UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).

Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)

Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.

Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.

Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.

Ya ... Hanya itu ...

Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.

Ditambah lagi, seorang gadis cantik bersurai merah yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan memintaku menjadi budaknya!.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

Chapter 3 :: TENSEIGAN!.

Rias masih membelalak, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam pandangan gadis itu, sebuah Tangan mungil terlihat keluar dari Punggung dan salah satu Sayap sang Malaikat Jatuh. Ya ... Sebuah Tangan yang dilapisi cahaya hijau cerah telah menembus Tubuh Kokabiel!.

Agaknya itulah alasan kenapa Kokabiel melolong sedemikian rupa. Rasa nyeri yang dirasakan Tubuhnya akibat tusukan itu, menjadi penyebabnya.

"Ti-tidak ... Mung- ... Kin!" entah sudah berapa kali gadis itu mengulang dua kata itu, dengan Mata yang masih terbelalak. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tanpa terasa Tubuh Rias menggigil, merasakan sebuah tekanan Aura yang dasyat didepannya. Sebuah tekanan Aura yang jauh lebih menyeramkan dari apa yang diperlihatkan Kokabiel. Bahkan Alam pun terlihat ketakutan. Langit mulai berawan dengan sebuah Petir yang menyambar silih bergantian. Angin terasa bergerak tak tentu arah, membuat surai merah gadis itu terhempas kesana-kemari.

"A-apa i-ini?!" gadis itu kini memegangi Kepalanya. Merasakan ketakutan yang tak terkira, hanya karena sebuah tekanan Aura dasyat itu.

Mengabaikan keadaan Rias, Kokabiel terlihat tidak pantang menyerah. Dengan membuat sebuah ledakan kecil, sang Malaikat Jatuh itu berhasil keluar dari situasi tak menguntungkannya. Kokabial kini terbang di Langit, mencoba menjaga jarak dari sesuatu yang sangat berbahaya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?!. Bagaimana bisa Mahluk Rendahan sepertinya bisa memiliki kekuatan sebesar ini?!" gumam sang Malaikat Jatuh, tanpa menurunkan kewaspadaannya.

Wuusss!.

"Huh?"

Kokabiel terlihat terkejut, saat melihat sebuah tembakan Bola Energi raksasa berwarna hijau terang menerjangnya dengan cepat. Tanpa membuang-buang Waktu lagi, sebuah Sihir Pertahanan berlapis langsung melindungi Kokabiel.

"Haaaaaaaa!" Kokabiel berteriak keras, mengerahkan semua kekuatannya hanya untuk menahan serangan itu. Namun ...

Praaannkkk!.

Lingkaran Sihir Pertahanan pertama hancur berkeping-keping tak kuasa menahan gelombang destruktif yang menyerangnya. Dan diikuti oleh Lingkaran Sihir kedua, dan ketiga, tak lama setelahnya. Meski sudah mengerahkan semuanya, Kokabiel tetap tak bisa menahan serangan itu.

"Huaaaaaaaahhhhhhh!" sang Malaikat Jatuh itu kembali berteriak keras kembali mencoba meningkatkan kekuatannya. Dan Hasilnya, Lingkaran Sihir Pertahanan terahirnya bercahaya dengan terang. Namun sepertinya itu masih belum cukup.

Karena ...

Craakkk!.

Retakan mulai menghiasi Sihir Pertahanan Kokabiel. Merasa tidak mampu untuk menahan serangan ini, sang Malaikat Jatuh mulai berfikir untuk membelokan arahnya. Dan sepertinya keberuntungan masih menyertai Pembangkang itu, karena tepat sebelum Lingkaran Sihir Pertahanannya hancur, Kokabiel sudah terlebih dahulu membelokan arah serangan itu.

Wuussss ...

Tembakan itu meluncur dangan bebas melewati Kokabiel dan terus bergerak menjauh. Setelah benda menyusahkan itu hilang dari pandangannya, Kokabiel kini bisa melihat dengan jelas siapa yang sudah menembakan serangan gila itu.

Seorang gadis kecil bersurai biru, dengan seluruh Tubuhnya yang terlapisi Aura hijau terang. Terlihat mengarahkan salah satu Tangannya pada sang Malaikat Jatuh. Yap, dari gestur itu bukankah sudah jelas dia adalah si penyerang itu. Dan gadis itu jugalah yang menusuknya beberapa saat lalu.

"Grrrr!. Kauuu ..." Kokabiel mulai menggeram karena kesal dengan apa yang dilakukan gadis itu.

