belum ada sebulan sih tapi... ah sudahlah! dan warning, ada kata-kata kasar dalam fic ini.
anak baik nggak boleh niru kata-kata kasar dalam fic ini ya :)
Chapter 1
Karakura, Mei 1998
Rukia menutup tempat bekal berwarna hitam itu lalu memasukkannya ke dalam tas kecil berwarna sama. Dia melepaskan celemeknya, melipatnya dengan cepat lalu menaruhnya di laci terdekat. Gadis itu menghembuskan napas sambil menatap dua tas kecil yang masing-masing berisi tempat bekal. Matanya kini beralih ke jam kecil yang berada di meja ruang keluarga. Dia bergegas pergi ke kamarnya begitu mengetahui dia masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap berangkat sekolah.
Rukia tidak perlu lama untuk bersiap-siap; isi tasnya sudah lengkap, seragamnya rapi tergantung di pintu lemari, bekal sudah disiapkan terlebih dahulu. Dia hanya perlu mandi dan merapikan diri. Rukia tidak pernah keramas di pagi hari, salah satu alasannya adalah keluarganya perlu menghemat penggunaan shampoo. Gadis itu juga tidak suka berada di kamar mandi dalam waktu lama sehingga tidak sampai sepuluh menit, gadis itu sudah kembali ke kamarnya untuk merapikan diri. Tidak seperti gadis seusianya yang suka berlama-lama bersolek di depan cermin, Rukia hanya bercermin untuk menaburkan bedak bayi di wajahnya, menyemprotkan minyak wangi di lehernya dan memastikan bahwa rambutnya tidak berantakan. Lalu dengan sigap, gadis itu berlari ke ruang makan.
Di sana, seorang pria muda sedang menuangkan susu ke dalam gelas. Begitu Rukia mulai berjalan ke arah pria itu, dia menengadah dan memberikan senyum pada Rukia.
"Pagi, Rukia."
"Pagi, kakak," balas Rukia sambil ikut tersenyum. Dia mengambil satu gelas yang sudah dituangi susu putih oleh kakaknya, Byakuya. Gadis itu menatap curiga isi gelas itu tanpa meminumnya sama sekali.
"Itu susu yang baru. Yang semalam sudah kubuang karena kadaluwarsa," ucap Byakuya begitu menangkap gelagat adiknya. Begitu Byakuya meminum susu bagiannya, Rukia baru berani meminum susu di gelasnya. "Ada roti di situ kalau kau mau."
"Oh, oke." Rukia tanpa ragu-ragu langsung mengambil salah satu dari roti cokelat yang ada di meja. Mereka menghabiskan sarapan mereka tanpa banyak berbicara. Kalaupun mengobrol, hanya sebatas apa bekal hari ini dan apakah Rukia sudah mengerjakan tugas sekolahnya semalam. Sebenarnya Rukia tidak keberatan jika kakaknya menghabiskan sarapan dalam diam. Dia mengerti bahwa Byakuya adalah orang yang sangat taat aturan dan memiliki pemikiran seperti orang tua. Tapi melihat Byakuya yang berusaha untuk membuka percakapan meskipun itu adalah hal yang paling tidak disukainya terlihat sangat manis di mata Rukia.
Lima belas menit kemudian, mereka berdua sudah berada di ambang pintu. Byakuya segera mengunci pintu dan memberikan kuncinya pada Rukia. Kunci milik Byakuya hilang kemarin. Sepertinya kuncinya terjatuh saat Byakuya berdesak-desakan di kereta. Pria itu saja baru menyadarinya begitu tiba di rumah. Byakuya berencana untuk membuat kunci cadangan lagi di akhir minggu nanti.
"Oh, sudah mau berangkat sekolah?" sapa seseorang. Rukia menoleh untuk melihat si pemilik suara.
Rukia kenal pemilik suara itu. Wanita tua itu bernama Saori, atau setidaknya begitulah para tetangga memanggilnya. Tidak banyak yang mengetahui kisah wanita itu kecuali Rukia. Gadis itu senang sekali mengunjungi rumahnya karena Saori memiliki satu ruangan yang penuh dengan buku. Di akhir pekan, setelah dia menyelesaikan kegiatan belajarnya, Rukia akan langsung pergi ke rumah Saori untuk membaca buku sampai malam menjelang. Yang menyenangkan adalah Saori selalu menceritakan sesuatu. Mulai dari kisah hidupnya sampai kejadian-kejadian di zamannya yang dirindukannya. Rumah Saori juga terbilang sangat nyaman, dengan musik jazz yang mengalun dari piringan hitam serta Kuro, kucing hitam yang selalu menemani Rukia tanpa mengganggunya sama sekali.
Tapi alasan mengapa Rukia menyukai Saori bukan hanya itu saja. Saori adalah satu-satunya orang yang baik kepada mereka.
"Nenek Saori!" sapa Rukia sambil melambaikan tangan. Gadis itu membuat mimik lucu pada Kuro yang digendong oleh Saori.
"Ya, kami pergi dulu, Saori-san," balas Byakuya sambil membungkuk.
"Hati-hati di jalan, nak."
Rukia tersenyum mendengar balasan Saori. Dia melambaikan tangan sekali lagi sebelum menyamakan langkahnya dengan Byakuya.
"Sepertinya kau senang sekali pergi ke rumah Saori-san. Buku-bukunya sangat menarik ya?"
"Iya, bukunya banyak sekali. Lagipula buku-buku di sana banyak yang tidak kulihat di perpustakaan sekolah. Banyak buku-buku tua yang bagus sekali. Lalu minggu kemarin aku membaca buku tentang cahaya. Kakak tahu tidak, kalau sebenarnya langit berwarna biru karena saat cahaya matahari memasuki bumi, warna birulah yang keluar paling kuat."
"Hmm, benarkah?"
"Dan katanya, manusia dapat melakukan perjalanan menembus waktu ke masa depan jika kecepatan yang ditempuh melebihi kecepatan cahaya. Hebat bukan?"
Byakuya tertawa. Dia lalu mengacak-acak rambut adiknya, tidak menghiraukan adiknya yang memprotes tindakan kakaknya. "Adikku terdengar seperti orang pintar saja."
"Aku memang pintar," keluh Rukia sambil merapikan kembali rambutnya.
"Kalau pintar seharusnya kau masuk peringkat lima besar teratas di sekolah. Bukan peringkat tiga puluh," canda Byakuya.
"Tapi peringkat 30 dari 240 siswa itu sudah sangat lumayan. Peringkat 30 itu sama dengan peringkat teratas karena sudah melebihi seperempat dari jumlah siswa."
"Wah, optimis sekali," balas Byakuya sambil tertawa kecil. "Baiklah, hati-hati di jalan."
Rukia tidak sadar kalau mereka sudah sampai di halte bus. Byakuya tidak ikut dengan Rukia, dia akan ke stasiun bawah tanah yang terletak beberapa meter dari halte bus ini. Tempat kerja Byakuya berada di perbatasan kota Karakura. Akan lebih cepat jika dia berangkat dengan kereta dibandingkan dengan bus.
"Oh iya. Kakak juga hati-hati ya?"
Byakuya membalas lambaian tangan Rukia sebelum akhirnya dia meninggalkan gadis itu di halte. Rukia tetap memperhatikan punggung Byakuya sampai matanya tak bisa lagi mengikuti sosok kakaknya.
Sudah sering Rukia melakukan hal itu; berangkat bersama, berpisah di halte lalu Rukia akan menatap punggung kakaknya dan akhirnya menunggu bus datang tiga menit kemudian. Hanya saja perasaan yang selalu datang saat Rukia menatap punggung kakaknya tak pernah berubah.
Rukia hanya tinggal berdua dengan Byakuya. Ayahnya sudah meninggal empat tahun yang lalu dan ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkan Rukia. Rukia tak pernah mengenal wajah ibunya kecuali dari foto yang dipajang di altar. Hanya ada dua foto dengan wajah ibunya, yang satunya terselip di dompet milik Byakuya. Ayahnya pernah bercerita bahwa banyak foto ibunya yang hilang setelah pindah rumah ke Karakura. Bahkan foto Byakuya saat masih kecil pun hanya ada sedikit. Jika dikumpulkan ke dalam album, tidak sampai setengah halaman penuh.
Tapi Rukia tidak terlalu memikirkannya. Dia tentu ingin sekali melihat foto-foto ibunya yang lain. Kedua foto di rumahnya tidak dapat membuat Rukia membayangkan seperti apa paras ibunya. Namun semuanya sudah terjadi. Maksudnya untuk apa dia berusaha membayangkan paras ibunya yang sudah meninggal bahkan sebelum Rukia dapat mengenali wajah ibunya? Pemikirannya memang jahat tapi setidaknya hal itu membuat Rukia tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.
