UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).
•••••
Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)
•••••
Warning :: AU, OOC, dan kekurangan lainnya.
•••••
Namaku adalah Uzumaki Boruto ... Aku hanyalah seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa pula.
Satu-satunya hal yang tidak biasa dalam kehidupanku hanyalah aku mampu mempertahankan hidupku bersama adik perempuanku di Kota besar seperti Tokyo. Meski tidak punya siapa-siapa, karena sudah ditinggal ke dua orang tua kami sejak kecil.
Ya ... Hanya itu ...
Tapi, semua kehidupan normal itu musnah saat orang-orang aneh bersayap mulai datang dalam kehidupanku dan adikku.
Ditambah lagi, dua gadis cantik yang memiliki gangguan jiwa, datang padaku dan berebut untuk menjadikanku budaknya!.
UZUMAKI BORUTO.
A Naruto High School DxD Fanfiction.
By Keris Empu Gandring.
•••••
Chapter 12 :: Kuasa Rinne-Sharingan!.
•••••
Ravel Phoenix saat ini sedang menikmati ketampanan Wajah Boruto yang masih pingsan. Gadis itu baru menyadari jika pemuda bersurai pirang yang baru disembuhkannya, ternyata memiliki Wajah yang lumayan tampan. Hingga tanpa sadar, Jemari lentiknya mulai bergerak untuk mengelus Pipi Boruto yang dihiasi tiga garis tipis warisan sang ayah.
Namun sebelum Tangan Ravel sampai ...
"Keparaaattttt!" teriakan Boruto saat pertama kali tersadar, sukses menghentikan gerakan si bungsu Phoenix. Bahkan tanpa sadar, Ravel sampai beringsut menjauh karena terkejut dengan teriakan Boruto. Dan pandangannya ... pandangan Boruto terlihat begitu menyeramkan dan dipenuhi dendam.
Bukan untuknya memang, tapi siapa yang tidak akan merasa ngeri saat orang didepanmu sedang dikuasai amarah?. Terlebih untuk seorang Bangsawan seperti Ravel Phoenix yang terbiasa hidup dalam rasa hormat dari orang-orang didekatnya.
"Otsutsuki Ashura ..." desis Boruto masih penuh kemarahan. Untuk sesaat pandangannya bertemu pandang dengan si gadis pirang, sang bungsu Phoenix. Tapi karena saat ini Boruto sedang dikuasai dendam pada si Sisi Jahat ayahnya sendiri, Boruto sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Ravel Phoenix, dan memilih meninggalkannya begitu saja.
Prioritasnya saat ini adalah ... Membuat perhitungan dengan sang Otsutsuki Ashura!. Urusan Himawari?. Itu urusan nanti, toh menurut ayahnya Iblis tidaklah seburuk yang dikira Boruto selama ini. Namun andai saja pemuda bersurai pirang itu tahu, jika adiknya tidak lagi dalam perlindungan Ratu Saiarogh Bael, mungkin Boruto akan berfikir lain.
Mansion Sitri.
Tempat dimana terjadi pertarungan final dengan antara para petinggi tiga Fraksi melawan Ashura bersama prajurit Grim Reapernya, kini semakin panas. Wilayah kekuasaan Sitri yang semula terlihat megah dan indah, kini hancur dan kelam. Tidak ada lagi Bangunan-Bangunan khas Eropa abad pertengahan disana, yang tersaji kini hanyalah reruntuhan Bangunan disana-sini.
Ya ... Reruntuhan!. Pertarungan Gila antara ke Tiga Fraksi melawan Ashura bersama pasukan Grim Reapernya adalah alasan wilayah kekuasaan Bangsawan Iblis Sitri ini hancur sedemikian rupa. Tapi Sitri tidak sendiri karena ada Bael, Gremory, dan Phoenix yang mengalami hal yang sama. Dan tidak menutup kemungkinan ini pun terjadi pada wilayah kekuasaan Iblis Bangsawan lain yang cukup berpengaruh di Dunia Bawah.
Singkatnya ... Dunia Bawah berada diambang kehancuran saat ini!.
