UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).

•••••

Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)

•••••

Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.

•••••

Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa pula.

Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.

Ya ... Hanya itu ...

Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.

Ditambah lagi, dua gadis cantik yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan berebut untuk menjadikanku budaknya!.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Chapter 11 :: Cerita yang sebenarnya.

•••••

Mansion Phoenix.

Pertarungan melawan Grim Reaper semakin sengit. Telah banyak korban di ke dua pihak, baik itu Fraksi Iblis maupun Fraksi Grim Reaper sendiri. Dan ditempat ini, Daerah kekuasaan Clan Phoenix, pertarungan pun sudah mencapai klimaksnya. Dua bersaudara Ruval-Raiser berhasil mengalahkan duo kembar Saturnus-Uranus.

Namun meski pemimpin mereka sudah dikalahkan, sisa-sisa pasukan Grim Reaper bawahan Panglima Kembar itu masih saja menyerang. Mereka tampaknya tidak lagi memperdulikan nyawa mereka, hal yang terfikirkan hanyalah memberikan kerusakan terbesar bagi Fraksi Iblis dan membantai Clan Iblis Penyembuh ini sebanyak-banyaknya.

Dan tampaknya itu cukup berhasil. Lord Phoenix dan beberapa petinggi Clan Phoenix lainnya berhasil dimusnahkan. Dan kini target mereka selanjutnya adalah Ruval-Raiser yang sudah dalam keadaan kritis. Kelelahan dan kehilangan banyak Aura Iblis membuat mereka tidak bisa berbuat banyak lagi, dan mau tidak mau dua pria itu harus bergantung pada si bungsu Ravel Phoenix.

Ya ... Gadis kecil itu pun ahirnya harus turun dalam peperangan ini, untuk menyelamatkan ke dua kakaknya. Namun apa daya, Ravel yang sejatinya bukanlah seorang petarung tidak terlalu mampu untuk menjadi pembeda. Gadis pirang itu malah terlihat menjadi sasaran empuk bagi Grim Reaper-Grim Reaper yang tersisa. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk si bungsu itu lenyap.

"Sial ... Ayo bergeraklah!" Raiser mengumpat frustasi karena Tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk bergerak. Beberapa luka fatal memang sudah teregenerasi, namun prosesnya menjadi sangat lambat karena sang Phoenik sudah kehilangan banyak Aura. Dan hal serupa pun dialami Ruval. Kakak tertua itu hanya bisa memejamkan Matanya, karena tak kuasa melihat adik tercinta mereka menjadi bulan-bulanan para Grim Reaper.

'Maou-Sama ... Kumohon, berikan sebuah keajaiban!' batin Ruval.

Dan harapan itu tampaknya menjadi kenyataan, karena tiba-tiba saja cuaca mengalami perubahan extrim. Dingin!. Entah bagaimana Cuaca Malam ini menjadi sangat dingin. Ya ... Perubahan Suhu extrim ini bahkan membuat Ruval menggigil.

"Maaf karena kami datang terlambat" sebuah suara asing tiba-tiba saja menghiasi pendengaran sang sulung Phoenix dan saat dia membuka Matanya, yang terlihat dalam pandangannya adalah seorang pemuda tampan dengan sepuluh Sayap Malaikat yang menghiasi Punggungnya. Dan disampingnya, seorang gadis cantik dengan dua pasang Sayap Malaikat tersenyum ramah padanya.

Ruval memang tidak terlalu mengenali mereka, namun sang Iblis Ultimate ini tentu saja mengetahui siapa dua sosok malaikat itu. Terlebih reputasi mereka saat pertarungan final melawan Trihexa (666) dulu.

"Dulio Gesualdo, Joker-San, Dan Irina-San!" bukan Ruval yang mengatakan itu, namun si bungsu Ravel Phoenix yang mengucapkannya dengan penuh kebahagiaan. Dua sosok Malaikat itu mengangguk seolah membenarkan ucapan Ravel. Dan itu artinya, Suhu dingin ini adalah manifestasi dari kekuatan Sacred Gear Joker, yang merupakan urutan ke dua dalam jajaran ke tiga belas Longinus.

Trikkk.

Joker menjentrikan Jarinya, dan seketika itu juga Es yang entah sejak kapan membekukan para Grim Reaper itu, pecah menghancurkan Mahluk yang terperangkap didalamnya. Pandangannya lalu menyapu pandang ke segala arah, seperti sedang mengobservasi keadaan sekitar. Dan setelah selesai dengan acaranya, sang calon terkuat Seraph selanjutnya itu mulai mengatakan hasil observasinya.

"Beberapa Grim Reaper berhasil lolos dari seranganku. Lalu tiga orang dengan kekuatan besar juga sedang mengarah kesini. Dari Auranya, kurasa mereka Yokai dan Manusia" ucap Joker.

"Mungkinkah mereka anggota kelompok Vali?. Kudengar mereka sampai di Duni Bawah lebih awal dari kita" ucap Irina menanggapi informasi dari sang Joker.

