Title: Accidentally in Love
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, others
Length : 2/3 shoot
Genre : Comedy, Romance
Jongin terbangun keesokan harinya dan mendapati dirinya tertidur dimeja belajar dengan komputer yang masih menyala dan kertas-kertas tugas yang bertebaran dimana-mana. Jongin menguap pelan dan menggeliat dikursinya. Direnggangakannya otot-otot badannya yang kaku setelah semalaman tertidur dalam posisi tak mengenakan, sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
Jongin mengerjapkan mata dan memandang pantulan wajahnya dari cermin di wastafel. Pemuda tampan itu kemudian mengalihkan tatapannya ke bathtube yang berada tepat dibelakangnya. Rasanya kemarin dia bermimpi aneh. Seperti dia melihat seorang pemuda cantik berkulit mulus dengan tubuh seksi sedang berendam telanjang di dalam bathtube-nya. Lalu pemuda itu menuntut Jongin untuk mengizinkannya tinggal dirumahnya atau apalah— itu hal yang lucu. Jongin mendengus mengingat mimpi anehnya.
Setelah urusannya di kamar mandi selesai, Jongin pun melangkahkan kakinya keluar kamar dan beranjak menuju dapur, namun langkahnya terhenti sesaat saat mencium wangi racikan kopi yang harum dari arah dapurnya.
Bola mata Jongin berputar dalam rongganya. Pemuda tampan itu tampak memikirkan teka-teki, siapa yang tengah berada didapur dan membuat kopi seharum ini kalau dia sendiri— sang penghuni rumah sedang berdiri disini. Tiba-tiba saja mata Jongin membulat dan dia langsung melangkah kedapur dengan terburu-buru untuk memastikan dugaannya.
Jongin terpekur saat melihat sosok pemuda yang kemarin dia lihat dalam bathtube – yang sempat dia kira menjadi sebagian dari mimpinya— tengah berdiri membelakanginya dan mengerjakan sesuatu diatas kompor.
Jongin memperhatikan punggung lebar pemuda tersebut yang kini terbalut kaus putih pas badan dan celana tidur pipa bergaris hitam-putih yang samar-samar mencetak underwearnya. Demi Tuhan, celana itu bahkan tidak mampu menutupi keindahan bokong besar yang bulat nan padat itu.
Jongin menelan ludah melihat bokong indah Sehun yang kerap bergoyang seiring pergerakan tubuhnya. Jongin bersumpah dalam dua puluh dua tahun hidupnya di muka bumi, inilah pemandangan paling indah dalam paginya. Ini salah satu alasan Jongin menolak Sehun tinggal disini. Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan seperti ini bagaimana dia bisa berpikir jernih?
" Oh, kau sudah bangun?" Sehun tiba-tiba berbalik dan membuyarkan lamunan Jongin.
Jongin buru-buru mengalihkan tatapannya dari bokong indah Sehun sebelum menjawab pertanyaan pemuda cantik itu dengan anggukan pelan. Sehun tersenyum manis dan berjalan menghampiri Jongin.
" Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
" Biasa saja." Jawab Jongin datar.
" Aku sudah buatkan kopi untukmu. Sepertinya kemarin kau bergadang. Aku dengar jam 01 pagi, kau masih belum berhenti mengetik. Kau pasti lelah. Duduklah, aku buatkan sarapan." Ujar Sehun lagi seraya menarik salah satu kursi di meja makan untuk Jongin. " Aku pinjam ketel dan penggorenganmu untuk memasak. Tadinya aku berpikir untuk menunggumu tapi sepertinya aku terlalu lapar dan tidak sabar jika harus menunggumu bangun." Ujarnya lagi seraya menuangkan secangkir kopi untuk Jongin.
Jongin tidak menggubris perkataan Sehun. Pria itu hanya duduk diam dikursinya dan memperhatikan isi cangkirnya yang hitam pekat dan berbau harum.
