The Same Place
...
..
"Luhan, kenapa nomormu tidak aktif?"
"Kau menghubungiku?"
"heum...waeyo? Apa ada masalah?"
Luhan menundukan kepalanya dalam diam, raut wajah sedikit sendu Lay mengerti jika temannya itu pasti memiliki masalah lagi yang entah apa itu. Masalah yang disembunyikan oleh pria bermata bak rusa ini. Luhan bergeleng kepala sekali sebelum mengangkat wajahnya menatap sedih Lay didepannya.
"Aku...aku menjual ponselku..." diakhir ucapannya Luhan bersuara pelan hampir tak terdengar, lalu kembali menunduk lagi. Maka saat itu Lay memahami benar akan kondisi temannya itu. Ia menghela nafas pelan. Meraih tubuh rapuh itu kedalam pelukan hangat yang ia miliki.
"Luhan, aku temanmu jadi seharusnya kau mengatakannya padaku!" bisiknya
"Aku hanya tak ingin merepotkanmu Lay-ah."
"Kau sama sekali tidak merepotkan bagiku, aku malah senang jika kau bisa bergantung lebih padaku..."
Luhan tersenyum miris mendengarkan ucapan Lay, temannya itu yang mengatakan jika pria tersebut akan senang jika ia bergantung padanya. Ia bergeleng kecil tak setuju karena ia tak ingin membuat temannya merasa terbebani akan dirinya. Sudah cukup sekali Luhan membuat Cintanya terbebani, maka ia tak ingin siapa pun ikut terbebani lagi olehnya walau itu Lay sekali pun yang menjadi teman dekatnya. Ia tak mau, ia tak bisa melakukan hal itu.
Dengan membalas pelukan Lay, Luhan berucap kecil ingin menolak jika Lay memintanya untuk bergantung pada temannya itu.
"Tapi aku tak bisa melakukannya Lay, aku tak ingin membuat siapa pun terbebani olehku aku..."
"Aku mengerti, dan aku tidak akan memaksamu"
Lay pun mengerti karena bagaimana pun juga Luhan hanya tak ingin mengalami hal yang sama seperti waktu itu. Ketika Luhan telah percaya pada cintanya sepenuhnya, namun dengan teganya cintanya itu justru membuangnya jauh, membuatnya tampak seperti sesuatu yang hanya akan bisa merugikan atau membebani cintanya. Dan ia berjanji tidak akan membuat Luhan kembali tersakiti oleh masalah apa pun. Ia akan tetap bersama dengan temannya itu.
"Tapi, sesekali kau harus berbagi masalahmu itu padaku arra!"
Luhan tersenyum lebih baik mengangguk kecil beberapa kali lalu bergumam dengan suasana hati yang jauh lebih membaik dari sebelumnya.
"heum"
.
Sehun bisa mendengarnya dengan jelas yang kini ia telah mengetahui sesuatu hal. Sesuatu hal sebab mengapa semalam ia tak bisa menghubungi mantan kekasihnya itu. Ia baru tau jika bukan karena Luhan telah mengganti nomor ponselnya, melainkan pria mungil itu telah menjual ponselnya. Saat itu Sehun mengutuk dirinya sendiri sambil mengepal satu tangannya erat sebelum meninggalkan tempat persembunyiannya, setelah tak sengaja mendengar pembicaraan kedua pria disana.
...
..
Luhan menatapi tak mengerti pada sebuah kotak cukup besar digenggamannya saat ini. Kotak yang ia tau apa isinya, kotak berisikan benda padat pipih dan yang pastinya berharga cukup mahal jika ia menjualnya. Ia tidak tau mengapa benda seperti ini ada dilokernya? Yah, saat ia hendak membuka loker miliknya untuk mengambil sepatu olahraganya, ia malah menemukan kotak tersebut berada didalam sana.
Kotak berisikan benda yang sama seperti miliknya yang kemarin telah ia tukarkan dengan uang untuk kebutuhan hidupnya. Benda itu adalah sebuah ponsel yang sangat mahal dengan keluaran terbaru tahun ini. Ia tentu saja terkejut menemukannya, bagaimana bisa hal ini terjadi? Terjadi begitu tepatnya saat Luhan tak lagi memiliki benda untuk berkomunikasi itu. Dan siapa pula yang menempatkan benda seperti itu dilokernya?
