with the dead
Rozen91
Harry Roket © J. P. Rowling
.
.
.
"Kita bertiga akan berkumpul kembali."
—***—
"Okay... okay, I am okay. Jadi, tolong jangan menangis."
"Aku tidak menangis, Hermione."
"..."
Air matamu mungkin terbuat dari udara. Tidak terlihat dan tidak bisa disentuh. Draco, Orpheus kecil kita bahkan belum bisa merangkak keluar dari keranjang bayinya, tapi wajahmu sudah seperti itu. Aku berpikir bahwa kau lebih kuat dari ini, tapi aku mungkin sudah menganggap sepele perasaanmu. Kusentuh pipimu dengan punggung tanganku, mencoba menyeka air mata yang sebenarnya tidak ada. Sorot mata terlihat kosong dan penuh kesedihan.
Jangan bersedih, Draco.
Aku mencondongkan badan dari bantal-bantal yang disusun untuk sandaranku. Kukecup keningmu sembari memejamkan mata.
"Aku baik-baik saja."
Tapi, darah yang kumuntahkan di kedua tanganku saat batuk keras menyerang pastilah bukti dari sebuah kebohongan. Samar-samar, di tengah-tengah rasa sakit yang membuatku sulit bernafas, kulihat dirimu berdiri dan berteriak panik.
Aku melihat kengerian dan ketakutanmu.
Draco, Draco...jangan lihat kemari.
Jika semua hal itu sangat membuatmu tersakiti, maka palingkanlah wajahmu.
Akan tetapi, kau tetap bertahan di tempatmu, di sisi pembaringanku. Menatap tanpa gentar. dengan ekspresi penuh derita terpancar di wajahmu.
xxx
"Kau tidak pergi ke kantor?"
"Untuk apa? Satu detik di sana lalu aku akan langsung kembali ke manor. Aku tidak akan tenang sampai kau sehat lagi."
"Kau sangat manja, Draco. Nanti aku akan menulis surat untuk Blaise karena kau sudah merepotkannya lagi hari ini."
"Kenapa kau lebih memikirkan Blaise ketimbang suamimu sendiri?"
"Ah," aku memutar bola mataku,"aku hanya memusatkan seluruh cinta dan kasih sayangku untuk Orpheus."
"Jangan menggodaku, Hermione. Aku akan sangat cemburu pada anak laki-lakiku sendiri. Ngomong-ngomong, Orpheus menelpon pagi tadi. Kau masih kelelahan setelah demam tinggi kemarin malam, jadi aku tidak membangunkanmu."
"...hm."
"Kau khawatir? Aku juga khawatir sekarang. Sepertinya mom sangat memanjakannya di Mansion Hujan Biru."
"Sekarang kau membuatku benar-benar khawatir."
"Benar, 'kan?"
"Ya. Tidak bisa kubayangkan jika aku harus melihat Draco "Aku-sangat-sombong" Malfoy untuk kedua kalinya."
"Hei! Bukankah seharusnya kata 'hebat' yang menjadi nama tengahku!?"
Aku mengeluarkan tawa kecil. Lalu Draco tersenyum seraya menyandarkan dagunya di atas kepalaku, berbisik, "aku senang mendengar tawamu. Hermione, cepatlah sembuh. Aku punya kejutan untukmu dan Orpheus. Aku tidak sabar ingin menunjukkannya pada kalian berdua."
xxx
"Mom, apa yang sedang kau lakukan?"
"Hm?" Orpheus menarik selendang hangat yang kuapit di lenganku. "Aku sedang membersihkan bunga ini dari daun-daun layu."
"Ibu menaruh banyak bunga di seluruh rumah. Bagaimana jika paman Harry datang dan mengira bahwa manor ini adalah toko bunga?"
"Maksudmu?"
