UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
•••••
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•••••
Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.
•••••
Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.
Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.
Ya ... Hanya itu ...
Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.
Ditambah lagi, seorang gadis cantik bersurai merah yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan memintaku menjadi budaknya!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Chapter 6 :: Tipu Daya!.
•••••
Hari ini tepat sehari sebelum Rating Game antara Kerajaan Gremory dan Kerajaan Astroth dimulai. Semua Anggota Rias berkumpul di Mansion utama Gremory untuk membahas seputar taktikal saat melawan Kerajaan adik dari sang Maou Beelzebub itu.
Tidak ada yang janggal disini, kecuali sikap diam Boruto.
Meski selama ini pemuda bersurai pirang itu pun tidak banyak bicara, sikap diamnya kali ini dirasa sangat berbeda. Boruto selalu terlambat menjawab, ketika ditanyai sesuatu perihal taktik yang akan diusung Gremory untuk mengalahkan Diodora Astroth.
Bukankah itu jelas, jika Iblis unik itu sedang memikirkan hal lain?!.
"Hoi Boruto, kau itu kenapa sih?!" Issei berteriak tak suka saat, untuk kesekian kalinya Boruto terlambat menjawab atas pertanyaan sang Raja. Dan teriakan Issei cukup untuk membuat semua orang dari kelompok itu mulai menyuarakan keherananya juga, pada tingkah Boruto saat ini.
"Issei-Kun benar. Hari ini kau terlihat terlalu pasif" timpal Kiba. Sementara Iblis-Iblis yang lain hanya mengangguk setuju, karena pertanyaanya sudah terwakilkan sang Kuda.
"Maaf ... Hari ini saya terlalu lelah!" jawab Boruto. Dan setelah menarik nafas panjang, pemuda pirang itu meneruskan ucapanya.
"Aku mengerti dengan taktikal Buchou-Sama. Yang perlu saya lakukan hanyalah menjadi pemeran pendukung saat Tim Penyerang Utama kesulitan kan?!"
"Saya mengerti" ucapnya dengan sangat sopan. Tak lama setelah mengatakan itu, Boruto bangkit dan pergi dari Ruangan itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Hanya sebuah bungkukan yang menjadi salam perpisahan dari pemuda bersurai pirang itu.
"Sopan sekali ..." Issei bergumam mengomentari sikap Boruto yang tidak seperti biasanya. Sementara yang lainya hanya memandang aneh pada pemuda pirang yang kini sudah hilang ditelan Pintu itu.
"Ara~ araaa~ bukankah kau mengetahui sesuatu Buchou?" ucapan dari Akeno sedikit mencairkan suasana atas sikap aneh yang ditunjukan pemuda pirang itu. Meski sempat terkejut dengan pertanyaan sang Ratu, Rias tetap berusaha bersikap biasa. Berusaha menyembunyikan sesuatu.
Yap. Faktanya tidak ada yang tahu soal hilangnya Himawari, selain Rias dan Boruto sendiri di Kelompok ini!.
"Apa?" tanya gadis bersurai merah itu, masih berusaha menutup-nutupi perihal hilangnya Himawari.
"Aku tau, kau sedang menyembunyikan sesuatu. Itu terlihat jelas dari caramu memandang Boruto!" ucap Akeno sengaja menggantung kalimatnya. Menunggu respon apa yang akan diperlihatkan sang Raja. Namun karena Rias tetap saja diam, Akeno ahirnya meneruskan kalimatnya.
"Haaahh~ ya sudah. Jika hal itu tidak bisa kau katakan pada kami, selesaikanlah secepatnya. Akan sangat merugikan jika Boruto-Kun masih bersikap seperti itu besok!" lanjut Akeno. Rias kembali terkejut dengan ucapan Ratunya. Sisi lain dirinya merasa kesal karena Ratu juga sahabat nakalnya begitu mudah membaca hatinya.
"Tenang saja Buchou. Kami percaya kau bisa mengembalikan Boruto seperti biasa lagi" Issei mengucapkan itu dengan senyum yang mengembang. Mencoba memberikan keyakinan lain pada sang Raja.
"Kami percaya!" tandas Issei.
"Kalian ..." Rias benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasa senang terlihat jelas di Wajah cantiknya, melihat begitu besarnya kepercayaan Budak-Budak Gremory padanya.
