The Same Place

..

...

Hujan deras terjadi dimana ia terpaksa terjebak dihalte bis dengan keadaan yang sedikit basah akibat air hujan. Menunggu kedatangan bis disana walau hanya dirinya yang berada sendiri disana. Luhan akan mengusap-usap lengannya yang terkena basah, dingin dan semakin dingin dimana angin sesekali berhembus disekitarnya.

Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang cocok untuk dirinya, hujan dan basah sesuai dengan suasana hatinya yang tidak dalam keadaan baik. Luhan tak menyesal bertemu dengan Sehun hari ini, bertemu untuk mengembalikan semua barang-barang yang pernah pria itu berikan kepadanya. Ia justru merasa legah karena setidaknya ia benar tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi dengan cintanya itu. Semua berakhir dan ia akan menjalani kehidupannya sama seperti ia belum mengenal pria itu.

Semua berakhir Luhan, maka kau akan kembali pada kehidupanmu yang sebenarnya.

Luhan hanya-lah seorang remaja berusia 17 tahun yang hidup sebatang kara diSeoul. Kedua orang tuanya telah meninggal sejak ia berusia 13 tahun akibat kecelakaan. Ia sendiri hidup tanpa ada yang menemani dan membiayai kehidupannya. Tapi bukan berarti ia tak bisa bertahan, ia justru menerima semua apa yang ia alami dimasa mudanya saat ini. Ia bukan remaja yang bisa bermanja-manja juga merengek menangisi kehidupan malangnya.

Ia remaja yang kuat dengan segala tekat yang ia miliki. Ia pantai dan cerdas, ramah tidak sombong walau dalam masa sesulit apa pun ia tidak akan lupa untuk tersenyum. Itu dirinya seorang remaja dengan segala masalah yang ia alami, termaksud akan kisah cinta pertamanya ini. Cintanya yang hanya dianggap sebuah lelucon oleh seseorang yang menjadi objek cintanya.

Ia bisa apa sekarang? Selain merelakannya dan tetap kembali pada kehidupannya sendiri. Tanpa kasih sayang, tanpa cinta yang selama setahun lalu selalu menghangatkan dirinya. Ia sendiri dan ia menerima kenyataannya.

Chapter 02

...

..

Setelah hampir selama setengah jam ia menunggu bis dalam kedinginannya hujan sore ini, Luhan pun telah sampai dirumahnya. Rumah sederhana tak begitu besar peninggalan kedua orang tuanya, hanya itu yang ia miliki saat ini untuk berlindung. Rumah yang dulunya ramai dan hangat, kini terasa dingin, kosong dan sepi karena hanya dirinya disana.

Tak apa setidaknya ia masih bisa hidup dengan tenang bukan?

Ia menghela nafas sekali meraih kunci rumahnya, lalu membuka pintu yang telah ia kunci sebelumnya dan masuk kedalam. Cepat-cepat ia pergi kekamarnya guna mengambil handuk, mengeringkan tubuhnya yang basah, usai itu mengganti pakaiannya dengan sebuah hoodie merah bergambar kepala rusa dibagian dada. Celana kain hitam selutut sebagai bawahnnya.

Sore berlalu tergantikan dengan malam Luhan yang tadinya kini tengah mengerjakan tugas sekolahnya, saat ini duduk dimeja belajar diam menatapi jendela kamar didepannya, ketika tugasnya telah selesai. Memandang pemandangan diluar sana sesekali menghela nafas. Ia berpaling meraih sebuah dompet coklat miliknya. Melihat apa yang ada didalam dompetnya tersebut.

Hhhh...

Ia hanya bisa kembali menghela nafas ketika matanya hanya menangkap beberapa lembar won yang tersisa ia miliki. Yang entah sampai kapan ia bisa bertahan hanya dengan jumblah uang segitu. Ia berharap itu masih bisa mencukupi untuk makannya sehari-hari selagi ia akan mencari pekerjaan yang layak untuknya.

Semoga saja.

