenyum sangat bahagia. Lalu disamping foto itu juga ada foto lain. Ada seorang bocah berumur 7 tahun menggandeng bocah berumur 5 tahun yang sedang menangis ketakutan. Aku tersenyum kecil, aku yakin itu adalah nii-san yang sedang menggandengs diriku. Hm? Kenapa aku bisa menangis ya?

Aku melanjutkan kegiatanku untuk menyusuri rumah ini. Aku terhenti disebuah kamar. Dipintu itu tertulis "kamar Sasuke dan Nii-chan!"

"aku baru tahu kalau tulisan ku dulu sejelek ini" kataku.

Aku masuk kekamar itu. kosong, tak ada apa-apa selain rak-rak berisi buku dan beberapa piala. Aku yakin buku dan piala ini milik nii-san. Ternyata dia orang yang jenius.

Wusshhh.. angin bertiup dari arah jendela. Aku menoleh ke arah jendela itu. "hm? Bukankah itu pohon tomat?" gumanku. Aku berjalan mendekati jendela itu. Namun saat aku melangkah, aku tak sengaja menginjak lantai kayu yang terbuka lebar sehingga menimbulkan decitan ketika aku menginjaknya.

"huh? Apa ini?" aku membuka lantai kayu itu dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat didalamnya. Kotak itu sedikit berdebu. Kutiup debu yang menempel diatasnya.

"punya Sasuke, jangan dilihat! Hng? Apa aku pernah menyimpan sesuatu dikotak ini?" guman ku. Aku pun membuka kotak itu. Didalamnya hanya ada sebuah buku kecil berwarna biru dan sebuah kamera usang.

"tu—tunggu! Inikan..." dengan tergesah-gesah aku membuka buku biru itu.

Nama: Uzumaki Naruto

Umurnya: sama dengan ku

Tempat tanggal lahirnya: 10 Oktober

Makanan kesukaannya: Ramen

Sifatnya: periang, mudah bergaul, tidak suka melihat orang ditindas

Aku mengambil sebuah foto usang didalam buku itu. Foto yang didalamnya terdapat seorang bocah berambut pirang sedang tertawa bersama teman-temannya.

Dengan tergesa-gesa aku membalik halaman tersebut.

Senin, 25 April 1990

Untuk pertama kalinya aku keluar rumah. Ayah menyuruhku untuk tetap didalam rumah tapi aku menolaknya. Aku ingin punya teman. Maka dari itu aku kabur dari rumah. Saat aku bermain ditaman tiba-tiba ada 3 orang anak nakal yang menjahili ku. Mereka memukuli ku hanya karena mereka tahu kalau aku ini keturunan Uchiha. Aku dipukuli oleh mereka, namun tiba-tiba ada seorang bocah pirang yang menolong ku. Bocah itu mencoba mengobati pelipis ku yang berdarah namun aku menolaknya dan menangkis tangannya. Aku tak mau ia membenci diriku hanya karena aku seorang Uchiha.

"kau tak apa?"

"pelipis mu berdarah, sini aku oba—hei!"

"ughhh.." aku memegang kepalaku yang tarasa sakit. Seketika ingatan tentang masa laluku terputar kembali.

Rabu, 1 Mei 1990

Aku tak menyangka ternyata si bocah pirang itu 1 sekolah dengan ku. Ia berada dikelas 5-3, sedangkan aku berada dikelas 5-1. Bocah pirang yang waktu itu menolongku terlihat sangat ramah. Ia mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan temannya saja banyak. Walaupun tampangnya bodoh tapi ia terlihat sangat baik. Ia tidak memilih-milih teman. Aku iri dengannya, aku ingin punya teman. Aku ingin berteman dengannya tapi aku takut jika ia memaki-maki ku hanya karena aku seorang Uchiha. Kurasa melihatnya dari jauh adalah yang terbaik.

Aku mengambil sebuah foto yang tertempel dihalaman itu. Foto seorang bocah pirang yang sedang membuat wajah konyol dihadapan teman-temannya.

Minggu, 23 Mei 1990

Lagi-lagi bocah nakal itu menjahiliku. Mereka menyiramkan air yang dicampur lumpur ke bajuku. Otomatis bajuku basah dan kotor. Aku tidak mau pulang kerumah karena takut jika ayahku memarahi ku. Jika aku mengadu pada ayah itu sama saja membuat teman-teman ku semakin membenci ku. Saat sedang duduk diayuan tiba-tiba si pirang itu datang. Ia menawarkan baju kepadaku. Ia menyuruhku untuk menganti bajuku. Aku menggeleng lalu menunduk. Enggan menatap wajahnya. Sipirang mendengus kesal. Lalu ia memberikan kaos putih miliknya kepadaku. Kucium bajunya, wanginya seperti jeruk

Wajahku memucat, keringat membanjiri pelipisku. Kepalaku terasa sakit. Namun aku menahannya.

Kamis, 15 Juni 1990

Setiap bertemu dengan Naruto entah kenapa jantungku berdetak sangat kencang. Kurasa aku mulai menyukainya. Saat pelajaran memasak, sensei mengajari kami memasak sebuah kue kering. Sensei bilang kue yang kita buat boleh diberikan ke orang yang kita sayangi. Akhirnya aku membuat kue bergambar wajah si bocah pirang itu. setelah selesai aku hendak memberikan kue itu padanya. Sekalian aku juga ingin berkenalan dengannya. Namun saat aku ingin kekelasnya kulihat banyak anak perempuan yang memberikan kue kering pada bocah itu. bocah pirang itu terlihat senang dan hanya menggaruk tengkuk lehernya. Ku urungkan niatku. Memang lebih baik aku melihatnya dari jauh saja.

Saat hendak pulang aku mencium aroma jeruk dari salah satu loker. Aku yakin ini loker si pirang itu. dengan diam-diam, aku memasukan sekantong kue kering itu kedalam lokernya. Kuharap ia menyukai kue buatanku.

[Flashback]

"Naruto-kun, kami baru saja membuat kue kering saat pelajaran memasak. Bisakah kau berikan itu pada teman sebangku mu?" ucap gadis-gadis itu

"eh? maksudmu Gaara? Jadi kue-kue ini bukan untuk ku?" tanya Naruto kecewa

"tentu saja bukan. Ini untuk Gaara-kun" kata gadis-gadis itu."kupikir ini untuk ku" Naruto hanya tertawa bodoh sambil menggaruk-garuk tengkuk lehernya.