"Bisa jadi, karena aku merasa mengenali Aura ini" dan tepat saat Dulio Gesualdo alias Joker selesai mengucapkan itu, Lingkaran Sihir muncul didekat mereka, menteleportasikan Bikou dan Arthur.

"Halo calon Seraph?" sapa Bikou dengan nada mengejek pada Joker. Sementara yang diejek hanya memasang Wajah kesal meski tidak menjawab apa pun.

'Pantas saja aku tidak terlalu ingat, Aura Yokai ini adalah Aura si Monyet Generasi ke empat yang menyebalkan itu!' umpat Joker dalam batinnya. Tidak mampu menahan perasaannya, terkhusus rasa tidak sukanya, membuat Sayap dan tanda Halo Joker berkedip-kedip. Yap, sebagai seorang Malaikat, Joker tentunya harus bisa menjaga Hatinya agar tetap bersih, bukan?!.

Dan rasa tidak suka pada seorang Mahluk adalah hal yang dilarang. Meski untuk Yokai Monyet menyebalkan ini!.

"Hooo~ ada lampu disko" ledek Bikou lagi.

"Joker, kuatkan Imanmu!" teriak Irina, takut calon Seraph itu jatuh. Dan Bikou malah tertawa mendengar teriakan penuh khawatir Irina. Mengabaikan itu, Ravel kini sedang berusaha mengobati ke dua kakaknya, agar proses regenerasi Ruval dan Raiser lebih cepat.

"Bikou" Arthur yang sedari tadi diam kini mulai berucap, dengan tatapan yang mengarah pada Ravel masih sibuk mengobati dua kakaknya. Melihat arah pandangan keturunan Pendragon itu, sang Yokai Monyet itu mengangguk mengerti. Dan dengan sedikit kasar, Bikou melemparkan Boruto yang sudah pingsan ke arah Ravel.

"Bisa sembuhkan dia sekalian, kekuatannya akan sangat membantu untuk melawan Ashura" ucap Bikou. Meski tidak faham dengan maksud ucapan sang Yokai generasi ke empat itu, Ravel tetap menuruti permintaan Bikou untuk menyembuhkan Boruto.

"Siapa dia?" tanya Joker yang sudah bisa menguasai dirinya kembali.

"Kau tidak tahu?" Arthur malah balik bertanya, dan si Pendragon itu mulai menjawab saat melihat gelengan Kepala Malaikat bersayap sepuluh itu.

"Dia adalah Uzumaki Boruto. Keturunan terahir penguasa Chakra, Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata" terang Arthur dengan sangat singkat tapi jelas.

"Ohhh~ jadi dia orangnya. Michael-Sama memang pernah mengatakannya pada kami kalau adik Sirzech-Lucifer, Rias-Buchou, mendapatkan Budak baru keturunan dari Uzumaki Naruto" ucap Irina.

"Tapi ini pertama kalinya kami melihat Wajahnya. Dan ... Dia tampan juga~" lanjut Irina dengan senyum anehnya. Joker mengangguk setuju dengan ucapan AS Michael itu, tapi yang jadi pertanyaan adalah Sayap dan tanda Halo Irina tidak berkedip sedikit pun meski memperlihatkan ketertarikannya pada lawan jenis seperti itu.

'Aneh ... Kenapa tidak ada ancaman Jatuh untuknya?!' batin Joker.

"Ma-maaf. Jika Uzumaki Boruto ini adalah keturunan sang Pahlawan, kenapa Ajuka Beelzebub-Sama malah menjadikannya musuh Dunia Bawah?" disela kesibukannya dalam menyembuhkan ke tiga pria itu, Ravel mengatakan sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.

Bukankah aneh jika seorang Maou, menjadikan anak dari sang Pahlawan seorang musuh?!.

Mendengar pertanyaan itu, Bikou, Arthur, Irina, dan Joker saling beradu pandang. Mencoba mencari tahu siapa yang bisa menjawab pertanyaan bungsu Phoenix itu. Namun hasilnya, hanyalah gelengan Kepala yang didapat. Tidak ada satu pun yang mengerti kenapa masalah ini sampai berkembang seperti sekarang.

"Entahlah jelasnya aku sendiri tidak tahu. Tapi Azazel bilang, ini hanya sebuah salah faham akibat jebakan Otsutsuki Ashura" jawab Arthur. Dan tepat saat suasana mulai terasa tak mengenakan itu, seekor Srigala putih yang besar mendarat dengan kasar didekat mereka.

"Fenrir" gumam Bikou yang tentu saja hafal dengan Srigala putih itu. Fenrir melolong, sebulum ahirnya menundukan Kepalanya agar dua sosok yang menumpang di Punggungnya terlihat. Dan terlihatlah, seorang Yokai Kucing dengan gaya menggoda dan seorang Manusia berpakaian penyihir ada disana.

"Halo Bikou-San, Onii-Sama ... Ahh~ Malaikat-San dan keluarga Phoenix-San juga" ucap si gadis berpakaian penyihir dengan gaya ramahnya. Gadis ini adalah Lee Fay Pendragon, adik dari Arthur Pendagron.

"Kalian sudah selesai nyaannn~" kini giliran si Yokai Kucing yang bernama Kuroka yang mengatakan itu, tentu saja dengan gaya menggodanya.

