Pairing : USA X UK

Rating : T

Note: Time Traveling; Childhood and Future.

Sure, Time is Passing Fast

Dia bermimpi, mimpi yang aneh sekali. Sekalipun yang memimpikannya adalah Arthur yang memiliki tingkat imajinasi yang tinggi.

Dalam mimpinya dia bertemu dengan seorang Pria besar dan gagah, pria itu tersenyum padanya lembut; sangat lembut. Arthur membalasnya dengan canggung lalu bertanya siapa kau?— pria itu menjawab namun pendengar Arthur tak menagkap suaranya. Pria itu mengulanginya lagi beberapa kali sampai akhirnya pendengaran Arthur kembali normal. Dia bisa mendengar suara pria itu. Pria itu berkata:

Aku mencintaimu, Arthur...

Arthur membuka matanya. Badannya terasa berat, membuatnya memeriksa sekeliling. apa yang membuat badannya begitu berat? Ooh rupanya Alfred dan Matthew menindihnya, semalaman pasti.

Dia menghela nafas lalu menggoyangkan tubuh kecil Matthew yang paling dekat dengan jangkauannya "hei Matt...bangun" ujarnya lumayan lirih. bersuara keras di pagi hari itu membuat kepala siapapun sakit.

Kedua anak kembarnya. Alfred dan Matthew mengerang bersamaan setelah Arthur bergerak-gerak membuat pegas ranjang sedikit berbunyi. Baiklah dia bukan ayah, lebih tepatnya dia bisa dipanggil dengan kakak. Dia inggris, negara besar yang dijuluki Mother-land meski dia bukan di-personifikasikan sebagai wanita— jadi terkadang si Francis sialan itu menjuluki kedua anak di sampingnya itu sebagai anaknya.

Hmm...kalau diingat kembali. Warna rambut pria dimimpinya berwarna pirang pekat seperti mereka berdua, jangan-jangan itu salah satu dari mereka?— bercanda, imajinasinya mulai melejit sekarang. Tidak mungkin salah satu dari mereka mengaku padanya...

Seperti biasa. Alfred mencegah Arthur untuk mendekati dapur, dan membiarkan Matthew membuat sarapan. Bau mentega dan sirup Mapple yang menis membuat ketiganya meneteskan air liur dan membunyikan perut. Sarapan pagi ini: Pancake...

Baiklah. Setelah mereka selesai sarapan, Alfred mengajaknya ke tanah baru. Amerika, adiknya yang dia dapatkan setelah berdebat panjang lebar dengan Francis.

Amerika masihlah padang rumput yang luas.

Kedua anak kembar itu berlarian di depan Arthur. Tertawa gembira, bersorak gembira. tanpa beban sama sekali, dan itu membuatnya merasa tentram.

Inilah keluarga

Okay. Inilah yang membuat Francis mengejeknya kalau dia seperti pak tua, tapi mau bagiamana lagi? Setiap kali melihat kedua bocah itu bersama, dia merasa jika bisa membuat mereka tersenyum. Dia bahkan bisa menguasai dunia...

Arthur mengikuti keduanya. Dia lelah, entah kenapa stamina anak-anak tidak ada habismya. pikirnya lalu berhenti sejenak.

"ada apa Arthur?" tiba-tiba saja Alfred kecil sudah berada di depannya, memandangnya dengan mata bulatnya. Arthur menghela nafas "tidak ada" jawabnya "bagaimana kalau kita istirahat?" dia menawarkan. Matthew yang dibelakang Alfred mengangguk setuju namun si Alfred malah tertawa "kau memang sudah tua Arthur!"

"a...APA KATAMU!?" protes Arthur lalu mencubit pipi anak itu sekeras-keras. Tidak menangis. Alfred malah tertawa semakin keras, sedangkan Matthew terkekeh geli.

Ada rahasia besar dalam keluarga ini. Arthur membesarkan keduanya dengan kasih sayang berlimpah, namun siapapun tahu kalau Alfred itu spesial. Dan Alfred juga memperlakukan Arthur demikian, seolah ada cerita tersendiri diantara mereka berdua, yang bahkan anak Canada itu tidak mengetahuinya.

