Pairing: USA X Japan

Rating : T

I want to get along well with you...

Entah kapan dia membuka dirinya pada orang asing. Setahunya dia begitu takut pada orang asing yang besar dan berkulit pucat—sungguh dia berpikir kalau mereka begitu menakutkan.

Sampai suatu hari atasannya memintanya untuk bertemu dengan seorang pria Amerika—Alfred F Jones nama pria itu. Rambutnya pirang, bola mata biru bagai Aquamarine miliknya terbingkai dengan kacamata. Sebenarnya ini pertama kalinya bagi jepang untuk bertemu dengan...Amerika—meski dia selalu berpikir kalau mereka menakutkan.

Alfred mengajarinya berbagai hal. Dari teknologi baru sampai budayanya, jepang menerima semuanya lalu memilahnya dengan baik, atau mungkin jika perlu dia akan mengubahnya agar sesuai dengan bangsanya.

Tentu tidak hanya Amerika yang berbagi, Jepang juga berbagi pengetahuan mereka yang tidak seberapa. Nampak Alfred begitu senang memakai yukata barunya, mengajak Kiku mandi di kolam air panas. Kiku mengangguk pelan dan mengikuti kemauan Alfred yang ternyata begitu kekanak-kanakan—setidaknya dia bangga kalau budayanya ini bisa membuat Amerika senang.

Begitulah seterusnya, makin hari hubungan mereka makin baik. Jepang tidak begitu takut lagi jika budaya asing memasuki wilayah mereka. Sebaliknya dengan tenang dan ramah mereka akan membuka tangan mereka.

...

Entah apa yang merasuki Kiku. Dia ingin berjalan-jalan ketempat Amerika, meski atasannya bilang tidak usah. Dia merasa nanti dia akan menyesal, entah kenapa dia begitu ingin ke tampat Alfred di bulan February ini

"kau datang!" sambut Alfred penuh semangat "berapa lama kau akan menetap?" tanyanya sambil membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan pria jepang yang lebih kecil itu memasuki kediamannya.

"ojamasimasu..." sudah kebiasaan kunonya untuk berkata demikian jika berniat menggangu kediaman seseorang, dan Afred sudah terbiasa dengan ini.

"entah takdir apa yang membuatmu datang tepat pada waktunya!" duduk di sofa Alfred menepuk sebelahnya, menawarkan tempat duduk "besok hari yang spesial..."

"besok?" Kiku menaikkan salah satu alisnya dan masih tetap berdiri "apa yang spesial?" tanyanya lengkap sebelum mengambil tempat yang ditawarkan—Alfred memang lebih bersemangat seperti biasanya, jadi apakah hari yang spesial yang dimaksud pria pirang berkebangsaan Amerika itu?

"besok adalah hari favorite Frence. Dia bisa menggoda banyak wanita pada hari itu" jelas Alfred masih terdengar misterius bagi Kiku si orang awam-kebudayaan barat.—penjelasan berikut malah membuat si pria jepang makin kebingungan dan mendekatkan wajahnya ke lawan bicaranya "apa itu spesial?" tanyanya polos

Wajah Alfred memerah, berdekatan dengan Kiku seperti ini selalu membuatnya gugup "y—yah" dia mengangguk kaku "kau akan mengatahuinya besok"

"aku penasaran" akhirnya Kiku menjauhkan wajahnya lalu menatap langit-langit rumah "kenapa tidak kau memberitahuku sekarang. Dan kita bisa mempraktekannya besok?"

Mempraktekkan ? Alfred terkekeh geli pada sugesti tersebut "apa yang mau kau praktekkan? Ini bukan festival menari ataupun sembayang di kuil" terangnya. Kiku memiringkan kepalanya "lalu?" tanyanya singkat

"mmm...sudah kubilang kau akan mengatahuinya besok" jawabannya masih sama dan itu membuat jepang menghela nafas panjang. Amerika tidak ingin membuat tamunya bosan jadi ia kembali bertanya "apa kau ingat ramalan meja berputar?"

"aku ingat"

"kau ingat apa yang ingin kau ketahui dari ramalan tersebut?"

"...tentu..aku ingat"

"bisa kau mengatakannya lagi?"

"mmm...apakah anjingnya Toda-san, si Shiro bisa kawin nanti?"

*GEBRAK* jawaban tersebut sukses membuat Amerika jatuh dari sofanya "KENAPA YANG KAU INGAT MALAH PERTANYAAN ANEH ITU!?" segera berdiri dia berteriak kesal pada kepolosan jepang.