Dan kini ayahnya pun sudah tak ada. Rukia dan Byakuya harus bertahan di dunia yang kejam ini. Tentu saja Rukia memiliki alasan mengapa dia menganggap dunia ini kejam. Jika tidak ada kakaknya, Rukia tidak akan tahu bagaimana dia bisa selamat dari tekanan hidupnya. Tapi karena itulah Rukia merasa bersalah pada Byakuya. Kakaknya sudah mengorbankan waktu dan tenaganya agar mereka bisa hidup layak. Rukia melihat perjuangan Byakuya seiring usianya bertambah. Bersamaan dengan itu juga, Rukia makin membenci dirinya sendiri. Karena dia masih belum bisa memberikan atau melakukan apapun untuk membantu kakaknya.
Gadis itu ingin segera dewasa agar bisa membantu Byakuya. Dia ingin cepat lulus dari sekolahnya, cepat lulus saat kuliah nanti dan bekerja untuk meringankan beban kakaknya.
Tak terasa bus yang ditunggu Rukia sudah datang. Rukia berdiri dari tempatnya duduk, merapikan rambutnya sejenak lalu menghembuskan napas. Dia mengeluarkan beberapa uang receh sebelum naik ke dalam bus lalu memasukkannya ke mesin tiket. Begitu matanya beralih untuk mencari kursi kosong, wajah Rukia langsung mengerut.
Di ujung bus, seorang pemuda berambut orange terang duduk di pojok deretan belakang. Yang membuat mood Rukia langsung turun tidak hanya itu. Hanya deretan kursi itu yang kosong, deretan kursi di samping kiri dan kanan sudah penuh. Ego Rukia tidak mengizinkannya duduk di deretan sana tapi akan sangat aneh jika dia berdiri padahal masih ada kursi yang kosong. Dengan langkah berat, gadis itu berjalan ke deretan paling belakang dan langsung duduk di pojok yang satunya. Hei, dia bukan orang dengan hati seluas samudera yang bersedia duduk di sebelah orang yang paling dibencinya.
Dengan wajah tertekuk, Rukia memandang ke luar jendela. Dia tidak sekali pun menoleh ke sebelah kanannya. Karena jika dia menoleh sedikit saja, dia dapat melihat sekilas warna orange di ujung matanya. Meskipun sebenarnya pemuda di pojok sana juga tidak menyadari ada Rukia karena tadi dia melihat pemuda itu sedang tertidur. Ya, baguslah. Rukia bisa kesal selama perjalanan ke sekolahnya.
Pemuda berambut orange itu bernama Kurosaki Ichigo. Rukia tidak terlalu mengenal Ichigo kecuali bahwa pemuda itu adalah pembuat onar nomor satu di sekolahnya. Ichigo jarang terlihat di kelas, gadis itu sering melihat Ichigo keluar-masuk ruang konseling. Sepengetahuan Rukia, Ichigo tidak pernah terlihat mengikuti kegiatan-kegiatan di klub maupun sekolah sehingga pemuda itu tidak memiliki alasan untuk mengunjungi ruang konseling secara rutin.
Jujur saja, Rukia tidak menyukai Ichigo. Jika harus disebutkan dalam bentuk daftar, Rukia akan senang hati menyebutkan alasan-alasan tersebut. Yang pasti karena wajahnya belagu, warna rambutnya tidak masuk akal, sering tidak masuk sekolah jadi pasti dia anak durhaka, suara tawanya menyebalkan, cara jalannya juga menyebalkan dan masih banyak lagi.
Menurut kebanyakan orang, sikap Ichigo merupakan hal yang wajar karena dia masih remaja. Menurut Rukia, itu semua hanya omong kosong. Seharusnya di usia mereka sekarang, remaja harus sudah bisa memilih mana yang merupakan tindakan yang benar dan yang salah. Remaja juga seharusnya mengetahui bahwa segala tindakan pasti ada konsekuensi dan mereka sudah dibebani oleh tanggung jawab. Kalau mereka tetap melakukan sesuatu seenaknya, apa bedanya dengan anak kecil?
Karena itulah Rukia merasa masa remaja adalah masa perkembangan manusia yang tidak ada gunanya. Di usianya yang belia, Rukia tidak menyukai laki-laki sepantarannya. Guru muda di sekolahnya justru lebih menarik dibandingkan laki-laki sebayanya. Dia berpikir bahwa orang dewasa sangatlah keren, seperti kakaknya. Makanya dia tidak menyukai anak-anak sebayanya, yang laki-laki terlalu kekanakkan dan yang perempuan terlalu fokus dalam hal percintaan.
Rukia berharap dia cepat-cepat dewasa. Dia tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang kekanakan.
Rukia lalu sadar bahwa sebentar lagi bus sampai di halte pemberhentiannya. Rukia dengan sigap berdiri dan langsung mengambil pegangan terdekat agar tidak oleng oleh laju bus. Gadis itu menoleh, memandang Ichigo yang masih tertidur dengan kepala terkantuk-kantuk ke jendela. Sebenarnya Rukia sudah masa bodoh dengan pemuda itu. Entah dia mau masuk sekolah atau tidak, itu urusannya. Namun ada perasaan bersalah jika dia hanya membiarkan Ichigo di sana tanpa membangunkannya.
Sambil mendecak kesal, dia meregangkan kakinya untuk menendang pemuda itu di kaki.
"Bangun," kata Rukia dengan suara rendah, yang ia yakin tak seorangpun kecuali dirinya dapat mendengar.
Ichigo terbangun kaget dan untungnya, saat itu bus sudah berhenti di halte yang dekat dengan sekolahnya. Rukia keluar dari bus dengan langkah cepat, dia tidak mau terlihat bersama Ichigo. Itu juga kalau pemuda itu benar-benar bangun dan turun juga dari bus.
Dan pemuda itu benar-benar bangun dan turun dari bus karena Rukia dapat mendengar suara Ichigo yang sedang menguap. Oh, betapa Rukia membenci suara lelaki itu!
Rukia pikir, suasana hatinya akan membaik begitu dia masuk kelas nanti. Nyatanya tidak juga. Pagi itu, sialnya, guru yang mengajar Fisika tidak dapat masuk. Dan seperti kelas kebanyakan yang mendapat jam kosong, suasana kelas ribut dan berantakan. Rukialah satu-satunya siswi yang hanya duduk manis di bangkunya sambil membaca buku pelajaran.
Kenapa waktu berjalan lambat seperti siput?
"Amatsuki-san."
Rukia mendongak malas. Didapatinya seorang gadis cantik berambut panjang mendekatinya sambil tersenyum. Gadis itu bergerak-gerak gelisah, bingung apakah lebih baik dia duduk di bangku kosong di sebelah Rukia. Rukia yang mengerti langsung mengisyaratkan kepada gadis itu melalui anggukan kepala lalu beralih ke bangku kosong di sebelahnya. Senyum gadis cantik itu mengembang dan langsung duduk di bangku sebelah Rukia.
Dia tidak keberatan dengan Inoue Orihime, gadis yang sekarang duduk di bangku sebelahnya. Gadis ini setidaknya tidak berisik dan dia memang baik. Meskipun Rukia tidak menyukai anak-anak seumurannya, bukan berarti Rukia harus bersikap dingin pada semuanya kan?
"Aku kesulitan mengerjakan tugas. Boleh tidak, aku minta bantuan Amatsuki-san?" tanya Orihime sambil tersenyum.
"Boleh saja. Tugas apa, Inoue?"
Senyum di wajah Orihime makin mengembang. Dia segera menyodorkan buku tulisnya di atas meja Rukia.
"Aku mau nanya soal tugas Kimia yang nomor lima. Aku masih nggak ngerti," ucap gadis itu sambil menunjuk soal yang dimaksud. Rukia manggut-manggut lalu detik berikutnya ia membantu Orihime menyelesaikan soal yang dimaksud.
Meskipun tidak dekat, Rukia tahu Orihime termasuk orang yang sulit menangkap pelajaran. Ini bukan pertama kalinya gadis manis berambut panjang itu bertanya tentang pelajaran pada Rukia. Rukia pernah mencuri lihat isi buku catatan pelajaran Orihime. Semuanya ditulis rapi dan detil, lebih detil dibandingkan miliknya.
Akhirnya hal itu juga berpengaruh pada cara Rukia membantu Orihime tiap kali gadis itu kesulitan mengerjakan soal. Rukia akan menerangkan secara bertahap, menjelaskan dengan hati-hati dan rinci. Dan hal itu berhasil karena selanjutnya, Orihime sudah bisa mengerjakan sendiri tanpa bantuannya.
"Terima kasih, Amatsuki-san," ucap Orihime. "Aku selalu cepat mengerti kalau Amatsuki-san yang menjelaskan."
"Sama-sama," jawab Rukia sungkan. "Kebetulan aku tahu rumus untuk soal itu, makanya aku bisa membantumu."
"Tapi benar kok, kalau sama Amatsuki-san, aku lebih ngerti pelajarannya. Terkadang aku nggak ngerti kalau guru yang menjelaskan karena mereka bicara terlalu cepat."
Rukia hanya tersenyum tipis.
"Um, Amatsuki-san." Orihime terlihat ragu-ragu karena dia menggantung kalimatnya di udara. Rukia hanya tersenyum sebagai isyarat bahwa Orihime bisa meneruskan kata-katanya tanpa perlu merasa terganggu. "Tadi pagi, aku lihat Amatsuki-san turun dari bus bersama Kurosaki-kun."
