UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).

•••••

Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)

•••••

Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.

•••••

Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa pula.

Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.

Ya ... Hanya itu ...

Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.

Ditambah lagi, dua gadis cantik yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan berebut untuk menjadikanku budaknya!.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Chapter 10 :: Mode Grim Reaper.

•••••

Duaaarrrrrr!.

Ledakan yang cukup besar berhasil ditahan Boruto dengan bantuan Sacred Gearnya, Gravity Jail. Dan itu cukup untuk menyelamatkan pemuda pirang itu bersama Saiarogh dari ledakan gila yang ditembakan Jupiter, salah satu dari sembilan Elit Grim Reaper bawahan Hades.

"Masih bisa bertahan huh?!" Jupiter bergumam seperti itu saat melihat dua lawannya yang masih bisa bertahan dari serangannya.

"Jadi kekuatan Gravitasimu didapat dari Sacred Gear Gravity Jail?. Kufikir itu berasal dari kekuatan Matamu, seperti halnya Ashura" komentar Saiarogh. Boruto tidak menjawab, rasa enggannya untuk berurusan dengan Iblis masih cukup tinggi. Andai saja pemuda bersurai pirang itu bisa menyelesaikan para Grim Reaper ini sendirian, Boruto pun tentu saja enggan untuk menyelamatkan Saiarogh.

"Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti itu?. Bukankah saat ini kita ada dipihak yang sama huh!" Saiarogh sedikit mengeluh dengan sikap dingin Boruto. Sang Bael lalu mencoba berdiri dan segera memposisikan dirinya untuk kembali bertarung.

"Ambil itu. Kurasa kau lebih membutuhkannya. Aku bisa menyembuhkan diriku dengan Touki, meski sedikit lambat" lanjut Saiarogh seraya melemparkan sebuah Botol kecil yang berisi Air Mata Phoenik pada Boruto.

"Ini ... Kenapa?" tanya Boruto seraya menerima Air Mata Phoenik dari Saiarogh.

"Itu balasan karena telah menyelamatkanku tadi. Dan sudah kubilang kan, meski hanya untuk saat ini, kita berada dipihak yang sama" jawab Saiarogh.

"... Terimakasih" ucap Boruto setelah cukup lama terdiam. Dan tanpa banyak bicara lagi, Boruto segera menggunakan Air Mata Phoenik untuk menyembuhkan luka-lukanya. Namun tidak semua luka ditubuh Boruto sembuh, karena Air Mata Phoenik itu hanya menyembuhkan luka dalamnya saja.

'Sepertinya satu Botol tidak cukup' batin Saiarogh saat melihat tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi pada Boruto, pasca menggunakan Air sakti itu.

'Begitu ya ... Pantas saja Jupiter membiarkan kami menggunakan Air Mata Phoenik. Dia tahu satu Botol tidak cukup untuk menyembuhkan semua luka salah satu dari kami!' seraya memikirkan itu, pandangan Saiarogh tertuju dengan tajamnya pada sang Panglima Grim Reaper. Dan seolah bisa membaca arti tatapan Saiarogh, Jupiter hanya menyerangai dibalik Tudung hitamnya.

"Baiklah ... Sekarang sudah tidak ada lagi benda merepotkan. Jadi, mari kita mulai lagi!" ucap Jupiter dengan suara khasnya. Sebuah jentrikan Jari dari sang Panglima, adalah pertanda bagi bawahannya untuk kembali menyerang, dan pengeroyokan ini pun kembali terulang. Dengan Jupiter yang masih santai menyaksikan anak buahnya beraksi.

"Saiarogh, berapa lama hingga kau bisa bertarung?" tanya Boruto seraya bersiap dengan Sabitnya.

"Lima belas menit—"

"Lima menit. Aku beri kau waktu lima menit untuk memulihkan dirimu. Selama itu aku pastikan tidak ada Grim Reaper yang menyentuhmu ... Fokus saja pada penyembuhannya!" teriak Boruto seraya memulai pertarungannya dengan para Grim Reaper bawahan Jupiter.

Boruto mungkin harus berterimakasih pada Saiarogh, karena telah memberikan sebotol Air Mata Phoenik. Meski tidak cukup untuk menyembuhkan seluruh lukanya, tapi satu Botol itu cukup untuk menyembuhkan kerusakan Organ Dalamnya akibat penggunaan Chakra. Dan efeknya, Boruto bisa bergerak lebih bebas. Namun untuk menggunakan kembali Chakra, pemuda bersurai pirang itu masih sedikit ragu.

Pasalnya, ada Jupiter yang harus dilawannya setelah mengalahkan seratus Grim Reaper yang tersisa. Dan Boruto pun masih belum yakin dengan keadaannya yang sekarang, berapa lama Tubuhnya bisa bertahan saat menggunakan kekuatan over power itu.

