UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
•••••
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•••••
Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.
•••••
Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.
Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.
Ya ... Hanya itu ...
Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.
Ditambah lagi, seorang gadis cantik bersurai merah yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan memintaku menjadi budaknya!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Chapter 7 :: Kebohongan didalam Kebenaran!.
•••••
Boruto tersadar dari pingsanya. Saat ini pandangan pemuda pirang itu masih terasa samar, terlebih tempatnya saat ini juga tidak familiar denganya. Setelah mengerjapkan Matanya beberapa kali, coba untuk menyesuaikan Indra Penglihatnya dengan penerangan yang ada, Boruto mulai memperhatikan tempat ini.
"Ini Ruangan yang mewah. Seperti ... Kamar Bangsawan-Bangsawan Iblis Kelas Atas!" gumamnya setelah selesai dengan acara pengamatan singkatnya. Yap, Ruanganya saat ini agaknya bisa disebut sebuah Kamar mewah, sangat mewah bahkan. Dengan Ranjang super besar yang saat ini didudukinya, juga dengan segala perabot yang terlihat mengkilap dan mahal, yang memenuhi Kamar besar itu.
Yap!. Meski belum lama menjadi Iblis, Boruto beberapa kali menginap di Mansion Utama Gremory atau Astroth. Sehingga pemuda pirang itu cukup hafal dengan segala pernak-pernik khas Kamar Bangsawan Kelas Atas. Namun yang jadi permasalahanya saat ini adalah, Kamar ini milik bangsawan mana?. Siapa?!.
Gremory dan Astroth memiliki selera desain dan interior yang berbeda dengan Kamar ini. Masih bergaya Eropa Klasik memang, namun ini seperti ungkapan serupa tapi tak sama. Ya ... Ada perbedaan dalam desain Mansion Utama Gremory, Astroth dan Mansion misterius ini!.
"Jadi ..." gumam pemuda bersurai pirang itu.
Dalam kebingungan itu, Boruto memilih untuk melakukan pengecekan lebih lanjut. Mungkin saja setelah keluar dari Kamar ini dia bisa bertemu sang empunya atau Maid yang bekerja di Mansion ini, bukankah dengan begitu dia bisa menanyakan tentang kebingunganya?. Namun sebelum niatnya dilakukan, dua sosok yang sangat dikenali Boruto, masuk melalui Pintu disudut Kamar.
Sosok yang sangat dikenali Boruto. Surai pirang si lelaki, senyum cerahnya, serta ciri di kedua Pipinya yang seperti Kumis Kucing, sangat mengingatkan Boruto pada seseorang. Meski si lelaki ini memiliki Mata yang berbeda dengan sosok familiarnya, namun Boruto yakin jika laki-laki ini adalah pria yang sama dengan yang ada difikiranya.
Pandangan Boruto kini beralih pada sosok wanita yang berdiri disampingnya. Seorang gadis cantik berambut biru panjang yang tergerai indah, Mata putih yang memancarkan kedamaian, juga senyum lembut yang saat ini menghiasi Wajah cantiknya. Dan sama seperti si lelaki yang berdiri disampingnya, Boruto juga merasa sangat mengenali sosok itu.
Hingga tanpa sadar pemuda bersurai pirang itu berucap ...
"Tou-San, Kaa-San ..." gumamnya. Ya ... Entah ini mimpi atau bukan, Tapi Boruto benar-benar yakin jika dua sosok itu adalah ayah dan ibunya. Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata yang telah lama mati!. Meski sosok mereka berdua jauh terlihat lebih muda dari sosok Naruto dan Hinata yang diingatnya, namun batinya jelas berteriak jika itu mereka!.
Tapi bagaimana bisa?.
Bagaimana bisa ayah dan ibunya muncul secara tiba-tiba seperti ini?. Terlebih dengan sosok masa muda mereka?!. Sayangnya, sebelum Boruto menanyakan pertanyaan itu, ucapan si lelaki yang Boruto yakini adalah Uzumaki Naruto, membuat pemuda bersurai pirang itu tak bisa berucap apa pun.
"Senang kau masih bisa mengenali kami, meski kami sedikit berbeda. Kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan Boruto-Kun" ucap laki-laki itu, yang lebih baik kita sebut Naruto untuk sementara. Senyum cerahnya pun tak pernah hilang dari Wajah tampanya, seolah-olah menjadi penegas untuk sebuah penggambaran rasa bahagia karena bisa bertemu dengan anak sulungnya lagi.
"Tou-San ..." Boruto menahan tangisnya. Bagaimana mungkin perasaan haru ini bisa ditahanya, mereka adalah orang tuanya. Sosok yang selama ini dirindukan pemuda bersurai pirang itu. Meski sekali lagi mereka berbeda, keyakinan Boruto jika mereka adalah orang tuanya semakin besar.