Senyum Rukia langsung layu. Dia merasa terganggu dengan kata-kata gadis di depannya.
"Memang kenapa?" tanya Rukia ketus. Mendengar Rukia yang seperti itu, Orihime jadi salah tingkah.
"Eh, itu...tempat tinggal Kurosaki-kun dekat dengan Amatsuki-san ya?"
Jadi gadis ini memang menyukai Ichigo ya, gerutu Rukia dalam hati. Sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya bahwa Orihime menyukai pemuda berambut orange yang sekarang malah tidak ada di mejanya. Semua orang kecuali Ichigo itu sendiri. Rukia jadi kasihan pada Orihime, gadis itu sudah menaruh hati pada orang yang salah.
"Tidak. Kebetulan saja ketemu di bus," tukas Rukia. "Aku nggak ngerti deh, kok bisa-bisanya kau suka sama Kurosaki?"
Mata Orihime membelalak. Wajahnya langsung berubah warna menjadi merah. "Hah, ap―aku nggak suka Ku―eh, bukannya aku nggak suka sih, tapi umm."
Kasihan, padahal dia cantik banget. Rukia masih membatin dalam hati mengasihani Orihime yang masih gelagapan. Dia masih tidak habis pikir, mengapa Orirhime yang merupakan madona sekolah malah menyukai pemuda seperti Ichigo. Apa bagusnya laki-laki itu?
"Amatsuki." Baik Rukia dan Orihime menoleh ke arah suara. Kojima Mizuiro berdiri di ambang pintu. Dia terlihat sedang mencari seseorang namun begitu matanya menangkap Rukia, dia mendesah 'ah'.
"Shiba-sensei memanggilmu ke ruang konseling," lanjut Mizuiro lalu dia segera beranjak ke kursinya.
"Emm, aku pergi dulu ya, Orihime," pamit Rukia. Tanpa Orihime sadari, sebenarnya gadis berambut pendek itu sedang berusaha keras menahan senyum.
Orihime hanya tersenyum, meskipun gelapannya masih belum hilang. "Ah, i-iya. Terima kasih ya, Amatsuki-san." Lalu Rukia keluar kelas dengan tampang aneh. Sepertinya dua tiga murid di kelas 1-3 melihat tampang Rukia karena gadis itu mendengar sayup-sayup bisikan 'kenapa sih dia, nahan pup?'. Tapi gadis Amatsuki itu memilih untuk menghiraukannya.
Begitu kelasnya sudah lumayan jauh dan dia memastikan bahwa tidak ada siapapun di lorong sekolah, Rukia mengeluarkan suara tawa tertahan. Senyumnya mengembang sangat lebar. Biarlah dia mengalami hal yang buruk pagi ini, asalkan bisa bertemu dengan Shiba Kaien, guru geografi yang sangat disukainya.
Kaien termasuk guru termuda di sekolah itu. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang menawan membuat para siswi langsung jatuh hati padanya. Hanya segelintir yang membenci guru muda itu karena sifat Kaien yang asyik dan mudah bergaul dengan siapa saja. Jarang ada yang menjadikan guru muda itu musuh, bahkan orang yang membencinya dapat berubah menyukai Kaien. Rukia termasuk salah satu yang jatuh pada pesona seorang Shiba Kaien.
Begitu Rukia hampir sampai di ruang konseling, dia dapat mendengar suara-suara yang berasal dari dalam ruangan itu. Gadis itu memperlambat langkahnya. Penasaran, dia menajamkan pendengarannya sambil sedikit-sedikit mendekati ruangan itu.
"―jangan sok tahu! Kau tidak mengerti!"
"Jangan kekanakan, Ichigo. Pikirkan adik-adikmu juga, lalu ayah ibumu―"
"Masa bodoh!"
Rukia terlonjak kaget begitu pintu ruangan itu digeser dengan kasar sampai menghasilkan bunyi debam yang keras. Mata violetnya menangkap sosok jangkung berambut orange di ambang pintu. Tatapan mereka saling bertemu namun yang pertama membuang muka adalah Ichigo. Sementara Rukia masih memandangnya.
"Kenapa kau lihat-lihat?" tanya Ichigo ketus setelah pintu malang yang tadi sempat dibantingnya ditutup kembali.
"Aku punya mata, Ichigo. Bukan urusanmu aku mau lihat apa," balas Rukia tanpa bergerak dari tempatnya berdiri. Bukannya dia takut berjalan ke arah lelaki itu, hanya saja dia tak sudi berada di dekat Ichigo. "Sepertinya kau kena masalah lagi."
Ichigo mendengus. "Bukan urusanmu, Rukia." Lalu lelaki itu berjalan melewatinya. Rukia mengaduh begitu lelaki itu menabrak―dengan sengaja―tubuh kecil gadis itu sampai ia terjengkang sedikit ke belakang.
"Sialan," desis Rukia. Untung saja dia tidak meneriakkan umpatan barusan karena setelah iu, pintu ruang konseling terbuka. Di sana, Kaien berdiri dengan tampang kesal.
"Hei, Ichigo! Urusanmu denganku belum selesai. Besok aku akan menyeretmu kembali. Hei, kau dengar tidak?!" ancam Kaien dengan suara keras. Tapi yang diancam hanya terus berjalan tanpa menghiraukan kata-kata gurunya itu.
"Dasar sialan dia," rutuk Kaien. Suara pria itu terdengar oleh Rukia dan di dalam hatinya, Rukia mengiyakan kata-kata gurunya. "Oh, kau sudah datang. Masuklah, Amatsuki."
Kaien mempersilakan Rukia masuk ke dalam ruang konseling. Pria muda itu menahan pintu untuk Rukia bahkan menutupnya kembali begitu gadis berambut hitam itu sudah masuk ke dalam ruangan. Sikap Kaien yang gentleman itu berhasil membuat jantung Rukia berdegup kencang. Bertambah satu alasan mengapa dia menyukai gurunya itu.
"Baiklah," kata Kaien begitu keduanya sudah duduk berhadapan di sofa. "Bagaimana kelas? Sepertinya berisik sekali waktu aku lewat tadi."
Rukia tersenyum. Mendengar suara Kaien saja mampu membuat mood-nya jauh lebih baik. "Ya, Shirogane-sensei tidak hadir dan tidak ada tugas yang diberikan. Jadi...yaaah..."
"Kau pasti merasa sangat bosan di kelas ya? Padahal tidak apa-apa kalau kau mau ke perpustakaan," ujar Kaien, membuat mata Rukia membulat. "Kulihat kau sering ke sana."
Gurunya bahkan mengetahui kebiasaan Rukia. Bagaimana gadis itu tidak merasa senang sekali saat ini?
Kaien mengalihkan pandangan ke lembaran-lembaran kertas yang tertata rapi di sebuah map. Dia membaca kertas itu sejenak lalu kembali menatap Rukia. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Amatsuki. Aku ingin membicarakan tentang kegiatan ekstrakurikulermu."
Hati Rukia mencelos.
"Kudengar kau tidak masuk ke kegiatan manapun. Kenapa?"
Rukia mengerti bahwa memang sudah kewajiban bagi wali kelas untuk menanyakan hal-hal seperti ini pada anak didiknya. Tapi tetap saja, meskipun yang bertanya adalah Kaien, gadis itu tidak berniat untuk memberitahukan alasannya.
Melihat Rukia yang hanya diam saja, Kaien mengangguk pelan. Dia menaruh map yang dipegangnya di atas meja. Lalu menyejajarkan pandangannya dengan Rukia.
"Apa ada kesulitan selama di kelas, Amatsuki?" tanya Kaien. Rukia menolak menatap sepasang bola mata biru milik Kaien. Dia lebih memilih memerhatikan sepatunya yang mulai terasa sempit.
"Amatsuki?"
Rukia menghembuskan napas. "Tidak ada, sensei," jawabnya pendek.
"Tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
Rukia menggeleng. Sulit baginya untuk terbuka pada orang lain. Dia selalu menutup diri pada orang lain bahkan pada orang yang sudah mengenalnya. Rukia selalu merasa iri karena tidak memiliki sifat seperti Kaien yang membuat semua orang nyaman berbicara padanya ataupun pesona Orihime yang mampu membuat orang lain ingin menjadi temannya. Gadis itu cukup kesulitan beradaptasi di lingkungan dengan orang-orang asing. Terlebih lagi sikap dingin yang selalu Rukia perlihatkan pada setiap orang. Bukannya ia sombong, sikap itu hanyalah bentuk pertahanan diri Rukia di suasana yang asing baginya.
"Aku cuma belum tahu aku masuk ke golongan apa," ucap Rukia. Matanya masih belum bisa menatap balik Kaien.
"Bukan masalah kau masuk golongan apa, tapi kemampuan apa yang kau miliki. Kau bisa memilih ekstrakurikuler yang berhubungan dengan hobimu atau hal yang kau suka. Apa saja."
