Dark Kiss

A/N- Hai, maafkan aku baru update sekarang. Aku terlalu lama teralihkan oleh duniaku dan sulit untuk melanjutkan karena kurangnya inspirasi hihi.. Makasih kalian yang masih setia nungguin FF ini. Aku sendiri sebenarnya udah ga begitu gila lagi sama EXO jadi agak tidak semangat, maaf ya. Aku akan terus berusaha untuk melanjutkan kok. Btw aku nyoba-nyoba share cerita ini di wattpad dengan sedikit tambahan dan castnya aku ganti total. Jadi cowo x cewe biasa gitu. Hihi.. feel free to pay a visit. Vote and comment juga boleh sih hahaha.. mayziealexa

Enjoy reading..

.

.

.

WARNING!

YAOI, BOYS LOVE, CRACK PAIR, ALUR TERLALU CEPAT, AUTHORNYA CCD!

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

"So you're Korean? That's great than, my mother's Korean too. Biarkan aku mengantarmu pulang, Sehun." Tangan pemuda jangkung yang dilapisi sarung tangan leather hitam itu berusaha untuk membantu Sehun yang terhuyung.

"Hmm tidak usah, rumahku dekat dari sini." Tolak Sehun halus. Perlahan pening di kepala Sehun mulai menghilang, dan ia yakin... ia pernah menemui pemuda bernama Kris itu dulu.

"Anggap saja sebagai permintaan maafku karena kau tidak mau dibawa ke rumah sakit." Ucap Kris sambil menuntun Sehun masuk ke mobilnya. Keadaan mobil itu sangat hening dan dingin, ia yakin suhu di luar mobil saat ini tidak sedingin ini dan bahkan AC di dalam mobil tidak dinyalakan. Sehun terus berusaha untuk fokus mengingat siapakah orang ini di masa lalunya?

Hanya butuh menyetir selama 4 menit dengan kecepatan pelan Sehun sudah sampai di rumahnya. Sehun tersadar ia telah berjalan cukup jauh dari rumahnya. Kris membukakan pintu mobilnya untuk Sehun dan menuntunnya sampai memasuki teras rumahnya.

"Kris, apakah.. kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sehun pelan. Ia tidak bermaksud untuk bertanya, tapi kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Awalnya Kris terkejut, lalu ia tersenyum tipis seakan-akan ia dapat mengerti pikiran Sehun. Kris tidak menjawab pertanyaan Sehun, mengangguk, ataupun menggeleng.

"Beristirahatlah, kau terlihat kurang sehat, Sehun." Kris melebarkan senyumnya dan mengusap pelan rambut Sehun.

.

Sehun terhenyak, ia merasa sangat familiar dengan perilaku Kris. Ia membeku di posisinya dan melihat punggung Kris mulai menjauh dari hadapannya.

.

.

.oOo.

5 jam tepatnya sudah terlewati sejak kepergian Kris tadi siang, Sehun mengerang kesal karena materi pelajaran yang sejak tadi dipelajarinya tidak ada yang bisa melekat pada otaknya. Bukan hanya karena hatinya yang tidak tenang karena Kris tapi juga percakapan antara Baekhyun dan Danny yang menyangkut tentang segel dan dirinya.

Sehun tidak dapat mendengar seluruh pembicaraan mereka karena sepertinya Denny menyadari kehadiran-sembunyi-sembunyi-nya sehingga hal terakhir yang Sehun dengar adalah mantra peredam suara yang diucapkan oleh Danny.

Izin perpindahan sekolah Sehun sudah diurus oleh Erick dan Baekhyun. Jadi Sehun memutuskan untuk belajar agar dapat mengikuti tes masuk St. Adelheid High School minggu depan.

.

TOK TOK TOK

.

"Kau keberatan hyung masuk, Sehun?" Baekhyun mengintip dari celah pintu kamar Sehun yang terbuka.

"Tidak, hyung masuk saja." Sehun –memaksa-menegakkan duduknya di kursi dan memutar tubuhnya menghadap Baekhyun.