"Habisi dulu Bael itu. Dia target mudah karena sedang berfokus pada penyembuhan!" Jupiter kembali memberikan komandonya. Dan target pun berganti. Kini bawahan Jupiter lebih berfokus pada Saiarogh. Sepuluh Grim Reaper mencoba menyibukan Boruto, sementara sisanya berfokus untuk menyerang Saiarogh yang masih fokus pada penyembuhannya.

'Buktikan ucapanmu Uzumaki. Aku tidak mati disini!' umpat Saiarogh yang mulai was-was melihat sembilan puluh Grim Reaper menghambur ke arahnya dari segala arah.

Bats.

Batsss.

Battssss!.

Boruto berhasil membunuh tiga dari sepuluh Grim Reaper yang mengepungnya. Namun sepertinya tidak ada waktu untuk menyelamatkan Saiarogh karena masih ada tujuh Grim Reaper yang sedang menghambur ke arahnya. Dan saat itulah pandangannya menjadi gelap.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba Boruto berada disebuah tempat yang asing. Tidak ada apa pun selain hamparan hitam sejauh Mata memandang, hingga ahirnya sosok gadis loli yang beberapa saat lalu ditemui Boruto kembali menghiasi pandangannya. Gadis itu tersenyum senang saat melihat pemuda bersurai pirang itu.

"Boruto-Samaaaa~" si gadis loli itu berteriak dengan imutnya seraya menghambur dan memeluk Boruto.

"Aku sungguh merindukanmu, Boru-Samaaa~" ucap gadis itu seraya mengencangkan pelukannya pada Boruto.

Telinga Kelinci gadis itu bergerak indah seolah-olah menegaskan kegembiraannya karena berhasil memeluk Boruto. Namun pemuda bersurai pirang itu tidak juga merespon, meski dipeluk gadis loli yang imut maksimal, seperti gadis ini. Alasannya hanya satu, terlalu banyak pertanyaan yang saat ini mengganjal fikirannya.

"Kau ... Siapa?. Dan ini dimana?" tanya Boruto.

"Huh?" si gadis loli mengatakan itu dengan nada bingung, lalu segera melepaskan pelukannya dan melompat mundur dengan gerakan akrobatik yang indah. Satu Tangan segera teracung pada Boruto dengan tanda piece. Sementara Tangan satunya berada di Pinggangnya yang ramping. Lalu sebelah Matanya berkedip manja pada pemuda pirang itu.

Wajah Boruto memerah seketika, melihat aksi si gadis loli yang manja.

"Baiklah Boru-Sama, aku akan menjelaskan semuanya padamu~" si gadis loli mulai berucap dengan manja.

"Aku adalah rainkarnasi dari Pluto. Aku tercipta saat kekuatan Grim Reaper Pluto bersatu dengan Tubuh Boru-Sama. Dan ini adalah Alam Bawah Sadarmu, tempatku tinggal~"

"Pluto?"

"Tapi bagaimana bisa?. Setahuku Pluto adalah Grim Reaper berjenis laki-laki, jika kau rainkarnasinya ... Seharusnya—"

"Itu karena kau Boru-Sama!" umpat gadis itu dengan nada yang manja. Ya ... Meski gadis itu terlihat sebal dengan Bibir manyunnya, namun suara manja si rainkarnasi Pluto ini tetap tak bisa dihilangkan.

"Kau adalah Lolicon. Itu sebabnya aku jadi seperti ini!" lanjut sang rainkarnasi Pluto, masih berkeluh manja. Boruto langsung terbatuk, mendengar fonis yang dijatuhkan padanya. Meski tidak ada sesuatu yang menembus dadanya, entah kenapa bagian itu terasa nyeri dan sesak.

"Tapi tidak apa-apa kok, Boru-Sama. Aku mulai menyukai wujudku saat ini ... Yang lebih penting sekarang adalah, apa kau ingin kekuatan?" pertanyaan si rainkarnasi Pluto cukup sukses untuk menghentikan acara bersedih Boruto dengan fonis Loliconnya. Dan dengan tatapan penuh harap, pemuda bersurai pirang itu dengan cepat menjawab.

"Tentu saja Plue, aku membutuhkan banyak kekuatan!" jawab Boruto cepat.

"Plue?"

"Eumh~ begitulah ... Apa kau tidak suka dengan panggilan yang kubuat?. Kalau harus memanggilmu Pluto, aku ..." ucapan Boruto terhenti disitu. Meski mimik si rainkarnasi Pluto ini masih terlihat terkejut bercampur bingung, tapi Boruto tetap merasa enggan untuk memangilnya Pluto.

Yap, perbedaan fisik adalah alasannya. Bagaimana bisa gadis loli yang imut ini tetap dipanggil dengan nama saat dia masih menjadi Tengkorak jahat?. Bukankah itu terasa mengganggu?!.

