UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•
•
•
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
•
•
•
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•
•
•
Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.
•
•
•
Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.
Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.
Ya ... Hanya itu ...
Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.
Ditambah lagi, seorang gadis cantik bersurai merah yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan memintaku menjadi budaknya!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
Chapter 2 :: SANG PEMBANGKANG.
Seorang pemuda bersurai pirang terlihat tertidur disalah-satu Ruangan di Rumah Sakit Tokyo, dengan sebuah imfus yang tergantung manis ditempatnya, tersambung dengan salah satu Lengan pemuda pirang itu. Sementara disampingnya, seorang gadis imut nan cantik juga tertidur dalam posisi duduk, dengan Kepala yang disandarkan pada bagian samping ranjang.
"Ahhh~ haaahhhh!" gadis itu memekik pelan saat terbangun dari tidurnya dengan gerakan yang kasar. Wajahnya terlihat takut bercampur cemas karena sebuah mimpi yang sebenarnya tidak ingin dilihatnya.
Yap, dalam mimpinya, gadis ini melihat pemuda bersurai pirang itu, menatap dingin dirinya. Penuh kekejaman dan kemarahan, dengan Mata berwarna Putih yang terlihat menyala ditengah-tengah kegelapan. Sungguh menakutkan!.
Dengan masih memasang Wajah takut bercampur cemas, gadis itu mengalihkan pandangannya pada si pirang yang saat ini tertidur dengan damai didepannya.
"Onii-Chan, Boruto-Niichan ... Kumohon, jangan perlihatkan Wajah seperti itu lagi ..."
"Aku ... Aku ... Takut" gumam gadis itu. Tangannya kini secara perlahan mengusap surai pirang pemuda itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Mencoba menyalurkan sebuah perasaan yang tidak bisa diucapkan melalui kata-kata.
"Kuuuhhh~" si pirang yang ternyata bernama Boruto, melengkuh lemah. Agaknya usapan yang dilakukan gadis itu mengusik tidurnya. Dan yang pertama dilihat Mata Biru indahnya adalah Wajah seorang gadis cantik nan imut yang sedang memasang Wajah ketakutan dan penuh cemas untuk dirinya.
"Himawari ..."
Ucapan itu menyadarkan si gadis yang kini diketahui bernama Himawari. Faktanya, meski pandangan itu tertuju pada Boruto, namun sepertinya Himawari sama sekali tidak menempatkan fikirannya pada pemuda itu. Singkatnya gadis itu sedang melamun, entah masalah apa yang saat ini mengganggunya.
"N-Nii-Chan, ma-maaf" gadis itu bersuara pelan, menarik Tangannya lalu merundukan Wajahnya. Tidak berani beradu pandang dengan pemuda pirang itu.
"Ada apa?. Apa yang sedang kau fikirkan?!" tanya Boruto yang mengabaikan permintaan maaf adiknya.
Tapi setelah menunggu cukup lama, tidak ada jawaban yang keluar dari Mulut gadis itu. Yang ada hanyalah Himawari yang terus membuang Mukanya, karena tak berani beradu pandang dengan Boruto, yang terus menatapnya.
Sebenarnya Boruto ingin kembali menanyakan perihal kenapa adik kecilnya seperti itu, tapi suara Gagang Pintu yang dibuka mengganggu suasana diantara kakak-beradik itu.
"Halo~ oh!. Kau sudah siuman, Boruto-Kun?!" seorang gadis cantik bersurai merah berjalan dengan santai ke arah mereka berdua. Tanpa perduli jika kehadirannya menggaganggu situasi yang tercipta sebelum kehadirannya.
"Rias ..." Boruto menyerukan nama gadis yang kini sudah berdiri disamping Kursi yang diduduki Himawari.
"Bagaimana keadaanmu saat ini?!"
"Jauh lebih baik. Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan!"
"Himawari, bisakah kau meninggalkan kami berdua?" ucap Boruto, seraya kembali menatap sang adik, setelah beberapa saat lalu, pandangan itu teralihkan pada Rias Gremori.
Himawari mengangguk, dan tanpa membuang waktu lagi gadis itu mulai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Pintu. Rias dan Boruto melirik gadis kecil itu, sebelum ahirnya pandangan mereka tergantikan sebuah Pintu yang kembali tertutup, menghapus keberadaan Himawari dari pandangan mereka.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Rias mengatakan itu seraya membawa dirinya ke arah Jendela yang ada di Kamar tempat Boruto dirawat. Dan saat Jendela itu dibuka, sapaan Angin menerpa surai merah indahnya.
Sementara itu ditempat Himawari.