Sasuke hanya terdiam didepan pintu kelas. Ia tidak mendengar percakapan Naruto tadi. Yang ia lihat hanya ekspresi Naruto yang terlihat senang. Sasuke megurungkan niatnya. Saat melewati loker Naruto, buru-buru ia memasukan kue itu kedalam loker Naruto. Wajahnya sedikit memerah membayangkan Naruto memakan kuenya.

[flashback off]

"urggghhh.." aku memegangi kepalaku yang seperti ingin pecah. Ingatan ku, sepertinya sedikit demi sedikit telah kembali.

Senin 1 April 1991

Tahun ajaran baru. Tak terasa selama 1 tahun aku selalu memperhatikan si pirang yang bernama Naruto itu. Saat masuk ke kelas baru aku sedikit terkejut. Ternyata Naruto itu sekelas dengan ku. Rasa gugup muncul dihati ku. Saat sensei datang, ia memberikan kami tugas mengarang tentang "peristiwa menyenangkan yang pernah kami alami" Saat Naruto maju kedepan, ia menceritakan tentang peristiwa kue kering yang ia temukan didalam lokernya. Aku terdiam, wajahku memerah. Sungguh aku malu mendengar ucapannya.

"saat aku kelas 5 SD aku menemukan sekantong kue kering didalam loker ku. Kupikir, orang yang menaruh kue ini salah loker ternyata tidak. Kue itu bentuknya seperti wajahku. Karena aku lapar akupun memakan kue itu. Aku tercengang! Rasa kue itu sangat enak! Lebih enak dari masakan ibu ku! Baru kali ini aku memakan kue kering paling enak sepanjang masa. Aku tak tahu siapa yang membuat kue ini, namun jika aku bertemu dengan nya aku akan mengucapkan terimakasih padanya dan akan menjadikannya sebgai istriku" ucap Naruto panjang lebar

"kau yakin tidak salah orang?" ledek kiba. "tentu saja, bilang saja kau iri padaku! Wee!" Naruto menjulurkan lidahnya. Sasuke yang duduk dibelakang hanya menundukan wajahnya menahan malu.

Aku meneteskan air mata. Bibirku bergetar saat membaca buku ini.

Selasa 2 April 1991

Rencananya hari ini aku ingin mengajak ngobrol Naruto. Lalu aku ingin bilang padanya kalau akulah yang membuat kue kering itu. Aku sudah lelah melihatnya dari jauh. Sesekali aku ingin dekat dengannya. Mengobrol berdua bersamanya, bermain dan menginap bersama. Namun hari ini ayah mengajakku pergi keluar kota. Kata ayah, ada hal yang harus ia kerjakan. Akhirnya aku setuju. Kami sekeluarga akan pergi naik mobil ke luar kota. Baiklah! Sudah kuputuskan kalau besok aku akan mengobrol dengan Naruto. Naruto kau tahu, kau adalah cinta pertama ku sekaligus cinta terakhir ku.

Kosong...

Aku membalik halaman selanjutnya dan tetap sama. Kosong...

Aku ingat, setelah aku menulis ini barulah aku mengalami kecelakaan. Aku melihat kehalaman belakang. Disana banyak tertempel foto-foto Naruto saat ia masih kecil. Foto saat Naruto tersenyum, tertawa, makan ramen dan lain-lain.

Kaki-kakiku lemas. Aku menangis. Tak peduli harga diriku yang tinggi. Saat ini aku ingin terlihat lemah, aku ingin ada seseorang yang memeluk ku. Menenangkanku saat aku menangis. Kuremas dadaku yang sedikit linu.

Kini aku tahu, Aku mencintai Naruto.. sejak dulu, sekarang dan selamanya...

..

..

..

[Author POV]

Naruto terdiam. Ia hanya teduduk di kursi makan. Dihadapannya ada sebuah buku kecil dengan kertas berwarna oranye dan sebuah amplop berwarna coklat. Ia memijit keningnya yang sedikit pening.

"sepertinya ini hanya kerjaan orang iseng" guman Naruto. Ia membaca catatan yang ada dikertas berwarna oranye tersebut.

"tapi, jika ini hanya kerjaan orang iseng kenapa kejadian yang ada dikertas ini benar-benar nyata? Siapa sebenarnya pengirim kertas tersebut?" gumannya lagi.

Flashback

[Naruto POV]

Aku membuka paket tersebut. Aku sedikit lega karena paket tersebut hanya sebuah buku. Akupun membaca isi buku itu.

'Hai diriku yang ada dimasa lalu. Maukah kau membantu ku? Aku memiliki penyesalan yang sangat ingin aku hilangkan. Penyesalan yang sudah mengubah dunia ku, menghancurkan hidup ku dan membuatku seperti orang bodoh. Kuharap 'diriku' yang ada dimasa lalu mau membantu ku. Kumohon hapuslah penyesalanku..'

Sabtu 24 Desember 2015

Aku akan melamar Hinata. Tepat saat malam natal nanti. Aku sudah menyiapkan cincin berlian untuknya. Kuharap ia senang dan akan menerima lamaran ku

(*) jangan lamar Hinata. Katakan padanya bahwa kau menyukai Sasuke. Jujurlah pada dirimu sendiri 'diriku' yang ada dimasa lalu.

"a—apa ini?" gumanku . Wajahku memucat. Tanganku bergetar hebat. Apa ini? Surat dari diriku yang ada dimasa depan? Tapi bagaimana bisa?

Aku membuka halaman selanjutnya.

Sabtu 24 Desember 2015 (21.00)

Hinata menerima lamaran ku! Ia setuju untuk menikah dengan ku! Sungguh aku sangat senang! Bahkan saat didepan rumah aku mencium bibir manisnya. Aku memberitahukan berita bahagia ini pada Sasuke. Namun ia terlihat tidak peduli, aku yang kesal lalu menyindirnya. Ia merasa tersinggung lalu mulai menghina-hina wanita yang sangat aku cintai itu. Aku marah! Bisa-bisanya ia menghina Hinata seperti itu! brengsek! Dengan refleks aku menampar pipinya. Ia terlihat kesal dan pergi meninggalkan ku. Masa bodo dengannya. Dia hanya makhluk egois yang menjijikan! Lebih baik kau mati saja.

(*) kumohon padamu jangan pernah membentaknya. Jangan pernah menamparnya. Bicaralah baik-baik dengannya. Aku mohon.