Rukia menengadah. Dia melihat senyum Kaien terbentuk begitu Rukia memandangnya.
"Kau tidak akan tahu kalau kau tidak mencoba. Dan kalau kau menemukan kesulitan, kau bisa menemuiku."
Tapi aku takut dengan penolakan. Kata-kata itu teredam dalam hati Rukia. Gadis itu memilih untuk memendam rasa takutnya dan tidak mengatakan apapun pada Kaien.
"Baiklah," ujar gadis itu. Kaien tersenyum padanya membuat gadis itu melupakan sejenak masalahnya tadi.
"Sebenarnya yang punya masalah seperti ini bukan kau saja, Amatsuki," keluh Kaien sambil mendesah berlebihan. Hal ini membuat Rukia tersenyum geli.
"Si Asano misalnya. Dia malah bergabung ke banyak klub tapi tidak pernah bertahan lebih dari seminggu. Lalu Honshou yang kerjaannya malah membuat anggota klub senam ritmik ketakutan. Sado juga belum masuk kegiatan manapun. Oh, Kurosaki juga."
"Bukannya dia masuk klub sepakbola?" tanyanya. Dia menyesal mengatakan ini karena terdengar seakan-akan Rukia mengawasi Ichigo sedari masuk sekolah.
"Tidak, dia tidak pernah masuk klub itu. Ketua klubnya bilang padaku bahwa dia sudah mengajak Ichi―eh Kurosaki untuk masuk ke klub sepakbola, tapi anak itu malah menolaknya. Makanya, tadi aku memarah-marahinya sampai mulutku pegal."
Kalau dipikir-pikir, Kaien juga menyebut Ichigo dengan namanya saat Rukia mencuri dengar pembicaraan mereka. Apalagi kalau diperhatikan baik-baik, ada kesamaan dalam fitur wajah kedua laki-laki itu. Ah, tapi masa bodoh! Rukia memilih masa bodoh dengan apapun yang berhubungan dengan Ichigo.
"Mungkin kalian bertiga bisa, um, masuk ke kegiatan yang sama," usul Kaien. Usulan itu berhasil membuat wajah Rukia kusut. "Barangkali akan lebih mudah kalau teman sekelas mengikuti klub yang sama, kan? Tapi dilihat dari wajahmu, sepertinya kau tidak menyukai ide barusan."
Rukia hanya menghembuskan napas sebagai reaksi dari kata-kata Kaien barusan. Dia tidak masalah dengan Sado Yasutora. Dia memang besar dan menyeramkan tapi sebenarnya lelaki itu baik. Lelaki itu selalu melakukan piket kelasnya meskipun siswa lainnya sudah pulang. Rukia pernah melihatnya memindahkan pot-pot tanaman di kelas supaya lebih dekat dengan jendela. Bagi orang lain, tindakan Yasutora mungkin tidak terlalu berarti. Tapi menurut Rukia, hal-hal kecil yang Yasutora lakukan sangatlah manis untuk lelaki berukuran besar seperti itu.
Tapi Ichigo? Lebih baik Rukia mencoba beradaptasi ke golongan cewek-cewek populer daripada harus masuk ke kegiatan ekstrakurikuler yang sama dengan lelaki itu.
"Aku tidak terlalu suka dengan Kurosaki," aku Rukia.
"Kenapa?"
"Entahlah. Dia menyebalkan," jawab Rukia sekenanya.
Kaien tertawa rendah. "Ya, dia memang menyebalkan. Susah dinasihati dan sekarang malah selalu bikin onar," kata Kaien.
"Tapi sebenarnya dia anak baik. Dia hanya sedang kalut. Kurosaki hanya butuh teman untuk diajak bercerita dan mau memperhatikannya. Yah, kalian remaja memang sulit kalau sudah bandel."
Mengetahui bahwa Rukia tidak bersedia mengatakan apapun, Kaien menutup pertemuan mereka.
"Baiklah, sepertinya hanya itu saja yang ingin kusampaikan. Kau boleh kembali ke kelasmu, Amatsuki."
Rukia berdiri lalu membungkuk hormat. Setelah itu dia berjalan ke arah pintu.
"Oh ya," Rukia menoleh menatap gurunya. Dia memegang gagang pintu, membiarkannya tetap terbuka. "Kupikir tidak ada salahnya kau mencoba berteman dengan Kurosaki. Kau orang yang baik, Kurosaki pasti bisa lihat itu," lanjut Kaien.
Rukia tidak menyetujui atau menolak perkataan Kaien. Gadis itu hanya membungkuk sekali lagi lalu kembali ke kelasnya.
.
.
Saat jam makan siang, kelas 1-3 terasa lengang karena sebagian besar muridnya makan di kantin. Sementara Rukia memilih untuk makan di kelas. Dia membuka kotak bekal yang sudah dibawanya dan memakan bekalnya dalam diam.
Gadis itu bukannya tidak punya teman untuk diajak makan bersama. Tadi saja, Orihime sempat mengajaknya makan bersama. Kalau saja yang diajak Orihime hanya dirinya, Rukia mungkin sudah mengiyakan ajakan gadis itu. Namun begitu melihat anak-anak perempuan yang berdiri tak jauh dari Orihime ikut menatapnya, menunggu jawaban Rukia, tanpa sadar Rukia menolak ajakan Orihime.
Dia merasa tidak enak pada Orihime namun di saat yang sama, Rukia merasa keputusannya tidak salah juga. Lagipula dia tidak sendirian di kelas. Ada Ishida Uryuu yang juga menikmati makan siangnya di kelas.
Sama seperti Rukia, pemuda itu jarang terlihat akrab dengan anak sekelas. Rukia tidak pernah melihat Uryuu berbicara lebih dari lima menit dengan siapapun. Entah karena mereka kehabisan bahan obrolan atau karena cara bicara Uryuu yang terlalu terus terang sehingga membuat orang lain malas mengobrol dengannya. Lelaki itu lebih sering terlihat di perpustakaan, karena Rukia juga sering pergi ke tempat itu untuk membaca.
Terkadang melihat Uryuu yang duduk sendirian di bangkunya sambil memakan bekalnya, membuat Rukia ingin menghampirinya untuk sekedar menemaninya makan bersama. Lelaki itu termasuk tipe aman bagi Rukia, sama sekali tidak terlihat banyak omong. Hanya saja aura mengintimidasi yang menguar dari pemuda itu membuat nyali Rukia ciut, niatnya hilang entah ke mana.
Begitu makanan Rukia sudah habis, dia segera membereskan tempat bekalnya lalu berjalan ke depan kelas. Di meja dekat jendela yang tak jauh dari meja guru, ada satu pot berisi bunga lili putih. Di awal saat Rukia masuk sekolah, dia melihat lili-lili itu sudah ada di sana. Setiap seminggu sekali, ada seseorang yang mengganti lili di pot itu dengan lili yang lebih segar. Sampai sekarang, Rukia tidak tahu siapa yang menaruh lili-lili itu.
Karena terlalu cantik untuk dibiarkan, Rukia jadi sering mengganti air dalam potnya saat isitirahat makan siang berlangsung. Gadis itu melakukannya karena tidak ada murid di kelas yang melakukannya. Lagipula gadis itu tidak ada kerjaan setelah makanannya habis, jadi tidak salahnya mengganti air lili-lili itu.
"Mau mengganti airnya lagi, Amatsuki-san?"
Rukia hampir menjatuhkan pot yang dipeluknya, terkejut dengan suara Uryuu. Uryuu terlihat sedang membereskan tempat bekalnya. Lalu dia kembali memandang Rukia.
"Perlu kubantu?" tawar Uryuu.
"Tidak, tidak perlu," sahut Rukia cepat. "Aku bisa sendiri."
Rukia cukup menyesal mengatakan itu karena selanjutnya, Uryuu langsung mengangguk "Baiklah." Lelaki itu langsung menghilang, dia pergi keluar kelas.
Rukia merengut. Dia sedikit mengharapkan Uryuu akan tetap memaksa untuk membantu Rukia. Tapi sepertinya lelaki itu memang tidak memusingkan persoalan ini. Dasar cowok, nggak gentle, rutuk Rukia dalam hati. Dia pun melenggang pergi ke kamar mandi yang paling dekat dengan kelasnya. Meskipun dibilang paling dekat, letak kamar mandi itu cukup jauh. Rukia harus melewati lebih dari lima ruang kelas untuk sampai ke kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama untuk mengganti air dalam pot itu. Rukia memeluk kembali pot alumunium itu lalu segera berjalan kembali ke kelasnya.
Brak!
Seorang siswa yang tadi berlari-lari menabrak Rukia. Rukia terjengkang ke belakang. Tidak hanya itu, pot berisi lili-lili itu juga ikut jatuh. Sialnya, airnya tumpah semua pada Rukia. Alhasil gadis itu basah kuyup.
Rukia melihat bajunya yang basah dan lili-lili yang berserakan secara bergantian. Gadis itu menyadari, orang-orang yang ada di lorong hanya diam menyaksikan kejadian itu. Tidak ada yang bergerak untuk membantunya sama sekali. Kini matanya memicing pada lelaki yang berdiri di depannya.