"Mahluk Rendahan kurang ajar!. Musnahlah bersama Negara kecil iniiiii!" Malaikat Jatuh itu sudah benar-benar kesal. Harga dirinya terasa diinjak-injak karena disudutkan oleh Manusia seperti gadis itu. Mahluk yang seharusnya jauh lebih lemah dari dirinya, yang merupakan seorang Malaikat yang dibuang!.

Tangan kanannya terentang ke atas. Masih dalam posisi terbang, untuk sekali lagi, Kokabiel kembali mengerahkan seluruh kekuatannya. Bukan untuk menahan serangan gadis kecil itu, tapi untuk melakukan sebuah serangan balasan.

Dari Tangannya yang teracung ke atas, sebuah Tombak Cahaya tercipta, dan terus membesar dan membesar. Jauh lebih besar dari Tubuh Kokabiel sendiri. Jika saat ini dilihat dari jauh, yang terlihat hanyalan Sebuah Tombak Cahaya yang terapung di Langit. Sementara Kokabiel hanya terlihat seperti sebuah titik kecil jika dibandingkan dengan besarnya Tombak Cahaya.

"Mati ... Matilah kau, Mahluk—" ucapan Kokabiel terhenti saat merasakan sesuatu dibelakangnya. Untuk sepersekian Detik Kokabiel hanya diam mematung dengan keringat yang terus merembes dari Pelipisnya. Tanpa berani melihat apa yang sebenarnya.

Namun meski tidak mau melihat, Panca Indranya yang lain tetap merasakan apa yang terjadi dibelakang sana, tanpa bisa dicegah.

Kulitnya benar-benar merasakan hawa panas yang dibawa oleh Angin yang berhembus dari sana. Telinganya dengan jelas mendengar sebuah gemuruh mengerikan dibelakang sana. Dan hatinya, hatinya saat ini berdegup kencang merasakan apa itu rasa takut.

Bisikan kematian terasa mulai menyapanya!.

Tidak jauh berbeda dengan Kokabiel, Rias pun merasakan hal yang sama. Sebuah perasaan yang mengatakan jika sebentar lagi dia akan mati. Pandangannya yang kosong terus menatap sebuah ledakan besar yang terjadi jauh dibelakang Kokabiel.

Namun meski sangat jauh, besarnya ledakan benar-benar tergambar dengan jelas. Bagaimana hempasan Udara yang menyapu semua yang ada disana, bagaimana Api yang dengan kejamnya membakar apa pun yang ada disana, semua itu benar-benar tergambar jelas dalam pandangan Rias.

Dan sudah tentu tidak akan ada yang tersisa sedikit pun!.

Gleekkk!.

Kokabiel menguk Ludahnya sendiri, berharap dengan itu dia bisa sedikit mengurangi rasa takutnya. Dan sepertinya itu berhasil. Meski tidak sepenuhnya rasa takut Kokabiel menghilang, nyatanya Malaikat Jatuh itu berhasil menguasai dirinya kembali.

"Matilahhhhh!"

Dengan sebuah teriakan lantang, Kokabiel melemparkan Tombak Cahaya super besarnya ke arah gadis itu. Namun si gadis tak bergeming. Dengan Mata biru yang memancarkan Cahaya terang itu, dia hanya menatap kosong sebuah Tombak Cahaya super besar yang mengarah padanya.

"Kau ... Onii-Chan ..."

Gadis itu bergumam tak jelas seraya menggerakkan Tangannya ke samping. Dan hasilnya, sebuah gelombang yang tak kalah besar dari Tombak Cahaya Kokabiel, muncul dari ketiadaan. Beradu dengan Serangan dari partikel Cahaya itu. Dan hasilnya, Tombak Cahaya Kokabiel hancur karena tak sanggup menghadapi daya penghancur gelombang Aura hijau yang dilemparkan gadis kecil itu.

Kokabiel benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Sebuah serangan pamungkasnya dihancurkan dengan mudah?!.

Padahal dengan itu, dirinya bisa selamat dari Perang Besar ke Tiga Fraksi, bisa dengan gagahnya menentang perdamaian yang dilakukan Kaumnya dengan Fraksi Iblis dan Malaikat. Tapi kenapa?. Kenapa serangan maha dasyatnya tidak bisa menandingi serangan yang dikeluarkan oleh Mahluk terlemah macam Manusia?.

Kenapa?.

