with the dead

Rozen91

Harry Poker © J. T. Rowling

.

.

.

"...Aku tertinggal, sendirian di tempat ini..."

xxx

Samar-samar aku bisa mengingat kelembutanmu. Digenggam oleh kedua tanganku adalah tangan yang lemah. Angin berhembus, menggoyangkan bunga lantana yang kau letakkan di ambang jendela. Semerbak baunya memenuhi ruangan dan aku hanya bisa menghela nafas. Terkantuk-kantuk kucoba mempertahankan kesadaran. Gerimis di malam hari telah menyisakan tetesan-tetesan air di dedaunan di taman. Kekasihku, bangunlah dan lihat apa yang selalu kau sukai di dini hari ketika matahari memperlihatkan secuil sinar di ufuk timur.

Pagi itu kau pergi, di nyanyian pertama burung kenari yang hinggap di dahan pohon.

Tangan lemah itu terselip jatuh dari genggamanku.

Kuabaikan rasa hangat yang basah mengalir di pipi yang dingin.

Maafkan aku. Aku tidak bisa bertahan lagi.

Maafkan aku.

Maafkan aku.

Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya.

Biarkan aku bermimpi di sebelahmu untuk terakhir kalinya.

Hermione-ku...

xxx

Waktu berjalan dan kaki seolah membeku, tak mampu mengiringi tempo sang waktu. Pekerjaan tidak lagi semenarik dulu. Aku ingin pulang dan melihat wajahmu yang menyambut dengan kehangatan. Namun, kini aku hanya bisa terpaku saat pintu manor dibuka. Kekosongan itu terasa nyata. Padahal Lucius dan Narcissa sudah pindah kemari. Seolah berusaha mengisi kesedihan setelah kau pergi jauh dariku.

Biarkan aku memeluk peti mati seputih pualam.

Tapi, tangan kecil menyentuh punggungku dan bertanya apa yang sedang kulakukan. Aku terlonjak kaget. Sudah berapa lama aku tertinggal di ruang waktu yang membeku? Sudah berapa aku terpaku akan hal yang telah hilang dari genggaman tanganku?

Orpheus pasti merasa bingung. Dia tidak sempat melihat wajahmu saat peti mati ditutup. Dia pasti kebingungan. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Apa yang telah terjadi...kemana ibunya pergi...

Sangat sakit menyadari bahwa kau tidak lagi di sisiku.

Aku terjatuh di kedua lututku, menutupi wajah dengan kedua tanganku. Kuharap tidak ada yang mendengar kesedihanku. Barang-barang yang kau tinggalkan bagaikan pedang bermata dua. Menghibur hati yang kesepian, sekaligus menikam kerinduan yang tak akan pernah terpenuhi. Bunga lantana yang kau letakkan telah berubah warna dan berjatuhan. Aku memandang dengan mata yang basah.

Hal buruk apalagi yang bisa terjadi setelah kepergianmu?

Aku ingin...

Banyak keinginan yang tak ingin kuungkapkan.

Namun, Hermione, kau telah pergi dan melewatkan banyak momen-momen berharga.

Seorang anak dengan kepribadian lembut itu perlahan beranjak dewasa tanpamu. Sementara waktu berjalan begitu cepat bagiku hingga sulit untuk mengiringi langkah dengan Orpheus yang terus memandang ke depan. Lalu, akupun juga kehilangan banyak momen, tertinggal sendirian di ruang kosong di dalam memori.

Apakah aku bisa beranjak pergi dari ruang kenangan ini? Di tempat dimana aku memeluk ingatan tentang dirimu begitu erat. Kala wangi yang bisa tercium ketika aku membenamkan wajah di bahumu telah hilang bersama angin yang berhembus di jendela, aku menyadari bahwa banyak hal lagi yang bisa hilang dariku. Aku akan tinggal di sini. Selamanya agar bisa bersamamu.

Ah, Herminone-ku...

Terkadang pertengkaran kecil bisa menjadi suatu skenario yang sangat kurindukan. Namun, di dalam ruang waktu yang berbeda aku hanya bisa mencoba mengulurkan tangan terhadap sosokmu yang dengan marah melangkah pergi. Lalu, seseorang akan menarik kerah bajuku.

