Title: Accidentally in Love
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, others
Length : 3/3 shoot
Genre : Comedy, Romance
Sehun mematut dirinya dicermin yang terdapat di wastafel kamar mandi. Pemuda cantik itu menelengkan wajahnya ke kiri dan kanan. Sesekali mengumbar senyum pada cerminannya sendiri dan mengerjapkan bulu matanya yang lentik dengan genit. Sejujurnya Sehun tampak seperti orang sinting saat ini.
" Ya Tuhan, aku manis sekali." Pujinya seraya menangkup kedua pipinya yang cukup berisi dengan tangan lentiknya. Baiklah, mungkin Sehun memang sedikit sinting.
Sehun akhirnya menyudahi aksi sintingnya dan memutuskan untuk konsisten pada alasannya memasuki kamar mandi. Tentu saja untuk mandi, memang apalagi? Pemuda cantik itu melepas kaus kesayangannya dan hamparan kulit mulus seputih susu langsung terlihat begitu kaus itu tergeletak di keranjang cucian kotor. Demi Luhan, tubuh mulus Sehun yang ramping sesungguhnya dapat menggoda iman para laki-laki cetek semacam— semacam Jongin misalnya?
Sehun kembali bercermin. Kali ini memperhatikan lekuk tubuhnya yang sudah sempurna. Tapi pada dasarnya Sehun memang anak yang kurang bersyukur, buktinya masih banyak saja hal-hal yang dikomentari dari tubuhnya yang sempurna itu.
" Aku terlalu kurus." Decaknya sebal.
" Bokongku terlalu besar." Sehun bergumam muram.
Well, bokong Sehun memang besar tapi, hei itu kan hal yang bagus. Sehun saja yang tidak tahu bersyukur. Dia tidak tahu jutaan gadis diluar sana rela menggocek uang berjuta-juta demi mendapatkan bokong sebesar dan seindah miliknya.
Sehun berdecak malas. Bibirnya yang tipis mengerucut imut. Jemarinya yang lentik bergerak membuka kancing dan zipper skinny jeansnya. Sehun menarik turun zipper celananya namun resleting celananya tak bergerak. Dahi mungil Sehun berkerut bingung. Dicobanya sekali lagi menarik resletingnya dengan lebih kuat tapi tetap tak ada perubahan. Sial bagi Sehun resleting celananya ternyata macet. Bagus sekali.
Sehun mengumpat kesal. Dia mencoba lagi kali ini berhasil, tapi hanya sedikit. Keringat mulai membasahi tangan Sehun karena energi yang dia keluarkan untuk menarik turun zippernya. Tangannya yang licin pun sama sekali tak membantu alih-alih membuat segalanya menjadi lebih sulit. Sehun memekik frustasi dan menjedukan kepalanya ke dinding –dengan pelan tentu saja. Sehun tidak bodoh-. Bagaimana caranya dia bisa keluar dari situasi konyol ini? Apa dia akan terjebak di kamar mandi dengan resleting macet selamanya?
Pekikan Sehun rupanya terdengar oleh Jongin yang baru saja pulang kuliah dan tengah memasuki kamarnya. Kamar mandi ini terletak di dalam kamar Jongin, ingat? Tolong jangan tanyakan design ruangannya yang begitu aneh, karena Jongin sendiri tidak tahu.
Alis Jongin menyatu mendengar pekikan Sehun. Rasa cemas menghinggapinya dan tanpa banyak pikir Jongin mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa Sehun baik-baik saja.
" Sehuna? Kau di dalam? Ada apa?"
" Oh, h-hyung. Kau sudah pulang ?" Sehun terkaget mendengar suara Jongin yang tiba-tiba terdengar.
" Aku baru sampai. Aku mendengarmu berteriak. Kau tidak apa-apa?" Tanya Jongin cemas.
" Ah, ya. Aku tidak apa-apa."
" Benarkah ?"
" Ya. Hanya—" Sehun menjawab dengan ragu. Apa dia harus memberitahukan yang sebenarnya? Siapa tahu Jongin bisa membantunya, tapi yang benar saja? Sehun kan malu.
" Hanya apa? Apa yang terjadi Huna?"
Sehun menghela napas pelan. Wajahnya bahkan sudah memerah karena malu. Maksudnya, mengatakan bahwa resleting celanamu macet pada pria yang kau taksir, itu sama sekali bukan hal yang keren, tapi sepertinya Sehun tidak punya pilihan lain selain jujur.
" Z-zipper celanaku macet." Ujar Sehun dengan sangat pelan membuat Jongin mau tak mau tersenyum lebar di balik pintu.
" Aaahh. Apa kau bisa menariknya?" Tanya Jongin berusaha menekan nada geli dalam suaranya.
" Aku sedang berusaha." Jawab Sehun. Hening sesaat.
" Apa— apa perlu hyung bantu?" Ujar Jongin pelan. Untung bagi Sehun Jongin berada di sisi lain pintu kalau tidak pria tampan itu dapat melihat bias merah jambu yang mewarnai pipi Sehun dengan cantiknya.
" Tidak usah." Pekik Sehun cepat. " Aku bisa sendiri." Sambungnya.
" Benarkah?"
" Tentu saja."