Untungnya lagi ia tak perlu memikirkan masalah biaya sekolahnya, karena ia salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa, jadi ia tak perlu memerlukan uang banyak untuk membayar sekolahnya itu. Cukup untuk kebutuhan hidupnya saja maka ia akan tetap bertahan.

Ia bergerak menyimpun semua peralatan sekolahnya, menyiapkan segalanya untuk ia sekolah esok harinya. Lalu melirik jam tangannya yang mana tak terasa ini sudah malam, ia harus memasak untuk makan malam. Lantas ia keluar kamar berjalan menuju dapur sederhana dirumah ini. Bersiap-siap untuk memasak walau ia hanya mempunyai mie ramen saja. Yah, setidaknya ia masih bisa makan malam ini.

5 menit berlalu ia saatnya makan dengan tenang, menikmati betapa lezatnya mie ramen buatannya. Sambil tersenyum sebagai rasa syukurnya. Kini perutnya telah terisi penuh. Saatnya membereskan segala perlengkapan makan yang telah ia gunakan. Usai itu berniat kembali kearah kamar tercintanya sebelum itu lebih dulu masuk kekamar mandi. Mencuci kaki, tangan dan menggosok gigi. Kebiasaan waktu kecil yang tak pernah ia rubah hingga sekarang.

Didalam kamarnya ia terbaring nyaman diranjang, menatapi langit-langit diatas sana tanpa memikirkan apa pun. Sangat sepi dan berbeda waktu itu ia masih bisa mendengar segala ocehan manis nan cerewet Sehun saat mereka masih bersama. Tapi sekarang berbeda hanya kesunyian yang ia dapati dirumahnya. Ketika mengingat hal itu Luhan hanya bisa tersenyum miris. Sehun sempat merubah dunianya menjadi lebih ringan dan berwarna.

Hahh...tapi itu sekarang menjadi kenangan untuknya, karena sekarang ia kembali pada dunianya yang sesungguhnya. Sudahlah, ia rasa tak perlu lagi mengingat segala hal yang telah terjadi, cukup ia akan focus pada kedepannya. Focus pada pendidikannya tanpa perlu akan hal lainnya.

"Ayah, Ibu suatu saat nanti, Luhan akan benar membuat kalian bangga dengan anakmu ini, aku akan mengejar impianku...mulai sekarang...Luhan merindukan ayah dan ibu..."

Maka pada malam itu Luhan bermimpi, bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya menangis dengan melepas rindu diantara mereka. Tanpa sadar didalam tidurnya ia pun menitihkan air matanya itu pula.

.

.

.

"Jadi kau ingin bekerja?" Luhan mengangguk pasti dengan menjawab pertanyaan Lay padanya. Saat ini keduanya berada dikantin sekolah diwaktu istirahat tiba.

"Tapi, aku rasa ditempat kerjaku sudah penuh Lu, mereka seperti tidak sedang mencari pegawai baru maaf..."

"Anya, tidak apa-apa kok jika memang tidak ada..."

"Tapi mungkin aku akan bisa membantumu untuk mencarinya, bagaimana?" ia tersenyum senang sepertinya ia benar-benar tidak sendiri karena masih memiliki teman baik seperti Lay.

"Jika tidak merepotkanmu?"

"Tidak, sama sekali tidak karena aku tau dirimu Lu, bukankah kita ini teman baik?" Lay tersenyum pula berniat tulus untuk membantu temannya satu ini, karena ia memang tau bagaimana kondisi Luhan saat ini.

"heum, tentu saja..." tersenyum lagi yang tampak benar tulus kali ini dan mereka kembali mulai acara makan bersama mereka. Hingga samar suara dua orang terdengar didekat mereka. Tepat disebelah meja makan yang mereka tempati, lebih tepatnya lagi dibelakang kursi yang Luhan tempati.

"Sehunnie, saat pulang nanti jadikan kita keapartementku?"

"Oh, tentu saja sayang, kau tau bukan aku sudah lama merindukanmu..."

"Hihihiii...heum aku tau karena aku juga merindukanmu."