"Vali meminta kita untuk berkumpul. Keadaan disana cukup merepotkan nyaannn~" lanjut Kuroka tanpa menunggu mereka menjawab sapaan Lee Fay.

"Tapi dimana Gogmagog?" tanya Arthur. Yap, adalah hal aneh jika Golem Batu itu tidak bersama adiknya. Karena yang bisa menjinakan Golem Batu macam Gogmagog hanyalah Lee Fay.

"A-aku meminta Gog-Chan untuk memburu Grim Reaper. Maaf Onii-Sama, sepertinya aku melakukan kesalahan!" ucap Lee Fay menjadi gugup sendiri, saat kakaknya menanyakan keberadaan Golem Batu itu.

"Sudah kubilang kan tidak apa-apa. Biarkan Golem itu bersenang-senang sedikit nyaannn~" bukan Arthur yang menjawab, melainkan Kuroka yang melakukan itu. Merasa bagiannya sudah didahului Yokai Kucing itu, Arthur segera melemparkan pandanganya pada Bikou. Dan seolah tanggap dengan arti tatapan itu, Bikou segera menciptakan Sihir Teleportasi untuk mereka berdua.

Melihat kakaknya pergi begitu saja, Lee Fay merasa sedih dan bersalah.

"Kuroka-San ... Apa Onii-Sama marah?" tanya gadis itu.

"Ayolah Lee Fay, sampai kapan kau akan seperti ini?. Itu kan memang sifat kakakmu?!" balas Kuroka. Mengabaikan itu, Joker dan Irina pun sudah menghilang menjadi kilatan Cahaya yang terbang ke Langit. Sebuah bentuk teleportasi khas Malaikat.

"Kita juga harus pergi Lee Fay" ucap Kuroka lagi. Dan singkat cerita, dua wanita itu pun bergegas pergi menyusul Arthur dan yang lainnya untuk bergabung dalam pertarungan final melawan Ashura.

Tidak selisih lama, Raiser dan Ruval pun mulai bangkit. Yap, saat ini proses penyembuhan yang dilakukan sang bungsu sudah hampir selesai, sehingga membuat dua kakak-beradik itu bisa kembali bergerak. Meski Ravel mencoba melarangnya karena proses penyembuhan itu belum sepenuhnya selesai, namun agaknya Ravel dan Raiser tidak bisa menahan diri mereka lagi untuk ikut bergabung dengan yang lainnya.

"Mohon tunggu sebentar lagi Onii-San, aku belum selesai" cegah Ravel.

"Tidak masalah. Kami ini Phoenix, seperti ini pun sudah cukup. Sisanya akan teregenerasi dengan sendirinya" ucap Raiser.

"Huh!. Sepertinya kau sudah tumbuh dewasa ya?. Kau kini bukan lagi Raiser yang angkuh dan sombong" komentar Ruval dengan nada yang bangga. Mendengar pujian sang kakak, membuat Raiser sedikit tersipu. Tapi itu berhasil ditutupi dengan gayanya yang bagaikan seorang pejuang.

"Aku sudah tumbuh Onii-San" balas Raiser singkat.

"Baiklah. Jaga dirimu Ravel, kami akan pergi ... Oh iya~ saat dia sembuh, suruh Boruto bergabung dengan kami" ucap Ruval, sebelum ahirnya menghilang dalam Lingkaran Sihir bersama Raiser.

UZUMAKI BORUTO.

A Naruto High School DxD Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

"Ugh!" Boruto mengeluh saat pertama kali tersadar dari pinggsannya. Dihadapannya seorang gadis imut, terlihat terus menatapnya dengan penuh rasa khawatir.

"Plue ..." gumam Boruto mengucapkan gadis itu, saat pandangannya tidak lagi mengabur, dan sudah bisa melihat dengan normal lagi. Plue, si gadis cantik nan imut itu, terlihat menghela nafas lega saat melihat Boruto sadar.

"Syukurlah ... Ahirnya Boruto-Sama sadar juga" ucap Plue dengan penuh lega. Mengabaikan itu, Boruto mulai menatap tempatnya berada saat ini. Sebuah tempat yang didominasi warna putih, agak mirip dengan Alam Bawah Sadarnya, tapi juga terasa asing bagi Boruto. Sehingga pada ahirnya pemuda bersurai pirang itu menyanyakan soal ini pada Plue.

"Tapi ini dimana Plue?" tanyanya.

"Ini masih Alam Bawah Sadarmu, Boru-Sama. Hanya saja terlihat sedikit berbeda karena ada yang ingin bertemu denganmu" jawab Plue.

"Bertemu?"

"Ya ... Itu adalah aku, Boruto" suara asing tiba-tiba saja terdengar di Indra Pendengaran Boruto. Dan saat pandangannya beralih pada sumber suara itu, yang terlihat adalah seorang pria bersurai pirang dengan senyum cerah di Wajahnya.

"Kau ..." Boruto bergumam dengan expresi terkejut saat melihat sosok pria bersurai pirang itu. Ini bagaikan dejavu untuk Boruto, pasalnya Uzumaki muda ini pernah merasakan hal serupa saat melihat sosok Ashura.

