Kumpulan Drabble mengenai kejamnya dunia perkuliahan
Kurobas belong to Fujimaki Tadotoshi-sensei
WARN : HUMOR GAGAL, OOC, TYPO, GAJE, GARING, IMPLISIT SHO-AI
Chemistrystudent!Kuro Chemistrystudent!GoM
Dont Like Dont Read
.
.
.
I've Already Warn You. So enjoy!
Galau
Bagai sidang isbath, seluruh penghuni yang duduk di kursi meja makan itu memasang tampang serius.
"Jadi, Tetsuya mau ngomong apa?" Tanya sang kepala keluarga Kuroko. Sedangkan sang istri yang duduk disebelahnya, hanya memandang lekat anak semata wayang kesayangannya.
"Jadi gini pah, mah" pemuda itu menelan ludahnya, gugup. "Tetsuya ngerasa… kayaknya Tetsuya salah ambil jurusan deh" Ia menyempatkan diri untuk melihat raut bingung kedua orang tuanya.
Ok, langsung ke inti permasalahannya.
"Gimana kalau tahun depan Tetsuya ngulang sbmptn aja? Bukannya Tetsuya ga suka sama kimia. Tapi papah sama mamah kan tahu dari dulu Tetsuya suka banget sama jurusan sastra. Jadi—"
"Kamu yakin nak mau ngulang tahun depan?" Sang ayah memotong pembicaraan anaknya. Kuroko memberanikan diri untuk melihat sepasang manik hitam sang ayah. "Kamu yakin mau keluar dari Teiko? Banyak loh orang di luar sana yang pengen banget masuk ke universitas itu. secara, akreditasi Teiko sudah bagus. Belum lagi deket sama rumah kita. Ayah ga setuju kalau kamu kuliah diluar kota sampai ngekost segala. Dunia luar itu kejam nak"
Hening sejenak. Kuroko menyetujui pendapat ayahnya namun,
"Tapi pah Tetsuya gabakal milih universitas yang jauh—"
"Bener kata papahmu Tetchan. Mamah rasa, sayang banget kalau kamu harus ngulang satu tahun. Bukannya mamah pelit atau gimana, tapi biaya masuk perguruan tinggi juga mahal sayang. Tetchan kan udah dewasa, pasti ngertikan susahnya cari uang?"
Sang ibu mengelus lembut pucuk kepala putranya. Kuroko makin menunduk mendengar nasehat kedua orang tuanya.
Memang ini semua salahnya. Dan ia sudah dewasa, tidak boleh membebani orang tuanya lebih jauh.
"Tetchan pikirin dulu yaa lebih mateng. Nanti kalau Tetchan udah punya keputusannya, ngomong ke papah dan mamah" wanita dewasa itu melemparkan senyuman kasih sayang yang lembut. Membuat mood Kuroko menjadi lebih baik.
"Iyaa pah, mah" ucapnya semangat.
.
.
Siklus menu
Siklus bulanan Aomine—yang jelas bukan siklus datang bulan. Adalah :
Tanggal satu sampai tanggal lima makan nasi dengan lauk daging. Tanggal enam sampai tanggal sepuluh makan nasi dengan lauk telur. Tanggal sebelas hingga limabelasan dirinya turun kasta menjadi herbivora. Lalu tanggal enam belas hingga dua puluhan, sedikit nasi—itupun kalau beras masih tersisa dengan kecap, saus, ataupun kerupuk. Sisanya ia bertahan hidup dengan menjadi parasit bagi orang lain—minta gratisan. Dan kadang menyetok persediaan obat maag.
Namun, tidak selalu seperti itu. sebagai anak kostan yang kreatif, Aomine selalu mencari kesempatan. Contohnya dengan menjadi tamu undangan illegal di pernikahan—yang entah siapa ia tak kenal di sekitaran area kostannya.
Hanya dengan bermodalkan sebuah amplop putih kosong serta jas hitam warisan kakaknya, ia sudah mendapatkan asupan mewah plus souvenir bertuliskan nama pengantin.
Dan trik ini mungkin akan ia ajarkan kepada Kise serta Kagami yang satu nasib dengannya—anak kostan.
.
.
Kantin
Awal bulan. Hari kemerdekaan anak kost.