Tak perduli dengan semua pertanyaan bagaimana bisa yang muncul dibenaknya. Dan jika saja dia adalah Himawari, dia pasti sudah berlari dan memeluk sosok mereka berdua, menangis dalam pelukan hangat mereka, yang sangat dirindukan Boruto.
Namun Boruto sedikit menahan gejolak emosinya. Boruto sudah dewasa, dan ada perasaan malu untuk melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu. Si wanita agaknya membaca gelagat itu, karena saat ini gadis cantik bersurai biru itu merentangkan kedua Tanganya, seolah siap menyambut Boruto.
"Datanglah. Kami pun sangat merindukanmu, Boruto-Kun" ucap Hinata, dengan senyum lembut yang selalu membuatnya dan Himawari luluh. Dan kini si pria pun melakukan hal yang sama, dia mengikuti apa yang dilakukan si wanita. Merentangkan Tanganya, bersiap untuk menyambut Boruto.
Cukup!.
Persetan dengan egonya. Terserah jika Boruto nanti disebut kekanak-kanakan atau pun bocah cengeng dihadapan mereka. Yang terpenting saat ini adalah rindunya pada kedua orang tuanya. Siapa yang perduli?. Yang diinginkanya saat ini hanyalah merasakan pelukan hangat ayah dan ibunya, serta menangis dalam pelukan itu.
"Tou-San ... Kaa-San ... Hiks ... Hiks!" dengan cepat Boruto menghambur dalam pelukan si pria dan si wanita yang terus disebut Tou-San dan Kaa-San itu. Ya ... Saat ini mereka sudah berpelukan dengan keadaan Boruto yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan mereka berdua.
Wangi Tubuh Naruto dan Hinata benar-benar membuatnya damai!.
Kedamaian itu, membuat Boruto melupakan segalanya. Apa lagi elusan sayang dipuncak Kepala pirangnya benar-benar membuat Uzumaki muda itu terlena. Entah siapa yang melakukanya, namun menurutnya itu sama saja. Tidak perduli sang Tou-San atau sang Kaa-San yang melakukanya, Boruto tidak akan pernah menolak ungkapan cinta mereka.
"Kau pasti bingung kenapa kami ada disini. Ya ... Mungkin kami akan sedikit menjelaskanya padamu. Aku sangat menyesal karena kau dan Himawari-Chan harus terperangkap dalam jeratan Iblis Gremory yang jahat!" ucap Hinata lagi. Nadanya terdengar begitu sedih, seperti menyesali keadaan ini.
"Jahat?" dengan masih berlinang Air Mata, Boruto mendongakan Kepalanya untuk menatap Wajah sang ibu. Merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakanya, Boruto memperlihatkan pandangan bertanyanya.
Ya ... Selama ini yang dia rasakan, Clan Gremory sangat baik padanya. Tapi tunggu dulu ... Benarkah mereka baik?. Buktinya Sirzech dan Grayfia menculik adiknya!. Rias juga. Dia membiarkan kakaknya melakukan hal itu meski dia mengetahuinya!. Lalu pantaskah mereka disebut baik?. Clan Gremory itu berusaha memisahkan dirinya dengan sang adik!.
Sepertinya Boruto mulai terhasut ucapan sang ibu, tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi. Saat di Lorong Mansion Gremory pun seperti itu. Boruto langsung tersulut emosinya saat Rias mengatakan tahu, tanpa menunggu ucapan gadis itu selesai terlebih dahulu untuk menjelaskanya.
Kegelapan terasa mengintai pemuda bersurai pirang itu, sosok lembut nan penuh kasih sayang kedua orang tuanya, seolah-olah menyiratkan kepalsuan. Entahlah, tapi serangai jahat yang terlewatkan oleh pandangan Boruto, jelas memperlihatkan maksud lain dari ucapan mereka.
Dan sialnya Boruto yang masih diliputi rasa bahagia tidak menyadari hal itu!.
"Kami akan menceritakan semuanya ..."
Dan cerita pun dimulai!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Malam Hari di Kota Tokyo.
Saat itu Naruto baru saja pulang dari tempatnya bekerja, sebagai Karyawan Kantoran. Pria paruh baya itu, terlihat gembira sambil bersenandung ria, mengingat hari ini sebuah informasi menggembirakan sedang didapatnya. Apa lagi jika bukan soal promosi naik Jabatan ditempatnya bekerja.
Ya ... Bagi Naruto, kehidupanya sangat sempurna. Meski hidup pas-pasan, mereka adalah keluarga bahagia. Naruto patut berbangga diri karena memiliki istri yang baik dan cantik, dan dua Malaikat kecil yang menghiasi kehidupan mereka.