Selain itu, Ashura yang berperan sebagai Boss final mulai serius, Otsutsuki ini mulai memperlihatkan kekuatan sejatinya!. Mata sakti Rinne-Sharingan, Bola-Bola hitam aneh dengan kekuatan destruktif yang tak bisa dianggap remeh, serta intensitas Chakra dan Aura Iblis yang seolah tak ada habisnya. Cukup untuk membuat Mahluk terkuat dari Fraksi Malaikat, Malaikat Jatuh, dan Iblis kesusahan untuk meladeninya.
"Bagaimana?. Apa kalian masih berfikir akan menang dariku?" tanya Ashura dengan sinis dan nada yang merendahkan ke tiga lawannya. Itu tentu saja bukan tanpa alasan, sedari tadi Sirzech, Azazel, dan Michael, selaku lawan Ashura, sudah menyerangnya dengan kekuatan penuh mereka.
Tapi hasilnya, sang Otsutsuki dengan mudah mampu mementahkan semuanya, meski dibeberapa kesempatan serangan gabungan Azazel, Michael, dan Sirzech berhasil mengenai Ashura dengan telak. Tapi masalah kembali muncul, saat luka itu perlahan pulih dengan kemampuan Regenerasinya.
Yap, sebagai Mahluk yang memiliki setengah Darah Uzumaki, Ashura atau Sisi Jahat Naruto ini sudah pasti memiliki kemampuan Regenerasi Clan Uzumaki kan?!. Tdaklah terlihat spesial memang, jika disandingkan dengan kekuatan Regenerasi Clan Phoenix.
Tapi faktanya ... Kekuatan besar sang Otsutsuki, menjadi pengecualiannya. Dengan kekuatan gila yang tak terbantahkan, Ashura bisa mengulur waktu hingga lukanya kembali pulih.
"Sial!" Sirzech mengumpat kesal menyaksikan kekuatan sang Otsutsuki, Iblis Lucifer itu benar-benar tidak menyangka jika Ashura memiliki kekuat sehebat itu. Terlebih lagi, Kekuatan Ashura saat ini mungkin bisa dibilang, sepuluh kali lebih kuat dari kekuatan Uzumaki Naruto. Sosok Ashura sebelum menjadi Iblis.
"Sungguh diluar nalar ... Bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar ini?!. Bukankah kekuatan Naruto tidak sehebat ini?!" ucap Azazel yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengan Sirzech.
"Sudah kukatakan dulu, jika dia dirainkarnasikan menjadi Malaikat, mungkin ini tidak akan terjadi dan Sisi Jahat Naruto tidak akan muncul" ucap Michael tiba-tiba, menyampaikan keluhannya atas keputusan Azazel dan Sirzech dahulu yang lebih setuju merainiarnasikan Naruto menjadi Iblis.
"Bukankah itu sudah tidak penting lagi sekarang?" tanya sang Lucifer dengan Wajah sebalnya, karena tidak menyangka seorang Malaikat agung macam Michael bisa mengungkit-ungkit masalah yang telah lalu.
"Aku setuju dengan Sirzech. Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya, dia datang!" desis Azazel memperingati dua rekannya, karena saat ini Ashura mulai menyerang mereka.
"Ck!" Michael dan Sirzech hanya bisa mengumpat seraya mempersiapkan diri, dari serangan Ashura.
Sudut Wilayah Sitri yang lain.
Duaarrrrr!.
Ajuka dan Serafall yang sedang sibuk bertarung melawan Hades sedikit menghentikan pertarungan mereka, saat mendengar ledakan gila itu. Dari Auranya, jelas dua Maou ini mengenali siapa si pelaku pembuat ledakan. Siapa lagi Mahluk yang bisa menyaingi bahkan melebihi kekuatan gila Pawer of Destruction Sirzech, atau kekuatan Cahaya mengerikan Michael dan Azazel?!.
"Ashura Otsutsuki!" desis Ajuka dengan nada yang tidak suka. Meski benci mengakui kekuatan seseorang yang lebih superior darinya, mau tidak mau sang Maou Beelzebub ini harus berkata jujur dengan apa yang dirasakannya.
"Khuhuhu!. Sebaiknya kalian menyerah saja. Mahluk itu ... Bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan" ucap Hades mengomentari kekuatan Ashura dengan bangganya. Terlebih, saat melihat reaksi dari ke dua Maou Dunia Bawah itu.
