Pairing : Russia X Prussia

Rating : T

Note : Continue it after General Theme 01

Actually You Can Saying Sweet Love To Me (Two)

Prussia terbangun, sambil mendudukkan dirinya dia mengusap matanya. Butuh beberapa saat untuknya menemukan tubuh Russia, yang masih tidur di sebelahnya.

Kedua manik merahnya membulat, ini pertama kalinya dia terbangun lebih dulu daripada Ivan. Agak ragu dia membelai surai pria itu, wajahnya memanas tapi dia tidak bisa berhenti tersenyum "...menyebalkan" gumamnya tak bersuara.

Malam sebelumnya Ivan mengaku padanya, namun Gilbert belum membalasnya, itulah yang membuatnya sebal. Disaat dia yang awesome ini, akhirnya menyadari perasaannya, eh si penggila vodka ini malah mencuri kesempatan darinya.

Tapi siapa sangka kalau si tirai besi Russia berkata kalau dia mencintaiku?...

Sekarang warna wajahnya memerah total bahkan sampai ke leher. Dia mulai bertanya lebih memalukan mana. Dia yang mengaku atau aku yang mengaku?

Memeluk kakinya sendiri dia mulai bergumam sembarang hal. Jika saja si pria besar, pemilik kamar ini tidak dia sudah berguling-an diatas kasur. Dia ingat jelas, kemarin malam Ivan menyatakan cinta berkali-kali padanya di tengah...kegiatan ranjang. Yah...ingatan itu terus berputar di kepalanya seperti film tua!

"GEEH!" dengan frustasi dia mengacak rambutnya. Dan ulahnya itu membangunkan Ivan "Gilbert?" panggilnya, segera menyadarkan pria albino tersebut "..ada apa?" tanyanya terheran-heran

Gilbert mengadahkan wajahnya, menatap manik violet Ivan "ti..tidak!" spontan dia menjawab sambil mengeleng dan melambaikan tangannya dengan cepat "a—abaikan aku"

"duh.." Ivan terkekeh kecil, lalu menarik tangan Gilbert "bagaimana bisa aku mengabaikanmu?" tanyanya pada pria albino yang sudah jatuh dalam pelukannya "mm...kau ingin tahu bagaimana perasaanmu padamu bukan?"

Benar...meski belum mengaku, setidaknya Gilbert menyatakan sesuatu yang sama memalukannya. Seperti:

mm...ah..syukurlah kupikir kau membenciku. Selama ini aku ingin mengetahui, bagaimana perasaanmu, karena kau terlihat begitu dingin.

Nah...wajah Gilbert kembali bersemu merah padam "A—AKU HANYA TERbawa...suasana!" serunya berusaha lepas dari pelukan pria yang lebih besar "dan Ivan! Kita harus segera berpakaian!"

Bergumul di balik selimut tanpa busana hanya akan, membangunkan monster besar berdarah Russia itu "hmm...aku tidak masalah. Hari ini aku libur" balas Russia lalu mencium Prussia yang masih berusaha mendorong pundaknya

OXO

Setelah malam itu, Russia lebih menunjukkan rasa cinta padanya yang awesome ini. Senang sih, tapi ini menghabiskan staminanya!— Prussia berjalan dengan pinggang yang lebih sakit daripada biasanya "dia pikir berapa usiaku?' keluhnya tak bersuara sambil menggosok punggungnya.

"Ooh...Prussia!" menoleh dia menemukan Latvia melambai padanya "Germany..." anak itu berhenti, membuat Prussia semakin cemas; ada apa dengan adiknya? Apakah terjadi sesuatu dengannya dan sekutu?

Semua kecemasan itu menghilang ketika Latvia tersenyum ceria padanya "Germany akan menjemputmu!" serunya— pernyataan tersebut membuat jantung Gilbert berhenti seklias "a—apa?" tanyanya mamastikan jika telinganya tak salah dengat "Germany?" dia memaksakan senyumnya. tidak bermaksud apa-apa hanya saja, dia merasa...sebentar lagi dia akan menangis.

