Hatsukoi (Cinta Pertama)

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : OOC(?), SEMICANON, TYPO(S), GAJE, SPOILER GAARA HIDEN, etc.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read, Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2

Pagi ini adalah pagi terindah dalam hidup Matsuri. Ketika kedua netra hitamnya terbuka, hal yang pertama ia lihat adalah sosok yang ia kagumi tengah berada di dekatnya. Menjaganya semalaman. Merawatnya dengan penuh kesabaran, bahkan hingga tertidur di kursi. Seorang Kazekage melakukan itu merupakan hal yang luar biasa langka. Matsuri mengenal sensei-nya itu bukan satu atau dua hari, tapi cukup lama untuk hanya sekedar memahami sifatnya. Memang semenjak menjadi Kazekage, Gaara bukan lagi sosok yang kejam tak berperasaan. Kini ia telah berubah menjadi sosok yang lebih hangat dan bertanggung jawab, meski Matsuri akui sikap kaku dalam bersikap dan bertutur kata masih sulit dihilangkan darinya. Tetapi perhatian dari Gaara semalam membuat Matsuri berpikir keras. Mengapa bisa?

Gadis berhelaian coklat itu melangkahkan kakinya menuju jendela kamarnya, membukanya dan membiarkan angin sejuk dan sinar matahari yang mulai menyengat meski masih pagi masuk ke dalam kamar. Ia memejamkan mata sambil menghirup udara segar tanah Suna, membuka kedua iris gelapnya dan ia tersenyum kembali mengingat perhatian Sang Kazekage. Ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan perhatian seperti itu meski hal itu lumrah dilakukan seorang pemimpin. Ia tahu jika Gaara hanya mengkhawatirkan bawahannya, tapi itu lebih dari cukup membuatnya senang. Ya, ia senang mantan sensei-nya itu tidak lagi dinilai sebagai orang yang kejam dan tidak peduli pada sekitarnya.

Matsuri memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju ruang makan, ia berjengit mendapati sekeranjang beraneka macam buah sudah berada di atas meja makannya. Ia menarik secarik kertas yang terselip di antara buah-buahan itu.

Makanlah dan segera minum obatmu. Semoga kau cepat sembuh dan kembali bertugas.

Gaara.

"Terima kasih, Gaara-sensei." Gumam Matsuri mengulum senyum. Lalu ia duduk dan mengupas buah apel dan memakannya.

Selama satu hari ini Matsuri sengaja memanfaatkan izinnya untuk memulihkan tenaga agar esok saat kembali bertugas tubuhnya sudah kembali fit. Makan dan isirahat yang cukup, serta mengkonsumsi vitamin membuat badannya terasa lebih segar. Kini ia tengah menyiapkan seragam jounin-nya.

DUAR! DUAR!

Mendengar suara ledakan itu sontak membuat Matsuri menghentikan kegiatannya, melihat ke arah jendela. Ia melihat asap hitam mengepul di daerah penginapan untuk tamu penting. Tanpa pikir panajng lagi, Matsuri langsung mengganti pakaiannya dengan seragam jounin-nya, tak lupa seperangkat senjata yang dimasukkan ke dalam pocket.

Sesampainya dilokasi, Matsuri mendapati suasana cukup ricuh di sana. Banyak warga sipil yang berteriak ketakutan, berlarian ke sana kemari mencari tempat yang lebih aman untuk berlindung. Beberapa pasukan Anbu dan Jounin mengitari area yang menjadi sasaran ledakan.

"Baki-sama!" panggil Matsuri sambil berlari mendekat pada mantan sensei pembimbing Gaara, "Ada apa ini? siapa yang melakukan penyerangan ini?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan ini!" kata Baki gusar, "Matsuri, aku menugaskanmu dalam misi rahasia. Misi ini tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk para tetua. Misi penyelamatan tamu penting yang telah diculik." Mata Matsuri melebar, "aku akan menunjuk seorang Anbu ikut bersamamu."

Matsuri mengangguk cepat. Ia tak punya alasan untuk menolak misi apapun. Hal ini sudah menjadi tugasnya selain sebagai pengawal Gaara. Terlebih ini berkaitan dengan tamu penting Suna.

"Misimu adalah menyelamatkan calon istri dari Gaara yang diculik. Mereka sedang menuju ke perbatasan Negara Api." Titah Baki.

DEG!

Matsuri merasa seperti ada ratusan kunai yang bersarang di tenggorokannya. Ia terkejut mendengar bahwa tamu penting yang dimaksud Baki adalah calon istri sensei-nya. Ia tidak menyangka bahwa Gaara akan segera menikah dalam waktu dekat ini, karena sebelumnya ia tak pernah mendengar desas-desus mengenai pernikahan.

"Matsuri!" tegur Baki kesal, "tidak ada waktu untuk berpikir! Cepat pergi sebelum mereka benar-benar meninggalkan perbatasan!"

Matsuri mengangguk kaku. "Hai' , Baki-sama."

Setelahnya Matsuri langsung melesat melompati atap-atap rumah menuju pintu gerbang Suna bersama dengan satu orang Anbu yang telah ditunjuk Baki mendampinginya, menuju perbatasan Negara Api.