" Baiklah. Jangan lama-lama. Kau bisa masuk angin nanti."
" Iya."
" Kalau butuh bantuanku, panggil saja. Aku ada di kamar."
" Iya hyung." Jawab Sehun diiringi desahan nafas lega.
Sehun bisa mendengar langkah kaki Jongin menjauh dari pintu kamar mandi meski Jongin masih berada di kamar sesuai dengan perkataannya. Terbukti dari suara komputer yang dinyalakan dan bangku yang berderit, menandakan aktifitas Jongin di dalam kamar. Sehun mendesah lega karena Jongin tidak memaksa untuk membantunya karena dia tidak akan mungkin membiarkan Jongin melihatnya dalam keadaan memalukan seperti ini. Tidak akan pernah! Begitulah menurut Sehun.
.
.
.
.
.
10 menit kemudian...
" Hyung..." Cicit Sehun dari dalam kamar mandi.
" Ya?" Sahut Jongin.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dan tampaklah kepala Sehun yang menyembul keluar dengan malu-malu.
" —Bisa tolong bantu aku?" Ujar Sehun dengan wajah yang merona parah.
Jongin harus menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan tertawa. Alih-alih, pemuda tampan itu mengangguk cepat dan beranjak bangun dari hadapan komputer tersayangnya. Menghampiri Sehun yang sudah kembali pada habitatnya— Err, kamar mandi. Mereka berdiri berhadapan. Sehun berdiri menghadapnya dengan salah tingkah dan Jongin bersidekap menghadap Sehun dengan tenang.
" Kenapa bisa macet?" Ujar Jongin berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka.
" Aku tidak tahu." Sehun menggaruk pipinya yang tidak gatal.
Jongin berlutut di hadapan Sehun. Tangannya bergerak menyentuh zipper Sehun namun tangan Jongin terhenti di udara saat dia menyadari satu hal. Bahwa dia akan berhadapan dengan bagian pribadi Sehun dengan posisi yang cukup menjanjikan saat ini. Wajah Jongin kontan memerah. Diliriknya Sehun, dan Jongin mendapati Sehun tengah mengedarkan pandangannya pada apapun selain Jongin.
" Mmm, maaf ya Sehun." Jongin berdehem canggung seraya melanjutkan tugasnya. Sehun hanya menggumamkan ya dengan suaranya yang pelan dan halus.
Satu tangan Jongin memegang pinggang celana jeans Sehun dan menahannya disana, sementara satu tangannya bergerak menarik turun resleting celana Sehun dengan kuat. Meski Nihil. Resleting Sehun tidak bergerak. Jongin mencobanya dengan metode lain. Kali ini pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa.
Sejujurnya Jongin tidak bisa berkonsentrasi. Perhatiannya terpecah antara zipper yang macet dan tubuh Sehun yang menggoda. Jangan salahkan Jongin. Sehun sendiri yang memutuskan untuk menanggalkan kausnya dan mengundang Jongin ke kamar mandi, bukan salahnya kalau dia tidak bisa konsentrasi karena disuguhi pemandangan indah begini.
Jongin menjilat bibirnya saat melihat hamparan kulit putih di pinggang ramping Sehun. Pinggangnya seakan memanggil jari-jari kasar Jongin untuk berkelana menelusuri lekukannya yang aduhai. Belum lagi perut rata Sehun yang berada di hadapannya. Rasanya Jongin ingin membenamkan wajahnya dan tertidur diatas perut rata Sehun yang hangat. Seperti anak kucing yang bermanja pada induknya. Jongin menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran-pikiran bejat yang menghampiri otaknya. Jongin berdehem singkat.
" Kenapa pakai celana seketat ini?" Tanyanya untuk mengusir kecanggungan.
" Ha-habis, ini terlihat bagus dikakiku." Jawab Sehun. Jongin terkekeh kecil mendengar jawaban Sehun.
" Apapun tampak bagus di kakimu Huna." Puji Jongin membuat wajah Sehun merona.
Jongin menarik celana sehun dengan cukup kuat hingga membuat Sehun oleng. Secara refleks Sehun menaruh kedua tangannya di bahu Jongin untuk menyeimbangkan tubuhnya membuat Jongin tanpa sadar tersenyum.
" Lain kali tidak usah dipakai lagi. Bagaimana jadinya kalau aku tidak ada di rumah? Apa yang akan kau lakukan?"
" Aku— mengguntingnya mungkin?" Jawab Sehun seadanya dan Jongin tertawa. Bersamaan dengan itu Jongin sukses menurunkan zipper Sehun yang macet. Ternyata memang membutuhkan kesabaran dan hati-hati untuk melakukannya.
" Nah, sekarang sudah benar." Ujar Jongin seraya bangkit berdiri.
Namun yang tidak Jongin duga adalah posisi mereka yang entah kenapa menjadi begitu dekat. Mereka kini tengah berhadapan. Nyaris tak ada jarak diantara mereka. Satu tangan Jongin masih terletak di pinggang Sehun dan tampaknya pemuda itu tak ada niatan untuk menjauhkan tangannya dari pinggang ramping itu.
" Terimakasih." Ujar Sehun pelan. Wajahnya memerah malu tapi meski begitu matanya tak lepas menatap sepasang mata Jongin yang juga tengah menatapnya.