Baru saja...aku bisa lebih dekat dengan Ivan

Baru saja ...aku bisa mengakui perasaanku sendiri terhadapnya

Kau datang pada saat yang salah, west!

"—kapan?" setelah menenagnkan diri, Gilbert bisa bertanya "kapan West akan menjemputku?" ulangnya

"seminggu lagi, bersabarlah Bruder" Latvia mengulangi pesan yang di titipkan Germany padanya "enaknya~ aku dulu juga pernah berpikir untuk meminta bantuan Germany dulu" oceh anak itu lalu meninggalkan Prussia yang termenung.

...

"ah...Prussia" Russia menyambut kedatangannya "ada apa? Tumben kau keruang kerjaku" dari kursi kerjanya dia berpindah ke sofa untuk tamu, dan Prussia mengambil sofa, berhadapan dengan suaminya

"...kau mengembalikanku begitu saja?" Gilbert tidak ambil basa-basi, dia segera menubruk inti pembicaraan, tujuannya datamg kemari "kenapa? Bukannya dulu kau begitu menginginkanku? Kau sendiri yang meminta Amerika, untuk memberikanku padamu!"

"aah..." Ivan masih santai, berbicara dengan nada childishnya "jadi kau kemari untuk itu da?" pria Russia itu tersenyum, seolah malam kemarin, pagi ini tidak ada apa-apa diantara mereka. Apakah benar dia pria yang sama dengan pria yang mengaku cinta pada Gilbert?— "berbagai hal terjadi. Dan akhirnya aku harus mengembalikanmu, berterima kasihlah pada adikmu" jelas Russia. Malah makin membuat Prussia muak

"...meski kau mencintaiku?" ini memalukan, dia mulai merasa seperti seorang wanita yang menuntut lebih pada kekasihnya. Ivan Braginski, kau pikir betapa awesome nya Gilbert Beilshmidts ini? Asal kau tahu Dia sungguh awesome bisa jatuh cinta pada orang macam dirimu

Dia pikir, berapa dalam luka yang kutorehkan sendiri pada harga diriku?

Hanya untuk mengakui perasaanku padannya...

Ivan tidak segera menjawab, membuat Gilbert semakin miris "heh...atau semua itu hanya omong kosong?" ujarnya sinis sambil membuang muka kesamping "kau hanya bermain-main. Yah, aku hanya mainanmu dan sekarang kau sudah bosan"

"Pria itu, pria yang kita sebut sebagai Russia hanya mempermainkamu. Kau pikir kenapa orang inggris menyebutnya sebagai negara dengan tirai besi?. yang tak mungkin rubuh, karena begitu kokoh dan kuat"

Olokan para pejabat itu mulai terdengar. Yah, seharusnya dia percaya pada kepercayaan pertamanya; kalau dia adalah toysex.

Seharusnya aku tak berharap lebih

Dia...dia mempermainkanku!

"kenapa kau tidak bilang kalau yang kemarin itu bercanda?" Gilbert tersenyum, berusaha senormal mungkin "bahkan aku yang awesome ini tertipu tahu, hahaha..."

*braak!* untuk sesaat rasanya jantung Gilbert akan meloncat keluar. Tiba-tiba saja penggila Vodka itu menepuk meja, sampai bersuara cukup nyaring. Membuat kegaluan Prussia menghilang dan berganti dengan rasa kesal "ada apa sih?!" protesnya dengan nada biasanya

"itu bukan omong kosong!" seru Ivan sambil menjangkau pundak Gilbert yang terheran-heran "apa maksudmu?" Gilbert bertanya padanya, dan itu membuatnya makin frustrasi "a...aku benar-benar mencintaimu"Manik merah si pria Albino melebar, tak percaya. Tentu, setelah semua perlakuannya pada Gilbert. Berapa kalipun dia menyatakan cinta, dia tidak akan percaya; apalagi dia tidak mencintaiku...