Matsuri sama sekali tak mengurangi kecepatan berlarinya demi mencapai tempat tujuan. Meski dalam pikirannya tengah berkecamuk. Entah apa yang membuat hatinya terasa sakit sampai membuatnya sedikit sulit untuk bernapas, setelah mendengar bahwa Gaara akan menikah. Seharusnya ia ikut bahagia mendengar berita bahagia itu. Berita yang bahkan belum diumumkan secara resmi oleh tetua, dan dia salah satu orang yang beruntung mendengarnya lebih dulu.

"Matsuri-san, Anda menangis?"

Matsuri menatap kaget Anbu yang berada di depannya tengah menatapnya cemas, ia menggerakan tangannya mengusap pipinya. Ia tersentak menyadari adanya air mata sudah mengalir deras di pipinya. Matsuri menggeleng, "Ah..ano...maaf, mataku hanya kemasukan pasir."

Anbu itu terlihat bernapas lega, lalu meminta Matsuri untuk berhenti sejenak. Mereka sudah berjalan cukup jauh dan Anbu itu mengatakan bahwa ia penculik calon istri Gaara mengarah menuju daerah klan Houki. Dan daerah itu sudah tidak jauh lagi dari sini. Anbu itu sengaja mengajak Matsuri beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga yang terkuras selama perjalanan agar bisa mengembalikan chakra mereka. Anbu itu punya firasat bahwa Sang penculik akan singgah di suatu tempat yang aman untuk bersembunyi sementara waktu.

.

.

.

.

- oOo -

"Baki! Jelaskan apa yang terjadi?"

Pertanyaan pertama Gaara saat tercengang melihat pemandangan mengerikan di depannya. Banyak bangunan yang terlihat hangus, untungnya beberapa Jounin dan Anbu sudah mengambil tindakan meminimalisir kobaran api itu. beberapa diantaranya mengevakuasi warga sipil yang tempat tinggal mereka terkena dampak kobaran api.

Wajah Baki menyendu. "Dengan berat hati aku sampaikan padamu, Gaara. Calon istrimu diculik."

"Apa?"

Wajah Kankuro mengeras mendengarnya. Ia tidak menyangka penculik itu bisa dengan mudahnya menyusup ke penginapan untuk tamu penting Suna dengan mudah. Padahal Kankuro selalu mengawasi penjaga yang ia tunjuk untuk mengamankan para tamu. Ia merasa gagal kali ini. Bahkan tunangan adiknya menjadi korban.

"Apa saja yang dikerjakan Anbu khusus yang aku tunjuk menjaga penginapan?" tanya Kankuro kesal.

"Mereka semua dikalahkan, Kankuro. Kemampuan penculik itu tidak bisa diremehkan. Aku yakin dari banyaknya jumlah Anbu penjaga yang dikalahkan, mereka tidak hanya satu atau dua orang. Dan dari informasi yang aku dapat dari Anbu yang sempat berkelahi dengan penculik itu, mereka sangat ahli menggunakan tag peledak."

Jade Gaara membulat mendengar penjelasan panjang lebar mengenai penculik Hakuto – tunangannya. Ia dipaksa mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu saat ia menghadapi salah satu anggota Akatsuki yang juga ahli dalam membuat bom. Benar kata Baki, bahwa kemampuan mereka tidak bisa disepelekan.

"Tapi aku sudah menunjuk Matsuri dan satu orang Anbu bawahanku untuk mengejarnya." Tambah Baki.

"Matsuri? Bukankah dia sedang sakit? Bagaimana bisa kau menunjuknya dalam misi seperti ini?" cerca Gaara dengan suara lebih tinggi satu oktaf. Temari dan Kankuro menatap heran pada adik bungsu mereka ini.

"Aku tidak bisa berpikir lagi siapa yang bisa aku kirim ke sana, Gaara. Banyak Anbu dan Jounin yang terluka akibat ulah mereka, sebagian lainnya sedang mengatasi kekacauan di sini. Lagipula Matsuri sendiri yang mengatakan padaku bahwa ia sudah sembuh total dan ia tidak keberatan kutunjuk dalam misi rahasia ini." jelas Baki.

Gaara mendesah. "Kalau begitu aku akan segera menyusul ke sana."

Gaara berbalik, tapi Kankuro menahan bahunya, "Hei...Matsuri bukan lagi gadis awam yang baru memegang senjata, Gaara. Dia tidak akan diangkat sebagai seorang Jounin kalau memang dia tidak punya kemampuan yang bagus. Kau jangan bertindak gegabah."

"Ini bukan soal Matsuri saja. Ini melibatkan calon istriku. Apa yang akan dikatakan tetua mengenai kejadian ini jika aku tidak bertindak apapun?" kata Gaara berusaha setenang mungkin, membuat Temari, Kankuro dan Baki sendiri terdiam. Gaara tahu dalam diam itu mereka mempertimbangkan usulannya. "Dan dari cerita Baki, aku bisa menyimpulkan keberadaan Matsuri dan satu orang Anbu yang kau tunjuk tidak akan cukup kuat untuk melawan mereka. Bukankah kita tidak pernah tahu berapa banyak bala bantuan musuh di luar sana?"

Lagi-lagi mereka hanya diam tak berusaha membantah. Gaara lebih dari satu kali terlibat dalam sebuah misi, terlebih misi penyelamatan dan pengintaian. Tentu dia tidak akan sembarangan bertindak hanya atas dasar emosi sesaatnya saja.