Dan pada ahirnya, Malaikat Jatuh yang bernama Kokabiel itu, lenyap untuk selamanya dilibas gelombang Aura Hijau yang dilemparkan si gadis. Tak lama setelah itu, ledakan yang jauh lebih besar dari ledakan sebelumnya, pecah di Langit.

Dalam ketidak-mengertiannya, Rias masih sempat melihat gadis itu mencoba melindungi dirinya dengan Jasat Boruto, menggunakan Aura Hijau. Tapi, bagaimana dengan Rias?. Bagaimana dia bisa selamat dari ledakan ini?!.

Tidak mungkin Rias bisa mengandalkan kekuatannya, perbedaan mereka sangat jauh. Disisa-sisa waktunya, Rias hanya bisa berpasrah diri. Menutup Matanya, dan mencoba menerima takdir menyedihkan ini dengan Lapang Dada.

"Sungguh takdir yang aneh ... Aku akan mati oleh adik dari orang yang ingin kujadikan Budak ... haahhh~ sepertinya—" dengan Wajah yang terkesan menghina dirinya sendiri, Rias terus mengeluarkan segala uneg-unegnya. Tapi saat ini gadis itu tidak bisa lagi mendengar ucapannya. Yang terekam dalam Indra Pendengarannya hanyalah gemuruh ledakan yang memekakkan Telinga.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

"Buchou, hoi Buchou ... Sadarlah?!"

Sayup-sayup suara itu terdengar di Telinga Rias. Suara yang cukup dikenalnya. Suara seorang pemuda mesum yang sebulan lalu baru saja dia rainkarnasikan menjadi Iblis, setelah mati dengan mengenaskan di Tangan pacar pertamanya sendiri, yang ternyata adalah Malaikat Jatuh.

"Ise ... Kau kah ... Itu?!" Rias mengucapkannya dengan lemah. Saat ini pandangannya masih kabur, sehingga sosok yang terlihat, tidak terlalu jelas.

"Haahhh~ syukurlah. Ahirnya kau siuman juga. Aku sempat takut saat melihatmu pingsan"

Mengabaikan suara yang kembali menghiasi pendengarannya, Rias memaksakan diri untuk mendudukan dirinya. Salah satu Tanganya berada di Kening, karena rasa pusing yang menderanya. Lalu Pundaknya terasa disentuh seseorang, dan dilanjut dengan sebuah kalimat yang kembali didengarnya.

"Ara Araaa~ jangan terlalu memaksakan dirimu, Buchou"

Untuk suara yang satu ini, Rias tentu saja mengenalnya dengan pasti. Nada yang terdengar lembut nan menggoda seperti itu ... Sudah jelas, jika pemiliknya adalah Akeno, Ratu dari kerajaannya. Bahkan pada titik ini, Rias bisa menerka bagaimana expresi yang saat ini diperlihatkan gadis itu.

"Aku baik-baik saja, Akeno" ucap Rias. Saat ini Mata kembali normal, mampu kembali melihat dengan jelas. Dan hal pertama yang memenuhi pandangannya adalah seorang pemuda bersurai coklat yang tersenyum padanya, lalu disamping pemuda tadi, gadis cantik sedang berdiri seraya memegang pundaknya.

Dan seperti yang diperkirakan, mereka adalah ...

"Ise, Akeno ... Kenapa kalian ada disini?" tanya Rias. Wajahnya terlihat bingung. Ya ... Bagaimana bisa dua Budaknya bisa berada disini. Bukankah mereka ada di Dunia Bawah?!.

"Bukan hanya kami, Kiba dan yang lainnya, Azazel-Sensei, dan Grayfia-San juga" jawab si pemuda bersurai coklat itu.

"Uh?"

Seraya mengeluarkan suara dari Hidungnya, Rias mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk membuktikan kebenaran ucapan pemuda yang disebut Ise olehnya. Dan seperti yang disebutkan. semua Budaknya ada disini, plus sang mantan Gubernur Malaikat Jatuh, Azazel, dan Pelayan Sirzech Lucifer, Grayfia.

"Jadi ... Kenapa kalian ada—"

"Kau sudah siuman Rias?" sang Gubernur Malaikat Jatuh itu mulai mendekati Rias, saat menyadari jika gadis bersurai merah itu sudah sadar dari pingsannya, diikuti oleh Grayfia.