"Kau tidak punya mata, ya?" ucapnya sambil berusaha berdiri. Dia lalu mengambil pot alumunium itu sebelum pot itu menggelinding lebih jauh lagi.
Sepertinya lelaki itu kesal dengan perkataan Rukia. Bukannya meminta maaf, dia malah membalas kata-kata Rukia.
"Kau sendiri tidak punya mata, hah?"
Ingin sekali Rukia tertawa sambil membalas pertanyaan itu dengan sarkas. Mana bisa dia melihat kalau bunga-bunga lili itu menghalangi pandangannya, apalagi dengan tinggi Rukia yang seadanya. Belum sempat Rukia membalas, lelaki itu berjalan ke arah lili-lili berserakan lalu menendangnya.
"Hei! Apa yang kaulakukan?!" Rukia memarahi lelaki itu. Dia mendorong orang itu cukup kuat dan berhasil membuat orang itu berhenti sejenak. Namun sepertinya orang itu belum puas dan kini menginjak-injak bunga-bunga malang itu sebisanya.
"Berhenti, sialan!" geram Rukia sambil terus berusaha mendorong orang itu.
"Sialan? Lancang sekali kau denganku?"
Rukia hanya mengeluarkan desah tawa sarkas. Dia tahu siapa yang dihadapinya. Orang itu adalah Oushima Reiichi, tukang bully nomor satu di sekolah. Justru karena dia tukang bully, Rukia tidak takut padanya.
"Hmph, memang kau siapa?" balas Rukia.
"Kau tidak tahu aku?" Oushima mendekatkan wajahnya. Rukia mengambil langkah mundur. Wajahnya berubah jijik. "Aku ini yang paling kuat di sini. Aku bisa membuatmu babak belur, kecil."
Rukia melipat tangannya di dada. Jelas sekali orang ini terlalu narsis dengan kekuatannya. "Kau tak membuatku takut sama sekali." Kesal dengan perkataan Rukia, dia menginjak lili-lili di lantai. Membuat Rukia kembali berang.
"Apa yang kau lakukan?! Berhenti!" Rukia berusaha menghentikan lelaki itu. Sementara murid lainnya hanya diam melihat kejadian itu. Gadis itu sadar dan dia sama sekali tidak berharap lebih akan ada orang yang membantunya atau menghentikan Reiichi. Karena sepertinya murid lain terlalu takut dengan Reiichi.
"Berisik, kecil!" bentak Reiichi sambil melempar kasar tangan Rukia yang meraih jas sekolahnya. Rukia tidak cukup kuat menghalang kekuatan Reiichi sehingga gadis itu terlempar kembali ke belakang. Rukia sudah menduga dia akan terjungkang ke lantai, namun ternyata tidak. Sebelum ia sempat terjatuh, Rukia menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya. Kedua tangan orang itu menahan tubuh Rukia. Dengan gerakan cepat, gadis itu mendongak dan mendapati Ichigo berdiri di belakangnya.
Mata gadis itu membulat. Dari semua orang yang ada, kenapa Ichigo yang malah ada di situ? Dan lagi, kenapa tangan laki-laki itu ada di bahunya?
"Singkirkan tanganmu, Ichigo," kata Rukia dengan nada jijik. Dia menepis kedua tangan Ichigo dari bahunya. Ichigo menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia lalu tertawa miris.
"Kau kasar sekali ya? Apa itu yang selalu kau katakan pada orang-orang yang menolongmu, Rukia?"
"Berisik!"
Ichigo hanya merengut. Detik selanjutnya dia mengambil lili-lili yang berserakan, membuat Rukia dan Reiichi terperangah.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reiichi dengan nada marah. Pertanyaan serupa juga ingin ditanyakan oleh Rukia.
"Mengambil lili. Kau nggak bisa lihat, ya?" jawab Ichigo dengan santai. Sepertinya Reiichi tambah jengkel karena dia dianggap tidak bisa melihat oleh dua orang dalam jangka waktu yang sangat pendek.
"Sialan kau, Kurosaki! Beraninya kau ngomong kayak gitu! Kupukul kau sampai kau membungkuk meminta maaf padaku!" ancam Reiichi, yang membuat semua orang di sana bergidik. Semua kecuali Ichigo.
Lelaki itu sudah mengambil semua lili yang berserakan dan menaruhnya di pot yang sudah dibawa oleh Rukia. Gadis itu melihat Ichigo mendesah keras.
"Kau berisik sekali," kata Ichigo. "Untuk orang dengan badan dan mulut besar sepertimu, kekanakkan sekali cari ribut sama cewek kecil macam dia."
Rukia ingin sekali menghajar Ichigo saat itu tapi diurungkannya karena gadis itu merasa Ichigo juga sedang melindunginya. Pfft, dilindungi oleh Ichigo? Konyol sekali.
"Sepertinya dia juga tidak terlihat takut padamu. Menurutmu dengan kau ditindik begitu dan mengubah warna rambutmu seperti anak ayam, dia akan takut padamu?" Rukia dapat mendengar suara tawa tertahan dari orang-orang yang menyaksikan. Bahkan setelah itu, Ichigo menyunggingkan senyum mengejek pada Reiichi. Tentu saja hal ini menambah amarah lelaki berambut kuning itu.
Dia maju ke arah Ichigo untuk mencengkram kerah lelaki itu. Rukia sudah akan menghalangnya kalau saja tidak ada suara guru yang terdengar dari ujung koridor.
"Hei, kalian sedang apa di sana?" Suara Kagine-sensei menggaung di koridor. Reiichi mundur. Dia menatap Ichigo dengan tatapan menyeramkan, namun tidak cukup untuk membuat pemuda berambut orange itu ketakutan.
"Kau lihat saja nanti," ancam Reiichi dengan suara sepelan mungkin, namun masih dapat didengar Ichigo dan Rukia. Sebelum pergi, dia mendelik pada keduanya lalu menghilang ke arah yang berlawanan dengan arah Kagine-sensei datang.
Rukia memutar bola matanya. Untunglah Kagine-sensei datang tepat waktu sehingga masalahnya tidak melebar ke mana-mana.
"Bajumu basah," kata Ichigo sambil menunjuk bajunya. Tentu saja bajunya basah. Air dalam pot itu memang banyak sehingga sukses membuat jas dan seragamnya basah kuyup.
"Bukan urusanmu," jawab Rukia. Dia berbalik, hendak pergi ke kamar mandi lagi untuk mengisi air di pot itu. Tidak semua bunganya rusak, jadi ada beberapa yang masih layak dipajang. Belum ada dua langkah, Rukia merasakan ada sesuatu yang dilempar ke arahnya. Benda itu cukup berat dan tersangkut di puncak kepalanya. Gadis itu menoleh, tentu saja untuk memarahi Ichigo. Namun dia sadar apa yang dilempar Ichigo padanya begitu dia melihat pakaian lelaki itu―kemeja putih tanpa gakuran almamater.
"Kau itu kecil. Sok sekali membuat cowok sebesar Oushima marah padamu," cemooh Ichigo.
"Sudah kubilang, bukan urusanmu. Dan aku tidak butuh ini," balas Rukia sambil memberikan isyarat mata pada gakuran yang tersangkut di kepalanya.
"Ambil saja, dasar bawel," keluh Ichigo sambil berlalu. "Kau punya utang padaku, Rukia."
Justru karena dia tidak ingin punya hutang padanya... Rukia hanya bisa memutar bola matanya begitu Ichigo sudah terlalu jauh untuk dikejar. Sambil menggerutu, gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Tidak lama, Rukia sudah kembali ke kelasnya.
"Lho, Rukia!"
Rukia menengadah. Abarai Renji berdiri di ambang pintu kelasnya. Laki-laki itu memang tidak sekelas dengan Rukia tapi terkadang dia suka datang ke kelas 1-3 untuk bertemu dengan gadis itu. Dia dapat melihat lelaki itu tersenyum padanya lalu dalam sepersekian detik, senyumnya menghilang.
"Kau kacau sekali," ujar Renji begitu melihat penampilan Rukia. Rambut gadis itu lepek dan bajunya basah, di atas kepalanya tersampir gakuran sekolah mereka.
"Renji, buka jasmu," ucap Rukia. Sepertinya pemuda itu cukup kaget dengan permintaan Rukia yang tiba-tiba. Baru saja dia ingin membalasnya sebagai candaan, Rukia melanjutkan kalimatnya dengan tidak sabar. "Cepat!"
Mematuhi perkataan Rukia, Renji membuka gakurannya. Dia juga menuruti Rukia yang menyuruhnya―dengan isyarat― memegang pot lilinya. Dia juga menyerahkan gakuran yang sedari tadi dibiarkannya menutupi kepalanya pada Renji. Rukia melepaskan jas sekolah miliknya dan dengan cepat memakai gakuran milik Renji. Seperti dugaannya, gakuran itu kebesaran untuk tubuh kecil Rukia. Renji memandang gakuran yang sekarang dipegangnya dan Rukia secara bergantian.