"Bawalah beberapa Jounin bersamamu, Gaara." Pinta Temari.

Gaara menatap kakak tertuanya itu lalu menggeleng, "Kita sudah mengirimkan dua orang kita keluar, jika kita menambah personil lagi. Ini akan tercatat sebagai misi, dan hal ini akan menjadi masalah besar jika sampai diketahui publik." Tolak Gaara halus.

Baki memahami jika Gaara bukan hanya memikirkan mengenai keadaan calon istrinya, tetapi juga memikirkan posisi Suna di mata publik jika masalah ini sampai menyebar kemana-mana. Ia sebisa mungkin tidak ingin melibatkan tetua sebelum bantuan dari mereka memang benar-benar dibutuhkan.

"Aku mengerti." Kata Baki, "Serahkan segala hal disini kepada kami. Kami akan bertindak layaknya tidak ada apapun yang terjadi. Tapi hanya sampai pagi tiba."

Gaara mengangguk. "Aku akan membawa Hakuto saat matahari terbit."

.

.

.

.

- oOo -

Saat ini, Matsuri dan Anbu partner dalam misinya tengah berjalan di tengah padang pasir yang dingin. Suhu di Suna saat malam hari memang lebih dingin dari yang kita kira. Mereka kembali berjalan setelah menghabiskan setengah jam untuk beristirahat. Sang Anbu itu mengisyaratkan pada Matsuri untuk lebih mendekat dan memperlihatkan yang ditunjukknya.

"Salah seorang dari mereka pasti juga penguasa elemen angin. Mereka lihai menghilangkan jejak mereka."

"Hm, sepertinya begitu. Kurasa ini akan menjadi misi yang sulit." Gumam Matsuri mengusap dagunya.

Anbu itu tertawa pelan membuat Matsuri terkejut. "Anda jangan terlalu takut, Matsuri-san. Untuk itulah aku berada di sini. Melindungi Anda."

Pipi Matsuri merona mendengarnya. Seharusnya ia merasa biasa saja, tapi suara empuk yang dikeluarkan pria Anbu di depannya ini menimbulkan desir lain. "Te-terima kasih...uh..."

"Rei." Selanya, "Panggil saja Rei."

Alis Matsuri terangkat tinggi. "Eh? Bukannya Anbu dilarang menyebutkan identitas mereka?"

Pemuda bernama Rei itu tertawa pelan di balik topengnya, "Ya. Tapi aku tak keberatan memberitahukannya padamu. Kita sesama warga Suna kan? Jadi aku percaya kau tidak punya niat jahat padaku."

"Terserah saja. Yang jelas kita harus bergerak cepat sebelum mereka benar-benar keluar dari Suna." Ujar Matsuri berjalan lebih cepat mendahului Rei untuk menyembunyikan rona di wajahnya.

"Hai'"

Selama satu jam akhirnya mereka berdua sampai di daerah klan Houki. Daerah ini memang mengarah ke perbatasan. Rei mengeluarkan secarik kertas yang berukuran sedang yang sebelumnya telah dilipat-lipat hingga berukuran kecil. Matsuri ikut melirik isi kertas yang tengah dibaca serius oleh Rei.

"Matsuri-san." Panggil Rei tanpa menoleh membuat kaget Matsuri. Ia merasa seolah baru saja ketahuan melakukan hal yang salah. "sepertinya memang benar katamu kalau ini akan menjadi misi yang sulit." Tukasnya diakhiri tawa pelan.

Dahi Matsuri mengerut. Jujur saja, suara tawanya memang enak didengar tapi dalam situasi seperti ini tawanya bisa menjadi hal yang menyebalkan untuk didengar. "Apanya yang lucu?"

Rei menatap lurus Matsuri. "Baki-sama bilang kalau para penculik itu mengarah ke perbatasan itu artinya akan melewati daerah klan Houki. Ini adalah peta daerah klan Houki. Aku sengaja membawanya kemari karena kudengar tunangan Gaara-sama berasal dari sini." Matsuri mulai tertarik dengan obrolan ini, "yang menjadi masalah, bagaimana jika mereka bersembunyi diantara rumah penduduk? Itu pasti akan menyulitkan kita meringkus mereka. Akan lebih mudah jika mereka menuju daerah yang sepi."

Matsuri menggeleng. "Aku rasa itu tindakan bodoh jika mereka memang melakukan itu." Rei terlihat terkejut mendengar pendapat Matsuri, "Penduduk setempat pasti tidak akan tinggal diam melihat putri dari kalangan mereka terancam hidupnya. Sudah pasti penculik itu akan menghindari kontak dengan warga klan Houki."

"Wuah...analisa Anda lebih hebat dariku, Matsuri-san. Aku salut." Rei mengacungkan jempolnya.

Kalau yang memberikan pujian Gaara, Matsuri sudah pasti merasa bangga luar biasa. Tapi ia tidak merasa bangga sama sekali saat mendapat pujian dari Anbu aneh satu ini. Ia hanya tersenyum miring menanggapi pujiannya.