"Azazel-Sensei?. Kenapa kalian ada disini?!" Rias bertanya dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari Azazel. Ya ... Alasannya mendekati Rias adalah karena ada yang ingin ditanyakan pada Iblis Gremory itu. Tapi sayangnya dia kalah cepat oleh pertanyaan yang diajukan Rias.

"Haahhh~ soal itu ..." dengan sangat terpaksa Azazel mulai menceritakan tentang kenapa mereka bisa berada disini.

FLASH BACK.

Dunia Bawah.

Sebuah tempat yang terlihat sangat mirip denga Dunia Manusia. Hanya saja, Bangunan dan gaya berpakaian penghuninya seperti gaya Bangsawan Eropa abad pertengahan. Namun ada juga yang memang berpakaian masa kini, dan lebih modern dari abad pertengahan.

Sekilas Mata, Dunia Bawah tidak ada bedanya dengan Dunia Manusia. Yang membedakan hanyalah Langit yang ada diatas sana. Jika Dunia Manusia memiliki Siang dan Malam, Dunia Bawah hanya dihiasi Langit berwarna ungu yang terkesan kelam. Tanpa Bulan maupun Bintang.

Mengabaikan tentang keadaan dan suana Dunia Bawah, kini, disebuah Bangunan khas Eropa abad pertengahan yang megah sedang diadakan sebuah pertemuan penting dari para pemimpin dari ke Tiga Fraksi yang kini sudah berdamai. Namun meski sudah sepakat untuk menghentikan perang, penjagaan ketat tetap disiagakan mengingat mereka yang berkumpul adalah Big Bos dari tiap Golongan.

Fraksi Malaikat, Malaikat Jatuh dan Iblis!.

"Ini adalah kunjungan pertamaku ke Dunia Bawah, dan aku sangat terkejut dengan perkembangan yang kalian lakukan. Tempat ini ... Tidak lagi menyeramkan, bahkan terkesan indah meski tak seindah Surga" seseorang pria bersurai pirang dengan tanda Halo di Kepalanya mengatakan itu dengan tenangnya, seraya menyeruput Teh yang disediakan disana.

"Ya ... Kami merubahnya sedemikian rupa, dan semirip mungkin dengan Dunia Manusia. Setelah Ajuka menciptakan Evil Piece's yang melibatkan eksistensi Manusia, kami menyulap tempat ini menjadi seperti sekarang"

"Ini semua guna membuat mereka yang dirainkarnasikan menjadi Iblis merasa betah tinggal disini" jawab seorang pria bersurai merah, yang saat ini menjabat sebagai Maou Lucifer.

"Evil Piece's. Hah~ itu adalah terobosan yang bagus. Sebuah cara Instan guna memperbanyak Kaum Iblis dengan cepat!. Kalian benar-benar licik" ucap Azazel. Ya ... Meski sudah mundur dari Jabatan tertinggi Malaikat Jatuh, mereka tetap mengajak Malaikat Jatuh terkuat itu untuk berkumpul.

"Tidak perlu iri. Bukankah kalian pun sedang mengembangkan Metode yang sama dengan Evil Piece's—"

"Hoi Sirzech, Michael, dan Azazel. Jika tidak ada hal penting yang ingin kita bicarakan, aku lebih baik pulang ke Grigori. Banyak hal yang harus kukerjakan!" Seseorang berdiri seraya menggebrak Meja yang diduduki mereka berempat. Seseorang yang kini menjadi Pemimpin dari Kaum Malaikat yang ternoda. Shemhaza.

"Santailah sedikit. Kau terlalu serius, Shemhaza" Azazel mengatakan dengan santai seraya mulai bersiap untuk menyeruput Kopi yang digenggamnya.

"Jangan bercanda. Ini semua karena kau sangat malas saat menjadi Gubernur Malaikat Jatuh!. Dan karena itu, aku menjadi repot" Shemhaza membalas ucapan Azazel dengan penuh kekesalan. Tangannya menunjuk-nunjuk Wajah Azazel tanpa ampun.

Sementara Michael dan Sirzech tidak ikut campur dalam masalah mereka dua pemimpin dari Fraksi Malaikat dan Iblis itu lebih memilih menikmati Makanan mereka dengan gaya khas Bangsawan. Santai dan terlihat penuh kharisma. Hingga tiba-tiba ...

Mereka semua menghentikan aktifitasnya. Dan sedetik kemudian ke empat pria itu menampilkan Wajah yang serius, saling menatap satu sama lain, seperti sedang menyelaraskan pemikiran mereka, tentang apa yang dirasakan mereka sekarang ini.