"Otou-San?!"

"Kau sudah tumbuh dewasa ya, kau juga begitu mirip denganku" ucap sosok yang Boruto sebut sebagai Otou-San itu. Senyum cerah menghiasi Wajahnya, saat mengatakan itu.

Tapi ... Ada sesuatu yang mengganjal untuk Boruto. Matanya!. Mata tidak lagi berpola Riak Air dengan tanda Koma yang aneh. Melainkan berwarna Safir yang indah dan menenangkan.

"Naruto-Tousan, Matamu—" ucapan Boruto terhenti saat melihat senyum sang ayah yang seolah-olah meminta Boruto untuk berhenti.

"Kau pasti bingung saat ini Boruto ... Tapi yang perlu kau yakini hanyalah, ucapan orang yang bernama Ashura itu adalah bohong. Dia hanyalah sisi hitamku yang bangkit saat Sirzech mencoba menyelamatkanku, saat merainkarnasikan aku menjadi Iblis" ucap Naruto.

Boruto tertegun mendengar ucapan sosok lain dari ayahnya. Ada perasaan sangsi mendengar ucapan Naruto. Mungkin saja kan sosok ini adalah manifestasi dari berbagai percobaan Ajuka dan Azazel padanya. Bisa saja kan mereka melakukan sesuatu untuk berjaga-jaga, jika suatu saat insiden keluarganya terbongkar?!.

Dan fikiran itu membuat Boruto tidak percaya dengan apa yang diucapkan sosok Naruto yang ini.

Naruto menyadari apa yang difikirkan Boruto, tapi tidak terburu-buru untuk memaksa sang anak mempercayai ucapannya. Naruto tahu akan sulit bagi Boruto untuk mempercayainya, terlebih setelah dihasut oleh orang lain. Dengan sebuah nafas panjang dalam senyumnya, Naruto mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Kau tahukan Clan Uzumaki dan Hyuuga adalah keturunan penguasa Chakra yang disebut Ninja?" Naruto bertanya seperti itu sebelum memulai ceritanya, dan dijawab anggukan oleh Boruto.

"Kami dulunya tinggal di Kyoto. Kami membantu sang Rubah Ekor Sembilan, Yasaka untuk menjaga stabilitas kekuatan spiritual di Kota itu. Namun saat terjadi insiden Chaos Brigade dan ke tiga Fraksi yang melibatkan Yasaka aku dan Hinata terpaksa ikut campur. Dan inilah awal perkenalan kami dengan ke tiga Fraksi, khususnya Fraksi Iblis" terang Naruto.

"Singkatnya insiden Kyoto berhasil dibereskan dan kami mulai menjalin kerja sama dengan ke tiga Fraksi untuk memerangi Chaos Brigade. Untuk memudahkan komunikasi dengan mereka, kami pun pindah dari Kyoto ke Tokyo yang dikuasai keluarga Gremory dan Sitri. Tidak ada hal berarti selama kami tinggal disana, hingga kejadian itu pun terjadi!" ucap Naruto.

Senyum yang sejak tadi tergambar di Wajahnya, perlahan-lahan terhapuskan dengan mimik kesal, sedih dan bercampur menyesal. Boruto yang melihat itu, entah kenapa membuat Jantungnya berdegup kencang. Mungkin karena cerita Naruto mulai memasuki poin pentingnya, sehingga Boruto tanpa sadar mulai menegang.

FLASH BACK.

Saat itu, Naruto dan Sirzech sedang berbincang dengan serius, di Kediaman Naruto. Sementara Hinata dan Grayfia yang kebetulan ikut bersama Sirzech sedang bermain bersama Boruto dan Himawari. Saat itu, usia Boruto dan Himawari masing-masing adalah 16 dan 14 tahun.

"Jadi begitu?. Sepertinya ahir-ahir ini pergerakan Chaos Brigade semakin tak membahayakan!. Jika mereka berhasil membangkitkan Trihexa (666) bukan hanya Dunia Spiritual yang dalam masalah, tapi juga alam semesta ini" komentar Naruto, saat Sirzech membagi informasinya dengan Naruto.

"Kau benar, karena itulah aku membutuhkan bantuanmu. Kekuatan Chakramu sangat kami perlukan, saat expedisi nanti" balas Sirzech.

"Expedisi?"

"Ya ... Informan Azazel sudah mendapatkan kordinat dimana Trihexa tersegel. Dia berhasil mengirimkan informasi ini, tapi keberadaanya menghilang setelahnya. Kemungkinan besar dia terbunuh sesaat setelah mengirimkan informasi ini" terang Sirzech.

"Dan yang mungkin melenyapkan Informan Azazel hanyalah Chaos Brigade, karena hanya mereka yang memiliki tujuan gila untuk membangkitkan Trihexa" ucap Hinata yang entah sejak kapan ikut bergabung dalam perbincangan dua Kepala Keluarga itu.

"Sepertinya dugaan kita sama" balas Sirzech, yang menyetujui asumsi yang dikemukakan Hinata.