"Yosh, kalau begitu kita ke daerah reruntuhan kota kuno ini saja. Aku punya firasat mereka menuju ke sana. Mereka pasti memanfaatkan rumor bahwa tempat itu adalah tempat terkutuk yang tidak akan dimasuki orang, untuk bersembunyi di sana." Jelas Rei penuh semangat sambil menunjuk satu titik merah di peta.

Perkiraan seorang Anbu dengan ninja biasa memang berbeda. Meski Matsuri adalah jounin dan telah dilatih khusus oleh Kankuro tetap saja kemampuannya masih di bawah anggota Anbu yang tengah berada disampingnya ini. Kepekaan terhadap keadaan sekitar, ketelitian mencari jejak buronan, pemikiran mengenai taktik penyerangan memang sudah menjadi bagian dari latihan mereka. Tak butuh waktu lama untuk keduanya akhirnya bertemu dengan sekelompok orang mencurigakan sedang duduk mengitari api unggun, bisa jadi mereka adalah nukenin atau semacamnya.

Matsuri dan Rei sebisa mungkin mendekat ke arah mereka tanpa ketahuan. Bersembunyi sambil mengamati mereka lebih dulu sebelum memutuskan untuk menyerang.

"Apa mereka ada hubungannya dengan penculikan tunangan Gaara-sama?" tanya Matsuri dengan suara sedikit tercekat saat harus menyebutkan kata 'tunangan'. Yah, tapi memang itulah kenyataannya. Gaara akan segera menikah, dan ia ditugaskan untuk menyelamatkan tunangan Gaara.

Rei tak menyahut, matanya masih terfokus pada sekumpulan itu. Kelihatannya ia masih memastikan apa benar sekumpulan orang itu memang ada hubungannya dengan penculikan Hakuto atau tidak.

"Kapan kita akan berlayar, Tuan?"

"Kita harus menunggu perintah dari Tuan Shigezane." Pria yang mengenakan jubah berwarna merah maroon itu tertawa singkat sebelum akhirnya kembali berkata, "mungkin beliau sedang bersenang-senang dengan nona Hakuto."

Dari kejauhan tubuh Rei menengang mendengar penjelasan dari salah seorang di perkumpulan itu. Rei tahu jika wanita bernama Hakuto adalah target yang dicarinya, tunangan dari Kazekage-nya.

Rei mendecak. "Matsuri-san, tidak salah lagi, mereka memang ada hubungannya dengan penculikan nona Hakuto."

Alis Matsuri mengernyit, "Nona Hakuto? Siapa itu?"

"Eh? Kau tidak tahu jika tunangan Gaara-sama bernama Hakuto?" Matsuri menggeleng, "beliau berasal dari klan Houki."

Jangankan nama, berita mengenai pertunangan sensei-nya saja baru ia ketahui dari Baki.

"Begitu," sahut Matsuri dengan suara sendu, "Ah...sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan nona Hakuto."

Rei mengangguk. "Ya, kau benar." Rei menatap sekumpulan penjahat itu sekilas lalu kembali menatap Matsuri, "aku yakin Tuan mereka yang bernama Shigezane membawa nona Hakuo ke dalam Goa di belakang mereka. Tidak ada jalan lain selain menyerang mereka secara langsung untuk bisa masuk ke dalam."

Rei mengeluarkan beberapa shuriken dari dalam pocket-nya. "Biarkan aku menyerang lebih dulu. Kau analisa kemampuan mereka. Jangan keluar sebelum kau melihatku dalam keadaan terdesak, kau mengerti Matsuri-san?"

Matsuri mengangguk. "Hai', Wakkata."

.

.

.

.

- oOo -

Kehilangan mengajarkan seseorang rasa sakit. Dan rasa sakit mengajarkan kita untuk menghargai yang kita miliki dengan menjaganya dengan seluruh jiwa raga kita.

Gaara telah merasakan rasa sakit sejak ia masih sangat belia. Bukan luka menganga di sekujur tubuhnya. Tidak. Tapi hatinya telah banyak terluka karena ia hidup sebagai jinchuriki, percobaan ayahnya sendiri. Ia tidak dianggap sebagai layaknya manusia bahkan oleh ayahnya sendiri. Ia adalah senjata bagi desanya. Ia telah kehilangan kasih sayang yang seharusnya dibutuhkan oleh anak seusianya.

Kehilangan demi kehilangan telah ia alami dalam hidupnya. Ibu, ayah, dan Yashamaru – pamannya. Untuk itulah kali ini ia bertekad untuk tidak kehilangan lagi. Sudah cukup ia merasa kehilangan sesuatu yang penting baginya. Terlebih Hakuto adalah calon istrinya. Meski hingga saat ini Gaara masih belum mengerti bagaimana perasaannya pada gadis itu, tetapi Hakuto adalah warga Suna. Itu artinya dia juga tanggung jawabnya.

Gaara terus melaju kencang, terbang dengan pasirnya. Sebagai seorang shinobi ia tahu soal menghemat penggunaan chakra dengan berjalan kaki, tapi sudah tidak ada waktu untuk hal itu. Ia berpikir menaiki pasirnya lebih efisien.

