Hari-hari berikutnya Sasuke semakin sering mengajak Naruto untuk main ke rumahnya, hal ini mau tidak mau juga membuat Mikoto ikut senang. Senang karena berkat Naruto, Sasuke sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang tak lagi sedingin dulu dan terbuka. Senang karena kehadiran Naruto sendiri juga dinanti oleh Mikoto. Mikoto dan Naruto bahkan telah saling bertukar nomor handphone. Mereka seolah telah melupakan kejadian beberapa hari yang lalu.
Sesuai janjinya, Naruto saat ini sedang mengajari Sasuke ilmu-ilmu dasar manajerial sebuah perusahaan. Hal pertama yang dilakukan Naruto adalah membuat Sasuke membantu ibunya mengurus dokumen perusahaan. Itulah mengapa mereka saat ini berada diruang kerja Mikoto yang terletak di mansion Uchiha.
"Kau tahu, Sasuke. Sejujurnya aku tidak terlalu berbakat dalam mengajari seseorang. Tapi karena aku sudah berjanji, aku akan mengajarimu sebisaku. Jadi kau jangan malas ya.." Ujar Naruto sambil mengawasi Sasuke yang menyortir dokumen perusahaan disampingnya, Mikoto sendiri berada tidak jauh dari mereka sambil sesekali memperhatikan Naruto secara diam-diam.
"Ugh.." Sasuke memijit pelipisnya pusing. Ia mengira akan cukup mudah untuk melakukan ini, nyatanya tak semudah yang dibayangkan.
"Ingat, Sasuke. Kau harus membaca dengan teliti kata demi kata yang tertulis didokumen tersebut, salah memahaminya bisa berakibat fatal!" Ujar Naruto memperingatkan Sasuke, "Tenanglah, ini baru langkah awal saja. Masih ada banyak yang harus kau pelajari."
Setelah Sasuke selesai membantu ibunya mengurus dokumen perusahaan, Naruto lalu beralih mengajari yang lain seperti keuangan, table manner, etiket, dan sebagainya.
"Aargh.. Naruto, tak bisakah kita istirahat sebentar!" Sasuke mengerang frustasi, ini baru hari pertama dan Naruto sudah mengajarinya terlalu banyak.
"Hmm, baiklah. Hei, bagaimana kalau belajar menyetir mobil?" Tawar Naruto.
Sasuke yang awalnya terduduk lemas langsung berdiri bersemangat, "Sekarang? Oh, baiklah. Tunggu sebentar, aku akan pinjam kunci mobil ke ibu."
"Kukira kau sudah tak bertenaga lagi?" Naruto mencibir.
"Hehe, tidak untuk belajar mobil. Naruto.." Sahut Sasuke nyengir.
"Baiklah, Sasuke. Pertama-tama, kau harus bisa memindah tuas transmisi tanpa melihatnya. Untuk itu kau harus menghafalnya terlebih dahulu." Naruto lalu memberi contoh ke Sasuke.
"Hmm, baiklah. Itu cukup mudah." Kata Sasuke.
Setelah dirasa cukup, Naruto lalu mulai menyuruh Sasuke untuk menyalakan mobil dan menjalankannya pada transmisi gigi 1.
"Bagus, lepaskan koplingnya perlahan. Sasuke." Naruto berkata dengan hati-hati sambil tangannya siap sedia di hand break, berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
Gruuk!
Sayangnya baru beberapa meter berjalan, mobil tersebut mati.
"Kau melepaskannya terlalu cepat, Sasuke. Kau harus mengimbanginya dengan menginjak pedal gas perlahan!"
"Aku tahu, Naruto. Aku tahu.. tapi ini tak semudah yang kau ucapkan!"
Naruto terus mengajari Sasuke sampai hari menjelang petang. Perkembangan Sasuke cukup lambat menurut Naruto, masih terlalu tegang dan kaku, padahal tingkat pemahamannya sudah bagus. Naruto lalu berpendapat bahwa mungkin Sasuke hanya kurang keberanian saja.
Naruto dan Sasuke memutuskan untuk mengakhiri sesi pertama belajar menyetir mobil hari itu dan kembali ke mansion Uchiha pada pukul 5 sore.