"Apa ini?" Shemhaza bertanya entah pada siapa.

"Ini Aura yang besar ... Mahluk apa yang memiliki Aura sebesar ini?!" lanjutnya. Tidak ada yang menjawab. Semua orang ditempat itu diam dengan pandangan serius dan bertanya-tanya. Hingga ahirnya Azazel mengambil inisiatif.

"Haaahhh~" menghela nafasnya, seraya menaruh kembali Cangkir Kopi yang sudah hilang separuh isinya. Azazel melanjutkan ucapannya yang tergantung dengan nada bosan.

"Aku akan mencari tahu. Kalian tunggu saja laporan dariku!" ucapnya seraya mulai bangkit dari duduknya dan pergi dari tempat itu. Sirzech dengan cepat menyusul ikut berdiri, saat melihat Azazel mulai menjauh.

"Aku ikut!"

"Tidak. Kau adalah Pemimpin Fraksi Iblis, biar aku saja yang pergi. Akan jadi masalah besar jika terjadi apa-apa denganmu!" ucap Azazel santai.

"Ta-tapi ..."

"Apa yang dikatakan Azazel benar, Sirzech!" Michael mulai menyerukan pendapatnya, saat melihat sang Lucifer masih bersih keras untuk ikut.

"Cih!" meski kesal dan masih tidak terima, tapi Sirzech sepertinya masih mampu menahan dirinya dan kembali duduk.

"Kalau begitu ... Grayfia!"

Wanita yang dipanggil Grayfia segera tanggap. Setelah membungkuk Hormat pada sang Lucifer, dia segera bergegas menyusul Azazel yang sudah lebih dulu pergi. Dan disaat itulah mereka bertemu dengan kelompok Gremory yang akan melaporkan kondisi terkini di Dunia Bawah.

FLASH BACK END.

"Jadi begitukah?. Pancaran Auranya sampai ke Dunia Bawah dan membuat Iblis tingkat bawah pingsan"

"Sungguh diluar dugaan!" ucap Rias setelah mendengar cerita yang diucapkan Azazel.

"Lalu ... Siapa yang memiliki pancaran Aura seperti itu?!"

"Ah?!. I-itu ..." Rias mulai teringat dengan Himawari. Yap, pertanyaan Azazel mengingatkannya pada gadis itu.

"Himawari-Chan ..." gumam Rias. Azazel terlihat menaikkan salah satu Alisnya saat mendengar gumaman Rias.

"Dimana Himawari-Chan?!" lanjut gadis itu dengan paniknya.

"Jika yang kau maksud adalah ..." Hyoudou Issei, atau yang biasa Rias panggil Ise, mengatakan itu seraya menunjuk seorang gadis bersurai biru yang sedang menangis sambil memeluk Jasad pemuda bersurai pirang. Cukup jauh dari tempat mereka.

Rias segera berlari ke tempat Himawari, yang saat ini ditemani Asia dan Xenovia. Budak Rias yang mengambil sifat Bidak Peluncur dan Kuda. Jika dilihat dari gestur ke dua gadis itu, mereka sepertinya sedang berusaha menghibur Himawari. Namun fakta jika gadis itu tetap menangis, membuktikan jika mereka gagal melakukannya.

"Himawari-Chan ..." ucap Rias seraya mendudukkan dirinya disamping Himawari. Gadis yang dipanggil Himawari itu berbalik saat mendengar suara yang cukup dikenalinya. Saat pandangannya menangkap sosok Rias, tanpa banyak berkata-kata lagi gadis itu langsung menghambur dalam pelukan Rias. Menumpahkan segala kesedihannya pada sang Gremory.

"Onee-Chan ... Boruto-Niichan ... Hiks ... Hiks ..." gumamnya disela tangisnya.

Rias tidak tahu harus berkata apa. Meski belum pernah merasakannya, Rias mengerti apa yang dirasakan Himawari. Gadis itu bisa merasakan kepedihan Himawari yang ditingalkan oleh satu-satunya keluarga yang tersisa.

Saat memikirkan itu Hatinya sesak, merasakan sebuah dorongan yang terasa memenihi Dadanya. Dan tanpa sadar Rias membalas pelukan gadis itu, seraya mengusap punggungnya. Mencoba menyalurkan sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan Kata.

Dan saat tangis Himawari mulai mereda, Rias segera mengambil kesempatan itu untuk mengatakan sesuatu!.