"Maaf. Saat waktunya tiba, aku pasti akan mengatakanya" ucap Rias, sebelum ahirnya menyusul Boruto. Setelah Rias pergi, Akeno mulai mengambil posisi Rias sebagai pemimpin. Mengingat jabatanya sebagai Ratu dalam Kerajaan ini.
"Baiklah. Masalah Boruto-Kun kita serahkan pada Buchou, dan sekarang kita matangkan taktikal kita untuk melawan Diodora Astroth!" ucap Akeno memberikan komandonya.
"Yaaa!" jawab yang lainya serempak.
Lorong Mansion Gremory.
"Boruto-Kun?!" Rias memanggil pemuda pirang itu, saat pandanganya mulai melihat sosok Boruto. Dengan lari yang dipercepat, gadis bersurai merah itu berusaha mengejar Boruto yang tidak mau menghentikan langkahnya untuk menunggu Rias.
"Kau kenapa Boruto-Kun?" tanya Rias, sesaat setelah berhasil mengejar Boruto. Yap, saat ini gadis cantik itu sudah memotong jalan Boruto, berdiri dihadapan pemuda pirang itu.
Namun Boruto masih tidak menjawab, bahkan beradu pandang dengan Rias pun tidak mau. Saat ini Boruto seperti menjaga jarak dengan Rias.
"Apa karena masalah Himawari-Chan?!" Rias ahirnya mengatakanya juga. Meski Sirzech sudah melarangnya untuk ikut campur masalah ini, Rias tidak bisa diam saja. Boruto pasti tidak akan mau bicara, jika Rias tetap berpura-pura tidak tahu.
"Iya kan?!. Ini karena masalah Himawari-Chan?" Rias lagi-lagi menayakan hal yang sama. Dan tampaknya itu berhasil, Boruto yang semula membuang pandanganya mulai menatap Rias. Namun yang membuat gadis bersurai merah itu bingung adalah, tatapan Boruto yang seorah-olah kecewa padanya.
"Kau mengetahuinya?" tanya Boruto lemah. Nadanya terdengar datar, dan tanpa emosi. Disertai dengan Wajah yang terlihat benar-benar kecewa.
"Jawab Rias Gremory!" Boruto mendesis dalam nada datarnya. Kini sikap Boruto semakin aneh, jika beberapa saat lalu pemuda bersurai pirang itu terlihat sangat sopan, kini sikap Boruto seperti seorang ...
Musuh!.
Dengan Mata yang sudah berubah dalam Mode Byakugan, Boruto menatap tajam Rias Gremory. Seolah-olah meminta penjelasan tentang inti pembicaraan ini. Nafas Rias sedikit tercengkat, apa lagi Boruto dengan sengaja meningkatkan Intensitas Auranya, berusaha mengintimidasi Rajanya sendiri.
"A-apa yang ka-kau lakukan—"
"Jawab!" Boruto berteriak kesal karena Rias tak kunjung menjawab pertanyaanya. Sabit pemberian Azazel dan Ajuka pun kini sudah menghiasi Tangan kananya, siap untuk mencabut nyawa gadis bersurai merah itu.
Rias mulai mundur teratur, saat merasakan sinyal bahaya dari pemuda pirang itu. Dengan kepala yang terus mengangguk, gadis itu berusaha menjelaskan sesuatu pada Boruto.
"I-iya ... Onii-Sama dan aku ta-tahu—" cukup sampai disitu ucapan Rias bisa keluar dari Mulutnya. Karena saat ini, Boruto dengan cepat menghambur pada gadis itu, dengan Sabit yang siap memenggal Kepalanya.
Rias yang masih tidak mengerti dengan situasi ini hanya bisa terdiam. Pasrah dengan apa yang akan dilakukan padanya. Terlebih Boruto sama sekali tidak terlihat segan saat akan menghunuskan senjatanya.
Dengan Mata terpejam, Rias mencoba bersiap dengan ajalnya!.
Tapi ...
Traannkkk!.
Dentingan benda tajam yang beradu, sepertinya sudah menyelamatkan nyawanya. Dan kini seseorang dengan Armor Merah sedang berjuang keras menahan Sabit Boruto, menggunakan Pedang Ascalon. Rias jelas mengenali orang itu, dia adalah orang yang dulu sempat menarik perhatianya, sebelum Otsutsuki Ashura muncul di Dunia Bawah.