"Alasan kenapa aku patuh pada perintahnya, adalah karena kekuatan gila Ashura. Dia ... Adalah sosok yang tak jauh lebih baik dari Trihexa. Melawannya hanyalah akan menyisakan kehancuran" lanjut Hades yang secara tidak langsung mengakui jika Ashura jauh lebih kuat dari dirinya, yang merupakan penguasa dari bagian terdalam Bumi.
"Cih!. Jangan bercanda. Apa bedanya menyerah dan musnah?. Ke duanya akan terasa sama bagi kami!" desis Ajuka.
"Ajuka benar. Meski hanya sebagai Iblis, kami masih punya harga diri, tidak sepertimu!" lanjut Serafall sinis. Sementara Ajuka hanya mengangguk, tanda menyetujui ucapan Maou Leviathan itu.
Namun respon yang kurang mengenakan diperlihatkan Hades. Wajah tengkoraknya terlihat mengkerut, tanda tak suka disindir seperti itu oleh lawannya. Dan tanpa menunggu waktu lagi, sang Pemimpin Grim Reaper itu mulai meningkatkan intensitas Aura Kematiannya.
"Akan kubungkam Mulut sombong kalian untuk selama-lamanya!" desis Hades, seraya mulai menerjang Maou Beelzebub dan Leviathan itu.
Kembali ke Tempat Ashura Melawan Pimpinan ke Tiga Fraksi.
Saat ini, Azazel terlihat dalam bahaya. Sosok terkuat dari Fraksi Malaikat Jatuh itu terlihat dalam cengkraman Ashura. Ya ... Tanpa ampun, sang Otsutsuki mencengkram Wajah Azazel dengan Tangan kanannya, hingga membuat sang Malaikat Jatuh itu kesulitan untuk melepaskan diri.
Lalu sebuah Bola Hitam yang sedari tadi melayang di Punggungnya, mulai bergerak ke Tangan kanan Ashura, membentuk sebuah benda tajam yang siap menghunus Tangan Ashura juga Wajah Azazel. Melihat rekannya dalam bahaya, Michael, dan Sirzech tentu saja tidak berdiam diri. Dengan cepat mereka menembakan Power of Destruction dan Tombak Cahaya untuk mengganggu aksi sang Otsutsuki.
Namun lagi-lagi. Serangan yang hampir bersamaan itu, dengan mudahnya berhasil dihapuskan dengan mudahnya oleh Ashura.
Azazel terlihat geram dengan situasi tak menguntungkannya. Namun jika harus mati, setidaknya mantan Gubernur Malaikat Jatuh itu harus memberikan sebuah kenang-kenangan yang manis untuk Ashura. Dan dengan bebekal pemikiran itu, Azazel bersiap untuk menembakan tembakan Cahaya terkuatnya dijarak sedekat itu.
"Nikmatilah kenang-kenanganku!" desis Azazel dengan serangainya. Sebuah Lingkaran Sihir raksasa langsung tercipta disana, sebagai sebuah bentuk realisasi ucapan sang Malaikat Jatuh.
Merasakan sinyal bahaya dari sang mantan Gubernur Malaikat Jatuh, Ashura mulai menyiapkan Bola hitamnya untuk menahan serangan Azazel. Tapi sebelum Bola hitam Ashura selesai menyelubungi Tubuhnya, sebuah Shuriken raksasa yang terbuat dari Chakra padat yang berputar cepat, menghantam Ashura dengan telak dan memaksa memotong Tubuh Ashura tanpa ampun.
Ashura tentu saja tidak tinggal diam. Dia dengan segala kuasanya, mencoba untuk melepaskan diri dari serangan itu, namun kesialan sang Otsutsuki Ashura belum selesai. Karena kini, tembakan gila Aura Cahaya Azazel melibasnya. Dan hasilnya ...
Blaaarrrrrr!.
Ledakan gila langsung melibas Ashura tanpa ampun. Ya ... Kata luar biasa mungkin cukup untuk menggambarkan betapa besarnya ledakan itu. Ledakan yang tercipta dari efek serangan Cahaya Azazel, dan Rasen Shuriken itu, cukup untuk memaksa Michael, dan Sirzech, untuk menggunakan Sihir pertahanan terkuatnya guna menghindari efek ledakan ini.
Tap!.