"Ada apa?" Lanjut Sehun to the point.

Baekhyun mengusap tengkuknya, terkejut dengan Sehun yang terlihat sedikit tertekan dan lelah.

"Eh... uhh itu-"

"Kalau hyung masih ingin merahasiakan sesuatu lebih baik jangan ganggu aku. " Sehun kembali memutar tubuhnya menghadap meja belajar, berusaha untuk tidak mengacuhkan keberadaan Baekhyun.

"Hyung tidak bermaksud membuat rahasia Sehun. Hanya saja hyung dan paman Denny pikir kau lebih baik tidak mengetahuinya sekarang dan berfokus pada tesmu untuk kembali masuk sekolah." Baekhyun berjalan mendekati Sehun dan mengelus bahu adik semata wayangnya itu.

Sehun menghembuskan napas pelan, "Kau lupa betapa jeniusnya adikmu ini, hyung? Tanpa belajar pun aku juga pasti sudah bisa diterima menjadi murid baru. Aku belajar karena... hanya ingin melupakan sesuatu."

"Apa itu? Apa ada yang terjadi padamu hari ini?" Sorot kekhawatiran dan penasaran terlihat jelas di mata Baekhyun.

"Huh, enak saja aku duluan yang cerita. Beritahu dulu apa rahasia hyung dan paman Denny padaku."

Refleks Baekhyun memutar bola matanya. "Fine, tapi kau tidak boleh memotong pembicaraan hyung sama sekali dan dengarlah dengan seksama. Deal?" Baekhyun tersenyum tipis melihat adiknya mengangguk patuh.

"Well, ternyata kemampuan seorang werewolf hunter bukan hanya bisa sembuh dengan waktu yang cepat dan bisa mendapat hawa-hawa mahluk seperti uhh... kau tau lah, aku yakin kau pernah merasakannya juga. Tapi kita memiliki kemampuan lebih, Hun. Seorang werewolf wunter selalu terlahir kuat, lebih kuat dari manusia biasa, dan memiliki bakat alami dalam bertarung sehingga dengan berlatih tekun, kita dapat menjadi lawan yang lebih unggul bagi seekor werewolf."

"Kau tahu kenapa kita tidak memiliki kemampuan-kemampuan itu dan begitu lemah, Hun?"

.

Sehun menggeleng pelan.

"Menurut prediksi paman Erick dan Denny, seorang penyihir yang memiliki kekuatan begitu kuat menyegel kekuatan kita. Penyegelan itu terjadi sebelum malam pembantaian keluarga kita, dan akhirnya hanya kitalah yang selamat dari malam itu, Sehun. Berkat segel itu kita masih bisa hidup tanpa diketahui werewolf manapun. Sepertinya orang tua kita memiliki pergaulan yang cukup baik dengan para penyihir."

Sehun mengernyitkan dahinya. "Lalu kenapa kau diserang werewolf waktu itu, hyung?"

Baekhyun tersenyum pahit. Cepat atau lambat Sehun juga harus mengetahuinya.

.

"Karena aku mengenal dengan baik alpha yang menyerangku saat itu."

.oOo.

.

.

BRAK

Park Chanyeol membanting kasar pintu rumah kakeknya. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ingin rasanya ia menghajar tua bangka di hadapannya ini.

"Sudah kukatakan dia bukan seorang hunter, Donghwa!"

Pria tua di hadapan Chanyeol hanya bisa mendesah pelan menghadapi cucu tunggalnya itu.

"Kau tahu aku masih mencintainya... Ia begitu lemah dan tidak bisa melawan seranganku. Dan kau menghasutku bahwa dia adalah seorang hunter?" geram Chanyeol.

"Ia mengingatkanku pada Oh Joon Woon brengsek itu, Chanyeol-ah. Aku ingin melenyapkan laki-laki itu rasanya..." Donghwa menatap kosong secangkir teh di tangannya.