"Maksudku, paman Harry akan berpikir bahwa ia sudah salah alamat." Aku tertawa mendengar kepolosannya. Kubelai rambut peraknya yang lebat. Aku bersyukur gen Malfoy lebih dominan, kalau tidak, aku harus melakukan sesuatu untuk rambut dan gigi Orpheus.
"Aku harap dia tidak berpikir begitu," balasku dengan senyum kecil. Orpheus mengangguk.
"Lalu bagaimana aku akan menjelaskan jika paman bertanya tentang pot-pot bunga di tiap sudut manor?"
"Orphe." Aku berjongkok di hadapannya sembari meremas bahunya dengan lembut. "Suatu hari nanti, kakek dan nenekmu akan kembali tinggal di manor ini."
"Benarkah!? Kapan!?"
Aku memasang gestur berpikir. "Hm, ibu tidak tahu. Tapi, waktunya sudah dekat. Apa kau senang mereka akan datang, Orphe?"
"Tentu saja, mom. Aku senang sekali."
"Kau tahu," kataku lagi, "ibu sengaja menaruh pot-pot bunga di dalam manor, agar nanti nenekmu tidak bosan saat kau pergi ke Hogwarts."
Agar kekosongan di manor ini tidak terasa seiring berjalannya waktu dari pagi hingga malam. Dan Narcissa tidak perlu mengingat bahwa ia kesepian dan tidak punya sesuatu untuk dikerjakan. Agar kakekmu bisa tenang saat keluar rumah untuk pekerjaan.
Dan agar hati ayahmu terhibur saat melihat bunga-bunga itu, mengingat bahwa Hermione-nya pernah berdiri di sana dan menyirami tiap potnya.
Orpheus, suatu hari nanti, kau akan mengerti alasannya.
xxx
Orpheus, malaikat kecilku, kutulis surat ini dengan segenap cinta untukmu. Walaupun ibu tidak ada di sisimu, bukan berarti ibu telah meninggalkanmu. Aku akan selalu melihatmu, tumbuh menjadi seorang lelaki tampan dan baik hati. Aku akan mengajarkan apa yang tidak bisa diajarkan oleh ayahmu. Ibu akan mendukungmu hingga kau menjadi seorang lelaki dewasa yang penuh dengan keberanian dan kemurnian hati.
Orphe-ku sayang, suatu hari nanti ayahmu akan sangat bersedih. Orang-orang berbaju hitam akan datang dan dengan wajah sendu mencoba menghiburmu. Sahabat dekat ayah sudah pergi jauh. Mereka turut berduka cita untuk ayah. Kau anak baik, 'kan? Jawab mereka dan bilang terima kasih. Lalu mereka akan memuji ketegaranmu. Itu pujian untukmu. Ucapkan terima kasih.
xxx
Malaikat kecilku, sekarang kau telah berumur 7 tahun, karenanya ibu akan memberitahumu sesuatu. Kau pasti bertanya-tanya kenapa ibu terlalu banyak menyuruhmu berterima kasih. Orphe, setiap gestur penuh cinta dan simpati, semua kebaikan itu, pantas dibalas dengan kebaikan. Dan rasa terima kasih yang kau ungkapkan tanpa kau sadari telah membuat hati mereka menjadi hangat dan senang. Mereka senang bisa membantu meringankan sedikit beban orang lain. Karena orang-orang hidup saling membutuhkan, maka kesopanan akan menjadi tali penghubung. Jika kau bersiap sopan dan menghargai apa yang orang-orang berikan, maka mereka akan membalasnya dengan hal yang serupa. Kau mungkin berpikir bahwa kau bisa melakukan semuanya sendirian, tapi, tidak, Orphe...ada hal-hal yang dimana ketika hal itu begitu berat hingga membuatmu terjatuh dan putus asa, kau membutuhkan uluran tangan untuk bangkit dan kembali bersemangat. Karena itulah, Orpheus, kau tidak boleh sombong ataupun merendahan orang lain. Bisa jadi sebagian dari mereka akan menopangmu di saat kau terjatuh. Kau anak baik, 'kan? Ibu sangat mencintaimu.
