"KAGEYAMAAA! HENTIKAAAAAN!"
Jerit penuh rasa takut. Hinata berpegangan kuat pada tepi kursi penumpang sepeda miliknya. Buku jarinya memutih sempurna.
Jalanan mendatar, sesekali terantuk batu kerikil yang terserak ke jalanan berlapis aspal tebal. Helaian rambut mereka berkibas sesekali. Di kursi penumpang, Hinata bersenandung kecil seperti biasa.
Mulanya Hinata santai saja dengan kecepatan kayuhan Kageyama yang memang sedikit tidak manusiawi–mereka sungguhan sedang naik sepeda, 'kan? Bukannya naik motor?
Jalan mulai menanjak, tapi tidak terlalu curam. Hinata jadi penasaran, Kageyama tidak menurunkan kecepatan samasekali tetapi ia juga tidak terlihat kesulitandalam proses mendaki. Hinata ingin rasanya melihat Kageyama kepayahan. Kompleks pertokoan yang mereka tuju akan terlihat setelah tanjakan ini. Sekitar 400 meter lagi.
"Boke, siap-siap."
Apa maksudnya?
Turunan yang curam sekali. Kageyama tidak berniat untuk menurunkan kecepatan. Kayuhannya makin menjadi-jadi. Teriakan antusias seperti 'Gwaaaaah!', 'Uooooh!' dan lain-lain terdengar nyaring sekali. Pundak Kageyama terlihat sedikit bergetar karena ia tertawa terlalu keras–benarkah itu kau, Kageyama-kun? Bukan karakter berambut hitam pendek (dari serial cowok-cowok atlet road racer) yang sama songongnya denganmu itu, 'kan?
Kageyama sepenuhnya mengabaikan teriakan kolosal Hinata yang gemetar luar biasa dan hampir pingsan di balik punggung Kageyama. Ruh imajiner mulai terlihat menjauhi raga Hinata.
Rambut dan gakuran Hinata yang tidak dikancingkan berkibar dengan berani, seperti kibaran Hinomaru di ujung tiang bendera saat upacara. Hinata tak henti-hentinya merapal do'a keselamatan.
"TIKUNGAAAN! REMNYA, KAGEYAMAAAA! AKU BELUM INGIN MATIIIII!"
.
Warning: Sho-ai, KageHina, typo(s), possibly OOC, pendek, abal, etcetra.
I gain nothing except personal pleasure(?)
.
One Week Boyfriend, a Haikyuu!Fanfiction by yana
Bagian tiga
.
Peraturan ketiga, pada hari dimana permainan ini berakhir, harus dengan sejujur-jujurnya mengatakan apa yang dirasakan setelah melakukan permainan ini. Yang berbohong tidak gentleman.
.
Hinata jatuh terduduk. Kepalanya pening. Pandangannya kabur. Mual. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. Sungguhkah, panjang jalan menurun tadi hanya 400 meter? Rasanya seperti berkilo-kilometer jauhnya! Lebih mengerikan daripada saat naik roller coaster dengan putaran–yang konon katanya, mematikan–sebanyak delapan kali berturut-turut yang pernah dinaikinya bersama teman-teman saat wisata perpisahan Sekolah Dasar dulu.
Kageyama tampaknya sedikit merasa bersalah. Niatnya adalah untuk melepas penat sambil melakukan hal yang sedikit nekat–atau gila–bersama Hinata. Yang berada di luar pemikirannya adalah Hinata yang ketakutan dan hampir pingsan. Bukannya menikmati kegiatan ugal-ugalan yang baru saja mereka lalui.
"Kukira kau suka hal-hal ekstrem."
Hinata memberenggut kesal. Membanting keras tas selempangnya ke trotoar. Syukurlah, isi tasnya tidak tercecer keluar, "YANG BENAR SAJAAAA! Itu tadi seperti bunuh diri terang-terangan bagiku! Dan aku sudah berteriak ketakutan tapi kau samasekali tidak menghiraukannya, Ou-sama bodoh!"