OXO

Arthur terbangun menemukan Matthew berada dalam pelukannya, masih tertidur. Tersenyum dia membelai surai pirang anak itu dengan lembut "ngomong-ngomong. Dimana Alfred ya?" tanyanya pada diri sendiri. bola mata Emeraldnya meniti ruangan namun dia tidak menemukan anak yang satu lagi "tunggu sebentar ya" berlahan dia mengangkat tubuh mungil Matthew lalu berdiri, setelah itu dibaringkannya lagi ke kasur dan menyelimutinya.

"Alfred?" setelah berbelok pergi ke ruang tengah, ternyata anak itu berada disana "apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya sambil mendekat.

Kebebasan

Pupil Arthur melebar membaca judul buku yang dibaca Alfred "a—apa yang kau baca?" tanyanya berusaha sebaik mungkin menghilangkan getaran suaranya. Meski masih belum berpaling pada bukunya, Arthur bisa melihat senyuman kecil melengkung di bibir Alfred "dongeng sederhana" jawab anak itu lalu menutup bukunya.

"menceritakan. Seorang putri yang berusaha kabur dari rumah ibunya, setelah mengetahui kalau ibunya bukan ibu aslinya melainkan nenek sihir" menoleh pada Arthur, Alfred mulai bercerita "dia mencari kebebasan. Meskipun ibunya begitu sayang padanya namun dia tidak merasa bebas, ibunya melampiaskan kasih sayang karena ingin memanfaatkannya"

"...tapi— setidaknya ibunya menyayanginya" Arthur merasa dia sedang membela dirinya sendiri. Alfred tersenyum ramah pada pernyataan itu lalu menaruh buku itu kembali pada raknya "yah...putri itu juga sangat menyayangi ibunya" balasnya "tapi ada satu alasan kuat kenapa dia meninggalkan ibunya"

"...apa itu?" Arthur mengulurkan kedua tangannya lalu mengangkat anak itu dan memangkunya "nah, tidak biasanya kau membaca dongeng. Apalagi bukannya cerita itu tidak cocok dengan anak-anak?" dan itu bukan dongeng sederhana.

"ibunya membuat si putri tidak bisa bertemu dengan pangerannya" jawab Alfred sambil mendongak, melihat wajah Arthur lebih jelas "putri itu tidak bisa bertemu dengan orang yang disukainya" ulangnya sambil megulurkan kedua tangan pendeknya, berusaha menyentuh kedua pipi Arthur "bagaimana menurutmu Athur ?"

"apa kau menemukan nilai dari cerita itu?" Arthur malah kembali bertanya "aku tidak menemukannya. Kau yakin kau sudah membaca semuanya sampai akhir?"

Baiklah Arthur yang percaya pada takhayul pun tidak menemukan nilai berarti dari dongeng ini. Namun Alfred menemukannya "kau akan mengerti suatu hari. Arthur, karena kau bodoh"

"HEI!"

...

Pasukan Inggris berperang melawan sebuah pasukan asing. Anehnya dia tidak mengenal pasukan tersebut. Pasukannya nampak kewalahan— Arthur memperhatikan perang tersebut, perang yang berlangsung dengan brutalnya. Kebebasan, kebebasan. Kalimat itulah yang selalu musuh ucapkan sebagai tanda unjuk rasa mereka pada Inggris

Dia berdir di tengah pertarungan. Mereka semua mengabaikannya seolah dia tidak ada. Oh ya, ini mimpi visual yang begitu nyata membuatnya lupa. Tapi...jika ini pertanda kalau sebentar lagi dia harus berperang, dia harus segera bersiap! Lalu...siapa musuhnya?

"...thur"

"Arthur!"

Saat membuka matanya. Arthur sudah berada di ladang rumput bersama Alfred dan Matthew. Kedua anak itu menatapnya dengan sorot mata terheran-heran "ada apa?" tanyanya

"kau melamun Arthur" jawab Matthew "atau...kau tidur dengan mata terbuka?"