Setelah ledakan mulai mereda, seorang pemuda bersurai pirang yang dikenal dengan nama Uzumaki Boruto itu, mendarat didepan dua petinggi Fraksi Malaikat dan Iblis dalam posisi membelakangi mereka. Surai pirangnya yang mulai memanjang, terlihat bergoyang tertiup Angin. Yang entah disadari atau tidak membuatnya terlihat begitu meyakinkan untuk bisa menandingi kuasa dari Otsutsuki Ashura.
Deg.
Deg.
Percaya atau tidak, baik Sirzech atau pun Michael, seperti melihat bayangan Naruto dalam diri Boruto. Bukan karena kemiripan mereka, tapi sebuah perasaan yakin jika Boruto mungkin bisa diandalkan seperti halnya Uzumaki Naruto, disaat-saat genting seperti ini.
"Perasaan ini ... Sirzech, apa kau meresakannya?" tanya Michael, masih dengan tatapan tak percaya saat sekilas lalu dirinya seperti melihat bayangan Naruto dalam diri Boruto.
"Ya ... Kau benar. Aku pun merasakannya, bukankah Boruto mengingatkan kita pada Uzumaki Naruto?!" jawab sang Lucifer meski dari nada bicaranya juga terkesan tidak percaya bercampur terkejut.
Merasa dibicarakan, Boruto mengalihkan pandangannya pada Sirzech, dan Michael. Tapi bukan untuk mengatakan hal-hal yang berbau mendongkrak semangat juang seperti yang selalu dilakukan Naruto. Melainkan tatapan dingin nan menusuk yang diperlihatkan Uzumaki muda itu.
"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kalian. Jadi ... Jangan mati dulu!" desis si pirang, yang tak kalah tajamnya dengan pandangannya saat ini. Terlebih saat pandangan Boruto menatap Sirzech Lucifer.
"Ck!. Tenang saja bocah, kami punya banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu. Sekarang habisi dulu Otsutsuki itu!" bukanlah Michael atau pun Sirzech yang mengatakan kalimat ini, melainkan Azazel yang entah sejak kapan berasa disamping kanan mereka dengan jarak yang cukup jauh.
Boruto langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dan terlihatlah sosok Malaikat Jatuh terkuat itu sedang duduk bersimbah Darah, dengan luka-luka yang terbilang cukup serius. Sementara disamping Azazel, berdiri sosok Malaikat dengan sepuluh Sayap Emas di Punggungnya. Dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan sang Mantan Gubernur.
"Joker ... Kerja bagus" ucap Michael yang sepertinya mengenali sosok Malaikat yang berdiri disamping Azazel. Ya ... Tanpa perlu dijelaskan lagi, kalian pun pasti mengerti kalau Joker adalah sosok yang menyelamatkan Azazel dari ledakan gila tadi.
"Aku pengang ucapanmu!" desis Boruto yang tak ambil pusing dengan keadaan Azazel.
Wussshhh!.
Tepat setelah Boruto mengatakan itu, sebuah gelombang kejut menghempaskan Debu yang masih berterbangan, dan memperlihatkan sosok Otsutsuki Ashura dengan intensitas Aura Iblis, dan Chakra yang semakin meledak-ledak. Meski keadaannya saat ini pun dipenuhi luka dan Darah, namun tampaknya itu bukanlah penghalang berarti untuk sang Otsutsuki menunjukan kekuatannya.
"Bantuan huh?!. Tapi itu percuma saja ... Semuanya tidak akan berubah!" tanpa rasa gentar dengan lawannnya yang semakin bertambah, Ashura tetap mengatakan itu dengan nada sinis dan sombongnya.
Ya ... Faktanya kini tidak hanya Boruto dan Joker yang berperan sebagai tim bantuan, ada dua Heavenly Dragon, dan duo Phoenix, dan Saiarogh Bael, yang juga bergabung dalam pertarungan ini. Namun itu tidak membuat Ashura gentar sedikit pun, meski kekuatan mereka sejatinya tak bisa dianggap remeh.
"Kalian ... Apa kalian sudah mengalahkan Merkurius dan Mars?" tanya Sirzech saat melihat kehadiran Issei dan Vali ditempat mereka. Karena sesaat lalu, sang Lucifer itu tahu jika dua Naga Surgawi itu sedang bertarung dengan dua dari tiga Panglima Grim Reaper terkuat Hades.