Kicep. Ia memilih untuk meninggalkan Hinata sendirian sebentar, sedangkan dirinya berjalan cepat ke arah vending machine. Seingatnya, minum dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang, walaupun sedikit.
Oke. Ini semua sungguh di luar bayangan Hinata. Ia baru saja mempersembahkan nyawanya secara cuma-cuma pada Dewa Gunung. Sungguh percuma tadi dirinya gugup–dan syok–saat mengetahui hendak dibonceng Kageyama. NORMALNYA, dibonceng pacar kan rasanya dag-dig-dug dan gugup luar biasa. Kayak ada manis-manisnya gitu. (–sumber: beberapa shojo manga yang dibaca oleh Hinata dini hari tadi.)
Oke, jantungnya memang berdegup kencang sekali, Hinata juga merasa gugup selama dan setelah dibonceng Kageyama. TAPI INI BEDA CERITAAA!
Hinata bangkit memungut tasnya. Duduk di kursi kayu di samping jalan yang berlapiskan cat kuning menyala yang sudah mulai terkelupas di beberapa bagian. Kageyama sudah kembali, duduk disebelah Hinata. Sekaleng minuman isotonik berkali-kali disodorkannya kepada Hinata. Si umpan terkuat membuang muka ke arah lain. Memilih untuk bungkam sejenak, ngambek. Kageyama tidak ambil pusing, nanti juga balik sendiri. Minuman isotonik diletakkan di sebelah Hinata, menjadi penengah jarak yang terbentang diantara Kageyama dan Hinata.
"Sepertinya kau memang bodoh betulan. Kalau takut jatuh, kau 'kan bisa memelukku, berpegangan padaku." Kalimat itu lolos tanpa beban dari bibir Kageyama yang biasanya marah-marah melulu. "Sudahlah. Kau sudah bisa berjalan dengan benar, kan?" –ambigu sekali sepertinya.
Tanpa menunggu jawaban, Kageyama berdiri. "Ayo pergi. Kau mau kutinggal disini?"
Hinata menerjapkan mata berkali-kali. Kageyama jelas-jelas sudah beranjak dari kursi. Hinata masih tak bergeming meski Kageyama sudah berada beberapa meter di depan, hampir meninggalkan Hinata saat dia berbelok.
Sejak kapan punggung Kageyama terlihat selebar itu?
Apa? Malu setengah mati. Sumpah. Rasanya ia ingin terjun bebas ke ngarai tak berujung. Bagaimana bisa ia memikirkan hal memalukan seperti itu?
.
Hinata antusias melihat berbagai benda elektronik yang berderet rapi. Sejak memasuki mall, Hinata terus celingukan. Semakin parah ketika mereka masuk ke sebuah toko elektronika. Disertai senyum lebar yang terpatri di wajah bulatnya, mata Hinata memindai sekitar. Mulai dari ponsel, kulkas, kamera digital hingga komputer jinjing.
"Uwoooooh! Lihat ini, Kageyama! Ponsel ini bisa input teks hanya dengan suara! Ternyata ponselku benar-benar ketinggalan zaman!"
Hinata menggenggam antusias ponsel yang berada di tempat display. Bisa dipegang. Bisa dilihat dan dirasakan sendiri seperti apa fiturnya.
Kageyama tersenyum memohon maklum kepada ibu-ibu yang memelototi mereka–jelas terganggu oleh teriakan terlampau antusias. Pita suara Hinata menghasilkan bunyi nyaring yang melengking bebas dihantarkan oleh udara. Sepertinya Hinata sudah tidak ingat bahwa beberapa menit yang lalu dia mengalami 5L, lesu, lemah, letih, lemas, lunglai. "Smartphone bukan hanya sekedar embel-embel. Fiturnya sungguhan pintar."