" Sama-sama." Bisik Jongin lirih.
Tiba-tiba Jongin merasa dirinya haus. Haus akan aroma dan panas tubuh Sehun yang sangat menggoda terlebih dalam jarak sedekat ini. Hawa tubuh Sehun membuat tubuh Jongin terasa panas. Atmosfer diantara mereka tiba-tiba terasa pekat dan intens dan entah dorongan darimana, Jongin memajukan wajahnya secara perlahan. Satu tangannya bergerak membelai tulang pipi Sehun dengan lembut membuat Sehun memejamkan matanya. Jongin tidak tahu apa yang ada di pikirannya tapi saat ini Sehun terlihat begitu menawan. Matanya yang terpejam dan tubuhnya yang lembut bersandar pasrah pada Jongin, membuat Jongin ingin merengkuh Sehun dalam dekapannya. Jongin semakin mendekatkan wajahnya. Pemuda tampan itu bersiap menghapus jarak diantara mereka. Sedikit lagi. Sedikit lagi—
RINGGG... RINGG... RINGG...
Sehun dan Jongin terlonjak kaget saat dering ponsel Jongin memecah keheningan. Secara refleks mereka saling menjauhkan tubuh mereka. Tersadar dengan apa yang hampir terjadi membuat Sehun tak berani menatap Jongin. Rasa malu menelannya sampai ke ubun-ubun jadi Sehun memilih untuk menunduk dan menatapi jari-jari kakinya yang berpijak di atas kesetan kaki.
Hening sesaat diantara mereka sampai mereka disadari oleh dering berikutnya dari ponsel Jongin yang belum terjawab. Jongin berdehem pelan. Mengusak rambutnya dan berlalu dari hadapan Sehun tanpa mengucapkan sepatah kata. Meninggalkan Sehun yang masih terpaku dengan jantung berdebar keras.
" Hyung." Sehun mengetuk pelan pintu kamar Jongin.
Rasa cemas dan khawatir meliputi perasaannya saat Jongin tak kunjung menjawab. Sehun menarik napas pelan kemudian kembali mengetuk pintu kamar pemilik apartemen yang ditumpanginya.
" Jongin hyung. " Panggil Sehun lagi kali ini lebih keras.
Sehun menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu kamar Jongin terbuka. Jongin menatapnya sekilas di antara celah pintu yang terbuka. Ya, pemuda tampan itu bahkan tidak membuka pintunya lebar-lebar. Seakan mengisyaratkan bahwa Sehun tidak diundang masuk ke kamarnya dan dia tidak punya banyak waktu untuk berbincang lama-lama.
" Ada apa?" Tanya Jongin. Suaranya terdengar datar begitupun dengan ekspresinya.
" Ayo makan. Aku sudah siapkan makan malam." Ujar Sehun seraya tersenyum manis.
" Aku tidak makan." Jawaban Jongin sukses melunturkan senyuman Sehun.
" Kenapa tidak makan? Tadi siang kau hanya makan sedikit sekarang harus makan yang banyak kalau tidak kau bisa sakit." Ujar Sehun khawatir.
" Tidak apa. Kau makanlah dulu. Aku belum lapar."
" Tapi—"
Belum sempat Sehun menyelesaikan perkataannya Jongin sudah menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Meninggalkan Sehun yang masih berdiri didepan kamarnya begitu saja. Sehun menatap pintu kamar Jongin dengan sedih. Sejak tiga hari yang lalu sikap Jongin seperti ini padanya. Sejak mereka hampir berciuman waktu itu, tiba-tiba sikap Jongin jadi berubah pada Sehun.
Pemuda berkulit coklat itu kerap menghindarinya dan tak mau menatapnya. Bicarapun hanya seperlunya saja. Jongin lebih sering mengurung diri dikamar daripada menggerecoki pekerjaan Sehun seperti biasanya.
Sehun tertunduk sedih didepan pintu kamar Jongin. Matanya terasa panas dan air matanya serasa mendesak keluar. Dadanya terasa sakit saat mengingat cara Jongin menatapnya tadi. Belum pernah Sehun punya perasaan seperti ini sebelumnya. Belum pernah Sehun merasa jantungnya berdebar keras hanya karena menatap seorang pria. Belum pernah dia merasa tidak fokus mengerjakan apapun hanya karena teringat wajah seorang pria.
Jongin lah orang pertama yang membuatnya merasakan hal ini tapi kenapa sekarang Jongin memperlakukannya seperti ini? Sehun menarik napas dengan perlahan berusaha menahan tangisnya yang ingin tumpah. Sehun tidak tahu kenapa Jongin berubah. Sehun tidak mengerti dengan sikap Jongin.
Kemarin dia ingin menciumnya tapi esok harinya sikapnya sudah berubah dingin. Memangnya apa yang salah dari Sehun? Apa salah kalau dia tidak menghindar saat Jongin ingin menciumnya? Apa salah kalau saat itu Sehun memejamkan matanya dan berharap Jongin benar-benar menciumnya? Sehun tidak mengerti. Sehun benar-benar tidak bisa mengerti.
" Jongin."