"Issei ..." Rias bergumam dengan Wajah terkejut karena tidak menyangka jika pemuda mesum itu akan muncul tiba-tiba dan menyelamatkanya.
"Apa yang kau lakukan Boruto?!" pemuda bersurai coklat itu sama sekali tidak memperdulikan Rias. Fokusnya saat ini adalah berusaha untuk menahan serangan Boruto pada orang yang sangat berarti untuknya.
"Minggir. Aku tidak punya urusan denganmu!" ucapan datar itu kembali mengalun dari Bibir Boruto. Issei yang sudah cukup sering menghadapi pertarungan hidup dan mati, tentu saja mengerti dengan keadaan Boruto.
Pandangan itu ...
Nada bicara yang seperti itu ...
Semua itu hanya diperlihatkan oleh orang-orang brengsek yang selama ini dilawanya, selama insiden Chaos Brigade. Orang-orang yang merasa diri mereka tersakiti, dan berfikir tidak ada jalan lain selain bertarung untuk menyelesaikan masalah. Orang yang seperti itu adalah ...
Orang yang terjatuh dalam kegelapan!.
"Kau kenapa hah?!" tanya Issei disela kesulitanya menahan tebasan Boruto. Hingga detik Ini, Issei masih tidak percaya jika Boruto seperti yang difikirkanya. Namun tidak ada jawaban dari semua pertanyaan Issei. Selain intensitas Aura yang semakin meninggi, itu pun jika bisa diartika sebuah jawaban.
"Mode Tirania :: Rock!" Issei tidak mau kalah. Bagaimana pun, jika dia kalah Buchou-nya akan ... Dan Issei tidak mau itu terjadi. Cahaya merah menguar dengan sangat kuat disekitar Issei, seiring dengan pergantian Armornya. Armor Scale Mail Issei kini menebal, dan memberikan Issei kekuatan berlipat-lipat ganda.
Rias terlempar beberapa meter dari tempatnya akibat hempasan Aura Naga sang Sekiryuutei. Dan tanpa disadari, Akeno dan Koneko sudah ada disampingnya, membantu sang Raja untuk bangun. Sementara Issei kini bersiap memberikan pukulan dengan satu Tanganya yang bebas.
Yap, dengan kekuatan berlipat dari Mode Tirania :: Rock, Issei bisa menahan Sabit Boruto hanya dengan satu Tangan.
Dan ...
Bang!.
Tinju Hyoudou Issei berhasil mengenai Boruto. Namun nyatanya, pukulan itu tidak benar-benar mengenai pemuda pirang itu, karena sebuah daya Tolak menahan pukulan maut itu.
"Shinra Tensai!" Boruto kembali berdesis. Dan detik berikutnya Isseilah yang terlempar jauh hingga menabrak Tembok dibelakangnya. Beruntungnya sang Sekiryuutei masih bisa bertahan dari daya dorong dari Jutsu Boruto. Meski harus dibantu Dinding untuk benar-benar menghentikan daya tolak Shinra Tensai.
Issei terengah-engah dalam Armor beratnya. Upaya pemuda bersurai coklat itu dalam menahan gelombang tolakan Boruto cukup menguras energinya. Akeno dan Xoneko segera bersiap mengambil gestur bertarung mereka masing-masing, saat melihat Boruto mulai mendekati Rias.
Namun baru satu langkah pemuda pirang itu melangkah, dibelakangnya Kiba dan Xenovia menyerang ke arahnya dengan Pedang Suci Iblis dan Ex-Durandal yang terhunus pada Punggung Boruto. Namun pemuda pemuda bersurai pirang itu tidak bergerak. Boruto tetap diam diposisinya meski tahu jika duo Kuda Gremory itu sedang mengincar nyawanya.
"Grim Reaper Ability :: Mist!" gumamnya.
Dan ...
Syuut!.
Tebasan dari Pedang Suci Iblis Kiba dan Pedang Ex-Durandal Xenovia menembus Tubuh Boruto begitu saja, bagaikan menebas bayangan. Bahkan Boruto tak segan-segan memberikan serangan balasan pada Kiba dan Xenovia. Dengan sebuah tebasan melintang, Punggung duo Kuda Gremory itu terkoyak Sabit Boruto dengan telak.