"Hentikan omong kosongmu. Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau dan teman sekongkolmu telah membunuh semua hunter di negara ini." Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

"Persetan. Kau tidak akan bisa menghentikanku untuk kembali padanya, Donghwa." Chanyeol meninggalkan rumah kakeknya. Amarahnya memuncak, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berubah wujud menjadi werewolf dan berlari secepat mungkin ke Forks.

.

.

.

"Kau tahu, tidak seharusnya kau memata-matainya seperti itu Kris."

"Aku tidak memata-matainya Lucy, aku.. aku hanya khawatir. Aku sudah berjanji pada Hye In untuk menjaganya." Kris mengacak rambutnya pelan.

"Aku tahu, tapi kau bisa mengawasinya dengan cara lain kan. Seperti berteman dengannya mungkin..." Gadis berambut brunette sebahu itu menatap kakaknya prihatin.

"Bagaimana kalau dia mengenaliku? Bagaimana kalau dia ingat kalau akulah yang menyelamatkan dia saat itu?"

"Oh ayolah saat itu dia bahkan belum genap berumur 10 tahun. Dan toh dia dan kakaknya memiliki 2 orang penyihir yang bisa melindungi mereka."

"Penyihir-penyihir di kota ini dilarang untuk menunjukkan kekuatannya sembarangan, terlebih di depan umum Lu, kau tahu kan... perintah tidak masuk akal dari pemerintah. Tidak ingin membuat rakyat ketakutan berlebih katanya. Alasan bodoh yang sama saat mereka berusaha untuk menutupi kasus-kasus kaum werewolf."

.

Lucy terdiam sesaat.

"Kau yakin... tidak memiliki perasaan padanya?"

.

"Apa maksudmu Lu?"

"Kau... terlihat berubah sejak kedatangannya di Forks. Kalau memang kau bermaksud melindungi kakak beradik itu seperti janjimu pada Hye In, kau tidak akan seperti ini. Kau terlihat hanya perhatian pada Sehun, Kris."

Kris tidak menjawab pernyataan Lucy. Ia hanya menatap kosong langit kamarnya.

.

.

.oOo.

Sehun berjalan cepat memasuki toko buku di depannya. Hari ini Baekhyun ada kuliah siang dan bekerja part-time setelahnya. Yang pastinya akan membuat Baekhyun harus pulang larut malam ini. Sehun memutuskan untuk berbelanja beberapa buku setelah mendapat kiriman uang bulanannya dari Sungmin.

Bau buku baru menyapa penciuman Sehun. Ia mulai tenggelam dengan pikirannya dan mulai berkeliling mencari novel yang terlihat menarik. Hari ini Sehun sebenarnya sangat lelah. Latihannya dengan Erick cukup keras. Erick melatihnya beberapa gerakan bela diri dan beberapa latihan fisik tadi pagi.

Kini Sehun mulai sedikit percaya tentang segel yang melindungi dirinya dan Baekhyun. Ia merasa lemah dan cepat lelah saat berlatih. Tapi ia juga harus melihat sisi baik dari keadaannya ini, sebulan sejak kedatangannya di forks dan tidak ada seekor werewolfpun yang mencurigainya. Atau... begitulah kelihatannya.

Sehun tersenyum senang melihat 4 novel tebal yang ada pelukannya, Outlander by Diana Gabaldon, Red Queen by Victoria Aveyard, To Kill a Mockingbird by Harper Lee, dan The Fellow-

BRUK

Shit.

Sehun merutuk dirinya sendiri dalam hati. Buku-bukunya jatuh. Ia berniat untuk mengambil buku-buku itu sebelum tangan yang dibaluti sarung tangan leather itu mengambilnya.

"Kita bertemu lagi, Oh Sehun." Pria bersarung tangan leather itu tersenyum tipis sambil menyodorkan buku-buku itu pada Sehun.

Sehun mengambil buku-bukunya. Hawa dingin itu...

"Terima kasih banyak Kris." Ucap Sehun tersenyum kecil. –Berusaha-mengabaikan perasaan aneh tentang hawa dingin yang membuatnya sedikit bergetar.