"Tidak apa-apa Boru-Sama, aku eumh~ Plue menyukainya kok~" jawab sang rainkarnasi Pluto setelah cukup lama terlihat bingung.

"Plue ... Kyaaaaaa~ aku mendapatkan nama dari Boru-Samaaa~" gadis itu, yang kini telah sah dengan nama Plue berteriak imut, dengan mimik dan gestur yang tak kalah menggemaskan. Membuat Wajah Boruto memerah seketika melihat aksi Plue. Tapi karena waktu yang mendesak, pemuda pirang itu harus rela mempercepat tontonan menggemaskan ini. Mengingat Saiarogh dalam keadaan bahaya sebelum dia terdampar di Alam Bawah Sadarnya.

Dan Plue pun menyadari apa yang difikirkan Boruto-Samanya.

"Baiklah Boru-Sama, aku akan membuka Kuncinya. Yang perlu kau lakukan hanyalah membiasakan diri dengan kekuatan Grim Reaperku. Tapi ... Karena Aura Kematian yang selama ini kuserap tidak banyak, Form ini hanya bertahan kurang lebih tiga puluh detik saja" terang Plue, yang tentu saja dengan gaya manja dan menggemaskannya.

"Mudah sekali ... Serius hanya itu?" komentar Boruto. Namun Plue tidak terlalu memperdulikannya, selain senyum misterius yang terlihat menghiasi Wajah imutnya. Untuk menanggapi komentar Boruto.

Sementara di Dunia Nyata.

Tubuh Boruto tiba-tiba saja meledakan Aura Kematian yang pekat. Tidak terlalu besar memang, namun itu cukup untuk menghancurkan tujuh Grim Reaper yang sedang menghambur kearahnya. Dan saat hempasan Aura Kematian itu mulai menghilang, terlihatlah penampilan Boruto yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya.

Pakaian tempur serba hitam dengan beberapa ornamen dan garis kuning dibeberapa bagian, kini menghiasi Tubuhnya. Dipadu dengan sebuah Jubah hitam bertudung khas Grim Reaper. Benar-benar membuatnya terlihat keran. Kilatan Listrik yang tercipta disekitarnya pun menambah kesan itu.

Dan Jupiter yang melihat itu tentu saja sangat mengenali Aura Kematian ini. Dia yang juga merupakan Elit Grim Reaper Hades, tentu saja mengenali Aura ini. Karena Aura Kematian yang dipancarkan Boruto adalah Aura Kematian Pluto, rekannya sesama sembilan Panglima terkuat Grim Reaper Hades.

"Aura ini ... Tidak salah lagi!" saat Jupiter sibuk menyakinkan dirinya atas Aura Kematian yang dipancarkan Boruto, sembilan puluh anak buah Grim Reapernya saat ini sedang dibabat habis oleh pemuda bersurai pirang itu. Gerakan Boruto yang super cepat membuat yang terlihat hanyalah Kilatan Listrik yang bergerak liar kesana-kemari membantai satu persatu Grim Reaper yang mengerubungi Saiarogh.

"Beruntung aku memiliki Mata Byakugan!" gumam Boruto seraya terus membabat habis ke sembilan puluh Grim Reaper bawahan Jupiter. Yap, seperti yang diucapkan si pirang, Mata saktinya benar-benar membantu dalam hal pengelihatan. Jika Boruto tidak memiliki Byakugan, pemuda bersurai pirang itu pasti mengalami kesulitan untuk melihat targetnya. Akibat kecepatan yang luar biasa itu.

Namun meski terlihat mudah dalam menggunakan Mode Grim Reaper Plue, nyatanya tidaklah semudah itu. Tubuh Boruto masih belum terbiasa dengan kecepatannya saat ini. Beberapa kali Boruto malah menabrak targetnya dari pada disebut menebas. Dan beberapa kali juga Boruto harus rela menabrakan dirinya pada Tanah atau Bangunan untuk menghentikan lajunya sendiri.

Ya ... Sepertinya inilah arti senyuman misterius si Plue!.

"Bagaimana Boru-Sama?. Kekuatan Plue hebat bukan?" tanya Plue yang terngiang di Telinga Boruto.

'Luar biasa!' balas Boruto cepat. Namun jawaban singkat ini malah membuat Plue tertawa dengan renyahnya. Gadis loli ini seperti menangkap makna kerepotan Boruto untuk menguasai kekuatan Grim Reapernya, yang lebih terfokus pada kecepatan.

"Hihihi~ Plue senang Boru-Sama menyukai kekuatan Plue. Meski harus menabrak disana-sini seperti itu. Hihihihi~" balas Plue dengan suara manjanya.