"Bisa dibilang begitu ..." jawab Issei seraya menggaruk surai coklatnya. Ya ... Entah kenapa ada rasa bangga dalam dirinya saat mengakui jika dia berhasil mengalahkan salah satu dari tiga Panglima Grim Reaper terkuat itu dihadapan sang Maou terkuat.
"Maaf karena kami datang terlambat Lucifer-Sama. Karena sebelumnya, kami harus menyembuhkan dahulu luka-luka Sekiryuutei dan Hakuryuukou" Ruval mengatakan itu seraya merunduk hormat. Lalu sedetik kemudian, sang sulung Phoenix itu mulai mendekati Sirzech dan Michael.
"Lalu sekarang, izinkan saya untuk menyembuhkan luka-luka anda berdua" lanjut Ruval. Hal yang sama saat ini juga dilakukan Raiser Phoenix. Hanya saja pasiennya bukan dua pemimpin Fraksi Iblis dan Malaikat, melainkan Mantan Gubernur Malaikat Jatuh dan kandidat terkuat sebagai calon penganti salah satu dari ke empat Seraph.
Namun sebelumnya, Raiser memberikan sebotol Air Mata Phoenix masing-masing satu, pada Boruto, Issei, Vali, dan Saiarogh untuk berjaga-jaga. Mengingat mereka akan berperan sebagai tim petarung yang akan berhadapan langsung dengan sang Bos Final, Otsutsuki Ashura.
Tugas sudah terbagi dengan sendirinya, kini tinggal melanjutkan pertarungan yang masih tertunda!.
"Jangan menghambat pergerakanku!" ucap Boruto seraya mulai memasuki Mode Grim Reapernya. Terbukti dari perubahan penampilan si pirang yang kini memakai Jubah dan pakaian tempur yang serba hitam, dengan Aura Kematian yang tak terbantahkan.
Ya ... Dengan bangkitnya Chakra dalam Tubuh Boruto, pemuda bersurai pirang itu tidak perlu lagi untuk menyerap Aura lawannya terlebih dahulu. Karena kini, Plue dengan leluasa bisa memakan Aura Iblis Boruto untuk dirubah sebagai kekuatan Grim Reaper.
Mengingat masih ada Chakra sebagai pengganti kekuatan Iblis Boruto, bukankah tidak akan ada masalah lagi, meski Plue menguras habis Aura Iblis pemuda pirang itu?.
"Harusnya itu adalah ucapanku!" desis Vali yang tak kalah sinis. Mode Over-Drive Balance Breaker pun segera diaktifkan sang Hakuryuukou sebagai bentuk kesungguhan ucapannya, juga sebagai bukti bahwa dia bukanlah jenis orang yang akan menyusahkan dengan kekuatan ini.
"Ck!. Jangan lupakan aku!" umpat Issei seraya mulai memperlihatkan kekuatan sejatinya. Ya ... Jika selama ini Mode Tirania Ratu yang digabung dengan kekuatan pembagi Albion, adalah andalan Issei. Kini sang Sekiryuutei tampaknya benar-benar serius. Karena bukan lagi Mode itu yang diandalkan, melainkan Mode baru yang jauh lebih kuat dari Mode Tirania Ratu.
"Gigantic Balance Breaker ..." gumam Issei. Dan seketika itu juga, Mode Balance Breaker Issei tercipta. Namun seperti namanya, Balance Breaker Issei kini tercipta dalam bentuk raksasa dengan Aura Naga yang terasa sangat berat disana.
Boruto dan Vali ... Bukan!. Tapi semua Mahluk yang ada disan cukup terkejut melihat kekuatan Issei. Terkhusus Boruto, karena baru pertama kali melihatnya. Sementara yang lain, cukup terkejut karena baru pertama kali melihat Issei memasuki Mode ini tanpa bantuan Great Red.
Ya ... Karena selama ini, image yang tercipta adalah, Mode Gigantic Issei, hanya bisa dilakukan setelah melakukan fusion dengan Great Red.
"Ini baru rivalku ..." gumam Vali setelah mampu menguasai keterkejutannya.