Sehun melangkahkan kakinya kearah kasir, diikuti oleh Kris.

"Sedang berbelanja buku? Kau suka membaca ya."

"Ya.. begitulah hehe. Hanya sedang bosan dan kehabisan bahan bacaan. Kau sendiri?" Sehun meletakkan buku-bukunya dan beberapa uang dollar di meja kasir.

"Hmm.. hanya ingin berjalan-jalan dan mampir ke sini lalu bertemu denganmu."

Sehun mengambil plastik belanjaannya dan berjalan keluar.

.

TIK

TIK

DRASH

"Oh tidak. Hujan." Sehun bergumam pelan.

"Kau tidak membawa kendaraan? Biar kuberi tumpangan."

Sehun menggeleng pelan. "Tidak. Tidak perlu. Aku yakin hujannya akan turun sebentar lagi."

"Aku berjanji kau tidak akan merepotkanku, Hun. Hujan terlihat akan menjadi semakin deras." Kris menggandeng tangan Sehun dan membawanya ke arah mobilnya.

Tanpa sadar Sehun tersenyum tulus. Bertemu dengan pria –yang ia yakini-baik seperti Kris di saat cuaca menyebalkan seperti ini. Jantung Sehun mulai berdebar cepat melihat senyum Kris.

.

.

Oh tidak, ia tidak boleh semudah ini jatuh pada seseorang. Shit. Sehun menggigit bibirnya gugup.

.

.

.oOo.

.

Kuliahnya selesai lebih cepat hari ini. Baekhyun berjalan santai kearah mobilnya. Dosennya sedang berada dalam mood baik hari ini sehingga tidak memberikan tugas yang merepotkan baginya. Setelah ini ia harus mendatangi tempat kerja part-timenya.

Mobil yang ia gunakan sehari-hari adalah peninggalan ayahnya, Baekhyun bekerja untuk kebutuhan sehari-harinya sedangkan uang dari Sungmin hanya ia gunakan untuk membayar kuliahnya. Tentu ia tidak ingin merepotkan Sungmin lagi. Walinya itu sungguh berjasa dalam hidupnya.

.

Senyum riang Baekhyun pudar. Langkahnya terhenti melihat siapa yang berdiri di depan mobilnya saat ini.

.

Park Chanyeol.

.

"Apa kali ini kau akan langsung membunuhku, Yeol?" desis Baekhyun. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Baek." Chanyeol menatap nanar Baekhyun.

"Kau tahu aku bukan seorang hunter. Kenapa.. kenapa kau menyerangku, Yeol."

Air mata Baekhyun tumpah.

Chanyeol mendekati Baekhyun dan merengkuh laki-laki manis yang sangat dicintainya itu.

.

PLAK

.

Baekhyun menampar Chanyeol. Cukup keras. Dan tentu saja tangannya yang merasa kebas. Wajah Chanyeol bahkan tidak bergerak satu sentipun.

"Aku tidak tahu harus bagaimana menyakitimu Yeol. Setiap aku menyentuhmu, akulah yang merasakan sakitnya." Gumam Baekhyun pelan.

"Kau tahu aku tidak memiliki pilihan lain Baek. Tua bangka itu yang akan membunuhmu langsung jika aku tidak menyakitimu."

"Kau... dan dunia fantasy nyatamu. Aku tidak ingin ikut campur lagi."

Baekhyun berjalan melewati Chanyeol. Ia mengusap pipinya yang basah. Hatinya berdenyut begitu sakit. Mengapa rasa cinta ini begitu sulit dihilangkan...

Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang, menghentikan langkah Baekhyun. Hatinya hancur melihat air mata Baekhyun, dan ingin mati rasanya mengetahui bahwa dirinyalah penyebab dari tangis dan rasa sakit laki-laki itu.

"Beri aku satu kesempatan lagi, Baek. Aku memerlukanmu dihidupku. Kumohon... jangan tinggalkan aku..."

.

Park Chanyeol menangis.

.

.

.

to be continue