Pemuda berkulit coklat itu terbangun dari lamunannya saat merasa tangannya disenggol seseorang. Jongin mengerjapkan matanya pelan dan menoleh pada Moonkyu yang duduk disampingnya dan menatapnya heran.
" Apa?" Tanya Jongin malas-malasan.
" Haaahhhhh." Moonkyu menghela napas sebal. " Benar-benar deh. Ada apa sih denganmu? Dari tadi kau melamun terus."
" Tidak ada apa-apa." Jawab Jongin seadanya sebelum beralih pada laptop dan kertas-kertas tugasnya yang menumpuk di atas meja.
Jongin dan Moonkyu sedang berada di salah satu kafe di kampus mereka. Menghabiskan waktu di sela-sela mata kuliah untuk mengerjakan tugas-tugas mereka yang menumpuk dan rasanya tak ada habisnya. Hidup sebagai mahasiswa desain grafis memang berat dan kejam.
Moonkyu menatap sahabatnya dengan curiga. Sepertinya ada apa-apa dengan Jongin. Belakangan ini Moonkyu perhatikan Jongin sering kali melamun didalam kelas. Bahkan saat mengerjakan tugas. Itu sangat-tidak-jongin-sekali. Jongin adalah tipe perfeksionis yang selalu mengutamakan semua pekerjaan dan kewajiban diatas segala-galanya tapi sekarang Jongin berkali-kali menganggurkan kertas tugasnya dan malah duduk diam merenung. Entah apa yang dia pikirkan tapi Moonkyu merasa ada hal yang sangat mengganggu sahabatnya.
" Kau benar tidak apa-apa?" Tanya Moonkyu lagi.
" Ya." Jawab Jongin pelan seraya berusaha memfokuskan semua pikirannya pada layar laptop didepannya.
Moonkyu menatap Jongin sebentar, mengedikkan bahunya kemudian beralih menatap laptopnya sendiri dan berhenti mengkhawatirkan Jongin. Jongin menghela napas sebelum menolehkan kepalanya dan menatap Moonkyu yang sudah kembali sibuk dengan laptopnya. Jongin membuka mulut dengan ragu-ragu.
" Moonkyu. " Panggil Jongin. Moonkyu menoleh dan menatap sahabatnya dengan pandangan bertanya.
" Me-menurutmu apa ada batasan untuk mencintai?" Tanya Jongin ragu-ragu. Moonkyu mengernyitkan dahinya heran. Alisnya menyatu mendengar pertanyaan Jongin yang luar biasa aneh. Bukan apa-apa, tapi tidak biasanya Jongin bicara soal cinta.
" Maksudmu?" Moonkyu menatap Jongin aneh membuat yang ditatap tergagap ditempatnya sebelum akhirnya menggeleng cepat.
" Tidak jadi." Ujar Jongin.
" Apa ada seseorang didunia ini yang tidak bisa kita cintai, begitu maksudmu?" Ujar Moonkyu cepat. Jongin mengangguk pelan.
" Banyak." Jawab Moonkyu.
" Banyak?"
" Ya. Banyak."
" Contohnya?"
" Ibumu, ayahmu, adik kandungmu, kakak kandungmu, istri orang, suami orang, anak dibawah umur yang belum legal—"
" B-bagaimana dengan perbedaan umur?" Sela Jongin. Jantungnya berdegup cepat saat Moonkyu mengangkat topik itu.
" Perbedaan umurnya bagaimana dulu?" Tanya Moonkyu.
" Uhmmm, kalau beda jauh?"
" Jauhnya berapa banyak? Kalau dia belum legal tentu saja tidak boleh. Kau bisa masuk penjara." Ujar Moonkyu dengan mimik serius membuat Jongin sedikit ngeri.
" K-kalau sudah legal?" Tanya Jongin takut-takut.
" Kalau sudah legal, lain lagi ceritanya. Sikat saja, daun muda itu bagus." Kompor Moonkyu. Jongin mendelik mendengar jawaban sahabatnya. Sebenarnya Moonkyu sungguh-sungguh memberikan saran atau tidak sih?
" Aku serius." Desak Jongin.
" Aku lebih serius. Memang ada apa sih? Kau ada main dengan daun muda ya?" Tanya Moonkyu sembarangan membuat beberapa orang disekitar mereka menoleh. Refleks Jongin membekap mulut Moonkyu. Sahabatnya ini memang suka tidak kira-kira kalau menyebarkan aib orang
" Jangan sembarangan bicara." Desis Jongin seraya melebarkan sepasang mata tajamnya dengan bengis.
Kalau orang lain mungkin sudah menggigil ketakutan, tapi ini Moonkyu. Makhluk yang sudah kenal Jongin sejak Jongin masih belum bisa pipis dengan lurus, jadi wajar saja kalau pelototan bengis itu tidak mempan. Alih-alih ketakutan Moonkyu malah cengar-cengir sok polos.
" Ya habis, pertanyaanmu mencurigakan." Bela Moonkyu.
Jongin menoyor kepala Moonkyu membuat laki-laki bersurai keriting blonde itu berdecak malas tapi tidak berani membalas.
" Aku serius Jongin. Ada apa memangnya sampai kau bertanya masalah ini? Kau sedang dekat dengan seseorang yang lebih muda darimu." Tanya Moonkyu. Kali ini dia benar-benar serius.