Gadis itu berjalan dengan lesu dan tak bersemangat, fikirannya saat ini benar-benar kacau. Kejadian luar biasa Malam itu sangat mengganggunya. Meski sudah melihat secara langsung hal diluar nalar itu, sebagian dirinya tetap menolak untuk mempercayainya.
Hingga tanpa dia sadari, langkahnya membawa gadis itu pada ujung Koridor. Himawari mendekat pada Pagar Pembatas. Menyandarkan dirinya pada Pagar Pembatas itu, dengan ditopang ke dua Sikunya. Pandangan gadis itu menatap kosong orang-orang yang berlalu-lalang dibawahnya.
Yap, tempat dimana Boruto dirawat berada di Lantai tiga. Jadi tidak heran jika seperti itulah yang dilihatnya.
Dalam kebimbangan itu, Himawari mulai memikirian sesuatu. Seorang wanita bersurai biru sepertinya dan seorang pria bersurai kuning seperti kakaknya. Dan hal yang paling berkesan sangat dalam untuk gadis itu adalah senyum mereka. Senyum penuh kelembutan dari si wanita dan senyum hangat dari si pria.
"Okaa-Chan, Otou-Chan ... Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau melihat Onii-Chan yang seperti itu, dan lagi ... Aku ... Aku ..." gumam gadis itu. Dan tanpa disadari, butiran Air Mata mengalir begitu saja dari Mata indahnya.
Ya ... Tekanan berat yang dirasakannya, membuat gadis itu menangis.
Kembali ketempat Boruto dan Rias.
"Jadi kau sudah menceritakan semuanya pada adikku?!" Boruto terlihat kesal. Agaknya pemuda bersurai pirang itu mulai mengerti kenapa gadis kecilnya bersikap aneh. Agaknya Himawari masih belum bisa menerima kenyataan ini.
Bahwa dirinya berbeda. Bahwa dia dan kakaknya tidak sama dengan Manusia lainnya. Itu pasti sangat membuatnya tertekan. Sebuah perasaan seperti orang yang memiliki kelainan atau pun orang yang tidak normal karena berbeda dengan orang lain.
Hal yang dulu juga pernah dirasakan Boruto sebelum ahirnya bisa memantapkan dirinya bahwa itu bukan sebuah kelainan atau ketidak-normalan, melainkan sebuah kelebihan dan sebuah anugerah dari Tuhan agar hidupnya lebih berguna.
Namun mengabaikan semua itu, kini Boruto mulai melemparkan kekesalannya pada gadis cantik bersurai merah itu. Gadis yang menceritakan sebuah kebenaran yang bahkan tidak berani Boruto ungkapkan!.
"Kenapa?!"
"Kenapa kau mengatakannya!" dengan nada tinggi Boruto mengatakan itu. Rasa sayang dan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak, sebagai pengganti kedua Orang Tua mereka yang sudah tiada, membuatnya melakukan itu.
Sebagai seorang kakak, Boruto sangat menyayangi adiknya, dan tidak mau merasakan perasaan yang dulu pernah dirasakannya!.
"Kenapa, kenapa kau malah marah padaku?. Aku hanya membantumu untuk mengatakan hal yang seharusnya dia tau" ucap Rias masih dengan tenangnya seraya tetap menatap Langit yang terhampar dibalik Jendela.
"Kau pasti mengerti kenapa banyak Iblis Liar atau Malaikat Jatuh Pembangkang yang menyerangmu. Itu semua karena mereka tertarik atau merasa terancam dengan kekuatanmu!. Kau mungkin bisa bertarung. Tapi adikmu?. Dia hanya bisa menangis dalam ketakutan"
"Sampai kapan kau akan membiarkan adikmu seperti itu?!" pada poin ini pandangan Rias sedikit teralih pada Boruto. Sekedar ingin melihat bagaimana pemuda bersurai pirang itu menanggapi ucapanya.
"Andai saja Malam itu pun kau terlambat, dia pasti—"
"Aku tau ... Karena itu aku terus berusaha untuk melenyapkan setiap Iblis atau Malaikat Jatuh yang datang ke Kota ini. Itu semua agar Himawari tidak bertemu dengan salah satu dari mereka. Aku melindunginya dengan caraku sendiri" potong Boruto.
"Tapi ... Aku mungkin melakukan sebuah kesalahan. Nyatanya aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersamanya. Dan itu membuat Himawari memiliki banyak celah"
"Terlebih lagi, Tubuhku ternyata memiliki batasan dalam menggunakan kekuatan ini. Terlalu sering menggunakannya, ternyata memberi dampak yang besar untuk Tubuhku"
"Namun, aku tidak ingin dia mengetahui kebenaran ini. Dia terlalu lemah untuk itu, gadis itu memiliki hati yang lembut" ucap Boruto. Kemarahannya menguar begitu saja, tergantikan penyesalan dan perasaan bersalah yang datang menyerangnya.