'Aku tidak menyangka jika Issei memiliki kekuatan seperti ini' batin Boruto yang harus mengakui jika kekuatan yang Issei perlihatkan sangat-sangat besar. Sementara itu, melihat tiga rekannya sudah memperlihatkan kekuatan terkuat mereka, membuat Saiarogh sedikit salah tingkah. Karena hanya dia yang masih belum memperlihatkan kekuatan andalannya, yaitu mode Balance Breaker dari sang Singa Emas, Regulus Nemea.
"Eumh~ maaf tapi aku belum bisa bergabung ... Aku masih membutuhkan jeda untuk kembali memasuki Balance Breaker Regulus Nemea" ucap Saiarogh seraya menggaruk Pipinya. Ada rasa malu dan kesal, karena secara tidak langsung sang Bael itu telah memperlihatkan kelemahannya didepan tiga sosok yang ingin dia kalahkan itu.
Namun mau bagaimana lagi, tanpa Balance Breaker Regulus Nemea, Saiarogh tidak akan mampu mengimbangi ke tiganya. Tapi sisi baiknya, tidak ada yang memperdulikan ucapan Saiarogh. Baik Boruto, Vali, atau pun Issei, memilih untuk lebih berfokus pada musuh mereka, Otsutsuki Ashura.
"Ayo mulai!. Aku tidak punya banyak waktu dalam Mode ini!" ucap Issei seraya mulai menyerang, Tanah Dunia Bawah pun harus bergetar karena gerakan Issei. Sempat terkejut untuk kesekian kalinya, Boruto, dan Vali pun ahirnya ikut maju. Meski harus rela didahului sang Sekiryuutei.
"Sepertinya Bocah mesum itu bisa memaksimalkan kekuatan Great Red, dan Uroboros yang ada dalam Tubuhnya ..." gumam Azazel sedikit mengomentari keberhasilan Issei memasuki Mode Gigantic tanpa bantuan Gread Red.
Beralih pada Ashura.
Sang Otsutsuki itu masih bisa menyerangai santai, meski kini didepannya ada tiga sosok pemuda dengan kekuatan tak terbantahkan, sedang menerjang dirinya. Tangan kanan Ashura bergerak santai, ke arah Boruto, dan yang lainnya. Dan sedetik kemudian, sebuah gelombang kejut dari Shinra Tensai, mengarah pada mereka mencoba menghempaskan ke tiga sosok itu.
Namun dengan kuasanya, Issei masih bisa bertahan dari hempasan Ashura, meski faktanya masih juga terdorong beberapa meter ke belakang. Dirasa mulai bisa mengasai dirinya kembali, sang Sekiryuutei mulai berlari kembali untuk menyerang Ashura dengan tinju monsternya.
Lalu bagaimana dengan Vali, dan Boruto?. Memanfaatkan kecerdasan mereka masing-masing, dua pemuda itu memilih memanfaatkan Tubuh Monster Issei sebagai tameng untuk meminimalisir efek Shinra Tensai Ashura. Ya ... Meski memiliki kekuatan yang tak terbantahkan, ke duanya tidaklah memilimi ketahanan sekuat Issei.
Boruto yang lebih condong dikecepatan, dan reflek, atau Vali yang lebih berjaya dalam hal tehnik, tentu harus memanfaatkan kecerdasan IQ mereka untuk menghindari serangan mutlak Ashura sebaik mungkin.
"Tidak terlalu buruk" komentar Ashura, saat melihat bagaimana cara ke tiganya menahan dan menghindari serangan absolute Shinra Tensai. Tidak ada kesan gentar sedikit pun dalam setiap kalimat Ashura. Agaknya Iblis Otsutsuki ini tidak memiliki sedikit pun rasa takut. Terbukti dari serangainya yang semakin melebar, meski Issei dengan Mode Giganticnya semakin mendekat.
"Longinus Smasher!" teriak Issei mulai melancarkan serangan terkuatnya. Dan tanpa menunggu lama, sebuah Aura Naga dengan intensitas tinggi tercipta di Tangan kanan Issei membentuk sebuah godam.
Duaaarrrrr!.
Dengan itu, Issei menghadiahkan tinjunya tanpa ampun. Ledakan dan hempasan energi langsung tercipta disana, melibas apa pun yang ada didekatnya. Namun saat Debu yang bertebaran mulai menghilang, terlihat Ashura masih berdiri dengan gagahnya dilindungi Gedoudama yang sudah berubah menjadi tameng yang melindunginya.
"Hanya ini?" tanya Ashura sinis.