Entah norak entah kudet, Hinata bahkan tidak pernah bisa mengoperasikan aplikasi lain di ponsel pintar milik Kageyama, selain kamera–untuk selfie bersama Tanaka-senpai dan Noya-senpai, kadang bersama Suga-san dan Yachi, seusai latihan. Tunggu, ada lagi. Hinata ahlinya men-deco foto hasil selfie-nya. Deco bling-bling, kadang dengan stiker dan kaomoji lucu serta aksesoris aneh. Hiasannya terlalu memenuhi foto, juga berkilauan sekali. Entahlah, Kageyama kadang merasa gagal paham dengan itu.
Hinata sudah berlari menuju deretan televisi LED berbagai ukuran–dua diantaranya sedang memutar cuplikan film animasi karya Dysnei yang sedang nge-hits dan jadi bahan pembicaraan teman-teman sekelas Hinata–jika Kageyama tidak meraih tudung pakaian Hinata. Diseretnya secara paksa. Hinata jelas meronta-ronta. "Kita kemari untuk beli charger, bukan untuk cuci mata!"
Cengkraman di tudung Hinata baru dilepaskan setelah dia berhenti meronta. Jari telunjuk dengan mantap mengarah ke Kageyama, "Kau! Lagipula, kenapa charger bisa rusak hanya karena terinjak?"
"Itulah bedanya ponsel masa kini dan masa lalu. Tidak tahan lama."
Kageyama melenggang cuek, tangan kanan dimasukkan di kantung celana. Hinata jelas masih toleh kanan-kiri. Bagian aksesoris ponsel yang mereka tuju tinggal beberapa meter lagi.
"Cepatlah, Kageyama. Aku mulai merasa lapar."
Selagi Kageyama membeli charger,ia membiarkan Hinata melihat-lihat sekitar. Sedangkan dirinya berhadapan dengan seorang pramuniaga yang sekilas terlihat tersipu malu. Kageyama memang ganteng, 'kan?
Kageyama merogoh saku. "Charger untuk ponsel ini, mungkin bentuk port-nya sedikit berbeda, tolong dilihat dulu." Ponsel layar sentuh 5.1 inch berwarna keperakan berpindah tangan sejenak.
Selagi sang pramuniaga mencarikan barang yang diminta Kageyama, dirinya tidak pernah lelah mengekor setiap gerakan hiperaktif Hinata yang lari kesana-kemari–ia takut Hinata lupa daratan dan tiba-tiba tersasar lalu jadi anak hilang. Plis, Kageyama bukan ayahnya.
Pramuniaga datang membawa kardusan kecil. Setelah charger tersebut dicoba, barulah Kageyama merogoh saku celananya, mengambil dompet. Lembaran kembalian dimasukkan asal ke saku kemeja.
Akhirnya charger sudah berada di tangan. Senyum antusias. Jujur saja, Kageyama galau luar biasa, ia tidak online samasekali sejak lebih dari dua-puluh empat jam yang lalu. Gatal sekali ingin memainkan game online berbasis strategi. Menang kah klan-nya di perang yang berakhir pukul 10 pagi tadi?
Hinata yang mengangguk-angguk tak beraturan sambil menghentakkan kaki mengikuti irama–sedang menjajal beningnya suara yang dihasilkan oleh sebuah headphone mahal–menoleh karena bahunya ditepuk. Mau tidak mau ia melepaskan headphone yang tadi menyumpal erat indera pendengarannya.
"Oi, kau lapar, kan? Di luar ada stan crepes, kau mau?"
.
Hinata bersiul-siul kecil sembari menunggu antrian di stan crepes. Kageyama berada di depannya. "Hinata, pesan rasa stroberi juga, ya? Nunggunya kelamaan, laper nih."
Hinata memasang pose berpikir, mendapat wangsit untuk menjahili Kageyama sedikit. "Hmm.. Boleh, deh. Tapi kau yang bayar ya."
Diluar dugaan reaksi Kageyama biasa saja. Hinata jadi merasa tak nyaman. Aneh sekali Kageyama ini.
Beberapa menit terlewati, antrean baru berkurang seperempatnya. Hinata mulai merasa bosan. Kakinya yang berbalut sepatu sneakers bergambar bintang dengan sengaja ia senggolkan ke kaki Kageyama. "Kageyama, kenapa kau mau mentraktirku?"
