UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
•••••
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•••••
Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.
•••••
Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.
Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.
Ya ... Hanya itu ...
Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.
Ditambah lagi, seorang gadis cantik bersurai merah yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan memintaku menjadi budaknya!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Chapter 5 :: Niat Tersembunyi!.
•••••
"Menyenangkan bisa bertemu denganmu sebelum kita bertarung dalam Rating Game nanti, Boruto-Kun" ucap seorang pemuda tampan dengan senyum bak pangerannya.
"Namaku Diodora Astroth. Penerus Kepala selanjutnya Clan Astroth ... Sekali lagi, senang bertemu denganmu" ucap pemuda itu, memperkenalkan dirinya.
"Lalu apa maumu?" tanya Boruto santai, namun terdengar ketus.
"Walah~ walaaahh~ ketus sekali" jawab Diodora masih tersenyum manis. Yap, jika dilihat sekilas, Diodora ini adalah bentuk lain dari Kiba yang selalu tersenyum manis seperti itu. Sepertinya apa pun kondisinya, pemuda yang disiapkan untuk meneruskan nama besar Astroth itu tidak akan kehilangan senyumnya.
Dan seperti yang Boruto kira, Issei adalah salah satu orang yang paling tidak suka dengan keberadaan Iblis Bangsawan itu, selain Juga Rias. Meski yang lainnya pun terlihat tidak suka. Namun, mereka sama sekali tidak mengganggu perbincangan dua pemuda tampan itu. Karena Diodora datang dengan sebuah kunjungan resmi atas nama Clan Astroth.
"Aku yakin kau datang kesini bukan hanya untuk mengenalkan dirimu saja kan?" ucap Boruto lagi masih dengan nada yang sama. Ketus dan tanpa menaruh hormat sedikit pun pada penerus Clan Astroth itu.
"Ya ampun ... Aku ini Iblis Bangsawan loh?!. Sama seperti Rajamu itu, jadi—" bukannya menjawab, Diodora malah mengungkapkan keluhannya, dan tentu saja dengan senyum indah sang Astroth. Meski ucapannya dipotong lawan bicaranya tanpa ampun.
"Lalu apa perduliku?!" Boruto masih tak perduli. Dibalik pandangan malasnya, pemuda bersurai pirang itu juga menyimpan rasa ketidak-sukaanya.
'Bagus Boruto, terus seperti itu!. Kita tidak perlu menaruh hormat pada pria brengsek seperti dia!' batin Issei dengan pandangan berapi-api.
"Aku cukup tahu rekormu dalam insiden Iblis Muda beberapa Tahun silam. Dan aku rasa, aku tidak perlu menghormatimu—" ucapan Boruto terhenti saat sebuat tepukan di Pundak dirasakannya. Dan terlihat dalam pandangan pemuda bersurai pirang itu, Tangan putih mulus Rias berada disana. Sebuah gelengan Kepala diperlihatkan gadis cantik itu.
"Haahhh~ aku mulai muak dengan gayamu, Diodora-Kun. Apa sebenarnya yang kau rencanakan kali ini?!" ucap Rias yang kini menatap tajam Iblis murah senyum itu.
Diodora kembali tersenyum manis mendengar ucapan ketus Pewaris selanjutnya Clan Gremory itu. Untuk sekilas pandangan Iblis tampan itu tertuju pada Asia, membuat mantan Biarawati itu kembali menyembunyikan dirinya dibelakang Issei.
"Santai saja, aku sudah berubah sejak Sekiryuutei itu mengalahkanku"
"Aku datang kesini karena penasaran denganmu, Boruto-Kun. Aku penasaran kenapa Ajuka-Niisama sangat menyukaimu. Hanya itu" ucap Diodora santai.
"Baiklah aku hargai ketertarikanmu terhadap Pionku, tapi—"
"Pion?!"
"Jangan bercanda Rias-Chan, Boruto-Kun bukan bagian dari kerajaanmu. Bukankah kau tahu itu?!" ucap Diodora santai, meski ucapannya kini terkesan cukup provokatif.
"Ck!"
"Maaf bisakah kau pergi sekarang?. Aku harus latihan" Boruto tiba-tiba mengatakan itu saat menyadari Rias mulai terbawa emosi karena ucapan Bangsawan Clan Astroth itu.