"Hmm ... Himawari-Chan, apa kau ingin Boruto-Kun hidup kembali?"

Himawari sedikit terkejut dengan pertanyaan Onee-Chan bersurai merah itu. Benarkah Rias bisa menghidupkan kakaknya?. Menghidupkan orang yang sudah mati?!. Pertanyaan itu terus berputar-putar dalam otaknya.

Himawari melepaskan pelukannya terhadap Rias. Mencoba mencari kebenaran dalam pandangan gadis bersurai merah itu. Dan yang didapat, adalah pandangan penuh keyakinan bahwa dia bisa melakukan apa yang tadi diucapkannya.

"Benarkah?" meski sudah bisa menebak jawaban apa yang akan diberikan Rias, faktanya Himawari tetap menanyakannya. Mencoba lebih memastikan lagi apa yang dia rasakan.

"Umh!" Rias mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu.

"Hanya saja ... Bukan sebagai Manusia, tapi sebagai Budak Iblis seperti mereka" lanjut Rias seraya menunjuk Xenovia dan Asia yang masih ada disitu. Himawari terlihat bingung, dia takut jika Boruto akan marah saat tau dirinya menjadi Iblis.

Terlebih lagi, kakaknya selalu mengatakan ...

"Tetaplah seperti ini, terus berbuat baik pada orang lain. Karena dengan itu ... Kita bisa berkumpul kembali bersama Otou-San dan Okaa-San di Surga"

Himawari memang tidak terlalu faham dengan aturan Agama. Tapi dia cukup mengerti jika seorang Iblis tidak akan pernah masuk Surga. Bukankah itu artinya, mereka tidak akan berkumpul kembali di Surga?!. Dalam kebimbangan itu seorang gadis pirang menepuk Pundaknya.

"Tenang saja, meski kita adalah Budak Rias-Buchou ... Tapi dia memperlakukan kami dengan layak, seperti kelurganya sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir" ucap gadis bersurai pirang itu dengan senyum lembutnya.

"Benar yang dikatakan Asia. Buchou sungguh baik kepada kami!" seorang gadis bernama Xenovia menambahkan ucapan Asia. Gadis yang mengatakan kalimat itu barusan.

"Tapi ..."

"Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa" Rias mengatakan itu dengan senyum indah di Wajahnya. Tidak terlihat sedikit pun jika dia merasa tersinggung dengan gelagat penolakan Himawari.

Ya ... Meski faktanya Rias sangat menginginkan Boruto untuk bergabung dengan kerajaannya, Rias mencoba mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya lagi.

Pada poin ini Grayfia yang sedari tadi memperhatikan mereka tersenyum bahagia dengan peningkatan Rias. Gadis bersurai merah itu sepertinya sudah lebih dewasa. Dan tidak bersikap layaknya anak kecil lagi yang selalu memaksakan kehendaknya pada orang lain.

"Onee-Chan ... Jika menjadi Iblis bisa membuat Boruto-Niichan hidup kembali, aku rela ..."

"Aku masih ingin bersamanya dan melihat senyumnya ..." ucap Himawari lemah seraya menundukan Kepalanya. Ya ... Himawari sudah membulatkan tekadnya. Gadis itu tidak perduli lagi bagaimana respon Boruto nanti. Yang penting saat ini adalah kakaknya tetap bersamanya!.

"Baiklah ..."

Rias memulai ritual untuk menghidupkan kembali Boruto. Dan selama ritual itu berlangsung, Azazel yang sedari tadi diam mulai membuka suaranya. Saat sang Malaikat Jatuh itu mampu merasakan pancaran Aura yang ada di Tubuh Himawari.

"Aku tidak menyangka, gadis itu ..."

"jadi kau baru menyadarinya, Azazel-San. Gadis itu memiliki kekuatan yang lebih besar dari wanita itu ... Sebuah kekuatan evolusi dari bentuk Byakugan. Kekuatan yang disebut Tenseigan!" ucap Grayfia dengan tenangnya. Azazel sedikit mengerutkan Alisnya saat mendengar ucapan Grayfia.

"Bentuk evolusi dari Byakugan?. Apa jangan-jangan gadis itu ..."

"Tepat. Dia adalah keturunan mereka berdua!" ucap Grayfia kembali melengkapi ucapan Azazel. Sang Malaikat Jatuh itu mulai tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan itu. Kenyataan ini benar-benar terasa lucu untuknya.