"Arrrggghhh!" baik Kiba atau pun Xenovia berteriak seperti itu merasakan nyeri yang tak terkira. Tidak ada luka di Punggung mereka memang, namun sejumlah Aura hitam yang terserap dalam Sabit Grim Reaper Boruto sudah cukup untuk membuktikan jika keduanya menderita luka dalam.
"Aku tidak mau membunuh kalian ... Jadi kumohon jangan ikut campur!" ucap Boruto datar. Meski telah melukai teman-temanya sendiri, Boruto tetap saja bersikap datar seperti itu.
Benar-benar layak disebut Musuh!.
"Gah!. Bagaimana bisa kami berdiam diri, jika kau menyerang Raja kami!" dalam keadaan menahan nyeri Kiba mengatakan itu, seraya memaksakan dirinya untuk bangun. Sementara Xenovia sudah tak sadarkan diri.
Gasper, Asia dan Roswiesse yang baru saja datang segera bergabung dengan Akeno dan Koneko untuk menjaga Rias dari ancaman Boruto. Dengan sigap, mereka semua bersiap untuk bertempur melawan pemuda bersurai pirang itu.
Wusss!.
Issei dengan cepat melesat kearah Boruto. Armornya kini sudah terganti dengan Armor dari Mode Tirania :: Knight. Sebuah Armor tipis yang memberinya kecepatan Dewa. Sepasang Sayap Naga berwarna merah menghiasi Punggung Hyoudou Issei untuk membantunya dalam meningkatkan kecepatan Dewanya.
"Patner ... Kau tidak mungkin menang jika setengah-setengah seperti ini"
Suara sang Naga menghiasi pendengaran Issei, saat sedang sibuk beradu serang dengan Boruto. Sabit Grim Reaper dan Pedang Ascalon terus berdenting tanpa henti karena mereka berdua saling serang dan saling hunus dengan cepat.
"Aku tahu apa yang aku lakukan Ddraig. Kau fokus saja pada pergerakan Boruto!" ucap Issei membalas peringatan dari patner Naganya. Ya ... Seperti yang dikatakan pemuda mesum itu, sampai saat ini Issei masih belum bisa terbang dengan baik. Jadi disaat seperti ini, pergerakanya diserahkan sepenuhnya pada sang Naga.
"Mereka benar-benar lincah!" Akeno berguman dengan pandangan takjub melihat kehebatan mereka berdua.
"Ini masih belum. Baik Issei dan Boruto belum mengeluarkan kekuatan sejati mereka ... Kau terlalu cepat untuk memuji, Akeno!" Rias menimpali ucapan sang Ratu. Pandanganya kini telihat kembali seperti semula, agaknya Rias sudah bisa menguasai dirinya lagi.
"Rias, kau baik-baik saja—" ucapan Akeno terhenti karena kini sebuah ledakan dasyat tercipta didepan mereka. Issei dengan Dragon Shot-nya dan Boruto dengan Shinra Tensai-nya, sudah cukup untuk membuat ledakan besar di Mansion Utama Gremory.
Tempat megah itu kini luluh lantah tak berbentuk lagi. Beruntungnya, Grayfia segera muncul dan melindungi Rias juga Budak-Budaknya dengan Sihir Pertahana berlapis, membuat mereka selamat.
Tapi bagaimana dengan Issei dan Boruto?
Meski mereka adalah pencipta ledakan gila ini, mereka tidak akan selamat jika hanya mengandalkan ketahanan fisiknya saja. Ya ... Tentu saja. Bagaimana mungkin Boruto bisa selamat dari ledakan yang mampu menghancurkan Bangunan yang dilindungi Sihir Pertahanan, hanya dengan kekuatan fisik saja.
Tidak Mungkin!.
Dan sepertinya Issei dan Boruto cukup mengerti dengan keadaan itu, karena mereka pun nyatanya sudah menyiapkan pertahanan terkuat mereka. Sihir Pelindung Naga, dan Kaiten adalah buktinya. Dengan itu, baik Boruto dan Issei bisa selamat dari ledakan itu.
"Cih!. Kau semakin kuat saja!" Issei mengumpat dengan senyuman di Wajahnya yang saat ini terlihat setengah, karena Armor tipisnya pecah. Darah juga mengalir di Pelipis pemuda bersurai coklat itu yang terexpose.
Begitu pun dengan Boruto. Darah terlihat menetes di Tangan Kirinya yang bebas!.