"Mengusirku dengan terang-terangan?!. Baiklah. Sampai jumpa di Rating Game, Boruto-Kun. Aku tidak akan melakukan protes dan memanfaatkan keadaanmu saat ini, karena aku ingin tahu kekuatanmu!" ucap Diodora sambil berdiri, sebelum ahirnya hilang dalam Lingkaran Sihir Teleportasinya.
Perbatasan Dunia Bawah dan Grigori.
"Kau yakin akan melakukan itu?" seorang pria berpakaian Yukata santai menanyakan itu pada pria bersurai merah panjang dihadapannya.
"Ya ... Ini adalah momen yang pas. Kita akan memanfaatkan Diodora-Kun!" jawab pria bersurai merah itu. Senyum misterius terlihat menghiasi Wajah tampannya.
"Kau benar-benar licik, Sirzech. Kau akan berada dalam masalah jika Ajuka tahu!" desis pria berpakaian Yukata itu.
"Jangan khawatirkan, aku sudah punya rencana soal itu. Tidak mungkin aku mengajakmu jauh-jauh bertemu ditempat ini jika tidak ada rencana!. Iya kan Azazel?!" balas Sirzech, si pria bersurai merah itu, yang masih setia senyum misteriusnya.
"Cih!. Kau benar-benar Iblis!"
Ditempat Boruto.
Hari sudah sangat larut, dan Boruto baru saja menyelesaikan latihanya. Hari ini pemuda bersurai pirang itu sedikit memaksakan diri, mengingat besok lusa adalah Hari pertarungan Rating Game dengan kerajaan Astroth. Dan juga, ini hari terahir kelompok Gremory latihan.
Namun kali ini ada yang aneh. Mansion kecil yang disediakan Clan Gremory untuk Boruto dan adiknya terasa sepi. Apa karena sudah larut Malam, Atau ...
"Ck!. Sial!" Boruto mengumpat kesal dengan situasi ini, instingnya mengatakan ini bukanlah kejadian biasa. Seseorang pasti sedang melakukan sesuatu pada adiknya.
Tanpa buang waktu lagi, Boruto segera mengeluarkan kekuatannya. Mata Byakugan sudah aktif, ditambah dengan senjata baru pemberian Ajuka dan Azazel, yang kini sudah muncul dari ketiadaan, dan tersimpan rapi di Punggungnya, disela lima pasang Sayap Kelalawarnya.
Merasa persiapan sudah cukup, Boruto segera melesat ke depan dengan kecepatan tinggi. Namun seperti yang dikira, kesunyian ini bukanlah karena sudah larut, tapi karena ada sesuatu yang tidak beres. Itu terbukti dari munculnya sekelompok Iblis yang tiba-tiba menghadang si pirang.
Ada sekitar tujuh Iblis yang memiliki Sayap antara empat sampai lima pasang. Menandakan jika mereka bukanlah Iblis sembarangan!.
"Minggir!" Boruto berteriak seperti itu seraya mengeluarkan tembakan Aura Iblisnya. Sebuah tembakan yang cukup besar untuk mengahiri ini dengan cepat, namun dua dari tujuh Iblis yang dilawan Boruto bisa menahan seranganya dengan Sihir Petahanan berlapis.
"Kah!. Sepertinya rumor tentangnya benar, bocah itu mungkin sekelas Iblis Kelas Ultimate!" gumam salah satu dari dua orang yang mencoba menahan tembakan Aura Iblis Boruto. Melihat rekannya yang kesulitan menahan serangan Boruto, dua Iblis segera melesat mencoba menyerang Boruto.
Sat!.
Dengan kecepatan yang luar biasa, dua Iblis itu kini ada dikanan dan kiri pemuda bersurai pirang itu. Sebuah tinju yang dilapisi Aura Iblis juga telah dilayangkan mereka secara bersamaan, mengincar Kepala pirangnya. Tapi Boruto cukup sigap untuk merespon situasi berbahaya itu.
Dengan kekuatan Sacred Gearnya, Boruto mampu menahan pukulan itu dengan mudah. Bahkan efek lanjutanya, dua Iblis penyerang itu malah terlempar hingga menabrak Dinding Bangunan disekitar. Akibat tidak mampu untuk menahan daya tolak yang diberikan Boruto.