Gaara menghentikan pasirnya tepat di dekat sebuah bukit pasir daerah klan Houki. Daerah yang diduga sebagai tujuan penculik Hakuto, sepertinya ada ninja yang sedang terlibat pertarungan hebat. Benar saja, saat Gaara lebih mendekat, ia melihat ninja dengan seragam Anbu khas Suna dan satu orang lagi sosok yang tak asing bagi Gaara. Juga orang yang sepanjang perjalanan tadi ia khawatirkan. Matsuri.

Salah seorang dari mereka bermaksud menyerang Matsuri dari belakang dengan melempar banyak kunai. Tapi Gaara yang melihat itu tidak tinggal diam, dan mengerahkan pasir andalannya untuk menghalau kunai-kunai itu mengenai Matsuri.

"Gaara-sama!/Gaara-sensei!" pekik Rei dan Matsuri bersamaan saat terkejut akan kehadiran pemimpin mereka di sini.

"Kau baik-baik saja, Matsuri?" tanya Gaara baru saja menapakkan kedua kakinya. Matsuri mengangguk kaku. Ia masih sulit percaya tiba-tiba pemimpin desanya itu sudah berada bersamanya di area musuh ini. "siapa mereka ini?"

Rei menangkis serangan mereka dan melompat mundur mendekati Gaara dan Matsuri. Rei menunduk memberikan hormat lalu berujar, "mereka terlibat penculikan tunangan Anda Gaara-sama. Saya punya dugaan, pemimpin mereka yang menawan nona Hakuto."

Gaara melempar pandangan pada lima orang pria yang menyeringai lebar padanya. Ia merasa sedikit lega ternyata ia belum terlambat datang menyelamatkan tunangannya dan juga dua anak buahnya.

"Dimana pemimpin kalian?" tanya Gaara to the point.

Pria dengan tubuh besar dan kekar melangkah maju sedikit mendekat tapi tetap mengatur jarak dengan Gaara dan kedua rekannya. Ia menunduk memberi hormat, "suatu kehormatan bisa berbicara langsung dengan pemimpin kita, Kazekage-sama" Ia kembali menegakkan punggungnya, "seorang Kazekage datang kemari mengejar buronan?" ia terkekeh, "sungguh hal yang mengejutkan. Kukira Anda mungkin jatuh cinta dengan nona Hakuto."

Gaara tak lantas tersulut emosi mendengar perkataan orang itu. "Apa tujuan kalian melakukan ini?"

Pria itu melipat tangan di depan dada, "sebenarnya ini bukan kewenangan kami untuk bicara. Tapi...tidak ada salahnya Anda sebagai pemimpin desa harus tahu." Gaara masih menatap lurus pemuda di depannya dengan mata hijaunya, "katakanlah kami ini adalah pemberontak, yang sejak awal tidak menyukai kepemimpinanmu. Kami tahu kau telah menyingkirkan keberadaan jinchuriki dalam dirimu, tapi bukan berarti kau sudah bukan monster yang berbahaya."

Mendengar perkataan itu hati Matsuri terasa panas. Ingin rasanya ia menancapkan ribuan kunai di tenggorokan pria itu. Ia tak terima perjuangan sensei-nya memelihara desa selama ini sama sekali tak berarti di matanya.

"Dengan adanya pernikahan ini, itu artinya posisimu akan semakin kuat sebagai seorang kazekage. Untuk itulah –"

"Kau sengaja menculik Hakuto agar pernikahan ini tidak pernah terjadi dan dengan begitu posisiku akan dengan mudah dijatuhkan, benar begitu?" potong Gaara mencoba menerka.

Pria itu tertawa keras. "Kau memang cerdas, Gaara-sama. Tapi sayang itu saja tidak cukup untuk menjadikanmu pemimpin yang pantas."

Gaara terdiam sejenak, membiarkan angin malam bertiup menerbangkan jubahnya. Ini bukan pertama kalinya ia menerima penolakan mengenai kepemimpinannya. Sejak awal ia memang tidak menginginkan posisi kazekage, kalau bukan karena dorongan para tetua dan saudaranya, ia tidak akan berada di posisi ini. Ia akhirnya menyetujui menjadi kazekage karena pertemuannya dengan Naruto menyadarkannya betapa pentingnya mempunyai satu hal yang bisa kau lindungi, dan Gaara hanya bisa berpikir yang ingin ia lindungi adalah desanya. Tapi pertemuan ini menyadarkannya akan fakta lain bahwa usahanya selama ini tidak cukup bisa membuat warga Sunagakure secara keseluruhan merasa puas.

"Banyak hal yang masih belum aku pahami selama kepimimpinanku. Tapi aku selalu menekankan satu hal pada seluruh warga desa Suna. Jika ada hal yang mengganggu pikiran kalian mengenaiku, kalian bisa mengutarakannya padaku secara langsung. Aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku." Jelas Gaara tenang, "tapi tidak dengan cara seperti ini. jangan menyangkut pautkannya dengan keselamatan seseorang. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah."

Rei menatap kagum pada putra kazekage keempat itu. Gaara bukan lagi sosok emosional yang haus akan rasa ingin membunuh siapapun yang melawannya, kini ia menjadi sosok yang lebih bijaksana. Rei tak habis pikir, bagaimana bisa mereka masih meragukan kesetiaan Gaara pada Sunagakure setelah sekian banyak pengorbanan yang dilakukannya?