Pada poin ini, Boruto merasa dirinya telah gagal untuk melindungi sang adik!.
"Haaahhh~ maaf, sepertinya aku sudah melangkahimu ... Maafkan aku, Boruto-Kun" ucap Rias seraya menggaruk Pipinya. Saat melihat Boruto yang seperti itu, Rias sadar jika dia sudah menembus batas yang seharusnya tidak ditembus orang luar.
Boruto tidak menjawab. Pemuda bersurai pirang itu tidak tau harus merespon apa dan bagaimana dengan permintaan maaf Rias. Bahkan sampai gadis itu keluar dari Ruangan tempat dirawatnya, Boruto tetap membisu.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
"Sedang memikirkan sesuatu?"
Ucapan itu mengganggu aktifitas seorang gadis cantik bersurai biru yang sedang menangis seraya menatap sebuah Foto Keluarga antara gadis itu, kakaknya, dan kedua orang tuanya. Untuk sesaat gadis itu mengalihkan pandangannya dari Foto itu, pada sosok gadis bersurai merah yang entah sejak kapan ada disampingnya.
Alangkah terkejutnya gadis bersurai merah itu saat melihat Wajah si gadis yang penuh dengan Air Mata.
"Himawari-Chan ..." gumamnya, cukup terkejut dengan mimik yang saat ini menghiasi Wajah cantik gadis itu. Sebuah perasaan tertekan dan merasa dirinya aneh benar-benar terlihat disana.
'Seperti yang dikatakan Boruto-Kun, dia ...'
"Rias-Oneechan. A-aku tidak apa-apa, hehehe" balas Himawari seraya menghapus Air Matanya dengan kasar dan memaksakan diri untuk tersenyum, meski senyumnya sangat terlihat dipaksakan.
Rias menarik nafas panjang. Gadis itu merasa bertanggung jawab dengan keadaan Himawari saat ini. Ya ... Sedikit banyak dirinya ikut andil dalam membuat Himawari seperti ini.
"Hm ... Dengar Himawari-Chan, ini tidak seperti yang kau fikirkan. Kau tidaklah aneh atau tidak normal, kau hanya satu dari sedikit Manusia yang dipercaya Tuhan, untuk memiliki sesuatu yang unik, yang tidak dimiliki Manusia lain" ucap Rias. Meski Dadanya terasa sakit saat mengatakan hal ini, mau tidak mau Rias harus mengatakannya. Hal seperti menjadi anak terpilih adalah sesuatu yang paling manjur untuk mingkatkan mental seseorang.
"Kau adalah anak spesial yang dipercaya oleh-Nya!" lanjut Rias, dan lagi-lagi Dadanya terasa sesak seperti baru saja dihantam Gada dengan telak. Hal yang wajar mengingat dirinya adalah Iblis. Mengatakan Siraman Rohani, tentu saja bukan bagian seorang Iblis sepertinya.
"Ugh!" Rias tak dapat lagi menahan lengkuhannya. Tangannya yang saat ini sedang mengusap Punggung Himawari pun sedikit terhenti dan berganti dengan sebuah remasan karena tak kuasa menahan sesak yang menyerang Dadanya.
Himawari mengalihkan pandangannya. Dengan Wajah cemas gadis itu menatap Rias yang masih terlihat menahan nyeri.
"Onee-Chan, kau baik-baik saja?" tanya gadis itu.
"Ya ... Aku baik. Ini hanya karena aku seorang Iblis, Mengakui Kekuasaan Tuhan membuat kami selalu seperti ini. Hal yang Wajar terjadi bagi Mahluk Pembangkang seperti kami" ucapnya. Untungnya saat ini, rasa sakit itu sudah perlahan-lahan mulai hilang. Sehingga Rias bisa kembali bersikap wajar lagi.
"Begitukah ..."
"Rias-Oneechan, maaf. Maaf karena membuatmu mengatakan hal yang seharusnya tidak kau katakan" ucap gadis itu.
Deg!.
Dada Rias kembali terasa sesak. Namun kini bukan karena rasa sakit yang menderanya, melainkan karena perasaan kagum dan takjub dengan sifat yang dimiliki oleh gadis itu. Ini kali pertama Rias melihatnya. Melihat bagaimana sebuah permintaan maaf yang terasa sangat indah jika diucapkan dengan tulus.