"jelaskan Ivan" minta Gilbert dengan nada memerintah "jelaskan sekarang, atau tidak sama sekali"

Ivan menjauhkan tangannya lalu menunduk menyembunyiksn wajahnya ysng agak bersemu "se—seperti yang kubilang, aku mencintaimu"

"— sudah lama aku ingin mengatakannya. Dan akhirnya aku bisa mengatakannya, bersamaan dengan waktu kau bisa kembali ke sisi Germany. Tidak ada yang kusesali, aku cukup lama bersama denganmu, kau mengetahui perasaanku padamu, dan sekarang aku bisa mengembalikanmu pulang" jelasnya "kau tak menyukaiku, kau pasti membenciku bukan?. Tidak ada yang menyukaiku, semuanya takut padaku. Tapi, kau orang pertama; yang pertama kali berani membantahku, melawanku"

"sungguh, aku mencintaimu. Itu bukan dusta Gilbert. Dan aku tidak ingin membuat orang yang spesial bagiku, lebih membenciku"

"kau bisa pulang, Gilbert"

.

.

.

.

.

.

.

.

Meskipun, aku tidak suka ditinggal

Namun

Jika kau yang meninggalkanku. Karena aku harus melepasmu.

Untuk sekali ini saja, aku senang. Aku merasa menjadi orang paling bijaksana di dunia ini

Karena

Telah melepaskan burung dari sangkarnya

.

.

.

.

.

.

.

.

"jadi itu maumu..." Gilbert bergumam pada dirinya sendiri. hanya dia sendiri yang mendengarnya, dia sendiri yang mengatakannya— itu membuatnya sedih.

"kau bisa pulang hari ini juga jika kau mau" tambah Ivan sambil berdiri, diikuti Gilbert "tidak" jawab si pria Albino tegas

"—aku akan menunggu West menjemputku" tambah Gilbert lalu keluar Ivan sendiri, dengan suasana dingin, canggung, dan juga sedih yang telah sengaja dia buat.

Setelah itu, kami tidak berbicara satu sama lain lagi.

Ivan memberiku kamar tamu, juga menghindariku. Si bodoh itu berpikir, sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan

...

Setelah itu, mereka jarang sekali bertatap muka. Saat sarapan, Prussia duduk dan Russia bangkit dan mulai bekerja. Berkat situasi mereka berdua, Trio Batlik lebih merasa santai karena Ivan menyelesaikan makanannya lebih cepat dari biasanya, memberi mereka waktu untuk memulai hari mereka dengan tenang.

Lithuania memperhatikan Prussia yang memperhatikan Russia meninggalkan ruang makan, memang satu mansion ini bisa merasakan ketegangan diantara mereka berdua "Prussia?" panggilnya

"...ada apa?" balas Gilbert

Saat bertemu dengan manik merah itu, Lithuania kehilangan kalimatnya "tidak...maaf" balasnya sungkan. Mungkin lebih baik tidak ikut campur pikirnya.

Prussia juga tidak menyalahkan pria alim itu, siapapun juga akan tergoda untuk bertanya jika dia ikut terseret masuk dalam suasana canggung seperti yang dia dan Ivan buat.

Banyak yang harus di bicarakan sebenarnya bodoh!

Gilbert menghela nafas, setiap kali melihat sosok Ivan dari jauh. Mungkin memang dia tidak menyatakan cinta pada si bodoh Vodka itu tapi...si bodoh itu juga tak bertanya, dan malah mengambil kesimpilan sendiri!

Membuatku kesal sala...