Jongin menimbang untuk sesaat. Apa dia harus menceritakan yang sesungguhnya pada Moonkyu atau tidak. Setelah menimbang-nimbang Jongin memutuskan untuk memberitahu yang sebenarnya. Jongin butuh masukan saat ini dan dalam keadaan terdesak seperti ini, masukan dari orang macam Moonkyu pun akan Jongin terima.
" Kau ingat Luhan?" Ujar Jongin membuka sesi curhatnya.
" Si cantik Luhan yang banyak hutang dan sekarang menghilang dan tidak diketahui dimana keberadaannya?" Tanya Moonkyu. Jongin mengangguk.
" Ingat. Ada apa dengannya?" Sambung si Blonde.
" Aku dekat dengan adiknya. Umurnya masih delapan belas."
" Bagaimana kau bisa dekat dengannya?"
" Ceritanya panjang."
" Kenapa kau tidak pernah cerita?"
" Ini aku cerita."
" Tapi kan—"
" Sudahlah kita sedang tidak membahas ini." Moonkyu cemberut.
" Lain kali aku akan cerita. Aku janji." Tukas Jongin dan Moonkyu langsung menyeringai menang.
" Apa dia juga menyukaimu?"
" Sepertinya begitu."
" Lalu dimana masalahnya?"
" Mmhhh, usia kami beda lima tahun."
" Ya Tuhan, Kim Jongin." Moonkyu berseru sewot seraya melayangkan satu pukulan sayang di belakang kepala Jongin membuat pemuda berkulit coklat itu menngaduh tanpa suara.
" Memangnya kau hidup di jaman apa? Siapa yang peduli kalau umur kalian berbeda lima tahun? Kupikir umurnya masih tiga belas sampai kau harus merasa sebingung ini." Maki Moonkyu.
" T-tapi aku juga baru mengenalnya. Aku masih belum tahu jelas asal-usulnya. Apa itu tidak apa-apa?" Tanya Jongin lagi.
" Heh, Romeo dan Juliet saja jatuh cinta pada pandangan pertama dan berciuman dalam semalam. Siapa kau sampai butuh waktu berlama-lama untuk hal sesepele ini?" Delik Moonkyu galak membuat Jongin meringis. Entah kenapa Moonkyu mengingatkan Jongin dengan dua kakak perempuannya saat ini. Menyeramkan.
" Sekarang kutanya, apa adiknya ini secantik Luhan?" Tanya Moonkyu serius.
Luhan itu cantik sekali. Kecantikannya membuat dia menjadi salah satu murid popular. Kalau saja kecantikan itu diiringi dengan prilaku budiman dia pasti jadi primadona di kampus ini. Sedangkan Sehun memang tidak secantik dan seimut Luhan, tapi Sehun baik, manis dan sexy. Betul-betul tipe Jongin sekali. Jadi—
" Tentu saja." Jawab Jongin mantap.
" Heol. Daun muda secantik itu kau anggurkan begitu saja? Kalau kau tidak mau lebih baik untukku. Mana kontaknya aku minta." Ujar Moonkyu dan tangannya bergerak cepat mengambil ponsel Jongin yang tergeletak diatas meja. Kalang kabut Jongin merebut kembali ponselnya dari tangan Moonkyu. Bersyukurlah dia sempat ikut boxing semasa di SMA, jadi refleksnya sangat cepat.
" Enak saja. Siapa bilang aku tidak mau? Aku kan hanya sedang bingung." Ujar Jongin ketus.
" Apalagi yang kau bingungkan? Kalau memang suka sama suka lalu tunggu apa lagi? Jangan sampai dia disambar orang Kim Jongin." Petuah Moonkyu.
" Iya aku mengerti." Jongin mendesah pelan.
Dalam hati, pemuda tampan itu membenarkan ucapan sahabatnya. Jongin sudah terlalu lama bersikap bodoh dan membuat Sehun bingung. Dia tidak boleh begini terus. Kasihan Sehun. Jongin masih ingat bagaimana tatapan Sehun terlihat sendu saat menatapnya dalam beberapa hari ini. Sehun pasti kebingungan dengan sikap Jongin yang tiba-tiba menjaga jarak.
Jongin bukannya ingin menjauhi Sehun, tapi Jongin butuh waktu untuk mencari jawaban dari perasaannya. Dan sekarang setelah dia menemukannya, dia tidak akan membuang-buang waktu dan membuat Sehun menunggu lebih lama. Jongin janji, setelah ini dia akan segera mengungkapkan perasaannya pada pemuda manis itu.
Ya, Jongin janji.
Jongin berjalan menuju flat nya dengan langkah perlahan. Jantungnya berdetak cepat seiring dengan setiap langkah yang dilaluinya. Jongin merasa luar biasa gugup. Dia bahkan tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Tidak pernah sekalipun dalam dua puluh tiga tahun bernafas di bumi dia merasa begini. Tak terasa langkah kaki Jongin telah mengantarnya hingga di depan pintu flat. Jongin mengambil napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri untuk membuka pintu.