" Minumlah. Kau akan merasa lebih segar. Itu biji kopi terbaik dari Cheongnam.' Ujar Sehun.
Jongin menoleh menatap Sehun dan mendapati pemuda cantik itu sudah kembali berkutat dengan penggorengan. Jongin mengangkat cangkirnya dan menyesapnya sedikit. Pemuda itu terhenyak kaget dan menatap cangkir kopinya tak percaya. Belum pernah dia merasakan kopi seenak dan seharum ini. Jongin menyesap kopinya lagi dan rasa kopi itu semakin terasa nyata dilidahnya.
" Apa kau suka pancake dengan selai raspberry?" Tanya Sehun tiba-tiba. Jongin mengalihkan tatapan dari cangkirnya ke Sehun.
" Aku makan apapun." Gumamnya dan tanpa Jongin ketahui, Sehun tengah tersenyum menang di balik punggungnya.
Sehun menuangkan selapis pancake dari loyang penggorengan ke piring datar yang diambilnya dari rak piring. Sehun mengoleskan selai raspberry diatasnya dan memberikannya pada Jongin. Pemuda berkulit kecoklatan itu memperhatikan pancake tersebut untuk sesaat.
" Aku tidak ingat punya selai raspberry." Ujarnya seraya menoleh menatap Sehun yang kini duduk disampingnya.
" Aku membelinya di minimarket di ujung jalan tadi pagi-pagi sekali."
" Kupikir kau -tidak tahu- jalanan –Seoul- sama- sekali-" Sela Jongin.
" Mini marketnya ada di ujung jalan dan aku tidak sebodoh itu sampai melupakan jarak sedekat ini." Tukas Sehun tak mau kalah. Jongin menatap Sehun sekilas dengan pandangan menilai kemudian beralih lagi pada menu sarapannya.
" Mmmhhhh, jadi sebenarnya kau ini teman Luhan hyung atau bagaimana?" Tanya Sehun seraya memperhatikan Jongin yang mulai memotong pancakenya.
" Bisa dibilang begitu. Kami satu jurusan di kampus hanya saja beda konsentrasi. Kau tidak makan?" Jawab Jongin seraya menyuapkan potongan pertama pancake ke mulutnya.
" Aku sudah tadi." Jawab Sehun.
Mata Jongin sedikit melebar saat pancake itu menyentuh lidahnya. Untuk yang kedua kalinya Jongin terkejut dengan rasa masakan Sehun. Pancake ini enak sekali. Lembut dan gurih dan entahlah Jongin tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Rasanya koki di rumah keluarga Kim saja tidak pernah membuat pancake seenak ini. Jongin menolehkan wajahnya dan menatap Sehun lekat-lekat.
" Apa kau yang membuat ini?" Tanya Jongin. Sehun menaikan satu alisnya yang rapi dan tersenyum geli.
" Kurasa kau melihatku membuatnya tadi." Jawab Sehun.
Wajah Jongin bersemu merah mendengarnya. Buru-buru dia memalingkan wajahnya dan kembali sibuk dengan pancakenya. Seulas senyum kemenangan mengembang di wajah Sehun saat Jongin tak lagi menatapnya. Dia tahu kalau hanya butuh sedikit argumen yang meyakinkan agar dia bisa tetap tinggal dirumah ini.
" Jadi selama dua tahun ini kau tinggal disini?" Tanya Sehun lagi.
" Yeahh." Gumam Jongin tak jelas karena sibuk dengan pancakenya.
" Sendirian?"
Gerakan tangan Jongin berhenti saat pertanyaan itu keluar dari bibir pemuda cantik disampingnya. Jongin menaruh garpu dan pisaunya sebelum memutar tubuhnya dan menatap Sehun dengan tatapan sebal.
" Apa aku terlihat seperti pria yang suka menyimpan wanita didalam rumah?" Tukas Jongin jengkel.