Namun yang mengetahui kenyataan ini hanyalah Boruto dan Plue saja. Karena Saiarogh maupun Jupiter sepertinya beranggapan ledakan yang terjadi disana-sini adalah akibat serangan Boruto dalam mode barunya, bukan karena dia dengan sengaja menabrakan dirinya untuk menghentikan laju pergerakannya sendiri.

Dan hanya butuh waktu lima belas detik untuk Boruto membabat ke sembilan puluh Grim Reaper itu. Dan kini Boruto sudah berdiri dengan gagahnya didepan Saiarogh, tentu saja dengan acara mendaratnya yang kasar. Tubuhnya bergetar hebat, meski mencoba berusaha untuk terlihat hebat dan meyakinkan nyatanya getaran di Tubuhnya tidak bisa disembunyikan dengan baik oleh pemuda pirang itu.

Alasannya hanya satu, Boruto terlalu banyak menabrakan dirinya, sehingga menimbulkan nyeri disekujur Tubuhnya yang terluka. Meski ketahanan fisiknya juga bertambah saat menggunakan Form Grim Reaper Plue, namun terlalu sering berbenturan membuat nyeri tetap dirasakan Tubuh si pirang.

'Padahal aku sudah menjadi Iblis, tapi Tubuh Iblis tidak terlalu banyak membantu saat menggunakan kekuatan penuh Chakra atau pun Mode Grim Reaper' keluh Boruto dengan pandangan yang tetap penuh siaga pada sosok Jupiter, yang menatapnya penuh kebencian.

Kesal?.

Sudah pasti!.

Jupiter dan kebanyakan Grim Reaper beranggapan mereka lebih terhormat dibandingkan Mahluk Supernatural lainnya. Termasuk dibandingkan Iblis, Malaikat Jatuh atau Malaikat sekali pun.

Kenapa?.

Karena mereka adalah penjaga Neraka. Sosok yang memberikan pelajaran bagi setiap Mahluk yang terjatuh pada bagian terdalam Bumi itu. Dan itu membuat mereka beranggapan menjadi mahluk yang paling terhormat dari Mahluk mana pun yang ada di Dunia ini. Dan kini kekuatan terhormat itu dimiliki oleh sosok Iblis terainkarnasi, yang dulunya adalah Mahluk terlemah seperti Manusia.

Bagi Jupiter, tidak ada lagi penghinaan yang lebih besar dari ini!.

"Kembalikan kekuatan Pluto, Mahluk rendahan!" sang Elit Grim Reaper berteriak murka dengan Sabit yang terhunus. Sementara itu Boruto pun mulai bersiap untuk meladeni kemarahan lawannya. Pandangannya melirik Saiarogh yang masih sibuk dengan proses penyembuhannya.

"Berhati-hatilah Boru-Sama, Jupiter adalah Elit Grim Reaper yang memiliki daya destructif terkuat diantara sembilan Elit lainnya!" Plue berusaha memperingati pemuda bersurai pirang itu tentang kekuatan yang dimiliki musuhnya. Namun Boruto sama sekali tidak memperhatikan ucapan gadis itu, karena kebimbangan mulai menghinggapi Hati si pirang.

'Masih ada sepuluh detik lagi' batin Boruto yang mulai bimbang. Ya ... Faktanya Boruto masih memiliki sepuluh detik untuk memaksimalkan kekuatan baru ini. Tapi yang membuatnya bimbang adalah, lima menit yang dijanjikan Boruto masih sangat lama.

Melanjutkannya dengan kekuatan penuh Chakra, terasa cukup beresiko untuknya. Bagaimana jika Boruto kembali terluka dalam?. Meski yakin bisa mengalahkan Jupiter dengan itu, tapi akan jadi percuma jika dia tidak bisa bertarung melawan Saiarogh nanti. Bukankah aliansi Boruto-Saiarogh hanya bersifat sementara?!.

Terlalu banyak fikiran yang mengganggunya, hingga membuat Boruto kehilangan fokusnya pada sosok Jupiter. Andai saja Plue tidak mengingatkannya, pemuda bersurai pirang itu mungkin sudah mati. Ya ... Memanfaatkan kecepatannya, Boruto berhasil menghindari tebasan Jupiter meski harus kembali merelakan Tubuhnya menabrak Dinding Mansion Bael.

Boruto baru saja berdiri, tapi Jupiter sudah berada didepannya dengan sebuah tebasan Sabitnya. Pemuda bersurai pirang itu memang bisa melihat dengan jelas gerakan Elit Grim Reaper itu, tapi Tubuhnya terlambat merespon serangan Jupiter.

Dan saat itulah sesuatu terjadi pada Tubuhnya, Kilatan Listrik yang menyelubungi Boruto tiba-tiba menyengat Tubuhnya sendiri. Membuat Tubuh Boruto melakukan gerakan spontan, yang membantunya menghindari tebasan Jupiter. Boruto terkejut dengan kejadian itu. Selain karena sengatan Listrik yang tiba-tiba, pemuda bersurai pirang itu pun terkejut dengan hasil sengatan itu yang berhasil menyelamatkan nyawanya.