Namun serangan tidak berhenti disitu, diatasnya tiga Iblis lain terlihat terbang disana dan mulai membombardir Boruto dengan tembakan Aura Iblis berkelanjutan. Tanpa ampun pemuda bersurai pirang itu dihadiahi oleh Hujan Tembakan Aura Iblis tingkat tinggi.
Dum!.
Dum!.
Dumm!.
Tempat Boruto berpijak kini sudah tak berbentuk lagi, akibat ditembaki tanpa henti sekitar lima menit lamanya, oleh ketiga Iblis itu. Debu bertebaran dimana-mana menutupi jarak pandang ketujuh Iblis yang menyerang Boruto. Namun dilihat dari kekuatan si pirang, mereka yakin jika Uzumaki Boruto tidak akan kalah semudah itu.
Dan benar saja, saat Debu mulai menipis, terlihatlah sebuah Aura biru terang berputar dengan cepatnya disekitar Boruto. Menahan setiap tembakan yang dilancarkan tanpa henti itu. Terbukti dari bagian dalam Kubah Aura biru itu yang masih terlihat baik-baik saja.
Setelah berhenti berputar, Boruto terlihat kebingungan. Bukan karena putaran cepatnya saat melakukan Jutsu tadi, tapi karena dia sendiri tidak tahu apa yang sudah dilakukannya. Semua itu terjadi begitu saja, Tubuhnya terasa bergerak sendiri saat itu.
"Tadi itu apa?!" gumamnya dalam kebingungan.
"Kaitenkah?" tiba-tiba sebuah nama terlintas dalam fikirannya, saat mencoba mencari tahu tentang Jutsu yang baru saja dikeluarkanya.
Namun tidak ada waktu untuk bingung dan mempertanyakan kebenaran fikirannya, karena saat ini dua Iblis yang tadi kepayahan saat menahan Tembakan Aura Iblis Boruto, mulai menyerang!.
"Mati kau Uzumaki Boruto!" teriak salah satu dari mereka. Dengan sebuah Pedang dari Aura Iblis yang dipadatkan sedemikian rupa, mereka mencoba menyerang pemuda bersurai pirang itu dari jarak dekat.
"Sial. Aku tidak punya banyak tenaga!" umpatnya, seraya mengambil Sabit panjang pemberian Ajuka dan Azazel dari punggungnya.
Seperti yang diucapkan pemuda pirang itu, Boruto sudah cukup kehilangan banyak energi dari latihannya. Jadi sebisa mungkin, Boruto harus segera mengahiri ini dengan cepat. Terlebih lagi, bukan hanya mereka yang kemungkinan besar menyerang tempatnya. Pasti ada beberapa lagi dari mereka disekitar sini.
"Grim Reaper Ability!. Death!" Boruto melafalkan salah satu Jutsu yang sudah dikuasainya. Dan sebuah ke anehan terjadi. Tebasan Pedang Aura Iblis itu menembus Tubuh Boruto, begitu pun juga dengan tebasan Sabitnya yang juga menembus Tubuh dua Iblis itu.
Namun, Tubuh Iblis-Iblis itu mulai berasap setelah tertebas Sabit Boruto hingga ahirnya lenyap menjadi kumpulan Aura Hitam yang terserap ke dalam Sabit Boruto.
"Nyaaam~ nyaaamm~ nyaaammmm~ ini enak sekali Boru-Sama!" suara kekanak-kanakan terdengar dalam kepala Boruto saat Aura hitam itu sudah sepenuhnya terserap dalam Sabitnya. Perasaan janggal kembali dirasakan Boruto saat mendengar suara itu.
Namun ini bukan saatnya. Karena masih ada lima Iblis lagi yang menunggu untuk dikalahkan!.
"I-itu ..."
"Tidak salah lagi, itu adalah kekuatan Grim Reaper!. Bagaimana bisa bocah itu mendapatkan kekuatan seperti itu?!"
Dalam kepanikan itu, tiba-tiba saja sebuah tepuk Tangan membahana disana. Dan saat pandangan si pirang mencari asal sumber suara sebuah sosok pria bertopeng merah berdiri disamping sosok seorang wanita bertopeng silver yang terlihat menggendong Himawari dalam keadaan pingsan.