"aku dan Sasuke bertengkar hebat? Ma—mana mungkin? Apa benar hal ini akan terjadi?" gumanku. Aku membalik halaman selanjutnya dan ternyata kosong.

"kenapa hanya ada 2? Hmm.. aneh sekali"

.

.

.

24 Desember 2015

Aku telah duduk didepan Hinata. Kami berdua makan bersama disebuah restoran mewah dikota Tokyo. Aku tidak nafsu makan. Entahlah, rasanya makanan itu tidak terlalu menarik untuk dimakan. Aku hanya memandang keluar jendela. Jadi benar, yang dikatakan buku itu semua nyata. Aku dan Hinata benar-benar makan malam bersama dan bahkan aku juga sudah membawa cincin untuk melamarnya. Yang benar saja! Apa yang sebenarnya terjadi?

"Naruto-kun kau tidak apa-apa?" tanya Hinata. Ia terlihat khawatir. Aku menggeleng. Ku genggam kedua tangannya. Persetan dengan buku itu! Aku tetap akan melamar Hinata. Lagi pula aku normal, mana mungkin aku mencintai Sasuke.

"Naruto-kun?" Hinata terlihat bingung. Aku menatap matanya. Ku ambil kotak kecil yang ada disaku jas ku. Kubuka kotak kecil itu dan menunjukannya pada Hinata. Hinata terlihat kaget, wajah cantiknya memerah menahan malu.

"Na—Naruto-kun.. I—Ini.."

"Hinata-chan, maukah kau menikah dengan ku?" tanyaku sambil memasangkan cincin di jari manisnya. Hinata terdiam. Wajahnya makin memerah. Ahhh betapa lucunya dia.

Hinata menghela nafasnya lalu tersenyum kearahku.

"apa benar kau mencintai ku Naruto-kun?" tanya Hinata. Aku memandanginya bingung.

"tentu saja aku mencintai mu Hinata-chan" jawabku. "lalu bagaimana dengan Sasuke-kun? Kau terlihat dekat dengannya bahkan kau sangat megkhawatirkannya" lanjut Hinata. Aku terdiam. Ku gigit bibir bawahku. Astaga, kenapa saat ini aku terlihat seperti orang ling lung?

"Sasuke hanya teman ku. Aku mengkhawatirkannya karena sepertinya ia orang yang err— butuh perlindungan?" kataku sambil mencoba tersenyum. Hinata menggeleng. Ia menggenggam tanganku.

"Naruto-kun. Jika aku dan Sasuke berada dalam bahaya siapakah yang akan kau tolong dan siapakah yang akan kau khawatirkan. Aku atau Sasuke-kun?" tanya Hinata. Aku terdiam. aneh? Kenapa Hinata berbicara seperti itu.

"tentu saja aku akan menolong mu Hinata-chan" kataku mantap. Hinata tersenyum. "lalu artinya kau akan mengkhawatirkan Sasuke?" lanjutnya. Aku terdiam. Hinata menoleh kearah jendela. Ia menatap langit Tokyo yang dituruni oleh butiran salju.

"Naruto-kun, kau menolongku bukan karena kau mencintai ku. Kau menolongku hanya karena kau menganggapku seorang wanita yang patut untuk dilindungi—" kata Hinata. Ia menatap mataku seakan ia sedang membaca pikiranku.

"—kau mengkhawatirkan Sasuke-kun. Berarti hanya Sasuke-kun lah yang ada dipikiran mu. Ia seorang laki-laki jadi kau berpikir untuk tidak melindunginya, namun nyatanya kau masih memikirkannya." Lanjut Hinata. Aku lagi-lagi terdiam tak berkutik.

"jika disuruh memilih ditolong atau dikhawatirkan maka aku lebih memilih untuk dikhawatirkan oleh mu, Naruto-kun" Hinata tersenyum padaku. "aku tahu, sebenarnya kau mencintai Sasuke-kun, benarkan? Aku seorang psikolog jadi aku tahu sifat dan karakter setiap manusia" lanjut Hinata.

Aku menatapnya kemudian tersenyum. "yeah, kurasa kau benar. Entah kenapa saat berada disisi Sasuke aku merasa sangat nyaman. Sasuke seperti butuh perlindungan dariku" kataku.

"jadi, apa kau sudah mengatakannya pada Sasuke-kun?" tanya Hinata. Aku memandangnya bingung. "mengatakan apa?" tanyaku. Hinata tertawa melihat kebodohanku.

"maksudku apa kau sudah bilang pada Sasuke-kun kalau kau mencintainya?" tanyanya lagi. Aku menggeleng. "aku bahkan tak tahu apakah dia mencintai ku atau tidak" jawabku sambil menggaruk tengkuk leherku.

"mau ku bantu?" tawar Hinata. Aku mengangguk.

"saat kau pulang katakanlah pada Sasuke kalau kau telah melamar ku. Katakan padanya kalau aku menerima lamaranmu . Selanjutnya bilang pada Sasuke kalau aku terlihat cantik malam ini. Kau harus terus memujiku didepan Sasuke. Nanti lihatlah apa yang terjadi, jika Sasuke terlihat kesal atau cemburu itu tandanya ia juga mencintai mu." kata Hinata.

"eum! Baiklah akan aku lakukan dattebayo!" jawabku penuh semangat. Ku harap Sasuke juga mencintaiku.

..

..

..

Saat aku pulang aku benar-benar melakukan hal yang diucapkan Hinata. Dibuku itu juga tertulis kalau Sasuke akan marah dan kami bertengkar hebat.

Namun saat aku selesai berceritanya, ada yang aneh dengan Sasuke. Ia tidak marah bahkan ia mengucapkan selamat padaku. Apa yang terjadi? Bukankah dibuku misterius itu tertulis jika Sasuke marah dengan ku?

Flashback off

Aku meminum secangkir kopi hangat diatas meja. Jam menunjukan pukul 2 siang. Berarti sudah 5 jam Sasuke pergi ke makam orang tuanya.

Aku kembali memikirkan kejadian kemarin. Kenapa saat itu Sasuke tidak marah? Jika buku harian itu hanya kerjaan orang iseng lantas kenapa kejadian saat makan malam dengan Hinata benar-benar terjadi.

Jika seperti ini hanya ada 1 kemungkinan. Takdir yang sudah berubah...

Namun, bagaimana takdir bisa diubah? Aku kembali berpikir.

'Naruto apa kau tahu time travel?'