Namun penjelasan Plue membuatnya mengerti mekanisme kekuatan Grim Reapernya.

"Tidak usah terkejut Boru-Sama, ini salah satu kekuatan Plue. Asal Boruto-Sama melihat serangan lawan, aliran Listrik yang menyelubungi Tubuh Boru-Sama akan membantu reflek Boruto-Sama" ucap Plue sedikit menjelaskan apa yang terjadi barusan.

Dan sepertinya, bukan hanya Boruto yang terkejut. Jupiter pun merasakan hal yang sama saat melihat serangannya gagal. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan itu, karena Boruto segera melakukan serangan balasan. Dengan Sabitnya Boruto berhasil memberikan tebasan telak di Tubuh Jupiter. Cukup dalam, membuat sang Elit Grim Reaper tak kuasa menahan erangan kesakitannya.

Duaakkk!.

Tendangan telak mengakhiri serangan balasan Boruto, membuat Jupiter terdorong cukup jauh. Hingga ahirnya terhenti, setelah membentur Tanah berulang kali. Hitungan Boruto masih tersisa lima detik, dan si pirang ingin benar-benar memanfaatkan waktunya untuk menyerang Jupiter habis-habisan. Namun ternyata, Tubuhnya tak sanggup lagi untuk bergerak.

Tubuhnya mati rasa!.

"Kah!. Sial ... Apa ini karena sengatan Listrik tadi?" gumam Boruto, merasakan Tubuhnya yang tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan pada ahirnya lima detik Boruto berahir dengan sia-sia. Mengabaikan itu kini Jupiter sudah kembali bangkit dengan tatapan tajam penuh hasrat membunuh pada sang Uzumaki.

"Gawat ..." Boruto mengeluh singkat. Pandangannya beralih pada sosok Saiarogh yang masih setia dengan proses penyembuhannya. Sangat jauh dari lima menit yang dijanjikan Boruto memang, tapi disaat genting seperti ini, bukankah wajar jika Boruto mengharapkan sebuah keajaiban?!.

Tapi Boruto tiba-tiba mengingat sesuatu. Ya ... Faktanya pemuda bersurai pirang itu memiliki kekuatan lain selain Chakra atau pun Sabit Grim Reaper. Ada kekuatan Gravity Jail, Byakugan, atau pun Iblis. Lalu kenapa Boruto terlalu bergantung pada dua kekuatan barunya?. Bukankah selama ini, Byakugan dan Gravity Jail yang menjadi andalan Boruto selama ini?!.

"Maaf karena kekuatan Plue tidak banyak membantu, Boru-Sama" dalam Alam Bawah Sadarnya, Plue tiba-tiba mengatakan itu dengan tidak bersemangatnya. Wajah imut gadis itu terlihat sedih dengan Telinga Kelincinya yang terkesan melayu, merasa jika kekuatannya tidak terlalu banyak membantu sang tuan.

'Jangan berkata seperti itu Plue, aku masih hidup karena kekuatanmu. Lagi pula aku masih memiliki banyak kekuatan selain Form Grim Reaper dan Chakra ... Ada kekuatan Sacred Gear Gravity Jail dan Kekuatan Iblis' balas Boruto berusaha menenangkan gadis loli itu.

'Yang perlu kulakukan hanyalah memaksimalkan kekuatan itu dengan keadaanku yang sekarang!' batin Boruto mantap dengan semangat bertarung yang kembari terisi.

"Mati kau Mahluk Rendah!" Jupiter berteriak nyaring, seraya menembaki Boruto dengan Aura Kematiannya. Namun Boruto sudah siap. Dengan semangat barunya si pirang merentangkan Tangan kirinya mencoba beradu tembak dengan Jupiter.

Aura Iblis dan Aura Kematian beradu, menimbulkan ledakan disana-sini saat dua kekuatan itu bertabrakan. Namun tembakan Boruto kalah jumlah, membuat sebangian besar tembakan Jupiter tetap meluncur ke arahnya. Namun untungnya, tidak ada yang luput dari pengelihatan Byakugan. Boruto dengan jelas bisa melihat itu.

Berhenti mengeluarkan tembakan Aura Iblis, Boruto kini bersiap untuk menggunakan kekuatan Sacred Gear Gravity Jail.

"Baiklah ... Shinra Tensai!" Boruto mendesis mengucapkan salah satu nama Jutsunya. Dan seketika itu juga, sebuah tolakan dasyat menyapu semua tembakan Jupiter yang mengarah padanya.

Duaar!.

Duaarr!.

Duaarrr!.