Issei bersiap untuk menyerang kembali, tapi sebelum sang sekiryuutei melakukan niatnya, seorang pria bertopeng merah tiba-tiba saja muncul dibelakang Boruto tanpa disadari pemuda pirang itu. Dan dengan sebuah pululan keras di Tengkuk pemuda pirang itu, Boruto pun pingsan seketika.
"Seperti yang dikatakan orang itu ... Byakugan ternyata memang memiliki titik buta!" gumamnya yang kini sudah membopong Boruto yang pingsan. Setelah dua kali berhasil membuat pemuda pirang itu pingsan dua kali dalam satu pukulan.
Deg!.
Deg!.
Issei menyadari sesuatu!.
Topeng itu ...
Aura itu ...
"Tidak salah lagi, Satan Red!. Sirzech Lucifer-Sama!" gumamnya disela keterkejutanya.
Ya ... Tidak salah lagi, orang itu Adalah Sirzech Gremory yang saat ini menjabat sebagai Maou Lucifer. Aura pemusnah tingkat tinggi dari kemampuan Pawer Of Destruction yang sudah disempurnakan, terasa menyapa pemuda bersurai coklat itu dalam kematian.
"Kalian terlalu banyak tahu ..." ucap pria bertopeng merah itu, yang dikenali Issei sebagai Sirzech itu. Dia merentangkan Tanganya, dan sedetik kemudian sebuah gelombang pemusnah Pawer Of Destruction tingkat tinggi dibagikan pria bertopeng itu pada Issei dan yang lainya.
Blaaarrrrr!.
Ledakan tak terkira menyapu semua yang ada disana tanpa ampun. Dan kini, sejauh Mata memandang, tidak ada lagi bangunan megah yang dikenal dengan nama Mansion Utama Gremory. Yang ada kini hanyalah sebuah dataran tanpa satu pun Bangunan yang tersisa.
Si pria bertopeng merah dan Boruto yang pingsan sudah hilang entah kemana kini. Meninggalkan Issei dan yang lainya begitu saja, tanpa memperdulikan keadaan mereka, yang masih selamat dengan kekuatan gabungan dari Aura Naga Sekiryuutei dan Aura Iblis tingkat tinggi Grayfia.
Entah itu adalah sebuah kemalangan atau keberuntungan, karena dengan itu mereka mungkin bisa sedikit bernafas lega saat ini. Issei dan Grayfia, yang berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Buchou dan yang lainya, juga sudah pada batasnya.
Mereka tidak mungkin bertarung dalam kondisi seperti ini!.
Menyerahkanya pada Rias dan Budak-Budaknya yang tersisa?. Sama saja cari mati!.
"Aku tidak percaya ini ... Onii-Sama ..." Rias bergumam dalam kebimbanganya. Namun tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu, karena keadaan Issei dan Grayfia membutuhkan perhatian yang lebih saat ini. Dan dengan perintah Rias, Asia segera mengambil pertolongan pertama pada luka Grayfia dan Issei.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
"Kau baik-baik saja Rias?" tanya seorang gadis berkacamata yang dikenal dengan nama Sona Sitri itu. Ya ... Selama Mansion Gremory sedang dibangun ulang, Rias dan para Budaknya mungkin akan menumpang di Mansion Sitri.
Bukankah itu sudah pasti. Mengingat kedekatan kedua Clan ini cukup baik!.
"Rias-Tan ... Kau tidak perlu memikirkan hal ini. Biar kami para Maou yang mengurusnya!" seorang Maou dengan gaya penyihir seksi mengatakan itu, dengan sebuah gaya kekanak-kanakan yang sudah melekat dalam dirinya. Bahkan disaat seperti ini!.
"Tapi orang tuaku ... Onii-Sama dan Boruto-Kun juga ..." Rias nampaknya masih terpukul dengan kejadian yang menimpa Clanya. Bagaimana tidak, sosok yang menjadi kebanggaan Clan Gremory adalah sosok yang kini menghancurkan Clan itu.
Ironis!.
Hanya sekali sapuan dari serangan Pawer Of Destruction sang kakak, semuanya musnah. Ditambah keberadaan ayah dan ibunya pun masih belum diketahui saat ini!.
Cleekk.