Sebuah hal baru bagi sang Gremory, mengingat dia hidup dikalangan Bangsawan yang selalu menjaga derajat mereka agar selalu terlihat tinggi. Ya ... Tidak ada satu pun diantara mereka yang benar-benar mengucapkan maaf setulus gadis ini.
Ya ... Himawari mengucapkannya dengan benar. Memposisikan dirinya dibawah tanpa memikirkan jika itu akan menghancurkan derajatnya karena sejatinya, permintaan maaf memang tidak akan menodai derajat seseorang!.
"Aku benar-benar tersentuh ... Ini kali pertama ada seseorang yang mengatakan hal itu padaku" ucap Rias seraya mengusap surai biru Himawari.
"Huh?"
Himawari sepertinya tidak mengerti. Tapi Rias sama sekali tidak memperdulikannya. Gadis itu hanya memberikan senyum manisnya sebagai penegas dari ucapannya.
'Boruto-Kun ... Adikmu memiliki hati yang bersih dan lembut' batinnya seraya masih menggulung senyum manisnya.
"Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu"
"Yah ... Kurasa mereka akan bangga" balas Himawari. Namun tidak ada kebanggaan dalam ucapannya. Pandangannya malah menatap sendu sebuah Foto yang sedari tadi digenggamnya.
Rias mulai mengerti dengan situasinya. Agaknya ucapan yang dimaksudkan untuk memuji itu malah membuat Himawari merasa sedih. Yap, berbicara dengan seorang perasa memang cukup sulit, salah sedikit saja dalam berucap, efek yang dihasilkan akan berbeda.
"Jadi mereka orang tuamu?" Rias mencoba mengalihkan pembicaraan seraya menggaruk Pipinya yang tak gatal. Sebuah gestur yang jamak dilakukan saat seseorang merasa canggung akibat situasi yang dibuatnya.
"Umh!" Himawari menjawab dengan anggukan mantap. Tangan gadis itu mulai menyodorkan Foto Keluarganya pada sang Gremory, hanya sekedar untuk memberikan gambaran bagaimana rupa ke dua orang tuanya.
"Jadi ini ke dua—"
"Eh?!. Kok aku merasa tidak asing, dengan rupa orang tuamu!" Rias memotong sendiri ucapannya, saat menatap Foto itu.
"Benar. Aku sepertinya pernah melihat Wajah ini!" lanjutnya seraya memperhatikan tampang Pria bersurai kuning yang ada didalam Foto itu.
Seseorang yang sangat mirip dengan Boruto, menjadi pusat perhatiannya. Yang membedakan ke duanya hanyalah Usia. Ya ... Pria itu jauh lebih dewasa dari pada Boruto. Dan ini merupakan salah satu alasan kuat kenapa Rias ngotot ingin menjadikan Boruto salah satu Budaknya.
"Otsutsuki Ashura ..."
"Ya ... Tidak salah lagi. Wajahnya sangat mirip dengan Ashura-Kun!"
"Heee?" Himawari kembali menyuarakan kebingungannya. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Onee-Chan bersurai merah itu.
"Ah, bukan apa-apa. Hanya saja, ayahmu sepertinya sangat mirip dengan kenalanku. Dia seperti bentuk dewasa dari Ashura-Kun, seseorang yang sangat kukagumi karena kehebatannya dalam Rating Game!" Rias mencoba menjelaskan sebisanya, meski agaknya Himawari masih tidak mengerti.
"Begitukah?. Yah, meski aku tidak terlalu mengerti, tapi aku cukup senang karena orang yang mirip dengan Tou-Chan adalah orang hebat" itulah respon dari gadis kecil itu. Senyum bangga terlihat menghiasi Wajahnya.
Entahlah. Rias sendiri tidak mengerti kenapa Himawari bisa sebangga itu. Manusia agaknya memang memiliki pola fikir yang rumit. Manusia akan merasa bangga saat ada orang hebat yang sama dengan dirinya atau keluarganya, meski hanya sama dalam Nama atau ciri fisik.
Aneh!.
Selama memikirkan itu, ucapan Himawari kembali menyadarkannya.
"Eumh~ Onee-Chan, bisakah suatu saat kau mengajakku untuk menemui Ashura-Niichan?"
Pertanyaan itu membuat Rias bingung. Gadis itu harus merespon apa?. Membawa Manusia ke Dunia Bawah merupakan sebuah pelanggaran. Jadi tidak mungkin jika dia bisa membawa Himawari untuk menemui Otsutsuki Ashura itu. Tapi, itu bisa saja terjadi jika ...