" Tidak-tidak seperti itu. Maksudku. Mmmhhh, aku hanya—aku hanya kagum dengan caramu mengurus tempat ini." Jawab Sehun buru-buru karena Jongin salah mengartikan pertanyaannya. Jongin masih melayangkan tatapan tak percaya pada Sehun.
" Apartemen ini benar-benar bersih." Ujar Sehun berusaha meyakini. Jongin masih belum mengalihkan tatapannya dari Sehun membuat pemuda cantik berkulit seputih susu itu sedikit salah tingkah.
" Waah, pasti repot sekali mengurus ini semua bagimu. Aku bisa bayangkan betapa lelahnya kau. Pulang kuliah capek-capek tapi masih harus membersihkan apartemen sendirian." Ujar Sehun berusaha mengacuhkan tatapan Jongin.
" Yeah, itu memang melelahkan." Jawab Jongin pada akhirnya seraya menyuap kembali sepotong pancake. Diam-diam Sehun mendesah lega karena berhasil mengalihkan perhatian Jongin.
" Lalu kenapa kau tidak cari orang untuk membersihkan rumahmu?" Tanya Sehun.
" Aku tidak suka. Kebanyakan dari mereka hanya bekerja asal-asalan." Jongin menggeleng cepat.
" Aku bisa membantumu membersihkan rumah ini." Ujar Sehun berusaha terdengar senetral mungkin. Namun meski begitu perkataannya tetap saja membuat Jongin menoleh heran.
" Aku bisa membersihkan seluruh rumah ini, mencuci bajumu dan memasak setiap hari untukmu asal kau biarkan aku tetap tinggal disini." Lanjut Sehun.
Jongin menatap Sehun dengan alis bertaut. Sibuk menduga apakah Sehun benar-benar waras atau tidak. Baru beberapa menit yang lalu Jongin mengatakan bahwa dia bukan tipe pria yang senang menyimpan gadis dirumahnya, oke, Sehun memang bukan seorang gadis tapi wajahnya tak kalah manis dari beberapa gadis yang dia kenal dan demi apapun, bokong dan pinggang Sehun bahkan lebih seksi dari model-model wanita di majalah pria dewasa favoritnya dan— apa yang baru saja Jongin pikirkan? Lupakan saja! Intinya Jongin merasa Sehun agak gila karena sekarang pemuda cantik itu menawarkan diri untuk tinggal bersamanya. Ok, mungkin bukan menawarkan tapi lebih tepatnya meminta Jongin agar mengizinkan dia tetap tinggal disini. Tapi apa bedanya? Apa dia sudah gila? Segampang itu meminta tinggal bersama dengan seorang pria yang baru dia kenal semalam. Bagaimana kalau Jongin ternyata pria yang suka memanfaatkan kesempatan? Apa dia tidak berpikir ke situ?
" Apa kau waras? Memutuskan tinggal dengan pria yang baru beberapa jam kau kenal? Apa kau tidak takut aku akan mengerjaimu dimalam hari?" Ujar Jongin dengan ekpresi datar.
" Kau bukan pria seperti itu Jongin ssi."
" Oh ya, anak manis? Darimana kau tahu aku bukan pria seperti itu?"
" Karena kau bisa melakukannya dari semalam kalau kau mau. Kau melihatku berbaring di bathtube-mu tanpa sedikitpun pertahanan. Kalau kau mau, kau bisa menyerangku saat itu juga. Kau punya banyak kesempatan tapi kau tidak melakukannya." Jawab Sehun dengan wajah memerah malu karena teringat peristiwa semalam.
Jongin mengalihkan tatapannya dari Sehun dan wajahnyapun juga ikut memerah. Teringat tulang selangka dan leher jenjang Sehun yang mulus membuat sesuatu dibawah pusarnya berdesir. Hening sesaat. Sehun dan Jongin terdiam malu saat kejadian bathtube kemarin terlintas dikepala mereka.
" Aku tidak akan berkata seperti ini pada setiap pria yang kutemui. Aku memutuskan ini karena aku percaya kau bukan orang seperti itu." Lanjut Sehun lagi.