"Buahahahaha~ aku sungguh tidak percaya jika kalian kembali mendapatkan sesuatu yang bagus!. Bocah itu pasti tidak bisa lagi berbuat seenaknya!" ucap sang Malaikat Jatuh, disela tawanya.

"Hah~" Grayfia malah menghela nafasnya mendengar respon sang Malaikat Jatuh. Agaknya pemikiran wanita terkuat di Dunia Bawah itu tidak sependapat dengan pemikiran Azazel.

"Kami memang sudah mengawasi mereka sejak lama, tapi aku tidak tahu jika Rias-Ojousama juga melakukan hal yang sama"

"Sejujurnya aku malah merasa takut. Kakak dari Himawari-San juga memiliki kekuatan yang besar. Sebuah gabungan dari kekuatan kedua orang tuanya. Akan sangat merepotkan jika ada dua orang yang sulit diatur seperti dia!"

"Heh!. Kau terlalu khawatir, apa kau tidak percaya dengan kepemimpinan Rias?" ucap Azazel. Sementara Grayfia tidak menjawab pertanyaan Azazel. Dia lebih memilih untuk memperhatikan proses rainkarnasi Boruto menjadi Iblis.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

"Hoi Boruto, Lima menit lagi Pertandingan akan dimulai. Buchou menyuruh kita untuk bersiap-siap" Issei terlihat menegur seorang pemuda bersurai pirang yang saat ini sedang melamun, duduk di Jendela, seraya menatap keindahan Dunia Bawah.

"Ya ... Aku akan segera datang" jawab pemuda bersurai pirang itu yang ternyata adalah Boruto.

Dan seperti itulah ... Pada ahirnya aku menjadi bagian dari Kerajaan Gremory. Menjadi Budak seorang gadis bernama Rias Gremory yang merupakan keturunan Iblis Bangsawan Murni.

Sudah satu Bulan sejak saat itu, tapi sampai saat ini aku tidak tahu ini benar atau salah. Tapi yang jelas, aku sangat berterimakasih dengan kesempatan ke dua yang datang padaku. Meski harus berubah menjadi Iblis, aku bisa menjaga Himawari lagi!.

Terimakasih, Rias. Dan maaf karena pernah meragukanmu!.

Lalu ...

Otou-San ... Okaa-San, aku akan berusaha. Meski aku tidak mungkin bertemu lagi dengan kalian, akan kupastikan jika Himawari bisa pergi kesana, dan hidup bahagia di Surga bersama kalian.

Disebuah Tempat Gersang.

"Benarkan ini sebuah negara yang dulunya disebut Jepang?" seorang pemuda bersurai pirang dengan pakaian khas Bangsawan Eropa mengatakan itu, seraya membawa dirinya berjalan menyusuri Tanah gersang itu. Dibelakangnya, seorang gadis bersurai indigo berjalan mengikutinya.

"Umh!. Itu benar Ashura-Sama. Tempat ini adalah Negara yang disebut Jepang ... Tempat anda merasakan kekuatan itu satu Bulan lalu" jawab si gadis indigo setelah menganggukan Kepalanya.

"Lalu kenapa ke Tiga Fraksi tidak memperbaiki tempat ini?" si pirang yang disebut Ashura itu kembali bertanya, seraya terus melangkah disana.

"Entahlah. Kurasa mereka memiliki sebuah alasan, karena informasi yang kudapat Fraksi Malaikat sengaja membuat kebohongan dengan cerita kegagalan Jepang dalam mengembangkan Teknologi Nuklir, adalah penyebabnya"

Ashura mengangguk mengerti dengan penjelasan yang gadis indigo itu. Hingga sesuatu yang asing, terasa diinjaknya. Dan saat pandangannya mencari tau, terlihatlah sebuah Foto Keluarga yang terlihat bahagia dan tertawa bersama.

Ashura mengambilnya dan mulai memperhatikan Gambar dalam Foto itu. Seorang pris bersurai pirang yang tertawa menggendong bocah pirang yang juga sedang tertawa. Lalu disampingnya seorang wanita bersurai indigo tersenyum lembut seraya menggendong seorang Bayi.

"Ini ..." tepat saat Ashura mengatakannya, hembusan Angin menyapa dan menerbangkan Surai pirangnya. Dan kini terlihat jelas, jika Mata pemuda itu berbeda dikanan dan kirinya.