Selain mendapatkan uang bulanannya dari sang ayah, gaji Kise sebagai model juga turun. Intinya, dompetnya sedang tebal hari ini. Tapi jangan sampai Aomine tahu! Bisa kandas semua uang bulanannya.
Oleh karena itu, dirinya memilih untuk makan di kantin fakultas sebelah agar tak bertemu dengan pemuda tan tersebut.
Terpesona akan menu yang di sediakan, produksi air liur kise meningkat. Maklum lah, akhir-akhir ini dirinya hanya makan mie instan setengah bungkus untuk satu hari.
"Wah ada spaghetti ssu. Ada burger juga! Jadi bingung mau makan yang mana" ucapnya kepada diri sendiri
Setelah memikirkan masak-masak (?) Kise melangkahkan kakinya dengan gagah menuju meja pemesanan.
"Nasi Karenya satu ssu! Minumnya jus melon" ucapnya lantang kepada wanita kasir penjaga.
"Totalnya tiga puluh lima ribu"
"Oh tiga—HAH TIGA PULUH LIMA RIBU?!" Teriaknya heboh.
Sang kasir menutup kedua telinganya. Tak mau tuli mendadak akibat polusi suara dadakan itu. "i..iya tiga puluh ribu" gagunya
"Kok mahal banget ssu? Biasanya hanya dua puluh ribuan!"
"Biasanya? Memang dari awal harganya segitu kok"
"Ah, sudahlah. Aku tak jadi pesan ssu" Sambil merutuki harga makanan yang tidak kemahasiswaan, Kise melenggang keluar. Sebanyak-banyaknya uang di awal bulan, tetap saja harus di jaga agar tidak habis sebelum akhir bulan.
"Tahu begitu aku tidak ikut saran Akashicchi untuk mencoba makan di kantin fakultas kedokteran ssu" dumelnya lagi.
.
.
Praktikum 2
Kuroko menatap tumpukkan manusia yang sedang berniat menyebrang ke alam sana. Di mulai dari si merah yang posisinya paling waras, hingga si biru yang tertimpa raksasa ungu.
"Ku.. Kuro..kocchi" Panggil kise dengan susah payah. Yang menjadi satu-satunya makhluk pelangi yang masih sadar selain Kuroko.
Beruntung bagi si kuning, uke sejuta umat yang masih menjunjung tinggi hak asasi manusia itu pun menghampirinya.
"Ada apa kise-kun?" Tanyanya setelah berjongkok
"A.. AKu.. ci..nta.. Kurokocchi" ucapnya dan langsung berakhir tak sadarkan diri.
Kuroko menghembuskan karbon dioksida lelah. "lebay"
Sejak jauh hari, para dosen serta laboran sudah sering menghimbau. "Jangan bermain-main saat praktikum sedang berlangsung"
Namun apa daya, tingkah para makhluk pelangi yang melebihi kelincahan minion kuning unyu-unyu itu terlalu sembrono sehingga mengakibatkan seisi lab ngefly hingga kelangit kedelapan(?)
~flashback~
Semua bermula ketika kelompok pelangi minus Kuroko, memulai praktikum yang menggunakan larutan ammonia.
Padahal, Hyuga-senpai—yang saat itu menjadi asisten dosen sudah mengingatkan. "Taruh Ammonia ini di lemari asap" entah karena telinga para pelangi itu di penuhi rada-rada atau karena mereka sedang sibuk takjub terhadap eksperimen pasta gigi gajah, tak ada satupun orang yang angkat kaki menaruh botol tersebut.
Hingga pada akhirnya…
"Itu botol apa yaa, Minechin?" si raksasa ungu angkat bicara. Tangan kanannya menunjuk salah satu botol.
Si biru tua menoleh. Mengikuti arah yang di tunjuk raksasa ungu. "Oh, itu? Mana ku tahu" ucapnya santai.
"Nee, nee, Aominecchi. Coba buka!"
"Berisik kise!" Aomine menutup telinganya karena suara cempreng Kise.
Si merah hanya diam sibuk mencatat hasil pengamatan praktikumnya. Andai aku satu kelompok bersama Tetsuya. Batinnya ngenes.
PRANGGG!
Semua mata tertuju pada botol yang pecah. Menatap horror pemandangan yang tersaji.
"Daiki, Ryota. Cepat bersihkan sebelum ada yang melihat" Titah si pemuda cabe.