Ayah menatapku kecewa. Membanting pensieve hingga benda itu terpental di lantai. Aku mengalihkan wajahku, tidak mau melihat kegusaran di wajahnya.

"Kenapa kau masih seperti ini? Awalnya aku membiarkanmu karena kupikir kau membutuhkan waktu untuk berduka. Tapi, ini sudah terlalu lama, Draco. Kau punya tanggung jawab dan aku tidak bisa membiarkanmu mengabaikannya lebih lama dari ini."

"Dad," kataku, "bunga lantana Hermione telah berguguran. Dia sangat menyukainya. Selalu menyempatkan diri untuk merawat bunga-bunga itu di dalam sakitnya. Seperti lantana yang mati itu, apakah aku juga harus membiarkan kenangannya pergi begitu saja?"

"Aku mengerti kesedihanmu. Tapi, Orpheus membutuhkanmu. Ibumu membutuhkanmu."

Kami semua membutuhkanmu.

Aku mengeluarkan suara kesakitan dari tenggorokanku. Tampak terluka dan ingin menangis. Ayah diam sejenak sebelum menaruh tangannya di pundakku. Hanya sedikit rasa terhibur yang kuizinkan untuk menenangkan hati yang berlubang. Aku ingin pergi dan kembali melanjutkan hidup. Namun, semua itu tidak mungkin karena hati ini akan menjadi mati nantinya. Di dalamnyatersimpan seluruh perasaan cinta untuk Hermione, untuk Orpheus, untuk Lucius dan Narcissa. Jika hati ini mati, kemanakah aku akan berpaling?

Ah. Hermione...

sebelum aku menjadi orang yang dingin,

bisakah kau menyambut uluran tanganku?

xxx

"Draco, anakku, apa yang telah terjadi padamu!?"

"Mom, semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir."

"Draco, Draco, kenapa semuanya jadi begini..."

"Mom...please..."

"Sayang, kau akan baik-baik saja! Ayahmu akan mencari healer terbaik yang akan menyembuhkanmu!"

"...Dimana Orpheus?"

"Orpheus! Oh, Orpheus! Aku sudah mengiriminya surat. Dia akan datang secepatnya! Dia pasti sangat khawatir... cucuku yang malang..."

Narcissa menutup wajah dengan sapu tangannya. Terisak sementara Draco memandang ibunya, mengernyitkan alis sembari mengelus pundak ibunya.

"Please, please, mom," bisiknya dengan nada pilu, "...don't cry..."

xxx

Semilir angin membelai sisi wajahnya. Lalu ia terbangun, merasakan kehangatan di tangannya. Iris kelabu itu melirik dari sudut mata. Berkedip. Kemudian ia mengulum senyum, melihat anak tunggalnya duduk di samping ranjangnya. Menungguinya sambil menggenggam tangannya.

Orpheus hanya menatap dengan kerlingan di kedua mata kelabunya yang begitu sendu namun hangat. Draco memandangnya lekat-lekat. Seorang anak yang berhati mulia dan penyayang. Sama seperti ibunya. Mata Draco terasa perih jika memikirkannya. Jari-jarinya lantas menyentuh telapak tangan anak yang perlahan beranjak dewasa itu.

"Orpheus," mulainya parau, setengah berbisik, "kau punya sifat yang bukan milikku. Bukan milik seorang Malfoy. Ibumu meninggal saat kau masih sangat kecil dan aku berpikir bahwa sangat sedih rasanya karena kau mungkin tidak bisa mengingat kasih sayangnya. Tapi, aku selalu melihat pertumbuhanmu biarpun kau berpikir bahwa aku tidak peduli. Kau tumbuh dengan sifat ibumu. Sangat aneh, bukan? Mungkin ini keajaiban. Padahal Hermione tidak ada bersamamu, tapi kau tumbuh dewasa dengan prinsip-prinsip dan kebaikannya."

"Ibu selalu bersamaku, ayah," ucap Orpheus sungguh-sungguh. Suaranya lembut dan penuh perhatian. "Ibu tidak pernah meninggalkanku."

Draco menatapnya lama. Kemudian senyum lemah bercampur lega terulas di bibir pucatnya.

"Syukurlah..." ucapnya, "Aku senang mendengarnya..."