Ledakan terjadi dimana-mana akibat tembakan Jupiter yang dipaksa untuk berbelok arah. Boruto benar-benar kelelahan saat ini, tapi dia masih mencoba untuk bertahan. Karena saat sibuk melihat satu persatu arah Aura Kematian yang ditahannya, Boruto melihat dua sosok Manusia dan Yokai bersembunyi tak jauh dari tempat mereka.

Boruto sedikit terkejut saat melihatnya, karena dia sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan mereka, namun itu bukan berarti tidak bisa ditemukan oleh Boruto. Mata Saktinya benar-benar membantu. Namun yang jadi permasalahan adalah, siapa mereka?. Lawan atau kawan?. Tapi mengingat mereka tidak juga membantu dan si Elit Grim Reaper itu pun terlihat tidak menyadarinya, ahirnya Boruto mengansumsikan mereka adalah kawan.

"Mungkin mereka adalah bantuan untuk Bangsawan Bael" Plue tiba-tiba mengatakan itu. Pandangan mereka yang terhubung membuat Plue juga bisa melihat keberadaan mereka. Dan apa yang diucapkan gadis loli itu sama dengan apa yang diasumsikan Boruto.

Pemuda pirang itu mengangguk setuju dengan ucapan Plue. Bukti jika mereka bisa menyembunyikan hawa keberadaan mereka dengan sangat baik, membuktikan jika dua sosok itu bukanlah orang sembarangan. Mengabaikan itu, Saiarogh menatap tak percaya dengan kekuatan yang diperlihatkan Boruto disela kesibukannya untuk menyembuhkan diri.

Dan agaknya sang Bael pun tidak menyadari bala bantuan itu.

'Uzumaki Boruto ... Seberapa kuat kau sebenarnya?!' batin Saiarogh dengan takjubnya, melihat Boruto masih bisa meladeni serangan sang Elit Grim Reaper, meski dengan keadaan yang sudah seperti itu.

Boruto bersiap dengan kekuatan Gravitasinya. Dengan kekuatan itu, Boruto menarik setiap reruntuhan Bangunan yang ada disekitar sana, dan menabrakannya pada Jupiter. Namun tentu saja itu tidak terlalu berguna untuk Jupiter. Dengan Aura Kematiannya, sang Elit Grim Reaper dengan mudah mampu menghancurkan setiap reruntuhan yang mengarah padanya.

Namun terjadi sebuah kesalahan. Tanpa Jupiter sadari inilah yang diinginkan Boruto, karena dengan begini Debu bertebaran dimana-mana dan menutupi jarak pandang sang Elit Grim Reaper. Boruto segera memanfaatkan keadaan ini, dengan Sayap Iblisnya pemuda bersurai pirang itu, melesat ke arah Jupiter. Merasa kurang cepat dengan kecepatannya saat ini, Boruto menambahnya dengan kemampuan Gravitasinya, melontarkan Tubuhnya sendiri.

Sang Elit Grim Reaper menyadari sinyal bahaya ini. Namun karena buruknya jarak penglihatan, Jupiter merasa kesusahan hanya untuk merasakan dimana posisi Boruto. Tidak mau berahir dengan menjadi sasaran empuk si pirang, Jupiter berusaha meningkatkan indra perasanya guna merasakan hawa membunuh Boruto. Tapi ...

"A-apa ini?!"

"Kenapa aku tidak bisa m-merasakannya?!" gumam sang Elit Grim Reaper panik. Namun tidak ada waktu untuk itu, karena entah sejak kapan, Boruto sudah ada didepannya dan berhasil menusuk sang Elit Grim Reaper dengan bagian Gagang Sabitnya. Dan seketika itu juga, Darah langsung keluar dari Mulut dan bagian Dadanya yang terhunus Sabit Buruto.

"K-kau ..." desis Jupiter menahan geram. Namun Boruto tidak ambil pusing, pemuda pirang itu lebih memilih untuk berfokus pada serangan selanjutnya. Dan dengan Tangan kirinya yang bebas, Boruto mencoba menghempaskan Jupiter.

"Shinra Tensai!" gumam Boruto.

Dan ...

Tuuummm!.

Sebuah tolakan Gravitasi melibas Jupiter tanpa ampun. Tapi dengan kekuatan Aura Kematiannya, Jupiter berhasil bertahan. Sang Elit Grim Reaper belum juga terdorong dari tempat semula, meski hanya sedikit. Boruto terkejut bukan main, dan mencoba menambah daya tolaknya. Tapi lagi-lagi, Jupiter sama sekali tak begeming.

"Kau ..." sang Elit Grim Reaper kembali mendesis kesal pada pemuda bersurai pirang itu, seraya terus mencoba bertahan dan terus meningkatkan Aura Kematiannya.