Yap, dalam cerita Naruto, Boruto masih balita dan Himawari baru saja lahir beberapa minggu lalu. Bukankah itu benar-benar saat yang berbahagia?. Dan berita promosi jabatanya terasa menjadi pelengkap kebahagian mereka dalam menjalani hidup ini.
Namun saat Naruto sampai di Rumahnya, entah kenapa suasana Rumah sederhananya sedikit berbeda. Apa karena lampu yang belum dihidupkan meski sudah cukup larut?. Bukan, bukan itu. Tapi, Naruto seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Suasana mencekam yang terasa menyelubungi Rumahnya.
Braakk!.
Tanpa fikir panjang Naruto berusaha mendobrak Pintu Rumahnya sendiri. Hampir saja dia terjatuh, karena ternyata Pintu itu tidak terkunci. Dengan sedikit mengumpat akan kecerobohanya, Naruto segera melangkahkan kakinya ke tempat dimana satu-satunya Ruangan yang lampunya menyala.
Dan alangkah terkejutnya Naruto saat sampai di Ruangan itu, karena pandanganya saat ini dihiasi oleh sepasang pria dan wanita asing yang sedang mengendong Himawari dan Boruto dengan tak layak. Bagaimana tidak, dua Malaikat kecilnya diperlakukan seperti anak Kucing oleh mereka berdua. Hinata sendiri terlihat bersimpuh di Lantai, dengan berliang Air Mata.
Luka lebam dan beberapa goresan di Tubuh istrinya, menandakan jika telah terjadi perlawanan sengit dari sang istri. Pandangan mereka bertemu, meski tanpa sepatah kata pun terucap, Naruto mengerti jika pandangan istrinya adalah sebuah permohonan untuk menyelamatkan Malaikat kecil mereka.
"Keparaaatttt!" Naruto berteriak lantang saat membawa dirinya untuk menghajar pria asing itu. Namun pukulan Naruto gagal, saat Tubuhnya membentur sebuah Dinding tak terlihat. Dan sedetik kemudian, Naruto terlempar hingga membentur Dinding dibelakangnya, meninggalkan sebuah retakan disana.
Darah segera keluar tanpa bisa dicegah dari Mulut dan Hidung Naruto. Tubuhnya terasa remuk, tidak ada luka luar memang, namun Darah yang keluar dari Mulut dan Hidungnya memperlihatkan jika luka dalam yang diderita Naruto sangat serius.
"Naruto-Kuunnn!" Hinata berteriak panik, tanpa perduli dengan luka-luka yang dideritanya, Hinata segera mendekati suami tercintanya. Tangis wanita itu kembali pecah, melihat keadaan mengenaskan Naruto. Dengan Tangan yang bergetar hebat, Hinata meraih Kepala Naruto dan memeluknya.
"Naruto-Kun ..." Hinata bergumam dalam tangisnya. Sementara Naruto masih mengumpat tak jelas pada pria dan wanita asing itu.
"Cih!. Aku tidak percaya ini, keturunan Ninja sejati seperti kalian bisa selemah ini?!" si pria asing itu mulai mengungkapkan pendapatnya melihat Naruto dan Hinata begitu mudah dikalahkan.
"Ninja sejati? Apa maksud kalian?!" teriak Hinata disela tangisnya.
"Apa leluhur kalian tidak menceritakannya?" bukanya menjawab, si pria asing itu malah balik bertanya. Naruto dan Hinata terlihat terkejut. Mata mereka terlihat bergetar, dengan ucapan pria asing itu. Ya ... Sedikit banyak, ucapannya mengingatkan cerita yang diceritakan orang tua mereka.
"Kita adalah keturunan seorang Manusia yang memiliki kekuatan Chakra. Seorang Manusia yang disebut Ninja. Selama turun-temurun, leluhur kita menceritakan cerita ini pada anak-anak mereka. Ayah sendiri tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi kita diwajibkan untuk percaya pada cerita itu!"
"Karena itulah kau dijodohkan dengan Hinata (Naruto). Dengar Naruto (Hinata-Chan), ini bukan sebuah perjodohan biasa. Perjodohan ini adalah sebuah cara untuk terus melestarikan Darah murni Ninja dari Generasi ke Generasi!"
"Karena Clan kita dan Hyuuga (Uzumaki) dipercaya untuk melakukanya!.
"Tidak mungkin ..." gumam Hinata. Sementara Naruto masih tertegun mendengar ucapan pria asing itu.
"Yah, kurasa wajar juga kalian tidak mempercayai cerita itu. Karena kejadian itu sudah berlangsung ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Tapi ... Mulai saat, kalian harus mempercayai dan membangkitkan kekuatan itu lagi ..."
"Karena jika tidak, Mahluk kecil ini akan menderita!" ucap pria asing itu tanpa berbelas kasih, seraya menenteng Boruto kecil yang tak sadarkan diri.