Pria itu memejamkan mata untuk beberapa saat. Sekilas Orpheus berpikir bahwa ia sudah meninggal. Namun, kemudian ayahnya mengerjapkan matanya. Memandangnya lemah dengan sorot mata mengantuk. Orpheus tersenyum.

"Ceritakan apa saja yang ibumu lakukan bersamamu..."

Sorot mata Orpheus melembut. Ia mendekatkan kursinya tanpa melepas genggaman pada satu tangan ayahnya. Ia mulai bercerita. "Aku ingat, ibu tidak pernah meninggalkan ayah untuk beberapa hari lamanya hingga aku tidak bisa menghitungnya. Ibu duduk di dekatmu, bersandar di bahumu. Aku selalu melihatnya berbisik di telingamu dan..."

Dan cerita itu berlanjut. Bagai dongeng tidur mengantarkan Draco ke alam mimpi. Ketika ia memejamkan mata bersama hembusan angin di jendela. Bunyi bel yang begerak di ambangnya, di samping pot silinder bunga lantana yang yang ikut bergoyang. Meniupkan baunya ke seluruh ruangan. Dan Draco teringat tentang pagi yang basah ketika burung-burung kecil mulai bernyanyi.

Di kamar mereka berdua. Terbaring di tempat tidur dengan bau selimut yang baru dicuci.

Di samping Hermione, ia perlahan membuka matanya.

Sepasang permata hazel menatapnya sayang. Ketika kecupan ringan mendarat di pipinya baru Draco tersadar. Tangannya memeluk erat pinggang wanita itu sembari tertawa, menenggelamkan wajah di perpotongan leher jenjang istrinya. Memejamkan mata dan menghirup wangi yang dulu hilang.

Ah, Hermione...

Draco membatin,

darimana saja kau selama ini?

Setetes air mata yang jatuh dari pipinya tidak bisa menjelaskan seluruh kerinduannya.

xxx

.

.

"...ibu mengajariku bagaimana cara menulis essay dengan cepat. Karenanya, Profesor Longbottom selalu memujiku di kelas. Waktu pertama kali ke Hogsmeade, ibu menyuruhku..."

Pemuda itu diam. Kemudian mengatupkan bibirnya.

"..u...uh...."

Dan biarkanlah Orpheus duduk di sana dengan bahu bergetar. Menggenggam tangan yang mendingin di kedua tangannya.

Cairan hangat yang mengalir deras itu terasa asin di lidahnya.

"...D...ad..."

_the end

: DRACO MALFOY_

author cornah! =w=

Hai~ hai~ Alhamdulillah, chap ini rampung,, wokey wokey, seperti biasa, banyak yang menebak-nebak isi dari fic ini,, =w= ,, sebagian sepertinya sudah dapat topik utama chap sebelumnya,, yosh, baguslah,, maaf ya readers-sama, saya gak bisa balas review sekarang,, tapi thanks banget buat reviewers yang udah mau mampir di chap pertama, trus thanks tak terhitung juga buat para pembaca yang udah menyempatkan diri buat baca fic ini,,, =w=

di chap ini kita melihat pov Draco dan tangtaraa! chap ini ends setelah kematiannya? Apakah ada pertanda? entahlah,,, mungkinkah jawabannya akan ada di pov Hermione? harus dong,, :y

awalnya pengen buat sesuatu yang menggambarkan kebahagiaan sebuah keluarga kecil di manor Malfoy tapi malas tergelincir ke sini , *apanya yang bahagia? dari chap awal aja udah ada yang dead!* v,v maaf sekali mbak mas, kalau gak ada yang mati, rasanya hambar gitu~ *plak!

baiklah, yang di atas itu terlalu mengada-ada, jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Jadi, nyatanya tuh pengen buat kematian biasa, gak pake aneh-aneh,,, tapi gak asik juga kalau cuma kayak gituan aja...ahahahaaa... pengen masukin sesuatu yang legit gitu deeehh,,, siapa ya yang bakal di-bully di fic ini? may the odds in your favor~ =w=

yosh! thanks for reading!

dan saya juga mohon maaf atas penundaan update yang suer kelamaan banget,,,TwT

yosh! bubay~

=w=

author cornah! ends!