'Ada seseorang yang mendapat buku misterius. Ternyata buku itu dikirim oleh 'dirinya' yang ada dimasa depan. Buku itu berisi kejadian-kejadian dimasa depan yang tidak pernah diketahui olehnya. Intinya buku itu adalah buku ajaib yang bisa meramal masa depan. Menurutmu apa kau percaya dengan kejadian itu?'

Aku terdiam. Apa saat itu Sasuke sedang membicarakan buku ajaib ini? Tunggu.. jangan-jangan...

Dengan cepat aku masuk kekamar Sasuke. Membuka isi lemari dan lacinya. Mencari 'benda' ajaib itu.

"ini dia.." gumanku

Aku menemukan sebuah buku harian di laci kecil. Kubaca isi buku itu dan benar saja ini adalah kejadian saat pertama kali aku dan Sasuke bertemu. Buku ini sama persis dengan punya ku. Ada tulisan bercetak tebal yang menyuruh kami melakukan perintah dibuku harian itu. Dengan tergesa-gesa aku membalik semua halamannya. Aku terdiam saat halaman itu menunjukan tanggal 24 Desember 2015. Itu adalah saat dimana Sasuke mengubah takdir kami.

Sabtu, 24 Desember 2015

Naruto pulang dengan keadaan sumringah. Aku sedikit heran dengan tingkahnya. Dia bilang padaku kalau ia baru saja melamar Hinata. Ia terlihat sangat senang namun aku tak peduli. Naruto kesal karena aku menganggapnya tidak serius. Ia mulai menyindir ku, aku yang tersulut emosi ikut memakinya, menghina-hina wanita yang bernama Hinata. Naruto marah dan menampar ku. Aku yang kesal hanya menatapnya sinis dan memilih untuk meninggalkannya. Aku sangat membencinya, ku harap aku tak akan pernah bertemu lagi dengan Naruto.

(*) jangan bertengkar dengan Naruto. Dengan perlahan katakanlah padanya kalau kau ikut senang. Saat suasana sudah memungkinkan katakanlah pada Naruto bahwa kau mencintainya. Kumohon..

Aku terdiam. Mataku membelalak kaget. Apa ini benar? Sasuke.. apa dia juga mencintai ku?

'—hari ini aku tidak masak. Jika kau lapar kau bisa memasak ramen instant di dalam rak'

Aku terdiam mendengar perkataan Sasuke saat itu. Buru-buru aku pergi kedapur dan membuka rak tersebut. Kuambil sebuah ramen instant dan benar saja. Di atas ramen instant tersebut tertempel sebuah kertas. Aku mengambil kertas tersebut dan membacanya.

"ada yang ingin aku katakan padamu, mungkin setelah kau membaca ini kau akan mengatakan bahwa aku adalah makhluk yang menjijikan—"

Aku membalik kertas tersebut.

"—Naruto, aku mencintai mu"

Degh! Jantungku berdetak sangat kencang. Yang ada dipikiran ku hanyalah Sasuke. Aku harus mengatakan padanya kalau aku juga mencintainya. Tiba-tiba buku harian milik Sasuke terjatuh. Saat aku ingin mengambilnya tiba-tiba wajahku mulai memucat. Tidak.. ini tidak akan terjadi kan?

'Naruto, jika 3 bulan lagi aku akan meninggal apa yang akan kau lakukan?'

Tubuhku bergetar hebat. Tidak, ini pasti bohong!

Minggu, 25 Desember 2015

Aku menyesal, aku benar-benar menyesal. Akhirnya akupun meninggal dengan penyesalan yang ada pada diriku.

Dengan tergesa-gesa aku mengambil handphone dan jaketku. Menutup pintu dan langsung berlari menemui Sasuke. Orang-orang hanya menatapku aneh. Aku yakin mereka aneh dengan pakaianku. Hanya orang gila yang memakai kaos oblong tipis dan celana piyama berkeliaran ditengah salju lebat seperti ini. Mungkin itu yang dipikirkan mereka. Cih! Persetan dengan hal itu. Saat ini yang ada dipikiranku hanya Sasuke.

Aku mencoba menghubungi Sasuke.

"halo?"

"Sasuke! Hah.. kau dimana?" tanyaku tersenggal-seggal.

"ka—kau sedang berlari?" tanyanya.

"cih! itu tidak penting! Dimana kau sekarang teme!" kataku. Sasuke terdiam.

"rumah keluarga Uchiha" jawabnya

"baiklah! Kau tunggu aku disana. Jangan kemana-mana sampai aku datang, mengerti?!" kataku.

"..." tak ada jawaban dari Sasuke. Aku sedikit panik.

"Sasuke?!" teriakku

"berisik aku mendengar mu tau!" balasnya. Aku menghela nafas lega.

"Sasuke, apa kau tahu buku misterius yang saat itu kau ceritakan padaku?" tanyaku. Sasuke hanya berdehem. "—aku, akhirnya mengetahuinya. Aku tahu fungsi buku itu." kataku

"darimana kau tahu?" tanya Sasuke. Aku tersenyum.

"karena aku juga memilikinya Sasuke" kataku.

"..." Sasuke terdiam

"aku juga menemukan buku misterius ini dilaci kamarmu. Tak kusangka kau juga memilikinya Sasuke" kataku. Aku terus mengajaknya berbicara agar ia tidak kesepian disana.

"Naruto, boleh aku bercerita padamu?" tanya Sasuke

"hng! Ceritalah padaku" kataku. Terdengar jeda disambungan telepon.

"Naruto, kau ingat kue kering yang saat itu kau temukan diloker mu?" tanya Sasuke.

"hng? Yeah aku masih ingat." Kataku

"saat aku kembali kerumahku. Aku menemukan sebuah buku harian. Ternyata itu buku milikku saat kecil. Aku membacanya dan perlahan ingatanku yang hilang muncul kembali. Kue kering itu, akulah yang membuatnya" lirih Sasuke. Aku terdiam, lalu tersenyum.

"terima kasih kau sudah membuatkan kue kering terenak sepanjang masa Sasuke" kataku. Sasuke tekekeh pelan.

"dan kau tahu Naruto, bocah pirang yang saat itu menolongku adalah dirimu. Kau menolongku dari gangguan bocah-bocah nakal itu" kata Sasuke. Kudengar suaranya sedikit bergetar. Aku sedikit khawatir padanya.

Tak terasa aku sudah sampai didepan stasiun.

"Sasuke, dengarkan aku. Tenangkan dirimu. Aku akan segera kesana tunggulah aku.." kataku

Aku masuk kedalam kereta itu.