"Ah!. Himawari?!" desis si pirang. Boruto sudah bersiap untuk menghambur secepat mungkin untuk menyerang wanita yang menggendong adiknya, namun sebuah gerakan kecil dari Tangan pria disampingnya cukup untuk menghentikan gerakan Boruto.
"Mari kita lihat, mana yang lebih cepat. Gerakanmu atau tembakan Pawer Of Destructionku?" ucap pria bertopeng merah itu dengan santainya. Telunjuknya mengarah pada Himawari, namun yang menjadi perhatian Boruto adalah sebuah Aura merah pekat yang siap untuk ditembakan kapan saja dari sana.
"Cih!" Boruto berdecak kesal. Lalu melemparkan Sabitnya ke Tanah. Dan beberapa saat kemudian Sabit itu hilang dalam ketiadaan.
"Aku menyerah. Apa maumu sebenarnya?!" ucap Boruto dengan pandangan kesal pada pria bertopeng merah itu.
"Khuhuhu~ sepertinya kau adalah orang yang mudah diajak bicara ya, Boruto-Kun!" ucapan itu mungkin sebuah pujian. Tapi entah kenapa Boruto merasa kesal dan merasa dipermainkan saat ini.
"Jangan banyak bicara, apa maumu keparat?!"
"Hoooo~ kau tidak sabaran ya, Boruto-kun. Baiklah, mari kita buat perjanjian. Adikmu akan baik-baik saja jika kau mengalah di pertandingan melawan Clan Astroth nanti"
"Ck!"
"Santai saja. Aku bisa pastikan adik kecil ini aman jika kau menuruti permainan kami" lanjut pria bertopeng merah itu dengan santainya. Meski Boruto kini terlihat benar-benar kesal.
"Siapa kau sebenarnya?!. Jika kau memang seorang pria ayo kita bertarung!"
"Atau ... Kau hanya seorang pengecut?!" desis Boruto dengan kekesalan yang sudah memuncak. Si pria bertopeng merah yang semual ada cukup jauh didepannya kini sudah berada dibelakangnya. Sangat cepatnya pergerakan itu, membuat Boruto terlambat merespon, meski mampu melihat pergerakannya.
Bukk!.
Pukulan keras di Tengkuknya membuat Boruto rebah. Pria itu pasti saat ini sedang tersenyum sinis dibalik Topengnya melihat Boruto begitu mudah dikalahkan hanya dengan sekali pukul.
"Kau mungkin kuat. Tapi saat ini itu belum cukup untuk mengalahkanku!. Ditambah lagi, pertarungan kita tidak termasuk dalam permainan ini" ucap pria bertopeng merah itu.
"Si-sial ..." ucap Boruto sebelum benar-benar pingsan.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Saat ini Rias baru saja sampai di Mansion utama Clan Gremory. Beberapa Maid terlihat menyambut kedatanganya meski sudah cukup larut. Namun tepat saat Rias ingin memasuki Bangunan megah itu, Jantungnya tiba-tiba saja bergetar hebat merasakan kekuatan besar yang coba untuk diredam sedemikian rupa, yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Dan mengabaikan teriakan Maid-Maid itu, Rias memilih berlari untuk menyelidiki sumber pancaran Energi yang dirasakanya beberapa saat lalu.
"Kekuatan ini ... Tidak salah lagi. Ini kekuatan Onii-Sama!" gumam gadis itu seraya berlari menuju tempat dimana Aura yang dirasa milik kakaknya itu berasal.
Gadis bersurai merah itu ahirnya sampai ditempat yang dimaksud. Dan Rias cukup terkejut karena ternyata, tempat itu adalah Mansion yang diperuntukan Boruto dan Adiknya. Ya ... Rias baru menyadari itu sesaat setelah sampai ditempat itu.
Pijakan yang porak-poranda, serta lubang dibeberapa bagian Dinding Mansion Boruto. Tidak salah lagi, itu adalah bekas-bekas pertarungan!.
Saat gadis cantik itu dalam kebingungan, seorang pria tampan bersurai merah panjang dan seorang wanita bersurai perak muncul dari arah Mansion Boruto.
"Sirzech-Niisama, Grayfia-Neesama?!" ucap Rias yang mengenali dua orang itu. Si pria bersurai merah itu tersenyum lembut, melihat adik kecilnya itu. Sementara wanita bersurai perak itu tetap diam dengan Wajah datarnya.