"Cih!" Issei mendecak kesal, dan kembali menambah intensitas Aura Naganya. Suara mekanik pun mulai terdengar sebagai respon dari keinginan pemuda bersurai coklat itu. Namun ... Gedoudama Ashura ternyata sangat keras, karena yang terjadi adalah Armor yang melindungi Tangan Isseilah yang kalah, dan mulai retak.
Tapi tidak ada kata menyerah, terlebih saat ekor Matanya melihat pergerakan Boruto dan Vali disisi kanan dan kirinya, tanpa banyak berfikir lagi, sang Hyoudou kembali mencoba menambah tekanan serangannya.
"Hooaaahhhhhhhh!" Issei berteriak nyaring untuk membakar semangatnya sendiri.
"Percuma" desis Ashura dengan sinisnya, merespon aksi yang diperlihatkan Issei.
Dan ...
Praannggggg!.
Bagian Tangan dari Balance Breaker Issei pecah karena terlalu dipaksakan mengadu kekuatan dengan Gedoudama. Pecahannya terlihat menghujani Ashura, namun itu bukan masalah karena secara perlahan, pecahan Armor Issei menguar menjadi partikel Cahaya merah. Ashura tersenyum sinis untuk menghina sang Sekiryuutei, namun yang dihina malah terlihat menyerangai dibalik Armor Giganticnya.
"Kena kau, keparat!" gumam Issei masih dengan serangainya.
Tepat saat sang Sekiryuutei mengatakannya, Boruto, dan Vali tiba-tiba muncul dibalik pecahan Armor Issei yang berubah menjadi partikel Cahaya disamping kanan dan kiri Ashura. Sang Otsutsuki mungkin harus mengakui jika serangan kejutan ini cukup bagus, namun ini bukanlah apa-apa untuk seorang Otsutsuki Ashura.
Bahkan Ashura sama sekali tidak melakukan gerakan apa-apa, baik menghindar atau yang disebut menahan. Meski Boruto disisi kanannya mulai menebaskan Sabit Grim Reapernya, dan Vali yang berada disisi kiri, mulai memberikan pukulan berlapis Aura Naga pekat.
Serangan Boruto, dan Vali semakin mendekat. Tapi tepat di jarak kurang lebih tiga puluh centi meter, serangan mereka berdua terhenti dengan sendirinya meski tidak terlihat ada yang menangkis Sabit Boruto atau pun tinju Vali.
"Bodoh!. Kenapa berhenti!" Issei berteriak kesal karena menganggap si Hakuryuukou, dan si pirang dengan sengaja menghentikan serangan mereka. Namun pada kenyataannya ...
'Tubuhku tidak bisa bergerak!' batin Vali, dan sepertinya itu pun terjadi pada Boruto. Terbukti dari pandangannya yang bergerak secara liar seolah mencoba mencari sesuatu yang menghambat gerakannya.
'Dimana?!. Manaaa?!' batin si pirang. Tapi, sekeras apa pun berusaha Boruto sama sekali tidak bisa melihat sesuatu itu.
'Apa Byakugan tidak bisa melihatnya?!' namun sebelum jawaban pertanyaannya didapat, reflek Boruto bekerja. Sengatan-sengatan Listrik memaksanya untuk melepaskan Sabit Grim Reaper, dan mundur sejauh mungkin.
Syaaattt!.
Jubah Boruto yang entah bagaimana, tiba-tiba saja terkena ... Seperti tebasan benda tajam. Dan meninggalkan jejak robekan disana. Andai Uzumaki muda itu tidak memiliki kemampuan reflek yang bagus, mungkin nasibnya akan sama seperti Vali. Ya ... Hakuryuukou terbaik sepanjang masa itu harus rela terlempar cukup jauh dengan jejak retakan di Armor bagian dadanya.
"Limbo adalah pertahanan mutlak" desis Ashura dengan serangainya.
"A-apa yang terjadi ..." gumam Issei melihat dua temannya seperti diserang sesuatu. Padahal Ashura sama sekali tidak melakukan apa-apa. Dan hanya melipat Tangannya di Dada, dengan congkaknya.
Mengabaikan itu ... Armor yang rusak dibagian Tangan Issei sudah utuh kembali. Selain itu luka Ashura akibat serangan Rasen Shuriken Boruto yang bersambut dengan serangan Cahaya Azazel mulai pulih.