"Kembalikan itu pada Ichigo dan taruh potnya di meja dekat jendela. Aku mau ke perpustakaan," instruksi Rukia pada Renji sambil menunjuk Ichigo yang sedang duduk di dalam kelas dan meja yang berada dekat jendela.
"Kenapa aku yang harus mengembalikannya? Kalian kan sekelas, seharusnya―oh, oke oke!" Renji akhirnya menyetujui apa yang Rukia minta setelah gadis itu memelototinya. Gadis itu akhirnya berlalu, meninggalkan Renji yang masih penasaran dengan keadaan Rukia siang itu. Tapi keputusan Renji untuk tidak bertanya lebih lanjut sangatlah bijak. Karena kalau tidak, gadis berambut hitam itu bisa berubah menjadi ratu es yang menyeramkan di hadapannya.
Namun perasaan Rukia tidak juga membaik padahal dia sudah ada di perpustakaan, satu-satunya tempat di sekolah yang disukainya. Rukia sudah memilih beberapa buku yang disukainya hanya untuk menyenangkan hatinya tapi semua buku itu tidak membuat gadis itu tenang.
Karena insiden tadi, Rukia teringat kejadian yang dialaminya beberapa hari belakangan ini. Waktu itu Rukia pergi ke swalayan karena persediaan bumbu memasak di rumahnya sudah habis. Gadis itu selalu mengambil rute yang dekat dengan sungai. Di sanalah dia melihat Ichigo. Ichigo ada di pinggiran sungai, hanya tidur-tiduran sambil memejamkan mata. Lelaki itu masih memakai seragam sekolahnya. Sedang apa Ichigo malam-malam begini, tanya Rukia dalam hati saat itu. Namun dia membiarkannya saja. Toh dia tidak ingin terlibat apapun dengannya.
Tapi sekarang dia jadi penasaran, mengapa Ichigo ada di sana saat itu. Rukia merebahkan kepalanya di atas meja sambil mengutuk dirinya sendiri dengan suara kecil. Memang sialan si Ichigo itu, membuat mood hari ini buruk.
.
.
Hujan turun lumayan deras ketika bel tanda sekolah sudah berakhir. Sepanjang Rukia berjalan ke arah pintu sekolah, dia dapat mendengar keluhan beberapa siswa yang lupa membawa payung. Sementara ada beberapa yang malah santai-santai saja, beberapa di antaranya asyik bercanda. Ada tiga kemungkinan bagi orang yang reaksinya seperti itu; sudah membawa payung, berencana menembus hujan atau memilih untuk menunggu sampai hujan reda.
Rukia termasuk ke golongan pertama.
Benar saja, banyak orang berkerumun di pintu utama sekolah. Sebelum Rukia keluar, dia berjalan menuju loker sepatu miliknya. Rukia tidak langsung mengganti sepatunya begitu membuka loker miliknya. Di dalam sana, terdapat dua pasang sepatu. Yang satu adalah sepatu cokelat miliknya dan yang satu lagi adalah sepatu indoor yang masih baru. Sepatu indoor itu sudah ada di sana sejak seminggu yang lalu. Sepatu itu memiliki ukuran yang lebih besar satu nomor ketimbang sepatu indoor yang sekarang dipakai Rukia.
Gadis itu tahu siapa yang menaruh sepatu itu di sana. Waktu itu, dia tidak sengaja melihat seorang pemuda berambut orange menutup loker Rukia lalu pergi dari sana dengan langkah cepat. Begitu dia memastikan apa yang ada di dalam lokernya, hatinya mencelos.
Kini Rukia mengambilnya dan langsung berjalan ke tempat sampah terdekat. Dia bisa membuang sepatu itu tanpa perlu berpikir panjang tapi gadis itu tampak bimbang. Di satu sisi dia terlalu gengsi untuk menerima sepatu itu namun di sisi lainnya, dia memerlukan sepatu baru. Dia ingat jumlah harga yang diberikan pihak sekolah begitu dia meminta sepatu baru. Rukia tidak tega meminta uang untuk membeli sepatu baru pada kakaknya. Padahal belum ada sebulan dia memakai sepatu indoor itu.
Sambil menggeram pelan, dia kembali ke lokernya untuk menaruh sepatu indoor itu di lemari. Dia mengganti sepatu indoor miliknya yang kekecilan dengan sepatu cokelatnya. Dia lalu membuang sepatunya yang kekecilan ke tempat sampah lalu berjalan ke pintu utama.
Rukia mengembangkan payungnya. Setelah menghembuskan napas, Rukia berjalan menembus hujan.
Sama seperti dia berangkat, Rukia juga pulang menggunakan bus. Jarak yang ditempuh dari sekolah ke halte bus terdekat lumayan jauh. Biasanya Rukia tidak akan berjalan terlalu cepat untuk membunuh waktu. Agar nantinya ia tidak perlu menunggu terlalu lama di halte. Sekarang juga begitu, Rukia memilih untuk menikmati hujan selama perjalanan. Namun hari itu berbeda dengan hari-hari penuh damai sebelumnya.
"Rasakan ini, bocah tengik!"
Rukia sempat terlonjak kaget mendengar suara keras itu dari balik gang yang berada di depannya. Apalagi ketika dia mendengar suara pukulan dan suara mengaduh. Mata Rukia berdenyut mendengar itu karena dia yakin ada lebih dari dua orang sedang meninju satu orang. Rukia memberanikan diri untuk berjalan mendekat, untuk lebih mendengar ada berapa orang di sana.
"Cuma segitu kemampuanmu?" ujar seseorang di sana dengan nada lemah. Mata Rukia membulat begitu dia mengenali suara itu. "Bahkan rasanya masih lebih sakit saat Tatsuki memukulku."
Ichigo...
Rukia terdiam di tempatnya berdiri. Dia bingung antara ingin menolongnya atau membiarkannya saja. Gadis itu tahu betul bahwa Ichigo termasuk jago dalam berkelahi dan lelaki itu memang kuat. Namun begitu dia lebih mendengar suara-suara yang ada di sana, sepertinya Ichigo dipukul oleh lebih dari dua orang. Apalagi salah satunya memiliki suara yang sama dengan Reiichi.
Rukia mengepalkan tangannya. Ichigo adalah orang yang dibencinya, tentu saja. Jadi masalah dia dipukuli atau tidak, seharusnya dia tidak perlu memikirkannya. Tapi apa yang dilakukan Reiichi saat ini tidak adil dan itu membuat Rukia kesal. Gadis itu beberapa kali mengernyit begitu mendengar suara tertahan Ichigo karena dipukuli.
Lalu dia teringat peristiwa yang terjadi di lorong tadi siang. Tatapan mengancam Reiichi pada Ichigo, lili-lili putih yang ditaruh kembali ke dalam pot, jas Ichigo―
Ichigo yang menyendiri malam itu...
Persetan dengan ego!
"Hei, apa yang kaulakukan?!" teriak Rukia. Hal itu berhasil membuat lima orang yang ada di sana menoleh termasuk Ichigo. Benar saja, meskipun mereka semua memiliki luka lebam, luka Ichigo jauh lebih banyak daripada keempat orang lainnya. Dan sepertinya Rukia datang di saat yang tepat karena saat itu tubuh Ichigo ditahan oleh dua orang di belakangnya dan Reiichi sudah siap akan memukulnya.
"Kenapa kau ke sini?" desis Ichigo pada gadis itu. Wajahnya terlihat menakutkan, entah karena lukanya atau bukan. Tapi Rukia memilih tidak mengindahkan Ichigo. Dia balas menatap Reiichi yang kelihatan seperti baru saja melihat hantu.
"Tidak puas memukulinya sendirian ya, Oushima? Ternyata kau cuma tukang bully pengecut," kata Rukia.
"Sialan," umpat Reiichi. Dia terlihat sudah akan kabur dari sana namun lelaki itu terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian senyumnya mengembang, membuat Rukia sedikit merasa takut. "Ternyata kau punya nyali juga, eh kecil?"
Alis Rukia berkedut. Dia mundur selangkah, memberi jarak lebih di antara mereka. "Kau pikir apa yang terjadi kalau pihak sekolah tahu apa yang kau lakukan?" ancam Rukia.
"Tidak tahu," jawab Reiichi sambil terkekeh. "Kau mau bergabung, Amatsuki? Sepertinya kau sendirian."
Sial!
Rukia sudah akan berlari kalau saja Reiichi tidak menarik tas gadis itu, membuat Rukia jatuh ke jalan beraspal dengan keras. Payungnya ditendang jauh-jauh oleh salah seorang bawahan Reiichi. Gadis itu meringis kesakitan. Sepertinya lengannya terluka karena menahan beban tubuhnya saat jatuh tadi. Tubuhnya juga basah kuyup karena hujan.
Begitu salah seorang bawahan Reiichi mendekat, Rukia mengambil kesempatan itu untuk menendang kaki orang itu. Tendangan Rukia kena tepat di tulang kering dan berhasil membuatnya meraung kesakitan. Belum sempat Rukia berdiri untuk memukul Reiichi, lelaki itu menarik kerah gakuran yang dipakai Rukia, memaksa gadis itu untuk berdiri.