"—Naruto, terima kasih sudah membatuku mengingat masalalu ku" kata Sasuke. Aku tersenyum. Entah kenapa saat ini Sasuke begitu berterus terang. Berbeda sekali saat aku bertemu pertama kali dengannya.

"iya sama-sama. Aku senang jika ingatanmu telah kembali" kataku

Kresekk! Kreseekk!

Tiba-tiba terdengar suara aneh ditempat Sasuke. Aku menggigit bibir bawahku.

"Sasuke?! Kau tak apa?! Sasukeee?!" tanyaku. Samar-samar aku mendengar suara Sasuke.

"Na—Naruto, aku.. aku menci—"

"maaf tuan, anda tidak boleh bertelpon saat berada didalam kereta. Anda akan menganggu penumpang yang lain" kata seorang penagih tiket. Cih! Sial.

"Sasuke, aku akan menghubungi mu nanti"

Tut! Aku memutuskan sambungan teleponnya. Ya Tuhan lindungilah Sasuke.

..

..

..

..

[Sasuke POV]

"Na—Naruto! aku.. aku mencintaimu" lirihku.

"Sasuke, aku akan menghubungi mu nanti"

Tut! Naruto menutup sambungan teleponnya.

Aku terdiam. Menatap sinis orang yang ada dibelakangku. Ia menodongkan pisau dileherku.

"apa mau mu?" tanya ku. Orang itu hanya tertawa. Ia mengeratkan ikatan tali ditanganku. Aku sedikit meringis kesakitan. Orang itu mendorongku hingga aku terjatuh kelantai.

"mau ku? Tentu saja membunuh mu Uchiha Sasuke" orang itu menyeringai. Ia pun mengambil kursi dan duduk dihadapan ku. Ia menarik dagu ku agar aku dapat menatap wajahnya. Aku menatap orang itu dengan tatapan menusuk.

"well, sepertinya percakapan tadi adalah percakapan terakhirmu dengan si pirang itu, iya kan?" orang itu memainkan pisau ditangannya. "—sebab, hari ini Uchiha Sasuke akan mati ditanganku" kata orang itu.

"kenapa kau ingin membunuh ku?" tanya ku. Orang itu tersenyum.

"balas dendam. Itulah yang ingin aku lakukan. Apa kau tidak tahu kebusukan apa yang telah dilakukan Uchiha kepada warga desa ini hah?!" orang itu menjambak rambutku dengan keras. Aku hanya bisa meringis kesakitan.

"ku kira kau orang baik, ternyata aku salah. Seharusnya aku percaya pada Naruto" kataku. Orang itu tertawa sangat keras. "aku salut pada bocah pirang itu. Dia bahkan bisa menebak ku kalau aku adalah orang jahat" kata orang itu.

"cih! ternyata kau orang yang brengsek! Hatake Kakashi" kataku singit.

Bugh! Dia memukul rahangku dengan kuat. Kakashi menarik kerah bajuku.

"kau pikir siapa yang lebih brengsek hah?! Aku apa kau yang seorang keturunan Uchiha?!" Kakashi berteriak didepan wajahku. Aku hanya menatapnya tajam.

"kenapa?" gumanku. Kakashi menatapku. "—kenapa kau membenci kami? Apa yang sebenarnya kami lakukan kepada kalian?" tanya ku. Kakashi tertawa.

"ahh aku lupa jika kau dilahirkan sebelum masa kegelapan" kata Kakashi. Aku menatapnya bingung. "masa kegelapan?" tanyaku.

"yeah, masa dimana Uchiha yang seorang pemimpin bertindak semena-mena kepada warganya. Saat itu aku masih kecil. Orangtuaku hanya seorang petani ladang. Kami hidup dibawa garis kemiskinan. Namun tiba-tiba Uchiha-Uchiha itu datang. Mereka meminta pajak yang tinggi kepada ayahku. Tentu saja kami tak punya uang. Dengan beringas mereka memukuli ayahku. Memperkosa ibuku bahkan membakar seluruh rumahku. Aku saat itu benar-benar shock. Saat itu aku bersumpah akan membunuh seluruh klan Uchiha" kata Kakashi.

"—satu persatu semua Uchiha telah kubunuh dengan racun. Maka dari itu terjadilah kematian masal diklan Uchiha. Namun ternyata masih ada beberapa Uchiha yang masih hidup. Contohnya ayahmu" kata Kakashi. Aku menatap horor kearah Kakashi. Ia hanya menyeringai.

"prinsip hidupku adalah membunuh semua keturunan Uchiha maka dari itu aku membunuh keluargamu. Akulah yang menyebabkan kecelakaan itu. Aku memotong rem mobil milik ayahmu dan kau tahu! semua Uchiha didalamya mati terbakar hahahaha!"

"ap—apa?! brengsek kau! Kenapa aku tega melakukan itu pada keluarga ku hah?!" kataku. Wajahku memerah menahan amarah. Kakashi menatapku tajam.

"Uchiha memang pantas mendapatkannya. Namun saat kecelakaan itu ternyata ada 1 Uchiha yang masih bisa diselamatkan. Saat itu aku bersumpah akan membunuhmu. Namun ternyata kau malah dikirim ke Tokyo untuk tinggal bersama paman mu" kata Kakashi. Ia menarik daguku dan memainkan ujung pisau yang tajam itu kewajahku. Ia menggoreskan ujung pisau itu ke pipiku hingga berdarah.

"—kau tahu, apa kesalahan terbesarmu?" tanya Kakashi. Aku hanya menatapnya tajam.

"—saat itu kau menunjukan buku aneh itu kepadaku. Tepat tanggal 25 Desember aku memang berencana untuk membunuh mu. Namun aku masih ragu, kau tahu Tokyo adalah kota yang ketat dengan hukum. Jika aku mencoba membunuhmu tapi tidak berhasil maka aku akan rugi. Aku akan masuk neraka sedangkan kau tetap akan hidup bahagia. Maka dari itu aku agak ragu jika ingin membunuhmu. Tapi, Kau datang padaku dan menunjukan padaku kalau kau akan mati pada tanggal 25 Desember. Saat itu aku benar-benar senang mengetahui kalau rencanaku akan berjalan sukses" katanya.

"—kau tahu saat kau melarangku untuk pergi kesupermarket. Sebenarnya saat itu aku ingin membeli racun tikus untuk mu. Namun kau malah mengagalkan ku. Seharusnya kau membiarkan musuhmu ini terluka bukan malah menolong musuh ini hahahaha" Kakashi tertawa layaknya orang gila.