"Jadi bagaimana?. Kalian mau membantu, Naruto, Hinata?"

Mendengar pertanyaan sang Lucifer membuat mereka beradu pandang. Mereka tentunya memiliki kewajiban untuk melindungi Alam Semesta dengan kekuatan yang mereka miliki, tapi disatu sisi, baik Naruto atau pun Hinata cukup mencemaskan ke dua anak mereka. Tidak ada jaminan selamat dalam pertarungan kali ini, sehingga membuat Naruto dan Hinata sedikit ragu.

Dan Sirzech tentunya bisa menyadari itu.

"Aku tidak memaksa. Jika kalian tidak—"

"Kami ikut!" potong Naruto cepat. Dan ucapan itu cukup untuk membuat Sirzech dan Hinata terkejut.

"Naruto-Kun ..." ucap Hinata dalam keterkejutannya, sementara Sirzech tetap diam untuk menunggu kalimat Naruto selanjutnya.

"Tidak ada pilihan lain. Kita harus terlibat dalam masalah ini, Hinata-Chan. Jika Trihexa bangkit, tidak akan ada masa depan. Ini adalah bentuk rasa sayang kita pada mereka. Sebagai Orang Tua, kita harus melindungi masa depan mereka" ucap Naruto, seraya menggenggam ke dua Tangan Hinata.

Difikir berulang-ulang pun sama saja. Jika Trihexa bangkit, tidak ada lagi harapan. Alam Semesta ini pasti akan hancur. Dan itu artinya, kehidupan Boruto dan Himawari pun akan selesai sampai disitu. Tentu saja Hinata tidak mau itu terjadi!. Sebagai Ibu, dia tentu ingin melihat anak-anaknya hidup tenang dan damai.

Meski pun ada yang harus dikorbankan untuk mencapainya!.

"Hinata-Chan ..." desak Naruto.

"... Baiklah aku setuju" balas Hinata setelah cukup lama terdiam. Naruto dan Sirzech tersenyum mendengar ucapan Hinata. Dan dengan gerakan lembut penuh kasih sayang, Naruto mulai memeluk Istrinya, mencoba menenangkan wanita Hyuuga itu.

"Tenang saja. Aku akan berusaha agar setidaknya kau bisa selamat" ucap Naruto mencoba untuk menenangkan sang Istri. Namun ucapan Naruto justru membuat Hinata semakin sedih. Pasalnya, secara tidak langsung, Naruto mengirimkan pesan siap untuk mengorbankan apa saja demi membuat Hinata tetap hidup.

Coba fikirkan Istri atau wanita mana yang rela orang yang dia cintai mati untuknya?. Namun Hinata mencoba menutupinya dan menyembunyikan perasaanya rapat-rapat dalam senyum lembut sang Hyuuga Hinata.

"Terimakasih, Naruto-Kun ..." bisiknya.

FLASH BACK END.

Cerita Naruto berhenti sampai disitu. Bukan karena kebenaran itu berahir disana, namun karena teriakan Boruto yang memaksa Naruto untuk berhenti bercerita.

"Tidak mungkin!" teriakan inilah yang menghentikan cerita Naruto.

"Tidak mungkin ... Ceritamu pasti bohong!. 16 tahun ... Diusia itu, aku cukup dewasa untuk mengingatnya, apa lagi itu terjadi hanya dua tahun yang lalu!" desis Boruto. Plue yang sedari tadi ada disamping Boruto hanya merunduk sedih. Entah apa yang difikirkan Rainkarnasi Pluto ini, namun yang jelas dia tidak mau mengganggu perbincangan ayah-beranak itu.

Naruto tertegun untuk sesaat, mendengar teriakan Boruto. Ya ... Adalah hal yang tidak masuk akal jika Boruto tidak mengingat cerita Naruto sedikit pun. Walau bagaimana pun 16 tahun adalah umur yang cukup untuk mengingat setiap kejadian penting macam ini.

"Itu semua salahku ..."

"Aku dengan sengaja menyegel ingatanmu, karena tidak mau kau berurusan dengan Dunia Spiritual. Tapi sepertinya itu adalah kesalahan besar, karena sekarang kau bahkan menjadi Golongan Iblis dan hampir saja terhasut Ashura ... Maafkan Otou-San" sesal Naruto. Boruto masih tak percaya, namun Naruto tak ambil pusing. Waktunya semakin menipis!. Itu terlihat dari wujudnya yang semakin memudar.

"Ada banyak yang ingin kusampaikan padamu disisa waktuku. Jadi kumohon untuk terahir kalinya, dengarkan Otou-San" mohon Naruto. Meski masih kesal dan tidak percaya, namun Boruto merasa penasaran dengan ahir cerita ini. Dan beruntunglah Naruto, karena dengan itu, sang anak menyetujui permintaannya.

"Huh!. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan padamu" keluh Naruto. Dan setelah mengambil nafas panjang, sang Otou-San memulai kembali ceritanya.

"Biarku persingkat. Pada ahirnya, kami mengikuti expedisi bersama Tim DxD dan ke tiga pimpinan tiga Fraksi. Dan tentu saja, setelah menyegel ingatanmu dan Himawari"

FLASH BACK.