Saat suasana semakin larut dalam kesedihan, seseorang gadis cantik bersurai biru, dengan gaya ekor kudanya, membuka Pintu Ruangan Rias saat ini. Sona dan Serafall tentu mengenali sosok itu, seorang gadis yang mendapatkan penggambaran nakal dari setiap Iblis yang ada di Dunia Bawah.
Himejima Akeno!.
"Rias ... Kau baik-baik saja?" Akeno menanyakan itu dengan Wajah sedih bercampur khawatir. Saat ini gadis itu mengambil peranya sebagai sahabat dari Rias Gremory. Namun meski begitu, gadis cantik yang satu ini masih terlihat segan untuk melangkahkan Kakinya ke dalam Ruangan Rias.
"Masuklah. Kurasa kau dan Sona-Tan bisa menghibur Rias-Tan" ucap Serafall masih dengan gaya kekanak-kanakanya yang terlanjur melekat. Mendapat restu dari sang Maou, Akeno mulai mendekati Rias. Dan duduk disamping kanan gadis bersurai merah itu. Karena samping kiri Rias telah diisi Sona, yang juga sahabat mereka.
Serafall tersenyum sesaat melihat begitu kuatnya ikatan persahabatan mereka bertiga. Lalu dengan senyum yang masih mengembang, Maou Leviathan itu meninggalkan trio sahabat itu. Menyerahkan urusan Rias pada adiknya dan Akeno.
'Aku serahkan Rias pada kalian ...' batin sang Maou Leviathan dengan senyum yang masih mekar di Wajah cantiknya. Namun sedetik kemudian senyum itu luntur saat fikiranya terbesit sosok Sirzech.
'Aku tidak akan memaafkanmu, Sirzech!' lanjutnya dengan Wajah yang terlihat semakin kesal.
Sebuah Tempat, di Dunia Bawah.
"Jadi?" seseorang yang sosoknya masih tertutupi bayangan menanyakan hal itu, pada sosok pria bertopeng merah didepanya.
"Seperti yang anda rencanakan, bocah itu akan mengamuk jika menyangkut keselamatan adiknya. Namun hamba tidak menyangka jika bocah itu akan membangkang dari Clan Gremory. Ini sedikit diluar perkiraan kita!" jawab si pria bertopeng.
"Tidak masalah, lagi pula kerjamu cukup bagus. Meski Clan Astroth tidak akan berperang dengan Clan Gremory, kejadian ini jelas membuat Dunia Bawah panik. Karena Maou yang mereka bangga-banggakan, kini terlihat mengkhianati mereka!" balas sosok yang masih bersembunyi dalam kegelapan itu.
Untuk sasaat Cahaya Bulan buatan menyinari bagian Bibirnya, dan terlihat Bibir sosok misterius itu sedang menyunggingkan senyum kepuasan melihat Dunia Bawah dilanda kepanikan!.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Master!" ucap si pria bertopeng merah seraya membungkukan Badanya, penuh hormat. Sebelum ahirnya menghilang dalam Lingkaran Sihir Teleportasi.
"Meski ini tidak seperti yang kurencanakan ... Namun efeknya sama saja. Pada ahirnya Dunia Bawah akan hancur!" ucapnya dengan tawa puas yang membahana dalam tempat gelap itu. Untuk sesaat kedua Matanya terlihat bercahaya dalam kegelapan itu.
Sebuah Mata ungu dengan Riak Air di bagian kanan, dan Mata merah darah dengan aksen aneh disana!.
Lapang Tandus.
Sebuah tempat yang harusnya menjadi bagian wilayah Mansion Utama Gremory itu kini hanyalah sebuah lapang gersang tanpa satu pun kehidupan. Namun yang menjadi perhatian disini bukanlah keadaan tempat itu, melainkan sosok pria bersurai merah panjang yang baru saja muncul dari Lingkaran Sihir Teleportasinya. Dan orang itu adalah ...
Sirzech!.
"Huaaaahhh~ ahirnya sampai—"
"... —juga" ucapanya terhenti karena pandanganya hanya melihat sebuah Padang Tandus sejauh Mata memandang. Bukankah dia bermaksud pulang ke Mansion Utama Gremory?. Lalu kenapa terdampar ditempat asing seperti ini?!.
"Salah Koordinat?. Kurasa tidak!" Sirzech terus bergumam dan menerka-nerka apa yang logis untuk fikiranya. Namun selama sang Maou Lucifer itu sibuk dengan terkaanya, sebuah gelombang dasyat Aura Iblis tingkat tinggi menyerangnya.