Sesampainya di mansion Uchiha, Sasuke langsung menuju ke kamar dan tidur. Sementara Naruto, ia tiba-tiba mendapat dorongan untuk membantu Mikoto di ruang kerjanya.
Tok
Tok
Tok
"Permisi, Mikoto-san. Boleh aku masuk?" Naruto meminta izin sebelum memasuki ruang kerja Mikoto.
"Oh, Naruto-kun. Masuklah. Apa latihan menyetir dengan Sasuke sudah selesai?" Tanya Mikoto setelah mempersilahkan Naruto memasuki ruangan.
"Sudah, Mikoto-san." Jawab Naruto.
"Bagaimana perkembangan Sasuke, apa cukup baik?" Tanya Mikoto lagi.
"Ia cepat memahami apa yang aku jelaskan, Mikoto-san. Hanya saja ia masih sedikit tegang dan kaku, serta kurang sedikit keberanian. Tapi itu tak masalah, kurasa beberapa kali latihan akan beres." Naruto menjawab dengan gamblang.
"Syukurlah kalau begitu. Sepertinya aku harus berterima kasih padamu sekali lagi, Naruto-kun." Ucap Mikoto.
"Apa yang kau ucapkan, Mikoto-san. Itu sama sekali tak perlu, Sasuke adalah sahabatku jadi sudah sewajarnya aku membantunya." Sahut Naruto.
"Jadi, Naruto-kun. Ada perlu apa kau ke sini?"
"Oh, itu. Sebenarnya aku hanya ingin menawarkan bantuan, Mikoto-san."
"Fufufu, Naruto-kun. Kau perhatian sekali padaku. Aku jadi baper.." Mikoto tertawa cekikian sambil menutupi mulutnya, mengoda Naruto.
"Eh, itu.. Hehehe, kebetulan aku saat ini sedang tidak ada kesibukan. Jadi kurasa membantumu akan menyenangkan, lagipula aku tidak terbiasa menganggur."
"Tentu, Naruto-kun. Aku akan senang sekali kau mau membantuku." Mikoto menyambut senang tawaran Naruto. Naruto akhirnya menghabiskan malam itu dengan membantu Mikoto dengan pekerjaannya.
Mikoto sangat kagum dengan Naruto. Walau usianya masih sangat muda, tapi pemahamannya tentang seluk beluk dunia bisnis tak kalah dengan dirinya. Dan Mikoto sangat terbantu dengan keberadaan Naruto di sini.
Naruto dan Mikoto terus berkutat dengan pekerjaan mereka hingga pukul 8 malam, barulah saat itu mereka berhenti dan beristirahat.
"Sekali lagi aku sangat berterima kasih, Naruto-kun. Aku tak menyangka pekerjaanku akan cepat selesai dengan bantuanmu." Mikoto terus menerus berterima kasih pada Naruto.
"Sama sekali bukan masalah, Mikoto-san." Jawab Naruto dengan senyum tulus.
"Begini saja, Naruto-kun. Aku merasa tak enak dengan bantuan yang selalu kau berikan baik padaku maupun Sasuke. Bagaimana kalau aku menawarkan makan malam sebagai gantinya?" Tawar Mikoto, merayu lebih tepatnya.
"Makan malam? Lagi?"
"Huum.." Angguk Mikoto.
"Mm, kurasa tak masalah. Mikoto-san.." Jawab Naruto.
Mikoto sudah hampir berteriak penuh kemenangan sebelum disela oleh Naruto, "Kalau begitu akan kubangunkan Sasuke dulu, Mikoto-san."
"Eh, apa.. T-tunggu dulu, Naruto-kun.." Mikoto mendesah kecewa ketika Naruto pergi begitu saja sebelum Mikoto selesai bicara.
"Ish, dasar tidak peka.." Mikoto menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena kesal, kesal dengan ketidakpekaan Naruto. Padahal tadi niatnya adalah mengajak Naruto makan malam berdua saja dengannya.
Tapi mau bagaimana lagi? Mikoto juga sudah terlanjur menawarkan makan malam pada Naruto, tidak mungkin kan ia membatalkannya hanya gara-gara Sasuke. Bisa-bisa Naruto menjadi curiga dan memandangnya aneh, Mikoto tidak mau itu terjadi.
"Haah, ya sudahlah.." Sambil membuang nafas kecewa, Mikoto mengambil kunci mobil yang tergeletak di mejanya lalu menuju ke garasi untuk bersiap-siap.