Boruto mau menjadi Budaknya. Dengan begitu, meski Himawari bukan seorang Iblis. Dia bisa membawa Himawari ke Dunia Bawah dengan alasan keluarga salah satu Budaknya.
Ini mungkin sebuah kesempatan yang baik untuk Rias, dalam upayanya membujuk Boruto menjadi Budaknya. Tapi disisi lain, memanfaatkan kesempatan ini membuatnya terkesan licik. Dan Rias tidak mau dianggap seperti itu.
Sungguh sifat yang aneh untuk seorang Iblis!.
"Rias-Onee-Chan?!" ucapan Himawari kembali menyadarkan Rias dari lamunannya.
"Ah, tentu. Tentu saja Himawari-Chan" ucap gadis itu pada ahirnya.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
Tanpa terasa Malam kembali menjemput, menggantikan sang Siang yang sudah bekerja dengan keras untuk menerangi Manusia. Boruto terlihat masih duduk di Ranjangnya menatap Bulan yang Malam ini terlihat indah dibalik Jendelanya. Sementara di Atap Rumah Sakit, Rias pun sedang melakukan hal yang sama, menatap sang Bulan yang bersinar terang.
Dan Himawari, gadis itu saat ini berada disebuah Taman dekat Rumah Sakit tempat Boruto dirawat. Duduk sendiri disebuah Ayunan.
Agaknya diantara mereka bertiga, sesuatu sedang mengganjal pemikirannya.
Namun ...
Deg!.
Deg!.
Sebuah Aura yang berat tiba-tiba saja terasa begitu kuat. Dan entah sejak kapan, seorang pria terlihat terbang di Langit Malam dengan lima pasang Sayap Gagak yang menghiasi Punggungnya. Tatapannya menatap sinis seorang gadis bersurai biru yang terlihat ketakutan saat menatap pria bersayap itu.
"Kufikir Aura kuat yang terasa tenang ini datang dari adik Lucifer. Ternyata bukan ... Aura sebesar ini dimiliki oleh Manusia rendahan sepertimu?!. Sungguh ironis!" ucapnya dengan suara serak yang terdengar sinis nan menyeramkan.
Sementara Himawari tidak menjawab. Ya ... Jangankan untuk menjawab, bernafas pun terasa sungguh sulit saat ini. Disela ketakutan dan kebingungannya. Yang terlintas saat ini hanyalah kakaknya. Namun saat mengingat bagaimana menyeramkannya Wajah sang kakak saat bermata putih, Himawari tidak jadi untuk meneriakan nama sang kakak.
Hingga ahirnya, gadis kecil itu hanya bisa menangis dalam ketakutannya!.
Sementara ditempat Rias.
Acara menatap Bulannya terhenti karena merasakan Aura Suci yang ternoda itu. Seketika itu juga hatinya bergetar, sebuah perasaan takut terasa merayap dalam hatinya. Tentu saja. Rias jelas mengetahui siapa sang pemilik Aura ini. Seseorang yang menolak dan secara terang-terangan memposisikan dirinya sebagai musuh diantara ke tiga Fraksi.
Seseorang yang juga sudah terkenal dalam sebuah Perang Besar diantara mereka bertiga. Sang Pembangkang yang namanya tertulis dalam Al-Kitab, Sang Pemusnah, Kokabiel!.
"Aura ini. Tidak salah lagi, dia ... Ketua dari Malaikat Jatuh Pembangkang, Sang Pemusnah, Kokabiel!" gumam Rias disela ketakutannya sendiri.
Hal yang sama juga dirasakan Boruto. bahkan seorang Suster yang saat itu sedang mengecek keadaan pemuda bersurai pirang itu jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Dan si pirang sendiri harus berjuang dengan susah payah, hanya untuk bernafas.
Benar-benar kekuatan yang dasyat dari sang Malaikat Jatuh!.
Namun tiba-tiba saja sebuah teriakan menghiasi indra pendengarannya, sebelum ahirnya ditutup dengan sebuah ledakan besar yang memekakkan Telinga. Bahkan tidak tanggung-tanggung, hanya oleh gemuruhnya saja, Kaca di Ruangan Rawat Boruto pecah.
Dalam ketidak-percayaannya akan kekuatan maha dasyat itu, Boruto teringat seseorang!.
"Suara itu ... Jangan-jangan?!"
Tanpa fikir panjang lagi, Boruto mencabut Selang Imfusnya. Darah terlihat memuncrat dari sana akibat gerakan kasar itu, diiringi dengan sebuah keluhan dari si pirang akibat rasa nyeri yang dirasakannya. Tapi itu bukanlah masalah. Toh selama berhadapan dengan Mahluk Supernatural, Rasa nyeri yang dialami Boruto jauh lebih menyakitkan dari ini.