"Lagi?. Sebenarnya apa yang melindunginya?!" gumam Michael yang tak percaya jika Ashura mampu menyerang tanpa melakukan apa-apa secara berulang-ulang.
"Apa itu yang dinamakan Limbo?" lanjut sang Seraph dengan sebuah tanda tanya besar, melihat kekuatan sejati Ashura. Sementara sang Otsutsuki kembali menampilkan senyum sinisnya untuk merespon kebingungan Michael.
"Mari kita bermain-main lebih lama ..." ucap Ashura, setelah puas merendahkan sang Seraph dengan senyum sinisnya. Dan tak lama setelah itu, Lingkaran Sihir super-super raksasa tercipta di dilangit, dan menunculkan Kaki-Kaki besar dibaliknya.
Deg!.
Deg!.
Kemunculan Kaki-Kaki raksasa itu entah kenapa membuat semua yang ada disana melemas. Bukan hanya karena besarnya yang jauh lebih besar dari Mode Gigantic Issei, tapi juga karena pancaran Auranya yang jauh lebih parah dari kata menyeramkan.
"A-apa lagi ini?!" desis Sirzech dengan bersusah payah.
"Monster kah ... A-Auranya ..." Bahkan Azazel tak mampu melanjutkan ucapannya, karena teringat dengan sesosok Aura Monster yang selalu ingin dia lupakan. Bahkan dalam ingatan terliarnya!.
"Ti-tidak ... Mungkin ..."
Bersambung.
Note ::
Yoo~ saya ahirnya bisa update juga. Maaf karena cukup lama tenggang waktunya untuk Chapter kali ini. Ya ... Jika biasanya saya curhat, kini curhatannya di pending dulu ya ... Selain tidak ada hal seru, mau curhat sibuk pun kan sudah di Chapter sebelumnya. Jadi Note kali ini hanya seputar Chapter kali ini saja.
Soalnya ada kekuatan Ashura yang pengertiannya saya rubah sedikit.
Kekuatan Ashura mungkin lebih condong ke Madara atau Obito di Anime/manga Naruto. Dan dalam cerita asli kan mereka hanya mempan oleh Senjutsu. Nah bagian ini yang sedikit saya rubah, Senjutsu digantikan oleh kekuatan lain yang lebih universal di Dunia DxD.
Apa itu?. Mungkin terjawab di Chapter depan. Tapi kalau mau menebak-nebak ya silahkan hahahaha.
Sebenarnya, sempat terfikir untuk tetap mengikuti pakem Jutsu Anime/Manga. Toh di DxD pun ada yang namanya Senjutsu. Tapi setelah saya fikir lagi, meski nama sama, pertiannya jauh berbeda.
Jika di Naruto Senjutsu adalah Energi Alam yang digunakan Ninja untuk memperkuat daya serang, ketahanan, atau kemampuan Shinobi. Sedangkan di DxD, Senjutsu lebih kepada tehnik seorang Yokai yang mampu mengembalikan semuanya kembali kepada Alam.
Hal ini mengacu pada tehnik Koneko yang dijelaskan cukup rinci. Dalam Mode Senjutsu Koneko bisa menetralkan Aura Negatif dari semua Mahluk menjadi Aura Positif, seperti halnya Alam yang penuh Aura Positif karena mampu memberikan kehidupan.
Singkatnya, Senjutsu dalam Dunia DxD bisa diartikan sebuah Alat yang membersihkan Polusi yang mengotori Dunia. Ahahahaha~ jauh berbeda kan?.
Selain itu, saya mengalami kesulitan untuk menggabungkan ke duanya agar terlihat cukup rasional. Jadi pilihan terahir hanyalah dengan cara merubah sedikit pengertiannya. Semoga tidak mengganggu. Oh iya~ jika saya salah, kalian bisa membenarkannya kok. Toh ini adalah pemikiran saya setelah membaca LN.
Hah~ sepertinya ide gila saya diahir Chapter akan membuat Chap ini sedikit lebih panjang lagi dari kata tamat. Ahahahaha~ semoga bisa menghibur dan memacu adrenalin kalian ya ...
Terahir, makasih sudah mampir, membaca, dan memberikan Review.
Keris Empu Gandring Out~