Naruto dan Hinata, saat ini bersama tim DxD, juga para pemimpin ke tiga Fraksi sedang berada disebuah Pulau aneh yang terapung di Celah Dimensi. Aneh karena entah bagaimana, Pulau itu bisa terapung ditempat janggal seperti Celah Dimensi, dan Aneh juga karena Pulau ini hanya diisi oleh Batu-Batuan keras berbentuk runcing yang terlapisi Es.

Namun mengabaikan semua itu, kini dihadapan Naruto CS. Berdiri sosok yang paling dicari!. Seorang Big Bos dari Chaos Brigade semenjak sang Uroboros memilih mundur. Siapa lagi kalau bukan keturunan Iblis Lucifer murni macam Rezivim, kakek dari sang Hakuryuukou, Vali Lucifer. Dan dilihat dari keadaan fisik mereka, baik Rezivim atau pun tim DxD yang sudah banyak terluka disana-sini, pertarungan besar dari keduanya pasti sudah berlangsung.

"Menyerahlah!. Kau sudah kalah, Rezivim" Sirzech mengatakan itu dengan hasrat membunuh yang tinggi, berusaha mengintimidasi sang Lucifer murni.

"Semua anak buahmu sudah kalah. Dan dengan Tubuh seperti itu, kau tidak mungkin menang melawan kami!" lanjut Naruto. Namun bukannya menyerah, sang Lucifer itu bahkan tidak gentar sedikit pun. Dengan tawa mengejek dan penuh kesombongan, Rezivim malah kembali menantang lawan-lawannya.

"Jangan bodoh!. Untuk apa aku menyerah, ini hanyalah pembukaan. Kami sudah meneliti tempat ini cukup lama, untuk mencari formula yang tepat untuk melepaskan Segel Trihexa!" desisnya setelah puas tertawa.

"Kalian fikir apa yang kalian pijak ini, heh?!" lanjut Rezivim dengan serangai sinisnya.

Deg.

Deg.

Entah bagaimana aksi Rezivimlah yang berhasil membuat Naruto dan yang lainnya merasa terintimidasi. Arah pembicaraannya ... Entah kenapa bisa membuat mereka merasa takut dan was-was.

"Mungkinkah jika Pulau ini sebenarnya ..." gumam Naruto terhenti sampai disitu. Sang Uzumaki ini pun sepertinya tidak berani untuk melanjutkan terkaannya. Tapi, Rezivim seolah-olah mampu membaca lanjutan kalimat Naruto yang terhenti.

"Tepat!. Ini bukanlah Pulau yang terapung di Celah Dimensi. Ini adalah Trihexa!" teriak Rezivim dengan penuh kemenangan.

"Kami bertarung dengan kalian hanya untuk bersenang-senang sebelum membuka Segel Trihexa. Dan kini sudah waktunya untukku membuka Segel ini!. Bersiaplah menuju kehancuran, huahahahaha!" dan seperti yang dia katakan, Rezivim mulai melakukan sesuatu. Tubuhnya mulai kini mulai bercahaya. Sangat terang dan menyilaukan. Diiringi dengan sebuah gempa dasyat yang tiba-tiba saja terasa.

'Aku tidak boleh membiarkannya!' Naruto membatin, sebelum ahirnya melesat dengan Shunshinnya, untuk menghentikan aksi sang Lucifer. Namun terlambat!. Meski sudah berhasil menembus Perut sang Lucifer dengan Rasengannya, gerakan Naruto nyatanya masih kalah cepat.

Karena agaknya Rezivim sudah berhasil membuka Segelnya. Tidak sempurna memang, namun itu sudah cukup untuk membangkitkan kesadaran sang Monster perlambangan kehancuran itu.

"Hahahahaha ... Silahkan menikmati kehancuran Alam Semesta!" ucap Rezivim sebelum ahirnya lenyap menjadi sebuah Asap hitam. Naruto mendecak kesal dengan kalimat penutup dari Rezivim. Menurutnya itu adalah pesan terahir yang menyebalkan. Mengabaikan itu, Gempa semakin menggila, dengan diiringi sebuah hempasan Energi yang dasyat.

Duummm!.

Duuummm!.

Duuuummmmm!.

Ledakan akibat hempasan Energi itu terjadi dimana-mana, memaksa Es yang menyelimuti Pulau atau lebih tepatnya Tubuh Trihexa hancur. Melihat kejadian ini, semua orang panik dan tidak bisa berfikir dengan tenang. Yap, bagaimana bisa mereka berfikir dengan tenang dalam situasi seperti ini. Hempasan Energi, lolongan keras yang memekakkan Telinga dari sang perlambangan kehancuran saja sudah cukup untuk membuat mereka mati berdiri, dengan perasaan yang benar-benar terasa tidak mengenakkan.

"Mundur!. Kita akan mati jika terus disini!" teriak Azazel dengan paniknya.

"Lakukan Sihir Teleportasi Darurat!" teriak Michael.