"Himawari!" teringat kembali dengan alasanya mencabut Selang Imfus, Boruto mulai memaksakan dirinya untuk datang ke sumber ledakan.
Dan ternyata yang menyerukan nama itu bukan hanya Boruto, tapi Rias ditempatnya juga membisikkan hal yang sama. Dan dengan cepat gadis itu segera menghilang dalam Lingkaran Sihirnya. Rasa cemas akan keselamatan Himawari, membuat Rias melupakan ketakutannya.
Sementara dipusat ledakan.
Tepatnya disebuah Taman dekat Rumah Sakit, Kokabiel masih terlihat santai dalam posisi terbangnya, menampilkan senyum sinis sang Malaikat Jatuh yang masih asyik menatap hasil kerjanya. Yap, sesaat sebelum terjadinya ledakan, Kokabiel melemparkan sebuah Tombak Cahaya ke arah Taman yang masih ditempati Himawari.
Dan kini hasilnya, Taman seluas lima ratus Meter persegi itu musnah tak bersisa, menyisakan sebuah Kawah besar yang dalam. Lalu Himawari?. Saat Debu mulai menipis, gadis itu terlihat tak sadarkan diri dipusat Kawah.
"Huh?. Aku tidak menyangka kau bisa selamat dari seranganku. Tapi ..." ucapan Kokabiel menggantung, karena terpotong aksi mendaratnya ditepian Kawah. Dan dengan gerakan santai, sang Malaikat Jatuh mulai melangkahkan Kakinya ke pusat Kawah, seraya melanjutkan ucapannya.
"Takdirmu untuk mati tak akan berubah!" desisnya.
Sringgg!.
Entah darimana datangnya, sebuah Pedang Cahaya terlihat menghiasi Tangan sang Malaikat Jatuh. Kini Kokabiel berjalan ke arah Himawari, seraya memainkan Pedangnya. Memutar-mutar benda berunsur Cahaya itu, seperti sedang melakukan pemanasan sebelum menghunuskannya pada gadis bersurai pirang itu.
Namun ...
Duummm!.
Sebuah tembakan Aura Iblis tingkat tinggi mengarah padanya. Namun dengan mudah, Kokabiel membelah tembakan itu hingga menjadi dua dan meledak dibelakang sang Malaikat Jatuh. Kokabiel menatap seorang gadis bersurai merah yang berdiri dipinggir Kawah.
Dari gestur Tubuhnya, terlihat jelas jika gadis itulah yang menembakan serangan itu!.
"Pawer Of Destruction huh?. Rambut merah dan serangan mematikan yang memusnahkan targetnya hingga ketiadaan ..."
"Tidak salah lagi ... Kau pasti adik dari Sirzech Lucifer!. Ternyata apa yang dikatakan sampah itu benar!" ucap Kokabiel dengan santainya.
Saat mendengar ucapan Kokabiel, Rias kembali teringat dengan seorang Malaikat Jatuh yang berhasil kabur di Malam dimana Boruto pingsan. Jadi, kemungkinan besarnya Malaikat Jatuh itulah yang memberitahukan keberadaannya di Dunia Manusia.
"Sial!. Harusnya aku memusnahkan Malaikat Jatuh itu!" desis Rias.
"Tidak perlu repot-repot, sampah tidak berguna itu sudah aku bereskan. Aku tidak butuh orang lemah!" ucap sang Malaikat Jatuh tanpa beban, meski sudah melakukan hal yang kejam. Kokabiel mulai melangkahkan Kakinya kembali, mencoba mendekati Himawari.
"Sebelum aku membunuhmu, aku akan menghabisi gadis ini. Sampah kecil ini bisa saja sangat merepotkan nantinya"
Langkah Kokabiel sedikit goyah, seiring dengan perasaan aneh yang dirasakan Tubuhnya. Membuat langkahnya terhenti, menunggu hal seperti apa yang akan mengganggunya kali ini. Dan benar saja, Boruto muncul dan melesat dengan cepat ke arah Kokabiel.
Sang Malaikat Jatuh terlihat terkejut karena bisa terlambat dalam merespon serangan Boruto. Ya ... Entah sejak kapan Boruto sudah ada didepan Kokabiel, dengan sebuah Tinju yang terhunus pada sang Malaikat Jatuh.
Dalam pandangan Kokabiel sendiri, sebuah Tinju menghiasi semua pandangannya.
Dan ...
Bang!.