"Kepaarraaaattttt!" Jupiter berteriak nyaring, disusul sebuah ledakan Aura Kematian yang pekat. Dan efeknya, Yang terdorong bukanlah Jupiter. Melainkan Boruto yang tidak bisa menandingi kekuatan sang Elit. Boruto meluncur dengan sangat cepat, membentur Tanah berulang-ulang, sebelum ahirnya terhenti setelah menabrak beberapa kali reruntuhan Mansion Bael.

"Gah!" Boruto mengeluh seraya memuntahkan banyak Darah dari Mulutnya. Kepalanya terasa berat, seiring dengan pandangan yang terasa mengabur. Membuat Byakugannya nonaktif secara paksa. Sementara itu Jupiter masih berdiri dengan gagahnya meski Tubuh sang Elit Grim Reaper masih tertusuk Gagang Sabit Boruto.

Dengan sebuah teriakan nyaring sang Grim Reaper itu, menarik paksa Sabit yang bersarang di Tubuhnya. Dan setelah berhasil, Sabit Boruto dibuang begitu saja sebelum ahirnya menghilang menjadi Asap hitam. Pandangan Jupiter lalu melihat daerah sekitar, selain untuk mencari keberadaan Boruto, agaknya sang Elit Grim Reaper sedang mengobservasi sesuatu.

"Jadi begitu ya ... Kau mencampur Debu dengan Sihir Penghilang Hawa Keberadaan" gumam Jupiter seraya membawa dirinya melangkah mendekati Boruto. Sang Elit tampaknya sudah selesai dengan acara obervasinya.

Dan memang seperti yang diucapkan Jupiter, Debu yang tadi bertebaran tercampur dengan Sihir Penghilang Hawa Keberadaan. Tapi itu bukan ulah Boruto, karena pemuda pirang itu pun terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan Jupiter. Disela rasa sakitnya, Boruto melirik pada tempat dua sosok Yokai dan Manusia, yang sebelumnya tempat mereka bersembunyi.

'Tidak ada, atau aku tidak bisa melihatnya—'

"Mereka memang sudah tidak bersembunyi ditempat itu lagi Boru-Sama. Plue pun tidak bisa merasakan keberadaan mereka disekitar situ" Plue memotong batinan Boruto yang terkesan bimbang.

"Tapi ... Apa kau baik-baik saja, Boruto-Sama?!" lanjut gadis itu dengan nada khawatirnya. Namun mengabaikan semua itu, Jupiter sudah berdiri tepat didepan Boruto. Sabitnya pun sudah terhunus di Leher si pirang, siap kapan saja untuk mengiris bagian itu.

"Kau anak yang menarik. Aku cukup terkesan dengan—" ucapan Jupiter terhenti karena Saiarogh yang sebelumnya terus berfokus pada penyembuhan, kini mulai ikut dalam pertarungan ini. Meski lima menit pun belum terlewati, sang Bael memang harus melakukan itu, karena Boruto sudah benar-benar mencapai batasnya.

"Cih!. Ada Mahluk rendah yang mengganggu!" umpat Jupiter dengan sombongnya.

Namun entah apa yang terjadi. Entah Saiarogh yang tidak terlalu siap saat melakukan serangan atau apa, karena tinju sang Bael dengan mudah dihentikan Jupiter. Senyum sinis pun sempat diberikan sang Elit, sebelum ahirnya memberikan tendangan memutar yang dengan telak mengenai Pinggang Saiarongh.

Duaaakkkkhhh!.

Saiarogh terlempar jauh dan dan ahirnya pingsan akibat benturan keras itu.

Jupiter kembali mengalihkan pandangannya pada pada Boruto. Namun entah sejak kapan, sosok pria tengil berdiri diantara dirinya dan Boruto. Sebuah Tongkat pun terlihat di Panggul pria itu di Pundaknya. Jupiter terkejut, sementara si pria yang dari Auranya adalah Yokai, malah tersenyum dengan tingkah yang terlihat sangat mengesalkan.

"Halooo~" sapa pria itu seraya memutar Tongkat di Pundaknya, memutari Leher. Dan efeknya, ujung lain dari Tongkat pria itu memukul Wajah Jupiter. Cukup keras, karena faktanya, Jupiter terhuyung ke belakang dan kehilangan keseimbangan.

Dan disaat itulah, seorang Manusia meluncur dengan cepat dari arah belakang Jupiter. Dengan sebuah Pedang yang bercahaya keemasan yang siap untuk ditebaskan pada sang Elit Grim Reaper itu.

Tapi ...

Entahlah. Boruto sama sekali tidak melihat apa pun, kapan Manusia itu melakukan serangan atau apalah dengan Pedangnya itu. Namun pria itu terlihat penuh percaya diri, setelah membenarkan letak kacamatanya, pria itu mulai menyarungkan kembali Pedangnya.

Cliikk.

Dan disaat yang sama, Tubuh Jupiter mulai bercahaya, hingga ahirnya meledak dalam sebuah gelombang Aura Suci yang kuat.