"Biar kami yang mengurusnya. Kau hanya perlu fokus pada pertarungan Rating Game saja" Sirzech mengatakan itu sebelum Rias sempat menanyakan apa yang terjadi.
"Ta-tapi Onii-Sama—"
"Tenanglah Rias, Boruto-kun baik-baik saja. Dan Himawari ... Dia juga baik" ucap Sirzech.
"Mungkin" lanjutnya dalam gumaman kecil. Sirzech lalu melirik wanita disampingnya, dan wanita itu, Grayfia mengangguk mengerti dan langsung membawa gadis bersurai merah itu menjauh.
"Rias, kau tau kan jam kerjaku sebagai Kepala Maid Gremory sudah selesai. Dan kini aku akan bertindak sebagai kakakmu. Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Grayfia seraya menarik Rias tanpa perduli apa jawaban yang akan diucapkan gadis cantik itu.
"Ta-tapi Nee-Sama—" ucapan Rias terhenti karena melihat tatapan tajam dari istri kakaknya itu. Dan pada ahirnya Rias hanya bisa pasrah mengikuti sang Onee-Sama pergi.
Ke Esokan Harinya.
"Himawaarriii?!" Boruto terbangun dengan meneriaki nama adiknya. Untuk sesaat dia terlihat bingung kenapa pemuda bersurai pirang itu ada di Kamarnya?!. Bukankah semalam dia bertarung dengan Iblis-Iblis pengecut itu?!.
"Mimpikah?!" gumam Boruto yang sudah mulai tenang dan tidak sepanik tadi. Pandangannya kini teralihkan pada Jendela, melihat tempat semalam jadi arena pertarunganya. Dan tempat itu terlihat baik-baik saja, tidak terlihat jika pertarungan pernah terjadi disana.
"Syukurlah jika itu hanya mimpi ..."
"Itu bukan mimpi Boruto-San" seseorang kini menimpali gumamanya. Suara wanita tegas seperti itu, bukankah sudah pasti dia adalah ...
"Grayfia-San?. Aku sama sekali tidak menyadari kehadiranmu loh?!" ucap Boruto yang baru menyadari jika dia tidak sendiri. Ada sang Kepala Maid Gremory, yang sedari tadi berdiri disamping Ranjangnya.
"Maaf jika kehadiran saya mengganggu anda. Tapi saya hanya menjalankan perintah Lucifer-Sama" jawab Grayfia seraya membungkuk sopan.
"Perintah?"
"Ya ... Saya diminta Lucifer-Sama untuk menenangkan anda dan berfokus pada Rating Game ... Soal hilangnya Himawari-San, Lucifer-Sama yang akan mengurusnya" Boruto cukup terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan wanita berambut silver itu.
Jadi itu bukan mimpi?!.
Dan ...
Tenang?!
"Mana bisa aku akan tenang jika adiku saat ini sedang diculuk?!. Apa kau tidak mengerti hah?!" bukanya tenang seperti yang diucapkan Grayfia, Boruto malah berteriak kesal seraya mencengkram kerah seragam Maidnya.
Entah sejak kapan pemuda bersurai pirang itu bergerak. Namun yang pasti, Boruto sudah berdiri dan mencengkram Kerah Grayfia saat ini. Wanita bersurai silver itu tidak melawan, atau berusaha untuk melepaskan diri. Grayfia hanya diam saja dengan pandangan tenangnya yang tertuju pada Boruto.
"Maaf ..." ucap Boruto pada ahirnya. Cengkramanya sudah terlepas, dan kini Wajahnya merunduk. Sepertinya sesuatu sedang mengganjal Hatinya saat ini.
"Maafkan aku ... Aku sedikit terbawa emosi" ucap Boruto masih dengan wajah yang tertunduk.
"Tapi bisakah kau meninggalkanku sendiri?!. Aku membutuhkan privasiku" lanjut Boruto. Kini Wajahnya terangkat. Mata biru laut indahnya kini tergantikan dengan Mata Putih yang terlihat menyeramkan. Menatap sosok Grayfia tanpa ampun, seolah-olah wanita itu adalah penjahat keji yang tak bisa diampuni lagi, karena kesalahan-kesalahannya!.
