a/n

Oke, daku tau ini lebih dari terlambat buat update fiksi ini. Daku bahkan ragu kalau masih ada yang baca. Mou, ii. Semoga nggak mengecewakan. Happy reading!

.

.

Haikyuu! by Haruichi Furudate

Warning: Sho-ai, KageHina, typo(s), possibly OOC, pendek, abal, etcetra.

I gain nothing except personal pleasure(?)

.

One Week Boyfriend

Bagian dua

.

.

Sawamura Daichi tidak mengerti, hanya perasaannya saja, ataukah memang belakangan ini hubungan antara sang Raja dan sang umpan terkuat semakin tidak terdefinisi. Terkadang mereka tiba-tiba tidak akur, lalu kembali akur lagi seperti tak pernah terjadi apapun.

Seperti sekarang ini. Seingatnya, mereka baru saja bertengkar (walau absennya umpatan serta teriakan yang saling sahut-menyahut), tadi pagi. Tapi sekarang dua pemain andalan tim Karasuno itu sudah rekat kembali.

"Suga, bagaimana menurutmu?" tanya Daichi, non-spesifik. Daichi lalu menunjuk si nomor punggung 9 dan 10 yang sedang melakukan peregangan bersama beberapa anggota lain di pinggir lapangan.

"Aku tak terlalu paham, tapi lihatlah. Kompak sekali gerakan mereka, padahal tidak ada yang menghitung satu sampai delapan." Suga cekikikan, mahfum dengan kelakuan dua adik kelasnya itu.

Saat ini mereka tengah melakukan peregangan tangan dan sekitar bahu. Entah kenapa papa dan mama Karasuno itu jadi memerhatikan mereka. Tak lama, mereka mendapati sesuatu.

Ujung tangan kanan Hinata tak sengaja bersentuhan dengan ujung tangan kiri Kageyama. Seharusnya itu sesuatu yang biasa saja, tidak aneh ataupun istimewa.

Si nomor 9 dan 10 saling memandang sejenak, lalu sesegera mungkin menarik kembali lengan mereka yang terjulur ke samping kanan dan kiri masing-masing. Mereka membuang muka. Disini Hinata yang paling terlihat janggal. Pipi merona dan mimik kaget yang kentara sekali.

"Ha?"

Suga dan Daichi memutuskan untuk berlatih kembali, menganggap kejadian itu tidak pernah mereka lihat.

'Memang ada yang aneh dengan mereka…'

.

Hinata bolak-balik mengecek ponselnya. Senyum lima jari.

Tanggal 26. Bulan Nopember. Hari Rabu. Pukul 7 lebih seperempat.

Ia mencubit pipinya sendiri, terasa lembut–salah. Sakit 'kok.

'Jika salah satu dari kita yang jatuh cinta, maka dialah yang kalah.'

Ia masih tidak paham apa yang terjadi hari ini. Masih memandangi layar ponselnya.

"Onii-chaaaaan!"

Ah, ia samar-samar mendengar suara seseorang memanggil-manggil dirinya. Kira-kira siapa ya?

'Nanti akan kukirimi e-mail ketika aku sudah sampai rumah.'

Hinata begitu antusias, berkali-kali me-refresh laman kotak masuk di salah satu penyedia layanan e-mail.

"Shouyo-nii!"

Ah, bahkan suara itu kini mulai memanggil dengan nama depannya.

–Tunggu, Shouyo-nii?

"Nii-chan, ngapain, 'sih!?" si kecil dari keluarga Hinata, Natsu namanya, menendang pintu kamar kakaknya yang ternyata tidak dikunci. Didapatinya kakaknya tengah duduk di lantai, bersandar pada pinggiran kasur, melamun, senyum-senyum dan memelototi ponselnya.

Natsu menyejajarkan diri dengan kakaknya, mencolek bahunya, seringai tak dapat ditahannya. "Menunggu pesan dari pacarmu, eh?"

Hinata terperanjat, refleks melemparkan ponselnya ke kasur, "T-T-Tidak!"

Natsu tertawa, reaksi kakaknya ini terlalu gamblang. Natsu meninju pelan bahu kakaknya. Ia berdiri, hendak keluar dari kamar kakaknya.

"Nungguin pesan pacar ya boleh-boleh 'aja. Tapi jangan lupa makan, Nii-chan, hihihihi.."

Ah, anak-anak zaman sekarang memang beda ya.

.

Jum'at pagi, sebenarnya dini hari.

Hinata insomnia.