Tinju Boruto menghantam telak Wajah menyebalkan sang Malaikat Jatuh. Membuatnya Kokabiel terdorong ke belakang beberapa Meter. Dan Boruto mendarat tepat didepan Himawari yang pingsan. Bukan hanya Kokabiel yang terkejut dengan kecepatan Boruto, Rias pun merasakan hal yang demikian.
Tidak ada kata yang tepat selain, kata super super super cepat untuk Boruto. Ya ... Saking cepatnya, Malaikat Jatuh sekaliber Kokabiel pun terlambat menghindarinya!.
"Boruto!" teriak Rias seraya berlari ke arahnya.
"Tolong bawa Himawari pergi, serahkan saja dia pada—"
Ucapan pemuda bersurai pirang itu terhenti karena tiba-tiba saja Tubuhnya ambruk. Matanya yang berwarna putih, kini kembali menjadi berwarna biru cerah. Boruto berusaha bangkit dengan kedua tumpuan Tangannya, tapi ...
Craakkk!.
"Arrrggghhh!" bukannya berhasil berdiri, suara nyaring yang terdengar di Tangan kanannya membuat Boruto kembali terjatuh. Dengan Wajah menahan nyeri yang sangat, Boruto melihat Tangan kanannya yang sudah tak bisa digerakan lagi.
"Khahahaha~" Kokabiel tertawa merendahkan melihat keadaan itu, sebelum ahirnya kembali melanjutkan ucapannya.
"Menyedihkan sekali!. Kerusakan fatal justru didapat oleh si penyerang. Biarku tebak, pasti Tulangmu remuk akibat melancarlan pukulan itu?!" ucap Kokabiel dengan nada yang merendahkan.
Boruto hanya mengumpat kecil karena apa yang diucapkan sang Malaikat Jatuh itu benar. Sementara Rias hanya menatap cemas Boruto seraya memeluk Himawari yang masih pingsan.
"Rias ... Bawa Himawari pergi dari sini. Serahkan Gagak bodoh ini padaku!" ucap Boruto, seraya masih menahan nyeri.
"Ta-tapi—"
Ucapan Rias terhenti karena baru menyadari jika Kokabiel saat ini sudah berada didepan Boruto. Namun sebelum gadis itu berhasil memperingati si pirang, sebuah tendangan telak mendarat sempurna di Tubuh Boruto. Membuat pemuda bersurai pirang itu terlempar hingga menambak cekungan Tanah yang tercipta akibat serangan Tombak Cahaya Kokabiel sebelumnya.
"Kah!" Boruto muntah Darah, akibat tendangan itu. Pandangannya kabur akibat nyeri yang tak terkira. Boruto mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaganya, namun sebelum berhasil, Kokabiel kembali muncul dengan cepat didekat pemuda bersurai pirang itu.
"Kesombonganmu tak beralasan. Dasar Mahluk rendahan!" desis sang Malaikat Jatuh dengan sinisnya.
"Gah!. Jika aku tidak kelelahan, aku pasti bisa menghajarmu!" balas Boruto yang juga menggunakan nada yang tak kalah sinisnya.
Apa yang dikatakan Boruto cukup beralasan. Dalam satu minggu ini, pemuda bersurai pirang itu sudah melawan hampir dua puluh Iblis dan Malaikat Jatuh. Jadi wajar saja jika Boruto mencapai batasan kekuatannya. Jika saja Boruto dalam keadaan fit, bukan tidak mungkin perlawanan sengit atau bahkan kemenangan bisa didapat si pirang, meski mengharapkan sedikit keajaiban.
"Jangan membual!. Manusia lemah sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!"
Dan ...
Craasssshhh!.
Pandangan Boruto mengabur seketika saat sebuah Pedang Cahaya menembus Punggungnya hingga menancap di Tanah. Mata Rias membulat seketika saat melihat Pedang Cahaya itu bersarang di Tubuh Boruto. Dan dengan sebuah teriakan meras Rias menghambur ke arah Kokabiel dengan Pawer Of Destruction yang berpusat di kedua Tangannya.
"Kepaaraaatttt!" teriaknya
Mengisyaratkan sebuah kepedihan bagi siapa pun yang terkena serangan itu. Namun sayangnya, Rias kalah cepat. Ya ... Sebelum serangan maut sang Gremory mengenai Kokabiel, sang Malaikat Jatuh terlebih dahulu menghadiahinya sebuah sayatan melintang pada Iblis Clan Gremory itu.
"Akkhhh!" Rias berteriak menahan nyeri akibat serangan itu. Perutnya kini dihiasi oleh sebuah luka tebasan yang dalam. Dan pun Darah segera membanjiri Tubuh putih mulus itu.