"melihat wajahmu ini rasanya aku ingin memukuli mu" katanya.

Bugh! Ia menonjok pipiku dengan keras. Bisa kurasakan darah segar turun dari hidung ku.

"kau harusnya mati!" Kakashi menarik rambutku dan membenturkan kepalaku dengan keras kearah dinding.

"akh! Sa—sakit! Hentikan!" aku hanya meringis kesakitan. Darah segar mengalir dari kepalaku. Kakashi mendorongku hingga aku tersungkur kelantai. Padanganku mulai buram. Tidak, aku tidak boleh mati disini. Aku yakin, aku bisa mengubah takdir.

Kakashi menginjak kepalaku dengan sepatunya. Ia mengambil rokok dan menghisapnya kuat-kuat. Ujung rokok yang terbakar ditekankan dipunggung tanganku. "khhh..! " aku merintih kesakitan

Aku menatapnya dengan tatapan merendahkan. "kau tahu, Uchiha tidak seperti yang kau pikirkan. Ayahku adalah orang yang baik. Ia bahkan mau memimpin desa walau ia dicaci maki oleh warganya. Ayahku orang yang sabar. Ia selalu menolong orang-orang didesa. Kau hanya pengemis yang hanya melihat seorang Uchiha dari luarnya saja!" kataku. Kakashi terlihat sangat marah. Ia mengambil pisau disakunya dan menusuk perutku dengan pisaunya yang tajam itu.

"ughh!" aku menahan sakit yang menjalar diperutku. Darah mengalir diperutku. Mengotori mantel dan bajuku.

Kakashi menarik pisaunya dengan keras membuatku kembali meringis. Ia tersenyum kemudian kembali menusuk kaki ku.

"argghh! HENTIKAN!" ringisku. Ia hanya tertawa melihat ku yang kesakitan. "RASAKAN ITU IBLIS! MATILAH KAU!" teriak Kakashi.

"ahhh.. khhh— ughhhh—" aku menahan rasa sakit yang ada ditubuhku. Rasanya amat sangat menyakitkan. Perut dan kakiku terus mengeluarkan darah.

Drrtt.. Drrtt... Drrtt..

Tiba-tiba handphone ku bergetar. Terpampang nama Uzumaki Naruto dilayar ponselku. Kakashi mengambil ponsel itu dan menyuruhku menjawab panggilan dari Naruto.

"Sasuke! Aku sudah sampai didesa konoha, kau masih disana kan? tunggulah sebentar aku akan kesana" kata Naruto.

"..." aku tak menjawab. Aku tak punya tenaga untuk menjawab pertanyaan Naruto. tubuhku mati rasa. Aku tidak kuat lagi.

"Sasuke?! Kau tidak apa-apa?! Sasuke?!" Naruto terlihat panik.

"..." aku tak menjawabnya.

"Sasuke, aku yakin kau tidak apa-apa. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau bisa menjaga dirimu sendiri. Aku percaya padamu" kata Naruto. Aku menggigit bibir bawahku.

"Na—Naruto" lirihku nyaris tak terdengar.

"Sasuke, aku akan menjawab perasaan mu. Aku, juga mencintaimu Uchiha Sasuke. Aku akan selalu mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya" kata Naruto. Aku terdiam, kurasakan luquid bening turun dari pelupuk mataku.

Aku benar-benar senang, akhirnya aku tahu apa penyesalan yang aku buat saat itu. Aku menyesal karena baru mengetahui bahwa orang yang selama ini disisi ku adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku menyesal karena baru mengetahuinya, saat aku ingin meminta maaf pada Naruto ternyata Tuhan sudah mengambil nyawaku.

Tapi saat ini aku sudah tenang, Naruto membalas perasaanku. Hei! diriku yang berada dimasa depan. Sepertinya aku sudah menghapus semua penyesalanmu.

Kakashi menatapku tajam. Ia menginjak lukaku dengan kakinya.

"ughhh.." rintihku

"Sasuke?! Kau kenapa?!" tanya Naruto

"ja—jangan datang kesini Naruto" lirihku

"Sa—Sasuke?! Apa yang—"

Tut.. Tut.. Tut...

Sambungan telepon terputus.

Bugh! Kakashi menendang perutku dengan keras. "uhuukk!" aku pun batuk darah karena pukulan keras itu.

"brengsek! Kenapa kau menyuruhnya untuk tidak datang kesini?! Padahal aku juga ingin membunuh si pirang itu" marah Kakashi. Ia terus memukuli tubuhku tanpa henti. Kini tubuhku benar-benar mati rasa. Pandanganku mulai memburam.

"Na—Naruto.. kumohon jangan datang kesini"

..

..

..

[Author POV]

Cih! Sial! Naruto berdecak kesal. Ada yang tidak beres dengan Sasuke. Buru-buru ia berlari kerumah keluarga Uchiha.

BRAK! Naruto membanting pintu rumah Uchiha.

"Sasuke?! kau dimana?!" Naruto berlari menelusuri setiap kamar. Sampai akhirnya ia berdiri tepat dikamar Sasuke. mata naruto membelalak kaget, wajahnya memucat melihat sasuke yang tersungkur dilantai. Cairan merah pekat sudah tergenang diatas lantai.

"Sasuke!" buru-buru Naruto menghampiri Sasuke. Dibukanya tali yang mengikat tangan Sasuke. Sasuke menatap Naruto dengan pandangan sayu.

"Na—Naruto.." guman Sasuke.

"tenang lah semua akan baik-baik saja. Kita akan pulang kerumah oke" kata Naruto. Ia merobek kain putih yang menutupi perabotan rumah dan menutup luka yang ada diperut Sasuke. Berharap agar darah yang keluar tidak terlalu banyak.

"haahh.. haahh.. hahhh.." nafas Sasuke tersenggal-senggal. Wajahnya terlihat sangat pucat. Naruto menggenggam tangan Sasuke. Meniupnya agar Sasuke tetap merasa hangat. Namun itu sia-sia, tubuh Sasuke masih tetap dingin. Naruto mencium bibir Sasuke. Menciumnya lembut agar bibir itu tak lagi bergetar kedinginan.

"dengar Sasuke, kau tidak perlu takut. Aku berjanji akan terus melindungimu" Naruto tersenyum kearah Sasuke.

"Na—Naruto dibelakang mu" lirih Sasuke. Naruto menoleh kebelakang.