Ini lah saatnya. Begitu pintu ini terbuka dan Sehun menyambutnya, Jongin akan menyatakan perasaannya. Jongin membuka pintu dengan perlahan seakan takut merusak suasana khidmat yang sekarang sedang dia rasakan.
" Sehuna." Panggil Jongin seraya memasuki apartementnya yang entah kenapa terasa sepi dan sunyi.
" Sehuna. " Panggil Jongin lagi dan Sehun masih belum menjawab.
Jongin mengarahkan langkahnya menuju dapur tempat biasa Sehun berada. Tidak ada siapa-siapa disana. Dapur Jongin kosong melompong. Jongin beranjak meninggalkan dapur dan menuju balkon. Berpikir mungkin saja Sehun sedang menjemur pakaian dan hasilnya nihil. Sehun juga tidak ada disana. Perasaan Jongin mulai tak enak.
Dia merasa ada sesuatu yang ganjil mengusiknya. Jongin terdiam. Apartementnya sangat sepi tanpa suara apapun dari dalam sana. Tidak ada tanda-tanda atau suara yang menunjukan keberadaan Sehun. Tidak ada senandung kecilnya ataupun suara-suara lain yang menunjukan keberadaannya. Tiba-tiba saja sebuah pikiran buruk melintas cepat dikepala Jongin.
" Tidak mungkin." Bisik Jongin pelan pada dirinya sendiri.
" Itu tidak mungkin terjadi." Bisiknya lagi dan jantungnya berdegup keras saat dia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu tempat Sehun biasa tidur.
Jongin mengedarkan pandangannya kesekeliling ruang tamu dan jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat saat mendapati dugaannya ternyata benar. Koper – koper Sehun sudah tak ada lagi diruang tamunya. Dengkul Jongin serasa melemas menyadari Sehun sudah tak ada lagi dirumahnya. Pemuda itu sudah pergi meninggalkannya tanpa pembicaraan apapun. Tanpa memberitahu Jongin. Jongin merasa terpuruk. Jongin merasa seakan ada ombak kencang menghempas kakinya hingga dia tak sanggup lagi untuk berdiri. Jongin menatap sofa yang menjadi alas tidur Sehun setiap malam. Pemuda itu datang dalam hidupnya tiba-tiba dan kini dia juga pergi dengan tiba-tiba. Jongin menarik napas berat. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam dadanya saat menyadari betapa dingin dan hampa rumahnya tanpa Sehun.
" Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?" Bisik Jongin kecewa.
Jongin menghela napas pelan, memejamkan matanya karena matanya terasa panas tapi langsung membukanya cepat saat kenangannya bersama Sehun terlintas cepat dikepalanya. Jongin membalikan tubuhnya secepat mungkin dan berlari kearah pintu keluar. Mungkin belum terlambat. Pikir Jongin. Pemuda itu berharap Sehun belum pergi lama dan belum terlalu jauh agar dia bisa menemukannya dan membawanya kembali. Kembali kerumah ini dan menemaninya untuk seterusnya. Jongin berusaha meraih knop pintu secepat mungkin tapi ternyata pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Jongin kontan terdiam ditempatnya saat pintu itu terbuka membuatnya dapat melihat sosok dibalik pintu tersebut. Mata Jongin melebar untuk beberapa detik dan dadanya berdebar keras sebelum akhirnya dia membuang napas lega saat sadar apa yang berada didepannya kini adalah nyata. Jongin melangkah mendekati pintu dan menarik Sehun kedalam pelukannya membuat Sehun terbelalak kaget dan menjatuhkan kantung-kantung belanjaan dalam genggamannya.
" Jangan pergi." Ujar Jongin pelan seraya menguatkan dekapannya pada Sehun.
" Huh?" Gumam Sehun tak mengerti dalam pelukan Jongin.
" Jangan pernah pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri disini." Ujar Jongin lagi seraya mengusap rambut Sehun dan mendekapnya lebih erat.
Jantung Sehun berdegup kencang mendengar perkataan Jongin. Matanya terasa panas dan berair. Meski dia belum sepenuhnya mengerti maksud Jongin tapi seulas senyum bahagia menghiasi wajahnya yang tersembunyi dalam bahu lebar cinta pertamanya. Perlahan Sehun mengulurkan lengan hangatnya kesekeliling punggung Jongin.
" Aku janji." Bisiknya pelan membuat semua ketakutan dan kecemasan yang dirasakan Jongin menguap hilang dalam sekejap dan bergantikan kebahagian yang meluap-luap dalam tubuhnya. Jongin melonggarkan pelukannya dan menunduk menatap Sehun dalam-dalam yang juga tengah menatapnya. Jongin tersenyum manis kemudian mengarahkan bibirnya ke kening Sehun dan mengecupnya lembut.
" Tetap disampingku, Oh Sehun."
" Jangan bosan denganku Kim Jongin."
" Tidak akan , sayang."
Mereka saling bertatapan dengan mesra. Senyum lebar pun masih bertahan di wajah masing-masing. Mereka tak dapat memungkiri kebahagian yang tengah mereka rasakan saat ini. Perlahan tapi pasti Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun. Bergerak mendekati bibir ranum Sehun yang selalu mengusik pikirannya sementara Sehun memejamkan mata dan menengadahkan wajahnya. Seakan bersiap menyambut kecupan Jongin yang sebentar lagi akan menyapanya. Sebentar lagi Jongin akan merasakan manisnya bibir itu. Sebentar lagi Jongin akan tahu bagaimana tekstur bibir itu. Apakah akan semanis dan selembut perkiraannya selama ini? Jongin akan segera tahu.