"hebat jika kau beneran bisa melakukannya" timpal Alfref meletakkan kedua tangannya di pinggang "kami mau bermain di taman bungan seberang sana. Kau mau ikut?" lalu dia menawari Arthur

"tentu"

OXO

Sejenak pandangannya menjadi putih, lalu dia mendengar suara yang familiar. Memanggil namanya Arthur Arthur...

Berlahan pandangannya kembali. Aneh sekali, dia tidak berada di taman bunga bersama dengan Alfred dan Matthew kecil. Dia berada di sebuah ruangan...dari manapun dia melihat ini adalah ruang rapat

Pandangannya lurus kedepan. Dari tempat dia duduk dia bisa melihat papan kapur bertuliskan Konfrensi dunia. Arthur mengedipkan matanya beberapa kali, di saat bersamaan suara itu memanggilnya lagi "oi, Arthur" kali ini dia merespon.

Dia menoleh dan menemukan pria pirang berkacamata. Wajah pria itu mengingatkannya pada seseorang, yah..seseorang. Arthur menunjuk pria itu "k—kau?" suara dan jari yang menunjuk, keduanya bergetar "Alfred!?"

"kenapa denganmu? Tentu aku si Amerika yang heroic ini berada di depanmu" balas Alfred dewasa— Alfred yang kecil dan manis, rupanya tumbuh menjadi pria besar dan tampan "dan apa kau mendengarku tadi?" tanyanya sambil cemberut lalu menyingkap lengannya di depan dada

"err...apa yang kau katakan tadi?" tentu idiot. aku tidak mendengarnya, semenjak seharusnya aku tidak berada di sini! Arthur menunduk sementara matanya melirik keatas agar dia bisa melihat Alfred yang berdiri di depannya— ya ampun anak itu tumbuh tinggi!

"aku mencintaimu Arthur"

Seketika itu juga. Arthur membeku, meski orang mengatakan kalau imajinasinya tinggi. Dia tidak pernah membayangkan kalau...Amerika akan menyatakan cinta padanya. Mencintai ibunya sendiri, mencintai seseorang yang telah merawatnya sebagai orang tua.

"kau gila Alfred. Kau pasti ketularan si brewok itu" Arthur mengalihkan pandangannya dan lebih memilih menatap dinding putih yang kosong "bagaimana bisa kau berpikir demikian?"

"aku bukan anakmu atau adikmu lagi"dengan tangannya Alfred memaksa Arthur untuk memandangnya "kau pikir kenapa aku meninggalkanmu ?"

Meninggalkanku?

"kau tak mungkin meninggalkanku Al" sangkal Arthur. tidak akan, apalagi aku tidak mungkin membiar— pikirannya kosong saat melihat nama yang terbordir di jaket Alfred "aku bukan Kirkland" nama itu di tulis dengan Alfred F Jones.

Bagaimana bisa...aku melepaskannya? Aku yakin, anak itu tidak ada masalah dengan Inggris— jika benar ini masa depan. Dia harus segera kembali dan mencegah semuanya.

"serius. Ada apa denganmu hari ini?" Alfred melepas tangannya lalu mengecup kening Arthur "apa sampai sekarang juga..." dia berhenti lalu menghela nafas. Nampak kesedihan terpancar dari manik biru langitnya "— sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti adikmu atau anakmu ?"

Sekali lagi Arthur diam, tak bergerak bahkan tidak berpikir. Dia ingat dongeng sederhana yang dibaca Alfred. Kalau anak itu merasa dia adalah putri sementara ibu sekaligus orang yang disukai itu adalah Arthur sendiri. Maka Alfred sudah lama mempunyai perasaan..perasaan aneh yang di sebut; cinta.

"...ini konyol" gumamnya sambil bangkit berdiri. Berencana melewati Alfred lalu keluar dari ruangan. Namun langkahnya berhenti, Alfred masih menarik lengannya "pikirkan Arthur. Kumohon" jarang sekali anak bengal macam Afred memohon padanya, dia terbiasa mendengar permohonan dari Matthew.