Hinata dan Naruto hanya bisa kembali tertegun mendengar ucapan pria itu. Bagaimana mungkin dia berlaku sekejam itu?!. Namun dalam keterkejutan mereka terlalu cepat. Karena saat ini, pria asing itu melemparkan beberapa Gulungan besar pada mereka berdua, yang entah muncul darimana.
"Pelajari Jutsu itu. Harusnya, sebagai keturunan Ninja berdarah murni, kalian bisa dengan cepat mempelajarinya!" tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Hinata dan Naruto saat itu, si pria asing ini kembali melanjutkan perkataanya.
"Kalian punya waktu tiga Bulan untuk mempelajarinya. Dan jangan bertindak macam-macam jika ingin mereka selamat!" desis pria itu lagi.
"Ayo Grayfia kita pergi" dan setelah mengatakan itu, si pria asing dan si wanta asing itu pergi dalam Lingkaran Sihir mereka bersama Boruto dan Himawari.
Cerita Naruto berhenti sejenak.
Cerita Naruto berhenti sejenak sampai disitu. Sosok muda sang ayah terlihat menghela nafas berat, setelah bercerita. Beda halnya dengan Boruto, pemuda pirang yang satu ini terlihat bergetar. Dia tidak menyangka jika nasib keluarganya semenyedihkan itu. Dengan nada yang bergetar, Boruto mengucapkan sesuatu.
"Grayfia? ... Apa mungkin sosok pria yang Tou-San ceritakan itu adalah Sirzech?" tanya Boruto dengan nada yang bergetar hebat, akibat rasa sakit hati dan kemarahan yang meledak di Dadanya. Naruto mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan anaknya. dan mulai meneruskan ceritanya.
"Kejam sekali!" desis Boruto setelah menyadari pertanyaanya dijawab anggukan saja, oleh sang ayah.
"Itu masih belum seberapa, Boruto-Kun. Kejadian setelah itu malah lebih menyakitkan" ucap Hinata, sesaat sebelum Naruto memulai ceritanya kembali.
"Sejak saat itu, kami berusaha untuk secepat mungkin menguasai Jutsu yang tertulis dalam Gulungan itu. Namun pengetahuan dangkal tentangnya, membuat kami kesulitan. Dan hasilnya, satu Jutsu yang bisa kami kuasai selama dua Bulan"
"Dua Bulan?. Bukankah perjanjian awalnya tiga Bulan?" pertanyaan Boruto membuat Naruto yang sedang memulai kembali bercerita menoleh. Tatapan sendu dan senyum kepedihan diperlihatkan sang ayah, seolah menyuruh Boruto untuk tidak memotong ceritanya.
"Ya ... Sirzech awalnya memang memberi kami waktu selama tiga Bulan. Tapi sebelum batas waktunya habis, dia telah datang pada kami karena Dunia Bawah sedang dalam masalah. Trihexa (666) telah bangkit meski belum sepenuhnya"
Dan cerita kembali dimulai!.
"Sial!. Kenapa sesulit ini untuk mempelajari sebuah Jutsu. Sudah berapa banyak Jutsu yang kita lewati, karena terlalu sulit untuk dikuasai!" Naruto mengumpat frustasi dengan masalah yang dihadapinya. Tubuhnya terlihat kurus kering, karena menjalani pola makan yang buruk dalam dua Bulan ini, dan itu pun terjadi pada Hinata.
Bagaimana bisa mereka menjaga pola makanya, dalam tekanan seperti ini. Terlebih dua Malaikat kecilnya, sedang menjadi tawanan!.
Namun sebuah Lingkaran Sihir Teleportasi muncul dikediaman keluarga Uzumaki. Mereka jelas mengenali Lingkaran Sihir ini, karena sang pemilik adalah orang yang bertanggung jawab atas kemalangan keluarga ini. Siapa lagi kalau bukan Sirzech yang menculik kedua anaknya.
"Apa kalian sudah menguasainya?" itulah kalimat pertama yang diucapkan sang Maou setelah benar-benar terteleportasi, tanpa memperdulikan keadaan Naruto dan Hinata yang terlihat menyedihkan. Atau keadaan dirinya yang sudah compang-camping dengan luka-luka disekujur Tubuhnya.
Takut jawaban jujur akan membuat anak mereka dalam masalah, ahirnya Naruto memilih untuk berbohong.
"Ya ... Kami sudah berhasil menguasai semua Jutsu dalam Gulungan ini" jawab Naruto dengan kebohonganya. Hinata yang mengerti maksud sang suami, mulai mengangguk gugup. Berusaha meyakinkan sang Lucifer.
"Bagus!" Sirzech menyerangai senang dengan jawaban yang didengarnya. Dan tanpa berlama-lama lagi, Maou Lucifer itu segera membawa Naruto dan Hinata dalam Lingkaran Sihir Teleportasinya.