Jongin menelengkan wajahnya ke samping saat hidung mereka saling bersentuhan. Bahkan hidung mancung Sehun yang bersisihan dengan hidungnya pun terasa sangat sempurna dan melengkapi kekurangannya. Jongin bisa merasakan nafas hangat Sehun dipipinya dan itu nyaris membuatnya gila.
Jongin bersorak dalam hati karena mimpinya sebentar lagi akan terpenuhi. Setelah berkali-kali gagal berciuman dengan Sehun, sekarang Jongin akan merasakannya. Bibir atas mereka sudah saling bersentuhan dan Jongin nyaris terisak bahagia karena— Ya Tuhan, bibir Sehun begitu lembut.
Jongin semakin mendekat. Hatinya sudah tak sabar ingin merasakan betapa manisnya bibir Sehun yang dengan sabar menanti kecupan Jongin di bibirnya. Jongin membuka sedikit bibirnya berniat untuk menyesap bibir Sehun yang semanis madu layaknya kumbang yang menghisap sari-sari bunga. Sedikit lagi—
" Hooi, Kim Jongin kenapa pintu rumahmu terbuka— Upps..."
Moonkyu terpaku di depan pintu rumah Jongin. Sepasang mata kucingnya terbelalak lebar menatap pemandangan mesra yang tiba-tiba terhenti karena kehadirannya. Keringat dingin mengucur di dahi Moonkyu saat matanya bersitatap dengan sepasang mata kelam Jongin. Uh-huh, Moonkyu tau apa arti tatapan itu dan kalau dia tidak cepat bertindak wajah mulusnya sebentar lagi akan jadi sasaran tinju.
" M-maaf, aku—aku tidak—" Ucapan Moonkyu terputus saat atensinya jatuh pada sepasang tangan Jongin yang kini terkepal menahan gemas. Oke, situasi berubah menjadi gawat darurat. Saatnya mengeluarkan jurus terakhir dan terampuh yang pernah dia tahu. Moonkyu harus kabur sebelum Jongin—
" KIM MOONKYU !"
Well, maaf Moonkyu, sayangnya kali ini sudah terlambat.
FIN
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Or not...?
Sehun menggeliat kegelian dalam pelukan Jongin. Kecupan – kecupan ringan yang Jongin berikan di tengkuknya membuat jemari kakinya melengkung nikmat dibalik selimut. Sehun terkikik pelan saat hidung Jongin mengusak garis lehernya dan naik ke pipinya sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan manis di tulang pipi Sehun yang ranum. Mereka sedang berbaring di ranjang Jongin yang kini telah berganti status menjadi ranjang mereka. Menghabiskan waktu dengan bergelung dalam selimut dan pelukan satu sama lain. Ciuman-ciuman kecil dan bisikan-bisikan manis menjadi bonus penghangat malam mereka.
Jongin mendesah senang saat bibirnya menemukan kulit mulus Sehun. Pria itu menarik Sehun semakin merapat padanya, membuat punggung Sehun melekat erat pada dada bidangnya, menyelipkan satu kakinya diantara kaki Sehun dan mengunci Sehun dalam rengkuhan kedua lengan kekarnya. Jongin bersenandung pelan tiba-tiba membuat Sehun kembali terkikik.
" Kau tampak senang sekali hari ini." Bisik Sehun lembut.
" Aku punya malaikat dalam dekapanku, aku tidak punya alasan untuk tidak senang." Gombal Jongin membuat Sehun tertawa kecil.
" Aku senang kau tetap disini Huna."
" Apa kau benar-berpikir aku akan meninggalkanmu begitu saja?"
" Aku memperlakukanmu dengan kurang baik sebelumnya dan saat aku pulang barang-barangmu sudah tidak ada. Mana kutahu kalau ternyata kau memindahkan koper-kopermu ke bawah ranjang." Jelas Jongin.
" Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan hyung."
" Aku tahu. Maaf." Ujar Jongin seraya mengecup pelipis Sehun.
" Belikan aku bubble tea baru kumaafkan."
" Apapun untukmu anak manis." Jawab Jongin.
Sehun menggeliat dalam pelukan Jongin membuat kekasihnya terpaksa melonggarkan pelukannya. Sehun berbalik menghadap Jongin, menatap wajah tampan kekasihnya yang juga tengah memandanginya. Rasanya masih seperti mimpi bagi Sehun. Bahwa laki-laki dihadapannya ini kini sudah menjadi miliknya. Cinta memang datang tanpa diduga. Siapa sangka kedatangannya yang awalnya mencari kakaknya bisa membawanya menuju cinta pertamanya. Tanpa Sehun sadari seulas senyum lebar menghiasi wajahnya.
" Apa yang lucu?" Tanya Jongin.