BUAAGHH! Dengan keras Kakashi memukul punggung Naruto dengan balok kayu. Naruto tersungkur ketanah. Darah mulai mengalir dari kepalanya. Padangannya mulai buram. Naruto bisa melihat Sasuke yang mencoba menolongnya.

Kakashi menarik kerah baju Naruto.

"wow wow wow.. sepertinya pahlawan kita sudah datang huh? Tapi maaf saja, sepertinya kau harus gugur disini" Kakashi mengeluarkan pisaunya dan menusuk perut Naruto. Darah segar mengalir membasahi baju Naruto. Naruto terlihat sangat kesakitan.

"Kakashi, kumohon hentikan" lirih Sasuke. Kakashi menatap Sasuke. "kau boleh membunuhku. Tapi kumohon jangan lukai Naruto" lanjut Sasuke. Kakashi tertawa. Ia mendorong Naruto hingga terjatuh lantai.

"tak kusangka Uchiha bisa memohon juga—" Kakashi tertawa layaknya seorang iblis

"—well aku akan membiarkannya mati kehabisan darah, selanjutnya aku akan membunuhmu Uchiha Sasuke" Kakashi mulai mengarahkan pisau itu tepat didada Sasuke. Sasuke hanya memejamkan matanya. Ia siap jika nyawanya diambil.

Dor! Terdengar suara pistol yang ditembakan. Sasuke membuka matanya. Ia terbelalak kaget saat melihat peluru itu berhasil melukai perut Kakashi. Bruk! Kakashi jatuh kelantai sambil memegangi perutnya yang terluka.

"kau pikir –hahh— hanya karena memukulku dengan balok kayu –haahh— aku akan mati dengan mudahnya. Bermimpilah Kakashi!" kata Naruto sambil tersenyum. Walau nafasnya tersenggal-senggal ia masih bisa tersenyum sinis kearah Kakashi. Kakashi menatap tajam kearah Naruto.

"brengsek! Dari mana kau dapat pistol itu?!" teriak Kakashi.

"dari sakumu, maaf ya aku telah mencurinya" kata Naruto. Amarah Kakashi memuncak

"mati kau sialan!" Kakashi mulai berlari sambil menodongkan pisaunya kearah Naruto.

Dor! Lagi-lagi Naruto menembaknya. Tapi kini hanya melukai kakinya saja. Kakashi tersungkur ke lantai.

"kau tahu, Sasuke sangat menghormatimu. Ia bahkan menganggapmu seperti kakaknya sendiri. Tapi kenapa kau melakukan ini padanya?" tanya Naruto

"berisik kau sialan! Itu karena dia adalah Uchiha! Uchiha memang pantas mati!" kata Kakashi. Naruto menatap dingin kearah Kakashi.

"aku tahu, banyak yang membenci Uchiha. Bahkan ibu dan ayahku juga membenci mereka tapi tidak dengan ku. Aku tak membenci mereka. Walau mereka bertindak semena-mena aku memakluminya. Ada kalanya manusia terbawa nafsu dunia hingga tega menyiksa orang lain" kata Naruto. Kakashi terdiam.

"kau memang banyak tingkah bocah" kata Kakashi, ia menocoba berdiri. "kau benar tapi maaf prinsipku adalah membunuh Uchiha. Sampai matipun aku akan membunuhnya" kata Kakashi. Ia jalan terpincang-pincang meninggalkan Naruto dan Sasuke.

Bruk! Naruto tiba-tiba terjatuh. Ia memegang luka diperutnya. Dengan perlahan Naruto menyeret tubuhnya. Mendekati sang pujaaan hati yang sedang menatapnya sayu.

"kau.. tidak usah khawatir. Aku yakin.. Kakashi akan mati karena dia akan kehabisan darah" kata Naruto, mencoba tersenyum untuk menghibur Sasuke.

"..." Sasuke hanya terdiam. Ia hanya bisa memandang Naruto dengan padangan sayu. Nafasnya sudah melemah.

"Sasuke.. kau tahu, saat itu aku bilang padamu kalau orang yang telah menolongmu saat kau kecil itu terlihat sangat menjijikan. Aku baru sadar tenyata orang yang kau maksud adalah aku. –uhuk— berarti secara tak sadar aku menghina diriku sendiri. Aku memang bodoh ya" kata Naruto. Sasuke hanya tersenyum lemas.

Naruto mendekatkan wajahnya kewajah Sasuke. Mencium lembut bibir Sasuke. Naruto bisa merasakan darah yang ada dibibir Sasuke. Ia menjilat darah itu hingga bersih. Naruto melumat bibir Sasuke.

Bibir inilah yang sering mengeluarkan komentar pedas..

Bibir inilah yang sering mengejek Naruto..

Bibir inilah yang akan dirindukan oleh Naruto selamanya..

"Sasuke.. aku mencintai mu sangat sangat mencintaimu" bisik Naruto ditelinga Sasuke. Sasuke tersenyum. Tiba-tiba air matanya menetes. Mungkin ini adalah saat-saat terakhir Sasuke. Mungkin ia tak akan lagi mendengar ocehan bodoh milik Naruto. Sasuke pasti akan merindukan suara ini.

"aku— juga mencintaimu Naruto. Kau adalah cinta pertama dan terakhir ku" lirih Sasuke nyaris tak terdengar. Sasuke tersenyum kearah Naruto. Tiba-tiba matanya terpejam. Deru nafasnya sudah tidak terdengar lagi. Detak jantungnyapun sudah berhenti.

Naruto menangis. Ia tak ingin kehilangan Sasuke. Dipeluknya tubuh Sasuke yang sudah mendingin.

"Sasuke aku mencintamu" kata Naruto sambil mencium kepala Sasuke

.

.

.

Angin berhembus sangat kencang. Naruto duduk bersender didinding. Tatapan matanya kosong. Ia memang masih hidup tapi jiwa kini tak ada lagi. Naruto seperti mayat hidup. Wajahnya pucat, bibirnya juga membiru. Udara semakin dingin tapi ia tak mempedulikanya.

"aku mencintaimu Sasuke.. aku mencintaimu Sasuke.. aku mencintaimu Sasuke.." Naruto terus merapalkan kata-kata itu. Diusapnya kepala Sasuke yang kini tengah tertidur damai diatas pahanya.

Mata Naruto terasa sagat berat. Rasanya ia ingin tidur.

"oii! dobe! Jangan tidur disini!" tiba-tiba Naruto mendengar suara Sasuke.