xxx
Sebentar lagi, kau akan masuk Hogwarts. Apakah ayah sudah mengajakmu ke Diagon Alley? Jika ayahmu terlalu sibuk, mungkin kakek atau nenekmu yang akan mengajakmu berbelanja. Jangan khawatir, Orpheus. Ibu akan menemani ayahmu di manor. Semoga harimu menyenangkan!
xxx
Baiklah, tahun kedua tidak sama seperti saat pertama masuk. Pelajaran akan mulai terasa sulit. Harus membuat essay, mengerjakan tugas, menghafal mantra...tapi semua itu tidak akan membuat malaikat kecilku kerepotan, 'kan? Sejak dulu, ibu selalu tahu bahwa kau anak yang cerdas. Tapi, ibu akan memberikanmu tips untuk memudahkan pelajaranmu.
Ibu akan mulai dari perlajaran Herbologi. Buku-buku yang paling gampang dimengerti ada di rak 3E di perpustakaan. Bahasanya cukup ringan untuk anak seusiamu. Dan kau bisa bertanya pada Profesor Longbottom untuk istilah-istilah yang tidak kau mengerti. Dan untuk essay—
xxx
Orpheus-ku, di umurmu yang ke-16 ini, kau pasti sudah menjadi pemuda baik hati yang akan selalu ibu banggakan. Ibu tahu bahwa sedikit demi sedikit kau mulai menyadari keganjilan di dalam sikap ayahmu. Ibu tahu bahwa ayahmu perlahan berubah. Tidak sama lagi seperti dulu. Kau bukan lagi anak kecil yang bisa bersabar untuk tetap diam dan mengikuti kata-kata ibu.
Orphe, ayahmu tidak seperti dirimu. Ayahmu memiliki hati yang lemah. Ketika seseorang ditinggalkan oleh orang yang paling disayanginya, maka sebagian jiwanya juga ikut pergi. Aku tidak bisa membuat ayahmu menjadi orang yang kuat biarpun melewati banyak usaha. Orpheus, selama ini aku tidak membicarakan hal ini denganmu. Waktu itu kau masih sangat kecil dan aku berharap banyak pada kakek dan nenekmu, dan sahabat-sahabat ayahmu untuk membuatnya bangkit dari keterpurukan.
Ketika dulu ayahmu tidak berbicara padamu untuk waktu yang lama, kau sekarang pasti sudah bisa menduga bahwa ia sedang sangat bersedih. Orphe, kaupun sekarang pasti sudah tahu bahwa ibu pergi tapi tidak akan pernah kembali. Mungkin sejak lama kau sudah tahu bahwa ibu sudah meninggal, tapi, kau tahu, kita berdua hanya dipisahkan oleh alam yang berbeda. Tapi, kita tidak bisa saling bercakap-cakap. Karenanya, ibu menulis surat ini. Aku ingin membekalimu dengan segala pengetahuan yang ibu punya. Agar kau mampu menghadapi seluruh masalah yang menimpamu. Agar biarpun ayahmu tenggelam dalam kesedihan lagi, kau tidak akan kesepian karena surat-surat selalu ada denganmu.
My dearest Orpheus,
suatu saat nanti, kita bertiga akan berkumpul kembali. Sampai hari itu tiba, ibu akan selalu melihat dan mendukungmu dari tempat ini.
Ini surat terakhir ibu untuk 11 tahun hidupmu di masa depan nanti. Jangan bersedih dan jangan takut. Kau sudah mengerti, 'kan? Ibu selalu melihat dan mendukungmu.
Pelukan dan kecupan hangat di keningmu dan di kedua pipimu untuk umurmu yang ke 16 tahun telah ibu lakukan 11 tahun yang lalu. Apakah kau masih bisa merasakannya?
Salam sayang,
your loving mom.
_—***—_
the end
—_..._—
author corner!