Sehun menggeleng pelan. Si manis berkulit putih itu menggigit bibir bawahnya dan melayangkan satu kecupan kilat di ujung hidung Jongin sebelum menyembunyikan wajahnya yang merona di leher kekasihnya. Jongin terbahak melihat tingkah malu-malu Sehun yang menggemaskan. Menggoda kekasihnya dan mendaratkan ciuman di setiap jengkal yang bisa dia jangkau. Begitu seterusnya sampai malam berlanjut dan kantuk menjemput.
Well, Sehun memang benar. Cinta datang tanpa diduga. Siapa sangka? Bahkan Jongin si anak kota yang arogan dan menyebalkan pun tak mampu meyangka.
FIN
Rep's Corner :
Lovekaihun : Well this' is it. Please just call me Fi or Kak Fi :)
fyodult : Sehun itu macam es kelapa pas lagi puasa. Godaan yang Ruaaaaaar biasa
Asmaul : Yooo~~
AwKaiHun : Lah kok kamu malah ngajakin Jongin khilaf sii. udh mw puasa Jongin mau tobatt. Thx supportnya Aw sayang :*
jojongandhunnie : Hi babies. Makasih yaa udh baca ff2 aku. Gapapa kok biarpun slm ini jd siders. I love my siders as well. Makasih sayang. Knp atuh malu? Aku mah ga gigit kok neng. ^^ eniwei thx udh support yaa :*
dini : Tamunya ganggu yaa. Lemparin garem aja biar pergi.
asdindas : Kenapa ratenya T? Karena tante2 katro ini ga tau gmn caranya nulis smut jdnya dibikin T aja. alias terorerorejeng /?
yuliahoonsehun : Ya ampuuun babies kamu pengertian sekalee. aku centaaa padamu. Sankyu atas pengertiannya :*
ohhanniehunnie : Ya ampun Hanie. nyebut Han. masak maen bakar2 aja. emangnya dia sampah XD
n4 : Jongin kan lelaki dewasa yg sehat jasmani rohani. Makanya banyak pantangannya/? Eniwei plis just call me Fi or Kak Fi ^^
KrisHo12 : Uhmm Moonkyu noh yg ganggu *lempar Moonkyu*
Kimoh1412 : Iya. Si Fi ga kreatip emg. Bkn ff macam sitkom yg shootingnya di situ2 ae. Hahahahha XD
Dazzling Kaise : Sadly, it's not fast. at. all. Sorry
Hyun CB614 : Sejujurnya, gw lbh parah dari elo. Kalo liat Sebooty gw bawaanya pgn gigit. Iya gigit. Karena Sebooty itu mengingatkan gw sama puding jelly and bakpau. jadi bkn gw laper.
relks88 : Ooohhh, si dodol Fi ini malah balik nanya ya. Emg oon tuh si Fi. Maapin ya neng. Hahaha
Oh Yuugi : Kenapa semua pada murka sama yg pencet bel si? Kesian tau dia kan ga ngerti apa2 XD
Kim Sohyun : Karena si Fi, yg bikin ni cerita emg nyebelin gitu orangnya :P
yehet94 : Ini emg cm ff selingan. jd ga ada konflik gtu deh. cm buat seru2an aja.
KaiHunnieEXO : #JonginjarangDibelai #JonginHausBelaian
Iz : Sayangnya di skenario Luhan ga akan nongol Muahaahahha
Icha : Siapapun dia. Dia udh cukup banyak disumpahin sepanjang ff ini XD
Dia : Ya ampoonn lagi2 si pelaku bel/? disumpahin. sianan dia orang. n plis just call me Fi or Kak Fi
widiyanthimanurung : Yg mncet bel sesungguhnya bkn siapa2 XD
Elfishy326 : Sorry for-the-not-so-fast up date
bellakyu : Ini di up date sayang...
Risty662 : Bete yaaa? bete ya? ayo ngaku... cie beteee XDD
hun4lyfe : Knp nangis? Kalo kamu nangis aku kudu piye?
A/N : Hi babies, this's Fi speaking. I'm deeply, truely sorry for the-oh-so-late up date. My bad. Aku mau klarifikasi sesuatu karena banyak bgt yg nanyain, bahwa yg pencet bel itu bukan lah siapa2. I dont explain 'em bcs they're not important. Bukan itu pointnya. Pointnya adalah, dgn mereka gagal ciuman, Jongin bs sadar dgn apa yg hampir dia lakukan. Sorry to say, but u can imagine yg pencet bel itu sebagai siapapun yg ga penting, tetangga se-flat, orang nyasar atau bahkan abang gojek. And aku ga nongolin Luhan dan jelasin dimana keberadaanya dia skrg, karena sekali lgi aku blg bahwa, ini cm fic ringan. Luhan cuma karakter yg mencetuskan plot. That's it. Emang mungkin agak aneh karena aku biarin si Luhan ngambang but Whatever, kerjaan gw udh banyak, ga ada waktu buat ngurusin Luhan #ehhh #plaakk. The last thing is. Don't forget that reviews, subscribes and followers are very much loved. I loves my siders as well. My siders are my babies too. ^^
And mohon maaf lahir batin kalo Fi ada salah2 ngomong. Selamat menyambut bulan Ramadhan bagi yg akan menjalankan ^^
I'll see u when i see u babies. Paipai :*:*:*