"Tenanglah, Shouyo! Semua ini hanya permainan, kau tak akan menganggap ini terlalu serius!" Hinata menepuk-nepuk kedua pipinya. Sebenarnya percuma ia meyakinkan dirinya. Pada akhirnya ia tetap tidak bisa tidur.

Susah ya, kalau jadi seseorang yang selalu serius dalam permainan–terutama bola voli..

Hinata bingung. Guling sana, guling sini. Aaargh!

Pikirkan kembali. Apa yang lazim dilakukan oleh pasangan? Men-traktir? Pulang bareng? Berbagi makanan, separuh milikku, separuh milikmu?

Hinata mengangguk-angguk.

–Tunggu, ia dan Kageyama sudah melakukan semua itu, bahkan sudah lama sekali. Apa itu artinya mereka memang sedekat itu?

Hinata guling-guling sambil menggelengkan kepala.

'Aku cukup yakin, aku bereaksi seperti ini pasti karena aku belum pernah punya pengalaman tentang percintaan. Ya, pasti begitu!'

Dan lagi, baginya yang senang sekali dengan permainan, segalanya akan selalu ia jalani dengan sungguh-sungguh.

"YOSHAAAA!"

.

Peraturan pertama, jangan sampai ada orang lain selain kau dan aku, yang mengetahui hubungan-tujuh-hari ini. Kalau ketahuan, permainan berakhir. Tidak ada yang menang maupun yang kalah.

.

"Kantung matamu tebal sekali, chibi."

Makhluk tinggi menjulang dengan headphone putih melingkar di telinga menghadang. "Apa?" Hinata terlampau ketus.

Sial sekali dirinya, orang pertama yang ditemuinya adalah Tsukishima Kei. Lengkap dengan tatapan mencemooh dan seringai yang menyebalkan.

Hinata tidak membalas dengan kata-kata, ia berusaha mencari celah lain untuk melewati si jangkung tanpa harus bersungut-sungut, "Pagi, Tsukishima."

Tsukishima menangkap gelagat aneh dari Hinata, memanfaatkan tinggi tubuhnya untuk memindai, ditemukannya sedikit kejanggalan. "Kau bawa apa, chibi?" Ia menunjuk tangan kiri Hinata yang sengaja disembunyikan di balik tubuh mungilnya.

Hinata mundur satu langkah, Tsukishima maju dua langkah. "Aku tidak bawa apa-apa!"

Tangan kiri diangkat tinggi-tinggi, menunjukkan bahwa memang tidak ada apapun yang disembunyikan di tangan kirinya.

Alis berkedut kesal, "Kau kira aku anak TK, hah?" Sepatu sneakers putihnya menghentak-hentak lantai berlapis semen. "Apa itu yang ada di balik punggungmu? Kemarikan tangan kananmu."

Bertukar, tangan kiri disimpan, tangan kanan diangkat. "Tidak ada apa-apa! Sudahlah, Tsukisima! Sebentar lagi senpai akan datang!"

"Kemarikan."

Begitulah seterusnya, pergantian tangan kiri-kanan yang disimpan dan yang di angkat. Berlangsung sengit sekali, Tsukishima memuji kekeras kepalaan si mungil.

Menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan pergerakan tangan kiri Hinata, denganepat ia menarik apa yang sedari tadi disembunyikan oleh Hinata. "Kotak bekal? Hanya ini?"

Permasalahannya bukan disana. Jikalau itu hanya kotak bekal biasa, maka Hinata tidak perlu repot-repot menyembunyikannya di balik punggung. Terlebih, ia membungkusnya dengan kain. Seharusnya ia bisa memasukannya ke tas selempangnya, kan? Dari gelagatnya saja sudah aneh. Keras kepala sekali.

"Kau membawa bekal sebanyak ini? Pffft, belum makan dari kemarin?"

Dua pasang lengan mungil merebut paksa. Pipi selembut bakpau daging merona, Tsukishima tidak paham penyebabnya. "Kembalikaaaaan!"

Menghindari tubuh jangkung Tsukishima, si umpan terkuat berlari sekencang-kencangnya. Tsukishima ditinggalkan, "Apa-apaan dia? Ah sudahlah.."

.

"Maaf tidak mengirimimu e-mail. Baterai ponselku habis, chargerku rusak, tak sengaja terinjak."

Kageyama berdiri disebelahnya,

"Kageyama, mau makan siang? Aku bawa bekal, kelebihan (banyak), haha.."

Kageyama tampak tak keberatan, "Atap?" berdiri, mengembalikan kursi yang tadi dipinjamnya. "Aku beli minuman dulu, kau pergilah lebih dulu, boke."

Kageyama berlalu, Hinata mengangguk paham. Kotak bekal super spesial diangkat dari meja, dipeluknya erat-erat. Lirik kanan, lirik kiri. Aman.

