Chapter 2 : Ancaman telah hadir.
"Musim yang seperti ini ramen memang yang paling pas.." ucap Naruto. Salju sudah mulai turun, suhu udara begitu dingin hingga memakan ramen pun menjadi pilihan yang sangat pas.
Saat ini mereka sedang berada di kedai Ichiraku, untuk merayakan sesuatu. Naruto, Sakura, Shikamaru, Chouji, dan Ino makan bersama.
"Sepanjang tahun juga makananmu kan cuma ramen.." ucap Sakura.
"Kau memang sangat menyukai ramen, ya?" tanya Ino.
"Yah, aku memang sangat menyukainya.." jawab Naruto sambil memengang sumpit nya
"Tambah 5 mangkok gyoza lagi ya!" ucap Naruto pada paman Teuchi pemilik kedai ichiraku ini.
"Segera ku siapkan'' jawab paman Teuchi sambil terus mengaduk masakan nya.
"Lima? Aku tidak bisa memakan sebanyak itu" ucap Chouji kaget dikira nya Naruto memesankan makanan itu untuk nya.
"Dia tak bilang kalau itu untukmu kan.." balas Shikamaru.
''Selamat Makan'' ucap Naruto tapi sebelum melanjutkan makan nya Naruto ingat untuk melepaskan syal yang dia gunakan
"Ah, Jangan sampai ini kotor.." ucapnya sambil memasukan syal berwarna hijau tersebut.
"Eh? syal itu.." Sakura melihat dan..
Saat itulah Hinata sampai di sana.
"Hei Hinata!" sapa Sakura. "Ikutlah makan dengan kami,bila kamu belum makan!" ajak Sakura pada sahabat nya ini Hinata.
"Aku yang traktir malam ini!" Sambung Naruto.
'' Kata nya ada hal yang mengembirakan hari ini, maka nya dia ingin merayakan nya sekarang'' Ucap Sakura menjelaskan.
"T-tapi.." Hinata malu-malu.
"Ayolah jangan malu. sini, duduk di sini.." Sakura mempersilakan tempat duduknya yang di sebelah Naruto untuk Hinata.
"Duduklah disini , Hinata.." ucap Naruto.
''Ba-baiklah'' jawab Hinata senang setelah mendengar ucapan dari Naruto. Tapi tiba-tiba..
"Naruto senpai!" fans-fans Naruto tiba-tiba saja berdatangan.
"hey, kalian.. Hadiah yang kemaren terimakasih ya.." ucap Naruto senang.
"Pesan apa saja yang kalian mau, biar aku yang terakhir, sebagai tanda terimakasih untuk hadiah yang kalian berikan.." kata Naruto pada gadis-gadis itu.
"Terimakasih banyak!" ucap gadis-gadis itu serempak.
"Hinata, kau juga pesan apa pun yang kamu mau ya.." ucap Naruto pada Hinata. Hinata sudah duduk di kursi itu, tapi saat Naruto hendak duduk kembali ke kursinya, salah satu fansnya malah menarik tangannya.
"Senpai disini saja'' kata gadis berbaju pink itu menarik tangan Naruto. Mereka ingin Naruto makan bersama mereka.
''Makan lah bersama kami'' ucap gadis yang lain nya.
Melihat itu tanpa mengatakan apapun Hinata turun, memegang erat kembali bingkisan yang harusnya ia berikan pada Naruto dan melangkah pergi. Hinata cemburu.
"Hinata.." kata Sakura merasa tak enak.
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Maaf.. Sebenar nya aku sudah kenyang.." ucap Hinata bohong dan melangkahkan kaki nya.
"Hinata.."kata Sakura lagi
"Hei, antar dia pulang dong.." ucap Sakura ke Naruto.
"Hah?Mengantar Hinata pulang? Tapi buat apa?" jawab Naruto bingung.
"Ya, tak seharusnya kan kamu membiarkan anak perempuan pulang sendirian malam-malam.." kata Sakura menjelaskan .
"Hinata kan sangat kuat, mana mungkin ada yang berani macam-macam dengannya di desa ini.."jawab Naruto masih tidak mengerti dengan ucapan Sakura, sungguh Naruto sangat tidak peka -_-
Hinata benar-benar pergi.
"Eh? Hinata!" Sakura semakin khawatir.
"Mou,kau bodoh!" bentak Sakura ke Naruto lalu menyusul Hinata.
''Hey,kenapa kau memanggil ku bodoh sih? Tanya Naruto tidak mengerti. Dan saat hendak menyusul Sakura dan Hinata, pesanannya sudah jadi.
'' Senpai, Gyoza nya sudah jadi'' ucap gadis bertopi memperlihatkan makanan nya .
'' Ayoo, Makan '' ajak gadis berbaju pink tadi sambil memengang lengan Naruto erat.