Yassh,,,
Alhamdulillah,,, =w=.. fic ini sudah selesai,, pernah ada pembaca yang nebak-nebak 'apakah POV Orpheus benar-benar terjadi atau hanya ilusi saja?' Hm,, setelah chapter ini, semoga sudah bisa didapat jawabannya :D. Yup, seperti yang sudah kalian baca, Hermione menyimpan 11 surat untuk Orpheus dan saya hanya mengeluarkan sebagian untuk diperlihatkan pada para pembaca,,. =w=
Jadi, kesimpulannya, cerita ini berkisar tentang ibu yang punya penyakit sejak lama dan tidak bisa disembuhkan. Lalu, ia membuat sebelas surat untuk tiap tahun anaknya tumbuh. Tapi, merujuk ke chapter pertama, sepertinya sang anak sudah menciptakan sebuah imajinasi tentang ayah dan ibunya yang seolah masih hidup. Dengan demikian kita bisa menilai bahwa sang anak mencoba melupakan kenyataan bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal. Dan kita tahu bahwa surat ini berhenti di umurnya yang ke 16. Dan di tahun itu juga ayahnya meninggal.
Well, di surat ke 11 Hermione sudah mengakui bahwa dia sudah meninggal dan tidak akan pernah kembali. Tapi, kita tahu bahwa Orpheus anak yang cerdas, jadi mungkin sudah lama ia tahu kalau ibunya sudah meninggal. Dan bisa saja imajinasi itu berhenti sejak lama, atau berhenti setelah membaca pengakuan Hermione. Tapi bayangan imajinasi itu tetap ada bahkan setelah surat terakhir. Yang dimana di tahun yang sama ketika Draco meninggal. Apakah ada hubungannya? Yaah,,, silahkan dipikir-pikir,,,, =w=
Yosh,, thanks for:
asdfghjkl(...HAH!? KOK BISA! *habis lihat, untuk pertama kalinya, video fifth harmony-work,, not my taste, really :3),, Octaviadwins(Okk,, semoga udah dapat sekarang =w=), belivixx (aww,, arigatou!), sunset shine (yup, tujuan saya memang itu *plak!), Lillyan flo (yup, benar sekali,, =w=), Liuruna (aww... semoga sekarang udah bisa dimengerti *ngertiin aku dong, say~ :3), nurusyda (yep, begitulah,, =w=), Guest (aww,,, masih aktif kok, buat Darah Baskerville,, ahahaa~ semoga ff selanjutnya tetap bisa memuaskan selera guest-san :3), HappyHeichou (*kasih tisu* hapuslah air matamu, kasih~ :3,,, kalau pembaca baru biasanya mudah terbawa emosi cerita,, tapi kalau pembaca lama yang udah familiar sama gaya nulis saya mungkin sekarang udah kebal kali, ya? hahaha,, harus cari cara baru untuk buat mereka emosional fufufu~ =w=)
yosh thanks for all reviewers and readers for following this ff from the very beginning!
*sebelum menutup corner ini, biarkanlah saya mengucapkan permintaan maaf karena sudah mempermainkan nama copyright sejak chap 1,, yosh! disclaimer: Harry Potter is J. K. Rowling's!
bubay~
=w=
Rozen91
_—***—_
_—***—_
.
.
.
"Mendekatlah, Orphe."
Hermione menyibak selimut, menuntun anak semata wayangnya untuk masuk berbaring di sampingnya. Orpheus mendongak, menatapnya dengan mata kelabunya yang jernih.
"Mom, apa kau sedang sakit?"
"Hm?" Hermione tersenyum lembut, "hanya sakit biasa."
"Mo—"
Orpheus mengatupkan bibirnya saat ibunya mendekapnya erat, kemudian mengecup keningnya. "Ibu sangat menyayangimu. Kau tahu itu, 'kan?"
"Um." Orpheus mengangguk. Permata coklat ibunya menatapnya hangat dan penuh kasih sayang.