Tentu saja dengan mudah Sirzech mampu menahanya. Pandangan sang Lucifer segera beralih pada sumber serangan dan diatasnya kini terlihat tiga sosok yang sangat dikenalinya. Ya ... mereka adalah Serafall, Falbium, dan Ajuka. Mereka bertiga menatap sinis sang Maou Lucifer yang ada dibawahnya.
"Kalian—"
Triikk.
Falbium menjentrik Jarinya dan detik itu juga Lingkaran Sihir raksasa tercipta disana, memunculkan ratusan Iblis Kelas Atas dan Kelas Ultimate didalamnya. Yang langsung mengepung Sirzech yang masih kebingungan dalam situasi ini.
"Ck!. Hoi, apa maksud semua ini?!" Sirzech berteriak untuk meminta penjelasan dengan maksud ketiga rekan Maou-nya. Apa salah Lucifer ini sehingga harus dikepung oleh Iblis-Iblis tangguh Dunia Bawah, padahal dia baru saja kembali dari tugasnya sebagai Maou!.
Sialnya tidak ada yang menjawab pertanyaanya. Yang ada hanyalah sebuah kalimat ketus yang keluar dari Mulut Ajuka!.
"Berpura-pura tidak tahu?. Aktingku hebat sekali!" ucap sang Beelzebub. Alis Sirzech terangkat mendengar ucapan Ajuka.
Berpura-pura?.
Berpura-pura apanya?!.
"Menyerahlah Sirzech, kau tidak akan menang melawan kami semua. Jadi menyerah saja!" kini giliran Serafall yang berucap. Dan ini kali pertama sifat kekanak-kanakan Maou Leviathan tidak terlihat!. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, Serafall terlihat serius.
"Menyerah?!. Apa maksudnya?. Lelucon kalian sama sekali tidak lucu!"
BERSAMBUNG!.
Kolom Balasan Review!.
Sagianto :: Silahkan asumsikan sendiri, sedikit Clue udah saya berikan, meski dibarengi dengan Troll *plaakk*
Aldo F Salamander :: Silahkan. Dan jangan lupa kritik dan saranya :D.
Senal :: Yap, seperti yang kamu mau, Boruto udah mulai ngamuk tuh :D.
Arip Rif'an 368 :: Yuk main prediksi-prediksian. Kira-kira menurut kamu kalo emang itu sirzech, kenapa tuh pengen Rias kalah xD.
Kyosuke Kitsune :: Kurang lebih sih gitu kemampuan utamanya. Jadi semakin banyak nyerap energi kehidupan lawanya, semakin kuat Borutonya. Kaya Pasir Gaara lah kurang lebihnya.
Form lain?. Entah. Saya males mikir. Tapi emang kekuatan Boruto masih kurang ya?. Dia udah punya kekuatan ayah sama ibunya. Ditambah Iblis, ditambah lagi Grim Reaper. Masih kurang kah?.
Kalo iya, saran Form boleh lah. Seperti yang saya bilang diawal. Saya males mikir xD. Tapi no Naga ya ... Bosen dengan kekuatan yang itu-itu aja.
Root Wood :: Hoalahhh~ makasih loh udah mau nunggu fiksi saya.
Ryuuki Namikaze Lucifer :: Gah~ seneng saya dipanggil Senpai. Padahal masih kacangan gini, merasa tersanjung saya :v.
Iib Junior :: Maaf, ternyata saya masih Manusia Biasa. Bukan Superman yang gak punga rasa males. Lagian kita sama, kamu aja Reviewnya typo, itu kenapa hayo :D
Bela diri dikit boleh lah *plaakkk*
Raitogecko :: Bahkan udah meledak sebelum Rating Game :v.
Papa Haise The Centipede :: Mungkin kamu bisa mulai berasumsi setelah baca ini :D. Soal itu ... Entah. Tergantung kondisi juga. Kalo emang diabolos diperlukan, mungkin bisa. Tapi saya rasa Tirania pun udah cukup. Toh Issei hanya pemeran pembantu.
Makasih loh, udah mau nunggu fiksi kacangan saya. Salam Anti Mainstream!.
Dsevenfold :: Yosh. Senangnya kalo fiksi saya bisa diterima. Makasih-makasih!.