Si kuning dan biru tua mengangguk kaku lalu bergerak cepat dengan mengambil sapu serta perkakas kebersihan lainnya. Si hijau lumut yang dari tadi diam, mengambil insiatif untuk mengepel larutan yang tumpah dengan kain pel yang tersedia—walaupun pada kenyataannya, hal tersebut paling dilarang. Kalau ada sesuatu yang pecah, dan larutannya tumpah meleber kemana-mana, hal pertama yang harus di lakukan adalah lari keluar lab dari pada keracunan gas yang aneh-aneh—ingat, banyak bahan kimia yang berbahaya!
Namun apa daya, otak para pelangi sedikit gesrek sehingga melupakan hal tersebut. Dan yang terjadi adalah…
"Mine-chin ngompol yaa? Kok bau pesing?" si terong melontarkan keluhannya.
"Enak saja asal bicara. Kise kali yang ngompol"
"Hidoi ssu Aominecchi" rengek sang korban fitnah.
"Ini bukan bau pesing nanodayo…" hening sejenak, ia merasakan kepalanya sedikit pening.
"Ammonia" sang pimpinan angkat bicara "Tutup hidung kalian! Cepat keluar!" titahnya mutlak yang langsung di patuhi oleh budak pelanginya. Namun naas, setelah lolos dari tempat perkara, gejala mulai muncul.
Dan kelimanya berakhir menjadi tumpukkan jasad setengah bernyawa di lorong laboratorium hingga sang uke sejuta umat yang notabenenya tidak sengaja lewat, menghampiri mereka.
.
.
Parkir
Kuroko Tetsuya—sosok berwujud bak malaikat yang hawa keberadaannya sebelas duabelas dengan hantu sedang dilanda galau gulana. Ia merasa serba salah, datang pagi kejebak macet di jalanan. Datang siang, tidak dapat tempat parkir. Apa ia harus minjam jet pribadinya si cabe merah untuk berangkat ke kampus?
Sambil menghembuskan napas berat, Kuroko memundurkan motor matic nya. Parkir didepan gedung fakultasnya sudah penuh. Mau tidak mau, ia harus mencari parkir di tempat lain. Tapi dimana?
Kata orang Universitas Teiko adalah universitas terbaik di kota ini. Tapi mana buktinya? Mau parkir motor saja susah. Gimana kalau nanti ia sudah boleh bawa mobil?
Tak mau membuang waktu, Kuroko lantas memacu kendaraan roda dua itu ke sudut gedung dekat kantin belakang. Di sudut gedung tersebut, ada lahan tanah kecil yang terkadang berubah fungsi menjadi lahan parkir dadakan.
Sedikit sulit memang untuk parkir di tempat itu. ia harus melewati pembatas bata setinggi kira-kira tujuh senti. Beruntung, ada sepotong triplek yang berfungsi sebagai 'jembatan' pembantu. Kuroko yang tak mau berpikir dua kali langsung memacu motornya melewati triplek tersebut. Setelah mematikan kendaraan dan menguncinya dengan kunci ganda, Kuroko melenggang pergi menuju gedung fakultasnya. Namun ada satu hal yang lolos dari pemikirannya.
Tempat 'parkir'nya saat itu, merupakan titik buta cctv—yang lantas menjadi sasaran empuk para pencuri helm.
Mau tidak mau, Kuroko harus mengikhlaskan helm biru muda bermereknya saat ini.
TBC or END? xD
Yoo, entah kenapa Ha-Chan lagi pengen curhat aja di drabble kali ini *bow* makanya apdetnya cepet.
kok garing? Ya iyalah wong itu rata-rata true story walau ada yang ga selebai itu sih xD kan udah dibilangin juga humor gagal wkwkwkwk.
kenapa harus kimia? Karena Ha-Chan mahasiswa kimia xD dan banyak cerita lucu saat praktikum berlangsung (baik pengalaman pribadi ataupun pengalaman kakak tingkat)
Yang punya pengalaman, sok atuh di share :"v buat pembelajaran adik-adik yang masih unyu-unyu di bangku sekolah.
Terima kasih atas ide Raja Alay II, mungkin bakalan Ha-Chan masukkin ceritanya di chapter depan ;)
So minna, Mind to RnR?
Arigatou Gozaimasu~