Sang Gremory kini tak mampu lagi untuk bergerak, bahkan saat Kokabiel mendekatinya dengan tawa mengejek. Rias masih tak mampu bergerak. Dan disaat itu, Himawari tersadar dari pingsannya. Tepat disaat Kokabiel berniat untuk menghabisi nyawa Rias.
"Rias-Neechan ..."
Gumaman itu menghentikan aksi Kokabiel. Dan kini pandangan gadis itu hanya diisi oleh kepedihan. Gadis bersurai merah itu terlihat mengenaskan dengan luka di Perutnya, dan saat pandangan Himawari tertuju pada sang kakak. Alangkah terkejutnya gadis itu, karena Boruto sudah tak bernyawa lagi.
Dengan pandangan Kosong dan sempoyongan, Himawari mulai melangkahkan Kakinya mendekati Jasat sang kakak.
"Boruto ... -Niichan ..." gumam gadis itu dengan penuh ke putus-asaan. Tangannya mulai menggoyang-goyangkan Tubuh sang kakak, meski tau Boruto tidak akan bangun, namun gadis itu tetap melakukannya.
"Kahahaha~ Wajah itu ... Aku menyukainya. Aku suka melihat Wajah yang seperti itu" ucap Kokabiel disela tawa menyebalkannya.
Himawari berhenti menggoyang-goyangkan Tubuh sang kakak. Meski belum mengalihkan pandangannya pada sang Malaikat Jatuh, kemarahan dan dendam mulai mengisi hatinya. Dengan masih tersenyum sinis, Kokabiel meninggalkan Rias dan mulai mendekati Himawari.
"Nikmatilah pertunjukan ini Gremory, sebelum kau kuhabisi" ucapnya seraya melangkahkan Kakinya ke tempat Himawari.
"Kepa-raaa-aaaattt!" Rias kembali mengumpat sang Malaikat Jatuh. Ingin sekali gadis bersurai merah itu mendaratkan pukulannya pada Wajah menyebalkan sang Malaikat Jatuh. Tapi sayangnya Rias tidak bisa melakukannya. Luka di Perutnya yang terasa membakar Tubuhnya menjadi penyebab utama.
Mengabaikan itu, Kokabiel kini sudah berada satu meter dibelakang Himawari. Dengan Pedang Cahaya yang siap menghunus Punggung gadis itu.
Dan ...
Craassshh!.
Suara Daging yang ditembus benda tajam menghiasi Malam penuh Darah itu. Diiringi sebuah lolongan penuh kemalangan, merasakan rasa nyeri yang mendera Tubuhnya. Disela rasa sakitnya, Rias kembali membulatkan Matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ti-tidak m-mungkin?!"
BERSAMBUNG.
Mari kita membalas Review yang masuk.
Tapi sebelum itu, izinkan Author baru ini mengucapkan terimakasihnya untuk kalian yang sudah mau meninggalkan jejak. Sungguh ini terasa sangat berharga bagi Author. *bungkuk-bungkuk*
Dan untuk seterusnya, mohon jangan sungkan untuk memberikan Review lagi ya.
Guest
borurias lanjtkan
Siap.
Ini re-publish atau gimana...?
dah pernah baca tapi aq lupa milik author cp...
Ini hasil pemikiran saya sendiri. Ide cerita mungkin ada yang sama, meski setau saya Fandom Naru DxD hanya dipenuhi Misi dan Misi. Dan saya rasa baru saya yang lebih berfokus pada Rating Game. Jadi kemungkinannya kecil untuk sama dengan Fict orang lain.
Kalau pun ada, saya rasa hanya gaya penulisannya saja. Jujur gaya menulis dalam hal kerapihan, saya meniru Author dengan nick Tobi Tobio. Terlihat simple tapi rapi.
Mungkin ini yang membuat kamu ngerasa pernah baca.
Dsevenfold
Salam kenal...
Ficnya keren...
Ditunggu lanjutannya...
Yosh!. Makasih pujiannya. Dan makasih juga udah mau nungguin cerita saya.
The KidSNo OppAi
Lanjut tor
Siap.
.9
Type your review here. Bagus
Makasih.
Snowxzez
Apakah Himawari dan Boruto anak Naru dan Hinata?, jikalau benar apakah Himawari dan Boruto tau atau bakal ketemu?, lalu kalau aura Boruto berbeda dari manusia biasa apakah orang tua mereka berbeda jenis? Tolong jawab ya... :) menurut ane fiksi ini menarik :D
Sebagian sudah terjawab. Sebagian lagi, biarkan Waktu yang menjawab. Biar greget gitu. Ahahaha~ *ketawa gaje*
Dan makasih pujiannya.