Berharap dalam hatinya Jongin akan tergugah dengan perkataanya walaupun kenyataannya tidak akan semudah itu. Jongin terdiam sejenak sebelum kembali menatap Sehun.
" Aku tersanjung dengan pujianmu Sehun tapi jawabanku tidak. Kau harus pergi dari sini hari ini juga." Jawab Jongin tegas membuat jantung Sehun mencelos.
Dia sudah duga tidak akan semudah itu membujuk Jongin. Dari kemarin dia sudah menyadari Jongin adalah pria yang sangat memegang prinsip. Dan seorang -pria berprinsip- tidak akan membiarkan orang yang baru dikenalnya tidur dirumahnya lebih dari semalam. Tapi Jongin tidak tahu pemuda disampingnya saat ini tidak sama seperti pemuda lainnya yang hanya bisa bermanja-manja dan tak mau repot. Sehun terlalu pintar untuk remaja berusia delapan belas tahun dan dia selalu tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Kenapa tidak boleh? Kau takut tak sanggup membayarku Atau kau tidak percaya denganku? Atau jangan-jangan kau takut kekasihmu marah?" Tanya Sehun beruntun.
" Tentu saja bukan karena aku tidak sanggup membayarmu. Aku sebenarnya cukup percaya denganmu dan aku belum punya kekasih." Jawab Jongin.
" Lalu dimana masalahnya? Kau percaya padaku, kau juga tidak punya kekasih, dan aku juga tidak akan meminta bayaran sepeserpun jika kau membiarkanku tinggal disini. Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Sehun berdecak senang dan menepukkan telapak tangannya dengan santai sementara Jongin menatapnya lekat-lekat. Tercabik antara rasa sebal dan tak percaya. Jongin menarik napas pelan sebelum kembali berargumen dengan pemuda cantik yang baru dia kenal kemarin.
" Dengar anak manis—" Ujar Jongin dengan nada jengkel. " –Hanya ada satu kamar diapartemen ini, aku sedang banyak tugas dan aku tidak mau diganggu."
" Aku akan tidur di ruang tamu, aku janji aku tidak akan melakukan sesuatu yang terlihat seperti mengganggu, dan berhenti memanggilku anak manis." Ujar Sehun keras kepala.
" Terimakasih untuk perhatianmu tapi silakan keluar dari apartemenku." Decak Jongin tak sabar seraya bangkit dari kursinya. Melihat itu Sehun kontan berdiri dengan panik dan bergegas menyusul Jongin.
" Ayolah Jongin ssi. Kau tidak akan rugi kalau aku disini. Aku akan membersihkan rumahmu setiap hari, mencuci bajumu, mensetrika bajumu dan memasak untukmu setiap hari. Kau tidak perlu keluar sepeserpun untuk membayarku dan kau tidak akan lagi kerepotan mengurus rumah ini. Kau bilang kau sedang sibuk dengan tugasmu? Bayangkan, jika aku disini, setiap hari aku bisa memasakkan makanan yang enak dan bergizi untukmu. Tidak ada lagi mie instan atau makanan kalengan lainnya dan kau juga tidak pelu repot-repot mengantri di restaurant untuk membeli makanan karena aku akan memasak untukmu." Ujar Sehun cepat dalam satu tarikan napas.
Jongin mengerjapkan matanya. Terpana dengan kecepatan bicara Sehun yang mengalahi rapper-rapper ternama. Bahkan G-Dragon dan Park Chanyeol akan menangis jika mendengar talenta Sehun. Jongin mengerjapkan matanya sementara skrup-skrup di otaknya mulai berputar. Menimbang-nimbang perkataan yang baru saja dilontarkan Sehun.