"Monster tetaplah monster!" balasnya lantang, "tak peduli apapun yang telah kau lakukan pada Suna, perbuatanmu di masa lalu tetap tidak bisa termaafkan, Gaara-sama." Ia menoleh ke arah keempat anak buahnya yang berada di belakangnya, "kalian berdua serang Anbu dan wanita itu, sisanya ikut aku serang kazekage monster ini!"

Ketiga pemuda yang menyerang Gaara masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang menonjol dibagian taijutsu dan dua orang yang lain ahli dalam ninjutsu. Pemuda yang menguasai taijutsu terus memberikan serangan bertubi pada Gaara. Kunai, shuriken, dan masih banyak senjata lainnya yang digunakan pemuda dengan syal berwarna biru tua itu untuk menyerangnya. Gaara tahu serangan itu untuk membuatnya lengah sehingga kedua rekan lainnya bisa mengambil kesempatan dalam kelengahannya. Saat bertarung sesekali jade-nya mengawasi kedua anak buahnya, terutama Matsuri. Ia masih saja mengkhawatirkan pengawal pribadinya itu. meski Kankuro berulang kali mengatakan bahwa kemampuan Matsuri di atas rata-rata. Melalui pelatihannya, kemampuannya semakin berkembang. Bahkan hal yang mencengangkan Gaara adalah ketika Matsuri bisa mengendalikan pasir seperti Gaara, meski belum terlalu ahli.

Gaara sengaja mengerubungi tubuhnya dengan pasir ketika salah seorang pengguna ninjutsu di depannya menggunakan elemen api untuk menyerangnya. Tapi ia terkejut saat pasir di belakang tubuhnya tiba-tiba meleleh. Itu karena pengguna ninjutsu lainnya, menggunakan elemen air. Dan air akan membuat pasir menjadi lembek. Mereka pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melemparkan paku-paku besar ke arahnya. Ia tak sempat menghindarinya karena sibuk menghalau serangan yang datang dari depan. Saat itulah Matsuri tiba-tiba datang menghalau paku-paku besar yang ditujukan pada Gaara.

"MATSURI!"

Paku-paku besar itu menancap di beberapa bagian tubuh Matsuri. "Anda tidak perlu khawatir, Gaara-sensei. Ini hanya luka kecil." Kata Matsuri memaksakan senyum seraya melepas satu persatu benda yang menancap ditubuhnya.

"Itu bukan luka kecil." Gaara bersikeras. Ia terlihat meringis melihat darah yang keluar dari bahu Matsuri terkena serangan itu. Itu jelas bukan luka kecil. "Jangan melindungiku, Matsuri. Aku bisa melindungi diriku sendiri."

"Matsuri-san, Anda terluka." Seru Rei panik setelah mendekat ke arah Gaara dan Matsuri.

Gaara menatap kagum saat Anbu itu telah mengalahkan lawannya. Kini tinggal 4 orang lagi yang harus. Rei berinisiatif mengeluarkan perban dari dalam pocketnya dan membalutnya pada Matsuri. Sedangkan Gaara kembali membuat perlindungan pasir disekitar mereka bertiga.

"A-aku tidak apa-ap..." Matsuri memutahkan darah dari mulutnya.

"Matsuri-san!" Rei lantas mendekap Matsuri yang tiba-tiba jatuh pingsan setelah memuntahkan darah dari mulutnya. Ia mengambil salah satu paku yang tergeletak. "Sial! Ini racun berbahaya."

"Hei, apa yang terjadi padanya?" tanya Gaara panik.

"Matsuri-san terkena racun dari serangan barusan. Aku bukan ninja medis. Aku khawatir jika tidak segera diobati racunnya bisa membahayakan nyawanya." Jelas Rei.

Gaara merutuk dalam hati. Ia menyesalkan tindakan Matsuri yang sembrono menyelamatkan nyawanya. Tidak seharusnya Matsuri mengorbankan dirinya sendiri seperti itu. Gaara merasakan ketakutan luar biasa menjalari hatinya. Ia tidak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup ia kehilangan orang yang penting dalam hidupnya.

"Bawa dia pergi dari sini segera." Titah Gaara pada Rei.

"Tapi Anda –"

"Pergi!" sergah Gaara tegas. "Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi apa-apa padanya."

Rei berjengit mendengar nada tegas Gaara padanya. Ia merasa Matsuri sudah seperti sosok yang penting dalam hidup pemimpinnya itu. Rei mengangguk, "Baik, Gaara-sama. Anda berhati-hatilah..."

"Ya."

Sebelum Rei benar-benar pergi meninggalkannya, Gaara sengaja membuat pasir agar bisa dinaiki Rei agar cepat sampai membawanya kembali ke pusat Suna. Rei sempat terkejut, tapi akhirnya ia paham dengan tindakan Gaara itu.

.

.

.

.

- oOo -

Hal yang ia lihat dengan kedua matanya adalah hal yang ingin ia sangkal kebenarannya. Gaara bisa melihat dengan jelas tunangannya berjalan bergandengan tangan dengan seseorang keluar dari dalam goa yang sedari tadi dilindungi beberapa shinobi yang berusaha menghalangi Gaara. Tidak ada tanda bahwa tunangannya itu tengah diculik atau pun disandera. Ia sibuk dengan berbagai spekulasi di dalam pikirannya.