Dunia Bawah.
Satu hal yang ada dalam fikiran Naruto dan Hinata saat pertama kali menginjakan Kakinya di Dunia Iblis itu adalah ...
"Kota yang megah, namun terlihat seperti pasca terkena gempa!" komentar Naruto seraya melihat sekeliling. Sebuah perkotaan megah khas Eropa klasik menghiasi pandanganya. Ini mungkin akan terlihat sangat megah jika dipandang dalam keadaan utuh. Namun karena sebagian besar Bangunanya sudah hancur, perkotaan megah ini tidak terlalu kentara.
"Kau benar, Naruto-Kun" ucap Hinata mengamini komentar sang suami.
Ghooaaarrrrr!.
Sebuah auman keras yang datang dari Langit, menyadarkan mereka tentang apa yang terjadi saat ini. Ya ... Kota yang porak-poranda ini adalah hasil dari serangan Monster Naga berkepala delapan yang sedang mengamuk tanpa terkendali.
Sang Naga kembali mengaum seraya terus membawa dirinya terbang kearah Sirzech. Disetiap Mulutnya Kini terlihat sebuah gelombang dasyat yang siap dimuntahkan kapan saja. Sebuah serangan gila dari berbagai Elemen yang ada di Dunia, siap dimuntahkan sang Naga berkepala delapan itu.
Blaaarrrr!.
Tembakan berbagai Elemen telah ditembakan. Dan hasilnya sebuah ledakan gila, sukses memporak-porandakan tempat dimana Sirzech, Naruto dan Hinata muncul. Sang Naga raksasa itu kembali mengaum dasyat, seolah menikmati hasil kerjanya.
Namun entah bagaimana, baik Sirzech, Naruto, atau pun Hinata, mereka berhasil selamat dari serangan mematikan itu. Saat Asap mulai menipis, Sirzech terlihat keluar dari tumpukan puing-puing Bangunan dengan Tubuh yang dilapisi dengan Pawer Of Destruction.
Beda halnya dengan Hinata. Wanita itu memang bisa selamat, namun Tubuhnya tetap terluka. Hinata meringis merasakan nyeri dari luka yang menganga di Perutnya. Hingga ahirnya pandangan wanita cantik itu menangkap sosok sang suami yang saat ini tertimpa puing-puing Bangunan.
"Naruto-Kuuuunnnnn!" Hinata berteriak panik melihat sebagian Tubuh sang suami dari sebatas Perut kebawah yang sudah tertimpa puing-puing. Dengan bersusah payah, Hinata beringsut mendekati sosok pria yang sangat dicintainya itu.
Yap, meski pernikahan mereka adalah hasil dari perjodohan, benih cinta nyatanya tetap tumbuh seiring berjalanya waktu. Dan dua Malaikat kecil adalah bukti benih cinta mereka!.
"Maaf karena tidak bisa melindungimu, juga anak-anak kita ... Aku sungguh tidak berguna. Ough!" ucapan lemah Naruto diahiri dengan sebuah muntahan darah kehitam-hitaman.
"Tidak Naruto-Kun, tidak ... Kau sudah berjuang keras. Kau adalah suami dan ayah yang sempurna untuk kami ... Hiks! Hiks!" Tangis wanita itu kembali pecah. Bagi Hinata ini sangatlah tidak adil. Bagaimana bisa Tuhan menghukum keluarga mereka hingga seperti ini. Harus merelakan anaknya dijadikan sandera.
Dan kini, haruskah dia kehilangan sang suami dengan cara menyakitkan seperti ini?!.
Sakit hati yang dirasakan Hinata saat ini terasa jauh lebih menyakitkan dari luka menganga yang ada di Perutnya. Namun disaat adegan memilukan itu terjadi, Naga perlambangan Hari Ahir itu kembali mengaum murka karena targetnya masih selamat. Dan saat-saat genting itu, bantuan datang. Kini disekitar mereka, ada begitu banyak Lingkaran Sihir Teleportasi yang memunculkan orang-orang lain seperti Sirzech.
"Kau baik-baik saja, Sirzech?" tanya seseorang dari mereka.
"Ya, aku baik Ajuka. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kesiapan Segel untuk Trihexa?" setelah menjawab, Sirzech balik bertanya tentang kondisi terkini Segel yang sedang dikerjakan Rosswiese, salah satu Budak adiknya, yang memiliki kemampuan untuk menyegel Trihexa.
"Berjalan lambat. Rosswiese tidak memiliki cukup besar Aura untuk menyegelnya sendirian. Aku sudah menyuruh Iblis-Iblis lain untuk menyalurkan Aura mereka pada wanita itu, tapi sepertinya ini masih belum cukup!"