Mungkin Sehun benar. Tidak ada ruginya membiarkan dia tinggal disini. Aku tidak perlu lagi repot-repot mengurus rumah sepulang kuliah. Tidak akan ada lagi makanan instan untuk menu makan malam. Tidak perlu lagi mengantri berjam-jam untuk mendapatkan sekotak sushi. Tapi jika anak manis itu tinggal disini, bagaimana dengan ketenanganku? Ketenangan dan kesunyian yang aku dambakan untuk mengerjakan semua tugas-tugas itu? Mengingat sikapnya tampaknya Sehun bukan bocah yang gampang diam. Tapi hei, dia sudah berjanji kan? Aku bisa saja membiarkannya tinggal disini selama beberapa minggu. Jika ternyata nanti dia menganggu konsentrasiku sedikit saja itu bisa dijadikan alasan yang kuat untuk mengusirnya keluar dan dia tidak bisa memaksaku lagi. Sepertinya begitu lebih baik.
Kutatap wajah manis Sehun lekat-lekat. Anak itu juga kini tengah menatapku. Meski dia menatapku lekat-lekat tapi aku bisa merasakan permohonan lewat sorot matanya. Kasihan juga memang kalau anak secantik dan sepintar ini hidup tidak jelas diluar sana.
" Baiklah." Ujarku pada akhirnya dan bisa kulihat dia menghela napas lega. " Tapi kau tetap tidur di sofa." Lanjutku.
" Tentu saja."
" Dan jangan masuk ke kamarku sebelum aku bangun."
" Itu sopan santun yang baik."
" Jangan berisik atau merusak ketenangan disini." Himbauku dengan tegas dan dia membuat tanda ok dengan jarinya.
" Kalau kau mengganggu sedikit saja, aku akan langsung menendangmu keluar dari sini." Tegasku.
" Aku paham."
" Bagus."
" Kalau begitu, jabat tangan." Ujarnya seraya mengulurkan tangan kanannya padaku. Dahiku mengernyit sesaat. Ragu-ragu kusambut uluran tangannya dan Sehun langsung menjabat tanganku kuat-kuat begitu jemari kami saling bersentuhan.
" Terimakasih dan mohon kerjasamanya Jongin ssi." Ujarnya riang.
Aku mengangguk sedikit sebelum saling melepaskan jabatan tangan kami. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar dapur menuju kamar meninggalkan Sehun yang langsung bergerak cekatan dan membereskan peralatan makanku dengan sigap. Kutatap punggung Sehun sekilas sebelum kembali melanjutkan langkahku. Semoga saja aku tidak salah mengambil keputusan.
" Oh, kau sudah bangun Jongin ssi." Sehun menolehkan kepalanya dari bak cuci piring.
Pemuda cantik itu sudah selesai membuat sarapan dang sekarang tengah mencuci peralatan masaknya saat Jongin yang baru saja saja bangun tidur, memasuki dapur kecil di apartemen mungil yang mereka tempati. Jongin sendiri hanya menjawab pertanyaan Sehun dengan anggukan dan gumaman malas.
" Sudah berapa kali kubilang panggil hyung saja. Kau membuatku merasa tua." Dumel Jongin seraya menarik salah satu kursi di meja makan. Suaranya yang serak menunjukan dengan jelas bahwa pria itu baru saja bangun tidur. Sehun tersenyum dari balik punggungnya mendengar dumelan Jongin.
" Maaf- maaf. Aku lupa." Ujar Sehun seraya mengeringkan tangannya dengan lap kering yang tercantel didekat kran air.
Jongin mengambil posisi disalah satu kursi yang menghadap langsung ke punggung Sehun. Pemuda tampan itu bertopang dagu dan mengamati sosok Sehun dari belakang. Tubuh Sehun tinggi dan ramping. Pinggangnya yang mungil dan ramping terlihat dari balik kausnya yang sesekali terangkat saat dia mengangkat tangannya untuk menggapai rak-rak tinggi di kithcen set. Rambutnya yang hitam legam berhenti beberapa inch di atas tengkuknya. Memamerkan lehernya yang jenjang dan tengkuk mungilnya yang bersih mulus dari sentuhan noda apapun. Untuk sesaat Jongin larut dalam lamunannya sebelum akhirnya mengerjapkan matanya dan kemudian menegur dirinya yang sudah berpikiran macam-macam dipagi hari.