Arthur ditarik lalu sampailah diatas pangkuan Alfred. Anak laki-laki yang dia besarkan tumbuh menjadi pria yang lebih besar dan kuat darinya, dia ingin memberontak namun tetap saja kalah.

"Arthur dengarkan aku dulu!" Alfred menahan tubuh ramping Arthur agar tetap menghadapnya. Pria pirang pucat itu memerah seketika "turunkan aku Al!" dia mendorong-mendorong.

Terbawa emosi; kesal dan marah. Akhirnya Alfred menarik kerah Arthur dan menciumnya secara paksa. Pada akhirnya juga dia terbawa, memberikan ciuman panas dan intim pada mantan kakak nya. Tangan Arthur yang mencengkram bajunya erat, mulai melemah dan lepas. Pada saat itulah Alfred berhenti "kau sudah tenang?" tanyanya

Arthur mengangguk. Entah sebagai jawaban atau untuk menutupi rasa malunya. "nah..biarkan aku berbicara" Alfred menepuk ujung kepala Arthur— padahal mereka berdua (di masa lalu) terbiasa sebaliknya. Kalau dilihat seperti ini, sekarang Arthur terlihat lebih kekanak-kanakan memang.

"aku mencintaimu"

"kau tidak perlu mengulangnya...bodoh"

"kalau begitu. Pikirkan aku, pertimbangkan aku sebagai Pria bukan...anak itu"

"..."

Pria Amerika itu menciumnya lagi, cukup lama. sampai keduanya kehabisan nafas . mata Arthur terpejam, membuat pandangannya menjadi gelap gulita. Lalu dia mendengar suara memanggil lagi.

...

Sedetik kemudian. Dia membuka matanya berlahan, dihadapannya ada wajah Al dan Matt yang mencemaskan dirinya. Yah, Alfred dan Matthew kecil yang manis dan menggemaskan.

"ada apa?" suaranya terdengar serak. Yang pertama menjawabnya adalah Alfred "kau jatuh idiot!" bentak anak yang lebih tua "sudah tua, cerobah lagi!" kalimat-kalimat kasar itu membuktikan kalau dia benar-benar khawatir.

Ooh...aku jatuh. Lalu bermimpi aneh?— tapi pelukan itu, ciuman itu begitu nyata. Manik hijaunya bergesar dan berhenti pada meja di belakang Matthew, disana buku donggeng itu tergeletak begitu saja. Benar, suatu saat nanti mereka akan meninggalkan. Membangun rumah mereka sendiri, dan tidak membutuhkanku.

Aku akan kesepian

"nah...apa kalian membenciku?" tanyanya tanpa sadar

Kali ini Matthew berusaha menjawab "ma— mana mungkin!? Mana bisa ka—" sebelum anak yang paling kecil itu menyelesaikan kalimatnya, Alfred berteriak menyela "AKU MENCINTAIMU BODOH!"

Hari ini olokan bodoh. Tentu sering keluar dari mulut Alfred ya?— dan itu membuat Arthur kesal aku tak pernah mengajarinya berbicara kasar!

"jadi..." Alfred kecil mulai terisak lalu meloncat ke atas ranjang dan memeluk dada Arthur "jangan membuat kami cemas lagi!" dan dia mulai menangis di dalam pelukan Arthur. Sementara Matthew, bola matanya membesar. Tidak menyangka kalau saudaranya yang lebih tua akan menangis seperti itu, biasanya dia yang cengeng. Dia tahu Alfred pasti menyanyangi Arthur bukan? Berpikir demikian dia tertawa kecil, menikmati adegan di depannya.

Aku selalu mencintaimu, Arthur.

Suara Alfred dewasa menggema di kepalanya. Dan itu membuat Arthur semakin bingung— sebab dia harus segera mempertimbangkan. Apakah dia bisa menerima Alfred di masa depan nanti.

Karena. Tanpa kau sadari waktu berjalan dengan cepat.