Ya ... Jika Mata kanannya adalah sebuah Mata merah Darah yang dihiasi tiga buah tanda aneh, Mata kirinya adalah Mata ungu yang dihiasi sebuah pola riak Air dan beberapa tanda yang terlihat seperti Tanda Koma. Dan tanpa aba-aba, Ashura membakar Foto itu dengan Api yang tiba-tiba saja muncul di Tangannya.

"Menarik ..." gumamnya dengan sebuah serangai yang terlihat cukup menyeramkan.

BERSAMBUNG.

Okeh~ ahirnya Chap 3 beres. Dan saya sungguh tidak menyangka dengan respon yang super, super, super positif yang saya dapat. Saya sangat senang untuk itu.

Dan ... Happy 11 Review!. Kemajuan pesat nih, mengingat Chap 1 hanya dapat 6. Semoga Chap 3 ada kemajuan lagi.

Yosh!. Itu sangat banyak dan berarti untuk saya. Emang sedikit sih sebenarnya, tapi berhubung saya adalah orang baru di Dunia Fanfiction, bukankah itu patut dibanggakan?.

Ahahaha~ gak usah dipikirin. Sekarang, mari kita balas Review!.

XavierLucifer87

aku akuin tulisan perihal penulisanmu bagus saya suka itu

tapi yang paling mengganjal kenapa setiap harem ise selalu di rampok (?)

bukan maksudku mencela tentang pair , hanya mempertanyakan itu saja .

cerita menarik , tapi pas baca rias sama akeno (?) kenapa dia sebegitunya ya ampun :V

Terimakasih pujiannya. Entahlah, saya pun mulai berfikir begitu. Tapi sudah terlanjur juga sih, jadi kalo dirubah, bisa ngeganggu cerita yang sudah saya rancang. Yah, soal dua Onee-Sama itu ... Entahlah. Saya gak berani komentar :v.

Sukez

coret-coret di kotak review..

wih. ficnya bagus bro. tetap lanjutkan sampai end. aku mendukungmu.

masalah kritik dan saran kayaknya belum ada..

Terimakasih Senpai :D

Hyosuke Ryukishi

Tak bisa berkata apapun selain impresif...

Haha...

Inilah yg namanya anti-mainstream.

Sangat memuaskan dari segi cerita dan gaya penulisan. Enak bener buat dibaca. Santai gituh.

Oke deh... Lanjutkan terus karyamu ini.

Izin favs dan follow.

Salam sesama newbie 'o')b

Wah terimakasih. Dan tentu saja, silahkan. Saya sangat senang jika kamu sudi untuk mem-Foll & Fav fiksi saya. Yap, salam sesama newbie juga (/ ^.^)/\('o' \)

Papa Haise The Centipede

Oh yeah! Ini benar-benar menyegarkan! Sebuah ide cemerlang yang baru saya temukan di fendom ini.

Gaya penulisan simple. Namun, rapi dan memuaskan benar-benar mendukung fiksi ini! Didukung

dengan MC yang anti-mainstream membuatnya tampak sempurna! Ah senangnya. Ok izinkan diri ini untuk memfav dan follow fic anda! Terimakasih untuk fic segar ini. Dan salam anti-mainstream! :D

Hoalaaahhhh~ pujiannya bikin saya melayang *plaakk* makasih, makasih banget. Tentu saja dengan senang hati, saya akan sangat bangga jika kamu mau mem- Foll & Fav fiksi saya. Dan tentu saja, salam Anti-Mainstream juga.

The KidSNo OppAi

Wkkkk apa hasura menang ayah bold dan hima?

Lanjut tor

Maybe ... Bisa iya bisa enggak *plaakk* saat ini mungkin lebih baik dirahasiakan dulu, biar geerrrrr~ gitu :v

Ryusuke RootWood

Mantab vroh '-')b

Oke ... Lanjuttt '-')/

Salam sesama Author Newbie!

Makasih, salam sesama Author Newbie juga.

Snowxzez

Hmm ane jadi bingung mau kasih review apa. menurut ane ini bagus, dengan word yang pas -menurut ane, tapi sayang TBCnya ga pas... maksudku, waktu lagi seru-serunya malah TBC. lalu soal Himawari ane penasaran sama kekuatanya, kan kata Kokabiel pancaran auranya lebih kuat dari Rias. Kalo bisa kasih tau detailnya, sama kekuatanya Boruto... Lanjut Author!

Yap, makasih pujiannya. Sepertinya sedikit gambaran sudah terlihat soal kekuatan Boruto dan Himawari. Jelasnya mungkin akan keluar di Chapter-Chapter seterusnya.