"Tidak mungkin tempat ini terlalu berbahaya untuk membuka Sihir Teleportasi Darurat. Salah menentukan Kordinat, bisa-bisa kita—" ucapan Sirzech terhenti disitu karena hempasan Energi Trihexa melibas mereka. Adalah sebuah keajaiban masih bisa selamat dari hempasan Energi gila itu.

Berterimakasihlah pada Naruto yang berjuang sekuat tenaga untuk menahan atau setidaknya melemahkan daya penghancur Energi dari Trihexa. Meski balasannya, Naruto harus sampai sekarat karenanya!.

"Gah!. Kekuatan yang gila ... Monster itu memang layak disebut perlambangan kehancuran Dunia!" umpat Naruto disela rasa nyerinya.

"Naruto-Kun ... Bertahanlah!" teriak Hinata panik seraya memeluk sang suami tercinta.

Namun sisi baiknya, berkat hempasan Energi itu, mereka bisa menjauh dengan sangat cepat dari Trihexa. Tidak perlu khawatir akan terjatuh meski tidak memiliki pijakan. Mahluk-mahluk macam Iblis, Malaikat, atau pun Malaikat Jatuh tentu saja bisa terbang. Dan Hinata pun bisa melakukan hal yang sama, dengan kekuatan Tensaigannya.

Sementara itu, didepan mereka sesosok Mahluk besar nan menyeramkan sedang berusaha untuk terbabas dari kurungan Es yang melapisinya. Jika dibandingkan mereka tidak ubahnya Debu jika dibandingkan besarnya Trihexa. Dan hampir setengah Tubuh sang Monster super besar itu berhasil terbebas.

"Sirzech!" Azazel kembali berseru. Dan sang Lucifer baru itu tanggap dengan situasinya. Bersama dengan Iblis-Iblis lain, mereka berusaha membuat Sihir Teleportasi Darurat untuk menyelamatkan diri mereka meski hanya untuk sementara. Namun dengan itu, setidaknya mereka bisa mengatur siasat juga rencana untuk kembali menyegel Trihexa.

Jauh bukan berarti terbebas dari Hempasan Energi Trihexa kan?. Dan itulah yang terjadi. Meski jarak mereka cukup jauh, nyatanya masih ada saja hempasan Energi yang menyasar ke arah mereka. Dan mau tidak mau, Azazel dan Michael bersam para bawahannya bersatu padu untuk menahan gelombang itu.

"Hinata-Chan ... Gunakan Byakuganmu untuk mengobservasi Segel Trihexa" ucap Naruto seraya mengaktifkan kekuatan Dewanya.

"Tapi keadaanmu—"

"Aku Uzumaki, kau ingat?" kalimat Naruto berhasil membuat Hinata bungkam. Yap, Uzumaki adalah Clan yang unik. Meski hanya Manusia, mereka memiliki Energi kehidupan yang tinggi sehingga membuat mereka memiliki umur yang panjang juga kemampuan regenerasi yang cepat, meski tidak sehebat Phoenix.

"Baiklah" ucap Hinata seraya memfokuskan Byakugannya pada Segel Es Trihexa. Setelah cukup lama, ahirnya Hinata berhasil menguraikan susunan Segel Trihexa. Dan tanpa membuang waktu lagi, Hinata segera memberitahukannya pada sang suami.

"Sihir Teleportasinya sudah siap. Kita bisa mundur dahulu untuk mengatur strategi—"

"Pergilah. Aku akan berusaha memperkuat Segel Es Trihexa!" ucap Naruto memotong informasi Sirzech.

"Tapi ..."

"Hinata ... Aku serahkan anak-anak kita padamu" ucap Naruto sebelum terbang menyongsong Trihexa.

"Tidakkkk!. Naruutoooo!"

"Narutooooo!" Hinata berteriak histeris melihat suaminya berbuat nekat. Andai saja tidak ditahan Azazel dan Michael, Hinata mungkin sudah berusaha mengejar Naruto.

"Naaaruuutooooo!"

Hinata hanya bisa berteriak dalam tangisnya. Sebelum ahirnya menghilang dalam Sihir Teleportasi yang dibuat kelompok Iblis. Sementara itu, Naruto hanya tersenyum hangat seraya melirik ke arah sang istri.

'Aku mencintaimu, Hinata!' batin Naruto.

Sebuah perasaan besar coba disampaikan Naruto melalui senyum dan tatapannya pada sang istri untuk yang terahir kalinya.

FLASH BACK END.

Cerita Naruto berhenti sampai disitu. Saat ini, pandangannya terlihat sendu seraya menatap Boruto. Masih ada waktu sebelum Naruto benar-benar menghilang dan itu benar-benar dimanfaatkan sang ayah untuk memperlihatkan betapa besarnya rasa kasih dan sayang Naruto pada Boruto.

Yap, saat ini Naruto memeluk Boruto dengan hangat. Layaknya yang dilakukan seorang ayah untuk anak mereka. Tidak ada lagi alasan Boruto untuk menyangkal jika sosok pirang dihadapannya ini adalah ayahnya. Pasalnya pelukan ini ... Terasa berbeda. Sama hangatnya dengan saat Ashura memeluknya dulu, namun ada perasaan lain yang membuatnya benar-benar yakin jika Naruto yang ini adalah ayahnya.