"Jadi kaulah yang membawa Hakuto?" tanya Gaara menatap pria yang menggandeng tunangannya itu.

"Namaku Shigezane, dan aku berasal dari klan Houki." Ucap pria itu tanpa keraguan. Ia melangkah mendekat ke arah Gaara.

"Bukankah kau pemilik pertambangan besi, Tuan Shigezane?" tebak Gaara.

"Suatu kehormatan jika Anda pernah mendengar namaku." Jawab Shigezane, "aku akan dicela jika tidak bisa menggunakan teknik yang diturunkan oleh Kazekage keempat."

Tepat seperti perkiraan Gaara. Ia merasa pernah mendengar seseorang dari klan Houki yang dikenal karena kemampuan uniknya yaitu mengeluarkan biji besi dari dalam bumi. Shigezane ini juga mantan murid ayahnya.

"Aku tidak tahu siapa yang menyuruhnmu melakukan ini, tapi ini tidak lebih dari sebuah pengalihan. Apa kau benar-benar bermaksud mati demi tugas ini?" tanya Gaara.

"Aku sangat sadar dengan yang aku lakukan, Kazekage-sama." Jawabnya tegas. Pancaran mata yang seolah mengatakan 'dia benar-benar siap mati' tak terbantahkan. Tapi Gaara juga merasakan pasti ada alasan yang kuat dibalik semua itu.

Gaara sangat menyayangkan kemampuan Shigezane, dia adalah shinobi yang berbakat. Tapi pertemuan keduanya harus berakhir dengan pertarungan. Padahal jika negosiasi masih bisa dilakukan, sudah pasti Gaara akan memintanya kembali menjadi warga Suna, bukan lagi nukenin.

"Gaara-sama." Mata Hakuto memancarkan rasa bersalah saat menyebut nama Gaara. Perlahan Hakuto melangkahkan kakinya ke arah Gaara.

"Hakuto?!" sergah Shigezane.

"Gaara-sama, tolong hentikan tindakan Anda." Pinta Hakuto dengan wajah memohon bercampur rasa bersalah. "Shigezane adalah –"

"Kau tidak perlu mengatakannya." Potong Gaara. "Aku cukup bisa membaca keadaanmu yang tidak ada tanda-tanda jika memang kau telah diculik."

Sekarang putra bungsu kazekage keempat itu mulai memahami hubungan pria dan wanita. Sepasang kekasih. Ia kecewa tentu saja, tetapi bukan karena ternyata Hakuto menghianatinya tetapi ini menyangkut otoritas kazekage. Pernikahannya tentu berbeda dengan pernikahan shinobi biasa. Jika hal ini sampai diketahui publik, sudah bisa dipastikan Suna juga akan terkena dampak negatifnya.

"Aku tidak tahu siapa yang menghasutmu. Kau sengaja mengambil peran sebagai tunanganku, lalu kau lari dengan kekasihmu. Ini akan berdampak pada otoritas kazekage. Aku tahu kau sengaja melarikan diri agar bisa pergi dengan kekasihmu ini kan?"

"Anda mengetahui semua itu? kenapa Anda masih mengejarku?" tanya Hakuto heran.

"Aku ini kazekage, dan aku tidak bisa menjadi apapun selain itu."

"Tidak ada bedanya. Aku juga tidak bisa melakukan apapun selain bertindak layaknya putri dari klan Houki." Hakuto bersikeras. "Aku ingin bisa bebas untuk itu aku tidak punya pilihan selain memanfaatkan perjodohan dengan Anda. Aku minta maaf karena telah memanfaatkan Anda. Namun –"

"Lupakan permintaan maaf itu." ucap Gaara mulai menyiapkan pasirnya. Ia siap untuk bertarung, setelah ini tidak akan ada lagi pembicaraan. "Aku tak menyangka akan mengganggu kisah cinta kalian. Kita tak pernah setuju acara perjodohan itu. Hal itu hanya untuk memenuhi pandangan publik. Aku tak punya hak untuk mengikatmun namun..." Gaara telah membentuk pedang dari pasinya, "aku tak bisa menutup mata terhadap shinobi yang berniat kabur dari desanya tanpa mengindahkan hukum, nantinya akan melukai lebih banyak orang."

Cukup jelas alasan Gaara mengejar Hakuto dan komplotannya. Sejak awal ia sudah merasa curiga dengan keadaan Hakuto yang baik-baik saja, serta rombongan Hakuto yang ada dipenginapan Suna tak terlihat terluka sama sekali. Justru shinobi yang menjaga mereka saja yang terluka parah. Ini sebuah konspirasi.

"Kuberitahu satu hal Tuan kazekage." Timpal Shigezane, "kau selalu berpikir bahwa kau tahu segalanya. Kau tidak pernah menutup mata dan telingamu dari sekitarmu, memang benar. Tapi kau tidak jeli adanya permainan para tetuamu."

Gaara tersentak ketika Shigezane menyangkutpautkan tetua Suna dalam hal ini. Ia pikir ini hanya masalah kepimimpinannya saja.