"Lagi pula kita harus membagi para Iblis untuk menyibukan Naga itu, agar tidak mengganggu proses pembuatan Sihir Penyegel!" ucap Ajuka menerangkan segala yang terjadi saat ini.
"Kalau begitu, perintahkan semua Iblis bawahanmu untuk membantu mereka mempercepat Sihir Penyegelan. UrusanTrihexa, kita serahkan saja pada mereka" ucap Sirzech seraya menunjuk Hinata dan Naruto yang tak jauh dari tempatnya.
"Kau yakin?. Mereka hanya Manusia rendahan?!" tanya Ajuka.
"Mereka bukan orang biasa, mereka adalah keturunan Darah Murni seorang Ninja"
Ajuka tersenyum sinis mendengar jawaban rekan Maou-nya, seraya menatap sinis sosok Hinata dan Naruto. Lalu tanpa banyak bertanya lagi, sang Maou Beelzebub mulai memerintahkan bawahanya untuk mundur, menyusul Sirzech yang terlebih dahulu hilang dalam Lingkaran Sihirnya setelah menjawab pertanyaan Ajuka.
"Baiklah keturunan Ninja yang hebat, sudah tahu kan tugas kalian?" tanya Ajuka masih dengan senyum sinisnya. Sementara diatas sana sang Naga perlambangan Kehancuran itu siap untuk kembali memuntahkan serangan berbagai macam Elemenya.
"Dan jangan coba-coba membantah, jika kalian ingin mereka selamat!" ucapnya sebelum benar-benar hilang ditelan Lingkaran Sihir Teleportasinya. Naruto mengumpat lemah, sementara Hinata menangis pilu meratapi nasib keluarga mereka.
Namun tidak ada waktu untuk itu, karena Trihexa sama sekali tidak memiliki belas kasihan. Ya ... Tanpa ampun sang Naga berkepala delapan itu memuntahkan seranganya pada Naruto dan Hinata.
Blaaarrrrrr!.
Naruto menyudahi ceritanya disitu, seraya menghela nafasnya dan menatap Boruto sesaat, untuk melihat respon apa yang diperlihatkan anaknya. Dan serangai kemenangan terlihat jelas disana, meski hanya sekilas. Saat melihat respon Boruto yang terlihat sangat marah setelah mendengar cerita pilu itu.
'Tinggal bagian ahirnya, sebagai pemanis ceritaku!' batin Naruto licik.
"Setelah itu, kami tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi mereka bilang, kami berhasil melakukan perintah mereka, dan memberikan sebuah anugerah pada kami, dengan mengangkat kami sebagai Iblis Kelas Atas" kini giliran Hinata yang berucap, meneruskan cerita yang terhenti dari Mulut Naruto.
"Namun anugerah itu hanyalah kedok. Nyatanya, mereka hanya memperlakukan kami seperti senjata. Mereka bahkan sempat menghapus ingatan kami tentangmu dan Himawari-Chan. Itulah sebabnya kami tidak pernah mencari kalian selama ini"
"Tapi ingatan itu perlahan kembali saat melihatmu bertarung dalam Rating Game bersama Kerajaan Rias Gremory. Aku sangat senang saat melihatmu, Boruto-Kun. Tapi Okaa-San dan Otou-San tidak bisa berbuat apa-apa, Tubuh kami akan hancur jika melakukan hal mencurigakan!" ucap Hinata.
Dan detik itu juga, sosok muda sang ibu mulai membuka pakaianya. Boruto semula merasa canggung, tapi saat melihat sebuah Segel aneh yang menghiasi Punggung sang Okaa-San, Boruto mulai mengerti kenapa Hinata melakukannya. Tidak ada hal lain yang dirasakan Boruto saat ini selain kegeraman atas perlakuan semena-mena Iblis-Iblis itu pada keluarganya.
"Segel itu pun tertaman padaku" timpal Naruto seraya menunjukan hal yang sama pada Boruto.
"Ya ampun ..." Boruto tidak bisa berucap apa-apa lagi saat ini. Fikiranya kacau, yang terfikirkan sat ini hanyalah membalas dendam atas semua perbuatan yang pernah mereka lakukan pada keluarganya, dan tentu saja menyelamatkan Himawari.
"Benar-benar cerita yang mengharukan. Benarkan Boruto-Kun?" entah sejak kapan, si pria bertopeng merah yang sudah dua kali membuat Boruto pingsan dalam sekali pukul, bersandar di Dinding dengan santainya. Menatap sinis keluarga yang baru bertemu itu.
"Kau ..." Boruto geram seketika saat melihat orang itu. Namun gerakan Tangan dari Naruto, membuatnya menahan diri untuk menerjang pria itu.