CUP

Luhan merasa bodoh mendengar begitu jelas akan pembicaraan kedua orang yang ia kenal dibelakangnya itu. Ia tersenyum palsu ketika matanya bertemu dengan manik Lay yang juga menatapinya khawatir. Berujap tanpa suara pada temannya itu jika ia baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dengan wajah ia tekuk diam masih mencoba untuk melanjutkan makannya.

"Aahhh...sayang jangan disini aku malu"

"Sebentar saja Yeri noona, aku sudah tidak tahan ingin menciummu heum..."

Menulikan telinga sebisa mungkin ketika tak tau malunya kedua orang dibelakangnya itu tengah bercumbu disana. Padahal jelas-jelas mereka masih dikantin sekolah, tempat umum yang mana siapa saja bisa melihat keduanya. Walau Luhan tak melihatnya, tapi bisa mendengarnya suara khas kecipak bibir bersahutan dari arah belakangnya. Saat itu rasanya tubuh Luhan jadi melemas seketika, bahkan nafsu makannya jadi hilang.

GREB

"Lu..."

Ia senang masih ada sosok Lay yang saat ini meraih dan menggenggam erat satu tangannya guna menenangkan dirinya saat ini. Maka ia kembali tersenyum lebih baik karena seharusnya ia tak lagi larut akan kesedihannya ia rasakan.

"Aku rasa, aku sudah selesai..."

"heum, ayo kita kembali kekelas"

Mengangguk setuju sebelum keduanya menyimpun sisa makanan mereka, beranjak dari sana untuk menuju ke Counter makanan, lalu pergi kembali kekelas mereka berada.

Ditempatnya Sehun menjauhkan wajahnya dari Yeri ketika Luhan telah pergi dari kantin. Menatapi cukup lama punggung rapuh Luhan yang masih dapat terlihat disana. Dengan raut wajah yang tak dipahami ia mengepalkan erat satu tangannya dibawah sana.

"Sehun, ada apa?"

"Tidak, tidak ada apa-apa."

.

.

.

5 hari terlewati setelah setelah keputusan sepihaknya dengan Sehun, Luhan benar menjalani kehidupannya seperti dulu sebelum ia mengenal pria pucat itu. Ia mampu karena ia sudah menekatkan dirinya untuk tetap bertahan. Didunia ini bukan hanya pria itu saja yang ada, tapi beribu atau berjuta bahkan lebih diluar sana ada pria sebaik dari Sehun.

Sempat Luhan berpikir apakah ia harus mencoba berhubungan dengan lawan jenisnya saja? Bersama wanita mungkin lebih baik, tapi ia kembali berpikir jika ia bersama wanita, akankah wanita itu bisa menerima keadaannya? Bayangkan saja Luhan mencukupi kebutuhannya sendiri saja masih belum bisa dikatakan cukup. Apa lagi dengan adanya wanita disisinya.

Yang ia yakini pasti wanita itu akan berakhir melakukan hal yang sama dengan Sehun, memutuskannya begitu saja karena ia tak layak. Luhan menertawakan hal itu, jadi ia memutuskan untuk tetap sendiri, focus dengan pendidikannya bagaimana pun juga. Ia tak mau memikirkan masalah jodoh atau apa, karena ia yakini jika benar Tuhan memberikannya, maka cintanya akan datang sendiri menghampirinya.

Ia belum bekerja saat ini, belum dapat maksudnya tapi ia tak mau begitu saja menyerah. Lagi pula ini untuk kehidupannya, untuk bertahan bukan? Jadi tak perduli sesulit apa ia mendapatkannya. Selain itu ia juga giat belajar, meluangkan waktunya untuk belajar dimana saja yang ia anggap layak untuk memulai acara belajarnya. Entah dikelas waktu istirahat, diperpustakaan, ditaman sekolah atau diatap gedung sekolah. Dimana pun ia bisa.

saat pulang ia tak langsung pulang, melainkan pergi kemana pun untuk mencari lowongan kerja yang bisa menerimanya. Seperti saat ini misalnya dibeberapa tempat telah ia datangi. Walau masih mendapatkan hal yang sama, ditolak dengan berbagai macam alasan.

ia mendesah pelan berjalan kaki didaerah taman kota. Cukup berkeringat karena panasnya siang hari ini. Disalah satu bangku taman akhirnya ia menghentikan perjalanannya hari ini.