Gleekk!.
Grayfia meneguk Ludah saat ditatap Boruto dengan Mata Byakugan-nya, tenggorokanya terasa kering. Ini adalah kali pertama wanita terkuat di Dunia Bawah itu melihat Mata sakti Boruto dari dekat. Dan itu cukup untuk membuat Grayfia merasa detak Jantungnya tak beraturan, disertai perasaan was-was.
"Baik ..." dengan sangat bersusah payah Grayfia mengatakanya. Ada perjuangan yang cukup besar yang dilakukan wanita itu, hanya untuk satu kata. Yap, dalam keadaan was-was seperti itu, tetap berusaha terlihat tenang tentu saja sangat sulit. Ditambah harus mengeluarkan jawaban, dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin.
Bukankah itu sangat sulit?!.
Dan sialnya, hal ini pun berlaku untuk Ibis sekelas Ratu Lucifer itu!.
Grayfia kini terlihat berjalan diluar, terus melangkahkan Kakinya untuk menjauhi Mansion Gremory yang diperuntukan untuk Boruto. Wanita itu tidak menoleh sedikit pun meski merasa jika saat ini dia sedang diawasi oleh pemuda bersurai pirang itu.
Dan seperti yang difikirkan Grayfia, Boruto memang saat ini terus menatapnya dibalik Jendela dengan Mata Byakugan itu.
"Tidak ada yang tidak bisa dilihat Mata ini ... Grayfia-Ojousama!" desis Boruto dengan Wajah penuh dengan kekesalan.
BERSAMBUNG.
Ini Balasan Review Chapter 3+4
Root Wood :: Yap, makasih pujianya. Ahahaha~ Ashura sama gadia loli kayanya berhasil nih bikin penasaran:D. Makasih-makasih udah mau Fav & Follow fiksi jelek saya ^_^
Salam Sesama Author Nubi juga
Iblis Pemetik Bunga :: Oh, makasih pujianya. Hoho~ entahlah. Tapi makasih loh udah penasaran sama fiksi saya ahahaha~ seneng amat fiksi buatan saya disukai Author senior kaya kamu. Asli loh saya bangga banget!.
Salam Anti Mainstream
Sukez :: Siap. Dan makasih, saran mu sangat berguna. Dan makasih juga udah terkesan sama fiksi ini!. Jujur aja saya seneng banget!.
Arip Rif'an 368 :: Makasih.
Aoi Kishi :: Mungkin semacamnya, mungkin juga enggak *Plaakk* ehehehe~ entahlah. Tapi bentar lagi juga bakal ketauan kok.
Sagianto :: Bisa iya, bisa bukan. Intinya sih masih dirahasiakan meski ... Ya gitu deh :D.
iib junior dan Satria Wicax :: Maaf soal typo sepertinya tidak bisa dihilangkan. Soalnya saya males buat editing. Saat fiksi udah kelar, saya langsung publish tanpa baca-baca lagi.
Feba Ananta :: Siap!.
Dsevenfold :: Siap!.
Guest :: Wah maaf soal itu saya gak bisa tentuin. Saya udah kerja jadi gak tentu juga dalam sekian Hari saya bisa buat satu Chapter apa enggak.
mr kelapa :: Makasih!
Guest :: Yap saya setuju soal ini. Kalo gak kelompok Rias ya Sona, kalo gak di Iblis ya Malaikat Jatuh. Saya juga bosen sih. Tapi tergantung Authornya juga kan, kalo bisa buat sesuatu yang beda dan enak dibaca, kenapa enggak?. Gak ada salahnya dong?.
Nah kalo di fiksi saya, Plot yang saya bawakan seputar Rating Game. Kalo Boruto gak jadi Budak, tu anak mu ngapain coba?. Jadi penonton?. Atau jadi orang kepo yang selaku ikut campur urusan Golongan Iblis?!.
Lawan Chaos Brigade?. Sayangnya di fiksi saya gak ada tuh Chaos Brigade dan antek-anteknya. Semua udah musnah. Palingan kalo ada pun orang-orang yang udah mihak sama tiga Golongan.
Ouroboros 787 :: Wah makasih, dan tentu saja silahkan. Saya sangat senang jika kamu mau Fav &Follow. Itu membuat saya bangga. Makasih sekali lagi.