OXO

Seminggu telah berlalu. Dan sesuai janji, West datang menjemputnya. Spontan Gilbert berlari dan memeluk adik laki-laki tercintanya "West!" dia memangil Ludwig dengan nama kesayangannya berulang-ulang, sampai dia sendiri bosan untuk mengucapkannya

"Bruder...kau baik-baik saja?" manik biru langit adiknya bertemu dengan manik merahnya, Gilbert terkekeh geli, mendapati sorotan cemas tersebut "kesesese..jangan remehkan Prussia yang awesome ini!" balasnya bersemangat

Setelah reuni singkat. Germany segera menggenggam tangan kakaknya lalu menariknya, untuk mengikutinya "okay, kita pulang Bruder" namun ajakan adiknya itu segera ditolak oleh sang kakak "Tunggu, West" ujar Gilbert "sebentar saja"

Ludwig tidak bertanya, dan hanya melepas genggamannya. membiarkan kakaknya kembali, menemui Ivan yang berdiri di depan mansion.

Russia, dia juga bisa membuat wajah seperti itu— pikir Ludwig, hari ini dia menemukan sisi baru dari sang negara tirai besi— dia mengantarkan kepergian kakak...

...

Gilbert mendekat lalu tiba-tiba saja meloncat dan memeluk Ivan. Si pria Russia sampai kelabakan di buatnya "ke—kenapa tiba-tiba?" tanyanya, masih belum membalas pelukan Gilbert

"...nah, kau pikir aku semurah apa?" pertanyaan tersebut membuat tubuh besar Russia mengejang untuk sesaat "aku tidak mungkin membiarkan pria melakukan ini dan itu dengan sembarang orang" ujarnya— mengejutkan— dengan nada yang lembut, disaat yang bersamaan pelukan Gilbert mengerat. Seolah mereka tak akan terlepaskan, jika memang dia tidak melepaskan

"Gilbert?" mulanya Ivan ragu untuk membalas pelukan tersebut, namun akhirnya dia juga mendekap tubuh ramping Gilbert "Germany menunggu" ujarnya "—ouch!" rintihnya saat Gilbert mencubitnya "apa-apa—"

"dengarkan baik-baik. Aku Cuma mengucapkannya sekali, Vodka sialan" oceh Prussia tiba-tiba lalu mendekat bibirnya ke telinga Russia

Aku mencintaimu

Pupil Violet itu menatapnya tak percaya, sekaligus kegirangan "a...apa!?" dia hampir saja melonjak karena saking gembiranya "benarkah!?"

"heh...bersyukurlaj aku yang awesome ini mempunyai perasaan padamu!" Gilbert melepas pelukannya lalu menunjuk hidung Ivan dan berseru lantang, untuk menyembuyikan rasa malunya "dah! Sekarang aku pergi—" Gilbert memutar tubuh, namun sebelum dia mengambil langkah pertamanya menuju tempat adiknya kembali. Ivan di belakang mencegahnya "hei!" protesnya

"lain kali, pernikahan kita..." Ivan mulai berbicara di telinganya "kita buat se=formal mungkin, agar dunia mengakui kita, da!"

Mendengarnya spontan kulit Albino itu memerah seutuhnya dari ujung kepala sampai ke kaki "AKU BELUM MEMUTUSKANNYA BUKAN!" Gilbert menyalak hebat, lalu diikuti Ivan yang tertawa keras.

Siapa sangka kata-kata cinta yang manis

Dapat terlontarkan, dari pasangan seperti kami.

Meski-pun aku belum bisa menganggap si Vodka sialan itu

Adalah kekasihku...

END

A/N:

Seperti biasa, Author ucapkan terima kasih banyak untuk yang sudah membaca sampai sini.

Lalu untuk yu-chan desu ne? (tidak apa-apa kan panggil begitu?)— terima kasih banyak karena setia me-review ya~ : ) .dan untuk chapter sebelumnya memang saya buat membingungkan begitu, masalah itu mimpi atau masa depan beneran tergantung yu-chan sendiri.

Manggil saya gak usah repot. Terserah yang cocok saja, seperti lost-san lost-chan, Lost aja juga boleh...terserah lah! Hehehe