Luhan melihat disekitarnya, tau-tau jika ia dapat menemukan seseorang yang telah meletakan ponsel itu padanya. Namun setelah memperhatikan sekelilingnya hanya dirinya-lah yang ada disana, tiada siapa pun disana selain dirinya.
Maka ia kembali membawa kedua matanya pada kotak itu lagi. Menatapinya cukup lama sebelum sadar jika dibaliknya ada secarik kertas kecil tertempel dengan bertuliskan sesuatu disana. Ia membalikannya dan membaca tulisan tersebut, saat itu Luhan tanpa diperintah kedua matanya menitihkan air mata dalam diam.
Walau ia tak ingin membenarkannya atau sekedar menebak saja, tapi ia bisa tau tulisan siapa yang tertulis dikertas kecil itu. Tulisan tangan seseorang yang begitu ia kenal selama ini. Ia menangis tanpa tau apa sebenarnya Orang itu memberikan ponsel ini padanya? Kenapa ia melakukan hal ini? Apa alasannya?
'Aku harap kau tidak lagi menjualnya!'
Berkali-kali Luhan membaca dan mengingatnya, hingga ia ingat sesuatu bagaimana bisa orang itu tau jika ia telah menjual ponselnya? Karena yang Luhan tau hanya Lay saja yang mengetahui hal ini. Tapi bagaimana dia bisa tau? Dan memberikannya sebuah ponsel baru yang jauh lebih mahal dari yang sebelumnya. Luhan kembali menangis kini dengan isakannya. Kedua tangannya meremas erat kotak tersebut. Sampai air matanya satu-persatu jatuh membasahi permukaan kotak tersebut.
"Hiks...hikss...hiks..."
"W-wae? Waegeurae? Hiks...hiks..." isaknya menjadi seorang diri disana, satu tangannya ia bawa untuk meremas dadanya yang entah terasa sesak dan sakit.
"Hiks...hiks...waeyo? Hikss...hiks..."
..
...
Sehun menjauhkan wajahnya dan mengusapnya kasar, hingga Yeri yang sadar kekasihnya itu tak lagi menciumnya ia buka matanya. Menatapi bingung pada Sehun yang kini tampak tak berselera apa pun lagi. Ia raih rahang pria itu agar mereka bertatapan dan saat itu ia bisa melihat raut wajah Sehun yang berbeda.
"Wae? Ada apa Sayang?" tanyaYeri cemas, tapi Sehun hanya menatapinya tak niat tidak seperti saat mereka bertemu. Sehun pun bergeleng sebagai jawabannya sambil menyandarkan punggungnya disandaran sofa.
"Aku hanya merasa sedikit lelah saja" jawabnya lalu tampak benar seperti tengah kelelahan. Yeri bertindak mengusap selembut mungkin wajah lelah Sehun, agar sang kekasih sedikit nyaman dengannya.
"Kau memikirkan sesuatu? Katakan padaku!"
"Tidak ada, sudah aku katakan aku hanya lelah..." Yeri mengulum bibirnya yang tampak sedikit bengkak akibat ciuman mereka beberapa saat yang lalu.
Menjauhkan tangannya dirahang Sehun, lalu beranjak bangun menghampiri sebuah meja kecil yang terdapat dikamar apartementnya itu. Mengambil sebuah ponsel pink miliknya dan mengotak-atik ponselnya disana. Sehun menatapinya diam sesaat, lalu menghela nafas resah karena akhir-akhir ini pikirannya terasa kacau. Berkecamuk entah apa yang sebenarnya pokok dari segala pemikirannya saat ini. Yang jelas satu nama selalu ada dipikirannya dan itu cukup mengganggunya.
"Apa sekarang kau mulai bosan denganku Sehun-ah?" terlonjak kecil ia begitu terdengar suara Yeri disana.