"Hahh...kenapa panas sekali hari ini?" keluhnya sambil mengelap peluh yang sedikit membasahi pelipisnya. Matanya kesana-kemari untuk memperhatikan suasana cukup ramai ditaman itu. Terpaku seketika pada sosok dua anak kecil yang tengah bermain bola didepannya sana.

Memperhatikan keduanya dan tersenyum kecil begitu tampak cerianya kedua anak kecil itu disana. Seakan bisa ikut merasakannya Luhan melupakan semua bebannya hanya dengan memandang mereka.

DUG

Ia beralih menatapi sebuah bola yang ternyata bergelundung kearahnya, bola milik kedua anak kecil itu. Ia lekas beranjak untuk mengambilnya sebelum suara salah satu dari anak kecil itu menyapanya.

"Ahjjusi, bisa kembalikan bola kami?" Luhan mendongak dan membalas tatapan anak itu padanya. Dengan kedua tangan memegang bola itu, Luhan kembali tersenyum manis.

"Sebelum itu, bolehkah aku ikut bermain dengan kalian?"

Selanjutnya bersama kedua anak kecil itu Luhan sejenak benar melupakan segala hal yang pernah ia alami, bermain bersama dengan tawa riang membuat mereka tampak bahagia tanpa ada beban apa pun yang mereka rasakan.

Luhan merasa lepas dan bebas dengan senyumannya.

Hidupku tidak akan berhenti disini, ketika ia pergi melepaskanku...

Walau ditinggal oleh ketiga orang yang aku paling sayangi, aku masih bisa bertahan.

Aku tidak akan mati hanya karena hal itu.

Sendiri?

Aku masih bisa bernafas karena dari awal hidupku memang seperti itu, seorang diri menatap kedepan.

.

.

.

Sehun hanya bisa menatapinya disana, bermain bersama kedua anak kecil yang tak ia kenali itu. Tawa-cerianya mengingatkan Sehun akan masa kebersamaan mereka satu tahun itu. Masa kebahagiaan mereka bersama yang untuk dirinya sendiri pun sulit ia lupakan. Walau kata berpisah telah membatas mereka. Ia malah merasa rindu akan masa itu terjadi dan jika boleh jujur, ia ingin mengulang kembali semuanya.

Tapi ia tak bisa karena semua telah berakhir, Luhan dan dirinya telah terpisah dalam jarak yang entah sejauh mana itu terjadi. Dan oleh dirinya sendiri semua ini terjadi. Membuat mereka berpisah jauh hanya karena dirinya yang tampak labil dan rasa tak puas dengan apa yang ia miliki.

"Sehunnie, wae?" ia tersentak dari lamunannya menatapi Luhan disana, beralih pada sosok wanita cantik yang menjadi kekasihnya saat ini.

"Oh, kau sudah selesai?" tanyanya balik tanpa menjawab pertanyaan awal Yeri.

"Yah, sudah selesai jadi sekarang kita kembali keapartementmu?" sedikit tersenyum paksa Sehun menanggapinya sebelum mengangguk pasrah. Menolehkan sesaat wajah untuk sekali lagi melihat Luhan disana, hingga mau tak mau ikut melangkah ketika Yeri sudah menarik lengannya untuk pergi dari sana.

Pergi keapartementnya setelah melakukan acara kencannya bersama sang wanita itu. Sehun tidak tau sebenarnya sedang apa Luhan ada ditaman ini? Taman yang tepat berdekatan dengan apartementnya. Dan taman itu pula yang menjadi tempat awalnya mereka bertemu. Taman penuh kenangan mereka selama satu tahun ini.

.