"Sirzech-Sama, kumohon lepaskan anak kami. Mereka tidak ada hubunganya dengan semua ini, kumohon lepaskan mereka!" tiba-tiba saja Naruto bersujud didepan si pria bertopeng merah itu. Dan tak lama berselang, Hinata pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Naruto. Tangis pun tak bisa terbendung lagi oleh wanita bersurai biru itu.
"Kumohon ... Hiks! Hiks!"
"Tou-San, Okaa-San!. Apa yang kalian lakukan—" belum sempat Boruto menyelesaikan ucapanya, sebuah tendangan mendarat dengan telak di Wajah pemuda pirang itu. Siapa lagi yang melakukanya jika bukan si pria bertopeng.
"Seharusnya kau melakukan apa yang orang tuamu lakukan!" desis si pria bertopeng, seraya mulai melepaskan Topeng merahnya. Dan kini terlihat jelas siapa Wajah dibalik Topeng itu, seseorang yang bergelar Maou Lucifer di Dunia Bawah, Sirzech Lucifer.
"Sirzech-Sama kumohon lepaskan anak kami" ucap Naruto. seraya bersimpuh di Kaki sang Maou Lucifer. Hal itu pun dilakukan Hinata, selain itu adalah sebuah permohonan, mereka melakukan itu juga untuk menahan pergerakan Sirzech.
"Ck!. Kalian menyedihkan sekali!" desis sang Lucifer dengan sinisnya, seraya menginjak-injak Punggung Naruto. Pada poin ini, Boruto bangkit dari acara terjatuhnya dan begitu marah melihat orang tuanya direndankan seperti itu.
"Keparaaaattttt!" Boruto berteriak marah. Matanya sudah berubah menjadi Byakugan, Sabitnya pun kini sudah menghiasi Tangan kananya. Dan tanpa fikir panjang lagi, Boruto menerjang Sirzech dengan segala kemarahanya.
Namun, sebuah ledakan kecil dari Tubuh Hinata dan Naruto menghentikan gerakanya!.
"Otou-San ... Okaa-San ..." Boruto kini terlihat seperti Mayat Hidup. Gerakanya kaku, dengan Wajah sedih bercampur tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Sementara Sirzech hanya tersenyum sinis sembari melipat Tanganya.
"Harusnya kalian tahu akibatnya, jika menentangku!" desis Sirzech dengan nada merendahkan.
"Tou-San ... Kaa-San ..." Boruto sama sekali tidak memperdulikan apa yang dilakukan Sirzech. Yang jadi fokusnya saat ini hanyalah, keadaan sang ayah dan ibunya yang terlihat mengenaskan. Bagian bawah Tubuhnya hancur akibat ledakan kecil itu, hanya menyisakan sebatas Dada.
Sosok Hinata perlahan-lahan mulai menguar menjadi Asap. Sementara Naruto masih sekarat dan bisa bertahan, meski terlihat bersusah payah.
"Boruto ... -Kun, ba-balaskan lah dendam kami ..." ucap Naruto lemah sebelum ahirnya meninggal. Dan tak lama sosok Naruto menyusul Hinata yang berubah menjadi kepulan Asap. Sedikit dari Asap Naruto, masuk ke Tubuh Boruto.
Dan saat itu, Boruto seperti mendengar ucapan ayahnya!.
"Balaskan dendam kami, Boruto-Kun. Tou-San sudah memberikan informasi Jutsu yang Otou-San dan Okaa-San kuasai. Dengan itu ... Kuharap kau bisa menyelamatkan adikmu dan membalaskan perbuatan mereka!"
Boruto masih terdiam. Entah apa yang difikirkan pemuda pirang itu, hingga tawa menghina dari Sirzech menyadarkanya!.
"Ghahahahaha~ ingin balas dendam?. Lakukanlah, aku suka bermain-main denganmu!" desisnya, seraya menghilang dalam Lingkaran Sihir Teleportasinya.
"Grrrrr ..." Gigi Boruto bergetar hebat, merasa dipermainkan Maou Lucifer itu. Matanya yang telah berubah menjadi Byakugan, bergerak cepat berusaha menemukan pancaran Aura Sirzech. Dan setelah ketemu, Boruto langsung melesat cepat mengejar Sirzech.
"Tunggu Iblis siaaalllll!" teriakan itu menjadi penghias kemarahan Boruto yang siap meledak pada Dunia Bawah!.
Setelah Boruto pergi, Asap hitam terlihat berkumpul disana dan membentuk dua sosok pemuda dan gadi. Ya ... Mereka adalah Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata. Senyum sinis terlihat menghiasi Wajah Naruto. Tidak ada lagi senyum cerah yang beberapa saat lalu diperlihatkanya pada Boruto.
Begitu pun dengan Hinata, senyum lembutnya tidak terlihat lagi. Yang ada kini hanyalah Wajah datar yang kini terlihat di Wajah cantiknya.