Si jangkung menoleh sekilas, "Memangnya kenapa? Aneh ya?" Anggukan mantap dari Hinata.
"Biasanya kau kan pelit, Ou-sama." Si kecil ini sebenarnya hanya ingin cari gara-gara.
Peluh imajiner meluncur dari pelipis Kageyama. Pipinya sedikit bersemu, "S-Sekarang, 'kan beda. Kita pacaran."
Mata lebar Hinata membola sempurna. Seluruh permukaan wajahnya merah meradang, "A-APA-APAAN SIH KAU!" Kaki Kageyama diinjak keras-keras.
"S-SAKIT, BOKE!" Hinata membuang muka. Kageyama tidak terima, ia balas menginjak kaki kanan Hinata sekeras yang ia bisa.
"BIASA AJA WOY!" Kaki kecil Hinata balik menginjak kaki Kageyama, kali ini sengaja dihujam dengan tumit.
Jadilah insiden saling injak-meninjak kaki. Mereka sepenuhnya lupa pada rasa lapar, lupa bahwa mereka sedang mengantre. Dan mereka tidak sadar sedang menjadi tontonan orang-orang yang sedang mengantre, juga orang-orang yang sedang melintasi area itu.
Seandainya mereka sedang ada di atas mesin arcade Dance Dance Revolution, sepertinya mereka berhasil mendapat full combo di style double dengan level expert.
Dunia serasa milik berdua, ya..
.
.
(Balasan review untuk yang ga login)
leo (Iya saya nunggu uneg-unegnya ._. Ini sudah diupdate. Maaf lama banget hahahahah *sok ga berdosa* Untuk harapan semoga fiksi ini lebih panjang, maaf daku nggak bisa. Sengaja dibikin gini. Terima kasih sudah mereview~) | Kira (Kayaknya Kageyama juga tuh ;D Kayaknya lho ya, kayaknyaaaaa *woy* Kageyama belum datang sayangnya D: Terima kasih sudah membaca dan mereview fiksi gak jelas ini~)
Terima kasih juga kepada : Nacchan Sakura, undeuxtroisWaltz, Park Hyesung - Akuro Yukou, Tsukkika Fleur dan semua yang sudah membaca fiksi ini~
.
(Catatan Hati Author, silahkan di-skip)
Ciao!
Kenalan lagi, dong. Daku memutuskan kembali ke panggilan lama. Halo, saya yana, salam kenal~
Seharusnya fiksi ini diupdate hari sabtu kemarin. Ternyata kuota abis. Lha pas udah isi kuota lagi, ffn ga bisa diakses via laptop. Mending muncul internet positif, kagak ding. Langsung reset koneksi. Telk*ms*l hahahah
Sudah lebih dari 2 bulan nggak bersua. Sebetulnya sudah berkali-kali daku mau apdet, tapi akhirnya daku putuskan bakal diapdet begitu tes masuk PTN pada kelar semua. Do'akan daku lolos. Semoga readers sekalian yang juga sedang survive tes masuk SMA/PTN diterima di SMA/PTN yang diinginkan ;w;
*cough* Soal jadwal apdet, karena ketidak sengajaan hari pas publish ini fiksi dan hari pas update ch 2 kemarin itu sama-sama hari sabtu, maka diputuskan fiksi ini bakal apdet di hari sabtu. Entah 2 minggu lagi, 3 minggu lagi, atau.. /yha Ditunggu aja di malam minggu, daripada galau *WOY*
Terima kasih atas dukungan kalian. Daku terharu ternyata masih ada yang baca ;A; Daku.. lupa ngetik balasan review di chapter kemarin, astaga. Parah banget. Review ch 1 dan 2 akan dibalas via PM. Selanjutnya dibalas di sini :3
Disclaimer: Haikyuu! by Haruichi Furudate, Dance Dance Revolution by BEMANI
Au revoiiiiiir~ Feedback please C; *kedip-kedip*
.
.
.
06.27.2015 | White poppies, yana