"Sa—suke?" lirih Naruto.

"cih! Sudah ku bilang berapa kau jika kau tidur disini kau akan kedinginan, kau memang dobe ya!" Sasuke tersenyum sinis kearah Naruto. Naruto tersenyum.

"dobe! Kau mau ikut dengan ku? Aku harap kita akan bahagia selamanya dialam sana" kata Sasuke. Ia mengulurkan tangannya kearah Naruto.

Naruto menerima uluran tangan Sasuke. Tangan Sasuke sangat dingin seperti es. "Sasuke.. Tanganmu dingin sekali. Aku berjanji dialam sana aku akan selalu menjadi matahari yang akan selalu menghangatkan mu" kata Naruto. Sasuke lagi-lagi tersenyum tipis.

"Sasuke.. aku mencintaimu" kata Naruto sambil mencium kening Sasuke. "aku juga mencintaimu, Naruto. Dulu.. sekarang.. dan selamanya.." balas Sasuke.

"ayo! Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku" kata Sasuke bersemangat. Mereka berdua pun berlari kearah cahaya putih diujung jendela.

Bruk! Buku kecil berwarna oranye yang ada disaku Naruto terjatuh. Angin terus meniupi halaman-halaman yang ada dibuku itu sampai akhirnya berhenti dihalaman paling belakang.

Minggu, 25 Desember 2015

Aku terkena luka tusuk diperutku. Banyak darah yang keluar. Sasuke sudah lebih dulu meninggalkan ku. Mungkin sebentar lagi aku akan menyusulnya. Saat ini aku sangat bahagia. Selama ada Sasuke disisiku aku yakin akan terus tesenyum berdua dengannya.

Angin berhembus dijendela rumah Uchiha. Pukul 20.00 aku mati dengan sebuah senyum mengukir diwajahku. Aku mencintai mu, Uchiha Sasuke.

THE END

..

..

[Omake]

Hinata berjalan melewati ramainya kota Tokyo. Ia terhenti saat melihat sebuah kedai ramen didekat stasiun. Dengan perlahan ia masuk ke kedai itu.

"pesan apa nona?" tanya paman pemilik ramen itu

"aku pesan ramen dengan ekstra tomat" kata Hinata. Paman itu mengangguk.

"ayo cepat. Nanti ibu bisa menemukan kita!" bisik seorang bocah berambut pirang

"aku tidak mau dobe! Aku tidak mau masuk kesini!" kata bocah berambut raven sambil membenahi letak kacamatanya. Si pirang mendengus kesal.

"oh ayolah, kau hanya perlu menemaniku makan ramen! Sudah lama aku ingin makan ramen!" kata si pirang itu

"sudah berapa kali ku bilang, kau tidak boleh makan ramen dobe! Nanti perutmu sakit! Lebih baik kau makan sayuran yang bergizi sepeti tomat" balas si raven itu sambil berkacak pinggang.

"dasar maniak tomat! Paman aku pesan ramen 1" kata si pirang itu.

Si raven hanya mendengus kesal. Hinata melirik kearah 2 bocah itu. Mereka mengingatkan Hinata pada sosok yang sangat dikenalnya 5 tahun yang lalu.

"ini pesanannya nak" kata paman itu. "terima kasih paman" kata si pirang itu sambil tersenyum, ia mengambil sumpit dan mulai memakan ramen tersebut dengan semangat. Bocah raven yang ada disampingnya hanya menatapnya sinis.

"cih! Kalau kau mau harusnya kau bilang padaku. Aku kan bisa mentraktirmu" kata si pirang.

"kata siapa aku mau?! Aku tak mau makan makanan penuh lemak seperti it— ummphh!" dengan tiba-tiba si pirang memasukan mie ramen itu kedalam mulut si raven.

"kau ini! Astaga kenapa aku harus punya adik tsundere seperti mu?! kau harus banyak makan, lihat tubuhmu kurus seperti kurang gizi!" kata si pirang, ia menyeruput kuah ramennya hingga habis. Setelah selesai makan, si pirang memberikan beberapa lembar uang kertas ke penjual ramen.

"terima kasih paman! Sudah kuduga ramen ichiraku memang ramen terenak di dunia!" kata si pirang sambil tersenyum konyol.

"aku tak ikut campur jika ibu marah padamu" kata si raven. Si pirang hanya menjulurkan lidahnya.

"Boruto! Sarada! Dimana kalian, ayo kita pulang ini sudah malam" teriak seorang wanita.

"iya ibu" 2 bocah itu pergi menghampiri ibunya.

"Sarada ayo cepat nanti kutinggal!" kata anak yang bernama Boruto. Ia sudah berlari meninggalkan bocah yang bernama Sarada itu sendirian.

"cih, punya kakak yang bodoh memang sangat menyebalkan!" guman Sarada. Merasa diperhatikan, Sarada menoleh kearah Hinata. Hinata terdiam.

Sarada menatap mata silver milik Hinata. Dia kemudian tersenyum kearah Hinata.

"terima kasih sudah membiarkan ku bersama dengan Naruto untuk selamanya" kata Sarada. Hinata terdiam kemudian ia tersenyum kearah Sarada.

"sama-sama Sasuke-kun" kata Hinata.

"teme! Cepat, nanti kau kutinggal nih" teriak Boruto. Sarada mendengus kesal. "iya-iya dasar bawel!" kata Sarada sambil meninggalkan Hinata sendirian.

Hinata tersenyum sambil menatap kedua bocah itu.

"tak kusangkah kalian bereinkarnasi dengan cepat, ne? Naruto-kun.. Sasuke-kun"

TAMAT

YEEEYYY! Akhirnya tamat juga ahahahaha... eciiiieee yang baper baca FF saya. Maap ya kalo saya bikin kalian baper hahahahah saya emang sengaja. Anggap ajalah ini sad ending tapi menyerempet ke happy ending. Kan ceritanya bunda sama papa bahagia di alam sana :'). Akhirnya saya sudah melunasi utang FF event saya.

Yaaaa.. pokoknya Happy NaruSasu Days! Semoga makin banyak FF NaruSasu disini. Hidup OTP saya! HAHAHAHAHAH *bakar menyan*

Btw saya mau bersajak (?) dulu..

Naruto ganteng kaya Raffi Ahmad

Sasuke cakep kaya Nagita Slavina

Menma unyu kaya Rafathar

Mereka bertiga keluarga bahagia

*telen dodol*

*saya mabok garem*