"Lepaskan dia, brengsek!" raung Ichigo.
"Kau kecil-kecil tidak tahu diri ya?" ujar Reiichi dengan tatapan mengerikan. Namun gadis itu tampaknya tidak ketakutan. Rukia malah berusaha melepaskan pegangan Reiichi di kerahnya sambil menendang-nendang. Hanya saja usahanya sama sekali tidak berarti apapun.
"Kemarikan si kecil itu!" teriak salah satu yang ditendang oleh Rukia. "Akan kuberi dia pelajaran!"
Lelaki itu menarik lengan Rukia yang terluka. Rukia mengaduh kesakitan namun diabaikan oleh laki-laki itu. Sementara Reiichi berjalan menuju Ichigo yang terlihat marah sekali.
"Brengsek kau, Oushima!" maki Ichigo dengan suara rendah.
"Kau tidak bisa menolongnya, eh Kurosaki?" ejek Reiichi sambil menyeringai. "Tadi kita sampai di mana ya?"
Sedetik kemudian Reiichi memukul Ichigo bertubi-tubi. Rukia menatap horor adegan itu. Lalu dia kembali meronta-ronta dari genggaman lelaki yang sekarang memandangnya penuh amarah. Kini orang itu menangkup kedua pipi Rukia dengan kasar. Lelaki itu memaksa agar gadis itu melihatnya. Mengira gadis itu ketakutan, lelaki itu menyeringai.
Alih-alih takut, Rukia justru jengkel pada laki-laki itu. Makanya begitu orang itu menyeringai, Rukia membalasnya dengan mencudahi orang itu di wajah. Merasa terhina, lelaki itu kembali marah.
"Cewek brengsek!" Orang itu memukul pipi Rukia dengan keras. Gadis itu sangat syok karena dia masih diam saja setelah dipukul. Telinganya bahkan berdenging hebat.
"Bajingan!" Rukia dapat mendengar suara teredam itu di antara dengingan. Dia menoleh ke arah Ichigo, yang kini menendang Reiichi menjauh. Lelaki itu juga berhasil lepas dari jeratan kedua orang di belakangnya, dia menyikut keduanya secara bergantian. Reiichi dan kedua orang itu sempat oleng namun mulai membalas serangan Ichigo. Namun lelaki berambut orange itu dengan cepat memukul serta menendang Reiichi dan kedua orang tadi.
Ketika ketiganya masih kesakitan, Ichigo berlari ke arah lelaki yang memegang Rukia. Orang itu melepas pegangan Rukia secara tiba-tiba, membuat gadis itu jatuh terduduk di aspal. Orang itu menyerbu Ichigo bersiap memukulnya, hanya untuk ditendang oleh tendangan berputar Ichigo.
Lelaki itu dengan cepat meraih bahu Rukia, membantu gadis itu untuk berdiri. Mata violet itu berserobok dengan mata hazel milik Ichigo. Dia mengerti apa yang ingin Ichigo sampaikan padanya karena selanjutnya, mereka berdua berlari secepat mungkin menjauh dari tempat itu.
"Berhenti kalian!"
Meskipun telinga Rukia masih berdenging, dia dapat mendengar geraman dengan nada mengancam milik Reiichi dan lainnya. Tapi baik Ichigo dan Rukia memilih untuk membiarkannya. Mereka terus berlari, tanpa mempedulikan pakaian mereka yang basah kuyup, luka yang berdenyut menyakitkan, tatapan dari orang-orang yang lewat bahkan halte tempat tujuan Rukia barusan dilewati begitu saja oleh mereka.
Sampai mereka menemukan bus yang melaju di dekat mereka. Baik Ichigo dan Rukia mempercepat langkah mereka, berusaha mengejar bus itu selagi bus itu tidak melaju cepat. Ichigolah yang menggedor badan bus, yang berhasil membuat supir menghentikan busnya.
Keduanya dengan cepat masuk ke dalam bus begitu pintu bus itu menjeblak terbuka. Mereka menghiraukan pandangan aneh dari para penumpang lainnya dan mencari-cari pegangan di sana. Begitu melihat pegangan yang kosong, masing-masing mengambil pegangan―Ichigo memilih pegangan gantung sementara Rukia memilih tiang penyangga kursi―yang letaknya bersebelahan.
Napas keduanya terengah-engah dan badan mereka terasa lemas. Setelah beberapa saat, baik Ichigo dan Rukia baru menyadari bahwa mereka saling berpegangan tangan sedari tadi. Dengan gerakan canggung, mereka melepaskan pegangan tangan masing-masing dan melihat ke arah yang berlawanan.
Selama perjalanan, mereka berdua sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Rukia sendiri terlalu sibuk menata pikirannya kembali. Kejadian barusan terlalu cepat untuk diingat-ingat kembali oleh Rukia. Dia kelelahan dan luka di salah satu lengannya mulai terasa perih sekarang. Bahkan pipinya juga berdenyut-denyut menyakitkan. Tapi sepertinya Ichigo lebih kesakitan dibanding dirinya. Gadis itu sempat melihat sekilas wajah Ichigo yang terluka di sana-sini. Tangannya yang tadi sempat menggenggam Rukia juga terluka.
Bus sudah sampai di halte yang menjadi tujuan akhir Rukia. Begitu bus berhenti, Rukia berjalan keluar bus tanpa menoleh ke belakang. Dia tidak mengucapkan apapun pada Ichigo, begitu juga sebaliknya. Bahkan saat Rukia mendengar deru bus yang makin menjauh, Rukia memilih untuk tetap berjalan sambil memandang ke depan.
Gadis itu benci begitu mengetahui Ichigo tidak turun di halte-halte sebelumnya. Seharusnya lelaki itu sudah turun dari bus sebelum dirinya. Rukia tidak membutuhkan perhatian tidak penting seperti itu dari Ichigo.
Dengan langkah gontai, Rukia akhirnya sampai di rumah. Dia mencari-cari kunci rumahnya dari dalam tas yang sudah terkoyak gara-gara ditarik paksa oleh Reiichi. Rukia mendesis kesal karena kunci itu tidak juga ketemu. Apalagi begitu menyadari bahwa buku-buku catatan miliknya basah semua dan beberapa sudah sobek sana-sini.
"Nak Rukia, kenapa kau hujan-hujanan?"
Rukia menoleh dan menemukan Saori berdiri sambil memegang payung berwarna hitam di depan pagar rumahnya. Wanita tua terkesiap begitu melihat wajah Rukia.
"Kenapa wajahmu bengkak begitu, Rukia?" tanyanya panik. Dia segera berjalan mendekati Rukia. Payungnya sengaja dimajukan agar Rukia dapat berteduh di bawah payungnya.
"Tadi...aku jatuh," ucap Rukia, berbohong. Kebohongan yang payah sekali. Saori memang sudah tua tapi dia tidak bodoh untuk tertipu dalam kebohongan Rukia.
Namun wanita tua itu hanya mendesah perlahan. Dia menarik bahu Rukia mendekat. "Lebih baik kau berteduh dulu. Kita ke rumahku dulu. Aku baru saja memasak mie kerang."
Rukia pasrah-pasrah saja begitu Saori mendorong lembut bahunya. Kakinya mengikuti arah yang ditujukan Saori padanya hingga akhirnya sampai di rumah milik Saori. Rumah itu memang memberikan suasana hangat pada siapapun yang masuk. Samar-samar Rukia dapat mendengar musik jazz mengalun. Dia juga dapat mendengar suara Kuro yang mengeong di ruangan lain. Saori membawa Rukia ke salah satu ruangan lalu wanita itu menatapnya.
"Tunggu sebentar di sini," kata wanita tua itu. Dengan langkah cepat seorang nenek-nenek, Saori bergegas pergi ke ruangan lain, meninggalkan Rukia di situ. Dia merasa tidak enak karena sudah membuat lantai rumah wanita itu becek oleh genangan air. Tak lama, Saori kembali sambil membawa handuk dan sepasang pakaian hangat―celana training hitam dan sweater berwarna merah marun. Dia menyerahkan semua itu pada Rukia.
"Mandi dan gantilah bajumu. Kalau tidak cepat, kau bisa sakit nanti. Aku akan ke rumahmu untuk mengambil pakaian dalammu," ujar Rukia sambil mendorong-dorong gadis itu agar cepat ke kamar mandi.
"Tidak perlu, nek. Nanti saja di rumah," tolak Rukia halus. Tapi wanita tua itu tidak menghiraukan perkataan Rukia.
"Kalau kelamaan, kau bisa sakit. Lebih baik sekarang saja, di sini."
"Tapi lantainya..."
"Kau bisa membersihkannya nanti."
Merasa tidak bisa menolak desakan Saori, Rukia hanya tersenyum kecil.