Di kamar Sasuke.
"Hoy, Sasuke. Bangun.. bangun.." Ini sudah yang kesekian kalinya Naruto berusaha untuk membangunkan Sasuke.
"Mmmm, apa sih, Naruto. Aku ngantuk tau, sudah pergi sana..!" Teriak Sasuke nyaring, masih dalam kondisi tertidur alias nglindur.
"Ibumu mengajak kita makan malam. Ayo, apa kau tak mau ikut?"
"Pergi saja sendiri sana, aku masih ngantuk. Dobe..!" Usir Sasuke, masih dengan mata terpejam dan iler di sana-sini.
"Twiich." Perempatan siku-siku muncul di dahi Naruto.
"Huh, ya sudah kalau begitu.." Naruto lalu meninggalkan kamar Sasuke dengan jengkel.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Mungkin peribahasa tersebut tepat untuk mengambarkan suasana hati Mikoto saat ini. Bagaimana tidak, harapannya untuk makan malam berdua dengan Naruto terwujud. Terima kasih untuk Sasuke yang sangat sulit untuk dibangunkan hingga membuat Naruto jengkel.
Naruto dan Mikoto saat ini sedang berada di Restoran Le Stella, sebuah restoran bergaya Perancis yang baru buka seminggu yang lalu di Konoha. Naruto awalnya enggan ketika Mikoto mengajaknya ke sini, karena ia tahu kalau restoran ini tergolong cukup mahal. Dan yang lebih penting, restoran ini identik dengan orang-orang yang sudah memiliki pasangan atau sudah menikah. Namun, setelah didesak berkali-kali, Naruto tak bisa menolak dan hanya bisa pasrah saat Mikoto menyeretnya ke sini. Naruto bukanlah tipe lelaki yang pandai menolak ajakan wanita.
Sambil makan, Naruto berinisiatif untuk membuka percakapan ringan dengan Mikoto.
"Jadi, Mikoto-san. Boleh aku bertanya?"
"Um, tentu saja boleh. Naruto-kun?"
"Kau tahu kan kalau mansion Uchiha cukup besar dan luas, tapi mengapa aku tak melihat satupun pembantu di rumah kalian?" Naruto cukup penasaran dengan pertanyaannya yang satu ini.
Mikoto memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab, "Semenjak 'kejadian' itu, klan Uchiha sudah sangat menurun drastis, Naruto-kun. Dan alasan mengapa aku tak lagi memperkejakan pembantu di rumah, itu karena kami sudah tak mampu lagi mempekerjakan mereka."
"Uh, aku minta maaf, Mikoto-san. Kalau pertanyaanku membuatmu merasa tidak enak." Ujar Naruto, ia merasa bersalah mengingatkan Mikoto pada 'kejadian' itu. Naruto tahu, yang dimaksud Mikoto dengan 'kejadian' itu adalah saat dimana sebagian besar anggota klan Uchiha melakukan kudeta pada pemerintahan yang sah dan berujung kegagalan yang membuat mereka hampir dihapus dari Jepang.
"Tidak masalah, Naruto-kun. Itu sudah bukan rahasia lagi." Ucap Mikoto tenang sambil menyesap anggur ditangannya dengan anggun.
Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai makanan mereka habis. Kali ini, jauh lebih cair daripada sebelumnya. Baik Mikoto maupun Naruto menikmati perbincangan mereka dengan hangat. Sesekali, Mikoto akan tersenyum dan tertawa dengan candaan-candaan ringan yang dilontarkan Naruto. Mereka berdua lalu memutuskan untuk pulang setelah jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Terima kasih mau menemaniku makan malam, Naruto-kun."
"Terima kasih untuk makan malamnya, Mikoto-san."
Baik Mikoto dan Naruto berkata hampir bersamaan, membuat wajah Mikoto tersipu malu sedangkan Naruto hanya bisa tertawa kikuk.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, Mikoto-san. Sampaikan salamku juga untuk Sasuke."
Mikoto mengangguk, "Hati-hati, Naruto-kun.."
Naruto lalu mengambil motornya yang terparkir di garasi Mansion Uchiha lalu melesat pergi, meninggalkan Mikoto yang melihatnya semakin menjauh.
TBC