Sementara itu Luhan terengah-engah akibat acara bermain mereka, semakin berkeringat akibat berlari-lari mengejar dan menendang bola. Kedua anak kecil disana pun sama pula saling melempar senyuman senang kepadanya. Hingga suara seorang wanita terdengar diantara ketiganya.

"Haowen, Ziyu ayo pulang ini sudah sore!" ibu kedua anak itu Luhan yakini memanggil mereka, dan kedua anak kecil itu pun membalas berteriak kecil.

"Ne Eomma..." serentak keduanya, lalu beralih pada Luhan didepab mereka.

"Ahjussi, kami pergi dulu..."

"heum, eomma sudah menyuruh kami pulang" Luhan berdecak kecil dengan meletakkan kedua tangannya dipinggang.

"Hey, bukannya sudah aku katakan, jangan memanggilku ahjussi, aku masih muda tau...panggil aku Luhan hyung arra!" pintanya dengan nada sengaja dibuat kesal.

"Arra...arra Luhan hyung" balas Haowen dan Ziyu malah tersenyum geli disebelahnya.

"Good, yasudah pulang sana nanti eomma kalian marah jika terlambat!"

"heumm..."- Haowen mengangguk paham

"Ne, cenang bica belmain dengan Luhan hyung hihiii..."- Ziyu dengan tawa kecilnya

"Hyung juga senang hari ini karena kalian."

"Kalau begitu kami pamit dulu hyung" ujar Haowen sambil meraih tangan kecil adik mungilnya itu

"yah, sampai jumpai"

"Cemoga kita bica belmain lagi Luhan hyung, dadadahhh..."

"Ne, dadadaahhh..."

Luhan tersenyum akan kepergian kedua anak kecil itu, mereka lucu sekali menurutnya mengingatkannya pada dirinya dulu saat waktu kecilnya. Dan hari ini benar membuatnya merasa bebas bermain dengan kedua anak itu. Membuatnya melupakan akan segala masalahnya. Luhan harap ia bisa bertemu dengan Haowen dan Ziyu, lalu mengajak mereka untuk bermain lagi.

Sudah sangat sore Luhan harus segera pulang, menyudahi perjalanannya hari ini. Ia meraih tas ranselnya yang sempat ia letakan dibangku taman sana. Memakainya sebelum berjalan untuk pulang. Namun ia menemukan masalah diperjalanannya. Ia baru sadar jika uangnya telah habis akibat seharian ini berkeliling. Lantas ia dalam kebingungan bagaimana caranya ia bisa pulang dengan uang yang telah habis?

Merutuki dirinya sendiri saat ini, duduk dihalte bis terdekat menatapi bis yang beberapa kali lewat. Sial! Ia tidak tau harus bagaimana? Haruskah ia berjalan kaki agar sampai dirumahnya? Padahal jarak antara taman dengan rumahnya cukup jauh.

Benar-benar sial!

Ia mendesah kasar nasibnya sungguh menyedihkan. Ia menatapi sejenak disekelilingnya, sebelum bergerak meraih sesuatu disaku kantung seragamnya. Yang mana terdapat suatu benda padat berbentuk persegi berwarna putih. Ia tatapi benda tersebut ditangannya. Kemudian tercipta satu ide diotaknya kala menatapi cukup lama benda itu. Ia menatapi detail benda itu, benda berharga satu-satunya pula yang masih ia miliki. Benda yang mungkin bisa ia gunakan untuknya bertahan hidup.

Tanpa berpikir panjang ia bangun dari duduknya, melihat kesana-kemari mencari satu tempat untuk segera ia kunjungi didekat sana. Sampai matanya berbinar begitu ia berhasil menemukannya. Tempat itu didepan ujung toko sana Luhan berlari menghampirinya.

Masuk kedalam dan menawarkan benda yang ia miliki itu untuk ia jual. Yah, pada akhirnya Luhan hanya bisa menjual barang yang satu-satunya menjadi kenangannya pula. Ia menjualnya tergantikan dengan jumblah uang yang sekiranya cukup ia gunakan untuk kebutuhan hidupnya.