"eeh..." Kiku tersenyum simpul lalu menepuk pundak Alfred agak keras "kau masih mengingatnya huh"—untuk beberapa alasan ia terlihat senang "aku bercanda" ujarnya sambil melambaikan tangannya "aku ingat jelas pertanyaanku itu Amerika-san"

Cemberut Amerika kembali bertanya "benarkah?" dia terlihat tidak yakin

"apakah dimasa depan nanti aku bisa berteman akrab denganmu?" Jepang menjawabnya sambil melempar senyuman hangat pada Amerika "dan jawabannya adalah yes.."

Amerika mengangguk cepat, puas dengan jawaban tersebut "kau masih mengingatnya!" tiba-tiba saja dia memeluk jepang dan berbisik "aku senang" dia bisa melihat Kiku yang memerah sampai ketelinganya entah kenapa negara Asia begitu pemalu... dan itu makin membuatnya gemas.

"e..err..A—Amerika-san!" Jepang yang kecil mencoba memberontak dengan mendorongnya "ada..ada apa?" tanyanya panik

"biarkan aku begini dulu...Kiku.." pelukannya malah semakin erat "besok kau akan mengetahuinya..."

Sebenarnya...ada apa dengan tanggal 14 february?...

OXO

Sebelum Alfred bangun. Kiku sudah berjalan menikmati pemandangan asing di sekitar rumah, dia bertanya-tanya apakah hari spesial yang dikatakan Amerika kemarin berhubungan dengan; nuansa merah muda, bunga mawar, dekorasi boneka cupid, pita dan hiasan berbentuk hati?—toko-toko memang belum buka namun ia bisa melihat semua itu dari balik kaca polos toko-toko tersebut. Memang dia tidak pernah mengerti dengan jam orang barat, kenapa mereka memulai hari mereka lebih terlambat daripada orang timur?

China pernah mengolok mereka terlalu malas dan itu menimbulkan perdebatan bodoh yang panjang. Setelah puas berjalan-jalan dia kembali ke rumah Amerika. Si pirang berbadan besar itu masih mendengkur diatas ranjang—tak mengenakan apapun dibalik selimutnya.

Budaya yang aneh...—mungkin lebih tepatnya kebiasaan.

Jepang memalingkan pandangannya lalu mundur selangkah "hei—" dia berniat membangunkan Alfred dari jauh, namun tangan yang lebih besar menariknya untuk mendekat "morning~" Amerika mengucup pipinya dan memberinya salam—memalukkan! Bagaimana bisa dia santai saja melakukannya?

"pakai bajumu Amerika-san!" tegur Jepang tegas sambil menunjuk mau berapa lamapun dia tidak terbiasa—wajah Kiku bersemu merah padam membuat Alfred mau tak mau menertawakannya "iya iya" segera ia mengambil kaos putih didekat kasurnya dan memakainya "jadi...bisa menebak hari seperti apa ini?" tanyanya lalu mengambil celana. Pemuda Asia itu sudah mulai tenang sekarang, ia menjawab "tidak" sambil menatapnya langsung "apa yang akan kalian lakukan dengan...coklat dan bunga?"

"aah...kau tidak romantis Nihon" Alfred menghela nafas panjang "maa...aku sudah menyiapkan semuanya. Persiapan ku untukmu" bagian akhir terdengar menekan dan disaat bersamaan Amerika melirik Jepang dengan tajam, membuat hati si Asia berdebar..tidak nyaman.

OXO

Karena mengurusi beberapa pekerjaan dari negaranya Jepang tidak sempat melihat luar lagi. Dia bisa mendengar suara riang anak-anak dan orang-orang dewasa yang menikmati festival spesial mereka, meski begitu penasaran dia tidak bisa mengintip; setelah mendapat ijin dari atasannya akhirnya ia malah mendapat tugas segunung mengenai investasi Amerika untuk negara —dan itu membuatnya kewalahan sekarang.

Dia terlalu fokus. Dan tanpa ia sadari hari mulai gelap—dia baru mengetahuinya setelah membuka jendela ruangan. Rumah Amerika begitu besar, dan dia meminjam ruangan paling pojok, tepatnya perpustakaan kecil. Keputusan ini membuatnya kesepian memang, tapi—Hei! dari tadi dia tidak melihat Amerika, dimana gerangan dia?