"Aku punya cadangan pakaian dalam di dalam tasku. Tapi sepertinya sudah basah kuyup." Hari itu jam pelajaran olahraga kelas 1-3 adalah renang. Namun karena hujan turun, olahraga diadakan di lapangan indoor sehingga pakaian dalam yang dibawa Rukia tidak jadi dipakai.
"Oh ya?" Saori menatap tas yang masih tersampir di bahunya. "Kalau begitu, kemarikan. Aku akan mengeringkannya."
Rukia menurut saja. Dia menyerahkan satu tas kecil yang sudah basah pada Saori. Lalu mengikuti perintahnya barusan, Rukia berjalan ke kamar mandi.
Tidak perlu waktu sepuluh menit, Rukia sudah selesai mandi. Training dan sweater yang dipakainya pas di badan Rukia. Saori ada di ruangan yang semula ditempati Rukia sebelum mandi. Gadis itu menyadari ruangan itu sudah tidak becek, membuatnya tidak enak pada wanita tua yang sekarang duduk di salah satu sofa di sana.
"Oh, sini sini," ajak Saori sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Rukia mendekat. Gadis itu duduk di tempat kosong yang disediakan Saori untuknya. "Lukamu harus diobati."
Rukia mendapati kotak P3K berwarna putih yang ada di antara mereka berdua.
"Maaf, Nek. Sudah merepotkan," ujar Rukia tidak enak hati.
"Jangan merasa sungkan begitu, Nak Rukia. Kau sudah sering main ke sini, kenapa baru merasa tidak enak sekarang?" canda Saori sambil tersenyum hangat. Senyum itu menular pada Rukia dan membuat perasaannya jauh lebih baik. Wanita itu menaruh lembut handuk basah di bagian pipi Rukia yang memar. Gadis itu meringis kesakitan saat Saori melakukannya. "Ada yang sakit lagi?"
Rukia melipat salah satu lengan sweaternya, memperlihatkan luka lebar yang masih basah. Saori sempat terkejut melihat luka itu namun dengan cepat dia memberikan obat pada lukanya. Rukia sempat mengaduh saat Saori membubuhkan antiseptik dan obat merah di lukanya. Lalu wanita tua itu membalut rapi lengan Rukia dengan perban putih.
Sekitar setengah jam mengompres luka memar di pipi Rukia, Saori membubuhkan sedikit obat merah pada luka lecet lainnya lalu tak lupa ditutup oleh plester. Rukia menikmati mie kerang yang yang sudah disiapkan oleh Saori sementara nenek itu merapikan kembali kotak P3K-nya.
"Kakakmu tadi menelepon kemari. Katanya dia tak bisa pulang malam ini," tutur Saori setelah dia mengembalikan kotak itu pada tempatnya. Kini dia duduk di sebelah Rukia, mengambil mangkok mie kerang miliknya.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Rukia dengan mulut penuh.
"Aku lupa tanya alasannya. Tapi katanya dia sudah menelepon ke rumahmu dan tidak ada yang mengangkat. Ternyata benar, kau pulang telat."
Selama sebulan terakhir ini, Byakuya sering sekali tidak pulang ke rumah sampai pagi menjelang. Katanya, pekerjaannya masih banyak sehingga mau tak mau, dia harus lembur di tempat kerjanya. Namun Rukia merasa Byakuya menyembunyikan sesuatu darinya, hanya saja gadis itu tidak tahu apa.
"Bagaimana kalau kau menginap di sini? Besok kau tidak sekolah, kan?" usul Saori. "Kita bisa menonton salah satu film yang sangat terkenal saat aku masih remaja. Atau kita bisa pindah ke perpustakaan setelah makan dan memilih-milih buku yang bagus."
Rukia tersenyum. Mengingat besok hari Sabtu, setidaknya Rukia bisa bersantai di rumah Saori. Apapun usulan Saori untuk membunuh waktu, semuanya disukai oleh gadis itu.
"Aku mau membaca buku. Kayaknya masih banyak buku yang belum kubaca," ujar Rukia.
"Oh ya, bukuku terlalu banyak untuk dibaca hanya dalam waktu sehari. Akan kutunjukkan padamu buku apa saja yang bagus."
Menit selanjutnya, kedua perempuan itu menghabiskan waktu di ruang perpustakaan. Kuro juga ikut menemani. Sesekali menggelayut manja di kaki Rukia, membuatnya geli. Saori merekomendasikan beberapa buku yang menurutnya sangat bagus; Wuthering Heights, Oliver Twist, The Time Machine, Alice in Wonderland dan The War of the Worlds.
Saat Rukia membaca, Saori akan bercerita tentang apapun. Gadis itu sesekali menghentikan kegiatan membacanya untuk mendengarkan cerita Saori. Dia tidak merasa terganggu, justru Rukia senang mendengar wanita tua itu bercerita. Mendengar wanita itu bercerita membuat Rukia membayangkan betapa menyenangkan masa-masa yang dilalui oleh Saori. Gadis itu bisa menangkap tatapan nostalgia yang terpancar di kedua bola mata Saori.
"Terkadang saat aku sedang duduk di depan perapian, aku suka berpikir kalau waktu berjalan sangat cepat. Rasanya seperti baru kemarin aku menjadi remaja dan sekarang aku sudah jadi nenek-nenek," kata Saori sambil tertawa renyah. Rukia juga ikut tertawa, diikuti oleh suara mengeong Kuro.
Rukia mengusap cover buku yang sekarang sedang dipangkunya. Buku itu bukanlah salah satu buku yang direkomendasikan Saori namun Rukia mengambilnya karena penasaran. Sampulnya berwarna kuning kusam dan tidak ada tulisan di sana. Namun saat Rukia membuka halaman pertama, terdapat tulisan tangan yang dibaca 'That time, I want to visit the most...'
"Oh, buku itu?" ucap Saori begitu dia melihat buku di pangkuan Rukia. "Kalau tidak salah cerita itu hampir sama seperti The Time Machine. Gadis pemeran utamanya bisa pergi melintasi waktu. Tapi aku lupa jalan ceritanya. Sudah lama sekali sejak terakhir aku membacanya."
"Apakah buku ini bagus, Nek?"
"Aku lupa, Nak," jawab Saori dengan nada menyesal. Rukia hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan buku itu sekali lagi.
"Kalau nenek punya kesempatan untuk pergi melintasi waktu, nenek akan pergi ke mana? Masa lalu atau masa depan?" tanya Rukia penasaran.
"Bagaimana denganmu, nak?"
"Aku?" beo Rukia. "Kalau aku, mungkin akan memilih masa depan. Menurutku kembali ke masa lalu tidak ada gunanya juga. Lebih baik pergi ke waktu di mana aku sudah melanjutkan hidup dengan lebih baik."
Melihat perubahan raut wajah Saori, Rukia buru-buru tersenyum kecil. "Jadi, kalau nenek?"
Saori membuat mimik seakan dia berpikir keras, berhasil membuat Rukia terkikik. Lalu dia mulai menjawab.
"Entahlah. Tidak ada yang harus kusesali di masa lalu dan sepertinya pergi ke masa depan bukan pilihan yang bagus untukku. Aku sudah tua, Nak Rukia, aku sudah mulai mencintai hidup dan menjalaninya sebaik mungkin," jawab Saori. Senyuman itu mau tak mau membuat Rukia merasa tenang.
Lalu malam itu, Rukia menghabiskan waktunya di perpustakaan bersama Kuro. Sementara Saori sudah pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Gadis itu membaca dua buku sampai matanya mulai lelah. Tidak lama, Rukia pun ikut terlelap dikelilingi buku-buku. Kuro pun juga mendengkur pelan lalu ikut tertidur di dekat Rukia.
Malam itu, Rukia bermimpi melihat ayah dan ibunya. Mereka berjalan menjauh bersama dengan Saori yang sempat tersenyum padanya sejenak. Namun seperti semua mimpi yang hanyalah bunga tidur, gadis itu tidak akan mengingat apapun tentang mimpinya ketika bangun keeskokan paginya.
.
.
to be continued
.
judulnya kok ada part 1-nya?
awalnya chapter ini berjudul Present Day (ajah) tapi nggak tau kenapa saya malah bikin chapter ini membengkak sampe lebih dari 10ribu kata. karena terlalu banyak, saya putuskan untuk membaginya menjadi dua chapter aja. maksain buat jadi satu chapter bakal capek juga bacanya. mungkin ini bakal jadi satu-satunya chapter dengan jumlah kata terbanyak.
oh ya, Saori itu memang OC. mungkin karakter itu jadi satu-satunya OC yang saya bikin di fic ini. semoga nantinya saya ga terlalu banyak buat OC.
di chapter ini emang masih belum ngejelasin apa-apa. tapi lagi-lagi, harap tunggu sampai cerita yang menjelaskan semua pertanyaan kalian semua. meskipun kalian tanya ke saya hal-hal yang berhubungan dengan cerita ini, saya nggak bakalan jawab. saya senang bikin kalian penasaran hahahaha! silakan tunggu sebulan lagi setelah saya mem-publish fic ini ya~
dan kampret lagu Orange - 7! yang berhasil bikin saya mellow seminggu ini!