Duuummmm!.

Boruto terkejut dengan kekuatan pria berkacamata itu, meski hanya seorang manusia. Hingga sebuah keluhan terdengar di Telinga si pirang.

"Cih!. Gaya bertarung Keluarga Pendagron memang hebat. Aku masih saja kesulitan untuk melihat tebasannya" keluh si Yokai masih dengan gaya tengilnya. Merasa diperhatikan, pria itu mengalihkan pandangannya pada Boruto. Setelah tersenyum, atau lebih tepatnya menyerangai, si Yokai tengil ini mulai memperkenalkan diri dan temannya, si kacamata itu.

"Tidak usah memasang Wajah sepeti itu, kami bukan musuhmu. Aku Bokou, Generasi ke empat dari Son Goku. Dan si kacamata itu adalah Arthur Pendagron, pemilik Holy Sword terkuat. Callibur!" ucap si Yokai tengil yang ternyata bernama Bikou dan si Manusia berkacamata yang bernama Arthur.

"Kami adalah anggota Tim Vali" lanjut Arthur dengan dingin dan datar. Jika diperhatikan secara sekilas, sifat dua orang ini bebanding tebalik. Jika Bikou seorang yang mengesalkan dengan sikap dan gaya bicaranya, si Arthur Pendaron malah terlihat datar dan minim expresi.

"..." Boruto tidak menjawab. Jujur saja pemuda bersurai pirang itu masih tidak percaya dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Mengabaikan itu, Bikou dan Arthur beradu pandang untuk sesaat, sebelum ahirnya mengangguk sepakat.

"Baiklah pirang, mari jalan-jalan sejenak!" ucap Bokou. Lingkaran Sihir tercipta dengan cepatnya dan sedetik kemudian, ke tiga laki-laki itu menghilang entah kemana. Tak lama setelah kepergiaan ke tiga orang itu, Saiarogh tersadar dari pingsannya.

"Ugh!" keluhan singkat keluar dari Mulut Saiarogh, saat merasakan nyeri dan ngilu di Pinggangnya. Namun setelah itu, pandangannya mulai menyapu keadaan sekitar untuk mencari informasi. Dan yang terlihat hanyalah ...

Sisa-sisa reruntuhan Mansion Bael.

"Dimana Jupiter?... Boruto?... Apa mungkin?!" gumam sang Bael mengexpresikan kebingungannya.

BERSAMBUNG!.

Balasan Review non-log in.

toro kun :: Ini udah.

Who :: Niat awalnya sih iya, tapi seiring berjalannya chapter, saya mulai bimbang *plaakk* ya gitu lah. Tiba-tiba saya pengen munculin Naruto :v.

Dan untuk review dengan akun, saya balas menggunakan PM.

Oh iya, kalau ada saran atau apa untuk fiksi saya, bisa kirim ide kalian ke saya. Jujur saya mulai kesulitan berkreasi. Saat saya dapet ide, waktu menulisnya gak ada. Dan saat ada waktu senggang, malah idenya yang lupa. Halaaahhhh~

Satu lagi ya, izinkan saya curhat.

Saat ini saya mulai kepincut sama Game Online. Dulu sih sebenernya juga suka Game Online, cuma Game yang dulu dimainkan sudah mulai bosen. Nah sekarang saya dapet lagi Game baru yang menarik minat saya.

Jadi ... Untuk waktu menulisnya sedikit terganggu. Dan efeknya, update akan semakin santai.

Dan karena dulu ada PM masuk yang bilang saya Muna karena pake alasan sibuk di Duta, jadi mari kita lihat kegiatan saya sehari-hari.

Senin-Jumat saya kerja disalah satu Perusahaan yang ada ditempat saya. Berangkat Pagi pulang Sore. Kalau lagi dikejar target, kita ngelembur sampai Malam. Sabtu-Minggunya saya Kuliah.

Sibuk?. Emang!.

Tapi kalau bilang gak sempet buat nulis, itu bohong. Saya masih punya Waktu nulis (buktinya saya masih bisa update) hanya saja, waktunya gak banyak.

Saat di Rumah, saya masih harus menyiapkan File dan Dokumen Kantor, ditambah panggilan Rapat yang kadang datang tiba-tiba (meski sudah ada di Rumah), ditambah belajar Materi Kuliah, ditambah main Game Online, ditambah main sama temen atau pacar.

Ayolah~ jangan perotes untuk dua terahir. Saya juga butuh refresing kan?.

Nah loh. Sibuk kan?.

Masih mau bilang Muna?.

Terserah sih, itu hak saya rasa, orang yang sudah bekerja pasti ngerti. Apa lagi yang nasibnya sama dengan saya (kuliah sambil kerja).

Okeh~ sekian keluh kesah saya. Keris Empu Gandring Out.