"Klan kami adalah klan pendatang dari Konoha. Mereka sengaja memberikan pajak tempat tinggal yang lebih tinggi dibanding penduduk Suna asli. Apa kau tahu itu?" Gaara tercekat melebarkan matanya, ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai fakta itu. "dan para tetuamu suatu ketika datang pada pemimpin klan kami memberikan penawaran. Jika putri dari klan kami bersedia menjadi istrimu, maka klan kami akan dibebaskan dari pajak selangit itu."

Shigezane mendenguskan tawa. "aku yakin kau tidak akan percaya begitu saja pada perkataanku. Tapi tindakanku ini menjawab semua penyebab aku berencana pergi dari Suna." Shigezane menggenggam erat tangan Hakuto yang berdiri disampingnya, "aku tidak akan mengorbankan kekasihku hanya untuk menyelamatkan kehidupan klan kami. Untuk itulah aku berencana membawanya kembali ke Konoha."

"Begitu..." gumam Gaara, "aku memang belum bisa mempercayai ucapanmu tapi aku tidak akan mengabaikannya. Tapi tetap saja tindakanmu telah melukai banyak Anbu dan Jounin Suna. Aku tidak bisa membiarkannya."

Shigezane telah membuat segel suiton, dan memunculkan shuriken dari air. Ia langsung mengarahkannya pada Gaara tapi berhasil ditangkisnya. Ia tak menyangka selain kemamuan medis, ternyata kaum pria klan Houki banyak yang menguasi elemen air. Shigezane tak menyerah meski serangan shuriken airnya gagal. Ia masih menyerang Gaara dengan tombak airnya. Gaara masih tetap berusaha menjaga jarak meski ia mengusahakan agar bisa menyerang Shigezane dalam jarak dekat dan berharap bisa mengalahkannya dengan taijutsu.

Dalam kegigihan Shigezane melawannya Gaara menyadari satu hal, bahwa seseorang akan berkorban demi sesuatu yang penting baginya atau seseorang yang dicintainya. Bahkan jika mengorbankan nyawa sekali pun. Ia dipaksa mengingat pengorbanan ibunya yang melahirkannya ke dunia. Dan yang belum lama ini terjadi, ketika Matsuri dengan mudahnya menjadi tameng untuk menghalau paku-paku beracun mengenai Gaara saat lengah. Ia dengan mudahnya mengatakan bahwa itu hanya luka kecil, padahal kini nyawanya terancam dalam bahaya.

Apakah Anbu bawahannya berhasil menyelamatkan Matsuri? Apa ia sekarang sudah siuman?, pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung di pikirannya. Entah mengapa eksistensi Matsuri mendadak mengusik pikiran dan hatinya.

Pertarungan yang semula posisi bertahan kini Gaara mendapat celah untuk menyerang Shigezane. Ia tak berkutik lagi. Gaara melihat pasangan sejoli itu semakin mengeratkan pegangan tangan mereka, dan tersenyum seolah mengatakan bahwa mereka siap dengan apapun yang akan dilakukan Gaara, termasuk jika membunuh keduanya. Tidak ada ketakutan atau pun gemetar menghadapi serangan pasirnya yang mulai menyelubungi tubuh keduanya.

"Gaara-sama" panggil Hakuto tanpa melenyapkan senyum sendu di wajahnya.

"Ya?"

"Terima kasih." Tukasnya sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar tak terlihat lagi.

Gaara memejamkan matanya erat. Ia tahu jika dia bukan lagi seorang pembunuh, tapi ini satu-satunya jalan menyelamatkan Hakuto dan kekasihnya dari hukuman yang siap menanti di Suna. Atau lebih buruknya Hakuto harus siap melihat kekasihnya dihukum mati tapi dia tetap harus menikah dengan Gaara.

Tidak. Gaara tak ingin membiarkan kebebasan seseorang terenggut karenanya.

Telapak tangan Gaara yang semula terbuka lebar, kini membentuk sebuah kepalan erat. Itu pertanda jika apapun yang ada dalam genggamannya pasti tak akan bersisa, bahkan tulang belulangnya pun akan lenyap. Ia menyebutnya air terjun pemakaman pasir. Hakuto dan kekasihnya telah tiada.

Inikah kekuatan cinta? Lebih memilih mati daripada harus terpisah? Mengorbankan nyawa demi melindungi orang yang kita cintai? Seperti inikah cinta antara lelaki dan wanita?

Kini Gaara telah memahaminya, hubungan antara pria dan wanita. Dan ia tahu hal apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Author's Note:

Tokoh Shigezane dan Hakuto disini memang ada di novel Gaara Hiden ya... jadi bukan OC, takutnya ada yang salah paham hehehehe... :D

Saya ngga menggambarkan detail pertarungannya, hanya beberapa scene saja yang saya ambil biar jalan ceritanya ngga menyebar kemana-mana. Chapter depan udah epilog, jadi ini ceritanya three-shoots :D , nanti akan diceritakan keputusan apa yang bakal diambil Gaara. Jadi yang masih tertarik dengan cerita ini, silahkan lanjut baca tapi kalau nggak, boleh berhenti sampai disini.

Thanks for reviewing: D Gee-eun, PeaLaff, I A M Rusti, m.a, Oka, Guest, Matsu-chan, riyu, Sipembaca, Konata Izumi, Daniel Sandra.

Juga yang udah follow atau fav, dan tentunya kamu yang udah baca ;)