Sudah tiga bulan Sehun disini tapi tak ada satupun kesalahan yang dibuatnya. Semua pekerjaannya rapi sempurna dan semua komitmennya dengan Jongin dijalani dengan baik membuat Jongin tak punya alasan untuk mengusirnya. Malah akhir-akhir ini Jongin mulai sangat menikmati keberadaan Sehun dirumahnya. Rumahnya selalu rapi setiap saat dan makanan enak selalu siap tersaji kapanpun dia mau. Terkadang Jongin berpikir bagaimana jadinya kalau Sehun tak lagi tinggal disini. Rumah ini pasti akan terasa kosong dan sepi tanpa kehadirannya.
" Sarapan hari ini omurice dan sosis ayam." Ujar Sehun tiba-tiba seraya menaruh sepiring porsi omurice dan sosis ayam didepan Jongin.
Jongin terbangun kaget dari lamunannya hingga tak sengaja bergerak menyenggol lengan Sehun yang tengah menaruh garpu untuk Jongin. Garpu dalam genggaman Sehun terjatuh ke lantai dengan sukses. Sehun berdecak pelan. Pemuda cantik itu membungkukkan badannya bersamaan dengan Jongin yang juga bermaksud mengambil garpu tersebut.
Jongin tersentak pelan saat jemarinya bersentuhan dengan Sehun. Jantungnya berdegup cepat seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya hingga Jongin tak punya tenaga untuk menarik tangannya menjauh. Anehnya, Jongin menyukai degupan itu. Jongin mengangkat wajahnya perlahan dan dia mendapati Sehun juga tengah menatapnya dengan cara yang sama seperti dia menatap Sehun.
Sehun menatap sepasang mata coklat gelap didepannya. Dadanya berdebar kencang dan wajahnya terasa memanas saat Jongin menatapnya intens dalam jarak sedekat ini. Tangan mereka masih bersentuhan dan tak seorangpun dari mereka tampak berniat menjauhkan tangannya. Sehun dan Jongin masih saling menatap dalam diam. Ada sesuatu yang lain yang Jongin rasakan saat ini.
Sejak awal pertemuan mereka Jongin sudah sadar kalau Sehun adalah pemuda cantik yang menarik dan penuh pesona. Hanya tinggal menunggu waktu agar Jongin jatuh terperosok dalam pesona Sehun. Pemuda tampan itu tahu Sehun berbeda. Berbeda dari gadis-gadis dan pemuda cantik yang dikenalnya selama ini, berbeda dari gadis-gadis dan pemuda cantik yang pernah dikencaninya selama ini dan perbedaan itulah yang mendorong Jongin untuk mendekatkan wajahnya ke Sehun dengan perlahan.
Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Sehun. Pemuda berkulit kecoklatan itu menunggu reaksi Sehun akan tindakanya. Sehun sendiri masih berada dalam posisinya. Tak mengalihkan tatapannya dari Jongin atau menjauhkan wajahnya seinchi pun. Merasa tak ada penolakan, Jongin mendekatkan wajahnya lagi, melirik bibir tipis Sehun yang terkatup rapat seakan menanti bibir tebal Jongin hinggap dibibirnya.
Jongin semakin mendekatkan wajahnya. Sangat dekat hingga dia dapat merasakan napas Sehun yang hangat menerpa lembut wajahnya. Jongin menutup matanya perlahan. Kini dia dapat merasakan hidungnya telah bersentuhan dengan hidung mancung Sehun. Tinggal sedikit lagi—
RIIIINGGGGG...RINGGGGGGG...RINGGGG...