"Dengar Boruto-Kun, apa yang kuceritakan adalah kenyataan yang sebenarnya. Tidak ada sedikit pun kebohongan disana. Aku benar-benar menceritakan apa yang kuingat saat aku masih hidup" ucap Naruto seraya melepaskan pelukannya.

Menyadari jika anaknya sedikit bingung, Naruto pun berusaha menjelaskannya.

"Ya ... Aku meninggal saat memperbaiki Segel Trihexa" ucap Naruto.

"Lalu bagaimana bisa Tou-San menjadi Iblis, hingga ahirnya dikuasai Sisi Jahat Tou-san sendiri?!"

"Entahlah, aku tidak tahu masalah itu. Mungkin kau bisa menanyakannya sendiri pada Sirzech. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu, Boruto-Kun?" tanya Naruto, setelah menjawab pertanyaan sang anak. Boruto mengangguk cepat, karena melihat sosok Naruto yang semakin memudar.

"Selamatkan ibumu. Hinata yang selalu ada disamping Ashura adalah ibumu. Kurasa terjadi sesuatu hingga ahirnya dia menjadi seperti itu. Kuharap kau bisa melakukan sesuatu untuk menyadarkannya" ucap Naruto. Dan setelah mengatakan itu, Naruto segera melakukan sederetan Segel Tangan. Sebelum ahirnya menempelkan Telapak Tangannya di Kening Boruto.

"Tidak ada gunanya lagi Segel ini. Aku akan melepaskannya, agar kau mampu menggunakan kekuatan sejatimu ... Alasan kau dengan tanpa sadar bisa menggunakan Ninjutsu adalah karena selama ini aku sudah mengajarkan semuanya padamu. Bukan karena Ashura yang memberikan ingatanku"

"Dan alasan kenapa menggunakan Ninjutsu melukai Tubuhmu adalah karena Chakra Tensaigan yang tanpa sengaja diberikan Himawari-Chan. Tapi tenang saja, aku sudah memisahkannya ... Kau bisa memberikannya kembali pada adikmu" ucap Naruto sebelum benar-benar menghilang.

"Tou-Sannn!"

"Touuu—" teriakan Boruto saat Naruto benar-benar menghilang terganggu karena rasa nyeri di Kepalanya. Ya ... Ingatan yang mulai kembali teringat pasca Segel Naruto dilepas membuat Kepala Boruto nyeri. Namun dalam keadaan seperti itu, Telinga Boruto masih bisa mendengar ucapan terahir Naruto yang masih menggema disana.

"Aku mungkin harus berterimakasih pada Ashura saat menyalurkan Ingatan Ninjutsu padamu, karena dengan itu aku bisa bertemu dengan anakku"

"Kumohon ... Selamatkan Okaa-San"

Boruto terlihat menangis tersedu-tesedu, meratapi kepergian ayahnya. Hingga ahirnya segala macam bentuk perasaannya disalurkan dalam sebuah teriakan keras yang terdengar menyayat hati.

"Keparaaattttttt!" teriaknya mencurahkan segala bentuk perasaan yang dirasakannya.

BERSAMBUNG.

Note ::

Okeh~ saya balik lagi. Oh iya seperti biasa ijinkan saya curhat sedikit xD.

Saya tidak tau bentuk Trihexa seperti apa, jadi maaf jika penggambaran Trihexa tidak terlalu detail. Saya rasa kata 'menyeramkan' sudah cukup untuk menggambarkannya. Jadi silahkan saja bayangkan sesosok monster menyeramkan sesuai imajinasi kalian masing-masing. Oh iya, tadinya Trihexa ini mau disamakan dengan Juubi, tapi saya mengalami kesulitan dalam penggambarannya melalui kata-kata.

Semoga itu tidak mengganggu :D.

Oh iya, selain itu ... Izinkan saya berbagi kebahagiaan saya. Kemarin pas tanggal 28 Desember 2015, saya sudah tunangan sama pacar saya. Dan Insya Allah, kami nikah tahun ini. Minta do'anya aja ya ^_^

Jadi, ya seperti itu. Saya beberapa waktu kemarin tidak punya waktu untuk menulis meski ada libur panjang.

Saya juga sudah tidak main FB lagi. Kalau FB saya on, mungkin itu efek karena Akun FB saya dipakai untuk mencari Dollar melalui Apps penghasil Dollar. Maklumlah kan biaya merit gak murah, jadi saya butuh penghasilan tambahan. Ngandelin Gaji aja, gak cukup cuy~ belum biaya hidup, ngasih ke tunangan, biaya kuliah ... Haduhhhhh~

Okeh, sekian curhatan saya kali ini. Ada hal yang ingin disampaikan, silahkan tulis dikotak Review. Tapi kalau bisa, pakailah akun FFN supaya saya bisa bertanya, kalau kamu memberikan saran dan kritiknya.

Satu lagi, selamat Maulud Nabi, Natal dan Tahun Baru (Bagi yang merayakan).

Okeh~ Keris Empu Gandring out~