"Ini baru dimulai ..." gumamnya. Lalu pandangan pemuda bersurai pirang dengan Mata aneh itu, beralih pada Hinata.
"Ayo Hinata, kita lakukan sentuhan terahir!" perintahnya. Hinata hanya mengangguk patuh pada perintah sang pemuda itu, sebelum ahirnya menjawab.
"Baik Ashura-Sama!"
BERSAMBUNG.
Kolom balasan Review.
Thelaststand84 :: Makasih loh pujianya. Amin, semoga saya tetap diberikan semangat dan waktu menulis. Humm~ mungkin hampir seimbang lah, Boruto palingan satu tingkat diatas Issei. Toh saya gak suka bikin chara keliwat kuat. Jadi jika mereka bertarung, Issei pun punya kesempatan menang.
Yap, saya setuju soal itu. Palingan kalo ditambah, seperti usulah Feba Ananta-San.
SHinici kUdo :: Maaf kalo pengembangan plot yang saya buat malah terlihat gaje di Matamu. Tapi, kalo dihapus enggak lah, lagi pula saya udah bilang diawal, saya gak buat Fiksi yang meniru LN atau Anime DxD. Saya buat Plot sendiri. Cuma kalo ada Screen yang dirasa cocok untuk fiksi saya, ya saya ambil.
Fiksi saya sampah ya menurutmu?. Gak papa, saya hargai pendapat itu. Toh saya emang belum pinter buat fiksi. Cuma ada satu yang ngeganjel, kenapa jadi Guest?. Log In lah, saya yakin kamu itu Author di FFN. Soalnya, gaya tulisanmu 'yakin' gitu. Kalo kamu Log In kan saya jadi bisa liat, Fiksi yang kaya gimana sih yang gak sampah itu (yang di Post kamu) masa iya kan Author hebat kaya kamu Post Fiksi Sampah kan?. Dan saya juga bisa belajar sama kamu.
Kalo komen lagi, Log In ya!.
Zulfa935 :: Makasih pujianya, hah~ entahlah. Saya gak tau kalo soal Review mah, mungkin ... Ah~ entah!.
Hummm~ soal nyerang Rias sih cuma karena salah faham aja tentang kata 'tau' nya Rias. Jelasnya ada di Chap ini kok.
Feba Ananta :: Saya terima usulnya. Jujur saya langsung suka sama usul kamu. Makasih ya!. Oh iya kalo punya usul lagi, jangan sungkan-sungkan buat utarakan sama saya ya.
Iib Junior :: Ahahaha~ saya becanda kok, maaf ya. Sebenernya saya juga udah mulai sok rajin buat editing. Yap, Chapter ini saya editing. Tapi entahlah, pasti ada aja Typo yang kelewat deh kayanya.
Silahkan berasumsi lagi setelah baca Fiksi ini, Gerr~ nya kan cuma kenapa dengan Sirzech, sama siapa sebenarnya Ashura, Naruto sama Hinata ini. Kalo saya beritau, gak Geerrr~ lagi entarnya.
Raitogecko :: Humm~ mungkin XD. Seperti yang saya katakan sama Iib Junior-San, bagian menariknya Fiksi saya ya itu, kalo dikasih tau ya sama aja bunuh diri kan ehehe~ yang bisa saya sampaikan sih silahkan menerka-nerka lagi *plaakk*
Yap, karena Ashura ada hubunganya sama Boruto, Naruto, sama Hinata.
Kurotsuhi Mangetsu :: Makasih pujianya. Yap, kayanya sih gitu, saya fikir bakal seru nih jika Maou no 1 macam Sirzech kena Troll :D.
Nah, kalo penasaran sama Naru-Hina-Asu, pantengin terus lah fiksi saya, dan janga lupa tinggalkan jejak ya.
The KidSNo OppAi :: Ahahaha~ kayanya sih gitu. Siap.
Ryuuki Namikaze Lucifer :: Siap. Tapi, jangan panggil Senpai lah, saya masih kacangan. Mungkin yang pantes dipanggil Senpai itu Shinici Kudo-Sama tuh.
Aldo F Salamander :: Hooo~ sumpah itu pemikiran pertama saya, sebelum ngerubah pengembangan Plot seperti sekarang. Nah itu bener, tapi saya Cencel. Terus pendapatmu sekarang gimana xD.
Raffie D'Rocket Rokers :: Maybe xD.
Dsevenfold :: Siap. Dan makasih pendapatnya.
Oh iya, untuk kalian semua, kalo punya saran atau apa gitu soal Fiksi saya, katakan aja. Dan kalo mau yang lebih privasi lagi, PM saya terbuka lebar. Terlebih, kalo lewat PM saya bisa respon dengan cepat kan.