"Apa maksudmu?" raut wajahnya mendatar begitu mengerti akan pertanyaan wanita itu. Yeri tersenyum remeh walau masih membelakangi Sehun. Wanita itu berbalik menghadap Sehun disana, menatapinya dengan tatapan tak biasa pula.
"Kau ingin mencari penggantiku bukan kah begitu? Aku tidak masalah jika kau memang sudah ingin mencarinya, aku bisa menerimanya kok..."
Hening sesaat karena Sehun tak kunjung menyahuti perkataan Yeri padanya. Wanita itu pula masih menatapnya tanpa ekspresi. Sehun berdengus pelan dan memutuskan kontak mata mereka.
"Kau mempermainkanku?"
"Kau juga, aku tidak bodoh Sehun-ah..."
Sehun tertawa getir ditempatnya, merasa bodoh akan situasi saat ini. Ia kembali mengusap kasar wajahnya sebelum kembali menatapi datar sosok wanitanya disana.
"Kita impas bukan? Jadi terserah kau saat ini, ingin ini berlanjut atau mencari yang lainnya?" Ia beranjak bangun melangkah cepat kearah Yeri.
Dengan cukup kasar ia menarik pinggang Yeri untuk ia peluk, kedua matanya semakin menajam seakan ingin menusuk kedua manik wanita didepannya ini. Sementara Yeri sendiri tersenyum palsu padanya, membawa satu tangannya untuk membelai dada bidang Sehun yang sejak tadi memang sudah tanpa atasan itu.
"Kita akhiri, tapi sebelum itu biarkan aku memberimu pelajaran!"
Selanjutnya hanya terdengar desahan erotis dan geraman kesal dikamar apartement luas Yeri, sampai kamar itu tak lagi dalam keadaan rapi dan jadi sangat berantakan.
...
..
"Luhan hyuunggg..."
Sambil tersenyum Luhan melambaikan tangan melihat dua anak kecil berlari semangat kearahnya, terengah-engah ketika kedua anak kecil yang sekiranya berusia 10 dan 7 tahun itu sudah berdiri dihadapannya.
"Kita bertemu lagi..."
"Yah, apa rumah kalian didekat sini?"
"heum...tidak jauh dari sini kok."
"Luhan hyung, ayo kita belmain lagi yah..." Luhan tersenyum manis melihat bagaimana Ziyu si paling kecil menarik-narik tangannya untuk mengajaknya bermain seperti kemarin.
"Yah, aku sudah membawa bolanya ayo kita bermain..." anak yang satunya bernama Haowen itu menyodorkan sebuah bola berwarna hitam putih kearah depannya.
Maka mulailah Luhan meraih bola itu setelah meletakan tasnya seperti kemarin, lalu bersiap-siap mereka pada posisi untuk memulai permainan mereka. Bermain bersama dengan gembira sambil tertawa riang. Luhan yang melawan kedua anak itu, berebutan bola seperti kemarin atau berlari-lari kecil saling mengejar.
Terus seperti itu seakan mereka tak ada kata lelahnya, berhenti sesaat ketika Ziyu terjatuh dan mulai merengek pada sang kakak. Dan Luhan berusaha mendiamkan anak itu ketika jadi menangis kecil.
Sampai akhirnya mereka kembali melanjutkan permainan, walau sempat Luhan melarangnya karena takut Ziyu kembali terjatuh. Tapi karena anak itu pula Luhan luluh akibat mendapat aegyo menggemaskan si paling kecil.
.
Sementara itu ditempat lain tepatnya diapartement Sehun turun dari ranjang memungguti pakaiannya yang berserakan dilantai dan langsung memakainya sembarangan. Melihat kearah ranjang dimana masih ada sosok Yeri yang terlelap dengan keadaan yang sama sepertinya tadi. Ia kemudian meraih kunci mobilnya. Usai berpakaian ia keluar begitu saja dari kamar itu.
Pergi keluar meninggalkan apartement Yeri dan langsung menuju kearah parkiran dimana mobilnya berada. Sampainya ia melajukan mobil tersebut kini kearah dimana apartementnya sendiri berada.