Jongin dan Sehun kontan membuka mata dan terlonjak kaget saat bunyi bel yang nyaring memotong saat-saat romantis mereka. Wajah Sehun memerah saat sadar apa yang hampir dilakukannya dengan Jongin membuatnya tak punya keberanian untuk menatap wajah pemuda yang lebih tua. Sehun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dari tatapan Jongin.
" A-aku—aku akan membuka pintunya." Gumam Sehun gugup seraya beranjak bangun meninggalkan Jongin. Jongin menghela napas pelan saat Sehun sudah tak terlihat. Diacaknya kesal rambutnya yang hitam nan tebal. Bibirnya pun mendesis marah.
" Aku tidak seharusnya begini." Desisnya pelan saat bayangan Sehun kembali melintas di kepalanya.
To Be Continue...
Rep's Corner :
ohhanniehunnie : Hani, baby bsakah sekali aja kamu ga pake bahasa yg super ambigu nak? XD
AwKaiHun : Yasalamm, Aw kamu malah ngajarin Hunie jual diri berangsur/? cem kredit mobil aje berangsur XD
yuliahoonsehun : Sorry for the not-so-fast-update. Salam cinta dari tanah KaiHun ^^
Kim Sohyun : Waaahh parah. Kamu meragukan keimanan Jongin yg cetek/? itu?
asdindas : Maafkan tante2 cupu tak berpengelaman ini ya. Sesungguhnya gw plg ga bs nulis yg smutt2 gtu. Itu susah gelaa
Cho Hyunjo : Sehun itu kepedean. Pedenya selebar bootynya. #Ehh
fyodult : Ternyata up datenya cukup lama yaa. Maapkan
Risty662 : Untungnya Jongin gampang kena rayuan gembelnya Sehun XD
relks88 : Emg Luhan knp?
Lovekaihun : Yooo udh di lanjut babies ^^
Winda : Aku bukan Victhor jd plis jgn panggil Thor. Just call me Fi or Kak Fi ^^
Izz : Jongin kan lagi puasa/? jdi harus menahan hawa nafsu
liekloss : Lain kali jeritnya berjamaah aja biar lbh banyak pahalanya/?
Kimoh1412 : Nyatanya bisa
shakyu : Sesungguhnya Kim Jongin hanyalah lelaki pesek beriman cetek
yehet94 : Hahahahaha. Emg aku sering bikin yg sedih2 lebay gtu yaa.. Mudah2an suka terus yaa
Dia : Jongin menang banyak malah
bottomsehunnie : Aduuhh Ri. Kamu, Hani, sm Aw itu mintanya enaena muluuu. Kak Fi ampe gumoh dengernya XD. Aku ga bs bikin adegan enaena
n4 : Hahahaha. Abs capek baca Love is Never Gone, emg kudunya mampir kemari biar ga stress XD
A/N : Hi babies, This's Fi speaking. Long time no see ya. So sorry for the-not-so-fast-update. But i have a life and bills that i should pay so yeah, working comes 1st. Anyway, pada banyak yg ngetawain kedodolan Sehun. Emg Sehun agak dodol disini. Tpi aku mau tanya apa babies juga ada yg ngeh atau curiga sebelumnya kalo apartemen itu bukan punya lulu? Bcs honestly, aku ksh beberapa klu yg secara ngga langsung menjelaskan bahwa apartemen itu bukan punya Lulu. Kek pas scene yg Sehun liat koleksi sepatu converse? Disitu aku tulis Sehun ga pernah tau kakanya suka sepatu converse. And di beberapa kesempatan juga aku tulis bahwa Sehun ga tau bahwa kakaknya bs hidup serapi itu. Secara ga langsung aku udh menjelaskan bahwa apartemen itu memang udh bukan punya Lulu dari situasi di apartemen tersebut. Hehehehe. Anyway i say welcome to the club babies, check out my other KaiHun fics too kalau kalian blm baca. I love u babies and my silent readers too. Dont forget that reviews, subscribes n followers are love. I'll see u when i see u babies. Bbuaai :*:*:*