"Kau memang anak ibu yang paling baik. Kau sangat berharga. Orpheus, ibu sangat mencintaimu."
"Mom..." Orpheus terlihat ragu. "Apa kau akan menitipkanku lagi pada kakek dan nenek?"
Hermione tertawa kecil. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Mom selalu berbuat seperti ini sebelum mengatakan bahwa ayah akan mengantarku ke mansion Hujan Biru."
Sorot mata Hermione menunjukkan penyesalan. "Tidak. Tidak lagi, Orpheus."
"Sungguh?"
"Sungguh. Ibu tidak berbohong." Orpheus tersenyum lebar, mengundang senyum lembut di wajah ibunya. "Orphe," ibunya berkata lagi sembari mendekapnya ke dada, "ibu punya hadiah untukmu. Hanya beberapa surat, tapi penuh dengan perasaan ibu. Ibu menyimpannya di laci meja belajarmu."
"Benarkah? Apa aku bisa membacanya sekarang?"
"Tidak, tidak. Kau harus menunggu. Satu surat untuk tiap tahun. Ibu sudah memantrai surat-surat itu, jadi kau tidak bisa curang."
Orpheus mengerang. "Apa aku punya surat untuk tahun ini?"
"Ah, iya." Hermione mengelus rambut perak anak laki-laki itu.
"Kapan aku bisa membukanya?"
Sejenak gerakan tangan Hermione terhenti, namun wanita itu tetap tersenyum saat Orpheus menengadah untuk menatapnya. Hermione menjawab, "Hari setelah esok."
"Cuma dua hari. Aku bisa bersabar!" ujar Orpheus bangga. Hermione tersenyum.
Lalu, pintu terbuka. Draco melirik ke dalam. "Orphe, kau di sini?"
"Dad?"
Draco berjalan mendekat, mengulurkan tangan. "Ibumu sedang sakit. Dan sekarang sudah jam tidurmu. Ayo, Wedler akan mengantarmu ke kamar."
"Selamat tidur, Orphe," ucap Hermione pelan, mencium kedua pipi dan kening Orpheus.
Orpheus bangkit sembari balas mengecup kening ibunya. "Semoga mimpi indah, mom." Lalu ia berdiri di kursi di samping tempat tidur, mencoba menyamai tinggi ayahnya. "Dad juga," katanya seraya berjinjit. Draco membungkukkan badannya hingga Orpheus mampi mendaratkan kecupan di keningnya.
"Mimpi indah, son."
Wedler, peri rumah yang ceria, muncul di depan pintu yang terbuka. Mengajak Orpheus ke kamar tidurnya sendiri dengan tingkahnya konyol.
"Orpheus," ibunya memanggil. Orpheus berhenti melangkah di depan pintu, menoleh dengan wajah penuh tanya. Hermione mengulas senyum lembut hingga kedua matanya melengkung. "Ibu sangat menyayangimu."
Orpheus tersenyum lebar, melambaikan tangannya. "Aku juga sayang ibu! Selamat malam!"
Ya.
Selamat malam, Orpheus.
"Istirahatlah, Hermione." Draco duduk di kursinya. Meraih tangan istrinya, melingkupinya dengan kedua tangannya yang hangat. Sorot matanya tidak terbaca, namun Hermione bisa merasakan seluruh emosinya. Pria itu berkata lagi, "aku akan di sini...menjagamu."
Hermione menatapnya lekat-lekat.
Lalu, ia mengangkat satu tangannya yang bebas. Menyentuh pipi pria itu dengan telapak tangannya. Iris kelabu menatap tanpa kedip. Senyuman di bibir pucat itu akan terus terpatri di dalam ingatan.
"Jangan menangis, Draco."
_the end
: HERMIONE MALFOY_
and
_the final chapter of with the dead_
—_..._—
—_..._—
.
.
senang bisa membaca review para readers.
kalau bisa, saya ingin membacanya lagi di fanfic baru yang akan datang.
:y
Rozen91