"ya sudahlah" bergumam. Dia keluar dari ruangan sunyi tersebut. sebenarnya dia sudah tidak peduli dengan hari spesial yang misterius baginya itu, siang ini sebelum ia mengurung dirinya dikamar dia mendengar seorang wanita separuh baya berbicara dengan temannya mengenai kebenaran hari spesial ini— aah ini rencana pabrik permen agar produk mereka laku kata wanita itu.

Mungkin memang benar, terkadang ada negara yang membuat festival untuk keuntungannya sendiri. dan kata-kata wanita itu terbukti dengan; tidak normalnya orang berbondong-bondong membeli coklat dan bunga dalam jumlah besar.

Menuju ke dapur ia mengambil sebotol air mineral dari lemari es . hampir saja ia tersedak, tiba-tiba saja Amerika menyerukan namanya "Kiku!" dan tiba-tiba saja pria besar itu sudah berada di belakangnya.

"...ada...apa?" pria asal jepang yang masih berdebar karena kaget itu bergerak lambat. Ia menutup botol lalu meletakannya kembali ke lemari es dengan berlahan. Amerika tidak menjawab, dia tersenyum lalu menarik tangan Jepang untuk mengikutinya.

Betapa terkejutnya dia. Ruang tamu yang membosankan berubah menjadi sebuah restoran inggris kelas atas, diatas meja bertaplak putih bersih sudah tersedia makanan khas barat—yang belum dia hafal namanya—didampingi dengan sebotol wine lengkap dengan dua gelas. Apa dia menyiapkannya sendiri? Jepang menatap Amerika penuh tanya, seolah mengerti apa pertanyaannya si pirang mengangguk "Happy Valentine!" ucapnya lalu mengucup dahi Kiku...

Mereka duduk berhadapan. Membuat Jepang memerah padam, suasana ini terlalu romantis baginya sebenarnya apa yang dipikirkan Amerika-san sih?

Dengan elegan Alfred menuangkan wine untuk mereka berdua. Dia tersenyum ramah "kau tahu?" mulainya "ramalan berputar itu membuatku senang" ungkapnya membuat Kiku mengedipkan beberapa kali matanya—yah, dia tidak mengerti. " I want to get along well with you...too, Japan" ujarnya lembut

Apa hanya untuk hal ini dia menyiapkan segalanya untuknya?

"nah Amerika-san bukannya kita sudah lebih dari akrab?"tanya Jepang terlihat sungkan—dia tidak pernah bisa menerima sesuatu yang begitu berarti, memang "kita saling membantu. Kau yang membubarkan politik isolasiku dan aku membuka pelabuhan untukmu, kurasa kita impas"

"mmm...apa kau berbicara sebagai negara?"

"apa bukan itu yang kita bicarakan?"

Dasar ini bukan makan malam formal antar negara! Sadar Nihon sadar!—Amerika sudah tidak tahan menghadapi betapa—Gah! dia tidak akan menyebut Jepang bodoh tapi tetap saja ini keterlaluan.

Alfred berdiri lalu mendatangi kursi Kiku. Ia membelai pipi pria kecil itu lalu menyentuh bibirnya dengan bibirnya, namun dia ingin lebih akhirnya dia malah memasukkan lidahnya dan menghisap lidah yang lain. Cukup lama ciuman tersebut berlangsung, anehnya pria jepang yang polos—bahkan panik saat dipeluk itu tidak memberontak, dia diam dan pasrah pada ciuman Alfred. Kedua kehabisan oksigen apalagi jika diteruskan, entah apa nanti yang akan terjadi. Akhirnya Alfred berhenti.

"get along well...is this what you meant?"tanya Jepang masih belum merubah ekpresi datarnya yang polos itu. Menyeringai Amerika menjawab "Actually...i want more" akunya lalu kembali ke kursinya "say...bagaimana kau mengucapkannya dengan bahasamu?" tidak seperti Jepang yang cepat belajar, Amerika masih kesusahan menghafal bahasa adik dari China itu. Mungkin memang benar bahasa inggris lebih mudah daripada bahasa mereka.

Jepang membuka mulutnya namun tak ada suara yang keluar, jujur saja seharusnya bukan dia yang mengatakan cinta terlebih dahulu bukan? Seharusnya sebaliknya. Namun melihat wajah Alfred yang begitu menantikan jawaban—dia menjawab "Aishiteru" pada "i love you..." si pirang membalasnya sambil mencium punggung tangannya.

Aku masih belum jelas dengan festival ini. Tapi kurasa ini hari dimana kita...