Luhan menjual ponselnya yang selama ini menjadi teman kesendiriannya.

.

.

.

Sehun bisa saja membanting ponselnya begitu saja dilantai apartementnya, jika ia tak mengingat saat ini Yeri masih bersamanya. Tidur dipelukannya usai mereka melakukan hubungan panas mereka malam ini. Ia mendadak kesal sendiri, ingin marah namun kepada siapa?

Ia tau hal yang bodoh menurutnya untuk kembali mencoba menghubungi nomor ponsel orang itu, tapi entah perasaan dari mana ia miliki ketika ingin sekali menghubungi orang itu. Dan tepat ketika ia sudah mencobanya yang ada ia mendapatkan suara operator, bukan suara lembut nan halus orang itu. Ia jadi kesal berkali-kali melakukannya tetap saja hal sama yang terjadi. Nomor orang itu tidak aktif. Yang entah karena apa? Maka dari itu Sehun ingin sekali membanting ponselnya pada saat itu juga.

Merasa putus asa mungkin? Sehun meletakan ponselnya diatas nakas ranjangnya. Melepaskan begitu saja pelukannya ditubuh telanjang Yeri, tak perduli hal itu akan membuat si wanita terbangun dari tidur cantiknya. Sehun hanya ingin meredahkan rasa kesalnya, beranjak turun dari ranjang lalu melenggang masuk kekamar mandi.

SPASSHHH...

Suara air berjatuhan kelantai terdengar, begitu pula tubuh telanjang Sehun terguyur air shower dikamar mandi miliknya. Dengan kepala yang terbasahi Sehun dengan kuat meninjukan tangannya kedinding putih dingin didepannya. Mengumpat tak jelas beberapa kali sebagai pelampiasan rasa kesalnya itu.

Satu tangannya ia angkat untuk menuju kedaerah lehernya, yang mana terdapat kalung putih berbandul kunci kecil melingkar disana. Ia genggam kuat bandul tersebut sambil menyerukan satu nama didalam hatinya. Nama yang mungkin selama ini tak pernah bisa ia lupakan. Karena nama itu begitu membekas jauh didalam hatinya paling dalam.

Luhan

Luhan

Luhan

Maka Sehun mengutuk dirinya sendiri seperti orang bodoh saat ini.

"Luhan..." dan seperti itu seterusnya.

Sehun tidak tau apa yang terjadi, dimana hati bergemuruh hebat ketika bibirnya bergerak untuk menyebut nama itu. Darahnya berdesir hangat lalu sedetik kemudian terasa kosong, hampa seperti orang telah kehilangan satu jiwanya. Ia tidak tau mengapa ini terjadi, terjadi ketika tau nomor Luhan tidak lagi aktif setelah ia hubungi tadi.

Dan satu yang hanya bisa ia simpulkan, jika mungkin Luhan mencoba melupakan dirinya segalanya diantara mereka. Hingga nomor pria itu pun telah di nonaktifkan. Mungkin itu benar dan Sehun kembali mengira jika Luhan telah mengganti nomor ponselnya.

.

.

.

T.B.C

.

.

.

Fast up yehettt...

Makasih sebelumnya dengan kalian yang telah review ff abal saya satu ini, dan tenang aja ini ff gk bakal banyak chapnya, saya sengaja buat sebagai ganti ff saya yang lain karena belum pada update lagi... Saya tau ini udah banyak banget ff saya buat, tapi gk begitu aja saya bakal telantari kecuali saya emang belum bisa lanjut. Saya bakal ada terus didunia ff ini apa lagi untuk HunHan, saya gk ada kecuali jika saya udah gk ada didunia ini, maka saya bakal berhenti oke!

Yosh! Itu aja dah selanjutnya

SELAMAT IDUL ADHA YAH BAGI YANG MELAKSANAKANNYA^^

DAN SAMPAI JUMPA DINEXT CHAPNYA^^

xdhinnie0595

11/09/16