Hanya butuh 10 menit diperjalanan keapartementnya Sehun sampai disana, ia hentikan laju mobilnya ketika memasuki daerah taman dekat tempat tinggalnya itu. Menepikan mobilnya dipinggir jalan dan matanya tak henti tertuju pada pemandangan yang kemarin ia lihat pula.
Pemandangan dimana sosok pria yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikirannya kini terlihat senang. Seperti kemarin pula sosok pria itu tertawa gembira bersama kedua anak kecil yang sama. Ia diam memperhatikannya bagaimana tampak cerianya wajah manis itu, dan jadi malah semakin manis ketika ia tersenyum.
Tanpa sadar kedua sudut bibir Sehun terangkat melihat betapa indahnya sosok itu dikala tersenyum lebar saat ini. Belum lagi tawa itu yang sudah cukup lama Sehun tak melihat atau mendengarnya. Ia rindu semua itu...
Senyumannya luntur sadar mengingat sesuatu, sebelum ia bergerak tiba-tiba melepaskan sabuk pengamannya. Membuka pintu mobil itu dan keluar dari sana, berjalan cepat tepat kearah dimana beradanya Luhan bersama kedua anak kecil yang tak ia kenali itu.
"Ziyu ayo tendang bolanya!" teriak Haowen memerintah agar adik kecilnya itu menendang bola kearahnya. Ziyu pun mengangguk semangat sudah bersiap-siap untuk menendang bolanya, sedangkan Luhan juga bersiap untuk menangkap bola jika terlempar kearahnya.
"Allaceo hyung, Ziyu akan tendang bolanya..."
"Dan Luhan hyung akan mengangkapnya..." Ziyu memanyunkan bibir ketika mendengar suara Luhan tadi, dan pria manis itu terkekeh melihatnya sampai anak itu pun sudah mengayunkan satu kakinya dan...
DUG
Bolanya berhasil tertendang cukup jauh, namun sayang bola tersebut malah kearah lain bukan kearah beradanya Luhan yang sebagai penjaga gawang. Makanya ketiganya terus mengikuti arah berjalannya bola tersebut. Sampai berhenti tepat didepan sepasang sepatu Vans berwarna hitam disana. Haowen terdengar mendesah kecil didekat adiknya itu.
"Hahh...kau salah menendang Ziyu" ujarnya memberitahu, yang diberitahu berengut sedih karena tendangannya salah arah.
"Maaf hyung..."
"Gwaenchana Ziyu-yah, tendangan Ziyu sudah bagus kok" sahut Luhan memberi semangat pada anak itu yang sudah tampak sedih disana.
"Itu benar, yasudah aku ambil bolanya dulu..." Haowen berjalan kearah dimana bola itu kini berada, dan masih terlihat disana seseorang entah siapa lebih dulu mengambil bola itu.
"Ahjussi bisa berikan bola itu padaku?!" Haowen berkata saat sudah berdiri didepan sosok tinggi yang mengambil bola mereka. Sementara Luhan dan Ziyu ditempat mereka berpaling begitu mendengar suara Haowen berkata sesuatu kepada seseorang disana.
Seorang pria tinggi berseragam sama seperti Luhan, berparas tampan nan menawan dengan tangan menggenggam bola itu. Saat Luhan berpaling tadi ia terkejut ketika melihat siapa yang tengah berdiri didepan Haowen. Kedua matanya melebar sempurna dengan tatapan tak percaya, sampai ia dapat mendengar apa yang pria itu ucapkan pada Haowen sambil menatap dalam kearahnya.
"Boleh aku ikut bermain bersama kalian?"
"Se-Sehun?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Ini emang dikit tapi saya cuma bisa sampai situ deh^^
Chap depan Insyallah bakal saya panjangin sepanjang-panjangnya deh yah
Yosh! Terima kasih buat yg udah review, maaf blm bisa balas tapi saya senang bisa membaca komen kalian diff ini
Arigato ne!^^
yg mau baca ff lain dri saya? Silahkan kunjungi akun Wattpad saya yah di : xdhinnie0595
Kumpulan ff saya yang ada beberapa yang gk saya publsh diffn^^
Dan sampai jumpa dichap depan
Sayonara^^
Xdhinnie0595
17/09/16