Lari secepat mungkin, hingga seorang guru menegurnya, "Jangan berlari di koridor!"

Mengapa dirinya begitu paranoid? Jawabannya sederhana.

Bekal ini buatannya.

Setelah sekian jam–hingga senyum-senyum bodoh dan insomnia–memikirkan langkah pertama untuk permainan bersama Kageyama ini, pilihannya jatuh pada 'Mari membuat bekal untuk (isi nama sendiri)-kun !'

Jangan tanya darimana Hinata tau hal itu.

"Boke, kau tadi tidak bilang ingin minum apa, jadi kubelikan minuman yang sama dengan yang kubeli." Sekotak susu stroberi dilemparkan.

"Jadi.. Darimana kau mengerti hal semacam ini?" Menunjuk bekal bertingkat tiga yang ada di depan Hinata. "Shoujo manga?"

Hinata terperanjat, tebakan jitu. Jleb di kokoro. Benar saja, dia memang mencari referensi dengan membaca majalah-majalah komik anak perempuan milik sang adik.

"Percobaan yang tidak buruk." Tangan besar menepuk kepala oranye Hinata beberapa kali lalu mengacaknya pelan, "lagipula masakanmu enak."

Hinata tergugu, terlihat lucu sekali dimatanya. "Bagaimana rasanya, bukankah 24 jam ini kau sudah tidak berstatus jomblo lagi?" Entah kerasukan, Kageyama merasa dirinya jadi lebih gentleman.

"Kurasa tidak ada yang berubah, ou-sama," ia mengunyah dadar gulung setelahnya. Dengan pipi bakpaunya, ia tampak seperti tupai.

Memastikan Hinata sudah menelan makanannya, Kageyama berucap, "Chargerku rusak. Nanti mau temani aku beli?"

.

Peraturan kedua, boleh melakukan apapun untuk saling menarik perhatian, lebih tersembunyi lebih baik. Tapi dilarang cara ekstrim apalagi berkaitan dengan 17+ dalam berbagai bentuk.

.

Rasanya jam tidak bergerak samasekali. Pelajaran Sejarah Dunia jadi dua kali lebih membosankan dari biasanya. Memang nasib pelajaran di jam terakhir, seluruh siswa sibuk menguap, memikirkan kamuflase terbaik untuk menyembunyikan rasa kantuknya.

Hinata tidak mengantuk, ia melamun.

Bu guru ubanan dengan gaya rambut membosankan menulis di papan sambil bercerita. Perang Dunia II dimulai pada tahun blablablabla.. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Hinata doodle-ing gak jelas. Buku catatan Sejarah Dunianya penuh dengan coretan 'Ou-sama', 'turnamen musim semi', 'voli', 'Kageyama', ' Kageyama', 'Kageyama'. Ada gambar bola voli besar di bagian tengah halaman buku catatannya.

Dewa penyelamat seluruh siswa–bel pulang sekolah–berdering nyaring. Hinata otomatis bangkit dan meringkas seluruh peralatan dengan cepat. Buku catatan Sejarah Dunia dimasukkan paling akhir.

Setelah memberi salam pada Bu Guru, Hinata lari ke kelas Kageyama. Didapatinya Kageyama masih berbenah. Pundak yang lebih tinggi dipukul keras.

"Apa-apaan sih!? Dasar boge!" sensitif seperti biasa. Bukannya balas berteriak, malah cengiran khas Hinata terbit.

"Kageyama, apa aku harus meninggalkan sepedaku di sekolah, lalu kita naik kereta?"

Jawaban instan, "tidak usah."

"Lalu bagaimana?"

Tas selempang hitam milik Kageyama ditutup. Disampirkan ke bahu kiri. "Kita gunakan sepedamu. Aku akan memboncengmu ke sana."

"Hah?"

.

.

Daku nggak ingin fiksi ini berakhir tragis. Satu hal, daku nggak nyangka ada yang respon fiksi ini, hiks. Terima kasih banyak. Daku senang sekali atas review kalian semua :""")

Kedepannya mungkin fiksi ini akan dipisah dua-dua, seperti chapter ini. Tapi daku nggak memberi tanda yang konkrit saat pergantian hari. C:

Pendek? Sengaja sih, soalnya fiksi ini terlampau ringan, diturunin aja kali ya, ratenya. Toh emang roman gaje.

Terima kasih atas support kalian! Saya tunggu uneg-uneg(?) kalian di kotak review ;;;w;;;

Ciao!

.

.

.

04.06.2015 & 04.18.2015 | White poppies, yana