Pada akhirnya Hinata pergi ditemani Sakura. "Yah, terkadang dia itu memang tidak peka.." ucap Sakura. Hinata masih diam, berjalan dengan wajah murung.
"Tadi kamu berniat ingin memberinya syal buatanmu, kan?"tanya Sakura memastikan.
Hinata hanya mengangguk.
'' Tidak apa-apa Hinata, percaya diri lah, kamu pasti bisa melakukan nya'' Kata Sakura memberi semangat dan dukungan penuh pada sahabat nya ini.
"Arigatou" ucap Hinata tersenyum lembut.
"Tapi.. kenapa kau begitu mendukungku?" tanya Hinata.
"eh?kalau itu..." Ucapan Sakura menggantung, dia berpikir dan bayangan Sasuke terlintas di benaknya, pemuda yang saat ini berada di kejauhan, dalam perjalanan panjang untuk mencari jati dirinya.
"Karena kita harus saling mendukung.." ucap Sakura tersenyum.
"Saling mendukung?" tanya Hinata masih bingung ,tapi tidak terlalu dipikirkan nya, yang pasti Hinata senang ada sahabat nya yang mendukung nya penuh. Dan mereka pun melanjut kan langkah pulang.
Akhirnya Hinata sampai di depan rumahnya, dan Sakura pun telah kembali. Tapi, bukannya masuk, Hinata malah menetapkan hatinya dan tiba-tiba balik lagi.
'
'Naruto-kun.. selama ini aku selalu memperhatikan mu dari belakang. Tapi mulai sekarang, aku ingin selalu, selalu ada di samping mu. Jadi aku merajut ini degan sepenuh hatiku. Ku mohon terima lah perasaanku. Ucap Hinata menunduk sambil menyerahkan kotak bingkisan berisi syal itu ke angin yang lewat.
Ya, Hinata sedang latihan di pinggir jalan yang sepi, di depan Apartement nya Naruto.
"Baik, aku akan mencobanya sekali lagi." ucap Hinata pada diri nya sendiri.
"Naruto-kun.."
"Oii,Hinata!" Naruto sungguhan tiba-tiba saja muncul dari belakang Hinata.
Naruto menghampirinya, "Apa barusan kau memanggilku, Hinata?"
"Itu.. selamat malam.." ucap Hinata.
"Kita baru saja kan tadi bertemu di Ichiraku?" kata Naruto.
"Ah, benar juga.."jawab Hinata tersenyum.
Hinata yang semula menunduk kini melihat ke arah Naruto. Dan.. Hinata kaget saat melihat Naruto menggunakan sebuah syal berwarna hijau dengan garis-garis putih..
"Ada apa, Hinata?" kata Naruto saat melihat raut wajah kaget Hinata.
"I-itu.. syal yang bagus.." ucap Hinata.
"Ah, ini.. syal pemberian Wanita yang paling aku cintai dalam hidupku dan syal ini paling berharga dalam hidupku" kata Naruto memengang syal nya
Jdaarrr rasa sakit , sangat perih terasa bagi Hinata. Dia masih tak percaya apa yang dilihatnya , Hening.. Hinata masih berkecamuk pikiran galaunya.
Dan.. tiba-tiba saja perut Hinata berbunyi.
Untuk sesaat suasana berubah menjadi hening.
"Hei, kedengarannya kau lapar.." ucap Naruto. "Jika mau Ramen instan, aku punya beberapa di apartement ku'' Kata Naruto menawarkan.
Hinata malu sekali. Apa yang ia takutkan betul-betul terjadi. Lalu sambil menundukan wajahnya yang mulai memerah. "Selamat malam!" teriaknya dan berlari pergi.
"Eh? Bukannya kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Naruto bingung. "Hei Hinata!" Naruto berniat mengejar tapi Hinata sudah jauh.
Hinata tidak pulang ke rumah nya tapi malah pergi ke taman, malam-malam duduk sendiri di sebuah ayunan sambil memikirkan hal tadi. "Aku penasaran siapa yang telah memberikan syal itu pada nya? Ucap Hinata pada diri sendiri. "Kalau kau senang aku juga senang, Naruto-kun.." tanpa ia sadari air mata mulai menetes dari matanya. Menetes dan jatuh di atas syal berwarna merah hasil rajutannya.
"Kenapa kau menangis?" tanya seorang lelaki tiba-tiba saja muncul dari balik kegelapan. "Kau membuat syal itu basah.."lanjut nya lagi
"Aku sudah tak membutuhkannya lagi." ucap Hinata.
"Kalau begitu, berikan saja padaku?" ucap lelaki itu lagi, lelaki berambut putih yang merupakan dalang di balik komplotan shinobi misterius itu.
"Siapa kau?" Hinata kaget saat ia bisa melihatnya dengan jelas di bawah sinar lampu taman.
"Namaku Toneri, dan aku datang untuk mencarimu." ucap orang itu, Toneri.
"Mencariku!?" Tanya Hinata Bingung..
To be continued...
